Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Sabtu, 11 September 2021

SECUIL PERJALANAN TASAWUF DI INDONESIA DAN TAFSIR SYECH ABDUL QODIR JAELANI



Coretan ini mencoba mengantar kita mengenal seorang sosok yang dikenal oleh dunia islam sebagai 'Sulthonum auliyah' (Rajanya para Wali).

Sebagimana dalam Hirarki kewaliaan, ada tingkatan-tingkan kewalian ; ada yang disebut Wali Ghouf, ada wali kutub, ada wali afdhal, dst.

Syech Abdul Qodir Jaelani adalah seorang wali yang dianggap sebagai Wali tertinggi (ghouf). Hal itu merupakan padangan dunia Kosmologi.

Menurut doktrin Tasawuf, dunia ini bisa seimbang dan tidak kacau. Jika dunia punya titik keseimbangan. Sebagaimana Gunung dianggap sebagai patok bumi (titik keseimbangan), sehingga daratan tidak berguncang (goyang).

Dunia batin atau spiritual juga punya titik keseimbangan (Gunung), yang dalam hirarki kewalian dikenal dengan "wali awtat" (wali yang dianggap sebagai Paku pasaknya atau titik keseimbangan dunia batin), sehingga dunia spiritual tidak mengalami guncangan.

Didalam Dunia Spiritual, jika ada salah satu wali yang kategorinya adalah Wali awtat meninggal. maka, harus ada gantinya. Jika tidak, maka dunia akan mengalami kekacauaan.

Itulah sebabnya didalam salah satu kisah hidup (Manaqib) Syech Abdul Qodir Jaelani. Sekalipun manaqib Syech Abdul Kadir jaelani Ini banyak yang menulisnya. Tetapi, yang paling populer menuliskan Kisah Hidup Syech Abdul Qodir Jaelani adalah Ja'far Al-Barzanji.

Ia menulis sebuah Sejarah hidup yang penuh dengan pujian. karyanya tersebut, tidak hanya dianggap sebagai karya populer. tetapi, karya yang sangat sakral, bahkan dibeberapa tradisi hajatan dinusantara, karya ini dibacakan. Membaca manaqib ini dianggap sama dengan membaca kalimat suci.

Didalam manaqib tersebut. diceritakan, bahwa suatu hari Syech Abdul Kadir Jaelani meninggalkan rumahnya secara diam-diam. Tetapi, salah satu muridnya mengendus dan mengikutinya. Syech Abdul Qodir Jaelani rupanya berjalan ke sebuah rumah, yang penghuninya baru saja meninggal. Begitu di cek, Ternyata, seorang yang baru saja meninggal itu adalah seorang Wali, yang kategorinya adalah Wali Awtat.

Dirumah Seorang wali awtat yang baru saja meninggal itu, terdapat juga seorang yahudi yang datang melayat. maka, saat itu juga Syech Abdul Qodir Jaelani mengangkat Seorang Yahudi, untuk mengganti Wali Awtat yang baru saja meninggal.

Tentu saja pegandaiannya ialah ketika Syech Abdul Qodir Jaelani mengangkat Yahudi tersebut sebagai seorang wali pengganti, maka saat itu juga dia telah menjadi seorang muslim.

Tetapi, Pointnya adalah bahwa didalam kosmologi ummat islam yang hidup dengan doktrin kewalian. ada sebuah pandangan, bahwa dunia spiritual harus dijaga oleh tokoh-tokoh atau orang-orang Yang dianggap sebagai sebuah pilar atau dikenal dengan Terma soko guru, yang apabila hilang atau wafat dan tidak memiliki penganti. maka, dunia Spiritual akan mengalami guncangan.

Hal ini bisa saja tidak dipercayai. tetapi, inilah khazanah dalam cara pandangan ummat muslim tentang doktrin walayah (kewalian), Dan doktrin ini sangat penting pengaruhnya didalam dunia Islam

Sebelum kita masuk ke dalam Tafsir sufisme, kita coba antar lebih dekat pada Sosok Syech Abdul Qodir Jaelani.

Syech Abdul Qodir Jaelani adalah seorang yang berasal dari Persia, yang dilahirkan dikota Ghilan. Wafat pada tahun 1166, ia meninggal sekitar 50 tahun lebih sedikit setelah Imam Al-Ghazali. Sebenarnya beliau se-Generasi dengan Al-Ghazali, hanya saja ia lebih muda dan tidak ada nukilan teks yang menyebutkan bahwa mereka berdua pernah bersua.

Jika Imam Al-Ghazali meninggal diusia 53 tahun. Syech Abdul Qadir Jaelani meninggal diusia 93 tahun.

Syech Abdul Qodir Jaelani merupakan sosok yang pengaruhnya sangat luar biasa didunia Tasawuf, khususnya di indonesia. Ajaran Tarekatnya yang dikenal di indoensia adalah tarekat Qodariyah Naqsabandiyah.

Tarekat ini merupakan tarekat yang menggabungkan dua ajaran, yakni ajaran Tarekat Syech Abdul Qodir Jaelani dan Syech Bahahuddin Naqsabandi, yang juga berasal dari daerah yang tidak terlalu jauh dari Iran, yaitu Bukhara - sekarang Tajikisistan.

Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah ini luar biasa pengaruhnya di indonesia. pertama kali diperkenalkan oleh Kiyai Ahmad Khotib Sambas dari Kalimantan.

Selain Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah, ada juga Tarekat Satariyah yang dipopulerkan oleh Kiai Abdul Rouf Singkil, yang kemudian dibawah oleh Syech Yusuf Al-Makassary ke banten. Lalu, ke cirebon. Makanya, kenapa Tarekat satariyah lebih populer di jawa tengah, terutama di keraton cirebon. Karena Syech Yusuf Al-Makassary, cukup lama tinggal di Kesultanan banten dan mengembangkan Tarekat Satariyah dan Khalawatiyah. Sekalipun Syech Yusuf Al-Makassary di Baiat juga dengan Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah.

Hal itu wajar saja, bagi seorang mursyid Tarekat yang mengikuti beberapa aliran Tarekat dan mengkomparasikan tarekat-tarekat yang mereka ikuti.

Tarekat yang pertama kali muncul di Nusantara?. 

Dulu, Islam ketika datang pertama kali di indonesia, ia berhadap dengan agama Hindu. Nah, agama Hindu itu Tidak mudah untuk di Taklukkan, karena yang boleh bicara agama, tidak sembarang orang. Hanya kasta tertentu saja yang boleh membicarakan agama, yaitu Kasta Brahmana. Saudagar sekaya apapun tidak di perbolehkan bicara agama. Sebab, saudagar termasuk ke dalam Kasta Sudra. Makanya, Jika ada catatan sejarah Penyebaran Islam di indonesia, di sebarkan oleh saudagar, secara Metedologi pengetahuan, agak bermasalah. Makanya, di indonesia para penyebar agama Islam di kenal dengan Isitlah Wali - Auliya. Karena, yang punya konsep setara dengan konsep brahmana adalah Wali.

Tarekat, yang berhadapan dengan para Brahmana di awal-awal Islam di sebar, bernama Tarekat Maulamatiyah - Malmatiyah, Nisbatnya kepada Syech Ahmad bin Hamdun Bin Amaroh di timur tengah. Salah satu ajarannya adalah menghilangkan wujud kebaikan di hadapan manusia. Misalnya, Sholat. Mereka tidak akan sholat, jika sedang banyak orang. Mereka sholatnya sendiri - Sembunyi. Kalau orang sudah tidak ada. Sebab, kalau ketahuan sedang melakukan kebaikan, mereka takut, jangan sampai akan mengotori batinnya. Karena ada perasaan ingin puji. Kalau mereka ketahuan sedang melakukan kebaikan. Besoknya, mereka akan bawa botol minuman sambil mabuk. Luar biasanya ajaran ini, karena Mereka menyakini hanya Allah yang ada, selain Allah tidak ada. Sehingga mereka begitu dekat Dengan Allah.

Tarekat ini sampai melahirkan satu disiplin keilmuan, yang bernama Mahlul Hayat - Air kehidupan. Contohnya banyak sekali, satu orang tetapi bisa di banyak tempat atau Sudah wafat di suatu tempat, tetapi ternyata Hidup lagi di tempat yang lain. Hanya saja, Tarekat ini susah sekali sehingga tidak ada Mursyidnya. Makanya Tarekat ini telah punah. Barangkali karena secara Laku, Tarekat ini susah sekali. Ihwal itulah, Imam Al Ghazali di dalam Ihya melarang Tarekat Malmatiyah.

Ada Juga Terekat Akmaliyah, yang di Nisbatkan kepada Ibnu Arobi. Tarekat ini lebih kepada Cash and Carry saja. Misalnya, saat mereka membaca syahadat, mereka sampai merasakan Syahadat itu hadir di dalam dirinya. Sehingga cara mereka membuktikan Tuhan kadang kala ekstrem, seperti lompat dari atas Pohon dengan kepala di bawah. Tidak mati. Ada juga contoh lain, seperti Hutan Kebakaran dan Allah menurunkan Ayat, La haula wa la Quwata illah billah - Idza arodha Syai'an ayya kulalahu kun fayakun. Lebih kuat mana Api yang membakar atau ayat Allah. Misalnya, ada perempuan cantik, di sampaikkan I love U tidak mau. Di bacakan Ayat, "Innahu Min sulaimana wa nuha Bismillahirrohmanirrohim". Di uji ayat ini, apakah ayat ini lebih kuat dari pada kecantikan perempuan tersebut. 


**

Jika kita pernah dengar penuturan atau membaca disertasi "Sartono kartodirjo" tentang pemberontakan di banten (Cilegon) tahun 1888, dimana Aktor pemberontakan tersebut digerakkan oleh Guru-guru Tarekat. Bahkan, Menurut penelitian 'Martin Van Bruneisen', bahwa pemberontakan yang terjadi di cilegon tersebut digerakkan oleh guru-guru tarekat Qodariyah Naqsabandiyah. Termasuk juga pemberontakan PKI tahun 1926 di banten dan sumatera barat, yang sebahagian besar aktornya digerakkan oleh Tokoh-tokoh Tarekat Qodariyah naqsabandiyah.

