Pada Cara Bernalar Di pinggiran, Terletak Kemanusiaan yang adil dan beradab
Kamis, 18 September 2025
Jumat, 05 September 2025
-REFORMASI POLITIK : RESET -
MASALAH utama di Indonesia ini adalah politik. Apalagi sejak terjadi konsolidasi politik secara gila-gilaan Di Era Jokowi. Di mana eksekutif menggalang dukungan dengan dua pilihan: tidak menurut pada Kekuasaan, kena kasus hukum, menurut akan mendapatkan kue kekuasaan.
Dua alternatif pilihan yang membuat seorang politisi atau sebuah parpol tak bisa berkata tidak untuk masuk dalam koalisi. Apalagi, (hampir) semua politikus dan parpol berwatak dan berperilaku Culas dan korup.
Akibatnya Politik di Indonesia tidak lagi ideologis, tapi pragmatis. Anda mau pilih PDIP, Gerindra, PKS, PKB atau parpol lainnya. ya, sama saja. Perilaku dan watak mereka semua sama.
Faktanya, dalam situasi seperti sekarang ini, mana yang Oposisi? PDIP kah? Jelas bukan.
ketika Hasto Kristiyanto mendapat amnesti, lalu menjabat lagi sebagai Sekjen PDIP, padahal perbuatan korupnya begitu jelas terbukti.
Anda mau bicara reformasi Polri, reformasi TNI, reformasi kementerian/lembaga lainnya akan percuma. sepanjang politiknya masih seperti ini. Karena di tingkatan paling atas, penentuan ditentukan secara politis.
Semua kebijakan publik, baik itu pembuatan UU, penyusunan anggaran, penyusunan kebijakan, Diputuskan di ranah politik. Celakanya, di Indonesia, ranah politiknya dikangkangi oligarki atau elit Partai Politik.
Ide melakukan konsolidasi politik secara massal seperti sekarang ini adalah warisan terburuk dari Jokowi.
Lalu, apa yang harus dibenahi dalam situasi seperti sekarang ini?. setidaknya, untuk gerakan ke depan, ada beberal hal yang bisa menjadi tuntutan. Entah itu melalui gerakan jalanan atau meminta MK untuk judicial review.
Pertama, pembatasan masa jabatan anggota DPR, maksimal dua periode. banyak dari anggota DPR yang sudah lebih dari tiga-empat periode. Mereka menang melalui sebuah pertarungan politik dengan money politic yang berasal dari privilege jabatan mereka.
Lalu, mereka menjadi hantu gentayangan yang menguasai parlemen. Membuat persekongkolan di sana, mengatur penganggaran, mengatur kesepakatan-kesepakatan busuk dengan pemerintah terkait pembuatan regulasi (simak bagaimana sejumlah UU bisa dengan cepat diputuskan).
Pembatasan ini Juga bisa menghilangkan statement atau perilaku jumawa dari mereka. Simak saja pernyataan orang-orang seperti Ahmad Sahroni. Dia terlena enaknya kekuasaan sehingga gampang saja menolol-nololkan masyarakat atau menyebut pelajar yang ikut demo sebagai brengsek. Atau pernyataan nir-sensitif Nafa Urbach. Atau guyonan tak lucu Eko Patrio yang menganggap gaji Rp 3 juta per hari tak cukup.
kedua, pembatasan masa jabatan Ketua umum Partai Politik. entitas parpol itu harus dibuat terang. Terutama soal ketua umum. Parpol ini apakah sebuah institusi negara yang bisa diaudit publik atau sebuah perusahaan swasta yang tak bisa dimasuki pihak luar. Simak saja bagaimana Megawati bercokol begitu lama di PDIP, Cak Imin di PKB, Surya Paloh di Nasdem, Prabowo Subianto di Gerindra, atau dinasti SBY di Partai Demokrat.
Mereka mengangkangi parpol seperti seolah milik keluarga sendiri. Ketika hendak diaudit atau dikritisi dari luar, mereka akan bilang bahwa ini urusan internal parpol, tapi di satu sisi mereka mendapat dana banpol dari APBN dan mempunyai kewenangan luar biasa untuk menentukan kebijakan politik di negeri ini. Bahkan, boleh dibilang, anggota DPR itu sebenarnya wakil parpol. Bukan wakil masyarakat.
Ketiga, pangkas ongkos demokrasi melalui digitalisasi secara Penuh. India sudah melakukannya melalui E-voting di jutaan TPS. Hasilnya lebih murah dan efisien. Mengapa kita masih terjebak Logistik kertas yang boros, lamban dan rawan manipulasi. Bayangkan pemilu digital : aman, Transparan, bisa di audit publik secara real time. Ongkos murah, partisipasi meningkat.
Dua dekade lebih Reformasi berjalan. Tetapi, demokrasi kita semakin mahal dan semakin brutal. Pemilu 2024 menelan Rp 1,3 T APBN. Ongkos kandidat bisa Milyaran bahkan Triliyunan. Akibatnya, hanya yang punya uang atau di topang Oligarki yang bisa ikut gelanggang.
Rakyat?. cuman menjadi penonton yang harus membayar tagihan lewat harga sembako, rente proyek dan izin tambang. Apess betul jadi rakyat di indonesia.
Keempat, demokrasi jangan hanya pada lima tahunan. Kita butuh demokrasi sehari - hari. Bentuklah citizen Assmebly di tingkat Kab/kota : Forum tetap berisi warga terpilih secara acak, yang ikut mengawasi anggaran proyek , hingga arah kebijakan. Dengan begitu, rakyat bukan hanya sekadar konsituen. Tetapi, ikut mengawasi dan penentu.
Kelima, hentikan dominasi oligarki melalui aturan pendanaan politik yang keras dan transparan. Setiap sumbangan besar, wajib di umumkan secara terbuka. Ada Platform belanja kampanye, ada audit independen. Jika ada kandidat, melampaui batas, lansung di diskualifikasi. Tegas dan final.
Keenam, buka pintu bagi anak muda, aktivis dan Profesional. Negara bisa menyiapkan talent pol nasional - jalur cepat untuk putra putri terbaik bangsa. Tiket politiknya murah, syaratnya jelas : integritas dan rekam jejak pelayanan publik.
Ketujuah, Hukum berat pelaku Korupsi melalui UU Perampasan aset. Kalau perlu, Gantung di monas.
Kedelapan, 17 + 8. Tambah saja sendiri.
NB : TETAP BERISIK.
*Pustaka Hayata
*Rst
MEMBONGKAR ISI PIDATO PRESIDEN PRABOWO, SETELAH HURU HARA-
Prabowo, "Saya Di Dampingi Presiden RI ke 5, Ketua DPR, Ketua DPD dan Para Ketua Umum Partai".
Secara semiotik, kalimat ini adalah pameran barisan elit. Hermeneutisnya, kehadiran mereka di gunakan untuk menampilkan kekuatan simbolik, seakan seluruh insitusi negara berdiri di belakang presiden.
Tetapi, Publik yang menyaksikan, justru menangkap ironi : rakyat berhadapan dengan gas air mata, tembakan dan pentungan, sementara para pemimpin tampil dalam formasi aman, jauh dari resiko.
Yang di sebut kebersamaan di sini adalah kebersamaan antara para elit, bukan kebersamaan dengan rakyat. Persatuan di tampilkan di panggung, tetapi jarak dengan jalanan tetap menganga.
Prabowo, "Negara menghormati dan terbuka terhadap kebebasan berpendapat dan aspirasi yang Murni dari Masyarakat".
Secara semiotik, kata "murni" bekerja sebagai filter. Aspirasi di dikotomi menjadi yang "Murni" dan "tidak murni". Hermeneutikanya, kekuasaan berhak menentukan mana suara sah dan mana suara yang harus di bungkam.
"Jurgen Habermas", menyatakan, "ruang publik sejati, tidak boleh di saring oleh negara, karena setiap suara lahir dari pengalaman hidup yang otentik".
Prabowo, "Terhadap petugas kemarin yang melakukan kesalahan ataupun pelanggaran, saat ini kepolisian telah melakukan pemeriksaan".
"Diksi" petugas melemahkan struktur menjadi Individu. Secara semiotika, diksi petugas ialah memindahkan rantai komando menjadi oknum. Hermeneutikanya, negara mendefenisikan kekerasan sebagai deviasi, bukan konsekuensi kebijakan.
"Michael Foucalt" membaca ini sebagai "cara kekuasaan menghapus jejak dirinya dari tindakan aparatnya"
Prabowo, "Akan di lakukan beberapa pencabutan beberapa kebijakan DPR RI, termasuk besaran tunjangan anggota DPR, dan juga Moratoriun kunjungan kerja ke Luar negeri".
Kalimat ini tampak seperti langkah serius. Tetapi, sebenarnya bekerja sebagai pengalihan. Secara semiotik, yang di tonjolkan adalah angka dan fasilitas. Bukan nyawa dan keadilan. Hermeneutikanya, Rakyat sedang diajak melihat bahwa DPR sedang berkorban. Padahal, apa yang di korbankan adalah kemewahan mereka sendiri, bukan akar masalah yang menyalakan Protes.
Hal ini adalah strategi Klasik, "memotong ranting kecil, sembari membiarkan batang busuk tetap berdiri".
Prabowo, "Anggota DPR yang menyampaikkan pernyataan keliru akan di cabut ke-anggotaannya".
Pernyataan ini menyingkap standar ganda. Anggota DPR bisa di copot, karena ucapan. Tetapi, aparat yang memukul, menembak gas air mata, menembak dengan peluru karet, bahkan melindas, hanya di sebut "Di Periksa". Secara semiotik, negara lebih keras pada kata rakyat dan lebih lunak pada kekerasan aparat. Hermeneutikanya, bahasa ini menegaskan siapa yang benar - benar di lindungi : Insitusi, bukan nyawa.
Prabowo, "Para anggota DPR harus selalu Peka dan harus selalu berpihak kepada kepentingan Rakyat".
Secara semiotik, diksi peka sesungguhnya adalah Kosmetik moral. Hermeneutikanya, Rakyat tahu bahwa DPR Justru menjadi sumber amarah, karena Previlese dan tunjungan. Pernyataan tersebut, justru mempertebal jarak. Sebab, jika benar peka, mengapa gelombang protes baru di dengar setelah korban banyak berjatuhan.
Seperti kata Gramsci, "krisis terjadi ketika elit tidak mampu lagi memimpin, tetapi, rakyat belum mampu mengganti. Di titik inilah Legitimasi tergerus.
Prabowo, "Kami menghormati kebebasan berpendapat, seperti di atur dalam ICCPR dan UU 9/1998".
