Di waktu luang, saya kerap membuat catatan singkat. Kali ini soal Konflik Sunni Vs Syi'ah serta pengaruhnya terhadap Peradaban Islam, siapa tahu bermanfaat.!
Sebelum datang Solahuddin Al-Ayyubi, Pahlawan yang melegenda itu. Syi'ah Ismailiyah, telah membangun Peradaban politik yang luar biasa, dalam sejarah Islam secara Umum. Dalam banyak literatur sejarah abad ke 10 M, merupakan masa jayannya Syi'ah Ismailiyah, karena hampir menguasai seluruh dunia Islam.
Syi'ah Ismailiyah, menguasai separuh dari dunia Islam, lewat Daulah Fatimiyah di Mesir. bahkan menguasai hampir semua Irak dan Qarmates, menguasai juga hampir semua Jazirah Arab yang berpusat di Bahrain. Hingga hari ini, meski sudah sekian abad berlalu. Masih bisa ditemukan beberapa kelompok pengikut mereka. seperti, Di Saudi dan beberapa Negara teluk.
Secara Garis besar, aliran-aliran dalam Syi'ah bisa di bagi kira-kira dalam tiga kelompok besar : Syi'ah Zaidiyah (5 Imam), Ismailiyah (7 Imam), dan Imamiyah (12 Imam). Dari tiga aliran Syi'ah ini, jika di cermati, hanya Syi'ah Zaidiyah yang Cenderung dekat dengan Sunni dari sisi Firqoh maupun Fiqih.
Syi'ah Zaidiyah tidak menganggap persoalan Imamiyah sebagai bahagian dari pokok (Ushul) akidah. Syi'ah Zaidiyah juga di beberapa kesempatan menggunakan kitab-kitab Karangan Ulama Sunni, seperti Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Imam Assyaukani, Ulama Sunni terkenal itu juga dianggap ulama oleh Syi'ah Zaidiyah.
Sedangkan Syi'ah Ismailiyah karena mereka mengakui 7 Imam dan berakhir pada Ismail Ja'far bin Asshodiq. Sebagaimana banyak Literatur sejarah, Syi'ah Ismailiyah memerankan aliran Syi'ah dengan Banyak sekali warisan peradaban, salah satunya, ialah Universitas Al-Ahzar Kairo. Dibanding kelompok syi'ah lainnya.
Iran adalah negara yang paling banyak pengikut Syi'ah Imamah (12 Imam) hingga kini. Jika ada waktu saya Ingin menulisnya khusus. sebab, ada beberap Buku yang belum tuntas saya baca. Tetapi, ada 1 hal yang disepakati oleh semua kelompok Syi'ah, adalah Imam Ali RA yang paling berhak menjadi Khalifah pasca Wafatnya Rosulullah Muhammad SAW. Selain itu, dihampir semua hal, mereka berbeda pendapat.
Seperti pendapat kaum Syi'ah, tentang kebanyakan sahabat. Begitu juga tentang Imamah dan Khilafah. Ada yang meyakini masuk wilayah akidah, ada juga yang tidak masuk wilayah akidah. Hal kedua yang hampir di sepakati kaum Syi'ah (sebahagian besar) adalah perkataan ahlul bait sebagai sumber hukum. Itulah sebabnya, pengertian hadist di kalangan Syi'ah lebih luas ketimbang pengertian Hadist di kalangan Sunni.
Menurut Sunni, Hadist bersumber dari Nabi. sedangkan, Menurut Syi'ah, hadist bersumber dari ma'shum dan Imam bagi mereka adalah Ma'shum. Jadi, perkataan atau perbuatan Imam merupakan sumber hukum bagi Kalangan syi'ah.
Syi'ah menganggap ahlul bait sebagai Korban Politik dengan terbunuhnya Husain Radiyallahu anhu di karbala bersama 72 ahlul bait. Kejadian menyedihkan ini diakui oleh Sunni dan Syi'ah, walau keduanya berbeda dalam menyikapinya.