Fakta empirik tersebut membantah persepsi tentang Tarekat yang menimbulkan sikap pasifisme dan membuat orang menjauhi dunia, itu salah besar.

Selain itu juga, jika kita bisa baca Tarekat sanusiyah di libya - Afrika utara, pengaruhnya juga besar dalam menggerakkan perubahan. Di khurazan misalnya, gerakan sufi telah menimbulkan pemberontakan, yang menumbangkan dinasti Umayyah. Gerakan Imam Mahdi di Sudan, yang memporak-porandakan pasukan Gordon. Di Uni Soviet, Islam bangkit Lewat gerakan sufi, yang sukar dibendung dan dideteksi oleh KGB

Sebab itulah, Syaikh Al Azhar Abdul Halim Mahmud, memberikan bukti bahwa Beberapa orang dalam Tarekat Kesufian adalah mereka yang aktif dalam dunia-ukhrawi. Sebab, secara politik, sejarah mencatat bahwa Gerakan sufistik juga menjadi pelakon perubahan sosial-politik.

Sebenarnya, yang menarik untuk diikut, ketika kita membaca penelitian "Martin Van Bruneisen", bahwa indonesia sebelum memasuki abad ke 20. Hampir semua gerakan Protes terhadap belanda, dipelopori oleh organisasi-organisasi Tarekat. Karena waktu itu belum tersedia organisasi modern lainnya.

Ihwal itulah, Sehingga aktor protes terhadap kolonial pra abad ke 20, sebahagian besar Digerakkan oleh guru-guru tarekat. Kenapa?. Karena, Komunitas Tarekat menyediakan sebuah Network (Jaringan) yang memungkinkan orang untuk di organisir dan di mobilisasi.

ketika indonesia memasuki abad ke 20, anak-anak muda indonesia, lulusan pendidikan Belanda-lah yang memperkenalkan organisasi sosial modern, seperti Boedi oetomo, SI, Dsb. Sehingga, Guru-Guru tarekat mulai kehilangan perannya.

Aktor Perlawanan pada belanda di abad ke 20, adalah anak-anak muda. Tetapi, pra abad 20, hampir sebahagian besar aktornya adalah guru-guru tarekat Dan tarekat yang paling berperan adalah Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah, yang berasal dari ajaran Syech Abdul Qadir Jaelani dan Syech Bahahuddin Naqsabandiyah.

Pasca kemerdekaan, terjadi arus balik pada ajaran-ajaran Tarekat. Orang mulai kembali menengok pada tarekat. salah satunya pada masa orde baru, sekitar tahun 1970-an. Ada satu peristiwa yang mengungkit, sehingga tetiba ada 3 tokoh tarekat penting, yang karirnya hampir se-zaman yaitu "Kiyai Muslih Ranggeng" di Jawa tengah, "Kiyai musta'im Romli" (jombang) jawa timur dan "Abah Anom" di jawa barat.

Masing-masing ketiga Tokoh tersebut punya basis. Kiyai Muslih Ranggeng basisnya murni pesantren dan juga kader PPP, Sedangkan Kiyai Musta'im Romli sekalipun dia adalah Guru tarekat. Namun, ia memiliki Insting politik yang tinggi. Sementara Abah Anom, ini menarik. karena kedekatannya dengan Jendral-Jendral dimasa Orde Baru. sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Pesantren Surya layah adalah pesantren yang digunakan sebagai lokasi rehabilitasi pengidap Narkoba, yang sebahagian besar pengidapnya adalah anak-anak jendral. Karena, mereka beranggapan bahwa metode penyembuhan Abah Anom Lumayan sukses.

Salah satu Jendral penting diera Orde baru yang mengirimkan anaknya ke Pesantren Surya layah adalah 'Yoga Sugabu'. Bahkan Anak Jendral tersebut menjadi anak manantu Abah Anom.

Pengaruh kedekatan Abah Anom terhadap petinggi atau Birokrat orde baru, membuat Tarekat, terutama Tarekat Qodariyah Naqsabandiyah menjadi populer dikalangan kelas menengah saat itu. Sebelum adanya ICMI dan lain sebagainya. kelompok tarekat sudah mulai masuk dikalangan birokrat Orde baru. Mengapa?. Karena, Komunitas tarekat dianggap tidak terlalu mengancam. Sebab, persepsi umum yang berkembang saat itu tentang Doktrin tarekat, tidak beraroma politik.

Dalam Tradisi Tasawuf Nusantara, hampir sebagian besar, sangat mempopulerkan Syech Abdul Qodir Jaelani, bahkan setiap membaca Al Fatihah, kerap dikirimkan pada sosok ini.

Tetapi, ada satu dimensi pada sosok Syeh Abdul Qodir Jaelani yang jarang diketahui oleh banyak orang, yaitu pemikirannya dibidang tasawuf. Karena orang tahu dan mengenal tentang Syech Abdul Qodir Jaelani, hanya melalui manaqibnya yang kerap dibaca dalam beberapa ritual di Nusantara 

Padahal ajaran beliau, tentang tafsir juga tak kalah penting. Sekalipun dalam retan waktu yang cukup lama, pemikirannya dalam bidang Tafsir baru bisa di kaji dan diterbitkan, kira-kira sekitar tahun 2005 manuskrip Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani baru diterbitkan. Sehingga bisa dimaklumi, jika banyak yang tidak tahu tentang tafsir tersebut.

Saya menjadi tertarik pada Tafsir ini, karena di bulan Puasa 2 tahun lalu, ada tiga Kiyai Muda di Indonesia, yang membaca secara serentak Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani : pertama, Kiyai Kuswaidi Syafi'i Di Jogya, Ustad Agung Irawan dan Kiyai Ali Abdullah, di Jakarta.

Saya sangat senang, karena ada tiga Kiyai yang membacakan Tafsir ini, sebab dengan begitu Publik bisa mengenal Syech Abdul Qadir Jaelani tidak hanya sekedar Manaqibnya. Karena, jika kita baca manaqibnya, hanya berisi tentang keramat-keramat dan Keajaiban Syech Abdul Qodir Jaelani saja. Sedangkan Idenya sendiri sangat luar biasa, luput dibahas.


***

Syech Abdul Qodir Jaelani ini Menarik, karena Mazhab Fiqihnya beliau adalah Hambali. Sementara, yang kita ketahui, bahwa Orang yang berMazhab Hambali, terkesan Tekstual, Literar dan agak Kaku. Tetapi, Syech Abdul Qodir Jaeilani, Tidak menampakkan hal itu.

Barangkali ini salah satu pengaruh Gurunya Yang Juga Bermahzab Hambali. sekalipun beliau berguru pada banyak Guru, salah satunya yaitu Ibnu Aqil (Bukan Ibnu Aqil Yang mengarang Syarah Kepada Alfiah. Tetapi, Ibnu Aqil Yang Menulis, salah satu Ushul Fiqih penting dalam Mahzab Hambali, yang Berjudul Al Wadi'). Ibnu Aqil ini dianggap sebagai Touring Figur, orang yang sangat Rasional. tetapi, Mazhabnya Hambali. Itulah salah satu Guru dari Syech Abdul Qodir Jaelani.

Didalam Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani, Justru Kita temukan Tafsirnya masuk dalam kategori Tafsir Sufi, karena banyak tafsiranya yang mengandung tafsiran alegoris. Kalau tidak salah, Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani, ada 4 Jilid. Tetapi, pada kesempatan ini, kita ambil 2 Ayat saja sebagai Contoh untuk menunjukkan Metode Tafsir Syech Abdul Qodir Jaelani, itu pun tidak secara keseluruhan. Karena keterbatasn pengetahuan saya juga terhadap Khasanah keilmuan Syech Abdul Qodir Jaelani yang begitu luar biasa.

Pertama, Q. S. al-Baqorah : 30, Tentang Manusia Yang dijadikan kholifah : "Waa Idz Qola Robbuka Lil mala ikati inni Jailun Fil ardhi Kholifah qolu a taj alu fi ha man yufsiduhu fi ha waa yas fiquddima awa nahnu nusabbihu bihamdika waa nu qoddisulak qola inni a'lamu ma laa ta' lamun".

kedua, Q. S. An-Nur, tentang Allah adalah Cahaya langit dan Bumi. Ini ayat yang menjadi uji sampel. karena, banyak Ulama yang menggunakan metode Mistikal dalam Menafsirkan Qur'an. Banyak Ulama yang berlomba-lomba menuliskan kitab berkaitan dengan ayat Ini. Salah satunya adalah Ibnu Sina, Al-Ghazali (Mistqatul Anwar), Al-Farabi, Ar-Razi. Pokoknya Ulama-Ulama Dulu, berlomba menuliskan kitab berkaitan dengan Ayat dalam Q. S. An-nur, karena ayat ini dianggap sangat mistik.

Syech Abdul Qodir Jaelani Menafsirkan ayat yang berbunyi : "Ketika Tuhanmu berkata Pada 'Malaikat'. Bahwa saya akan menciptakan Khalifah diatas Bumi".

Malaikat yang diMaksudkan disitu adalah " Alladzinahum Madzohiruhum lutfihi waa ma ja li jamalihi" (malaikat-malaikat tersebut adalah Sosok atau wujud yang menjadi manifestasi sifat Kasih Sayang Allah). Kerap disebut dengan Teofani atau Cermin Kongkrit dari sifat keindahan Tuhan.

Lanjutannya, " Laa yadz haru alaihim adzarun min adzaril jalali wal qohar" (di dalam wujud malaikat tersebut, tidak nampak sifat Tuhan yang bersifat perkasa atau Kuasa atau kedahsyatan, dan menudukkan).