Penyebutan Instrumen Internasional dan UU nasional adalah Klaim legitimasi Formal. Hermeneutisnya, negara meminjam wibawa hukum global untuk mempertebal citra Demokratisnya. Tetapi faktanya, Protes Rakyat di bubarkan dengan kekerasan.
ironis memang, kutipan hukum di gunakan sebagai ornamen, sementara pelaksanaannya justru berlawanan. "Hannah Arendt" menyebut, "bahasa hukum, tanpa praktek keadilan hanyalah retorika kosong yang melukai".
Prabowo, "Namun, ketika terdapat kegiatan anarkis, destabilisasi negara, merusak atau membakar Fasilitas Umum, merupakan pelanggaran Hukum".
Diksi Anarkis adalah label, bukan deskripsi. Secara semiotik, ia merubah rakyat menjadi ancaman. Hermeneutisnya, negara menafasirkan perlawanan bukan sebagai dialog politik, melainkan kekacauan yang harus di padamkan.
"Hannah arendt" mengingatkan, "kekerasan rakyat acap kali terjadi, ketika ruang partisipasinya di tutup rapat".
Prabowo, "Aparat yang bertugas, harus melindungi masyarakat, dan menjaga fasilitas Umum".
Secara semiotik, ini penyebutan ganda, masyarakat dan fasilitas umum, tampak seimbang. Namun, hermeneutisnya, bisa menjadi pisau bermata dua : aparat di beri ruang tafsir yang longgar.
Melindungi masyarakat, kita bisa terjemahkan, sebagai membubarkan massa, dengan dalil massa menganggu atau mengancam fasilitas Umum. Diksi melindungi di sini sangat cair, bisa berubah menjadi Justifikasi terhadap represi.
Prabowo, "Mulai kelihatan, adanya tindakan- tindakan di luar hukum, bahkan melawan hukum. Bahkan ada yang mengarah kepada makar dan terorisme".
Diksi makar dan terorisme adalah tanda yang paling berat dalam Hukum. Secara semiotik, ia memperluas musuh imajiner, membuat protes rakyat setara dengan ancaman negara. Hermeneutikanya, kekuasaan sedang membungkus oposisi dengan bahasa kriminalisasi.
"George Orweel" sudah menulis pola ini, "ciptakan musuh bayangan, agar rakyat takut dan tunduk".
Prabowo, "Kepada Polri dan TNI, saya perintahkan untuk mengambil tindakan yang setegas - tegasnya".
Informasi ini adalah performatif. Kata bukan bunyi. Tetapi, perintah yang di terjemahkan menjadi Gas air mata dan peluru karet, bahkan mayat di jalanan. Semiotika "Setegas - tegasnya" adalah Eufiminisme dari Kekerasan. Hermeneutikanya, negara menfasirkan dirinya sebagai pelindung , tetapi bertindak sebagai penghukum.
"Benjamin" menyebut, kekerasan Mitis. Hukum di tegakkan lewat kekerasan, bukan melalui keadilan.
Prabowo, "Silahkan sampaikan aspirasi yang murni. Kami pastikan akan di dengar, di catat dan di tindak lanjuti".
Janji ini terdengar administratif. Semiotikanya, rakyat di posisikan sebagai pelapor, bukan pemilik kedaulatan. Hermeneutikanya, Suara rakyat di turunkan menjadi berkas, yang di catat dan di arsipkan. Seolah - olah protes bisa selesai dengan notulensi.
"Derrida" - seorang Pemikir Posmo, menyebut arsip sebagai Kuasa. Suara di hidupkan di jalanan, tetapi di matikan di meja catatan.
Prabowo, "Saya akan meminta pimpinan DPR untuk mengundang Tokoh Mahasiswa, Tokoh Masyarakat, supaya bisa berdialog".
Secara semiotik, dialog adalah tanda kerukunan. Hermeneutiknya, hal ini lebih mirip demage Control - dialog yang lahir setelah kerusuhan, bukan sebelum. Publik tahu, suara mahasiswa dan rakyat sudah lama di abaikan sebelum situasi membara.
"Jurgen Habermas" menyebutkan, "ruang publik sejati, hanya hidup bila ada kesetaraan kuasa".
Dalam kondisi ini, dialog hanyalah formalitas, rakyat hadir. Tetapi, tak sejajar.
Prabowo, "Saya minta sungguh - sungguh seluruh warga negara untuk percaya kepada pemerintah untuk tenang".
Diksi tenang adalah instruksi. Bukan ajakan. Secara semiotik rakyat di posisikan sebagai massa resah, yang harus di disiplinkan. Hermeneutikanya, kepercayaan di minta, bukan di bangun.
"Jean Jasques Rosseau" mengingatkan, Kontrak sosial runtuh, ketika negara meminta percaya, tetapi gagal melindungi.
Prabowo, "Pemerintah bertekad memperjuangkan kepentingan rakyat, termasuk yang paling kecil".
Diksi yang paling kecil adalah paternalistik. Semiotikanya, rakyat di posisikan sebagai anak kecil, yang harus di rawat. Hermeneutikanya, Kekuasaan menempatkan dirinya sebagai orang tua dan tahu mana yang baik. Sementara fakta di lapangan, rakyat yang menjaga diri mereka sendiri - Warga jaga Warga.
Bahasa kepedualian di gunakan untuk menutupi kenyataan represi.
Prabowo, "Indonesia diambang kebangkitan, jangan mau di adu domba".
Kebangkitan di gunakan sebagai perekat. Tetapi, semiotikanya, retak ketika rakyat melihat fakta bahwa siapa sebenarnya yang mengadu domba?. Provokasi aparat yang memecah massa atau retorika Penguasa yang memecah aspirasi murni dan anarki?.
Hermeneutikanya, negara menfasirkan luka sebagai proyek besar yang harus di korbankan. "Simone weil" mengingatkan, "setiap kali penderitaan di pakai sebagai bahan retorika, ia berubah dari Tragedi menjadi manipulasi.
Prabowo, "Kalau merusak fasilitas umum, artinya merusak dan menghamburkan uang rakyat".
Di sini, semiotikanya, menukar prioritas, seolah kerusakan halte dan gedung lebih penting dari nyawa yang hilang. Hermeneutikanya, negara menafsirkan kerusakan benda sebagai kerugian kolektif, sementara kerugian jiwa rakyat, hanya di sebut insiden.
Dalam psikologi Politik, ini adalah bentuk cognitive reframing - mengalihkan amarah dari kehilangan nyawa ke kerugian materil.
Prabowo, "Marilah kita bergotong royong menjaga lingkungan kita, menjaga keselamatan keluarga kita".
Gotong rotong adalah simbol kerukunan yang terus di panggil. Tetapi, hermeneutisnya, diksi tersebut di gunakan untuk memindahkan tanggung jawab negara ke pundak rakyat. Rakyat di minta menjaga diri, menjaga keluarga, bahkan menjaga ketertiban - padahal tugas tersebut adalah tugas aparat dan pejabat yang punya kuasa.
"Ivan Illich" mengingatkan, "ketika insitusi gagal, jargon moral sering di lemparkan ke rakyat untuk menutupi kegagalan".
Prabowo, "Saudara- saudara sekalian, demikian pernyataan saya, setelah saya berunding dengan semua pimpinan partai, baik di dalam koalisi, dan semua pimpinan lembaga negara".
Secara semiotik, penyebutan saudara - saudara adalah tanda kedekatan. Bahasa akrab yang di maksudkan untuk melebur jarak antara presiden dan rakyat. Tetapi, hermeneutisnya, saudara adalah rakyat yang tubuhnya di pukuli di jalanan, yang suaranya pecah oleh gas air mata.
Kata itu menjadi panggilan kosong - akrab di lidah, tapi jauh di perbuatan.
"Franz Neuman" dalam Bahemoth menulis, rezim yang rapuh justru sering menampilkan citra persatuan yang total. Ia seolah berkata, lihatlah seluruh insitusi ada bersama saya. Padahal, kenyataan di luar adalah jurang : Kepercayaan rakyat merosot, protes membesar dan kekerasan aparat di pertontonkan.
Persatuan yang di tampilkan di Panggung ini bukanlah persatuan bangsa, melainkan konsolidasi elit diatas luka rakyat".
*Rst
*Backpacker Marjinal
*Pustaka Hayat
*Nalar Pinggiran
Senin, 01 September 2025
ORANG KECIL YANG MALANG
Affan - Driver Ojol Gojek bukan demonstran, bukan Perusuh. Ia hanya ingin pulang. Tetapi, Tubuh itu kemudian menjadi angka di laporan resmi, berita di koran, nama di layar medsos. Apakah kita akan membiarkannya berhenti di situ?.
Di balik peristiwa tersebut, ada luka yang lebih dalam : betapa Murahnya nyawa Orang kecil do negeri ini?. Padahal, negara kerap mengaku berdiri atas nama rakyat. Entah, rakyat mana yang mereka maksud?.
Rakyat seperti affan, yang bekerja di jalanan, yang menafkahi keluarga, dengan meminjam tenaga mesin motornya, seringkali hanya figur samar. Kita hanya di butuhkan ketika di butuhkan statistik atau menjadi korban.
Di lembar - lembar pidato pejabat, kata rakyat kerap di ulan - ulang. Seolah menjadi mantra. Padahal, jarang sekali mereka benar - benad hadir. Wajah seperti affan tak pernah muncul di layar ketika negara merayakan pembangunan, tak masuk dalam narasi kemajuan yang di pamerkan.
Kita hanyalah angka grafik pertumbuhan ekonomi, bagian dari persentase tenaga kerja informal, baris kecil dari laporan BPS. Nyawa kita tidak di perlukan sebagai nyawa yang utuh, melainkan sebagai variabel dalam hitungan Kualitatif.
Rakyat kecil selalu muncul, hukan sebagai subjek yang di hormati. Melainkan senagai korban yang menambah daftar panjang luka bangsa ini.
Seorang sosiologi pernah tentang berkata, "marginalized bodies - Tubuh - tubuh yang terpinggirkan oleh sistem, di peras tenanganya, tetapi di abaikan martabatnya.
Affan adalah gambaran itu. Ia berkeja dalam dunia yang cair, tanpa perlindungan, tanpa jaminan. Hidupnya tergantung pada notifikasi di aplikasi di ponsel, namjn kematiannya hanya menjadi berita yang sekejap.
Pertanyannya, Rakyat semacam apa yang di janjikan di dalam konstitusi?. Apakah rakyat, hanya mereka yang di butuhkan ketika pemilu?. Apakah rakyat, hanya dalam kerumunan kampanye?.
Ataukah rakyat adalah mereka yang wajahnya kerap hilang dari peta, namun justru menopang kehidupan kota dengan kerja - kerja kecil, senyap dan sering tak dianggap?.