Menurut saya, perbedaan sikap ini juga memperuncing dan memperkeruh keadaan.
Syi'ah lebih memilih merawat kesedihan (Tragedi Karbala). sedangkan, beberapa ulama Sunni lebih memilih bangkit dan mengobati kesedihan. Menganggap persoalan Karbala sama seperti kesedihan-Kesedihan lain yang di alami oleh semua Ummat.
Dalam memandang kebanyakan sahabat. seperti, Abu Bakar, Umar, Usman Radiyallahu anhu, dll. Syi'ah menyakini mereka telah keluar dari wasiat Nabi dengan berbagai macam tingkatan. Ada Syi'ah yang begitu Ekstrem (Rofidho), mencela bahkan menghakimi kelompok di luarnya. tetapi, ada juga Syi'ah yang memilih jalan kompromi, seperti Syi'ah Zaidiyah.
Ruang-ruang Konflik Sunni - Syiah seperti inilah, yang kerap di manfaatkan banyak pihak untuk menghantam kekerabatan dunia Islam.
Dulu, Ulama besar Sunni Yusuf Qordhawi sempat berfatwa, agar 2 kekuatan islam ini menyatu dan bangkit. Sayang, tidak di indahkan.
Lantas, apa pengaruhnya terhadap peradaban Islam di masa yang akan datang?. Saya akan coba Uraikkan sependek pengetahuanku, di bahagian lain.
Perseteruan Salafi - Wahabi yang di wakili ARAB SAUDI Cs, merepresentasikan Sunni dengan Syi'ah Di IRAN, punya sejarah yang lumayan Panjang. Sejarah yang terlalu panjang Inilah yang membuat Ummat Islam tidak punya logika pembanding tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Sunni dan Syi'ah. Hingga kini.
Tanpa kita sadari, dari kecil kita sudah di Doktrin. bahkan, kadang di paksa untuk "berperang" di sebelah Salafi yang mengatasnamakan Sunni atau Di sebelah Imamiyah yang megatasnamakan Syi'ah.
Padahal kita punya opsi, seperti yang dilalui Ulama-Ulama Asy'ariyah. Alternatif-alternatif seperti inilah yang mestinya di tempuh agar menjadi jalan atas solusi dunia Islam, yang seolah terbelah menjadi Dua bagian besar.
Jika dunia Islam tidak mengambil jalan alternatif lain diantara dua Kutub besar diatas. Maka solusinya ada pada keterbukaan. sebagaimana Islam Inklusifnya Cak Nur, Cak Nun, GusDur, dll. hubungan Sunni-Syiah dibuat seperti pesantren yang mengajarkan Ilmu-Ilmu dunia dan akhirat. Seorang Sunni dapat belajar pada Madrasah dan Ulama-Ulama syiah, ataupun sebaliknya. keterbukaan dan toleransi ini berlaku untuk Mahzab lainnya. bahkan, yang diluar Islam sekalipun.
Jika kita baca sejarah secara garis besar, kemajuan dimanapun disebabkan oleh Pertemuan beberapa ide dari beragam konsep yang berbeda-beda. Itu motivasinya, agar kita bangkit.
Dalam Kekhilafaan Islam, keterbukaan ini pernah diterapkan dengan Baik. Misalnya, An-Nasir, Khalifah Dinasti Abbasiyah, dikenal sebagai penganut syiah, walau Abbasiyah adalah kekhilafaan Sunni. Beliau punya hubungan Kuat dengan Kalangan Sunni saat Itu. Hal ini Hampir, tidak kita dapati pada dunia-dunia Islam hari ini. yang ada, Justru saling mengkafirkan dan membunuh satu sama lain.
Kita tidak sadari, bahwa hal ini membuat peradaban kita semakin tertinggal ribuan kilo mil langkah.
Jadi, jika kita perhatikan sejarah Islam dengan runut. maka, kita akan menemukan bahwa pemikiran terbukalah yang justru membawa peradaban islam itu berada pada era kegemilangan, sedangkan, pemikiran tertutup dan Jumud, alias Penganut Status Quo, ada pada era Kemunduran dan perang.