Jadi, konteks Malaikat pada Ayat tersebut, yang ditugaskan sebagai Lawan Dialog denga Tuhan atau Didalam Percakapan Perenial merupakan kategori Malaikat Rahkmat.

Sedangkan "Ardhi (Bumi)" pada Konteks ayat tersebut ditafsirkan Oleh Syech Abdul Qodir Jaelani adalah "Al alamu as suflihi" (Dunia bawah). Menariknya, karena Syech Abdul Qodir Jaelani menggunakan Terminologi 'Suflihi', sebagaimana yang kita ketahui, bahwa 'Suflihi merupakan Terminologi Filsafat.

Dalam Terma Filsafat, alam Di bagi menjadi dua : ada alam malakut (Alam Para malaikat) dan Alam Fisik (Alam materil). Yang menarik bagi saya dari tafsiran Syech Abdul Qodir Jaelani adalah terminologinya, karena terma ini banyak diKemukan oleh para Filsof yang dipengaruhi oleh pikiran neo platonisme.

Sementara yang disebut 'Khalifah' oleh Syech Abdul Qodir Jaelani adalah "Mir atan Maj lu wa atan an Shodail in kani waa roy ni ta alluqi" ( Cermin yang Bersih atau Cermin yang dibersihkan dari karat-karat Kontingensi atau Kemungkinan tercemar dari Kotoran relasi).

Mengapa disebut Kontingensi atau kemungkinan?. Hal Ini juga merupakan Terminologi dalam Teologi. Karena Wujud selain Tuhan, disebut Kontingensi atau 'Al mumkim al wujud'. Kenapa disebut 'Mumkim', karena dia Mungkin ada dan mungkin tidak ada.

Jika sesuatu dari tidak ada Menjadi ada. Berarti sesuatu tersebut butuh agen yang mengubah status atau Kondisi dari ketiadaan menjadi ada. 'Khalifah' pada konteks ayat tersebut adalah cermin yang dibersihkan dari karat kemungkinan, maksudnya dari Kondisi tidak ada menjadi ada Dan dibersihkan dari kotoran Relasi.

Hal Ini agak rumit, dijelaskan. tapi, coba kita sederhankan.

Didalam teori kalam Asy-Ariyah, ada yang disebut 'Ta alluq Suluqi' dan 'Ta alluq tandzidzi' : keterangannya begini, Sebelum ciptaan ada, maka pencipta yang mengadakan Ciptaan sudah merencanakan untuk membuat Ciptaan.

Sebelum manusia (adam) ada, sudah ada relasi antara Agen Atau Tuhan dan Ciptaannya. Ketika ciptaan belum ada, tetapi sudah ada relasi, Hal itu disebut dengan 'Ta alluq suluki' (relasinya yang sifatnya mungkin ada, karena objeknya belum ada). Tetapi, begitu, Ciptaannya sudah ada, ciptaannya sudah ril, sudah aktual. maka Relasi tersebut bernama 'ta alluq Tandzidzi'.

Maksudnya apa, bahwa saat dia telah menjadi Khalifah, dia telah di bersihkan dari kemungkinan 'Ta alluq Suluqi, karena dia telah menjadi rill dan aktual.

Saya membayangkan, tafsir Syech Abdul Qodir jaelani ini mengkomparasikan terma-terma Filsafat, Teologi, kalam dan juga Mistik. Kenapa mistik, karena Khalifah digambarkan seperti Cermin (Mir atun Maj lua). Jadi, manusia digambarkan sebagai cermin yang berasal dari dunia atas. 

Jika kita baca filsafatnya Plotinus, yang digambarkan sebagai Neo Platonisme, didalam karyanya yang terkenal, ia menyebutkan bahwa Dunia ini Ibarat Cermin. Jadi, relasi antara akal aktif dan jiwa manusia didunia ini, seperti hubungan antara cermin dan sumber sinar (cahaya). Jadi, ketika Sumber cahaya, sumber pengetahuan dari 'al aqlul fa'al - akal' aktif (malaikat Jibril) malaikat Jibril disini sebagai sumber pengetahuan, seperti sinar, yang di proyeksikan ke cermin (jiwa manusia di bumi). Jika jiwa kita bersih, maka kita bisa menangkap sinyal itu dengan mudah. 

Lalu, "waa allama adamal asma (Tuhan mengajarkan adam mengenali nama-nama). 

Selama ini, jika kita membaca tafsir yang terbentang dihadapan kita, bahkan saya seringkali menyampaikkan bahwa saat Tuhan mengajarkan nama-nama, itu adam diajarkan nama-nama benda didunia ini. begitu tafsiran yang selama ini kita baca dan dengar.

Syech Abdul Qodir Jaelani menafsirkannya, "asma" adalah "Al asma alladzi au da'a aha fi dzati wa au fi jada bi ha fi alam (nama yang tersimpan di dalam dzatnya Allah, yang tersimpan di alam) ". 

Nama pada konteks ayat tersebut, ternyata bukan nama di dunia ini. Tetapi, nama pada diri Tuhan. Maksudnya adalah Asmaul Husna, yang menjadi sumber semua wujud fisik di dunia. Jadi, yang diajarkan kepada Adam, bukan nama benda-benda. Tetapi, nama-nama Tuhan, yang merupakan sebab dari wujudnya semua Objek-objek atau wujud fisik, yang ada dialam raya ini. Dan dengan nama-nama itu, Allah menciptakan alam. 

Allahu Akbar...!.

Sekarang Coba kita masuk pada ayat kedua, yaitu Q.S. An-nur : " Allahu Nurus samawati wal ard mastaluh nurihi ka misykatin fi ha Misbah, Al misbahu fi ha dzuja ja".

Jika kita membaca tafsir pada Umumnya, makasud ayat ini "Allahu Nurus samawati wal ard", bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Al-Ghazali menafsirkan, dalam kitab Mistqotul Anwar, tentang maksud ayat tersebut adalah Allah Mencahayai Langi dan bumi.

Nah, Abdul Qodir Jaelani menafsirkan ayat diatas, bahwa Diksi 'Allah' pada Konteks ayat yang di maksudkan adalah "Mudz hiru Huma" (Allah adalah cahaya yang membuat langit dan bumi, menjadi nampak dari sesuatu yang tiada menjadi wujud yang bisa di lihat oleh mata). Sedangkan maksud 'Nur' adalah bukan Allah itu adalah cahaya. Tetapi, Allah adalah dzat yang mewujudkan langit dan bumi.

Mengapa disebut dengan 'Mudz hiru huma'. Untuk menjawabnya, kita coba kembali kepada filsafat neo platonisme. Di dalam Terma Filsafat Neo platonisme, ada sebuah penjelasan, yang menjelaskan mengapa benda tersebut bisa terlihat?. Apakah benda tersebut terlihat karena mata kita melihat benda itu ataukah karena cahaya yang membuat benda yang awalnya tidak nampak, menjadi nampak?. 

Dalam teori Neo platonisme, cahayalah yang memungkinkan sesuatu atau benda itu semula tidak terlihat (Gelap) menjadi terlihat (cahaya).  Diksi 'Allah' dalam konteks ayat tersebut, seperti cahaya, yang membuat Langit dan bumi yang dulunya tidak terlihat menjadi terlihat ataukah didalam terminologi Filsafat disebut sebagai wujud yang potensial menjadi wujud yang aktual.

Lanjut, Abdul Qodir Jaelani menafsirkan "Mastalu Nuri hi", adalah sebuah kiasan atau metafora ataukah perumpamaan cahaya Tuhan. 

Beliau menafsirkannya "Mastalu Nuri hi' sebagai  "dzuhuru Anwari hi wujutihi min hayaqi Lil hu wiYati wa syubaqi u Fusi wat taayyunaqi" ; perumpaannya disini, bahwa Tuhan itu punya Ke-Dia-an. Ke-Dia-an Allah itu seperti sebuah bangunan yang misterius. Maksudnya, Ke-Dia-an Allah itu Misteri. Jadi, Ke-Dia-an Tuhan yang semula Misterius, menjadi tampak, melalui terciptanya dunia ini. 

Lalu "Ka Misykatin fi ha Misbah, Al misbahu fi ha dzuja ja, adz zuja ja ka Anna ha kau Kabun dzurriyuh", ; perumpamaan cahaya Tuhan itu seperti ceruk, yang di dalam ceruk tersebut terdapat Misbah (lampu). 

Lampu (Misbah) Didalam Tafsiran Abdul Qodir Jaelani adalah "Mistalu Nurul Al wujud ilahi" : Wujud cahaya Tuhan. Yang membuat semua wujud didunia ini ada. Sebab, dialah sumber wujud.

Lampu (Misbah) itu ada dalam satu kaca yang bening, yang bersih dari segala wujud-wujud yang sifatnya non ilahi. 

Pada Intinya, yang membuat saya menarik tentang Syech Abdul Qodir Jaelani, dalam Tafsirnya ini adalah barangkali beliau tidak menganut doktrin tentang 'wahdatul wujud'. Tetapi, dia menganut sebuah doktrin yang terkenal juga dalam dunia sufi, bahwa alam raya ini sebenarnya relasi dengan Tuhan itu seperti cahaya, dengan objek yang di cahayainya. Sehingga, Tuhan adalah Cahaya yang menjadikan alam raya ini menjadi tampak. 

Jika kita menelisik kembali kedalam salah satu teori dalam Ilmu Tarekat, bahwa Cahaya Tuhan itu di wujudkan atau di visualisasikan, dengan apa yang disebut dengan 'Nur Muhammad'. 

Nur Muhammad itu di pandang sebagai sumber cahaya, melaluinya-lah kemudian Tuhan mengalirkan cahayanya kedunia ini Atau Wujud pertama setelah Tuhan adalah Nur Muhammad. Hal ini persis sama dengan Terma Akal pertama dalam teori emanasi Al-Farabi.