Polisi menahan tujuh anggota Brimob. Kapolda dan Kapolri minta Maaf. Tapi keadilan bukanlah kata - kata. Keadilan bukan sekadar menghukum satu dua nama. Keadilan ialah mengubah cara kita memandang pada Orang kecil seperti affan, bahwa hidup kita sama berharganya dengan pejabat, presiden, Gubernur, walikota, Jendral, kopral atau dengan siapapun yang duduk di kursi empuk.
Nama Affan mungkin akan segera tenggelam di arsip berita. Seperti ribuan nama lain yang sebentar menjadi sorotan, sebelum di gantikan oleh peristiwa berikutnya. Begtulah cara ingatan publik di zaman yang serba cepat : tragedi di sulap menjadi konsumsi, lalu segera di lupakan.
Tetapi, ia tak boleh hilang dari ingatan. Sebab, ketika sebuah bangsa kehilangan kemampuan mengingat, ia akan kehilangan kemampuan untuk belajar. Seorang pemikir berkata, "Di lupakan adalah mati kedua kalinya"
Affan tak boleh di lupakan. Ia adalah tanda seru. Sebuah peringatan keras, bahwa sebuah negeri tidak bisa berlari dengan menindas mereka yang paling rapuh. Ia mewakili jutaan orang kecil yang tak punya punggung, hidupnya di jalani di pinggiran, dan matinya tak sempat di tangisi republik.
Dalam tubuh affan yang hancur, kita seharusnya membaca sebuah pesan : pembangunan, demokrasi, kekuasaan, tidak berarti apa - apa jika hanya di tegakkan diatas jasad orang - orang tak berdaya.
Kata, Munir said, "Kami sudah lelah dengan kekerasaan".
*Pustaka Hayat
*Nalar Pinggiran
SIAPA YANG VANDALIS?
Vandalisme pertama kali muncul di eropa pada abad ke 18. Di gunakan untuk menyebut kaum vandal - suku yang meruntuhkan kota roma. Sejak itu, diksi tersebut di lekatkan pada tindakan perusakan yang dianggap bar - bar, merusak tatanan, atau menghancurkan karya bersama.
Dalam epistemologi politik, vandalisme di gunakan negara untuk memberi label kepada rakyat yang marah di sebut perusak, aksi protes di sebut ancaman. bukan suara.
Namun, epistemologi juga mengajarkan kita untuk membongkar asal muasal kata, dan membalik kaca. Jika vandalisme adalah merusak milik bersama. Lalu, siapa yang layak di sebut Vandalis : rakyat yang merusak Fasilitas Umum dalam sejam, atau Negara yang merusak Hutan, menghancurkan Hukum dan demokrasi selama puluhan tahun?.
Siapa lebih Vandalis?.
Jika vandalisme adalah menghancurkan rumah bersama. Maka, kita harus berani melihat ke atas, kepada mereka yang mengelola rumah indonesia Ini, tapi menghancurkannya dari dalam.
Negara sibuk menghimbau, jangan merusak, jangan membakar. semua fasilitas perkotaan di perlakukan sebagai pusaka. Tetapi, negara memberi izin tambang timah yang menghancurkan 240 Juta Hektar mangrove, atau food estate yang melahap hutan papua.
Seluruh Fasilitas Umum bisa di perbaiki dalam sehari. Tapi, hutan yang hilang tidak akan kembali dalam sebad.
Affan Kurniawan, seorang pengemudi Ojol tewas di bawah mobil Rantis Brimob, ketika aparat mengamankan demo. Narasi resmi menyebutkan, aksi tersebut anarkis. Tapi, siapa yang anarkis?. Mereka yang membawa poster dan suara atau kendaraan perang yang menindas tubuh rakyat?.
Vandalisme terbesar bukan coretan di aspal atau dinding - dinding kota. Melainkan menghapus nyawa manusia dari kehidupan.
Kanjuruhan 2022 : 135 orang manusia meninggal secara serentak. Negara menyebutnya sebagai musibah. Lalu, menggelar rapat evaluasi. Tidak ada kursi yang kosong di kabinet. Tidak ada pejabat yang mundur.
Vandalisme bukan pagar stadion yang roboh. Tetapi, gas air mata yang di tembakkan di ruang tertutup yang melawan semua SOP.
Rakyat di tegur jika mencoret - coret fasilitas umum. Namun, DPR, menerima tunjangan Rp 50 juta per bulan, di saat sekolah-sekolah di pelosok kekurangan kursi belajar.
Vandalisme anggaran lebih jahat dan pahit. Ia Merampas hak rakyat sejak dari akar. Ia tak meninggalkan noda cat. Tetapi, meninggalkan generasi tanpa ruang belajar yang layak.
Rakyat di sebut perusak demokrasi bila demonstrasi ricuh. Namun aturan di ubah, agar Gibran bisa maju sebagai wapres, dan dinasti politik di poles menjadi sah.
Vandalisme ini tidak berwujud grafiti di tembok, melainkan merobek konstitusi. Demokrasi di robek oleh pena. Bukan oleh rakyat di jalanan.
Negara menjaga agar taman kota tak terinjak saat demo. Namun, PLTU dan Smelter memuntahkan asap, membuat jutaan paru - paru di paksa menanggung racun.
Vandalisme apa yang lebih nyata daripada meracuni udara setiap hari?. Rakyat di paksa menjaga bunga - bunga di trotoar. Sementara, anak - anak tumbuh dengan udara yang beracun.
Setiap tragedi di tutup dengan kalimat, "Usut Tuntas" atau meredam dengan kata "Maaf". Walter Benjamin mengatakan, "politik bisa menjadi estetik - penderitaan di tata, agar tampak indah.
Vandalisme ini justru menipu : luka di bungkus dengan rapi, agar marah tak sempat tumbuh. Semua di atur seperti panggung, bukan di hadapi sebagai tanggung jawab.
Demonstrasi besar menggema di banyak kota. Namun, kemana anggota DPR, mereka tak terlihat batang hidungnya.
Vandalisme yang paling sunyi adalah ketidakhadiran : ketika mereka yang di pilih untuk bicara, tetapi bungkam.
Rakyat menjadi tahu, bahwa negara hanya panggung kosong, dan kepercayaan telah runtuh.
Sekarang kemana mereka?. Mungkin di situlah vandalisme paling getir : Ketìdakhadiran. Sebab, ketidakhadiran bukan sekedar absen. Tetapi penghianatan terhadap mandat dan amanah.
Negara melarang rakyat membakar fasilitas umum. Namun, generasi di korbankan oleh korupsi bansos, pendidikan yang tertinggal, dan udara yang kotor.
Vandalisme terhadap generasi lebih menyakitkan ketimbang seluruh fasilitas umum yang rusak. Sebab, ia merampas masa depan dan meninggalkan warisan luka, yang tidak bisa di perbaiki dengan cat baru di dinding sekolah.
Semua ini bukan ajakan untuk merusak fasilitas umum. Kita tahu, Halte, kursi, gedung, ataupun pot bunga adalah milik bersama, yang seharusnya di jaga dan di rawat. Tetapi, yang ingin kita soroti, mengapa negara begitu cepat menuduh dan menuding rakyat sebagai Vandalis. namun, begitu lambat dan lamban melihat dirinya sebagai pelaku kerusakan yang jauh lebih besar dan dahsyat.
Kerusakan di jalanan, hanyalah konsekuensi dari Luka yang lebih dalam - dari hutan yang di babat, dari pohon yang di tebang, dari hukum yang di lemahkan, dari anggaran yang bocor, dari demokrasi yang di pelintir.
Rakyat merespon dengan marah, karena sudah terlalu lama di paksa menanggung biaya dari kebijakan yang merusak.
Kerusakan fasilitas umum hanyalah gejala kecil. Sebab, kerusakan yang jauh lebih parah, justru lahir dari keputusan - keputusan politik, yang di buat dengan sadar oleh mereka : PEJABAT.
#Pustak Hayat
#Rst
#Nalar Pinggiran
Sabtu, 23 Agustus 2025
SIAPA BILANG HIDUP DIREKSI BUMN ITU BERAT : GAJI MEREKA BOMBASTIS
Kalau ada orang bilang hidup direksi BUMN itu berat, saya kira orang itu asal bicara. Berat dari mana?.
Duduk di kursi empuk, tanda tangan beberapa berkas, senyum sedikit ke wartawan, miliaran rupiah pun mampir tiap bulan ke rekening.
Kalau pun perusahaannya tekor, toh mereka tinggal berbondong-bondong ke Senayan, memelas di depan DPR, lalu minta injeksi dari APBN.
Seakan-akan APBN itu semacam pohon uang yang tumbuh di belakang rumah. Padahal, bukankah APBN itu uang rakyat juga?
Uang dari keringat kita semua, yang tiap hari, dari fajar, ketemu lohor hingga isya, diperas lewat PPN dari belanja ini-itu, beli garam, beli mie instan, beli, beli pulsa, sampai beli popok.
Dengan gaji sebesar itu, ada juga direksi yang merasa masih perlu istri muda. entah satu, dua, bahkan tiga, seolah-olah gaji miliaran itu memang ditakar untuk menambah jumlah istri.
Yang istrinya cuma satu pun tidak mau kalah gaya. Sekali keluar rumah, sepuluh pengawal ikut beriringan, mirip rombongan pejabat zaman kerajaan.
Kalau nyalon bukan di pinggir jalan, melainkan langsung terbang ke Singapura, menikur-pedikur sambil menyeruput kopi latte.
Begitu batuk pilek sedikit, bukan apotek kampung yang dituju, melainkan klinik spesialis di Orchard Road. Hidup seperti itu, disebut berat?. Tai kucing.
Hidup direksi memang tak terlampau berat. Yang berat itu justru hidup rakyat, yang saban hari jadi ATM berjalan, demi menopang kursi empuk orang-orang hebat itu.
Ambil contoh Bank Mandiri. Direktur utamanya digaji Rp5,9 miliar per bulan. Itu artinya dalam setahun ia bisa membeli satu apartemen mewah di Jakarta setiap bulan dan masih ada kembaliannya.
Anggota direksi lainnya, yang kerjanya juga tak jauh beda, rapat, tanda tangan, senyum mendapat Rp5 miliar per bulan.
Bayangkan, dengan uang segitu, dia bisa menghidupi satu RT penuh, lengkap dengan iuran keamanan, listrik, dan biaya arisan ibu-ibu, tanpa perlu repot ikut ronda.
Bandingkan dengan rakyat jelata yang tiap hari harus merapal doa supaya saldo e-wallet tidak tinggal lima ribu rupiah sebelum akhir bulan.
Di BRI, ceritanya tak kalah lucu. Direktur utamanya mengantongi Rp5,07 miliar per bulan, sementara rakyat antre pinjaman KUR dua puluh juta dengan bunga yang katanya rendah. Rendah menurut siapa?