Coba perhatikan dengan tenang, apa yang terjadi di dunia Islam saat ini. Di samping faktor-faktor Eksternal, ada masalah besar dari dalam yaitu tidak mau menerima pendapat, masukan dan kebenaran dari orang di luar Mazhabnya. Padahal, itu adalah perilaku Jahiliyah yang di perangi oleh Rosulullah SAW, saat pertama kali di utus.
Salah satu prinsip ahlu Sunnah adalah Persatuan. maka, konflik Sunni Vs Syiah Ini akan sangat Mudah selesai. Cuman masalahnya, percaturan ini sengaja di rawat sehingga ummat Islam sibuk mengurusi perbedaan. padahal, dengan Persatuan kita akan Kuat.
Beberapa waktu lalu ada yang WA saya, Soal mazhab Asy-Ariyah sebagai jalan alternatif dalam memecah kebuntuan di dunia Islam. Saya menjawab Insya Allah : Nanti saya Urai sesuai yang saya pahami dan yang saya pelajari dari kakak-kakak dan Guru-Guru saya.
Dulu, ada kawan saya, seorang Ustadz yang mengkapanyekan bahwa saya adalah syi'ah. Dengan santun tapi terukur Saya menulis tuduhannya. Kira-kira begini : Ustad, Saudi Arabia tempat Antum di doktrin itu, sudah sekian puluh Tahun menggunakan Isu Sunni Vs Syiah sebagai War Tool melawan Hegemoni Iran. Hal ini di lakukan oleh Ulama-Ulama Plat merah di saudi Arabia, termasuk beberapa Alumni seperti antum, yang seolah di minta Pulang untuk mendoktrin Jama'ah, bahwa tidak ada satupun yang boleh di bela dari Syi'ah. padahal Ulama Sunni sendiri, masih membahas dan mengkaji Fiqih Syi'ah. Siapa?. Yusuf Qordhawi, Misalnya dan masih banyak lagi.
Otak antum, mesti mendikotomikan antara Iran sebagai sebuah negara dan Iran sebagai sebuah Mazhab yang dianut oleh mayoritas Rakyat Iran. antum juga berceramah kemana-mana soal diksriminasi Terhadap Rakyat Iran Oleh AS dan sekutu-sekutunya. tidak ada masalah karena mereka Syi'ah. Ini sifat kenak-kanakan. otak hasil propaganda dan proyek yang menggunakan Isu Mazhab dalam perebutan uang dan pengaruh di dunia Islam. Ilmu antum, hanya sebatas menyalahkan. tidak lebih lebar dari uang yang bergambar King Saudi.
Antum, berkesimpulan bahwa Iran dan Syi'ah itu sama dan keduanya harus di binasakan. Antum, tidak pernah bicara Hak Warga negara Iran dan hak warga negara yang bermazhab syi'ah, sebagai manusia dan muslim. Tidak pernah antum berpikir, bagaimana dampaknya bagi negara-negara tetangga yang sunni jika Iran Binasa. Habis di gayang Amerika Serikat dan sekutunya (Uni Eropa dan Israel).
Begini saja Ustad, Yang begini memang susah. jika, otak antum menganggap Mazhab syi'ah itu kopar kapir. Bagusnya, antum Fokus saja ajar mengaji : Jika ada Huruf "Ba" di baca " Ya" oleh santri. Luruskan, minimal antum bermanfaat.
Sekali lagi, saya bantah tuduhan bahwa saya adalah Syi'ah, apalagi Dicap Sedang Bertaqiyah. Ayah saya, NU Tulen, Mama Saya adalah Muhammdiyah. Sedangkan Saya Bukan Wahabi, Bukan asy'ariyah, bukan Muhammadiyah, Bukan NU, bukan semua Mazhab-Mazhab. Saya adalah kader HMI yang berdiri diatas semua aliran, pikiran dan Mahzab.