Satu hal yang bisa di Tarek sebagai benang merah adalah Allah itu memiliki sifat yang Jalal (Perkasa) dan Jamal (lembut). Nah, Tasawuf itu merupakan dimensi asma Tuhan Yang mengurai keLembutan Tuhan. 

Dalam Islam ada keseimbangan, Diksi Allah dari segi Bahasa dari kata 'Hua' yaitu Dia (Maskulin). Tetapi, sifatnya yang paling banyak disebut adalah Rahman dan Rahim (feminim). 

Dimana Posisi Tasawuf dan Filsafat?. Ketika pengalaman batin, di ungkapkan, maka sesungguhnya dia telah masuk ke ranah filsafat. Sebab, jika tidak dijelaskan maka pengalaman tersebut tidak akan bisa dibagi kepada orang. Tetapi, ketika pengalaman dibagi atau dijelaskan oleh kata-kata. Tentu, kata-kata akan mereduksi pengalaman spiritual. Disitulah letak problem dunia Tasawuf, sehingga orang sufi, kadang disalah pahami. Karena selalu ada jarak antara pengalaman otentik dengan penjelasan (Narasi).


***

Ada diktum terkenal, saya lupa apakah itu adalah hadist atau i'tibasul Ulama yang menyebutkan bahwa " man ta'allama bi Ghoiri sya'in fa syaihu hu syaiton - barang siapa yang belajar (Belajar di maksud adalah belajar Spiritual - Tasawuf), tanpa Guru. Maka, gurunya adalah setan". 

Jangankan kita, Nabi Ibrahim saja saat belajar demikian. Setannya datang dan Mengaku Tuhan di hadapannya, seraya berkata, " akhlaltu laka muharromat - pada hari ini semua yang haram menjadi Halal untukmu". 

Akhirnya, Nabi Ibrahim sadar. Ia lalu mencari Batu dan melemparinya. Makanya, saat ibadah Haji, salah satu rukunnya adalah melempar setan (Lempar Jumroh), hal itu merupakan Bahagian dari Napak tilas kisah Ibrahim. Sekalipun saat kita melempar, saya yakin setannya tidak kena. 

Di titik itulah, betapa proses pencaharian terhadap kebenaran, kadang di tengah perjalanannya kita tersesat. Di situlah pentingnya seorang Mursyid (Guru) bagi pejalan. 

Tetapi, harus kita sadari juga, bahwa Pada Hakikatnya Guru itu tidak usah di cari. Sebab, kadang kita mencari Guru, justru yang kita dapat adalah Batu cincin merah delima, Badik, parang, Tombak, Jimat, ujungnya adalah menggandakan Uang (Sanro). 

Syech Abdul Qodir Jailani, Misalnya adalah seorang Mursid Tasawuf, Waliyullah. Justru dialah yang mencari murid, bukan sebaliknya. Makanya dalam sejarah, beliau menjadikan seorang beragama Yahudi, menjadi Muridnya. ia bina sampai menjadi seorang wali afdhal. 

Kalau pun kita tetap mencari Guru Spiritual, tidak apa-apa juga, Justru bagus. Tetapi, standar yang paling pertama dan utama, terletak pada Syariatnya ; Sholatnya Bagaimana, sedekahnya, Puasanya seperti apa, Baca Qur'annya bagaimana, wawasan keilmuannya seperti apa?. Jangan sampai, seseorang yang kita daulat sebagai Guru. Tetapi, baca Al-fatihah saja jatuh bangun. 

Artinya, belantara Spiritual meniscayakan kita melewati pintu gerbang yang bernama Syariat. Memang dalam Spiritual, ada yang Kadang-kadang, sebagaimana para Wali-wali afdhal - seperti "Tun Al Marsi", hari ini jadi pelacur, besok jadi wali. Ada juga yang hari ini Jadi pemabok, besok jadi wali. Tetapi, semua itu jarang terjadi. 

Syariat itu seperti orang Naik Kapal. Tarekat itu seperti orang naik kapal dan mendayungnya ke tengah laut. Hakikat itu seperti kita loncat dari kapal dan menyelam kedalam lautan mencari mutiara. Ketika kita menemukan mutiaranya dan kembali keatas kapal, maka kita akan bertemu ma'rifat.

Ketika kita menemukan Mutiara, itulah makna. Ketika kita sudah menemukan makna, tidak ada kata lain. Kecuali kerinduan yang menyesakkan dada. 

Karena tidak ada yang bisa kita lakukan, terhadap perasaan kita. Apalagi kapan bisa merasa dekat dan jauh. Tapi itu semua tidak masalah. Karena yang bisa kita lakukan adalah, berdiam, memejamkan mata dan bergumam berdzikir. Maka kita akan bertemu di ruang kerinduan dengan Yang Maha Kerinduan.


***

Beberapa waktu lalu, riuh perbincangan tentang Pelantikan para Wali-Wali. Mungkin diantara kita banyak yang belum Tahu bagaimana proses pelantikan wali awtad, abdal dan quthub. Prosesnya dari sang Wali Ghouts yang disetor ke Nabi Khidhir, lalu disetor ke Rasulullah Saw di lantai tiga kemudian Rasulullah mengamanatkan ke syaikh Abdul Qadir Jailani untuk melantik dan mengesahkannya.

Kedengarannya Agak lucu dan ajaib Juga. entah saya Mau memulai dari Mana Mengulasnya, saat pertama kali mendengar Informasi tersebut.

Ustadz yang belakangan Digandrungi, karena ceramahnya sangat santun, adem dan Moderat serta Tema-tema Ceramahnya Banyak mengulas seputar cinta, Tasawuf, Ismu (Nama) Ruh dan Ma'rifat. Terkesan menjadi Bahagian dari Seorang Yang Kabarnya adalah Seorang Wali yang memiliki otoritas melantik para wali-wali.

Akibat keberpihakan BAH pada orang Yang Di anggap Gurunya inilah. Sehingga guru-guru BAH yang lain memutuskan sanadnya keilmuannya terhadap BAH, karena selain dianggap telah keluar dari kesepakatan Ulama Mu'tabar, ia juga dianggap durhaka dengan Mengatakan orang- orang yang beraliran thoriqoh syadziliyah, naqsabandy, Khodiriyah itu masih terhijab. Mursyid- mursyid yang lain sudah tidak dianggap dan BAH Hanya mengikuti Gurunya Yang mengaku Wali tersebut.

Sebenarnya Tentang penamaan Ruh, misalnya. itu bukan ilmu baru bagi saya, di literatur- literatur Tasawuf banyak di ulas soal itu, bahkan Guru saya pernah menyinggungnya. Hanya saja, materi tasawuf falsafi, menurut saya, agak susah jika di suguhkan kepada Masyarakat secara Umum. Sebab, Seluruh ajaran thoriqoh, Ada pengetahuan yang hanya boleh di konsumsi oleh penganutnya saja Dan ada pengetahuan yang boleh di konsumsi oleh publik atau yang belum menjadi penganut thoqiroh tersebut. Sebab, seaneh apapun Materi Tahoriqoh, jika di suguhkan di Kalangan Khusus, tentu tidak Kontraversi.  Misalnya ada orang berpendapat bahwa shalat lima waktu untuk dirinya tidak wajib. tapi pendapat itu tidak ia share ke publik dan betul-betul Hanya untuk diri sendiri, bahkan anak dan istrinya pun tidak wajib, jika dia punya pendapat seperti itu.

Saya Melihat di situlah problem BAH, sebab ada materi yang memang hanya bisa di suguhkan untuk kalangan khusus. Tetapi, konyolnya hal itu dipublish. Akhirnya BAH jadi Bulan-bulanan.

Syaikh Ibn Athaillah juga terkenal sebagai ghauts dimasanya. Namun Ibn Taimiyah pun juga belum mampu taslim padanya. Namun perjumpaan beliau dengan Ibn Atha' mampu mengantarkannya untuk bertarekat (Qodiriyah). Murid "shadiq" Ibn Taimiyah lah (Ibnul Qayim) yang akhirnya menjelaskan karakteristik gurunya di bidang tasawuf.

Termasuk etika murid tarekat adalah meyakini bahwa guru mursyidnya adalah Pewaris Sejati Nabi, Wali Qutub bahkan Wali Ghauts Dan Para Mursyid Hakiki tentu mengalami maqom ahadiyah yang kemudian di yakini sebagai kedudukan wali ghauts. tetapi, ini tidak lazim dan jika di tinjau sepintas pasti "MASUK KATEGORI MENYIMPANG". Oleh karena itu membutuhkan media khusus untuk hal ini. Jika ada orang yang coba-coba dengan kedudukan agung tersebut pastilah mudah terbongkar.

Semua ada instrumennya. Maka "SARAN beberapa Kiai dan Ulama" sangat tepat. Mereka memahami betapa peliknya hal tersebut tentu merasa terpanggil untuk turut mendinginkan cuaca yang sengaja di hembuskan oleh sumbu pendek. semacam serangan Ibn Atha' yang didahului ayahnya kepada calon gurunya "Ibn Abbas Al-Mursyi".

Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan Apa Yang di sampaikkan oleh Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandariyah, " tidak pantas seorang salik (penempuh jalan) mengungkapkan karunia warid yang telah ia dapatkan. Sebab, yang demikian itu akan mempengaruhi warid dalam hatinya dan menghalanginya dari ketulusan kepada Rabbnya.


***

Ada kisah tentang, Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani, sebagaimana yang saya kemukakan diatas, bahwa beliau di kenal sebagai "Sulthonum auliyah' (Rajanya para Wali).

Syech Abdul Qodir Jaelani, tak kunjung menikah padahal usinya sudah memasuki kepala empat. Ia didatangi Rosulullah dan beliau menyuruh al-Jaelani, "menikahlah"!. 

Al-Jaelani berkata ;  "Saya tidak menikah sampai Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya damai, berkata kepada saya, Menikahlah" 

Dulu, Junaid Al Baghdadi, meminta Izin pada Gurunya untuk Berkutbah Jum'at. Kata Gurunya, Jangan sesekali engkau Berkhutbah, jika belum dapat Izin dari Rosulullah.  