Kalau dibandingkan dengan bunga pinjaman rentenir, ya rendah. Tapi dibandingkan dengan bunga deposito mereka sendiri, tetap saja terasa menohok.
Rakyat ini seperti disuruh memikul gajah di pundak, sementara direksinya cukup goyang-goyang kaki di kursi direksi sambil meneguk kopi Brazil.
Telkom Indonesia juga menarik. Direktur utama digaji Rp4,23 miliar per bulan. Padahal, berapa banyak pelanggan Telkomsel yang tiap bulan mengeluh kuota internetnya lenyap seperti ditelan jin?. Setiap kali sinyal hilang, yang menanggung sakit kepala tentu pelanggan. Tapi direksinya?
Tetap sehat walafiat, gaji miliaran lancar, rapat pun seringnya di hotel bintang lima. Kalau pun jaringan tersendat, toh pelanggan tetap bayar.
Karena itulah bisnis BUMN ini kadang terasa lebih mirip rumah kos-kosan: meski bocor, listrik sering padam, dan pintu tak bisa dikunci, iuran bulanan tak pernah lupa ditagih.
Masih ada lagi, Pertamina. Direktur utamanya bergaji Rp3,2 miliar per bulan. Sedangkan rakyat, tiap kali harga BBM naik, wajahnya langsung pucat pasi.
Direksinya mungkin sedang duduk di ruang rapat dengan pendingin ruangan 16 derajat, membicarakan strategi bisnis. Rakyat di luar sana?
Mengantri di SPBU, menunggu bensin subsidi yang kuotanya makin lama makin sedikit. Ironinya, kalau Pertamina tekor, direksi bukannya ikut tekor.
Mereka datang ke DPR, minta disuntik APBN. Dan DPR, demi menjaga kelangsungan bisnis, mengetuk palu setuju, meski berat hati.
Maka uang rakyat pun berpindah lagi: dari warung sayur, dari ojol, dari ibu-ibu yang belanja popok, semua mengalir ke rekening BUMN yang katanya milik negara itu.
Saya jadi ingat Garuda Indonesia. Direktur utamanya bergaji Rp1,5 miliar per bulan. Ini maskapai yang saban tahun lebih sering menjadi bahan headline “rugi triliunan” ketimbang “untung berlipat”.
Kalau pun ada yang terbang tinggi, itu justru gaji direksinya, bukan kinerja keuangannya. Bayangkan, satu kursi direksi Garuda bisa memberi makan ratusan awak kabin kalau dibagi rata.
Tetapi alih-alih bagi rata, rakyat diminta maklum. Kalau Garuda merugi, katanya, demi pelayanan rakyat.
Melayani rakyat ternyata hanya kalimat indah di media. Yang dilayani sesungguhnya adalah rekening pribadi para bos besar itu.
Lalu ada juga PGN, dengan direktur utamanya bergaji Rp2,5 miliar per bulan. Entah gas apa yang mereka hirup sehingga bisa segar terus walau harga gas industri dan rumah tangga bikin banyak orang sesak nafas.
Dan jangan lupa Jasa Marga: direktur utamanya menerima Rp850 juta sebulan. Bayangkan, jalan tol yang kita bayar setiap kali lewat, yang katanya demi membiayai pembangunan, ternyata juga menopang gaji miliaran rupiah di ruang direksi.
Kalau saja, tiap kali bayar tol kita dapat bonus lagu Tabola Bale atau senam gratis Tobelo, mungkin rakyat masih bisa tersenyum. Tapi yang ada hanya plang “Selamat Jalan” sambil saldo e-toll terus tergerus.
Yang membuat saya heran, kalau perusahaan ini tekor, direksinya tidak pernah tekor. Kalau pun harus dipotong gajinya, potongannya biasanya cuma seperti orang kehilangan kancing baju.
Sementara rakyat, kalau penghasilannya dipotong seribu rupiah saja, karena pajak, dampaknya bisa langsung terasa: harus menunda beli lauk, harus kurangi jatah susu anak.
Hidup rakyat ini seperti tali yang kian ditarik-tarik, sementara hidup direksi seperti kasur spring bed, selalu empuk walau diguncang krisis.
Kita bisa bilang bahwa gaji besar itu wajar, karena mereka memimpin perusahaan raksasa. Tapi, bukankah kepemimpinan itu mestinya diukur dari hasil?
Kalau kerugian ditutupi APBN, kalau risiko selalu dipindahkan ke rakyat, lalu apa gunanya direksi bergaji miliaran?
Apa bedanya dengan juru kunci gudang beras yang pekerjaannya hanya memastikan pintu gudang tidak terbuka? Bedanya, juru kunci dibayar seadanya, sementara direksi dibayar seperti raja kecil.
APBN, pada akhirnya, menjadi semacam dompet cadangan bagi para direksi BUMN. Mereka boleh gagal, tapi tidak pernah jatuh. Mereka boleh rugi, tapi tidak pernah lapar.
Dan semua itu dibayar oleh rakyat yang sejak fajar hingga isya selalu rajin setor PPN - entah dari beli garam, mie instan, pulsa, hingga bensin. Kita ini ibarat sapi perah yang terus diperah susunya.
Bedanya, sapi perah setelah diperah masih diberi makan rumput. Rakyat? Setelah diperah pajak, masih harus keluar uang untuk bayar tol, listrik, BBM, pulsa, dan gas. Hamcur betul.
Jadi kalau ada yang bilang hidup direksi BUMN itu berat, saya sebenarnya mau memaki - maki orang itu. Berat itu kalau kita harus bayar cicilan rumah sambil harga beras naik.
Berat itu kalau kita harus antre minyak goreng, sementara direksi rapat soal laba rugi di hotel bintang lima.
Berat itu kalau gaji sebulan tak cukup membeli kebutuhan Pokok sehari - hari.
Hidup direksi? Ah, itu bukan berat.
Mereka justru hidupnya yang terlalu ringan, saking ringannya sampai bisa terbang. Dan ketika mereka terbang, yang jadi bahan bakarnya adalah APBN, yaitu Uang Rakyat.
**
Di Australia, Pengawai Kecil, mungkin hanya berjarak 10, hingga Dua kali lipat dari gaji bos mereka. Angka tersebut besar, tetapi pekerja kecil masih bisa hidup layak : masih bisa bayar sewa, masih bisa Cicil kendaraan, masih bisa menyekolahkan anak, bahkan berlibur sederhana.
Struktur gaji memang menegaskan Hierarki, namun tidak merampas martabat orang kecil.
Di Indonesia, jurang perbedaan Gaji bos dan Pekerja kecil bisa ratusan kali lipat. Pekerja kecil menerima Rp4 juta per bulan, sementara direksi perusahaan besar bisa mengantongi Rp1-5 Milyar per bulan. Mereka bekerja di gedung yang sama. Tetapi, satu bergelut dengan cicilan motor, satu sibuk menambah Istri.
Disparitas ini bukan sekedar angka : ia adalah potret distribusi kesejahteraan yang timpang. Di negara - negara Makmur, meski gaji CEO mereka 50 kali lipat dari Gaji karyawannya, sistem pajak progresif dan jaringan sosial membuat pekerja kecil tetap dapat bertahan.
Di indonesia, kenaikan Listrik atau Harga sembako bisa lansung menjerat jutaan rakyat kecil. Sementara eksekutif nyaris tak terganggu.
Ketidakadilan ini bukan takdir : perusahaan yang memilih memberi bonus kepada segelintir orang, pemerintah yang menetapkan upah minimum jauh dari biaya hidup, serikat pekerja yang lembek dan lemah, adalah sistem yang kita buat sendiri.
Kesenjangan sosial itu salah satunya tercipta dari gap dalam sistem penggajian. Makanya, Rakyat sangat terluka setiap hari, jika ada berita bagi - bagi jabatan untuk Timses di BUMN, rangkap jabatan, Kenaikan gaji dan tunjangan di DEPER.
Padahal Al Qur'an telah mengingatkan,.."agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang - orang kaya saja diantara kalian", (Q.S. Al Hasyr : 7).
Yah, Sila kelima dari Pancasila memang mudah di tuliskan dan di hafalkan. Tetapi, butuh komitmen, keberanian dan keluhuran seorang pemimpin untuk mengejawantahkannya.
23/08/2025
Rabu, 14 Mei 2025
MANTAN
Apakah seorang yang (tadinya) ber-Tuhan, dan berubah menjadi Atheis, maka otomatis dia akan mengunakan istilah "mantan" Tuhan bagi diri nya?.
Kita, orang-orang Indonesia, umumnya suka sekali mengunakan topeng untuk terlihat "manusiawi". misalnya, mengganti istilah pelacur, menjadi "WTS" atau penjara dengan "Lembaga Pemasyarakatan", juga perebut suami orang dengan "pelakor" dan contoh-contoh lainnya.
Suka atau tidak suka, istilah-istilah "penghalusan" seperti contoh diatas itu hampir tidak memiliki korelasi positif dengan "perubahan" prilaku dari yang bersangkutan maupun dari sisi fungsional lembaga-lembaga termaksud diatas.
Tapi baik lah, kita terima saja istilah-istilah "penghalusan" tersebut diatas. Paling tidak, anggap saja sebagai kosa kata (baru) yang di harapkan akan berdampak positif bagi semua pihak.
Lantas mengapa harus berbicara tentang "mantan" itu?.
Jika kita mau mengembalikan substansi dari istilah "mantan" itu sesuai faktanya, maka kita harus rela menerima satu fakta bahwa "mantan" itu adalah "bekas".
Lebih ekstrem lagi, dan itu bisa juga dipahami sebagai "limbah" yang harus dibuang, sebab tidak berguna lagi bagi kita. Semakin cepat disingkirkan, maka semakin aman kita dari bau busuknya yang menyengat.
Contoh kongkritnya, misalnya WC: keberadaannya kita butuhkan lebih pada fungsinya (fungsional). Mengapa, karena itu kita hanya mengingatnya saat-saat tertentu saja (agar) bekas atau limbah busuk yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh kita punya tempat pembuangan akhirnya.
So, harusnya kita pun tidak keberatan jika menggunakan istilah "mantan" untuk kotoran busuk yang keluar dari tubuh kita itu. Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan penggambaran saya di atas. Sebab, ini hanya refleksi dari orang yang sedang gundah Gulana saja, hehe...
Maka bagi saya, tidak akan pernah ada istilah "mantan" atau "bekas" atau "limbah" itu, jika hanya karena faktor keterpisahan fisik belaka. Bahkan legalitas formal pun tidak mampu membatasinya. Artinya (sejatinya) interaksi itu tetap terhubung. Tapi, dalam dimensi yang berbeda, bersifat spritual (spritual conection): jiwa dengan jiwa tanpa terhalang hukum-hukum fisik, ruang, waktu dan jarak.