***
Kita memang acap kali, abai pada kejernihan Rasionalitas. Perihal Iman, Ia Fluktuatif. Apakah Simbol-simbol keagamaan bisa menegasikan levelitas keimanan seseorang?. Harus di jawab, Tidak. Sebab berapa banyak Ahli ibadah yang nista. Yang Dzolim. Yang Korup. Yang culas. Tidak semua memang, tapi tidak kurang.
Kata Guru Saya, ketika engkau merasa ibadahmu lebih baik dari ibadah orang lain. Seketika itu pula luruh berguguran amalaiyahmu. Karena ternyata, Ibadah kita tidak mampu menjadi perisai bagi Hati dan nalar kita. dari tidak merasa diri lebih baik dari orang lain.
Bukankah, itu sudah pantas di sebut sebagai penyakit hati dan cacat Nalar?. Perbincangan syiah dan Sunni, itu konten lawas. Ketinggalan zaman kita, jika masih mempersoalkannya sekarang. Ini Abad 21, Perang dagang AS vs China. Perang Satelit 4 G vs 5 G.
Sementara, kita Di indonesia. masih berdebat soal Syiah vs Sunni. "Terlambat lahir", Kata Prof Quraish Shihab. Maksudnya, Jika kita sudah terlambat lahir, banyak-banyaklah menyecap nutrisi agar sistem kekebalan Tubuh, tidak mudah di serang penyakit, terutama penyakit Hati dan penyakit Nalar.
Penyakit kita ialah menuduh kebanyakan. bahkan, tragisnya menyesatkan tanpa dasar Epistemik (tidak dengan pengkajian pengetahuan yang sistemik). Mestinya, ada pelacakan pada konteks , biar kebenarannya vulgar, jika perlu di bikin telanjang kebenarannya. Biar yang tidak tahu menjadi tahu. Sebab Tuhan Memberikan Porsi lebih pada Pengetahuan - pada Akal.
Memang Yang pelik adalah memberikan penjelasan pada orang yang tidak mau tahu. Istilahnya, " Pokoknya Tidak mau tahu". Sampai jungkir balik Kita menjelaskan. Jawabannya, tetap tidak akan berubah. Karena, domain Nalarnya telah lama Taqlid, ruang dialektika di akalnya sudah terkunci rapat.
***
Menurut saya, salah satu yang membuat konflik sunni vs Syi'ah berumur panjang adalah kegagapan kebanyakan kita dalam membaca dan memahami sejarah. Padahal Madrasah Sunni, tidak mengenal hukum secara tetiba. Misal: ketika Dinasti Abbasyiah Jatuh ke tangan Mongol, banyak dari kalangan Sunni yang beranggapan, ini karena Persekongkolan Mongol dan Syi'ah.
Ada beberapa Syi'ah yang bersekongkol itu benar, sama dengan ada beberapa Sunni yang bersekongkol juga. Itu hal alamiah dalam berkelompok, Anggap saja itu resiko. Tetapi, jika dilihat fakta lainnya bahwa saat itu timbul krisis kepemimpinan di Dinasti Abbasyiah yang semakin besar, ditambah lagi dengan Konflik sosial dan ekonomi, yang juga menjadi faktor utama dalam keruntuhan Dinasti Abbasyiah.
Faktor ideologi memang satu faktor dari sekian faktor utama yang menjadi sebab Runtuhnya Dinasti Abbasyiah. Kita sering menemukan kekeliruan dari beberapa pengikut sunni, yang cara membaca sejarahnya tidak utuh, akhirnya mudah di belokkan demi kepentingan tertentu.
Kasus lain, banyak yang bertutur bahwa fitnah yang berkembang di tengah kaum muslimin saat itu karena Abdullah Bin Saba. Saya membacanya, memang ada peran Abdullah Bin Saba disana, tetapi bukan berarti itu adalah dasar bagi semua masalah, karena ulah Abdullah bin Saba. Ada faktor lain yang lebih Esensial waktu itu.
