Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Kamis, 18 Maret 2021

SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM

Seluruh pemikiran di dalam islam, fondasi utamanya Adalah Al-Qur'an dan hadist. Makanya tidak boleh, ada pemikiran di dalam Islam yang tidak berbasis kepada Al Qur'an dan hadist. Ihwal itulah, sehingga sejumlah tafsir terhadap Al Qur'an dan Hadist terus di lakukan. 

Pada zaman Rosulullah SAW, Ia sendiri di sebut sebagai, "Marju tasyriq wahdah - sebagai rujukan hukum satu-satunya". Artinya jika ada persoalan menyangkut tafsir terhadap Qur'an, para sahabat tidak perlu bertanya kepada yang lain. cukup bertanya kepada Rosulullah SAW, sebagai manusia yang di beri mandat oleh Allah, untuk menjelaskan makna-makna Yang terdapat di dalam Al-Qur'an. 

Mengapa Al-Qur'an perlu di jelaskan?. Karena tidak semua hal di jelaskan secara rinci di dalam Al-Qur'an. Misalnya, di dalam Al Qur'an kita di perintahkan untuk mendirikan sholat, Allah berfirman, "Aqimusholata wa atuz zakata wa atimul hajja wal umratal lillah - dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan sempurnakan haji dan umroh". Tetapi, bagaimana cara kita menunaikan sholat dan Haji?. Apa saja yang wajib di keluarkan zakatnya?. Tidak di jelaskan secara rinci di dalam Al-Qur'an. Maka, hal-hal yang demikian di jelaskan di dalam hadist. Hadist berfungsi sebagai tafsir terhadap Al-Qur'an atau mubayyin - penjelas. 

Tetapi, setelah Wafatnya Rosulullah SAW, Al-Qur'an bergerak sendiri. Tanpa di dampingi oleh Nabi sebagai Mufassir resminya dan kita tidak bisa bertanya lagi kepada Nabi Muhammad SAW untuk menfasirkan Al-Qur'an. Maka dari itu muncullah tafsir sahabat, Tafsir Tabi'in, Tafsir tabi' tabi'in sampai dengan sekarang. 

Jarak kita semakin jauh dengan Nabi Muhammad SAW. maka kita membutuhkan sebuah metodelogi untuk menfasirkan Al-Qur'an dan as-sunnah. Karena Al-Qur'an berbahasa Arab, maka kita harus tahu bahasa Arab. Tetapi, bahasa Arab saja tidak cukup, kita harus tahu asbabun Nuzul - sebab turunya Al-qur'an. Sedangkan, kalau menyangkut hadist, kita harus tahu sebab di Ucapkannya hadist tersebut - Asbabul Wurud. 

Secara Umum, Ummat Islam Harus mengerti, jika Al-Qur'an itu di Uraikkan. Kurang lebih ada empat kategori. Pertama, Al Qur'an mengandung Sejarah dan Kisah (Tarikh). Kedua, Al-Qur'an mengandung Aqidah dan Akhlak. Berkenaan dengan ayat yang Menyangkut Aqidah dan Akhlak, para ulama mendiskusikan dan menfasirkan dengan ayat-ayat tersebut. Makanya ketika kita baca sejarah, kita mengenal beberapa aliran dan kelompok teologis di dalam islam, seperti Mu'tazilah, Asy'ariyah, Mur'jiah, Khawarij, dsb. Ketiga, Al-Qur'an mengandung Hukum. Ayat-ayat hukum di dalam al-Qur'an sesungguhnya hanya sedikit, ada yang menyebut sekitar 500 ayat dan ada yang menyebut hanya sekitar 200 ayat saja. 

kelak para ulama menafsirkan ayat-ayat Hukum di dalam Al-Qur'an, maka lahirlah ilmu yang di sebut dengan Fiqih. Tetapi, cara untuk menafsirkan Ayat-ayat Hukum di dalam Al-Qur'an, ada metodeloginya yaitu Ushul Fiqih. Jadi, Fiqih adalah produknya, sedangkan Ushul fiqih adalah Metodelogi untuk menfasirkan Ayat-Ayat Hukum di dalam Qur'an dan hadist. Semantara, Tafsir para Ulama terhadap Ayat-ayat hukum di dalam Al-Qur'an, melahirkan Mazhab-Mazhab. Mazhab yang bertahan sampai sekarang di dalam lingkungan Sunni, ada 4 mazhab. 

Kita harus memahami, bahwa Al-Qur'an yang kita miliki adalah satu. Hadist yang kita miliki, maksimal tersebar di dalam 6 kitab Hadist. Tetapi, penafsiran para Ulama terhadap Al Qur'an yang satu dan hadist yang tersebar di 6 kitab hadist, ternyata tidak tunggal. Terjadi Perbedaan pandangan dalam menelaah Al-Qur'an dan Hadist. 

Apa yang menyebabkan sehingga terjadi perbedaan pandangan?. 

Pertama, perbedaan di dalam menggunakan dalil. Satu dalil atau ayat yang sama, ketika di pahami dengan dalil atau ayat yang berbeda, maka akan melahirkan produk hukum yang berbeda. Misalnya, satu menggunakan dalil mashlahat, yang satu menggunakan dalil qiyas. Maka pasti produk hukumnya berbeda. Kedua, perbedaan pendapat itu bisa terjadi, karena perbedaan di dalam memahami dalil atau ayat. Mengapa?. Karena di dalam Al-Qur'an, ada ayat yang tergolong sebagai ayat yang ambigu. Maksudnya, ada ayat atau diksi di dalam al-qur'an tergolong sebagai ayat yang Mustarok (kata atau ayat yang memiliki makna lebih dari satu). Kata atau ayat yang memiki makna lebih dari satu, berpotensi melahirkan produk pemikiran yang berbeda. Karena itulah, kita tidak perlu merasa gelisah dengan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Baik perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir, ulama fiqih ataupun ulama kalam. Asalkan perbedaan pendapat tersebut, tidak menyentuh pokok-pokok ajaran agama. 

Misalnya, Ulama bersepakat bahwa sholat itu wajib. Tidak ada perselisihan soal itu. Mau dia Mazhab Maliki, Hambali, syafi'i dan Hanafi. Tidak ada lagi perdebatan disitu. Tetapi, sekalipun di sepakati sholat itu wajib, bagaimana tata cara Sholat itu di laksanakan, di situlah potensi di perselisihkan. Misalnya, mazhab Hanafi menyatakan membaca fatihah di dalam sholat itu tidak wajib dan bisa di ganti dengan ayat yang lain. Karena, mazhab hanafi mengacu kepada keumuman ayat di dalam Al Qur'an. Allah berfirman, "faqro u ma tayassaro minal qur'an - bacalah olehmu yang paling mudah di dalam qur'an". Mungkin bukan Fatihah yang paling mudah, bisa jadi Al ikhlas, bisa jadi Al kafirun. Tetapi, mazhab syafi'i menyatakan, membaca fatihah itu adalah "Ruknun min arkani shola - menjadi rukun sholat". Ihwal itulah, menurut mazhab syafi'i, orang yang sholat tetapi tidak membaca Fatihah, di nyatakan sholatnya tidak sah. 

Kita ketahui bersama Nabi Muhammad SAW bersabda, "la sholata liman la yaqro bi fatihal kitab - tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca fatihah". Tidak membaca ummul qur'an di dalam sholatnya. Inilah yang menjadi acuan dari mazhab syafi'i. Tetapi, kata mazhab Hanafi, hadist tersebut termasuk hadist ahad, dalalahnya juga dzonni. Sementara mazhab hanafi menyatakan, Lafadz "am" di dalam al-Qur'an - Faqro u ma tayassyaro minal qur'an dan dalalahnya lafadz "am" di dalam Al-Qur'an adalah qod'i. 

Artinya, ada potensi berbeda di dalam memahami dalil. Kita bersepakat bahwa sholat itu wajib. Tetapi, apakah fatihah itu adalah rukun sholat, bisa di perselisihkan oleh para ulama. Hal ini penting untuk saya utarakan, bahwa perbedaan pendapat di kalangan para ulama itu lazim, dengan di dasarkan pada qur'an dan hadist, asalkan menggunakan metode yang bisa di pertanggung jawabkan. 

Tetapi, ada beberapa hal yang tidak di sebutkan secara rinci di dalam Al-qur'an atau al Qur'an hanya memberikan kerangka etik moralnya. Seperti, etika di dalam mengatur sebuah pemerintahan, di dalam persoalan politik. Tidak ada ayat di dalam al-qur'an, bahkan hadist pun tidak kita temukan, apakah pemerintahan yang islami itu adalah pemerintahan yang monarki (Kerajaan), Republik atau demokrasi ; legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. 

Al-Qur'an hanya menegaskan, apapun jabatan dan kekuasaan kita, entah itu berada di dalam tupoksi eksekutif, legislatif ataupun yudikatif ; "fa idza hakamtum baina naas antah kumu bil adli - kita harus mengambil sebuah kebijakan yang dasarnya adalah keadilan". Jadi semua dasar kebijakan kekuasaan dan jabatan adalah keadilan, sebagaimana sering di ucapkan para khotib di akhir khutbahnya, " Innallahu ya"murukum antu addul amanati la ahliha - perintah untuk menegakkan amanah". 

Lantas, bagaimana dengan sistem pemerintahan di zaman Nabi Muhammad SAW, ada pertanyaan yang sangat menarik berkaitan dengan hal itu, "hal kana ta' sisun nabi bi dhaulatin sia-sia Juz'an min risalatihi amla - apakah tindakan dan perilaku politik Nabi di madinah menjadi risalah kenabian atau tidak?". Kalau sistem dan perilaku Nabi di madinah menjadi risalah, maka perilaku dan sistem tersebut akan mengikat semua ummat Islam. Faktanya sekarang seluruh pemerintahan di dunia Islam berbeda-beda. Karena mayoritas Ummat islam, tidak memandang sistem pemerintahan Rosulullah SAW menjadi bahagian dari Risalah kenabian. 

Ke empat adalah Tasawuf. Sekalipun kata Tasawuf kalau kita cari di dalam Al-Qur'an dan hadist tidak kita temukan. Karena yang terdapat di dalm Al-Qur'an itu hanya, Tazkiyatun nafs - menyucikan jiwa. Jadi, basis utama dari Tasawuf juga adalah Al qur'an, tujuannya untuk menyucikan jiwa. Lantas dari mana sebenarnya Tawasuf ini?. Dari perilaku para sahabat. Saat Rosul wafat, ada para sahabat yang berkonsentrasi mengatur pemerintahan. Tapi, ada juga sahabat yang berkonsentrasi mendekatkan diri kepada Allah, yang di sebut dengan Ahlu Sufwah - Orang-orang yang berada di pinggiran masjid nabawi, sibuk melaksakan sholat. Barulah nanti tradisi seperti ini di lanjutkan oleh Ulama selanjutnya di era Tabi'in, tabi' tabi'in. Makanya kita kenal ulama seperti Hasan Al Bashri, Assirri Syaqoti, Harist Al Muhazibi, Dzunnun Al Mishri, Junaid Al Baghdadi, Syaikh Abdul Qodir Jailani, Abil Hasan Adz zazili, Bahahuddin An Naqsabandi, dsb.

Oleh karena itu, Al qur'an yang kita miliki satu, hadistnya tertuang di dalam 6 kitab hadist juga bersumber dari satu. Tetapi, melahirkan jenis-jenis Ilmu yang beragam. jika dasar utamanya adalah Al qur'an dan hadiist. Nah, inilah yang harus di pahami teman-teman yang mengambil jurusan pendiddikan agama islam. 

Misalnya di rumpun ilmu tafsir. Ada ayat yang sama, tetapi ketika di pahami oleh orang yang berbeda, melahirkan corak tafsir yang berbeda. Makanya, ada Tafsir Ilmi - Tafsir yang didasarkan pada temuan-temuan ilmu pengetahuan modern. Seperti, apakah bumi ini datar atau Bulat?. Karena di dalam Al-Qur'an ada ayat yang berbunyi, " Walladzi ja'ala lakumul ardho fi rosya - Allah yang menciptakan bumi kepada kalian, seakan-akan terhampar". Ada ayat Juga di dalam Al-Qur'an yang menyebutkan, " Dahulunya langit bumi itu satu, tetapi di pisahkan". Hal inilah yang kemudian di kenal dalam ilmu pengetahuan modern sebagai Teori Big Bang - dentuman besar. Tafsir ini, Tokohnya sering di sebut adalah Thantawi Jauhari atau Tafsir Jauhir.

Ada juga Tafsir "adabi Ijtima'i - Menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan konteks sosial - antropologis, dari ketika ayat itu di turunkan dan bagaimana ayat tersebut di terapkan. Tokoh yang biasa di kenal sebagai Penafsir Adabi Ijtima'i adalah Al wasid di tulis oleh Muhammad Said Thantawi atau Fi dhilalil qur'an di tulis oleh Said Qutub. 

Ada juga Tafsir Fiqih, Menafsirkan ayat-ayat Hukum di dalam Al qur'an, sehingga corak ayatnya sangat legal formalistik. Misalnya, seperti Al Jahsas, Ibnu Arobi, Ilki al harosyi memiliki kitab Tafsir berjudul Ahkamul qur'an. 

Ada juga Tafsir qur'an Balaghi - Menafsirkan al qur'an dari sudut Kesustraan. Keindahan diksi dari al-Qur'anul karim. Makanya kita kenal Tokoh tafsir, Adz zamsari, kitabnya berjudul Tafsir Al Kassyaf. Kemu'jizatan al qur'an bisa di lihat dari ketinggian kesustraan al qur'an. 