Lalu, Junaid Pulang dan Menunggu sampai waktu yang diizinkan tiba. Malam Jum'at, Ia bermimpi berjumpa Rasulullah dan di beri Izin untuk berkhutbah. Dengan segera ia bergegas menuju rumah Gurunya, untuk menyampaikan bahwa Rosulullah telah memberi izin untuk berkhutbah, sehingga tak ada alasan lagi buat gurunya menahannya.  

Begitu, ia sampai di rumah Gurunya. Ternyata, Gurunya telah menunggunya di beranda, seraya berkata, "Apakah semalam Rosulullah telah memberimu Izin, duhai Junaid.  Sesungguhnya, sebelum Rosulullah mendatangimu, Beliau mendatangiku dan menyampaikkan untuk mengizinkanmu berkhutbah. Maka tak ada alasan bagiku untuk menahanmu, duhai Junaid".  

Bagi para sufi, perjumpaan dengan Nabi Muhammad SAW di alam nyata merupakan pencapaian spiritual yang tinggi. 'Abdul Wahhab al-Sya'rani' mengutip gurunya, Syaikh Ali al-Khawwash, yang berkata: "Seorang hamba tidak menyelesaikan stasiun pengetahuanNya sampai dia bertemu dengan Utusan Tuhan, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, untuk waspada dan waspada". 

Dalam Hadist, satu-satunya Mahluk yang tidak akan bisa di serupakan oleh Iblis adalah Rosulullah SAW. Sehingga, siapapun yang bermimpi berjumpa dengan Rosulullah SAW, Pasti benar. Sedangkan Bermimpi Bertemu Allah, Pasti Salah. 

Apa yang dianggap lemah, seringkali sebenarnya kuat, asalkan kita melihatnya dari berbagai sisi yang berbeda. Di dalam praktik tasawuf, baik yang populer maupun yang eksklusif, dimensi cinta kepada Nabi selalu dikedepankan, menjadi langkah pertama pendekatan diri kepada Tuhan. 

Para Sufi amat lekat dengan tangisan dan kesendirian, yang digunakan untuk menggali sedalam mungkin isi otentik dari hati manusiawinya. Dalam penggalian itu, Sufi ingin melihat apakah ia telah jujur dan sepenuh hati mencintai Sang Nabi, atau hanya pura-pura saja. Sedalam-dalam aspek dari kesadaran yang ingin dimiliki oleh Sufi, adalah kesadaran bahwa betapa rindu dan cintanya kami kepada Sang Nabi. 

Tangis dan cinta seringkali menjadi lambang kelemahan, namun tidak bagi Sufi. Semakin jujur tangisan karena rindu pada Sang Nabi, semakin besar deraian ketenangan (ithmi'nân) yang mengairi hati. Tangis, rindu, dan cinta adalah sumber kekuatan Sufi. 


*Pustaka Hayat
*RST
*pejalan Sunyi
*coret-Coret
*Nalar Pinggiran

Minggu, 05 September 2021

PERJALANAN ISRO' DAN KECEPATAN CAHAYA



Diakhir bulan Rajab, kita kenal dalam sejarah islam dan sejarah Kenabian. ada sebuah peristiwa yang sangat luar biasa, yaitu Peristiwa Isro' dan Mi'raj. Pada tahun tersebut adalah tahun kesedihan Rosulullah SAW. Mengapa?. Karena, Siti Khodijah dan Paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Thalib meninggal di tahun itu. Bahkan Khodijah pernah berkata pada suaminya " jika suatu saat aku wafat, engkau butuh harta demi Syiar Islam. maka  gali kuburku dan jual tulang belulangku". 

Di riwayat lain, Khodijah pernah berguman, Jika suatu saat engkau Menyiarkan Islam. Tetapi, harus menyebrangi sungai dan tidak ada jembatan yang menghubungkanmu ke tempat itu. Maka, gali kuburku, Ambil tulang belulangku untuk engkau jadikan sebagai jembatan". 

Rosulullah SAW sangat merasa kehilangan, ketika Khodijah wafat, bahkan Ia tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Sehingga, banyaj Ukama yang menyebutkan bahwa Perjalanan Isro dan Mi'raj adalah perjalanan untuk menghibur dan menunjukkan betapa besar Kekuasaan Allah SWT. 

Pada bagian ini, saya coba Coret sependek pengetahuanku, tentang sebuah peristiwa yang sangat Luar Biasa, yaitu peristiwa Isro' atau perjalanan Malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso. 

Di kesempatan lain, saya akan uraikan peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad SAW, sekalipun menurut Guru saya, kedua perjalanan ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena hal itulah, sehingga Saya belum cukup berani menerjemahkan Pikiran saya, tentang Perjalanan Mi'raj Nabi Muhammad SAW.  

Sebab, Hal-hal yang menyangkut peristiwa keimanan atau aqidah, rujukan utama dan pertamanya mesti diambil dari dalam al-Qur'an. Setelah itu barulah kita mengambil rujukan lainnya, untuk ditafsir, dita'wil dan dikaji dengan menggunakan berbagai macam pendekatan.

Tentang perjalanan Isro' Nabi Muhammad SAW, Allah menyampaikan dalam Q.S. Al-Isro' Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

سُبْØ­ٰÙ†َ الَّذِÙŠْۤ اَسْرٰÙ‰ بِعَبْدِÙ‡ٖ Ù„َÙŠْÙ„ًا Ù…ِّÙ†َ الْÙ…َسْجِدِ الْØ­َـرَا Ù…ِ اِÙ„َÙ‰ الْÙ…َسْجِدِ الْاَ Ù‚ْصَا الَّذِÙŠْ بٰرَÙƒْÙ†َا Ø­َÙˆْÙ„َÙ‡ٗ Ù„ِÙ†ُرِÙŠَÙ‡ٗ Ù…ِÙ†ْ اٰÙŠٰتِÙ†َا ۗ اِÙ†َّÙ‡ٗ Ù‡ُÙˆَ السَّÙ…ِÙŠْعُ الْبَصِÙŠْرُ

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 1).

Ayat tentang peristiwa Isro' Nabi Muhammad SAW ini adalah ayat satu-satunya yang menceritakan peristiwa Isro' Nabi Muhammad SAW. Allah tidak menceritakan Lagi peristiwa Isro' diayat yang lain. Lantas, bagaimanakah kita bisa menjelaskan secara detail perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Palestina, jika cuman satu ayat ini saja yang mejelaskan peristiwa tersebut?.

Jika kita mentadabburi lebih dalam Ayat ini, sebenarnya ayat ini mengandung Makna yang sangat dalam. sebab, ayat ini masuk dalam kategori ayat yang Mustasyabihat, bukan Muhkamat yang Tafsirnya cukup sederhana dan penjelasanya sangat gamblang, yang biasanya terdapat pada ayat-ayat tentang hukum dan ibadah-ibadah formal.

Selain ayat Muhkamat yang terdapat dalam Al qur'an, tidak sedikit ayat Mustasyabihat yang berisi tentang cerita-cerita, hikmah-hikmah dan makna-makna yang membutuhkan pengkajian sangat mendalam dari berbagai sumber, salah satunya ialah ilmu pengetahuan yang bisa digunakan sebagai wasilah untuk menjelaskan ayat-ayat mustasyabihat tersebut.

Jika kita menyeksamai dengan tenang pada Ayat Pada Peristiwa Isro Nabi Muhammad SAW, terdapat 8 Kata Kunci yang bisa kita jadikan sandaran persepsi kita. Tentu, pertanyaanya adalah Mengapa Rosulullah SAW bisa Melakukan perjalanan (Berpindah) dari Mekkah ke palestina, yang ditempuh dengan waktu yang sangat singkat?. Bahkan sebuah riwayat menceritakan, kecepatan perjalanan Malam Rosulullah SAW itu di gambarkan ; "ketika Rosulullah SAW terbangun dari tempat tidurnya untuk melakukan perjalanan Malam dan kembali ke tempat tidurnya. tempat tidur tersebut Masih terasa Hangat.

Dalam riwayat yang lain, Rosulullah SAW sempat menyenggol tempat (Ceret) air minum sehingga tumpah, sebelum melakukan perjalanan. Begitu kembali dari melakukan perjalanan, air itu didapati masih dalam keadaan menetes.

Hal Itu menunjukkan, bagaimana perjalanan tersebut berlansung sangat cepat. Nanti kita lihat bagaimana ayat Al-Qur'an menjelaskan kedalaman makna dari sebuah peristiwa Isro' Nabi Muhammad SAW.

Hanya saja dari berbagai sumber riwayat dijelaskan, bahwa Isro' dan Mi'raj terjadi pada suatu malam, bahkan lebih cepat dari satu malam. Di riwayat lain di jelaskan bahwa Rosulullah SAW melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan yang bernama "Buraq".

"Buraq" itu digambarkan seumpama Kuda, yang ukurannya lebih besar dari seekor keledai dan lebih kecil dari seekor Kuda. Kakinya 4 empat, ada sayapnya dan kepalanya adalah kepala manusia. 

Tetapi, ketika kita menelusuri hal ini. Sesungguhnya penggabaran Buraq dalam riwayat tersebut, sebenarnya sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad SAW Lahir. Misalnya, dalam legenda-legenda India atau dalam Mitologi Yunani Kuno.

Nah, Kita coba ambil sudut pandang yang lain untuk menjelaskannya. bagaimana perjalanan seorang anak manusia yang berjalan secepat kilat. Mengapa kilat?. Karena, Buraq berasal dari kata "Barqun" yang artinya adalah Kilat. Maka secara Ilmiah, Perjalanan Rosulullah SAW dari Mekkah ke madinah, dilakukan dengan kecepatan Kilat (Barqun). 

Pertanyaannya, Apakah mungkin perjalanan seperti itu dilakukan oleh seorang Manusia?. Ternyata Ilmu pengetahuan Modern menjelaskan, bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan oleh Seorang Manusia.