Sebab sampai Hari ini, saya juga belum pernah menemukan ada hadist yang menyebutkan bahwa peran Abdullah Bin Saba dalam Fitnah di tengah kaum Musyrikin. Padahal, ada banyak Hadist-Hadist yang berbicara tentang Fitnah, silahkan Kroscek saja Pada kitab-Kitab Sunni.
Selama perang salib, banyak terjadi pengkhianatan, Itu Fakta. tetapi itu tidak menyangkut ideologi tertentu. Ada Syi'ah yang berkhinat. ada sunni yang berkorban, begitupun sebaliknya.
Jika kita membaca sejarah perang salib, kita akan menemukan fakta sejarah bahwa tidak ada satupun kota yang lebih kuat dan tangguh dari gempuran Pasukan Salib, kecuali Tripoli (Lebanon), yang ketika itu di pimpin oleh Seorang Syi'ah Imamiyah.
Pasukan salib, mengepung kota Tripoli selama 8 tahun lebih, ketika Pemimpin Tripoli sudah terdesak, mereka meminta bantuan ke Abbasyiah (Sunni) di Baghdad dan Dinasti Seljuk yang juga Sunni, Tripoli tidak meminta bantuan pada Daulah Fatimiyah walau jaraknya masih lebih dekat.
Hal itu membuktikan bahwa dalam fakta Lapangan, ketika perang Salib berkecamuk, orang tidak lagi bicara ideologi dan mazhab tertentu. Ummat Islam ketika itu di satukan oleh Rasa dan bendera yang satu yakni Islam.
Kisah yang Paling menarik adalah kisah berakhirnya Daulah Fatimiyah. Ketika pasukan salib datang dan ingin menguasainya, maka pemimpin Fatimiyah meminta bantuan pada Nuruddin Zangi Di Syam (Sunni).
Pemimpin Fatimiyah Tahu, ketika hal itu di lakukan, maka kekuasannya akan takluk di bawah kekuasaan Zangi. Tetapi dibanding menyerahkan kekuasaan pada pasukan Salib, pemimpin Fayimiyah lebih memilih menyerahkan kekuasaan pada Sunni. Hingga Solahuddin datang, berakhirlah Daulah Fatimiyah (Syiah).
Jadi, menurutku : saling melempar kesalahan dan saling tuding ketika Perang salib berkecamuk adalah kesalahan dalam membaca sejarah. Kesalahan ini, yang dikuti dalam merawat perselisihan antara Syiah Vs Sunni, Hingga hari ini.
Munculnya Nasionalisme semu di kalangan ummat islam, menjadi faktor panjang bagi tumbuh suburnya Konflik sunni vs Syiah. Seperti yang terlihat pada perang Irak vs Iran di tahun 80-an. Begitu juga tentang pergulatan Isu Suku Arab dan suku Persia, yang hingga ini hari masih kita dengar.
Lain waktu, saya coba Uraikkan Jalan tengah yang Di pelopori Imam Al-Ghazali yang merepresentasikan Mazhab Asy'ariyah. Terima kasih.
***
Perseteruan Sunni Vs Syiah, itu berlanjut dengan Representasi kedua Negara, yakni Arab Saudi Vs Iran. Bahkan, sampai perebutan Dominasi Ekonomi, politik di kawasan Timur tengah.
Donald Trump (Presiden Amerika, Kini), pernah berujar : " Saat kami melindungi negara-negara sahabat maka mereka harus bayar", sudah beberapa kali Trump mengatakan Steatment merendahkan begini kepada Saudi Arabia. Sayang, Saudi lebih memilih membayar Upeti kepada Trump ketimbang mengkonsolidasi dunia Islam untuk bangkit dari keterpurukan.
Padahal, jika melacak sejarah, Kita punya sejarah perang terlama dalam sejarah, yaitu perang Salib. Jika ingin menang, maka prinsip-prinsip kemenangan Solahuddin al ayyubi, yang salah satunya ialah persatuan, mesti kembali di aktualisasikan. Narasi perpecahan Saudi harus di hentikan, jika ingin ummat islam bangkit.