Di dalam perkembangan modern, sebahagian ulama mengembangkan sebuah jenis penafsiran yang memperhatikan sebuah penafsiran yang memperhatikan aspek kesetaraan, kemanusiaan - Lelaki dan perempuan. Bagaimana al qur'an berbicara tentang relasi anak dan orang tua. Berbicara mengenai suami dan istri. Sebagaimana pernyataan Ibnul Qoyyim Al jausyiah di dalam kitab Iglamul muakkin, Jika Al Qur'an itu di peras isinya hanya empat, " annas syariata ma abnaha wa asyasyuhata alal hikam wa masholil ibadhi ma asyi wal ma'adhi wa lil adhlun qulluha wa rohmatun qulluha wa hikmatun qulluha wa sholih qulluha. Fa qullu mas alatin kharajat anil adli jur wa anil mashlaha ilal mafsyadah wa anil rohmati ilal dhidha wa anil hikmati ilal abats fa laisa missyariah wa ingquhilad fiha bi ta'wil fa syariatullahi hiya adhullahi baina ibadhi wa dhilluhu fil ardhi - isi dari Al Qur'an, pertama adalah keadilan (Keadilan di bidang Hukum, politik, ekonomi). Kedua adalah Rohmah - kebijaksanaan. Ketiga adalah Hikmah. Keempat adalah kemaslahatan". Kata izzuddin Ibnu abdhi salam (Ulama Fiqih dari Mazhab Syafi'i), "innama taqalif qulluha roji'atun mashilihil ibad fidduniya wa uhrohun - seluruh isi kandungan Al qur'an itu adalah Kemaslahatan, kalau bukan kemaslahatan di dunia, maka kemaslahatan di akhirat". 

Sholat misalnya itu mengandung maslahat. Sekalipun tidak semua orang bisa mendapatkan kemaslahatannya di dunia dari ibadah sholat. Tapi, kelak di akhirat ibadah sholat mengandung kemaslahatan. Zakat, misalnya Sangat mengandung kemaslahatan Duniawi, "kaila yaqulatan bainal aulia'i mingkum - Bisa kita bayangkan kalau tidak ada perintah untuk berzakat, maka harta harta hanya akan melingkar-lingkar di kalnagan orang kaya saja akhirnya kekayaan menjadi bertumpuk. Tetapi, zakat itu berbeda dengan pajak. Karena objek zakat dan pajak itu beda. Kalau saya punya rumah atau kendaraan, itu tidak menjadi objek zakat, tapi menjadi objek pajak. Ada ide-ide belakangan yang menyebutkan, bagaimana kalau pajak itu yang di jadikan sebagai zakat. 

Akhirnya pikiran ulama-ulama terdahulu, belakangan di kontekstualisasikan. Seperti, Imam Syafi'i ketika merumuskan sebuah fiqih, Imam Abu Jafar At-Thabari merumuskan tafsirnya itu berbeda konteks zamannya. Sekarang banyak kita kenal tafsir modern (Fiqih, tassawuf). Bahkan teologi yang pada Mulanya hanya di orientasikan mengenai Allah, belakangan Teologi di pakai untuk mengadvokasi kepada kelompok yang tertindas, seperti Teologi pembebasannya Hasan Hanafi. 

Demikianlah capaian-capain pemikiran, yang kalau kita baca dan perhatikan kerangkanya dari zaman Nabi, sahabat, tabi'in, tabi' tabi'in sampai sekarang. Pemikiran Islam terus mengalami pengayaan - pengayaan. Tentu sebuah keniscayaan, karena kata Nabi, " sesungguhnya Allah akan membangkitkan Agama ini di setiap 100 tahun, bagi orang yang melakukan pembaharuan terhadap pemikiran islam". 

Kalau dulu kita kenal dengan Jalaluddin as syuti, izzuddin abdi salam, Al ghazali, Imam Syafi'i, Umar Ibnil azis, dst. Secara sederhana kita bisa utarakan begini, ummat Nabi Muhammad ini berhak mendapatkan warisan yang paling luhur, paling hebat, paling jernih, Yaitu Al-Qur'an dan hadist. pertanyaanya, siapa yang paling punya otoritas menjelaskan Al Qur'an dan Hadist?. Tentu Ulama. Ulama yang mana?. Adalah ulama yang kapabel, yang sudah di akui di dunia, seperti Imam Ghozali, Imam Bukhari, imam Syafi'i, dsb. Artinya jika kita tidak menggunakan gagasan mereka yang otentik dan orisinil, maka ummat ini mendapat pikiran kita, bukan pikiran dan Gagasan para Ulama-ulama. 


***

Ulama-ulama kita di indonesia, baru-baru ini melakukan riset dan penelitian untuk menjadikan Manhajul Qur'an, mudah di pahami Kita semua. Diantara kitab yang di Jadikan Rujukan adalah Kitab Syajaratul Ma'arif karangan Syech Izzudin Abdussalam. Pusat Studi Al Qur'an Prof Quraisy Shihab akan menerbitkan kitab tersebut. Di indonesia sendiri, yang kerap mengajarkan kitab tersebut adalah Gus Baha.

Kitab tersebut adalah metedologi yang bisa di jadikan pegangan untuk memahami Al Qur'an secara Mudah. Seperti peristiwa-peristwa Khusus yang terdapat di dalam Al-Qur'an di Tab'wid secara Umum.

Adapun peristiwa-peristiwa Khusus yang di Kontekatualisasikan secara Umum, antara lain ;

Pertama. "Babuna fil ibad li qulli i bilad - Bab tentang seseorang itu harus bermanfaat, dimana saja dia berada". Dalil yang di gunakan oleh Syech Izzudin Abdussalam adalah "Qola Ta'ala haqiyan an isa bin maryam wa ja'alani mubarokan aynama kuntu - Saya adalah orang yang hidup dimana saja akan membawa berkah".

Ihwal itulah sehingga kita kemana dan dimana saja, etikanya satu yaitu harus memberi manfaat. Misalnya, jika ada orang yang mau menang, yah saya mengaku kalah. Jika ada orang yang ingi mengangkat saya menjadi murid. Yah, oke saya jadi murid. Tidak masalah, sebab bahagian dari kesholehan adalah bersikap tawadhu. Pasti yang tawadhu menjadi Wali, karena "man tawaddhua rofaullah". Sedangkan yang menjadi Guru, pasti jadi wali 😂.

Kedua, ada Juga Bab yang sesuai dengan konteks Indonesia. Hal itu juga yang di Bahasakan secara umum - Babus tsatti dzaroeh (bab menutup pintu pada potensi-potensi yang tidak baik. Lalu, Syech Izzudin Abdussalam, mengutip dalil, qola Ta'ala wa la tasubbuladzina yad'una min dunillahi fa yasubullahi adwam bi ghoiri ilmi".

Dulu sahabat, saking bersemangatnya berislam. Sering memaki jancok Latta, Jancok Uzza dan jancok manat. Lalu, orang-orang kafir tanya, jika Tuhan saya Jancok. Berarti Tuhan Kamu juga Jancok. Akhirnya Allah menegur, "Muhammad Ummatmu memaki Tuhan orang lain, yang jadi Korban adalah saya. Makanya, lanjutan ayatnya adalah "Fa yasubbullah adwam bi ghoiri hi". Makanya, Oleh syaech zudin Abdusalam (Yang di kenal ssbagai salah satu Sulthum Auliyah) membahasakan sangat mudah dengan mengambil judul Babus tsatti dzaroeh.

Jika kita tidak ingin Allah di maki dan Islam di sakiti, maka jangan memaki Tuhan dan agama orang lain. Sebab itu bahagian dari mencintai Islam. Jangan menganggap kita Hormat pada Agama orang itu karena kita ikrar pada agama mereka, oh tidak. Itu bahagian dari mencintai Islam.

Lalu beliau mengutip sekian hadist, "La yasubbu rojulu abahu" - sebahagian riwayat menyebutkan, " la yal anu rojulu abahu", yang artinya "Jangan sampai seseorang memaki bapaknya". Kata para sahabat, "wa kaifa yasubbu Rojul abahu - bagaimana mungkin seseorang memaki bapaknya sendiri". Rosul menjawab, Yasubbu aba rojuli fa yasubbu aba wa Yasubbu umma rojuli fa Yasubbu umma - kamu memaki bapaknya orang lain maka mereka membalas Memaki bapak kamu".

Hal ini di bahasan mudah sekali, padahal peristiwa tersebut adalah peristiwa khusus. Tetapi di babkan ke dalam peristiwa Umum sehingga kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa Al Qur'an dan hadist terus Mengawal kita sampai di Yaumil Qiyamah. Dengan begitu, kita tidak kehabisan Pembahasan untuk memaknai Al Qur'an dan Hadist, sebagaimana yang di ajarkan Sayech Izzudin Abdussalam.

Ketiga, Beliau memberikan Judul dalam satu Bab di kitabnya. Bahagian ini penting, karena kerap kali saya utarakan, yaitu , " La Yudrokul haqqul li ajalil batil - kebenaran tidak boleh di tinggalkan, hanya karena banyak kebatilan".

Uniknya bahagian ini, karena beliau menggunakan dalil, yang saya yakin seorang Ulama atau Ustadz Tersohor sekali pun tidak pernah terlintas kalau hal itu ada , " inna shofa wal marwata min sya'a irillah fa man hajjal baita wi'tamara fa la junaha alaihi ayyatowafaha bihima - Shofa dan marwah itu hakikatnya adalah termasuk syiar-syiarnya Allah. Maka siapa yang haji dan Umroh, tidak apa-apa (Allah membahasakannya Fa La Junaha) terus melakukan tawaf di situ.

Kata Syech Izuddin abdussalam, di Shofah itu berhala bernama izza dan di marwah, ada Na'ilah, juga nama berhala. Yang orang-orang Jahiliyah dulu menyembah dua berhala tersebut. Karena ada berhala, mereka merasa Risih jika ada ritual Ibadah tauhid di situ (tawaf).  Kata, Allah Tidak apa-apa, teruskan saja Tawaf atau Sa'i di situ. Artinya, kebenaran tetap di perintahkan. Meskipun ada kebatilan.

Misalnya, ada orang mati karena Narkoba atau karena Khamar. Maka, kita sebagai pemuka agama - Ustadz atau Kiai Harus datang. Sebab, kalau kita tidak datang, mereka akan menciptakan tradisi baru dalam penguburan. Datangnya kita itu sebetulnya, demi melaksanakan syariat islam, dalam hal ini memperlakukan Janazahtu muslim. Meskipun, kita menyadari bahwa seseorang yang mati tersebut, karena Kebatilan.

Hal ini penting untuk di utarakan, agar kita itu jangan membatasi untuk menegakkan kebenaran, sekalipun kita Tahu di situ terjadi kebatilan. Saya berani menyatakan hal ini, karena saya sendiri melakukannya.

Keempat, Beliau memberi Judul tentang " Babu tholabu manzilah - seseorang yang terpercaya Boleh Mencari pangkat di Pemerintahan".

Dalil yang beliau utarakan, sederhana sekali. Ketika Nabi Yusuf merasa mempu mengendalikan Ekonomi - Ketahanan pangan pada zaman itu, beliau datang kepada Azis (Penguasa mesir) - Qola Ja'alni ala khoza'inil ardhi, inni hafizun alim - Jadikan saya pengelola Hasil Bumi. Sebab, saya adalah orang yang terpercaya. Makanya mengaku pintar itu boleh, asalkan pintar betul. Karena Nabi Yusuf, mengatakan Inni Hafizun alim.

Kelima, beliau memberi judul yang agak ekstrem, "babu jawadzin namima limashlahatin - mengadukan peristiwa yang buruk kepada orang lain, karena Maslahat".

Beliau memberi contoh yang unik sekali, sebab tidak mungkin ada Namima yang di tolerensi. Dalil yang beliau gunakan adalah "wa ja arojulum min aksol madinati yas'a, qola ya musa innal mal' a ya'tamiruna bikayal tulu kafahruz inni laka minannashin - Musa, saya ini termasuk pengawai di kerajaan fir'aun. Saya tahu bahwa rapat tadi malam memutuskan untuk menangkap dan membunuhmu. Maka, kamu secepatnya keluar dari mesir". Peristiwa ini sebenarnya agak Namima - mengadu. Tapi, demi kemaslahatan.

Di kitab Syajaratul Ma'arif  setiap peristiwa Khusus di dalam Al Qur'an di  jelaskan secara umum. Sehingga berkahnya setiap peristiwa tersebut, kita bisa menjadikan Al Qur'an sebagai pengawal hingga Yaumil kiamah. Tetapi, kalau semua peristiwa khusus di dalam Al-Qur'an hanya untuk konteks tertentu saja, maka seakan-akan Al qur'an itu tidak untuk kita.

Kitab ini sangat rekomended untuk kita yang gemar mengkaji Al -Qur'an dan Ingin alim. Sebab, kalau kita menggunakan metode Ushul fiqih itu agak susah. Misalnya, saya memanggil Si Fulan dan saya menyebut nama si Fulan, "kamu ke sini, karena ada tamu". Sebenarnya saya ingin Fulan atau ingin siapa saja yang datang, asal bisa melayani tamu. Fulan itu dzikrul ba'di wa irodhatil qul atau yuroshu sahsun bi aidhi hi, dan hal itu menjadi perdebatan di ilmu Ushul fiqih.

Ketika Fulan tidak ada, tetapi di situ ada Salam, Umar, dsb. Tidak datang, pasti yang memanggil tadi marah - ini anak-anak saya panggil tidak ada yang datang. Misalnya, anak-anak Jawab, kak kita kan memanggil Fulan, bukan kami. Bodohnya kalian ini, maksudku itu datang ke sini membuatkan teh untuk tamu, tidak harus Fulan. Salam dan umar juga bisa.

Artinya menyebut aktor dalam Al Qur'an atau hadist itu, Yurodhun sahsun bi aidhi hi atau itu bahagian dari dzikrun ba'dhi wa irodhodatil qul. Sehingga semua peristiwa di Al qur'an, entah itu menyebut Fir'aun, berarti mewakili orang yang dzolim dan Menyebut musa mewakili orang yang baik atau bagaimana?. Nah, di kitab Ushul fiqih, Perdebatnya panjang dan ribet sekali.

Ihwal itulah, sehingga di dalam Kitab Minhajul Mu'minin di terangkan, bahwa ada seorang wali yang takut berdosa, karena banyak perempuan cantik yang mengenakam celana pendek di dunia. Akhirnya, wali tersebut melakukan Uzla di gunung, memakan Rerumputan. Lalu, datang seorang wali yang kelasnya lebih tinggi, bertanya, Kamu di sini bikin apa?". Jawab wali tersebut, sedang Uzla. "Mengapa?". Meninggalkan dosa, jawab wali tersebut. Lantas, wali yang lebih senior menyatakan, "Taroktum ummata muhammadin fi aidil mubtadi'a - sebenarnya kamu tidak menghindari dosa, tetapi malah bertambah dosa". Karena, ketika ummat tidak kamu pimpin, artinya membiarkan orang atau kelompok lain memimpinnya, dan hal itu bisa orang ahli bid'ah, bisa orang Kafir, bisa orang yang menyesatkan.