Daripada kita disuguhkan cerita seperti dalam sebuah legenda, bahwa Buraq itu seperti Kuda, memiliki sayap, kepalanya manusia. Ini agak sukar diterima oleh generasi kita, karena entah bagaimana membuktikannya secara ilmiah. Maka, lebih baik kita melakukan rekonstruksi terhadap peristiwa tersebut secara saintifik.

Kita coba lihat 8 kata kunci yang di jelaskan Dalam Q.S. Al-Isro : 1 . 

Pertama, Setiap Allah menceritakan kejadiaan yang luar biasa maka Allah pasti memulai kalimat tersebut dengan kalimat "Subhanallahu". Kalimat takjub dan tasbih. Allah memulai Ayat tersebut dengan Diksi "Subhanalladzi". Apa yang terkandung pada perjalanan ini sehingga Allah memulai ayat tersebut dengan diksi "Subhanalladzi" yang artinya adalah Maha Suci Allah.

Diksi "Subhanalladzi", jika di tengok pada ayat yang lain, selalu menunjukkan pada Pujian yang memuji bahwa Allah adalah dzat yang maha suci, tidak memiliki kekurangan atau Sifat-sifat yang melemahkan eksistensi Ketuhanannya.

Diksi "Subhanallah" juga kerap di debati, ada yang mengutarakan bahwa diksi Subhanallah hanya pantas diucapkan pada hal-hal yang negatif. Sedangkan, pada hal positif atau kekaguman, pantasnya kita mengucapkan "Masya Allah" yang berarti Semua terjadi atas kehendak Allah. Terlepas dari perdebatan diksi tersebut, menurutku tergantung pada pemaknaan kalimatnya. Ketika kita kagum kepada Allah bisa juga kita mengucapkan "MasyaAllah", bisa juga kita mengucapkan "Subhanallah", bisa juga mengucapkan "Alhamdulillah", ataukah "Allahu Akbar".

ketika peristiwa isro' ini di jelaskan, maka hal ini menujukkan bahwa Peristiwa ini sangat luar biasa dahsyatnya dan menimbulkan kekaguman.

Kedua, Diksi "Asro" yang berasal dari akar kata "Syaro" ; Sin Ro Ya, yang bermakna Malam. Artinya Perjalanan yang dilakukan oleh Rosulullah SAW, dilakukan dimalam hari. Bukan dipagi hari atau siang hari. Selain itu, diksi " Asro" juga bermakna "perjalanan berpindah tempat". Hal itu di pertegas pada sambungan ayatnya bahwa Memang Rosulullah SAW berpindah tempat dari Masjidil harom ke Masjidil Aqso.

Pemaknaan ini juga sekaligus membantah pemahaman yang menururtku tidak benar, yang menganggap bahwa Rosulullah SAW melakukan perjalanan Malam tidak berpindah tempat, dan hanya Rohnya saja yang berpindah. Secara cepat kita bisa mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Karena, kata "Asro" menujukkan perpindahan tempat.

Ketiga, "memperjalankan". Artinya Rosulullah SAW tidak melakukan perjalanan dengan sendirinya. Tetapi, diperjalankan oleh Allah. Atas kehendak Allah. Saking dahsyatnya perjalanan ini, sejak zaman Rosulullah SAW Masih hidup hingga zaman dimana sains dan teknologi sekarang mulai Berkembang Pesat dengan metode eksperimental. ternyata bisa memindahkan benda-benda tertentu dalam jarak yang jauh. Dalam sains Modern, kita kenal hal itu dengan terma "teleportasi (tele = jauh. Portasi = tempat kedatangan atau keberangkatan)". Jadi, teleportasi digambarkan sebagai sebuah perjalanan jarak jauh dari suatu tempat ke tempat lainnya, yang dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Teleportasi ini diakui dalam ilmu pengetahuan modern dan inilah yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana proses perpindahan Rosulullah SAW dari Mekkah ke Palestina.

Keempat, "abdi hi (hamba Allah)". Mengapa dalam keterangan Al qur'an ini harus menggunakan diksi "Hamba"?. Hal itu menunjukkan bahwa yang bisa melakukan perjalanan tersebut adalah seorang yang memiliki derajat kehambaan yang tinggi. Siapa hamba itu?, Adalah seseorang yang taat, tunduk dan patuh pada Tuhannya.

"Abdhi Hi", menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, dalam kitab Tafsirnya menjelaskan bahwa " qouluhu bi abdhi hi bil jasadihi wa ruhuu (hamba adalah hamba yang utuh, dengan jasad dan ruh)". Dan ini merupakan pendapat yang paling muhkamat. Sebab jika Rosulullah Isro dan Mi'raj dengan Ruh atau jasad saja maka Allah tidak akan menggunakan kata "Abdhi hi". 

Pada bahagian bawah, saya akan Jabarkan problem tentang Makna Abdhi hi pada Q.S. Al Isro : 1, yang menjadi dalil bahwa Rosulullah SAW melakukan perjalanan Jazadi dan beberapa Soal lain yang kerap kita dengarkan dari Ustadz-Ustadz yang kurang kompherensif dalam menjelaskan peristiwa ini. 

Kelima, "laylan". Sebenarnya pada kata kunci sebelumnya "Asro", sudah menyebutkan perjalanan malam. Mengapa diulang lagi dengan diksi "laylan" (pada suatu malam). Diksi ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan tidak sepanjang malam. Melainkan, perjalanan sebahagian malam saja. Berdasarkan beberapa riwayat yang saya kemukakan diatas.

"laylan" adalah izim nakira yang di tandai dengan tanwin, kalau izim ma'rifat maka di tandai dengan "alif lam" (Al-layli). Kalau izim Ma'rifat artinya satu malam. Kenapa pakai izim nakira. Karena, memang peristiwa tersebut terjadi di sebahagian malam. 

Keenam, "minal masjidil harom ilal masjidil aqso". Dikata kunci keenam inilah sebenarnya kita harus membongkar dan menguraikan, Jarak antara mekkah dan Palestina Sekitar 1.500 Km. Tetapi, mampu di tempuh Oleh Rosulullah SAW tidak sampai sebahagian malam?.

Diatas telah saya kemukakan bahwa Perjalanan dengan kecepatan kilat, bisa digambarkan dengan mekanisme teleportasi. Lantas, Bagaimana bisa membuktikan bahwa Mekanisme teleportasi bisa memperjalankan Rosulullah Saw?. 

Dalam Terma Sains kontemporer, bahkan sudah banyak para sains yang membuktikannya, bahwa materi bisa berubah menjadi gelombang dan Materi bisa menjadi energi cahaya. Albert Einstein sudah menjelaskanya, dalam teori kenyataannya "E = m2. E = Energi. M = massa (Materi). Kuadrat = cahaya". Jadi, ada korelasinya, bahwa Massa/Materi bisa berubah menjadi cahaya dan menghasilkan energi yang sangat besar.

jika mengikuti persamaan Teori Albert Einstein tersebut. maka, Energi bisa diciptakan dari Massa ke Materi yang besarnya dikalikan dengan kecepatan cahaya kuadrat. Sebaliknya massa itu bisa di ciptakan atau dimunculkan kembali, dengan cara, E dibagi C2 = M, artinya massa (materi) bisa diciptakan atau di kristalkan dari sebuah energi dengan cara membagi C2. sederhananya, materi bisa diubah menjadi cahaya dan cahaya bisa diubah menjadi materi.

Hal itu menjadi diskusi panjang dalam Fisika Modern atau yang kerap kita sebut sebagai fisika Kuantum.

Makanya, jika menggunakan pendekatan mekanisme atau teori Teleportasi ini, dengan mudah kita bisa menjelaskan bahwa sangat mungkin Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Mekkah ke Palestina dengan kecepatan kilat (barqun). Dengan kata lain, badan Nabi Muhammad SAW diubah menjadi badan cahaya. Karena materi bisa diubah menjadi cahaya dan cahaya bisa diubah kembali menjadi materi.

Reaksinya disebut reaksi antisipasi, "partikel ditabrakan dengan anti partikelnya". maka, kedua partikel ini akan lenyap menjadi sinar Gama. jika Sinar gama dilewatkan dimedan inti atom dengan kekuatan tertentu, 200 Elektron Volt. Maka, sinar Gama bisa kembali menjadi Partikel dan Anti partikel. Reaksinya disebut perperductions (produksi kembar).

Memang hal ini masih membutuhkan pembuktian secara teknologi. Tetapi, sudah diwadahi oleh Ilmu sains Modern, sehingga menjadi mungkin.

Kongklusinya, Badan Materi kita bisa diubah menjadi cahaya. Itulah sebabnya perjalanan Rosulullah SAW didampingi oleh malaikat Jibril, yang notabennya adalah Cahaya, yang Melakukan perjalanan dengan materi yang sudah diubah menjadi cahaya dengan kecepatan cahaya (buraq).

Ketika badan Rosulullah SAW dikonversi menjadi badan cahaya. Yang harus kita ketengahkan adalah Kecepatan cahaya itu, "1 detik kecepatan cahaya sama dengan 300 Ribu Km. Misalnya, jarak Kota A dan kota B adalah 1000 Km. Dikota A ditembakan cahaya menuju kota B dan dikota B dipasangkan cermin agar terpantul kembali ke Kota A, sedangkan dikota A juga di pasangkan Cermin yang sama, agar cahayanya pantul memantul (bolak balik). Maka, hanya butuh 1 detik untuk 300 kali cahaya bolak balik dengan jarak 1000 km. Begitulah kecepatan cahaya.

Secara sederhana, misalnya Kita tembakan cahaya untuk mengelilingi bumi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Keliling (Diameter) Bumi itu adalah 40 ribu km. Jika kecepatan cahaya, "1 detik = 300 ribu Km". Maka, 1 detik perjalanan cahaya, sudah bisa mengelilingi Bumi sebanyak 7,5 kali. 