Sebelum perang Salib, Mayoritas Muslim Negeri Syam adalah Syi'ah bahkan Mesir di kuasi oleh Mazhab Dinasti Syi'ah, Diatas telah saya sampaikkan. Setelah 2 abad dan perang salib berakhir Semua Wilayah Syam menjadi Mayoritas Sunni, termasuk Dinasti Fatimiyah di Mesir, tidak ada pilihan lain selain tunduk pada Sunni.
Makanya, persaingan Saudi Vs Iran selalu di kaitkan dengan Sunni Vs Syiah. Justru, inilah yang menimbulkan ketegangan panjang. Menunda kebangkitan Islam. Selama ini, yang di lakukan Saudi. justru, melemahkan negara-negara Sunni. Mulai dari intervensi Politik di mesir, Agresi militer di Yaman, Libya, Suriah, Dll.
Suatu ketika, harga Kebab sudah hampir lebih mahal dari Harga minyak. Selain Uang Hasil jual minyak (Aramko). kerajaan Saudi Arabia sangat bergantung pada " Bisnis" Ibadah Haji. Saya bahkan berdoa Semoga hal itu menjadi pintu masuk, bagi Hancurnya kerajaan Saudi. Juga di hadirkannya peradilan independen untuk mengadili Muhammad Bin Salman (King Saudi).
***
--ARAB--
Untuk seorang sahabat, yang begitu mudah dan merasa mampu "menakar" kecenderungan hati beta.
Saya ulangi. !!!!
Dulu, pimpinan Ikhwanul Muslimin Mesir, Mohammad Moorsi dan puluhan bahkan ratusan pengikutnya, di hukum mati oleh rezim militer Az-Sisi, Mesir. Liga Arab, negara-negara kaya teluk, diam membisu. Padahal Moorsi adalah hasil pemilu yang legal. Legasinya diakui dalam konteks politik konstitusional legal. Tapi, Moorsi di hina. Ditangkap. Mereka takut terhadap tuan mereka, yaitu AMERIKA SERIKAT yang dalam setiap kesempatan mengatakan akan “bermurah hati” memberikan jaminan politik dan keamanan terhadap eksistensi "glamouritas" kerajaan mereka.
Setahu saya, eksistensi entitas Palestina sebagai sebuah negara tidak diinginkan oleh kerajaan-kerajaan kaya di Timur Tengah sana. Selain Iran, Suriah dan Libya, hampir dikatakan tidak ada negara atau Kerajaan di Timur Tengah yang mengakui Palestina sebagai sebuah entitas negara. Bahkan Arab Saudi dan negara kaya teluk lainnnya, justru di kenal sebagai sahabat dekat Israel dan Amerika Serikat. Tidak usah kita deskripsikan untuk memperlihatkan kedekatan tersebut.
Pada era 1980-an, Qaddafy yang "flamboyan" itu pernah berkata bahwa persoalan Palestina bisa selesai bila negara-negara kaya teluk yang di pimpin para Sultan itu memang serius untuk memaksa AS dan Israel. Nyatanya tidak. Mereka takut pada dua negara ini. Bukan takut perang. Bila perang, pasti akan kalah. Mereka takut, pelindung mereka akan hilang. Pernahkah negara-negara kaya teluk yang dipimpin para Sultan itu melawan dan fokus memperjuangkan Palestina dan melawan hegemoni negara-negara Barat di Timur Tengah. Jawabannya, pernah. Ini terjadi ketika Arab Saudi di bawah Raja Faisal, raja zuhud yang hidupnya diakhiri oleh pelor “keponakannya” yang menurut saya mewarisi semangat Ibnu Muljam, sang pembunuh salah seorang khulafaurrasyidin.