Jadi, Uzla itu bukanlah solusi. Di situlah pentingnya pembanding.

Dalam Kassyafnya Imam Abu Hasan Ad zazili, beliau menyatakan, tidak ada kajian fiqih di dunia ini yang lebih bersinar melebihi kajiannya Syech Izuddin Abdussalam dan tidak ada kajian ilmu Hadist, melebihi kajian abdul adzim al munziri, serta tidak ada Kajian ilmu hakikat yang melebihi kajian abha al majsika. 


*Coretan Hasil Bacaan
*Rst
*Nalarpinggiran 

Kamis, 11 Maret 2021

SERPIH ISRO DAN MI'RAJ PADA KISAH SAHAJA UMAR BIN KHOTTAB




Mari kita mulai dengan Puisi, " sejarah di penuhi cerita membangun dan menghancurkan. tetapi, siapakah yang membersihkannya". Kata Rabindranath Tagore.

Seumpama penggalan Puisi Kuntowijoyo dalam buku 'Ma'rifat Daun', "Aku ingin meletakkan sekuntum sajak, Di makam Nabi, supaya sejarah jinak, Dan mengirim sepasang merpati, Tanpa kepongahan dan jumawa diri.

Tentang kezuhudan dan kesederhanaan, bacalah Sayidina Umar Bin Khottab. Tentang Kenisbian sebuah jabatan, selamilah Sayidina Umar Bin Khottab. Kita juga akan menemukan sebuah perspektif - beratnya amanah. Khalifah ke 2 Khulafaur rasyidin ini ibarat sebuah contoh, tentang bagaimana seharusnya menjadi pemimpin. Tak ada yang tidak kenal putera Khottab ini. Tegasnya orang ini, pintar otaknya.

Di kenalnya fiqih umar dalam tradisi fiqih islam karena kejeniusannya. Ketegasannya, tidak usah di perkatakan lagi. Sebelum masuk islam, ia adalah penentang terkeras Nabi Muhammad SAW, melebihi Abu lahab dan Abu Jahal. Putera Abdullah ini terkesan belum berani secara terang-terang menyiarkan islam. Seketika karena tersentuh hatinya setelah mendengar lantunan ayat Al-Qur'an, dari adiknya. Umar Masuk Islam. Disamping tentunya begitu mengangumi moralitas Nabi Muhammad.

Masuknya Umar dalam barisan awal pemeluk islam, Nabi Muhammad SAW menjadi lebih berani. Perkembangan islam pada Periode Mekkah pasca masuk islamnya Umar ini, walau tidak se-Sensasional periode Madinah, setidaknya Nabi Muhammad SAW lebih bebas bergerak. Sayidina Umar meberikan Raga dan bathinya, untuk membela misi suci Nabi Muhammad SAW. Ia ibarat merah silu yang berganti nama dengan Malikul Shaleh, ketika Masuk Islam. Samudera Pasai ter-islamkan. Si merah silu pembela islam periode awal, mungkin indonesia.

Diantara Sahabat Yang Mulia Nabi, mungkin Umar-lah yang di kenal Garang. Beda dengan Abu bakar yang bijak, Utsman Yang Pragmatis dan Arif serta Ali Bin Abu Thalib yang Zuhud dan Cerdas. Walau demikian, kegarangan Umar pada tempatnya. Umar akan menangis tersedu sedan jika mendengar ada regekan anak-anak yang kelaparan tengah malam, sehingga Ia membongkar Baitul mal untuk mengambil gandum dan mengantarnya sendiri. Ia tersenyum kala wanita Yahudi buta, menyumpahinya sambil si wanita Yahudi ini di tuntun berjalan. Ialah yang di Hardik seorang pengelana ketika bertanya tentang dimana tempat tinggal sang presiden Umar. Kebetulan, umar sedang tidur-tidur di bawah pohon kurma dengan baju yang pantas untuk di rendahkan. Ialah yang pada suatu ketika dengan berjalan kaki, setelah turun dari ontanya, memasuki gerbang Yerusalem.

Yah, Ia datang dengan jalan kaki untuk menghilangkan kesan sebagai seorang penakluk. Umar berhasil menaklukkan kota Yerusalem sekitar abad ke 7 pada masa kekhalifaannya. Ia masuk gerbang Yerusalem bukan seperti Raja-raja kala itu, penuh dengan kejumawaan, simbol kemegahan, dan tentunya dengan tampilan pemenang. Umar tidak.

Memasuki Yerusalem tanpa pembantaiaan dan penghancuran, sebagaimana halnya Khulagu Khan - si cicit Jenghis Khan - kala menaklukkan Baghdad. Sebagaimana juga jauh sebelumnya, kala seorang Fir'aun pernah menyerbunya, kekuasaan Babilonia melindasnya, Roma membumi hanguskan dan persia memporak poranda kota ini. Tapi, Umar yang Amirul Mukmin dari sebuah peradaban baru yang menggetarkan, melebihi getaran Julius Caesar dan Alexander Agung, memasuki Yerusalem dengan pakaian lusuh dan memandangi dengan Hormat kota yang baru yang di taklukannya.

Penguasa Yerusalem saat itu, Patriarkh Sophronius dengan takut menemui Umar di bukit zaitun. Ketakutan Sophronius ini beralasan, sebab nama Umar yang didengar selama ini, memang pantas untuk di takuti. Umar menyambutnya sebagai sahabat. Mereka membicarakan tentang perdamaian, terutama keamanan kaum nasrani dan keselamatan gereja mereka.

Umar yang di kenal sebagai pemimpin lurus ini, mengiyakan dan mengatakan, "pegang janji saya". Kala Gerbang Yerusalem terbuka peristiwa bersejarah pun terjadi, inilah kali pertama seorang muslim menjejakan kakinya di kota yang sebelumnya hanya di kenal dalam peristiwa Isro dan Mi'raj.

Dengan penuh kesabaran Umar mengikuti Sophorinus membawanya ke tempat-tempat suci kristen. Umar juga melihat kenisah Sulaiman. Kala ia memasuki kenisah ini, Umar juga memasukinya dengan menunduk bahkan merangkak. Lorong-lorong itu penuh tahi manusia dan hewan yang telah mengering. Buah dari "kebencian" Antar Yahudi dan Nasrani. Sang amirul Mukminin menyingkirkan kotoran-kotoran tersebut. Membersihkannya, semampu yang ia lakukan sehingga membuat Sophorinus terpana. Letak Kenisah Sulaiman ini berada di sebuah tempat yang luas. Tempat yang di kenal suci, sehingga kemudian dalam tradisi islam di kenal sebagai nama Haram As-Syarif.

Umar kemudian mendirikan satu bangunan yang sangat bersahaja, Sebuah masjid dari kayu, yang kemudian di kenal dengan Nama "Masjid Umar". Walau Umar tak pernah berwasiat untuk memberikan label masjid itu sebagai namanya. Menurut Marshal G Hodhgson dalam bukunya The Venture of Islam (yang di terjemahkan oleh Mizan), Masjid Umar ini kemudian di bangun ulang dengan kemegahan oleh seorang Khalifah dinasti Umayyah, Abdul Malik Bin Marwan, pada akhir abad Ke 7. Sesuatu yang pada prinsipnya di tentang oleh umar sendiri, karena awal saat ia mendirikan Masjid Kayu ini, sama sekali bukan untuk menandingi Masjidil Aqsa.

Dalam sebuah Catatan pinggir Goenawan Mohammad pernah mengatakan, bahwa "bagunan-bangunan yang besar sering hanya bisa di topang oleh kekuasan yang Mutlak dan akumulasi dana yang mencekik". Masjid dan sejenisnya memang bisa jadi sesuatu yang berlebihan, sebagai Isyarat tentang Iman, sekaligus juga tentang kepongahan. Keganjilan manusia adalah ketika ia juga bersikap demikian pada hubungannya dengan Tuhan, padahal sebenarnya tidak seharusnya pongah. 

Umar bin Khottab, menaklukkan dan membangun sesuatu bukan dengan kepongahan. Sejarah panjang ummat manusia mencatat , "orang membangun tempat ibadah dan ada yang menghancurkannya, tapi siapa yang membersihkannya?".

Diantara berbagai kota historis di bawah kolong langit ini. Mungkin kota Yerusalem-lah yang selalu tak luput dari cerita manis - pahit-getir sejarah manusia. Yerusalem yang merupakan kota tua syarat sejarah ini, di bentuk oleh pertarungan kekuatan-kekuatan besar sejarah untuk zamannya.

Peradaban Mesopotania, Assyiria, Roma (kristen), Arab, Turki (Daulah Ustmaniyah) dan inggris telah hadir meninggalkan bekas-bekas Tersendiri yang cukup dalam. Kota Yerusalem ini juga tidak bisa di lepaskan dari 3 agama Monotheistik paling berpengaruh hingga saat ini. setiap hari Yerusalem selalu di kunjungi dengan ghiroh teologis, para peziarah dari seluruh dunia untuk datang lebih dekat. Meminjam Istilah Edward Said "menghadap Tuhannya. Menghambakan diri dan bahkan terkadang datang dengan hal-hal yang di yakini irasional, namun dianggap sebagai sebuah cara untuk menyatukan emosi teologis".

Di yerusalem juga di temukan komunitas kristen yang tumpah ruah untuk melihat gereja Sepulchre, yang di dalamnya terdapat karang Golgota, tempat Yesus di salib, maqam suci dan tempat Yesus di bangkitkan. Sebagaimana halnya yang di lakukan oleh orang Yahudi, dengan dinding ratapan yang berlumut, maka orang-orang kristen yang taat ini memeluk "penuh rindu bercampur duka", karang berbentuk dipan tempat Yesus di semayamkan untuk sementara waktu setelah ia di turunkan dari kayu salib. Dengan air mata bercucuran, mereka meletakkan pipinya di dada Yesus yang tak berdaya dan seakan-akan merasakan lansung penderitaan Putra Siti Maryam ini. Bak kata Sosiolog agama Karen Amstrong, " Trans - Teologis - agama" Justru terlihat dalam peristiwa-peristiwa seperti ini.

Sementara itu, ribuan kaum muslimin melafalkan Takbir, Tahmid dan Tasbih sebanyak lima kali sehari semalam di masjid al-aqsa, yang di yakini telah menjadi tempat persinggahn Nabi Muhammad SAW, ketika melakukan Isra' dan melakukan Sholat dengan Para Nabi yang lain sebelum Mi'raj.

Dinding ratapan, gereja Sepulchre dan masjid Al-aqsa yang di sebut dalam bahasa sosiolog agama sebagai "monumen suci", Hubungan Yerusalem dengan Agama-agama besar itu, tapi sekaligus simbol perbedaan agama-agama besar itu.

"Sejarah selalu di penuhi cerita membangun dan menghacurkan. Tapi siapakah yang membersihkannya", Kata Tagore. Dan umar Bin Khottab bukan menghacurkannya tapi membersihkannya. Kehadirannya ketika menaklukkan yerusalem adalah kehadiran "Rahmat" bukan kehadiran "Perusak".

*Rst
*nalarPinggiran

Sabtu, 13 Februari 2021

IBU ADALAH TITIK AWAL DAN TITIK PULANG



Merawat ingatan merupakan salah satu cara terbaik dalam menjaga kesadaran. Salah satu yang pokok bagi kita adalah merawat ingatan dalam catatan sederhana ini.

Ibu yang menjadi awal mula, titik berangkat sekaligus titik kepulangan. Ia menjalar dan meluas, sebagai masyarakat yang bertebaran dimuka bumi.

Muatan pesan yang dikandung judul diatas mengisyaratkan makna yang terlampau dalam untuk diselami, dimengerti dan dipahami.

Karenanya, dengan kesadaran atas keterbatasan untuk memberi makna, saya dapati sepenggal makna dari sisi kemanusiaan, yang mengandaikan adanya narasi pohon kehidupan.

Pohon kehidupan yang dimaksud adalah ibu dari segenap diri yang hidup beranak pinak, menjalar atau bertebaran sebagai laki-laki dan perempuan yang berkeluarga, bersuku-suku, berbangsa-bangsa serta berbaur kedalam kehidupan masyarakat dunia.

Ibu sebagai pohon kehidupan dapat dijumpai pada narasi kelahiran bagi para pewaris kehidupan dari rahim ibu yang didalamnya bersemayam kasih yang sejati.

Kasih yang tak pernah kita dapati dijual di pasar manapun. Apatah lagi jika mencarinya di pasar bebas, sudah bisa dipatikan kita tak akan menemukannya.

Melupakan ibu adalah cara melupakan asal-mula sekaligus melupakan jalan pulang-kembali ketempat asal. Dengan kata lain, setiap diri akan tersesat bagi yang melupakan titik berangkat dan titik kepulangannya.

Sebaliknya, yang selamat hanya bagi diri yang mengenal jalan kembali-pulang ke tempat asalnya yang sejati.

Ibu adalah pusat pendidikan yang pertama dan utama. Ibu sebagai kawah candradimuka peradaban dan kebudayaan.

Ibu memiliki kekuatan pada proses pencerdasan untuk menyiapkan manusia unggul pada segala bidang kehidupan, terutama dalam membangun kehidupan-peradaban kemanusiaan.

Kesadaran pada aspek kehidupan ekonomi, politik, agama, dan berbagai dimensi pengetahuan lainnya diletakkan dan dipusatkan didalam madrasah ibu.

Dari ibu terlahir pewaris zaman yang menjadi tulang punggung peradaban yang membawa nilai keadaban untuk ditranformasi dalam kehidupan zamannya.

Dalam narasi perkotaan, ibu dapat diandaikan sebagai pusat kota. Ini dapat dijumpai pada istilah ibukota atau pada penyebutan sebuah negara bangsa yang disematkan istilah ibu pertiwi atau bumi pertiwi.

Apabila ditelusuri dalam ilmu angka, posisi ibu dapat disematkan pada angka nol. Sebuah simbol keseimbangan antara posisi garis lurus dari minus dan plus, sumbu x dan y.

Nol bukanlah kosong, bukan pula simbol ketiadaan. Sejatinya angka nol memiliki nilai sebagai simbol keseimbangan, ketertiban, keteratuaran dan hamoni hidup.