Salah satu ciri-cirinya adalah kerinduan. Ini tentang rasa yang penuh misteri dan membingungkan. Datang dan pergi begitu saja sesuka-sukanya. Tidak bisa di atur atau dikendalikan. Tidak bisa diajak kompromi, ia keras kepala, seumpama dendam yang harus di bayar tuntas.
Ada satu ciri lain lagi yang sangat menakjubkan dari sebuah interaksi spritual itu ketika jiwa memunculkan kembali memori-memori khusus terkait seseorang yang dihubungkan dengan perubahan perilaku diri kita:
Dari prilaku yang tadinya liar dan tidak terkendali menjadi pribadi yang jinak, yang mulai menyadari tentang kehormatan dan kemuliaan, yang sebelumnya tidak pernah kita fokuskan sebelum mengenal dia, dan contoh-contoh terpuji lainnya.
Semua hal-hal indah itu (sekalipun) kita sudah tidak lagi tersambung secara fisik, tetap saja effek positifnya itu masih meliputi kita.
Kita pun akhirnya menyadari sepenuhnya apa yang dia suka dan tidak suka kita lakukan (saat bersamanya) ternyata hal itu memang terkait dengan apa yang Tuhan sukai dan murkai.
Itulah esensi utama dari interaksi spritual itu.
Jika hal-hal itu tidak ada, maka keterpisahan yang terjadi itu memang tidak lebih dari interaksi transaksional belaka. Artinya disana yang sesungguhnya terjadi tidak lebih dari tukar menukar kepentingan antara satu jenis syahwat (ego) dengan jenis syahwat (ego) lainnya yang ditentukan berdasarkan nilai tukar nominal tertentu.
Untuk jenis seperti itu maka saya sangat setuju jika istilah "mantan" atau "bekas" atau bahkan "limbah busuk" memang pas digunakan.
Jangan pernah menyebutku mantan. Sebab, (whatever you are), kamu tetap sesuatu yang indah untuk ku hormati dan muliakan.
Makassar, 18 / 05 / 2018
*Pena Koesam
*Rst
HIKAYAT
Saban hari, seorang raja di rundung sedih. hatinya kelu, nafsu makannya menurun, tiap jam makan tiba. Sang Raja memikirkan putera mahkotanya, ternyata seorang pemuda pemalas. Apatis. Talenta raja tidak terlihat dalam pribadinya.
Suatu saat, Sang raja menemukan cara merubah pribadi Puteranya, "Menggunakan kekuatan Cinta". Sang Raja mendatangkan Gadis-Gadis Cantik ke istananya. Istana pun berubah menjadi Taman, semua bunga pun mekar di sana Dan terjadilah sesuatu yang memang di harapkan sang Raja.
Puteranya, Jatuh cinta pada salah seorang gadis diantara mereka. Tetapi, pada gadis itu, Raja berpesan : " Kalau puteranya menyatakan cinta Padanya bilang saja, aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk raja atau seseorang yang berbakat menjadi raja".
Benar saja. Seketika Putera raja itu tertantang. Maka, ia pun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang Raja. Ia melatih dirinya menjadi raja Dan terbukti talenta raja-raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata. Semuanya terjadi akibat cinta.
Setali tiga uang dengan hikayat diatas. Dari usianya, kelihatan bahwa perempuan tersebut sudah senja, kulitnya Hitam, wajahnya tidak banyak yang suka memandang. Waktu pertama kali seorang lelaki masuk ke rumahnya, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu.
Lelaki kaya itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya menikahi perempuan itu?. Tetapi, ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu seutuhnya. Apapun resikonya. Akad nikah di lansungkan, semua hadirin berdoa agar keluarganya menjadi mawahdah dan warohmah dalam mencapai Sakinah.
Di suatu saat perempuan itu berkata, " ini emas-emasku yang sudah lama ku tabung, pakailah untuk mencari wanita idamanMu, aku hanya membutuhkan status, bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri". Tetapi, lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu Dan takkan menikah lagi".
Semua orang heran, keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka di karunia anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun orang-orang menanyakan rahasia itu padannya. Lelaki itu menjawab biasa, " aku memutuskan untuk mencintainya, aku berusaha melakukan yang terbaik.
Tapi, perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Justru, Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang membuat aku melupakan pada fisik". Begitulah cinta yang sudah terurai dalam laku. Melebur bersama waktu.
***
Alkisah, seorang pedagang keliling di suatu daerah di Mesir. Dia biasa menghabiskan waktu rata-rata seminggu berada diluar rumah, membawa barang-barang dagangan yang di butuhkan oleh banyak orang di masa itu. Suatu saat, sang pedagang keliling itu, mengalami satu hal yang akibat Dari Perbuatan itu, sangat melelahkan jiwa dan pikirannya. Sekalipun dia sadar (perbuatan) itu terjadi tanpa di sengaja.
Saat itu, Dia mangkal disuatu kampung dan seperti biasanya, banyak ibu-ibu dan gadis yang mengerumuni dagangannya untuk membeli kebutuhan yang mereka butuhkan. Di antara para perempuan itu, ada yang paling cantik (Sebagai laki-laki normal), secara naluriah mengeringi perempuan itu. Ada pikiran terlintas di hatinya, andai dia dapat sekedar "menyentuh" tubuh perempuan itu sekalipun hanya sekian detik saja. Itu sudah lebih dari cukup.
Tapi, dia segera sadar bahwa dirumahnya sedang menunggu isteri tercintanya. Toh, tidak kurang cantiknya dari perempuan itu. Pikiran normalnya kembali pulih dan dia kembali fokus pada dagangannya, serta para pembelinya. Tetapi, hal aneh terjadi, di luar kesengajaan, dimana entah mengapa tetiba perempuan cantik itu jatuh kepleset dan menimpa si pedagang itu, yang secara refleks tangan pedagang menahan tubuh perempuan itu agar tidak terjatuh ke tanah.
Dia terengah-engah bukan karena beban berat badan perempuan itu, tapi karena Syahwatnya bergejolak. Sebab, posisi perempuan itu telengkup dan buah dadanya persis dilengan atau tangannya. Peristiwa itu berlansung cepat, secepat perempuan itu bangkit dan menjauh sambil terisak malu serta menyebut nama Tuhan. Orang-orang yang ada disekitarnya menenangkannya dan beberapa saat peristiwa itu terlupakan begitu saja, hingga sang pedagang pergi. Itu memang hari terakhir dia diluar dan hari itu pula dia akan pulang ke daerahnya.
Jika bagi mereka yang hadir saat peristiwa itu terjadi, telah lupa dengan hal itu. Tapi tidak dengan pedagang itu, sepertinya kekenyalan tubuh perempuan itu masih melekat ditangannya Dan ingin segera pulang untuk bertemu isteri tercintanya. Tapi, sungguh perasaannya tidak enak. Dia merasa kotor dan berdosa. Dia menganggap telah menghianati istrinya. Walau ia sadar bahwa peristiwa itu terjadi, tanpa kesengajaan.
Tapi, Begitulah. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya Kacau. Pikirannya lansung tertuju pada Guru (Mursyid) spiritualnya. Dia akan menangis di kaki sang Guru nanti.
Sampailah dia dirumah, dia memaksakan diri bersikap biasa saja pada Istrinya. tetapi, ada yang aneh. Dia melihat mata isterinya sembab dan bengkak, itu pasti karena tangisan. Dia semakin panik, saat dia tanyakan ada masalah apa sehingga mata Istrinya sembab dan bengkak seperti itu, justru istrinya lansung menangis. Tanpa pikir panjang, dia lansung menghadap Guru Spiritualnya dan sambil menangis, ia menceritakan semua yang terjadi, juga tentu tentang sikap istrinya yang tidak wajar.
" anakku, Hatimu sungguh bersih. kamu laki-laki setia yang senantiasa berkomitmen pada Allah. Kamu benar-benar berusaha menjaga amanah terkait Istrimu". Dia terdiam sejenak dan menlanjutkan : Peristiwamu dengan perempuan yang terjatuh di pangkuanmu itu adalah peristiwa yang tidak di sengaja. Tali Tuhan ingin memberikanMu hikmah dengan peristiwa itu. Jangan pernah ada syahwat lain kepada perempuan lain, kecuali dengan cara yang halal. Bahwa cinta yang agung itu adalah hadiah Tuhan buat kita. Maka hargailah hal itu dengan kesetian, dimanapun kau berada dan seindah apapun godaan (Syahwat) di depan matamu", Sang Guru itu Melanjutkan.
" perihal sikap Istrimu, Sungguh dia adalah perempuan yang setia. Jika saja Allah tidak menguatkannya dengan Iman, dia bisa Gila. Dia sungguh sangat takut pada Allah dengan kesetiannya padamu. Pulanglah, peluk dia. Hibur dan tenangkan dia dengan penuh cintamu. Nanti kamu akan tahu, apa yang terjadi, lansung dari Mulutnya", kata Sang Guru.
Jadi, rupanya Persis saat peristiwa pedagang itu tertimpa Tujuh sintal perempuan itu, maka pada saat yang sama dirumahnya ada perampok yang masuk dan karena ketakutan si Istri tak sadar, jika tubuhnya sempat di geranyangi oleh tangan si Perampok sebelum melarikan diri plus dengan sedikit hasil rampokannya. Setelah tersadar sang Istri menangis sejadi-jadinya karena merasa kotor dan ternodai.!
Mendengar cerita istrinya itu, sang pedagang justru menangis dan memeluk istrinya dengan penuh cinta. Dia ingat kata Gurunya bahwa Tuhan hendak memberikanMu Hikmah atas semua peristiwa yang terjadi.
Jika benar-benar dua hati (Dan jiwa), saling mencintai (dengan Nama Tuhan), maka antara keduannya ada ikatan Tali (Rohani) yang sangat kuat. Virbrasinya melampaui ruang dan waktu, serta jarak. Jika salah satunya "menyeleweng", maka salah satunya akan merasakan perasaan yang tidak enak di jiwannya. Walau dia tidak persis sebenarnya apa yang terjadi.
Demikian pula dengan yang terlanjur " menyeleweng" atau Khianat itu, akan terus di hantui perasaan bersalah yang menyesakkan dada, plus rasa khawatir di hatinya. Vibrasi dari dua jiwa yang sangat kuat dalam cinta ini sering disebut dengan " Twinflame atau Soulmate (kembaran atau Belahan jiwa)". Pada kasus-kasus yang lain, itu juga bisa terjadi antara orang tua dan anak-anak yang jauh.