Melalui kebijakan “politik-minyak”nya, Raja Faisal mampu menunjukkan kedaulatan politik Arab Saudi. Negara-negara barat yang amat sangat tergantung dengan minyak, menjadi “kelimpungan”. Sayang, Raja Faisal tidak memerintah lama. Pasca kematian beliau, Arab Saudi dan negara-negara kaya teluk, kembali “menggadaikan” masa depan politik mereka kepada negeri Paman Sam. Siapa musuh AS, itu adalah musuh negara-negara kaya teluk yang dipimpin para Sultan itu. Siapapun kawan AS, tentunya juga menjadi kawan mereka pula. Dan Palestina, tetap menjadi komoditas politik bagi politisi tanah air. Israel dan AS disumpahi, padahal Arab Saudi berteman mesra dengan dua negara hebat ini.
Tanya kenapa !
Bila kita membaca sejarah politik (Islam) sejak berdirinya Dinasti Umayyah, dan beberapa dinasti lainnya seumpama Fatimiyah, Idrisiyah, Abbasiyah, Seljuk, Turki Utsmani, Mughal dan kesultanan Islam lainnya di kawasan Asia Tenggara dan India, maka akan terdapat sebuah benang merah, "mudah sekali para elit politik menggunakan simbol-simbol Islam untuk kepentingan dan isu politik mereka".
Dinasti Umayyah menciptakan "kondisi" untuk membenci keluarga Ali bin Abi Thalib, dan ini kemudian di justifikasi oleh "tafsiran-tafsiran" agama oleh para elit agama masa itu. Pada sisi lain, dinasti Abbasiyah, justru mendiskreditkan keturunan klan Dinasti Umayyah dengan tentunya kembali memanfaatkan "tafsiran-tafsiran" normatif agama pula. Sejarah mencatat dengan baik hal ini.
Tanya kenapa !
HISTORIA VITAE MAGISTRA.
Ketika seorang kawan "menghakimi" saya dengan mengatakan, "saya anti Arab". Saya hanya menjawab, "idola saya adalah Nabi Muhammad SAW. manusia mulia yang paling hebat diatas permukaan bumi. seorang laki-laki dan pemimpin yang agung. Beliau orang Arab. Dan Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu-Abu sejenis Abu Lahab - Abu Jahal adalah musuh terbesar Nabi Muhammad (juga) orang Arab. Tahukah kamu, saya juga punya idola lain, para khulafaurrasyidin. Saya bangga dengan Abu Bakar ayah Aisyah itu. Tentang loyalitas yang teramat total pada sahabatnya, Muhammad SAW. Pada Umar bin Khattab, mata saya selalu berbinar membaca penggalan-penggalan riwayat hidupnya. Pun demikian ketika membaca riwayat hidup yang dipenuhi oleh nilai-nilai bernas dari Utsman bin Affan serta Ali bin Abi Thalib. Mereka itu orang Arab. Tiga diantara mereka, di bunuh pula oleh orang Arab atau suruhan orang Arab".
Tanya Kenapa!
Sudah lumayan lama, saya tulis soal kerajaan saudi. Ada yang mendukung. tapi, banyak juga yang memberikan kritikan-kritikan. Bahkan sampai ada yang melabeli saya dengan aliran mazhab tertentu. Saya kira itu dialektika yang biasa hadir dalam ruang-ruang penegetahuan.
Kali ini saya akan tulis beberapa hal, yang menurutku penting, tentang ketidaksepakatan saya soal rezim kerajaan Saudi.
Yang salah pada kerajaan saudi, bukan sistemnya. Tetapi, Tirani pada sistemnya. Juga ditambah sistem kerajaan yang mudah di hinggapi Otoritarianisme, yang membuat keadilan di Saudi sangat mahal, terutama keadilan dalam berpolitik.
Raja Thailand sekarang, malah digugat oleh perempuan berusia dibawah 30 tahun, akibat tidak sepakat dengan sistem kerajaan yang ada pada negerinya. Saya pikir, kondisinya tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Saudi.
Karena otoritarianisme ini bercokol pada sistem. Maka, anggota dewan baiat harus dari keturunan Raja Abdul Azis. Artinya, rakyat Saudi sama sekali tidak punya hak dalam berpolitik. Ini jelas bukan ajaran Tauhid, satu-satunya ajaran tauhid yang tersisa dikerjaan saudi, hanya benderanya.