Dalam kehidupan bermasyarakat, ibu dalam makna titik awal dan berpulang adalah pusat keseimbangan hidup masyarakat banyak. Ditangannya kehidupan menjadi tertib dan harmoni. Adapun gejolak sosial yang mengemuka, akan dapat diminimalisir hingga harmoni dapat terus tercipta.

sebagai diri yang berkesadaran. Sudah barang tentu Kesadaran akan mengantarkan setiap pribadi manusia pada jalan yang lurus lagi terang. Kesadaran diartikulasikan dalam sikap hidup mengangkat pemimpin yang otentik bagi diri dan keluarga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sehingga Keberadaan diri yang sadar atau berkesadaran akan sangat dibutuhkan sekaligus membutuhkan pemimpin dalam melangsungkan kehidupan.

Para pewaris Ibu sebagai titik awal dan pulang yang melahirkan kesadaran pribadi yang otentik sesungguhnya nampak melalui sikap hidup setiap pribadi yang memilih menjadi ibu kehidupan atau pribadi yang beranak pinak menjadi pewaris yang selalu menjalar dan bertebaran untuk keseimbangan, harmoni dan kebajikan sosial kemanusiaan.

Wallahu a'lam

Coretan Pinggiran, Nalar Pinggiaran


Minggu, 07 Februari 2021

KUN (MAKA BERLANSUNGLAH ISLAM)




Pemikiran Umum yang berkembang, Islam itu bermula, ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi atau pertama kali Wahyu di Turunkan padanya. Sementara dalam Hadist Shohih Bukhori, Rosulullah SAW mengatakan bahwa : " antara aku (Muhammad) dan Nabi-Nabi sebelumnku, ibarat membangun sebuah bangunan kemudian di hiasinya lebih baik. Hingga terwujudlah sebuah bangunan. Lalu, orang-orang melihat bangunan tersebut dan berkata akan lebih baik jika batu bata yang kurang pada tembok-tembok bangunan bisa di tutupi. Lalu, Rosulullah menjawab ; akulah yang akan menutupi bagian batu bata yang bolong-bolong itu, sebagai Nabi Penutup (Khotomul Ammbiya)".

Dari hadist tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa Islam tidak berawal dari masa Diangkatnya Rosulullah SAW, Sebagai seorang Nabi. bahkan Ada Ustadz yang agaknya kurang berhati-hati mengatakan bahwa Orang Tua Nabi Tidak beragama Islam, karena mendasarkan argumentasinya, bahwa Islam bermula ketika Nabi Diangkat menjadi Rosulullah SAW. Benarkah demikian?.

Tanya jawab ini, pertama-tama harus dalam rangka penuh tawadhu, kerendahan, rasa syukur dan memohon hidayah kepada Allah. Mengakui ketidaktahuan kita sebagai manusia. Sehingga, ketika pun ada pengetahuan yang lahir dari dialektika kita sehari-hari, itu bersifat relatif. Sebab, yang mutlak benar adalah Allah SWT, Rosulullah SAW dan Para Nabi.

Mengenai Islam kapan lahir, tidak bisa di salahkan, jika ada yang berpersepsi atau mengIdentifikasi, bahwa Islam ada, ketika di mulai dengan ; Iqro atau di mulai dari wahyu pertama yang di terima Rosulullah di gua hira. Karena memang itu tahap pembelajarannya. Akan tetapi, ada resikonya. Jika kita menganggap islam itu di mulai saat Rosulullah menerima wahyu pertama, yaitu iqro. 

Resiko Pertamanya adalah gelar Al-aminnya Rosulullah, sejak usia 25 tahun, tidak punya legitimasi islam?. Padahal Kesempurnaan Kemanusiaan Rosulullah, sehingga ia menjadi sarjana kehidupan dengan nilai Kumlaude, yang gelarnya adalah Al-amin, dengan empat sifatnya yang luar biasa itu adalah Islam.

Nah, Hal itulah yang menunjukkan bahwa Islam Inheren dengan Rosulullah. Maksudnya Rosulullah itulah Islam ?.

Saya menginterpretasikan hal itu, bahwa di ujung pemahaman kita tentang "iqro", sebenarnya bunyinya adalah "iqro Muhammad", bukan Muhammad di suruh iqro. Sebab, sejak awal Muhammad telah iqro (sejak di bedah dadanya, sudah iqro). Lalu, beliau membaca (Iqro) dirinya, membaca manusia, Membaca alam semesta, Membaca Allah, Membaca malaikat, jin, dsb, dan beliau lulus dengan Nilai Cumlaude dengan gelar Al-Amin.

Iqro Muhammad itu, kita membaca hidup dan meniru Rosulullah, sebenarnya sudah islam kita. Kalau secara kualitatif dan kultural, Tinggal masalah Syar'i dan ibadah mahdo, dan semua rangkaian ibadah lainnya dijalankan.

Jika hendak menjawab pertanyaan diatas, yang otentik dari saya. Tetapi, jangan dianggap salah dan benar dulu. Sebab, kita belajar bersama-sama.

Iqro itu adalah awal dari akhir kesempurnaam islam. Puncak dari kesempurnaan islam ialah "Al yauma akmaltu lakum dinakum waa akmamtu alaikum nikmati waa raditu billahi lakum islama dina", ini puncaknya Islam sebagai nilai.

kalau puncaknya Islam adalah "Al yauma akmaltu lakum dinakum". Apakah Islam berawal, ketika perintah "Iqro" diturunkan kepada Rosulullah?. Sebab, jika awalnya iqro. maka, gelar Al-aminnya Rosulullah Deligitimid, belum berlaku. Lantas, bagaimana dengan Nabi-Nabi sebelumnya?. Bagaimana dengan Orang Tua Nabi?. sebab, kita tidak bisa menyebutkan bahwa Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, dan Nabi-Nabi semuanya itu, tidak sedang menjanlakan islam. Itu pertanyaan Historisnya?.

Dengan begitu, menjadi tidak mungkin, awal mula Islam, di awali dengan Iqro. Menurut hemat saya, jauh sebelum perintah iqro digua hira, Islam sudah berlansung.

Jika di tanya lagi, katakanlah Islam atau apapun dalam kehidupan ini, kita pahami dengan terminologi ; qolm (kata, teks, literasi), Ilmu (Sistem), wujud (aplikasi atau manifestasi).

Kalau pertanyaannya kita konsentrasikan pada yang pertama, yaitu Qolm - kalam (kata) atau literasi pertama Islam, bukan Iqro yang pertama, berdasarkan jawaban saya diatas. karena, iqro itu awal dari kesempurnaan. Jika demikian, kapan islam itu muncul?.

Apakah Islam Muncul Sejak ; "Waa allama adamal asma a kulla ha tsumma arodahum alal malaikatu faqola ambi uni bi asma i ha u laa i ing kuntum sodikin". Apakah Islam di mulai, ketika Allah mengajarkan adam mengenal nama benda-benda atau kapan?.

Saya sampai kepada sebuah cara berpikir bahwa Allah, dengan segala sifatnya yang agung dan luar biasa itu, apakah mungkin menciptakan sesuatu yang bukan Islam?. Kalau menurut saya, semua ciptaan Allah adalah Islam. Sebab, Islam itu mestinya kita Pahami : sebagai metabolisme, dan organisme, atau sistem nilai. apapun yang menyangkut keberlansungan hidup, entah itu jazad, roh, atau diantara jazad dan roh. Itulah Islam.

Begitu Allah, bilang "Kun". maka, mulai berlansunglah Islam. Bukan Kun (jadilah maka terjadi), bukan Kun fa kana. tetapi, "Kun Faa yakun" (present continous tense). jadi, dia sedang berlansung. Artinya, jangan sampai 6 hari dalam ukuran waktu menurut Allah, dalam menciptakan segala sesuatu itu barangkali sekarang adalah hari keenam atau mungkin hari kelima, kita tidak tahu juga. tidak harus keenam, baru ada kita (Manusia). Wallahu a'lam, kita tidak usah berdebat soal itu. Nanti kita tanya Allah saja atau paling tidak, kita tanya Rosulullah.

Begitu Allah bilang "Kun", itulah Awal keberlansungan Islam. Nanti baru kita cari, islam ini kata benda, identitas, nilai, subjek, masdar, untuk keberlasungan sesuatu atau apa?. Nanti baru kita bisa identifikasi bahwa Islam ini sudah menjadi identitas, kelompok, sekte, geng, dan komunitas. Padahal, Islam meletakkan semua itu pada level yang paling bawah.

Untuk itu, sebelum kita meneruskan. Saya ataupun kita semua, sama-sama mencari di dalam diri kita, syukur-syukur jika kita mengadaptasikan aplikasi atau software yang akan kita bicarakan. Ibarat, komputer, kita harus punya aplikasi supaya semua data bisa terakses sesempurna mungkin. Sebab, kalau tidak atau aplikasi kita berbeda. maka, kita akan berdebat lagi tentang sesuatu yang memang berbeda. 

Misalnya, saya di foto dengan Hp tahun 2009, dengan saya di foto dengan Hp tahun 2020, sama objeknya, sama hasilnya. Tetapi, kualitasnya berbeda (Pixel dan resolusi gambarnya beda). Oleh karena itu, supaya kita tidak berdebat dalam kebodohan tentang objek itu. Maka, kita harus cari tahu dulu tentang kemungkinan berapa banyak metodelogi yang di pakai untuk mengurai hal ini.

kita ini, kerap kali diskusi bahkan berujung debat tentang islam, tentang dunia, tentang apapun. Tidak pernah ingat, bahwa yang satu dan yang lainnya menggunakan metodelogi yang berbeda. Maka, kita temukan variasi pengalaman, pengetahuan tentang islam, qur'an dan apapun itu berbeda.

Maksudnya saya ialah kita harus punya kesadaran untuk mencari metedologi tersebut. Agar, saat kita membincangkan islam, jurang perbedaannya tidak terlalu menganga. Juga, Jika kita mau bicara Islam. Ia harus merupakan alat yang menjawab semua masalah. Harus bisa melihat indonesia hari ini secara islam ; ini ada apa, kenapa bisa bertengkar terus?. Ini ada apa, kenapa bisa ada rekayasa terus, mobilisasi terus, subversif, kelicikan-kelicikan di belakang layar. nah, kita harus punya terminologi atau sistem ilmu dari Al-qur'an dan islam, untuk bisa lebih jernih memahami itu.

Kalau Al-Qur'an dan islam, tidak kita gunakan sebagai fungsi, untuk menilai, melihat dan mengidentifikasi apa yang terjadi di negara kita, di kampung kita, di keluarga kita. Lantas untuk apa islam?.

Saya tidak ingin berpendapat dengan landasan menyalahkan pendapat orang lain. Saya tidak ingin mengatakan bahwa pemahaman, tafsir, tadabbur yang sudah berlansung 14 abad itu salah. Saya tidak ingin berangkat dengan landasan psikologi sentimen.

Kalau Islam itu di mulai dari Iqro berarti, Nabi Isa, Nabi Idris, Nabi Ibrahim, Nabi Musa belum islam dong, apalagi Nabi Adam, yang punya jam terbang lebih lama. Bahkan dia yang merintis, mengalami penderitaan, bagaimana anaknya di bunuh oleh anaknya yang lain. Dia belum punya solusi, dia tidak bisa baca ayat dan firman-firman, sebagaimana kita sekarang. Tetapi, hal itu tidak bisa kita gunakan sebagai variabel untuk mengatakan bahwa Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad bukan Muslim. Bukan orang yang tidak menjalankan islam.

Semua Nabi Dan Rosul yang lain, tidak mungkin, kita mengatakan tidak menjalankan keislaman.

Sekarang, Islam kita pahami sebagai apa?. Oke, kita tidak bisa menafikan bahwa Islam telah menjadi identitas. Misalnya begini, Allah tidak pernah berfirman : "Yaa Ayyuhalladzina aslamu". tetapi, Allah Berfirman ; "Yaa ayyuhalladzina amanu". Nah, sekarang ini kita terpecah-pecah pemahaman kita tentang orang-orang yang beriman. Sekarang kita berpendapat, bahwa yang seiman adalah yang sesama orang islam. Sebenarnya yang di maksud "Yaa ayyuhalladzina amanu" itu kita islam saja atau kepada seluruh manusia yang percaya kepada Allah. Bahwa jenis kepercayaan atau pengetahuan yang membimbing kepercayaannya yang berbeda-beda untuk sampai kepada Allah, itu kan urusan Allah.

Begitu dia percaya kepada Allah, maka di berhak untuk terlibat di dalam Yaa ayyuhalladzina amanu. Begitu logikanya. Allah memanggil dengan Sebutan Wahai orang-orang beriman. Berarti kita harus rapat lagi, bahsaul masail, majelis tarjih lagi. Karena, Wahai orang-orang yang beriman, itu kita saja atau semua orang. Sebab, ada gradasinya ; Ada orang percaya Allah, tapi tidak percaya bahwa Allah bikin agama. Ada orang percaya agama, tetapi tidak percaya bahwa Allah berikan kita Nabi. Ada orang percaya Allah, tetapi tidak percaya bahwa Allah menyuruh kita sholat. Ada berbagai macam jenisnya. 

Lalu, dengan dasar itu kita mau marah. sementara Allah sendiri berfirman : "Faa man sya fal mu'min faa man sya fal yakfur (kalau kalian beriman, berimanlah. Kalau kalian kafir maka kafirlah)". Tetapi, tanggung resikonya masing-masing. Dari sudut itu saja, kita memang harus memulai kembali pemahaman kita tentang Alif Ba Ta (pehaman kita tentang islam).

Kita Naikkan ; masa Injil itu bukan pemahaman Islam, masa Taurat dan zabur bukan pemahaman islam?. Jadi, Allah bikin kitab bermacam-macam, lalu yang di terima cuman satu. Loh, ini kan agak sukar di terima akal.

Bukankah Rosulullah sendiri yang bertutur bahwa evolusi terjadi, Sejak dari Nabi Adam, Lalu ulul asmi, seumpama bangunan. Karena ada yang kurang, maka di tamballah oleh Rosulullah. Ibarat sebuah bangunan, Kubahnya Mungkin yang kurang. Atau kalau dalam model masjid Demak, Tiang Terakhir dari Masjid tersebut, dianggap sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam teori Perbandingan agama ; Ada Sabuk kelapa, ada air kelapa, ada Isi kelapa, dan ada kelapa. Itu satu, bukan empat. Sekarang, ada agama sabuk kelapa bertengkar dengan agama air kelapa, bermusuhan dengan agama isi kelapa dan sangat benci dengan agama kelapa. Sementara agama kelapa ini juga terpecah-pecah, dan yang memecahnya bukan dirinya sendiri. tetapi dari luar juga ikut memecahnya ; ada syiah, ada Sunni, ada LDII, Ada jahula, ada Isis, ada Islam jama'ah, ada Ikhwanul muslimin, ada MTA, ada Nahdatul muhammadiyin, ada muhammadiyin nahdatul, ada macama-macam dan di tambah lagi sama orang lain. Dan kita percaya bahwa di kelapa itu ada kelapa liberal, ada kelapa moderat, ada kelapa radikal.