Nah, Jarak Mekkah ke Palestina adalah 1.500 Km, sementara kecepatan cahaya adalah 1 detik = 300 ribu km. Maka, waktu yang di butuhkan Cahaya ialah 1500 : 300 ribu = 0,005 detik. Artinya, Perjalanan Rosulullah SAW dari Mekkah ke Palestina, hanya butuh waktu 0,005 detik saja.

Fakta empirik ini persis sama dengan cerita Al-Qur'an tentang Nabi Sulaiman as yang memindahkan Singasana Ratu Balqis yang beratnya luar biasa. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh staf dan ilmuannya dan mengajukan pertanyaan, siapa yang bisa memindahkan Singasana Ratu Balqis?. Yang pertama mengacungkan tangan adalah Jin Ifrit. Kata Nabi Sulaiman, berapa lama engkau membutuhkan waktu untuk memindahkan Singasana Ratu Balqis?. Kata Jin Ifrit, sebelum baginda berdiri dari kursi baginda.

Nampaknya Nabi Sulaiman As tidak puas dengan jawaban Jin Ifrit dan masih mengajukan pertanyaan yang sama. Maka, seorang staf manusia yang mengacungkan tangan. Kata Nabi Sulaiman As, berapa lama waktu yang engkau butuhkan?. Jawab orang tersebut, sebelum baginda berkedip, Singasana Ratu Balqis sudah pindah ke hadapan baginda.

Dalam keterangan Al-Qur'an, Manusia tersebut adalah orang yang menguasai ilmu alkitab. Ia memindahkan Singasana ratu Balqis dengan kecepatan cahaya atau dalam sains modern kita sebut sebagai mekanisme teleportasi.

Ihwal itulah yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW, yang berpindah dari Mekkah ke Palestina, hanya dalam waktu Nol koma sekian detik. lebih cepat Dari kedipan mata. Di titik inilah kata kunci perjalanan Isro' itu berlansung.  Artinya, kedua Masjid, "Masjidil harom ke masjidil aqso" memiliki energi positif yang sangat besar, sehingga menyebabkan peristiwa Teleportasi. 

Tempat yang mulia menuju tempat yang mulia, Sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW,  "La tussaddu rihal illa ila salasa masjid lihadza, wa masjidl haram wa masjidil aqso (tidak ada bepergian yang lebih utama selain pergi ke 3 masjid ; masjid Nabawi, masjidil haram dan masjidil aqso)".

Lalu, dilanjutkan dengan ayat "Barokna haulahu (kami berkati sekelilingnya)". Ia, jika sekelingnya tidak diberkati, tidak dijaga oleh Allah, sekalipun perjalanan tersebut lebih cepat dari kedipan mata. Maka, akan bermasalah dengan Nabi Muhammad SAW.

Ke tujuh, "li nuriyahu min ayatihi". Tujuan perjalanan isro' adalah untuk memperlihatkan tanda-tanya kebesaran Allah.

Kedelapan, "innallahu samiun basyir (sesungguhnya Allah maha melihat dan maha mendengar). Meskipun perjalanan tersebut hanya 0,005 detik.  Tetapi, bagi Rosulullah SAW bisa melihat berbagai hal.  Kenapa hal itu bisa terjadi?. Hal Itulah yang disebut dengan relatifitas waktu.  Karena dalam ukuran kita,  0,005 detik itu sangat cepat,  tetapi bagi Rosulullah SAW yang diperjalankan dengan kecepatan cahaya adalah lama, karena Rosulullah SAW diperlihatkan berbagai hal.

***

Memang peristiwa Isro dan Mi'raj ini telah lama menggaduh di kalangan ummat islam, antara yang percaya dan tidak percaya. Baik yang percaya dan tidak percaya, juga memiliki dasar argumentasi masing-masing.

Aliran teologi Mu'tazilah misalnya, mereka percaya Isro dan Mi'raj. Tetapi, menganggap peristiwa tersebut merupakan perjalanan Rohani. Bukan Perjalanan jazadi. Lalu, ahlu sunnah wal jama'ah (Asy'ariyah), mengatakan, sesungguhnya peristiwa tersebut merupakan perjalanan jazadi, dengan menujukkan Dalil Q.S. Al isro ; 1, yaitu "Subhanalladzi Asro bi abdhi hi". Bahwa makna abdhi Hi itu merujuk pada Jazad (Fisik). Tetapi hal itu, menimbulkan pertanyaan lain, yaitu Maksud "Abdhi", pada Q.S. al Isro ;1, itu menunjukkan pada siapa?. Sebab, tidak di sebutkan dengan jelas di dalam Al-Qur'an, apakah Abdhi Hi itu adalah Nabi Muhammad SAW atau Bukan?. 

Sementara hanya Q.S. Al Isro ;1, yang di jadikan sebagai Rujukan dari peristiwa Isro. Sedangkan, pada ayat kedua dari Q.S. Al-Isro, di sebutkan, "Waa atayna Musal kitaba". Bukan Nabi Muhammad SAW yang di sebutkan. Tetapi, Nabi Musa As. Apakah Nabi Musa As, yang di perjalankan atau Nabi Muhammad SAW?. Hal Ini mesti di jelaskan secara detail. Sebab, jika tidak. Maka akan menimbulkan polemik.

Jika kita membaca Q.S. Al Isro ; 1, di situ tidak dijelaskan secara eksplisit bahwa yang di perjalankan adalah Nabi Muhammad SAW. Tetapi, ada dua kata kunci, yang bisa di jadikan dasar, bahwa yang di perjalankan saat itu adalah Nabi Muhammad SAW. Bahkan jika kita kaitakan dengan ayat berikutnya. kita akan menemukan kata kunci ketiga, bahwa ayat pertama yang bercerita tentang seorang Hamba yang di perjalankan. Sedangkan ayat kedua, Allah bercerita tentang Nabi Musa.

Ayat kedua dari Q.S. Al Isro. Bercerita tentang Nabi Musa. Tetapi, di mulai dengan kata "Dan kami berikan kepada Musa sebuah Al kitab" (Waa atayna Musal kitaba). Jadi, kalau ada dua kalimat yang di sambungkan dengan kata "Dan". Bisa bermakna memiliki dua makna, bisa memiliki hubungan lansung. Tetapi, bisa juga becerita dua hal yang berbeda sama sekali. Artinya tidak bisa di pastikan, bahwa ayat Pertama dari Q.S. Isro yang bercerita tentang seorang Hamba, yang melakukan perjalanan itu adalah Nabi Musa.

Yang menarik di ayat pertama, ada dua kata kunci yang menunjukkan bahwa bukanlah Nabi Musa yang di perjalankan. Tatapi, Nabi Muhammad SAW yang perjalankan. Kata kunci yang menunjukkan bahwa yang di perjalankan adalah Nabi Muhammad SAW adalah "Abdhi hi" (Hambanya).

Sebagaimana yang kerap saya sampaikkan, bahwa dalam memahami Qur'an, kita tidak boleh hanya mengambil satu ayat saja. Meskipun Peristiwa tentang Isro, hanya di jelaskan dalam satu ayat. Tetapi, Kata kunci yang ada di dalamnya, punya penjelasan-penjelasan di ayat yang lain. Setelah kita menelusuri, maka kita menemukan bahwa ada sejumlah ayat yang menjelaskan, siapa itu abdhi hi (Hamba) itu. Misalnya kita bisa melihat di dalam Q.S. Al kahfi ; 1. Di ayat pertama ini juga tidak secara Eksplisit di jelaskan oleh Allah, siapa itu abdhi hi dan al kitab itu menunjukkan pada apa. Akan tetapi, di jelaskan di Q.S. Al Furqon ; 1. Bahwa Al kitab itu adalah Al furqon yang di berikan kepada hambanya.

Seperti yang kita ketahui bahwa Nama lain dari Al qur'an adalah Al furqon. Yang di berikan kepada Hambanya (Abdhi Hi). Maka dari dua ayat diatas kita bisa mendapatkan gambaran, bahwa abdhi hi itu adalah Nabi Muhammad SAW, yang mana kepada beliaulah Al Qur'an di turunkan.

Jika kita mau lebih jelas lagi tentang diksi Abdhi hi itu siapa. Bisa kita lihat di dalam Q.S An Najm : 10 atau di dalam Q.S. Al Hadid ; 9.

Dengan demikian, jika sebuah ayat belum jelas atau masih samar-samar. Karena ayat tersebut masuk kedalam kategori ayat Mutasyabihat. Maka, janganlah kita menyimpulkan dari satu ayat saja. Melainkan ambillah sejumlah ayat, dengan kata kunci yang saling terhubung. Maka kita akan mendapatkan informasi yang lebih utuh.

Berdasarkan gambaran beberapa ayat diatas. Maka, Kata abdhi hi pada Q.S. Al Isro, ayat 1 bukanlah bercerita tentang Nabi Musa. Melainkan, bercerita tentang Nabi Muhammad SAW.

Kata Kunci yang kedua di Q.S. Al Isro ; 1 itu adalah "Minal Masjidil Harom ilal masjidil Aqso". Bahwa Nabi yang di perjalankan adalah Nabi yang tinggal di Mekkah. Sementara Nabi Musa tinggalnya di kota Mesir, yang kemudian berpindah ke Palestina.

Lalu, dua peristiwa, yang kerap menjadi polemik, yang sampai saat ini belum selesai terjawab secara utuh. yaitu peristiwa Isro dan Mi'raj. Peristiwa Isro terjadi pada tahun kedua ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosulullah SAW, "Ba'dal bigtsa tihi Rosulan". Sedangkan, Mi'raj merupakan peristiwa yang berbeda. Terjadinya pada tahun ke 11 atau 12, setelah Di utusnya Nabi Muhammad SAW menjadi Rosulullah. 

Hal itu tertuang di dalam Q.S. An Najm, 13-18. Jadi, perbedaannya 9 tahun. Tetapi, di gabungkan menjadi satu peristiwa, yaitu Isro dan Mi'raj.