Sementara Islam, tidak mengenal Otoritarianisme seperti di saudi. Bahkan Otoritarianisme adalah musuh islam dalam berpolitik. Kata Amirul mukminin Umar Radiyallahu anhu : " bagaimana mungkin kalian memperbudak manusia sementara mereka dilahirkan merdeka".
'Rousseau' menulis buku yang berjudul "Kontrak sosial". Di dalamnya di jelaskan tentang logika demokrasi yang mengatakan bahwa kekuasaan hanya bisa didapat dari rakyat bukan dari garis keturunan atau pedang. Dari mana Rousseau mendapatkan rumus ini?. Di kemudian hari para sejarawan eropa mengatakan, satu-satunya yang mungkin mengilhami Rousseau menulis buku tersebut, adalah perkatan Umar bin khottab, " bagaimana mungkin kalian memperbudak manusia sementara mereka dilahirkan merdeka".
Apakah Nabi Mewasiatkan pengganti Nabi harus dari Keturunan beliau?. Tidak kan. Lalu, apakah ada dalam al-Qur'an yang menyebutkan bahwa pemimpin harus berdasarkan darah?, tidak kan. Jadi, sangat aneh jika ada yang bilang bahwa saudi sebagai negara Tauhid. Toh, faktanya Jelas-jelas sistemnya melanggar Tauhid dengan membawa kasta antar umat manusia
Kalau kita lihat, cara Saudi menentukan raja. Jelas sudah cacat dari semua sisi, apalagi sisi keadilan. Itulah sebabnya, saya selalu berdoa agar rezim yang kelak memimpin Saudi, adalah yang menghargai manusia dan kemanusiaan. Bukan berdagang pengaruh di dunia islam. Padahal isinya brengsek. Karena, biar bagaimana pun dua kota suci dan semua peninggalan Rosulullah saw, ada di sana. Di tempat yang kita imani sebagai simbol pemersatu.
Selama ini, kerajaan Saudi dianggap sebagai pemilik mutlak otoritas atas Al-Haramain. Ummat islam yang lain, tidak memiliki peran sama sekali. Sementara sekian Triliyunan USD dana Haji di kelola tanpa melibatkan Ummat Islam. Separuhnya dialokasikan untuk membunuh bayi-bayi tidak berdosa di Yaman. Bukan hanya itu, Kerajaan saudi sampai hari ini masih menyetor upeti (Dollar) kepada Trump (Amerika Serikat), demi mengamankan Saudi di kawasan. Siapa yang tahu, Uang tersebut di dapatkan dari Haji ummat Islam dunia?.
Itulah sebabnya, saat Pandemi merebak di dunia, Haji dan Umroh Di batalkan. Namun, saya masih percaya, Haji akan tetap di buka oleh Saudi dengan beberapa skenario. Sebab, sampai hari ini Saudi belum menemukan solusi pengganti pemasukan selain Haji, sebesar 15 T USD, sisa pemasukannya yang lain dari hutang dan minyak. Jika hal itu terjadi, apakah indonesia tetap kuekeh pada keputusan awal membatalkan Haji?.
Ketidakpastian Saudilah yang membuat semua negara-negara bingung. Makanya, sedari awal ummat islam tidak setuju dengan pengelolaan Haji seperti sekarang ini. sebab, baik pemerintah (negara) dan Saudi, mudah bermain disana.
ummat islam harusnya punya badan pengelolaan Haji independen yang berskala internasional. Badan ini bertanggung jawab atas Kuota, fasilitas sampai pengelolaan al-haramain.
Kenapa tidak ada dalam Islam, pemimpin menyebut dirinya sebagai hakim Al-haramain. Tetapi, menyebut sebagai Khadim al-haramain. Karena, Al-Haramain itu mutlak milik Allah. Saudi Harus mau. Karena, Vatikan saja bisa, kenapa Haramain tidak bisa?.
*Rst
*PenaKoesam
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran




Tidak ada komentar:
Posting Komentar