Pada kasus lain yang lebih khusus lagi, acap kali peristiwanya saling tarik menarik. Jika yang satu selingkuh, maka yang satunya lagi akan di tarik untuk melakukan hal sama, entah disengaja atau tidak, disadari atau tidak. Dalam Terma yang lain, semua rangkaian proses diatas itu juga kerap disebut orang-orang dengan " Hukum daya tarik menarik (low of attractions)" yang terjadi pada level energi. Juga sebahagian yang lain menyebutnya sebagai " Karma".
Entahlah, diera medsos ini, apakah masih ada yang terjadi seperti yang diatas.
***
Saya ingat dengan sebuah kisah ; Suatu ketika, Seorang bertanya Pada Mulla Nasruddin, Yaa, syaikh; apakah engkau tidak pernah berpikir untuk menikah?.
" Syaikh : dulu, aku ingin menikahi seorang wanita sempurna, untuk itu aku melewati lembah dan gurun, hingga aku tiba di Damaskus. Disana aku menemukan wanita cantik dan mempesona. tapi, sayang wanita itu tiada kabar akan dunia. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Lebanon, disana saya menemukan seorang wanita, memiliki pengetahuan tentang langit yang luar biasa. namun, sayang ia tidaklah cantik. Dan saya pun melanjutkan perjalanan ke mesir, disana saya menemukan wanita cantik, berpendidikan, kaya raya dan hampir saja saya menaikahinya".
Kata kawannya ; lantas, mengapa engakau tidak menaikahinya, syaikh?.
" Syaikh ; wahai kawan, sayang wanita itu pun mencari pria yang sempurna dan itu bukan aku".
Meniti detik, menit, jam dalam proses perjalanan kehidupan, dalam mengarungi samudera waktu. kecenderungan temporal kebanyakan kita, sangat bergantung pada orientasi mencari pasangan yang sempurnaa. namun, acap kali abai memantaskan dan memperbaiki diri.
Kita pun tersadar bahwa hanya Dialah (Tuhan) yang mutlak dan wajib sempurna. sementara kesempurnaan yang kita cari, tidak lain, merupakan kesempurnaan nisbi, semu (sementara). Kata “Jalaluddin Rumi” dalam singasana cinta, datangalah padaku dan engkau akan menyempurna.
***
CINTANYA QOIS YANG MAJNUN
Rumi mendaku, "Cinta selalu menjadikan sesuatu jadi tampak menawan namun yang tampak dan menawan belum tentu menyebabkan jatuh cinta".
Suatu ketika Qois (Majnun) ini tetiba kaget, ada anjing dari kampung laila. Sekonyong-koyong berjalan lewat didepannya Qois. Qois mengikutinya karena dia ingin segera bersua dengan Laila: jangan-jangan ini bisa mempertemukanku dengan laila.
Ditengah perjalanan, Qois melewati sekelompok orang yang sedang Sholat berjama'ah. Mungkin anjingnya lewat Masjid, tetapi Qois tidak melihat mereka sebab Qois Konsentrasi melihat anjing.
Setelah Qois pulang, sekelompok orang yang sholat tadi itu marah-marah pada Qois : Wahai Qois, tadi saat engkau lewat, kami sedang Sholat, mengapa engkau tidak ikut sholat bersama kami. Kamu tau kami sedang sholat, kamu lewat saja, dasar kurang ajar kamu Qois.
Kata Qois : Demi Allah, saat kalian sedang sholat berjama'ah, aku sama sekali tidak melihat kalian.
Kenapa?. Karena hatinya hanya fokus pada anjing dan yang Ia cintai (laila).
Hikmahnya : Bila kalian benar-benar cinta pada Allah, sebagaimana Aku cinta pada Laila. Pasti kalian tidak melihat diriku. Padahal kalian sedang berbicara dengan Allah tetapi kenapa kalian justru masih memperhatikan diriku. Aku saja yang mengejar anjing kepunyaan laila, si pujaan hatiku. Sama sekali tidak melihat kalian, lupa pada kalian. Sedang kalian, sedang beribadah pada Allah tetapi sibuk dengan diriku.
Suatu ketika dirumah Laila, diadakan pesta. Semua warga desa diundang. Qois (Majnun) tidak diundang, Ia menyusup masuk sampai didalam rumah. Dia melihat orang-orang antri, untuk mendapatkan makanan. akhirnya Dia juga ikut antri. Sewaktu Qois mengantri, yang membagikan makanan antrian adalah laila. Sehingga dia bisa memandang wajahnya laila.
Saat Qois dapat giliran antrian, laila tidak membagikan makanan ke Qois. Tapi malah piring untuk Qois di banting hingga pecah.
Keluarganya laila senang: Alhamdulillah, laila sudah sadar sekarang. Orang-Orang yang melihat hal itu, merasa senang semua. Tetapi ada satu orang yang melihat dan memperhatikan Qois : kenapa Qois justru ikut senang. Lalu ditanyalah Qois sama Orang yang memperhatikannya itu : Qois kenapa Mukamu tersenyum. Bukankah Kamu telah dipermalukan didepan semua warga desa?. "Qois menjawab" : kapan saya dipermalukan?. Tadi waktu Laila memecahkan piring?. Qois menjawab ; oh tidak begitu, kamu salah paham. Laila itu memecahkan piringku, Tujuannya hanya satu, agar aku ikut mengantri lagi. Jika saya mengantri lagi, maka saya akan bertemu lagi dan kita bisa berlama-lama saling memndang sehingga rindunya bisa terobati.
Itu sindirian Qois : Jika Kamu diuji, dicoba, barangkali Tuhan ingin dekatnya lama sama dirimu. Jika doamu belum juga terkabulkan, mungkin Allah Rindu mendengar rintihan suaramu terus menerus. Jangan berprasangka buruk, makanya Cintailah Allah, dekati Allah dengan Rasa Cinta. Maka kecil kemungkinan kita akan kecewa dan putus asa.
**
Suatu ketika Majnun ingin bersua dengan Laila, lalu ia menaiki Onta. Tapi sayangnya, ontanya baru melahirkan. Onta yang baru melahirkan ini, masih sayang-sayangnya sama anaknya. Jadi saat ditunggangi sama Majnun, onta ini bolak balik, maju-mundur, istilahnya. Akhirnya Majnun memilih turun, sudahlah. Cintamu dan cintaku tidak sejalan.
Menunggangi kamu, aku berjalan ditempat, kadang maju, kadang mundur. Perjalanan sehari, membutuhkan waktu lama. Tidak, aku tak akan menunggangi kamu lagi.
Majnun turun, berlari dan terjatuh. Akhirnya kakinya patah. Tapi dia tak putus asa, dia ikat sendiri kakinya yang patah dan menggelindingkan badannya.
Hikmahnya adalah jika kita masih terikat dengan dunia, dengan banyak hal diluar diri kita (seperti onta tadi yang ditunggangi) maka kita tidak akan sampai-sampai pada yang dicintai.
Tinggalkan semua bebanmu, berjalanlah, berlarilah, menggelingdinglah menuju yang kamu cintai.
**
Suatu ketika Qois (Majnu) ini sakit, dibawalah sama teman-temanya ke tabib. Kata Tabib : ini sakitnya parah, harus dibedah. Ada yang infeksi, ada darah yang harus dikeluarkan. Tapi Majnun menolak, saya tidak mau dibedah.
Tabib heran : kenapa kamu takut, bukankah selama ini kamu keluar masuk hutan sendirian?. Harimau kamu tidak takut, Macan kamu tidak takut?. Ini mau dibedah saja kamu takut?.
Kata Majnun: bukan dibedahnya yang saya takut. Tabib : terus kamu takutnya apa?.
Kata majnun: aku takut, pisaunnya menyakiti Laila. Tabib : sambil keheranan, ia berguman menyakiti dari jalur mana. Yang dibedah ini kamu Qois bukan laila?.
Kata Majnun : justru itu. Laila ada disetiap bagian Tubuhku, Dia ada di aliran darahku. Jadi aku takut menyakitiNya.
Hikmahnya adalah : ketika orang sudah sangat mencintai, antara yang mencintai dan yang dicintai sudah tidak memiliki sekat, hijab lagi. Ketika Laila disakiti maka Majnun yang sakit. Majnun yang dibedah, laila yang sakit. Itu yang dikhawatirkan Majnun.
Alkisah, ada seoasang suami dan Istri yang hidup berkecukupan. Suatu ketika, saat pasangan suami istri tersebut sedang duduk dimeja makan dan bersiap-siap untuk makan siang, tetiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang pengemis. Sang Istri hendak memberinya makan, tetapi suaminya kemudian menghardik dan mengusir pengemis tersebut. Beberapa tahun setelah kejadian itu, usaha sang suami mengalami kebangkrutan. Kekayaannya Sirna. Selain itu, karena perangai yang buruk sehingga ia juga bercerai denga istrinya.
Sang perempuan menikah lagi dengan Lelaki yang perangainya baik dan hidup berkecukupan. Suatu ketika, perempuan itu tengah bersiap menikmati ayam panggang dimeja makan bersama suami barunya. Tetiba pintuk rumahnya diketuk oleh seorang pengemis. Berbeda dengan sikap suami pertamannya, suami kedua berkata kepada sang Istri : " Tolong berikan makanan kita kepadannya".
Perempuam itu mematuhi perintah suaminya. Setelah memberikan makanan kepada Pengemis, perempuan itu pun duduk dimeja makan sambil menangis tersedu sedan.
"Apa yang membuatmu menangis?, tanya Sang Suami". Jawab sang Isteri : pengemisi barusan itu ternyata, mantan suamiku. Dahulu, kami juga pernah didatangi pengemis ketika sedang menikmati hidangan, lalu Ia menghardik pengemis. Sekarang, justru ia menjadi pengemis.
"Suaminya tersenyum dan berkata dengan lembut : tahukan engkau, pengemis yang dahulu diusir Mantan Suamimu itu adalah Aku".
***
JANGAN BERLEBIHAN
Al Kisah seorang pria yang baru pulang ke rumahnya di kejutkan oleh suara tangisan istrinya. Ditanyakan sebabnya, istrinya menjawab, “ burung-burung diatas pohon itu sering melihatku tanpa hijab dari jendela. Aku takut ini dihitung sebagai maksiat”.
Mendengar jawaban itu, sang suami terenyuh dengan ketaatan istrinya. Dicium kening sang istri setelah itu ia keluar kamar. Dengan sigap dia mengambi kapak lalu menebang pohon besar dipekarangannya.
Seminggu setelah itu dia pulang lebih awal. Betapa kagetnya dia mendapati istrinya tidur dengan laki-laki lain. Hancur hati sang suami. Dia mengambil barang-barang seperlunya, lalu pergi sejauh mungkin dari kotannya.
Sampailah disuatu kota. Terlihat khalayak ramai berkumpul didepan istana kerajaan. Dia bertanya kepada salah satu orang distu. Jawabannya, “ harta kerajaan kemalinagn”.