Seolah-olah manusia tidak bisa hidup jika tidak radikal. Padahal ada hal-hal tertentu yang kita harus Radikal, Nikah misalnya (bayangkan diantara 1000 wanita, kita cuman pilih satu, begitu pun sebaliknya). Kita Radikal pada diri kita, bahwa kita hanya setia pada satu orang, tidak boleh dua. Jadi, kita percaya bahwa ada Islam Radikal?. Heheheh, tidak adalah. Yang ada adalah perilakunya.

Kembali ke pertanyaan awal, Islam Itu apa?. Begitu Allah bilang Kun (jadi), faa yakun (maka terjadilah). Bukan kun Fa kana. Mengapa, kalau Ku faa kana berarti sudah terjadi, sedangkan kun Faa ya kun, akan berlansung terus menerus. Saat Allah berfirman ; "Inna amruhu arodha Syai' an ayya kula lahu kun faya kun", berarti prosesnya berlansung terus menerus, ber-era-era, berabad-abad. Sementara Allah menyebutnya 6 masa, hal itu menunjukkan bahwa barangkali hari ini adalah satu titik, atau sejengkal waktu dari 6 masa dalam perhitungan Allah.

Berarti Islam itu sebuah mesin, sebuah keberlansungan, sesuatu yang mengalir. Kita kembali ke beberapa soal diatas ; Allah kan Permanen, Pasti dan baka. Sedangkan manusia itu relatif, nisbi, temporer dan Fana'. Lalu, kita belajar di abad 20, ada Istilah dinamis dan statis. Statis kerap kali berkonotasi Negatif, sehingga hal itu menunjukkan bahwa kita tidak boleh statis, kita harus dinamis, kita harus creatif dan bergerak. Lalu, kita mau beranggapan bahwa Allah itu statis, karena manusia itu dinamis. Itu lain soal dan lain konteks atau Illatnya berbeda.

Kita juga sering tidak mengurusi perbedaan, ini metodelogi. Misalnya, mahasiswa tidak lulus-lulus, kita bilang konsisten atau ìstiqomah, kan tidak cocok. Jadi, kita kerap kali menjabak diri di dalam terma-terma, istilah-istilah, literasi-literasi yang kita tersinggung sendiri. Kalau dari sudut itu, kita ini sedang memakan riba. Orang yang makan riba itu ibarat orang mabuk atau kapal yang sedang oleng-oleng. Sebab, segala sesuatu serba salah. Tidak ada kebaikan yang bisa kita laksanakan menjadi kebaikan.

Riba itu bukan hanya soal urusan uang atau benda. Riba itu, seharusnya 100 tapi menjadi 110. Artinya, begitu kita kehilangan presisi, kehilangan gravitasi, tidak setia pada ketepatan, tidak setia pada kepastian. maka, kita telah memakan riba, berdasarkan matematikanya Allah.

Kita sekarang mengalami hal itu. Kita bilang ingin mendirikan negara dan pancasila sebagai dasar Ketuhanan sebagai sila pertama. Berarti hal itu sumber primer. Tetapi, kita tidak pernah memprimerkan Allah di dalam pertimbangan - pertimbangan kenegaraan. Tidak pernah ada sidang kabinet, sidang paripurna, yang tanya kepada Allah, bagaimana sih pendidikan itu, bagaimana sih tambang itu?. Seolah-olah tambang itu milik negara kita, padahal itu milik Allah, untuk semua generasi.

Jadi, pada dasarnya kita ini memakan riba ; ada riba politik, riba ilmu, riba pemikiran, riba bermacam-macam. Jadi, riba bukan hanya urusan bank. Jadi, sebelum ada bank, riba tidak ada. Kan ngaco.

Riba itu adalah kita kehilangan presisi. Allah menyebutnya "waa la takunu kalladzi na nasullah faa an sahum an fu sahum Ula ika hum fasikun". jadi, kita ini melakukan kefasikan secara massal, nasional dan internasional.

Sehingga kita kehilangan pengetahuan dengan Tuhan, karena kita memang tidak pernah bergaul dengan benar, bahkan kita meremehkan rukun iman. Termasuk Ummat islam sendiri, pandangan utamanya bukan Qur'an, itu juga riba. Jadi, saya bicara seperti ini, apakah saya harus menjadi ahli tafsir, harus expert begitu. Ataukah ini pembicaraan setiap orang, yang punya hak terhadap al-Qur'an dan punya kedekatan terhadap Qur'an.

Misalnya, Saya pakai termanya orang-orang suriname ; saya jangan islam, islam itu suci, saya kotor, saya pemabok, saya pezinah. Jangan sampai saya masuk islam karena saya sangat menghormati islam. Bagaimana dengan Premis itu?.

Kalau kita tidak pintar mengapresiasi, kita akan kewalahan menilai metodelogi orang suriname itu. Padahal dia sangat menjunjung Islam dan merendahkan dirinya. ketimbang kita pakai semua simbolisme islam, dan merasa suci. tetapi, melakukan kepalsuan dan kemunafikan.

Terakhir, sambil membaca. Kita juga terus menerus memperkembang biakkan cara membaca, landasan membaca, sudut membaca.

Kalau kita, orang indonesia tidak belajar membaca kembali. Maka, tidak lama lagi kita akan mengalami "alladzina na nashullaha faa an sahum anfusahum", karena mereka tidak belajar kepada Allah, maka mereka juga tidak bisa mempelajari diri mereka sendiri. "Ula ika humul fasikun", Maka, kemudian kita menjadi orang-orang yang "Khosyi un".

"Laa yas tawi ashabul nari waa ashabul jannah ti humul faa idzun", Allah kemudian membagi orang yang rugi dan orang yang beruntung. Sekarang orang mencari keuntungan habis-habisan, mereka pikir itu keuntungan. Padahal parameter untung rugi adalah keselamatan kita di hadapan Allah. Jadi, untuk apa kita untung karena berkuasa, karena kaya. Tetapi, Allah murka terhadap kita, anak kita, cucu kita, dst.


***

Kalau kita mempelajari Islam, atau Mengurai diksi Islam dalam Nahusyaroh sampai Gramernya. Maka, sudah pasti Islam itu bukan kata benda. Tetapi, dia masdar. Atau sesuatu yang berlansung dan sedang bekerja. Atau dalam istilah saya, sesuatu yang mengalir dan bergetar.

Kalau kita baca kamus, Diksi "Sin lam Mim" itu ada 16 fundamen (ada salim, Salluma, aslama, salam, sallimna, dsb). Jadi, kata Islam itu ada lingkungan makna atau semesta nilai yang melingkupinya. Sehingga, saya tidak marah jika islam menjadi Kata benda, lalu di aplikasikan menjadi Identitas, kemudian menjadi Islam KTP. Lalu, menjadi kelompok, dan kelompok tertentu bertengkar dengan kelompok lain. Tetapi, Tolong di simulasikan menjadi kata benda, seperti yang kita alami di bangsa ini.

Padahal Diksi Islam berasal dari kata aslama, yuslimu, salaman atau liberation. Cuman, jika di gunakan diksi liberations sudah menjadi kata benda lagi. Jadi, kita ini terancam oleh pelanggaran riba terhadap hakikat hidup. Hidup ini bergerak, mengalir. Jika sudah menggunakan kata benda, maka dia menjadi mandek dan material-Jazadi. Dan kita akan menjadi penganut matrealisme, dan itulah yang tengah berlansung sekarang.

Kalau Allah menciptakan Islam, itu secara otomatis berlansung dan sempurna, berdasarkan kehendak Allah. Manusia di ciptakan berjarak dengan Alam, maka muncullah Intelektualitas, ontologis dan Kreatifitas. kita ini Kata Allah, hanya di perintahkan untuk berpikir akan tanda-tanda kekuasaan Allah pada silih bergantinya malam, berputarnya bumi, dsb.

Artinya, jika kita ingin mencapai sesuatu yang sejati dan benar-benar sampai kepada Allah. Maka, kita harus meniru metabolisme dan Organisme tersebut.

Misalnya, Allah kerap menggambarkan sesuatu yang baik itu selalu simbolnya adalah pohon ; " waa ma dholu kalimatin kasyajarotin thoyyibatin". Intinya pohon itu adalah model dari semua bangunan atau aristektur. Nah, pohon itu jadi banyak sehingga menjadi kebun. Kebun itu bahasa arabnya adalah "Jannah". kita menerjemahkannya menjadi Surga. Lantas, kita lupa bahwa itu adalah Jannah.

Dari sini kita merefleksikan kembali, bahwa yang di ajarkan kepada kita dahulu ialah buku manual tentang islam yang prgamatis. Karena, manusia tidak mau berpikir, enggan menghayati alam semesta. Sehingga (kira-kira begini), agar mudah memahami Islam, Allah berikan saja buku manual ; yang rukun imannya ada 6 dan rukun islamnya ada 5. Sehingga yang sampai pada kita hanya buku resep. Itu pun kita tidak mau pikirkan?.

Misalnya begini, anda marah jika ada orang menambahkan Syahadatnya. Jika kita bersyahadat dalam sholat, tidak boleh di tambahi. Tetapi, jika kita bersyahadat di dalam kesadaran keseharian kita, harus di tambah dan di lengkapi; aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada apapun selain ciptaan Allah. Aku bersaksi bahwa pohon-pohon, gunung-gunung, lautan adalah hak miliknya Allah, sehingga kita harus berhati-hati dalam bersentuhan dan mempergaulinya. Aku bersaksi bahwa aliran darah di sekujur tubuhku adalah kasih sayang Allah kepadaku ; " Asyahadu anna nafsi lil lah". Bisa seribu syahadat kita. Tetapi, akan menjadi salah jika kita ucapkan dalam sholat.

Artinya syahadat itu dinamis?. Syahadat menjadi statis, itu hanya terdapat dalam sholat, tidak boleh di tambah dan di kurangi. Sebab, ketentuan hukum secara administratifnya sudah baku. Ia akan menjadi dinamis ketika dalam kesadaran kita. masa kita mengakui Allah, tetapi mengabaikan peran Allah. Masa kita tidak mengapresiasi ciptaan Allah. Masa kita memuji betapa indahnya, yang Allah hamparkan didepan mata kita. Jadi, kita harus melengkapi syahadat kita dalam kesadaran.

Islam itu memang cukup administratif ; Baca syahadat, sholat, puasa, zakat dan naik Haji bagi yang mampu. Inilah yang sampai ke kita, sehingga kita berpikir bahwa Islam itu soal sholat 5 waktu, puasa, dsb. Pemahaman ghoyah dan wasilahnya terbalik.

Oke, memang salah satu inti ajaran Islam itu Sholat. Tetapi, sholat itu bukan hasilnya. Karena, sholat itu adalah alat untuk mencapai kebaikan. "Innasholata tatann haa iwal fahsya wal mungkar". Sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jadi, sholat itu adalah alat untuk kita bisa terbebas dari fahsya dan mungkar. Sholat itu wasilah, bukan ghoyah. Sholat itu inputnya, bukan outputnya.

Hanya karena kita mengenal Islam, hanya soal sholat dalam rukun islam, sehingga kita menganggap sholat itu sebagai parameter. Jadi, seorang dikatakan muslim yang baik, jika dia rajin sholat, saya tidak mengatakan itu salah. Cuman tidak boleh berhenti di sholat saja, karena sholat itu indikator awalnya. Kita harus cek dan memverifikasinya ; apakah hasilnya setelah dia sholat, dia tidak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme serta bentuk-bentuk kemungkaran lainnya.

Termasuk dengan rukun iman, yang tidak pernah di omongkan dan menjadi kesadaran sehari-hari kita. Misal, Qodha dan Qodhar itu apa dan contohnya dalam kehidupan kita sehari-hari?. Kan hal itu tidak pernah ada dalam pendidikan agama di bangsa ini.

Qodha dan qodhar itu kapan kita ngantuk, tidur dan kapan kita bangun. Kita butuh uang, sudah usaha cari. Tiba-tiba ada teman yang bantu, itu juga qodha dan qodhar. Detak jantung kita ini juga qodha dan qodhar ; kita tetiba sakit, dokter tidak mengerti kenapa bisa kanker. Dokter memperkirakan, bahwa kanker itu karena ini dan itu. Lalu, kemudian di anulir kembali setelah ada pengetahuannya yang berubah atau ada yang baru.

Padahal, ada terminologi seperti ini ; Islam, Kristen, Yahudi, budha, hindu, konghu chu dan aliran kebatinan. Sebenarnya, jika kita hendak berpikir kualitatif, khuluqiyah, ahklaqiyah, hununiyah. Maka, terminologi diatas itu keliru, yang ada adalah ; Muslimun, Kafirun, munafikun, fasikun, musyrikun, dzolimun, dll. Karena, kekufuran adalah segala perbuatan yang mengingankari adanya kebenaran Allah. Dan itu sangat mungkin juga di lakukan oleh orang islam. Jadi, tidak ada identitas kafir. Yang kafir adalah perilakunya.

Seumpama pengandaiannya bengini : Penting mana perilaku kita atau identitas kita?. Nah, jika Islam menjadi identitas. Saya tidak menyalahkan, cuman berbahaya suatu saat. Bisa baku hantam kita. Sebab, ketika orang bicara Mahatma Gandhi, di kira Budha. Bicara Imam Ali, di tuduh Syi'ah. Bicara, Rais syukur di kira Nalar Pinggiran. Makanya, nalar pinggiran kita pertahankan sebagaimana Islam, bahwa Nalar Pinggiran tidak boleh menjadi kata benda, insitusi, dan identitas. Tidak ada Nalar Pinggiran pun, tidak apa-apa. Karena yang boleh ada itu Hanya Allah, dzat yang mencintai kita. Kita tidak ada pun tidak ada masalah juga kok.