Tidak jauh dari keramaian itu ada seorang kakek bersurban dan berjubah, jalan berjinjit. Hal itu menarik perhatiannya. Dia bertanya lagi kepada orang distu ; “ mengapa kakek itu berjalan seperti itu?”. Orang-orang disitu menjawab : “ beliau itu Syaikh dikota ini. Beliau selalu berjalan seperti itu, agar jangan sampai menginjak semut atau satwa apapun dibawah kakinya” . mendengar jawaban itu, sang pria meminta agar segera dihadapkan kepada Raja : “ Aku sudah menemukan pencurinya”, kata Sang pria.
Dihadapan raja pria itu bilang ; “syeikh itu pencuri harta kerajaanmu”. Syeikh pun dipanggil. Setelah terjadi penyelidikan dan persidangan, akhirnya Syaikh itu mengakui perbuatannya. Syeikh pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Raja berterima kasih kepada pria. kemudian raja bertanya ; “bagaimana kau bisa tau bahwa syeikh itu adalah pencurinya?”. Sang pria berkata ; “pengalaman hidup telah mengajariku, bahwa orang yang berlebih-lebihan dalam menampakkan kesholehan, pasti dia sedang menutupi keburukannya.
Selasa, 13 Mei 2025
CINTA ITU SENI, BUKAN JATUH
"Disana ada hati yang tak mengenal benci sekalipun telah kau lukai, namun disana juga ada hati yang tak mengenal cinta walaupun engkau telah melakukan apapun deminya" - (Shakespeare).
Entah, saya tidak mengerti bagaimana orang sebesar Shakespeare harus menulis pernyataan seperti itu. Jika maksudnya bahwa memahami manusia sangat tidak mudah, dan tentu saja (apalagi) memahami hakekat cinta, maka pernyataan dia diatas bisa di mengerti. Sebab, pada diri manusia hanya ada dua sisi terbesar yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia: (1) Cinta. (2) benci. Maka, hati dan Jiwa memiliki dua ruang utama yang masing masingnya di isi oleh benci dan cinta. Ruang dimana "benci" bertahta di kenal dengan nama "syahwat atau Ego". Ruang dimana "cinta" bertahta di kenal dengan nama "nurani" tempat dimana rasa empati dan kasih sayang meliputi.
Bagi mereka yang manjadikan "kebencian" dan "syahwat atau Ego" sebagai motor penggerak hidupnya. dia akan menjadi "wali Iblis" (angkara murka) dan sulit menemukan bekas-bekas penuh Rahmat pada hampir seluruh perbuatan manusia ini, kecuali kerusakan, kebusukan dan kesengsaraan. baik bagi dirinya sendiri dan (terutama) pada orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang menjadikan "nuraninya" sebagai motor penggerak kehidupannya. maka, seluruh bekas-bekas perbuatannya di liputi Rahmat, kasih sayang, manfaat, perbaikan, kesehatan jiwa dan akhlak, ketulusan serta kebahagiaan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Kelompok kedua diatas umumnya di panggil sebagai "kekasih Allah" (wali Allah). Manusia, apapun dan siapapun dia, akan selalu berada di antara dua pertarungan abadi diatas : menjadi Wali Iblis atau Wali Allah, sesederhana apapun bentuknya. Maka, (menurut saya) pernyataan Shakespeare di atas yang dikutip seseorang, telah membawa saya pada satu kesimpulan sederhana bawah manusia seperti itu ; "Yang tidak memiliki benci dan cinta" di hatinya (adalah) manusia yang hakekatnya sudah "mati" sebelum "kematiannya".
Sebab, bagaimana mungkin dia akan mampu memiliki rasa Empati dan sense of sensitivity (merasakan derita orang lain) sepenuh hatinya. (entah), akibat perbuatan dia sendiri atau perbuatan orang lain. (jika), dirinya sendiri tak miliki "benci" dan "cinta" dalam kehidupannya?. Bagaimana mungkin dia akan mampu memiliki rasa keadilan, penghargaan dan penghormatan pada orang lain?. Pada janji-janji dan komitmen yang di buatnya, Juga keberpihakan pada kebenaran dan menolak kedzaliman?.
Bagi saya (pribadi) penggambaran William Shakespeare tentang manusia seperti isi pernyataan dia, diatas itu tidak lebih hanyalah seonggok "mayat hidup" belaka. Mayat hidup belaka.
**
Cinta sebagai sebuah energi yang menggerakkan. Lantas, Cinta itu apa ?. Apakah Cinta itu bersifat pasif atau Aktif?. Manakah yang lebih didahulukan, mencintai atau dicintai?.
Kebanyakan kita belakangan ini dan mungkin saja yang lalu-lalu pun sama, bahwa mendefenisikan Cinta itu adalah ekspresi dari Rasa suka pada sesuatu, seperti rasa yang tetiba datang, sebagaimana banyak diksi-diksi yang berseliweran. Maka, yang acap kali kita gunakan untuk mendeskripsikan hal itu adalah "Jatuh cinta". Apakah cinta seperti itu?.
Kata Eric From, "Cinta itu seni". maka, ia mesti dipelajari. konsekuensinya harus di aplikasikan. Sehingga urusannya bukan kamu mencintai siapa. tetapi, bagaimana caramu mencintai.
Suatu ketika, kita terfokus pada apa yang kita sukai, pada apa yang kita cintai. kata Eric From, itu salah. Sebab, Untuk menjadi seorang pecinta, Fokuslah pada Cara mencintai yang baik. Berhentilah menguras energi mencari cinta. Mulailah Berperilaku sebagai pecinta, agar segala sesuatu layak dan tanpak untuk dicintai.
Jika kita terfokus pada Apa yang harus kita cintai. maka, tak ayal jika kita kerap memilah-milih. (Suka yang ini, tidak suka yang itu. Seleraku yang ini, yang itu bukan seleraku). Itu kan egois namanya.
Problem cinta kita, selama ini adalah, kita salah mengidentifikasinya, menganggap bahwa mencintai itu harus ada yang di cintai. Padahal, yang harus kita dahulukan adalah bagaimana cara mencintai yang baik dan benar. Misalnya, kita mau menulis; pertama-tama, yang kita harus tahu bagaimana cara menulis. Sebab, sebagus apapun objek dari sesuatu yang kita mau tulis, jika kita tidak tahu menulis, hasilnya pasti tidak jelas. Begitulah kebanyakan kita yang mencintai. tetapi, tidak sadar bahwa kita telah merusak yang dicintai atau merusak dirinya sendiri yang mencintai.
Ada Idiom dalam Terma pejalan sunyi, yang bertutur : "belajarlah cara mencintai". Mengapa?. sebab, Hampir semua ilmuan dan Filsuf berkata, bahwa relasi paling agung antar manusia ialah relasi Cinta Dan hal itu yang di identifikasi saat Filsafat itu lahir.
Di titik itulah, cinta itu aktif. tidak pasif. Karena, cinta itu seni bukan Jatuh. Olehnya, ia Niscaya dipelajari dan dipraktekkan.
Mungkin inilah yang dimaksud dengan Cinta Platonic. Di level tersebut, Kita tidak perlu khawatir, kita bisa jatuh cinta kepada siapapun. Kalau mencintai, yah cintai saja. Tidak ada urusan dengan fisik. Tidak ada urusan dengan apakah Di terima atau di tolak Atau saya menyebutnya, mencintai tanpa diketahui bahwa kita mencintainya.
Cinta yang di maksudkan adalah Cinta tanpa keterikatan emosional. Sebab, Sumber keterikatan emosional adalah keterasingan pada Diri. Sementara kondisi Keterikatan, sependek pengetahuanku, dalam Kaca mata Teologis, hanya berpangkal pada Allah. Sedangkan, keterikatan emosional selain kepada Tuhan, hanya akan melahirkan harapan dan keinginan. harapan dan keinginan ini, jika tidak di penuhi. maka, akan melahirkan kekecewaan. Sehingga pola yang kita petakan adalah yang tidak berharaplah yang tidak akan pernah kecewa. Sebab, yang banyak harapan dan keinginanlah yang akan merasakan kekecewaan. Pinjam istilah sayidina Ali, "Aku sudah merasakan seluruh kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia".
Cinta yang emosional, menurut plato, ibarat cinta serigala kepada domba. Cintanya Membelenggu, memasung. Sebab, tidak akan mungkin serigala jatuh cinta pada domba. Sedalam apapun cintanya, jika sudah lapar, pasti di mangsa juga.
Implikasi Keterikatan Emosional adalah ketakutan pada rasa kehilangan. Akhirnya, kita bergantung. Sebab, tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terikat, yang tidak akan terpisah. Pasti terpisah. Olehnya, Janganlah mengikutkan Emosi dan Ketergantungan dalam sebuah hubungan, agar Cinta tidak menjadi sumber kesedihan. Setiap hubungan yang tidak melibatkan EGO (beban psikologis dan emosional) umumnya, lepas apa adanya dan mengalir begitu saja. Entah, itu sifatnya negatif atau positif, (terutama) di awal-awal interaksi.
Berkenaan dengan itu, saya juga kembali teringat dengan pemikir bermazhab Frankfrut "Eric From" dalam buku yang berjudul The Art Loving, Yang menegaskan bahwa pentingnya relevansi cinta dalam masyarakat kapitalis, yang terdisentegrasi dengan ketimpangan sosial. bagi From, disentegrasi itu adalah cerminan dari eksistensi manusia yang tidak dapat mengatasi keterpisahan. Cinta itu tidak akan mungkin di bahas tanpa menganalisis eksistensi manusia. menurut From, teori apapun tentang cinta harus di mulai dengan teori tentang manusia (eksistensi).
Cinta adalah jawaban dari problem eksistensi manusia yang berhasil secara alamiah dari kebutuhan manusia untuk mengatasi keterpisahan dan penjara kesepian. tetapi, penyatuan di dalam cinta melebihi suatu simbiosis. karena, cinta yang dewasa ialah penyatuan di dalam kondisi dengan tetap terpelihara integritas seseorang. Cinta adalah kekuatan yang aktif di dalam diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dengan sesama.
Sayang dan cinta kasih di era kapitalisme hanya menjadi komoditas (dagangan). begitu banyak kisah cinta, yang murah yang umbar dalam lagu-lagu, sinetron, hikayat, puisi, dsb. Sebab, komersialisasi cinta yang demikian, akan menunjukkan kata cinta dan prakteknya mengalami degradasi.