Jadi, konstelasinya tidak seperti yang kerap di sebut orang-orang, Islam KTP. Hanya ada ; Muslim, kafirun ; orang yang melanggar ketentuan Allah, entah dia muslim atau tidak. Fasikun ; orang yang lupa diri, karena lupa Tuhan. Dzolimun adalah orang yang mentang-mentang, seenaknya sendiri. Rakyatnya di musuhi terus atau memusuhi orang yang membayarnya. Sedangkan Munafiqun itu juga sering di sebut musuh dalam selimut, sesuatu yang ada dalam diri kita atau bersama dengan kita. Itu masih lebih baik dari pada ciri orang munafiq yang seperti pisau di pinggang kita, kemanapun kita pergi dia ada terus.

Itulah sebabnya, mengurusi orang munafiq itu seribu kali lebih susah, ketimbang mengurusi orang kafir. karena, kalau orang kafir, apalagi di zaman Nabi Nuh, kita bisa cepat mengintenfikasinya yaitu orang yang tidak percaya sama Allah dan Nabi Nuh. maka, ia tidak naik kapal.

Jika kita di suruh Allah untuk buat kapal, Lalu terjadi banjir. Kira-kira yang naik kapal kita, itu siapa?. Pasti semua akan naik kapal, kalau sudah jelas bahwa banjir akan datang. kita tidak bisa mengindentifikasi siapa yang kafir. Mungkin, dia mengaku-ngaku saja beriman. Apalagi sekarang kita tau, banyak yang mendadak beriman.

Jadi Ini zaman, jika tidak di tolong oleh Allah. Maka, tidak bisa dia mengatasi dirinya sendiri. Oleh karena itu, yang kita sumbangkan ini merupakan pembelajaran dari Alif Ba ta. Agar Islam tidak menjadi alat kesombongan diri kita, di dalam pengetahuan kita. Dia boleh mencair, dia boleh berganti. Asalkan yang menggantinya adalah hidayah dari Allah SWT.

saya berdoa, siapapun yang membaca Tulisan ini. Semoga akan di daftar oleh Allah agar mendapat Hidayah dan menjadi pelaku Rahmatal lil alamin, sesudah segala macam kekacauan di negeri kita ini, yang oleh Allah di bikin berlalu dan Allah telah merintis datangnya generasi baru yang mencintai Allah dan Allah mencintanya.

Kembali ke soal Kun Fayakun tadi, sebagai awal dari Islam. Karena yang Allah gelar terlebih dahulu adalah Alam semesta. Kalau boleh kita simpulkan secara de facto, bahwa alam itu "assabikul awwalun" (termasuk yang paling awal dalam islam), dan hal itu berlansung dan tergelar sampai sekarang. Sementara manusia, baru kemudian, Itu pun di bikin oleh Allah berjarak dengan Alam. Saya membayangkan, ketika manusia berislam, mestinya dia juga punya hubungan terhadap alam ; apakah itu belajar, apakah itu memahami dan yang lebih penting lagi, bagaimana Allah mengatur alam juga menjadi pelajaran. Sebab kalau kita tidak belajar ke pada Alam, bisa salah juga kita menyikapi alam.

Sebagai contoh ; Allah menciptakan Alam, termasuk kemudian Allah menciptakan binatang. Dan Allah sendiri yang memberikan jaminan, bahwa tidak ada satupun binatang melata kecuali Allah telah tetapkan rezekinya. Sementara manusia, belum tentu memiliki tingkat keyakinan seperti binatang melata itu. Artinya, jika saja kita punya pemahaman keislaman seperti alam dan binatang. Maka, keislaman kita juga mestinya lebih baik. Dan yakin bahwa rezeki kita telah dijamin oleh Allah, sehingga kita Tidak perlu korupsi, kolusi dsb?.

2 tahun belakangan ini, kerap saya katakan bahwa Semua Ilmu pengetahuan yang di pelajari manusia itu harusnya Taat kepada kehendak Allah. Fisika tidak bisa di pakai untuk arsitektur dan bangunan, jika ia tidak taat kepada ketentuan Allah. Kita menyebutnya sunnatullah, Tinggal kita teruskan, itu yang disebut Islam.

Misal, tidak mungkin listrik ini menyala jika tidak kompatibel dengan kehendak Allah mengenai cahaya. Atau bangunan, Mesti kompatibel dengan Kehendak Allah. Hanya saja, Setelah bangunan itu selesai, di bangun dengan ketaatan kepada Allah. Isi bangunannya yang mulai tidak taat pada Allah. Itu urusan manusia.

Manusia, tidak mesti di bandingkan dengan Binatang. Sebab, binatang tidak butuh Ilmu, iman, keyakinan.

Yang kita sebut sunnah atau yang selama ini kerap kita sebut sunnatullah ; bahwa matahari di kelilingi bumi. Bumi di kelilingi rembulan, Dsb.

Saya ingin mengatakan bahwa Islam itu adalah cara Allah menyelamatkan Mahluknya. Dan jangan tidak taat pada islam. Karena Allah itu seperti, memancarkan cahaya dari tangannya. Tetapi, cahaya itu tidak garis lurus, melainkan melinkar kembali kepadanya. Seumpama Inna lillahi Waa Inna Ilaihi Rojiun, itu namanya tauhid.

Kalau kita ingat, Allah itu memancarkan cahaya yang bentuknya melingkar ; dari dia, menuju dia. Itulah yang di sebut NUR Muhammad. Allah bahagia memancarkan cahayanya, bahkan Allah mengatakan ; Allah adalah cahaya. Artinya cahaya itu bukan dari luar dzatnya. Dari dirinya sendiri, menjadi Nur yang di puji olehNya. Kemudian barulah ada transformasi (menjadi planet, tata surya, galaksi dan semua entitas alam semesta). Itu semua adalah Islam. Mengapa?. Karena, Islam itu ialah semua yang di pancarkan oleh Allah, yang hakikatnya akan kembali kepada dirinya.

Nah, jika mengacu pada konteks ini, maka kita Ingat Rosulullah. Sehingga melahirkan 3 Lokus bahasan ;

Pertama, kalau 12 Rabiul awal itu adalah Maulid Muhammad Bin Abdullah. Muhammad yang di tugasi secara biologis, dengan usia yang di berikan, hanya 63 tahun. Itu adalah maulid Muhammad, Bukan Maulid Nabi.

Kedua, Maulid Nabi, yaitu Maulid Kenabiaan, yaitu bersamaan dengan Nuzul Qur'an. Jadi, Mulai besok, jika bikin malam nuzulul qur'an. Maka, rangkaiakan dengan Maulid Nabi. Karena, itulah awal dari Kenabiaan Muhammad, meskipun bukan awal dari Islam. Karena Islam itu adalah apa saja yang di ciptakan Allah, sejak Kun adalah Islam. Masa Allah menciptakan sesuatu yang tidak Islam, masa Allah menciptakan sesuatu yang tidak selamat untuk sampai kepada Dirinya.

Maka, "Inna dina Indallahil Islam" adalah cara kita untuk tunduk agar di terima kembali oleh Allah dengan melakukan Islam. Tunduk itu artinya kita bisa menyatu dengan Allah, adalah Islam. Islam adalah suatu pekerjaan, program, sistem untuk tunduk kepada Allah.

Ketiga, Ada Juga Maulid Nur Muhammad. Dan Itu bisa kapan saja, sebab kita tidak tau kapan hal itu terjadi. Sebab, saat itu terjadi belum ada hari, bulan, tahun, ruang dan waktu. Sehingga, sejatinya kita kalau bisa, sesering mungkin merayakan Maulidun Nur. Merayakan kembali rasa syukur, bahwa Allah menciptakan Cahaya Allah ; "Allahu nurussamawati Wal Ard". Lalu, di gambarkan ; "Mastalu nurihi kaa misskatin fi haa misbah, Al Misbahu fiha dzujaja, adzu jaja tu kaa anna ha kaw kabun dhurriyu yu kaw kabun min zajaratin mubarokah Wala syarkiya wala ghorbiyah". Tidak timur, barat, utara, selatan, atas, bawah. Kalau kita benar-benar masuk kedalam cinta Allah. Maka, kita tidak akan menemukan sekat-sekat identitas. Jika kita masuk kedalam semua itu. maka, kita akan memancarkan cahaya, meskipun kita tidak pernah memancarkannya. Lampu kita akan menyala, meskipun kita tidak pernah menyulutnya dengan api.

Manusia pada dasarnya berjuang Secara Kualitatif menuju Nurun ala Nurun. Bukan kita makan cahaya, tetapi kita bagian dari cahaya Allah. Terus kalau bukan bagian dari cahaya Allah, apa?. Makanya tidak apa-apa, orang menghormati Bendera Merah putih. Karena itu bagian dari cinta kita kepada tanah yang di berikan Allah. Bukan mengganti Allah dengan bendera.

Jadi Kawan tadi bertanya, mengapa kita tidak belajar pada alam?.

Memang orang modern itu aneh. Misalnya begini, dia berhenti pada Hukum alam. Dia membunuh pikirannya bahwa yang bikin alam, harus ada subjeknya. Padahal tinggal selangkah saja, tapi dia tidak mau. Gravitasi, relativitas dan Rotasi itu hukum alam. Kalau orang Islam, mestinya selain percaya bahwa itu bukan hanya hukum alam. tetapi, itu Islam (ciptaan Allah). Begitu kun Berlansunglah Islam.

Maka, yang penting adalah pergerakan Ahkaqul karimah kita. Cinta kita kepada semua manusia dan alam itulah Islam. Perkara surga dan tidak, kan bukan kita yang memberikan raport. Pokoknya kita selalu beritikad baik terus dan menyelematkan orang. Makanya, kepada orang kafir, kita tidak boleh bersikap keras. Tetapi, bersikap tidak tega. Kenapa ada manusia kafir, kepada ada orang tersesat?. Ayo, sini saya kasih tau jalannya, bukan di marahi.

Rumusnya sederhana, kalau kita di dunia modern, ada istilah organisme dan organisasi. Kalau oraginisme itu, Allah sudah kasih contoh ; Heii, begini ni contoh Organisasi yang baik. Hanya karena dia otomatis, makanya kita taunya Matahari terbit saat fajar. Meluruh saat malam.

Senagai tambahan, ada satu hal yang saya ingat tentang metodologi, Cak Nur pernah bertutur bahwa al-qur'an itu substansi. maka, kita harus memahaminya dengan metodologi dari barat. Saya tidak mengatakan tidak sependapat, justru saya menemukannya terbalik. Saya menemukan Al-Qur' sebagai supra metodologi. Justru qur'an yang membuat saya lebih memahami manusia, binatang, dan semua galaksi tanda di semesta ini, memahami semua dialektika kehidupan ini, bahkan saya memahami kenapa laron hidupnya beberapa puluh menit saja. Saya tidak perlu menyeledikinya, saya cukup pakai qur'an, karena Qur'an punya sifat informasi yang berbeda dengan selain qur'an. Qur'an tidak hanya memberitahu, tetapi juga punya hidayah. Punya lorong yang menghubungkan cinta kita kepada Allah.

Ilmuan, penyair, seniman itu Rohaniwan. Tetapi, kerap kali di tolak. Karena, yang di sebut rohaniwan adalah pdt, pastor, Kiai, Ustad. Bagaimana bisa demikian?. Bukankah semua yang berurusan dengan Ilmu adalah ronahaniwan, Allah kan softwarenya. Apalagi Seniman, yang dia ungkapkan kan bahasa Jiwanya, Bahasa hatinya, gejolak-gejolak dari perasaanmu, itu rohaniwaan.

Kenapa seniman modern, berabad-abad, tidak pernah berdiri sebagai orang yang sadar bahwa Ia adalah Rohaniwan?. Makanya, mereka mandek, mengalami stagnasi, tidak bisa terus, tidak bisa terbang. Akibatnya, banyak yang berakhir di pasar (laku dan tidak laku).



*RST
*NALAR PINGGIRAN

CORETAN PER-EMPU-AN




--MENDARAS FEMINIS ILAHI DALAM UPAYA MERUMUSKAN TEOLOGI FEMINIS ILAHI--
 
Prinsipnya Filsafat Perempuan berusaha menjelaskan hakikat keberadaan manusia (khususnya perempuan), sebagaimana adanya (ontologi/teoritis) dan berusaha menjelaskan tindakan perempuan sebagaimana mestinya secara ikhtiari atau capaian akal atau pikiran (praktis/aksiologi).

Sebelum menjelaskan bagaimana Rumusan Teologi Feminis Islam dalam menjelaskan hakikat keberadaan perempuan sebagaimana adanya dan tindakan perempuan sebagaimana mestinya, terlebih dahulu saya membeberkan - memberikan pandangan-pandangan terkait eksistensi perempuan, fenomena, problematika dan bagaimana semestinya ia menjalani hidup. Sebab Prinsipnya, kita harus menggeser persoalan rumah tangga, dari isu romantisme baperan aku dan kamu, menjadi DIA sejati (penyempurnaan diri secara individu dan sosial).

Apakah perempuan itu lemah, karena potensi bawaan ataukah akar budaya kita yang Mensubordinsasi perempuan?.

Saya teringat dengan percakapan "Nyai Ontosoroh" pada Anak perempuannya yang akan menikah dengan Minke, Dalam Karya Bumi Manusia Pramoedya ananta Toer : " kamu harus belajar, agar pintar. Bapakmu yang lelaki itu, kerjannya cuman mabuk. Tapi, karena Ia lelaki. Maka, ia dihormati. (Patriarki). Sedangkan Mamamu ini, lebih pintar dari Bapakmu. tetapi, karena Mamamu perempuan tetap dihina orang lain. Maka, engkau harus lebih giat menempa Diri, sebab kita masih bergelut dizaman, dimana orang melihat kita (perempuan) bukan pada otak, tetapi pada Kewanitaan kita. (Budaya)".

Sebuah "jiwa zaman" awal abad ke 20, mungkin sebelum-sebelumnya juga demikian dan tak ada bedanya dengan sekarang, bahkan semakin membusuk otak mereka. Stagnasi pemikiran, Yang melihat perempuan bukan Pada Otak atau Akal, melainkan pada potensi bawaannya (kewanitaan). sudah melembaga lama, bahkan telah membentuk sebuah corak pemikiran dihampir semua lapisan masyarakat.

Hal itu diperkuat lagi dengan produksi pikiran keagamaan - Teologis, yang patah. memandang masa depan dengan pesimis. memandang sesuatu tidak dengan akal - Taqlid buta. Jika Konsepsi teologis ini digunakan dalam Melihat Lelaki dan Perempuan, itu berbeda. Maka, Tuhan telah mendistorsi proses penciptaannya. Sedangkan Tuhan menekankan, lelaki dan perempuan, tidak boleh dibedakan, karena akan merusak sistem Alam semesta.

Diskriminasi terhadap perempuan itu terjadi sejak ia baru saja dilahirkan. Air kencing bayi perempuan yang hanya minum Air Susu Ibunya langsung dikategorikan najis 'Mutawassithah' (tengah-tengah). Sedangkan air kencing laki-laki yang juga hanya meminum ASI yang sama dikategorikan najis 'Mukhoffafah' (ringan). Seandainya perempuan banyak dilibatkan dalam penentuan hukum Fiqih, rasanya keputusan Fiqihnya tidak begini sekali.

Selama ini sangat banyak beredar tafsir-tafsir misigonis menyangkut sosok perempuan. Perempuan kerap jadi objek hukum. Menjadikan agama sebagai tameng pembenaran atas perlakuan-perlakuan tak bersahabat pada perempuan. Sebagian besar perempuan pun murung dengan kenyataan ini, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kali ini bolehlah para perempuan ge-er dan tersenyum lebar.

Pertama, Dalam analisis gender 'Mansour Faqih', definisi perempuan harus dibedakan dari segi gender seks yang berkaitan dengan anatomi tubuh seperti rahim, payudara, alat produksi sel telur, kemampuan melahirkan, menyusui, dan berbagai hal hal lainnya yang berkaitan dengan aspek biologis yang sifatnya kodrati ( tidak bisa diubah).

makna perempuan, kedudukan serta perannya dalam sektor publik dan domestik semisal perempuan adalah mahluk perasa, lemah akal, sumber dosa atau fitnah, petugas rumah tangga (dapur, kasur, sumur), tidak mampu memimpin adalah sesuatu yang sifatnya konstruktif,  bukan hal yang hakiki (inheren) pada kodrat perempuan. karena laki-laki pun ada yang perasa, lemah akal, dsb.

Sebagai sesuatu yang sifatnya konstruktif, bisa berubah (relatif), dalam arti laki-laki dan perempuan sama sama bisa mengalaminya.

Secara epistemologis, kita tentu bertanya darimanakah asal atau dasar konsepsi atau pemaknaan, dan penilaian mengenai hakikat perempuan serta perannya?.

Hal itu tidak keluar dari kosntruksi sosial-politik, budaya, teks agama, dan variabel lainnya, termasuk perempuan itu sendiri yang menimbulkannya demikian. 

Semisal 'Simone De Beavoir' (1908-1986), seorang feminis eksistensialis modern, mengatakan bahwa tersubjektifkannya perempuan menjadi objek (liyan/yang lain) oleh laki-laki bukan karena semata laki-laki itu sendiri yang melihat perempuan sebagai the second reality (realitas kedua). tetapi, karena perempuan itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh apa yang disebut sebagai penyakit " The Malafide" dengan tiga kategori penyakit ; 1. The Prostitute, Dimana perempuan menjadi objek tubuh atau seks bagi laki-laki. 2. The Narsis, Perempuan selalu menampilkan dirinya sebagai eksistensi fisik atau keindahan tubuh bagi laki-laki untuk terpuaskan. 3. The Mystic, hal ini berkaitan dengan kecendrungan perempuan untuk bersaing antar sesama perempuan.

Ada yang melihat persoalan malafide tersebut disebabkan oleh laki-laki, ada pula disebabkan oleh perempuan itu sendiri yang selalu menampilkan dirinya sebagai tubuh seksi, cantik, indah fisikli, sehingga laki-laki memandangnya demikian.

Artinya tidak ada nilai lain yang perempuan bisa tonjolkan pada dirinya, kecuali eksploitasi pada tubuhnya sendiri. Adapun perihal persaingan antara perempuan dengan sesama perempuan dikarenakan ingin menjadi yang terbaik bagi perempuan lainnya, termasuk dari segi gaya hidup.

Kedua, Ontologi Islam. Tentu ini butuh uraian pembahasan untuk membahasnya, dan disini saya hanya akan memaparkan relevansi ontologi "Teosofi transenden Mulla Shadra" dalam meletakkan kedudukan laki-laki dan perempuan, bahwa laki-laki dan perempuan adalah mahiyah yang bersandar pada hakikat wujud "Assholatul Wujud", sehingga kita bisa melihat perbedaan keduanya dari segi mahiyah (materi). namun dari segi eksistensinya, sama-sama eksis (setara kedudukannya setara ontologis), tidak ada superioritas eksistensi.

Eksistensilah yang mendasar bukan mahiyah. Adapun keduanya dari segi esensi, keduanya adalah satu spesies sebagai manusia dengan segala kompleksitas Kemanusiaannya.

Ketiga, Humanisme Perempuan dalam Filsafat Manusia. Manusia dalam filsafat islam adalah bersandar pada term "fitrah" (Q.S. Ar rum ; 30), berupa format kemanusiaan yang tidak berkaitan dengan jenis kelamin, melainkan kecenderungan jasmani atau bashar (makan, minum, seks, istrahat, dsb)  dan kecenderungan ruhani atau insan, berupa kencendrungan pada pengetahuan, pengaturan (hasrat kuasa), kecenderungan spiritual (ibadah), kecenderungan sosial-akhlak (diadaptasi dari filsafat manusia Muthahhari dan Dr. Ali Syari'ati).

Baik laki-laki ataupun perempuan adalah subjek (bukan relasi antar subjek dan objek) yang sama-sama memiliki kehendak bebas dalam mengaktualisasikan fitrahnya (basyar dan insan) menuju alam objektif (keluarga dan masyarakat).

Dalam hal sektor domestik laki-laki (suami) dan perempuan (istri) bertanggung jawab dan semaksimal mungkin bekerjasama dalam penyediaan makanan, minuman, termasuk masalah istrahat, terutama dalam hal pengurusan anak. Bagaimana tidak di bebankan pada satu pihak saja.

Keempat, Feminis dalam struktur Kosmologi " The Tao Of Islam karya Sachiko Murata. Materi ini juga kita ringkas dan yang ingin mendalaminya bisa membuka buku tersebut atau mengikuti kajian kajian kosmologi Ustadz Shafwan.

Laki-laki dan perempuan dari segi psikis adalah sama-sama feminim (Kualitas jiwa) berupa kecenderungan esensial jiwa pada kesempurnaan (kebenaran, kebaikan, keadilan), ketaatan pada nilai-nilai sempurna tersebut disebut dengan feminim positif, adapun sebaliknya disebut feminim negatif. Ada lima kategori feminitas yang di maksudkan Sachiko, salah satunya adalah kemampuan menerima taklif "memikul beban atau tanggung jawab, "baik yang bersumber dari ilahiah maupun nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Dalam konteks teologi islam, kita semua "Baik laki-laki maupun perempuan" adalah Feminim (hamba) dan Allah SWT adalah maskulin sejatinya (Tuan yang mengatur, memerintah, dsb) melalui jalan syariat, sehingga syariat disini adalah satu bentuk perkawinan makrokosmos antara manusia dengan Allah SWT melalui alam objektif (jalan syariat), dan setiap perkawinan Menurut Sachiko Murata, mengutip Ibnu arabi, akan melahirkan sesuatu, jika tidak, di katakan mandul. Semisal, sholat adalah satu bentuk perkawinan hamba dengan khaliq, yang akan melahirkan anak-anak akhlak (sifat mulia), berupa keterjagahan dari sifat keji dan mungkar "Innassholata Tanha Anil Fahsai wal Mungkar".

Dengannya kita mengatakan, laki-laki dan perempuan dari segi teologis, adalah sama-sama hamba (feminim) yang bergantung pada Allah SWT, sehingga antara laki-laki dan perempuan tidak ada dominasi kekuasaan, laki-laki menghamba pada perempuan, atau sebaliknya perempuan menghamba pada laki-laki (relasi eksploitasi).

Kelima, Kepemimpinan Gender. Kepemimpinan dalam konteks khalifah memang dari segi teks dan historisitasnya menjadikan adam sebagai subjek penyandang kepemimpinan. Namun kepemimpinan adam bukan karena gender jenis kelamin laki-lakinya, tentu Allah SWT tidak menjadikan jenis kelamin sebagai kriteria kepemimpinan, tetapi berkaitan dengan kualitas Feminim (kemampuan menerima taklif) dan juga kualitas intelektual. Bicara tentang intelektual, landasannya adalah basis epistemologi, berupa indra, akal dan hati sebagai instrumen pengetahuan, dan ketiga faktor utama. pengkondisian pengetahuan tersebut sama sekali tidak berjenis kelamin, sehingga konteks dewasa ini intelektual dari segi teoritisnya (pengetahuan tentang hakikat keberadaan sebagaimana adanya) dan dari segi-segi praktisnya (pengetahuan tentang tindakan manusia sebagaimana mestinya) berupa etika lingkungan, etika individu, etika rumah tangga dan etika-hukum, politik kemasyarakatan, bisa Sempurna pada laki laki dan perempuan.

Atas dasar inilah, Prof. Dr. Nasaruddin Umar (Argumentasi Kesetaraan Gender) dan Prof. Dr. Jawadi Amuli (Keindahan dan Keagungan perempuan), melihat keduanya adalah Khalifah (pemimpin) dalam bidang dan perannya masing masing sesuai kapasitas diri ( kemampuan/skill dan pengetahuan)

Adapun relasi keduanya dalam konteks rumah tangga, sebagaimana Q.S. An Nisa bahwa laki-laki adalah " Qowwam" bagi perempuan perlu di rumuskan ulang pemahaman kita terhadap teks dan azbabun nuzul teks tersebut (latar belakang Sosio-Historis).

Membaca Dr. Syariati dalam teks Fatimah is Fatimah, bahwa kepemimpinan arab jahiliah identik patriarkisme, perempuan dalam konteks rumah tangga adalah budak, sehingga Allah Swt merekonstruksi kepemimpinan perbudakan tersebut menjadi kepemimpinan yang bertanggung jawab, dalam arti Qowwam bukan berarti menguasai, mengatur semerta-merta perempuan tetapi berkaitan dengan pengaturan sesuai sistem hikmah dan akhlak, sehingga Qowwam berarti mengayomi, melindungi, menjaga. Dsb.

Konten hari ini, kepemimpinan rumah tangga yang di letakkan pada laki-laki adalah taklif teologi yang kriterianya bukan disebabkan karena kelaki-lakian ( ?faktor jenis kelaminnya) tetapi bersandar pada kebijakan kebijaksaan, keadilan, dan akhlak. Sehingga jika syarat tersebut tidak terpenuhi maka kepemimpinan menjadi gugur (relatif), adapun perempuan (istri) juga bisa memimpin, jika dia sesuai dengan hikmah, prinsip kebenaran, keadilan dan akhlak, sehingga bisa dikatakan, keduanya adalah sama-sama pemimpin yang harus siap menerima masukan satu sama lain, untuk kepentingan bersama dan pemimpin sejati atau mutlak adalah Allah SWT tempat keduanya bersandar.

Mengenal perempuan-perempuan dalam sejarah peradaban kemanusiaan islam sebagai patokan ilmiah, rule model kepribadian dan gerakan perempuan yang identik dengan intelektualisme, spiritualisme atau Feminim transenden. perannya dalam pendidikan, Ekonomi dan sosial politik seperti Siti Hajar perintis ajaran monoteis lewat Nabi Ibrahim, Siti Aisiyah" perintis pembebas bani Israel dari Diktator Fir'un, Siti Maryam faktor utama eksistensi Isa As, Siti Khadijah dan Fatimah Az Zahra.

Ringkasnya, mereka adalah perempuan-perempuan yang telah keluar dari penyakit the narsistis, the prostitute dan mystic, dalam arti mereka adalah perempuan yang tidak lagi hadir ke permukaan sebagai eksistensi tubuh fisik (menampakan secara narsis wajah atau penampilannya), bersaing sesama perempuan hingga saling menjatuhkan (fitnah, gosip, dll). tetapi eksistensinya hadir sebagai makhluk intelek, akhlaki, bertaqwa, pengabdi, feminim positif, maskulin positif (kritisisme ketidakadilan), kontribusi generasi manusia, dan aktifitas ekonomi politik untuk tegaknya universalisme nilai-nilai kemanusiaan (agama) dalam konteks rumah tangga (domestik), maupun publik (sosial-politik).

Kesimpulan umumnya adalah feminis ilahi konteks kosmologi islam adalah kualitas jiwa (ada pada laki-laki, maupun perempuan), yang terdiri dari lima kategori. salah satunya kategori kemampuan menerima taklif (tanggung jawab). Dalam praktisnya feminis ilahi adalah jiwa yang mampu berjalan selaras dengan kehendak Tuhan di alam plural.

Terakhir, untuk menutup sesi bagian pertsma ini " Tidak ada cinta hakiki dalam relasi gender suami dan istri, yang ada adalah relasi sosial-politik profetik".

Artinya, kita melihat kekurangan pada sesama, fitrah kita menghendaki kesempurnaan yang hanya dapat disandarkan pada  Allah swt. sehingga aku dan dia hanyalah sarana dan media kerjasama dalam mewujudkan cinta kepada Allah Swt (cinta  hakiki). Allah Swt telah melatakkan batas hak dan tanggung jawab, yang di sempurnakan pada akhlak kenabian, sehingga aku ke kamu (suami ke istri atau sebaliknya) adalah bagian dari perjalanan teoritis menuju Allah Swt. 

Maka, sesungguhnya inilah moral yang kuat dalam relasi gender (konteks keluarga), sehingga kebaikan yang kita letakkan terhadap pasangan, bukan untuk mencari simpati dan balasan. tetapi, sebagai sarana mendekat kepada Allah Swt dalam segala gradasinya.


**


Beberapa perdebatan yang kerap Kita saksikan, tentang cantik dan tidaknya paras seorang wanita. Di akibatkan karena penyakit yang saya maksudkan diatas, The Narsis. Perempuan yang acap kali menampilkan dirinya, karena fisik atau tubuh. Nah, mata kita, selalu tertumpu pada bagian yang sangat artifisial. Padahal, hal tersebut, hanyalah bagian terkecil dari akumulasi seluruh kecantikannya.

Tentu, kita bisa bertanya lebih kritis, Sejak kapan cantik itu identik dengan kulit putih, berdagu terbelah, berbadan lansing atau bertubuh motok, rambut terurai, berlesung pipi, dsb?. Sama dengan Memakai jilbab itu tujuannya menutupi aurat ataukah menutupi rambut?. 