Hal inilah yang di sampaikkan oleh "Nuraini Soyumukti" dalam filsafat cintanya. beliau yang konsen dalam menggugat budaya kapitalis, sekalipun seorang psikoanalisis. Ia menyuguhkan bagaimana "Karl Marx" adalah seorang yang sangat Romantis dan Humanis. sebagaimana yang kita ketahui bahwa Marx banyak bicara soal cinta dan kepercayaan yang dibangun manusia dalam filsafatnya. Bahkan Marx mencita-citakan bahwa cinta hanya bisa di tukar dengan cinta dan kepercayaan hanya bisa di tukar dengan kepercayaan.
Urusan mencintai itu sebenarnya bukanlah urusan Falling In Love. Tetapi, lebih kepada urusan Stunding For Love. Sebab, Kalau Falling In Love itu Intuitif - punya dorongan jiwa Untuk mencintai, sebagaimana Fitrah kita sebagaimana manusia.
Maka, semua orang Bisa. Tetapi, kalau Cinta adalah Urusan Stunding For Love - ketika rasa itu muncul dan kita sudah mengalami jatuh cinga, maka apa yang harus kita lakukan, agar cinta dapat menegakkan cinta.
**
Ada banyak persepsi soal cinta. Banyak sekali Dan kerap kali yang kita maksudkan tentang cinta, kadang kala, cuman urusan lawan jenis saja. Kalau saya melihatnya, bahwa cinta itu sangat Fundamental. Misalnya, "Karena cintanya Allah kepada Nur Muhammad. maka, Allah menciptakan jagat raya". Berarti cinta itu sangat fundamental Atau, ini agak lebih abstrak, Kalau benda untuk bisa (Eksis) berada, membutuhkan ruang. tanpa ada ruang, tidak mungkin ada benda. Relasinya, Kata Kerja : dinamika, bergerak, melakukan sesuatu. Itu hanya akan ada, jika ada cinta. Jadi, ruangnya kata kerja adalah cinta.
Selain itu juga, Cinta itu bertingkat-tingkat. Saat kita kecil dulu, cinta selalu kita ekspresikan berkaitan dengan "AKU" - mainanku, punyaku, bapakku, ibukku, dsb. Untuk berbagi saja, kita tidak mau. Karena, pelajaran pertama kita adalah ketika kita punya watak. maka, kita harus mencintai watak kita agar bertahan hidup.
Setelah menginjak remaja sampai dewasa sedikit. Kita Mulai terganggu dengan hormon-hormon. Cinta kita seolah-olah berkembang ; "Aku Cinta Padamu". Pada kondisi ini, kerap kali yang terjadi ialah ketika kita mengutarakan,"aku cinta padamu". Lantas, cinta kita di tolak. akhirnya cintanya hilang, berubah menjadi benci. Sebenarnya, pada dasarnya kita masih mencintai diri kita sendiri. Hanya saja, obejeknya ke orang lain. Kita Mencoba mengekspresikan cinta melalui objek orang lain. Sehingga, cinta dinding-dinding syarat dan alasan.
Kemudian berkembang menjadi dewasa lagi. Punya anak. Pada level ini, cinta sejatinya sudah tanpa syarat. Contoh, tidak mungkin seorang bapak, saat di kencingi atau air liur anaknya menempel dipipinya. Bapaknya lansung memutuskan hubungannya dengan anaknya. Tetapi, faktanya Akan berbeda jika hal itu terjadi pada pacar kita, misalnya. Apakah hal itu membuat kita senang?. Pasti kita menjawab, gila kamu.
Ihwal itulah, menurut saya cinta itu berkembang Dan perkembangan cinta juga meningkatkan kesadaran tentang AKU. Artinya, kita cinta tidak sama tangan kita?. Ataukah pernahkah kita mengikrarkan cinta pada tangan kita?. Ya, tidak pernah. Mengapa?. Karena, kita tahu bahwa tangan kita adalah bagian dari diri kita. Kita mencintai tangan kita, tanpa dinding-dinding syarat. Bahkan ketika tangan kita sakit, kita secara natural mengobatinya. Atau, misalnya Ibu kita tiba-tiba jatuh, kita menolongnya memakai alasan atau tidak (saya harus menolongnya, agar bisa masuk surga, kira-kira begitu alasannya)?. Tentunya, Tidak ada lagi pikiran atau dinding-dinding syarat dan alasan demikiam. Sebab, secara otomatis, kita lansung menolongnya. Karena, kita menolong ibu kita, seperti kita menolong diri kita sendiri. Mengapa?. Karena, Aku-Nya telah berkembang.
Point Lain dari Tulisan ini, ketika semua Manusia di muka bumi. Aku-Nya terekspresikan. Maka, kita tidak perlu belajar toleransi, menghormati, menghargai, siapakatau, siapaka'inga kepada orang lain. Karena, kita otomatis akan melakukannya. Sederhannya begini ; ada cewek, tetiba di kandatto (jitak) kepalanya. Apakah kita merasa sakit juga. Yah, tidaklah. Kenal saja tidak. Tetapi, kalau cewek itu adalah pacar atau istri kita, tetiba dikandatto. Kita marah atau tidak?. Secara spontanitas, kita akan marah, bahkan mungkin kita akan Hantam orang tersebut. Mengapa?. Karena, kita merasakan sakitnya juga.
Ummat Islam, seharusnya demikian. Jika satu sakit. Maka, semuanya ikut merasakan sakit. Karena, satu badan ini adalah AKU Dan seharusnya tidak berhenti di situ, karena bedanya manusia dengan hewan. Wataknya, sama-sama butuh makanan, sama-sama butuh tidur, sama-sama butuh berkembang biak. Bedanya, yang paling mendasar pada konteks ini ialah naluri pada hewan adalah memberi batas (ini daerahku). Sedangkan Manusia, Ia ingin mengembangkan diri, sehingga tidak ada batasnya, (kalau sudah paham, mau di kembangkan. Kalau sudah cinta, mau lebih cinta lagi). Kadang-kadang arahnya Paralel, bukan seri.
Jika pertanyaan begini, apakah percaya dulu atau cinta dulu?.
Nah, ini lagi-lagi ada limitasi bahasa. Percaya itu, paling sedikit ada dua jenisnya. Pertama, percaya pada sesuatu yang kita tidak tahu. Misalnya ; ada kambing terbang, percaya atau tidak?. Pun kita mempercayainya, hal itu percaya pada sesuatu yang kita tidak ketahui. Kenapa?. Karena, tergantung siapa yang memberikan informasi. Kalau saya yang memberi informasi, pasti orang tidak percaya. Tetapi, kalau Ustadz-Ustadz yang tersohor yang berikan informasi. Masa, ustadz-Ustdaz mau berbohong.
Kedua, percaya pada sesuatu yang pasti terjadi dan tidak akan bergeser. Ini dua jenis percaya yang berbeda. Misalnya, kita percaya tidak, pada gaya gravitasi?. Walaupun, kita tidak mengikrarkan bahwa kita percaya. Tetapi, di alam bawah sadar kita percaya. Sebab, Sedetik saja kita tidak percaya pada gravitasi, maka kita tidak akan berani untuk kencing. Jangan-jangan arah kencing kita tidak kebawah, tapi muncrat keatas.
Jadi, percaya dulu atau cinta dulu?. Saya yakin bahwa Percaya dulu. Bukan, percaya pada sesuatu yang belum terjadi. Tetapi, percaya pada sesuatu yang sudah kita alami terjadi dan kita tahu. Karena, yakin kepada sesuatu yang kita tidak ketahui, kita hanya bisa mempercayainya. Tetapi, sesuatu yang kita alami, kita menjadi tahu, tidak hanya percaya.
Tetapi, Kalau percaya, belum tentu dialami. Misal, kita percaya ada salju?. Iya percaya. Kita pernah mengalaminya?. Nah, itu hanya pengetahuan. Bukan pengalaman.
Pointnya adalah : Banyak orang kecewa karena cinta, bukan karena cintanya. Tapi, Karena dia percaya pada imajnasi apa yang terjadi setelah cinta ini berjalan. Dia percaya pada imajinasinya, bukan pada kenyataan yang sudah terjadi. sebab, Kita tidak bisa keluar dari cinta. kita pasti mengalami cinta, sejak berada di dunia. Karena, dunia, di ciptakan oleh cinta. Hanya saja, kesadaran kita pada cinta, seberapa intensifikasinya?. Dan tentunya, pandangan kita pada cinta, sebersih apa?. Untuk level cinta tertentu, tidak bisa lansung kita tahu. Kita perlu belajar.
Makanya, jika masih kecil, belajar dulu cinta sama mainan, cinta sama game, cinta sama teman. Lalu, tumbuh dan memahami bahwa ada kausalitas (sebab akibat) di dunia ini, yang bisa saya yakini. Karena saya mengalaminya atau menyakini kebenarannya. Setelah itu meningkat, ke level pacaran. Kita harus berdasarkan pada sesuatu yang kita alami.
***
Cinta merupakan kekuatan dan blue print bagi keberlansungan hukum kosmis. Sebab, Menafikan realitas cinta, sama artinya Mendistorsi harmoni jagat raya. Cinta adalah kekuatan Maha dahsyat yang dapat meluluhkan arogansi. cinta pula dapat mendamaikan hati yang sedang nanar.
Cinta bermakna memberi kasih sayang. Cinta melimpah, mengalir dari Bahasa "diam" ke bahasa "diam", sebab bahasa tak akan mampu bertutur secara Objektif dari Narasi jiwa. Maka, bahasa diam adalah cara terbaik mendialogkan Hati. tanpa tendensi, ikhlas, damai dan rebah dalam kedamaian cinta.
Kekuatan cinta terletak pada pengalaman bukan pada pembahasan dan dialektika. Cinta tidak akan menjadi nanar dan menjauh. hanya, karena ketidakmampuan pengungkapan. Sebab, cinta bertumpu pada Hati, bukan pada Rasio.
Cinta menurut Abraham Harold Maslow adalah "energi yang menakjubkan". Orang yang kehilangan cinta pasti telah lama kehilangan Harga diri. Orang yang ketiadaan cinta, maka jiwanya gelisah. Kehampaan dan ketiadaan cinta akan mengantarkan seseorang mengalami resesi dan akan jauh dari kebaikan.
Cinta sejati menghendaki kebenaran yang utuh. Karena, ia telah melampaui logika dan Rasionalitas. Cinta membutuhkan tindakan dan menafikan logika. Sebab, logika hanyalah rajutan gagasan yang acap berlalu tanpa makna.
Maka, rajutlah cinta sejati dengan bertumpu pada hati. sebab, hati tidak akan pernah membohongi realitas Dan rasio seringkali mempreteli fakta tanpa mempertanggung jawabkan di akhir narasi.
AKU MENCINTAIMU DAN ITU URUSANKU. BAGAIMANA KAMU TERHADAPKU ITU URUSANMU
Alor, 11 Januari 2019
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran


.jpeg)

.jpeg)