Bukankah Aurat itu sesuatu yang bisa membuat lawan jenis menjadi tertarik, begitu tutur "Buya Syakur". Jika memakai jilbab membuat jadi menarik itu Justru bertentangan dengan tujuan menutupi aurat. Kecuali berjilbab itu tujuannya untuk menutupi rambut, bukan aurat. Olehnya, Berhentilah Bersolek. Stop Memamerkan kensensualan lengak-lenggok, Sudahi memperlihatkan kegenitan, Janganlah menunjukkan kemolekan. Hijab- Tutuplah dengan benar. Jika tak ingin Jiwa Zaman ini melihatmu, karena Engkau Wanita, bukan karena engkau punya Otak.

Di negeri tirai bambu - Tiongkok, salah satu Standar kecantikan perempuan, terletak pada rona kulitnya. Perempuan cantik itu berkulit putih. Berkulit cerah. Seperti adagium Tiongkok Klasik " yi bai zhe san chou" (perempuan berkulit putih mampu menyembunyikan 7 kesalahannya)". 

Tujuh kesalahan itu apa saja, tidak penting. sebab, saya juga tidak tau. Tapi, substansinya adalah perempuan yang berkulit putih mendapatkan kelebihan, mampu menghilangkan kesalahan (sosialnya) secara otomatis. Tidak hanya satu, tujuh sekaligus. Hal ini menempatkan bagaimana perempuan berkulit putih begitu menentukan bagi orang asia, khususnya Tiongkok. 

Sedangkan perempuan di dunia barat?, persepsi yang terbentuk adalah kulit cokelat merupakan simbol gaya hidup sehat. Gaya hidup yang spartan. Karena itu banyak perempuan di dunia barat yang terobsesi dengan "Tanning". Mereka berjemur agar kulit mereka menjadi (agak) kecoklatan. Sedangkan, kita di indonesia, terbalik. Dipaksa putih karena standar kecantikan di buat oleh Iklan Industri kosmetik. Akibatnya menjadi Ballang (belang-belang). 

Tidak ingatkah kita, bahwa Kecantikan fisik itu malapetaka. Sebab, cikal bakal terjadi perang Troya ialah memperebutkan Helena. Perang antara kerajaan prambanan dan Majahpahit adalah merebutakan Diah Pitaloka. Romeo tak akan pernah berani meneguk racun, Jika bukan karean Juliet. Dan qois tak pernah di labeli Majnun, kalau bukan karena Laila. 

Tertawan pada kecantikan itu juga lumrah Sebagai lelaki. sebab, kita bukan malaikat yang tak memiliki hasrat. Tetapi, menjadikan kecantikan Fisik sebagai variabel utama, justru bisa mendatangkan malapetaka. Kata Nizar Qabbani, "Para lelaki itu mensifati Perempuan sebagai mahluk yang bengkok. Dengan kebengkokan pinggulnya justru para lelaki itu bertumbangan".

Cantik itu kualitas jiwa (Inmaterial), bukan pada Fisik (Material). Cantik itu kebenaran, "Innallahu jamilun Wa yuhibbul jamal. Kenapa?, Karena Perempuan adalah mahkluk yang luar biasa, ada rahim dalam tubuhnya sebagai pusat kasih. Ada cinta dihatinya sebagai jalan bakti. Ada nalar dipikirannya sebagai sarana diksi. Maka, Jagalah perempuan yang tidak dilahirkan ibumu. Agar, Allah menjaga perempuan yang dilahirkan ibumu.

Karena kecantikan itu Kualitas Jiwa, maka kerap kita dapati Sebagian perempuan itu seperti pasukan khusus yang lebih sering menggunakan sandi atau kode. Sebagian perempuan susah mengeluarkan isi hatinya dalam rupa aksara. Akhirnya banyak perempuan memilih menjadi makhluk super, sehingga kerap berkata "aku tidak apa-apa". Padahal sedang tidak baik-baik saja. Meski sesungguhnya ia tahu bahwa berbicara lebih mendewasakan dibandingkan bahasa sandi atau kode, apalagi diam. Sebab, tak banyak lelaki yang bisa menafsirkan Bahasa Diam. 

Perempuan itu sekumpulan tanda-tanda koma, juga tanda-tanda tanya. Yang Membuat lelaki menghabiskan sepanjang hidupnya, hanya untuk memecahkan misteri dari sebuah tanda-tanda, Begitu tutur Nizar Qobbani. Maka, Tak ayal Jika Prof Quraish shihab, dalam Bukunya Yang berjudul "Perempuan", berguman : Butuh 1 lelaki untuk mencintai Perempuan, tetapi 1000 lelaki tak cukup untuk memahami Perempuan.

Satu hal juga, Perempuan itu punya tabiat pencemburu. Maka, ada baiknya jangan menceritakan kelebihan perempuan lain di hadapannya, meskipun hanya sekedar gurauan. Selain itu, Jangan pernah berbohong kepada perempuan, karena mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk menemukan kebenaran Dan kemampuan yang lebih besar itu adalah berpura-pura tidak menemukannya. Menagap?, Karena mereka (Perempuan) itu bukan copy paste dari rembulan. Tetapi, Ialah rembulan yang sesungguhnya. Seperti kata Rumi bahwa " Sinar rembulan akan tetap ada, selama kau tak hindari malam". Maka, kita tak akan pernah menjumpai pagi jika kita takut melewati malam. Sebab Ketakutan itu adalah penjara hidup.

Ada terma, yang kerap di gunakan orang, kira-kira begini, "Dibelakang lelaki yang hebat, ada seorang perempuan. Jika dibelakangnya ditambah tiga perempuan lagi, maka kehebatan lelaki akan bertambah.?.

Bagaimana caranya, SATU-kan yang EMPAT?. Haruskah itu ke EMPAT di-SATU-kan dulu?. Atau kita ke-SATU dulu?. Atau SATU rasa empat?. Atau dialah SATU satunya yang SATU. Sebagaimana tujuan ayat poligami katanya menuju monogami ; "Fa in Khiftum alla ta'dilu fawa hidatan".

Saya teringat dengan sebuah dialog, antara seorang Lelaki dengan seorang Syaikh. Lelaki bertanya pada Syaikh, "Mengapa perempuan lain tampak lebih indah dipandang mata, ketimbang istriku sendiri, Syaikh?".

Syaikh menjawab, "Masalah sesungguhnya bukan terletak pada istrimu, tapi terletak pada hati rakusmu dan mata keranjangmu. Mata manusia tidak akan pernah puas, kecuali jika sudah tertutup tanah kuburan". Itulah sebabnya Nabi Bersabda, "Andaikan anak Adam itu memiliki lembah penuh berisi emas pasti ia akan menginginkan lembah kedua, dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah".

Lalu Syekh itu bertanya: "Apa engkau ingin istrimu kembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini?". "Iya Syekh," jawab lelaki itu dengan perasaan tak menentu.

Syekh itu kembali menuturkan, "Pejamkanlah matamu dari hal-hal yang haram. Ketahuilah, orang yang merasa cukup dengan suatu yang halal, maka dia akan diberi kenikmatan yang sempurna di dalam barang halal tersebut". 

Berkenaan dengan itu, Setelah saya baca jurnal hebat dieranya. Yang Mengulas tentang MEMBONGKAR MITOS PEREMPUAN. Tapi, saya tidak menemukan ulasan perempuan dalam era industri dan faktor-faktor yang menghubungkannya. Apalagi era disrupsi. Penguasaan terhadap alat-produksi dan pasar, adalah bagian dari faktor hegemoni dan dikotomi. Feminisme moderen, ada dalam hubungan dialektik dimaksud. 

Lebih maju ke sini, era disrupsi, dimana Penguasaan terhadap alat produksi makin sumir, seiring cepatnya ekonomi bergerak ke arah yang lebih intangible atau artifisial. Kondisi demikian, mengkonstruksi relasi dan pranata sosial berdasarkan penguasaan alat produksi, menjadi penguasaan data yang artifisial.

Akses terhadap data dan penguasaan "big data", kini menjadi titik sentrum baru ekonomi dan konstruksi pranata masyarakat serta relasi sosial. Era disrupsi, menempatkan perempuan pada tantangan mutakhir. Tantangan baru feminisme dalam kultur global yang artifisial. Orang-orang seperti Sheryl Sandberg, Wang Laichun, Melissa Ma dll, adalah perempuan bertenaga dalam era pasar digital dengan kemampuan survived di atas rata-rata. 

Konstruksi sosial tentang gender dan feminisme berbeda sama sekali. Dari faktor-faktor yang sifatnya tangible menjadi intangible. Hegemoni dan dikotomi berbasis gender telah terdisrupsi. Menemukan pola baru yang lebih menarik untuk ditelaah.

Makanya, PER-AN kehilangan EMPU-Nya (terperangkap oleh iklan industri kosmetik. Maka sudah tidak otentik disebut PER-EMPU-AN. Padahal sepatutnya perempuan menjadi Puan atas dirinya.

Dimana perempuan yang bedaknya adalah debu jalanan, cantiknya terlontar lewat dentuman suara kebenaran yang menggema. 

Dimana..?.

Saya ingin mengunderline sebuah Konstruksi yabg belakangan kita alamai, yakni Ketika engkau mencegah anak perempuanmu keluar rumah agar tidak ada yang melecehkannya. maka, engkau telah (merasa) melindungi satu anak gadis. Akan tetapi, jika engkau mendidik seorang anak laki-laki. Maka engkau telah melindungi banyak anak gadis. Padahal, Kita (laki-laki) tak akan mungkin melebihi kehormatan seorang perempuan. Jika kita berikan padanya rasa aman padanya. maka, ia akan menjadi tanah air bagi kita.

-Perempuan adalah Ibu yang Tersenyum di hadapan maut-


***

NABI PEREMPUAN


Rupanya ada yang salah paham soal kenabian perempuan, ketika saya mengikuti kajian dalam pengajian Kitab Fathul Mu'in bulan Ramadan 2020.Pertama, mereka menyangka bahwa itu pendapat saya. Kedua, mereka menduga yang pro nabi perempuan itu tak punya argumentasi qur'an.

Saya akan coba jelaskan. sejak dulu bahkan hingga sekarang sebenarnya para ulama sudah memperselisihkan tentang ada dan tidak adanya nabi perempuan. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan cukup singkat pro-kontra itu dalam Kitab Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari (Juz 6, hlm. 529-530).

Pertama, ulama yang menerima kenabian perempuan di antaranya adalah al-Imam Abu al Hasan al-Asy'ari, Ibnu Hazm, dan al-Qurthubi. Al-Imam Abu Hasan al-Asy'ari berpendapat; ada banyak nabi dari kalangan perempuan. Khawatir menimbulkan spekulasi liar, Ibnu Hazm segera membatasi nabi perempuan hanya pada 6 orang, yaitu; Siti Hawa, Sarah, Hajar, Ibunda Nabi Musa, Siti Asiyah dan Siti Maryam. Batasan menurut beliau, bahwa orang yang didatangi malaikat dari Allah, dengan membawa hukum: perintah, larangan, atau maklumat, maka dia nabi. Tetapi, al-Qurthubi hanya mengakui kenabian Siti Maryam. Ia menolak kenabian Sarah dan Hajar.

Diantara ayat yang menjadi landasan mereka adalah

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Kami wahyukan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul. (QS. Al-Qashsas: 7).

Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemui Maryam,

فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا . قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا. قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Jibril berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS. Maryam: 17 – 19).

Kemudian, dalil dari hadis adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كمل من الرجال كثير، ولم يكمل من النساء إلا مريم ابنة عمران، وآسية امرأة فرعون

”Lelaki yang sempurna itu banyak. Namun tidak ada wanita yang sempurna, selain Maryam bintu Imran, dan Asiyah istri Firaun.” (HR. Bukhari 3411 dan Muslim 2431).

Kedua, jumhur ulama, yang menurut Qadhi Iyadh-menolak kenabian perempuan. Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar mengutip konsensus yang menyatakan bahwa Siti Maryam bukan nabi. Penolakan yang sama diajukan ulama lain. Al-Hasan misalnya berkata bahwa tak ada nabi perempuan sebagaimana tak ada nabi dari komunitas jin. Pertanyaannya, mengapa para ulama berbeda pendapat?. Tak ada jawaban lain kecuali bahwa mereka berbeda dalam menafsirkan firman Allah.

Misalnya ada ayat Qur'an yang mengisahkan wahyu-komunikasi langsung Allah dengan sejumlah perempuan seperti Siti Maryam dan Ibunda Nabi Musa Dan menurut ulama pertama, orang yang mendapat wahyu adalah nabi, tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Namun, sebagian ulama membantah narasi itu. Menurut mereka, yang menyatakan nabi itu hanya dari kalangan laki-laki adalah Qur'an sendiri. Allah berfirman, 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى

”Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu, kecuali dari kalangan lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka, di kalangan penduduk negeri” (QS. Yusuf: 109).

Seperti yang kita tahu, tujuan Allah mengutus nabi dan rasul adalah sebagai juru dakwah, mengajak manusia ke jalan yang benar. Tugas ini menuntut mereka - para nabi dan rasul - untuk banyak bergaul dengan masyarakat. Jika tidak mungkin ada rasul di kalangan wanita, karena gerak pergaulan mereka terbatas, maka juga tidak mungkin ada nabi di kalangan wanita, karena tugas nabi kurang lebih sama dengan rasul.

Tetapi, Argumen itu segera disanggah yang lain. Bahwa yang diekplisitkan Al- Qur'an itu soal kerasulan yang dimonopoli laki-laki. Beda dengan kerasulan, maka tak menutup kemungkinan ada nabi perempuan. (فالرسالة للرجال أما االنبوة فلا يشملها النص القرأنى).

Itulah perbedaan pendapat para ulama tentang nabi perempuan. Perbedaan pendapat seperti itu sahih apalagi ia muncul dari genius-genius raksasa seperti al-Asy'ari, al-Hasan, al-Qurthubi, Imam Nawawi, Ibnu Hazm, dan lain-lain.

Saya hanya menyampaikan keragaman pandangan para ulama tentang kenabian perempuan. Selebihnya, tentu saya kembalikan ke posisi akademis dan pilihan ideologis masing-masing. 



* Coretan Nalar Pinggiran
* Pejalan Sunyi
* RST