Soal lain, misalnya. Banyak juga yang menganggap bahwa peristiwa Isro dan Mi'raj adalah sebuah mukzijat?. Coba kita dudukkan, soal mukzijat ini. Salah satu faktor yang paling substantif tentang Mukzijat adalah kejadian di luar nalar manusia, di luar kebiasaan manusia, melanggar Hukum alam dan harus ada yang menyaksikannya.

Misalnya, Nabi Isa bisa menyembuhkan orang buta dengan mengusapkan tangannya pada mata orang yang buta. Banyak saksi yang melihat pada saat Ia melakukannya. 

Nabi Yusuf juga demikian, ia bertanya kepada Bayi yang Baru lahir ; siapa yang bersalah, aku atau Zulaikha?. Bayi tersebut mengatakan, jika baju Yusuf sobek bagian depannya, maka Yusuf lah yang salah. Tetapi, jika robek bagian belakangnya. maka Zulaikha lah yang salah Dan hal itu di lakukan di depan orang banyak (di hadapan Raja).

Nabi Musa pun demikian, ketika memukul lautan di hadapan para prajurit dan Bala tentara Fir'aun. makanya, benerapa soal diatas adalah mukzijat. Bagaimana dengan Perjalanan Isro dan Mi'raj, apakah Dia masuk.kedalam kategori Mukzijat?.   

Ketika Nabi Muhammad SAW melakukan isro dan Mi'raj di katakan sebagai Mu'zijat. Apakah ada yang menyaksikannya sehingga bisa di jadikan sebagai alasan, bahwa memang peristiwa Isro dan Mi'raj adalah perjalanan mu'zijat.

Peristiwa Tersebut, tidak ada seorang pun yang menyaksikannya. Sebab, saat Rosulullah SAW pulang dari perjalanan Isro Dan Mi'raj, tidak ada yang menjemputnya?. Justru, Rosulullah, saat pulang dari Isro dan Mi'raj, Beliau menginap di rumah sepupunya, yaitu Ummu Kaltsum. Ummu kaltsum, menuturkan bahwa Memang Rosulullah SAW menginap di rumahnya dan menceritakan tentang Peristiwa Isro dan Mi'raj tersebut. Artinya, Rosulullah hanya menceritakan, orang tidak menyaksikannya. Lantas, bagaimana kita bisa mengatakan hal itu sebagai mukzijat.

Lalu, Masjidil Harom dan Masjidil aqso, pada tahun kedua setelah Hijriayah. Pertanyaanya adalah kapan ka'bah menjadi Masjidil Haram. Sebab, sebelumnya Ka'bah merupakan tempat berhala-berhala dan siapa yang punya otoritas menyebut ka'bah sebagai Masjidil harom ; apakah waktu itu sudah jadi masjid, ka'bah itu?. "Belum".

Sama dengan Masjidil aqso?. "Belum menjadi Masjidil Aqso". Masjidil Aqso itu baru menjadi Masjid setelah Palestina di Taklukkan oleh Umar Bin Khottab. Pun ada tempat ibadah di situ, disebut dengan Syinagog Nabi Sulaiman (tempat Ibadah Ummat Yahudi). Sedangkan, Ka'bah dan sekitarnya, sebelum Masa Rosulullah SAW adalah tempat menyebah berhala. Sekitar 480 berhala dan belum ada orang sholat disitu.

Justru, pada zaman Nabi Ibrahim As Ka'bah di sebut dengan, "Inni awwala baiti Wudhia linnasi llalladzi bi baktan mubaroka". Bahwa rumah Tuhan pertama di bangun di Muka bumi, yaitu di bakkah. Apakah Bakkah itu adalah mekkah?. Nah, hal itu masih membutuhkan pengkajian secara antropologi.

Soal lain, misalnya. Model sholat kita saja tidak ada yang sama, dari mulai Takbir sampai Tahyiyat saja berbeda. Ada yang bersedekap dan ada yang tidak. Ada yang baca al fatihah, dengan bismillah, Ada yang tidak. Ada yang qunut, ada yang tidak. Ada yang tahyiyat, tangan di goyang-goyang, ada yang tidak. Semuanya berbeda, bahkan dari perbedaan itu, kita saling menyalahkan, membid'ahkan dan mengkafirkan. 

Jujur saja, Nabi Muhammad SAW sholatnya itu bagaimana. Memang ada Ada Hadistnya yang menyebutkan bahwa "Shollu kama Ro aytamuni usalli (sholatlah engkau sebagaimana engkau melihatku sholat)". Pertanyannya, Bagaimana sholatnya Nabi. Sebab, kita tidak mempunyai Informasi yang Pasti, bahwa Sholatnya Nabi itu Seperti ini.

Hal ini pernah ini terkonformasi oleh Prof Dr. Quraisy Shihab, tentang model sholat yang bermacam-macam. Prof. Dr. Quraisy menuturkan, " kana Rosulullahi yatanawaw aw fihi sholati (Nabi itu sholatnya bervariasi)". Jadi, kadang-kadang Membaca Fatihah dengan membaca Bismillah. Kadang-kadang qunut, kadang-kadang bersedekap dan kadang-kadang tidak.

Selain itu, hampir semua Hadist Nabi tentang sholat. Tidak ada yang Mutawatir. Semuanya adalah hadist ahad. Jika Hadist ahad, semuanya berbeda-beda. Kalau pun Shohih. Ia shohih li Ghoirihi. Maksudnya, hadistnya berbeda tapi maknanya sama.

***

Kita kembali ke topik utama, Untuk memudahkan kita memahami penjabaran saya selanjutnya. Saya akan mengantarkan sebuah paradigma yang niscaya kita dudukkan secara Rasional, bahwa seluruh peristiwa Di muka bumi, berada dalam Galaksi Bima Sakti atau dalam terma Yunani Kuno disebut The Milky way. Hal itu berangkat dari mitos Yunani, dimana ada seorang Dewi (Ratu) yang sedang tertidur. Begitu dia terbangun, ternyata ada bayi di sampingnya yang sedang menyusu di dirinya. Dia terkaget, karena bukan bayinya. Akhirnya, dia melepaskan Bayi tersebut, sampai terjatuh ke bumi. Sedangkan susunya berhamburan di angkasa ini dan bayi yang Jatuh tersebut adalah manusia pertama. Karena itulah, Galaksi kita ini disebut dengan The Milky way.

Lalu, letak matahari di galaksi kita ini. Terletak di tengah-tengah. Matahari kita ini disebut dengan Bintang sedang, cahayanya juga tidak terlalu terang dan tidak terlalu redup, serta dia punya planet-planet yang mengelilinginya. Sedangkan Bulan, bukanlah planet. Tetapi, hanyalah satelit.

Matahari di tengah-tengah Galaksi Bima Sakti seperti setitik debu, yang sangat kecil sekali. Bumi kita ini tidak kelihatan. Okelah, kita lebih mendekat sedikit, sehingga bumi kelihatan satu titik. Pertanyaannya, Dimana Ka'bah?. "Di titik itu". Dimana masjidil aqso?. "Yah, di titik itu juga". Adakah jaraknya, jika semuanya berada di titik itu. Jadi, yang namanya jarak itu ketika dimana kita berada.

Lalu, persoalan waktu. Yang perlu kita lacak ialah sejak kapan waktu itu terlahir, waktu itu ada atau tidak ada. Bagaimana munculnya waktu. Manusia dulu, tidak tahu waktu. Yang mereka tahunya, kalau siang terang. Kalau malam gelap.

Kapan orang membuat waktu?. Dalam sejarah mesir kuno, mereka menentukan waktu yang di tancapkan ke dalam pasir. Bayang-bayang merekalah menjadi ukuran waktu ; jika bayang mereka, berada di utara. Maka, mataharinya berada di sebelah selatan. Hal itu berarti musim dingin. Begitupun sebaliknya. Sampai kepada jam yang menggunakan mekanik seperti sekarang ini.

Lantas, dari mana orang-orang menyatakan bahwa satu minggu, sama dengan 7 hari?. Orang jawa menghitung Seminggu sama dengan 5 hari. Orang china, menghitung seminggu sama dengan 12 hari. Di afrika, mereka menghitung seminggu sama dengan 4 hari. Artinya, penanggalannya saja berbeda-beda.

Ketika peradaban Masehi atau kalender Masehi. Mereka menghitung berdasarkan variabel Matahari. Sedangkan, peradaban Islam menghitung Penanggalannya berdasarkan perhitungan bulan (Qomariyah). Maka terjadi perbedaan Hitungan. Bisa saja 100 tahun qomariyah. Tetapi, pertanggalan Syamsiyah (Matahari) tidak sampai 90 Tahun.

Jadi, waktu itu sesungguhnya dimana?. Syarat pertama dari waktu ialah harus ada ruang, harus ada benda yang bergerak yang menjadi patokan. Andaikkan bumi ini tidak berputar, apakah ada esok atau kemarin?. Itulah sebabnya, kelak di surga, segala sesuatu itu menjadi abadi. Karena semua entitas menjadi stabil.

Apakah waktu kita di bumi sama dengan waktu di bulan, tentu berbeda. Bisa jadi usia kita di bulan 30 bulan. Tetapi, saat di bumi usia kita 30 tahun. Karena perbedaan waktu. Artinya keberadaan kita sangat menentukkan waktu. Misalnya, saat kita berada di luar bumi. Maka, kita tidak terikat dengan batasan waktu di bumi. Selain itu, ketika kita bisa berjalan dengan mengendarai kendaraan dengan kecapatan Cahaya, yang kecepatannya itu adalah 300 Ribu KM perdetik. Jika kita punya kendaraan dengan kecepatan 300 Ribu Km perdetik. Maka, satu detik kita bisa mengelilingi Bumi sebanyak 7,5 kali. Artinya, kecepatan cahaya sesungguhnya keluar dari dimensi waktu.

Dari pada kita berdebat dan bertengkar tentang hal itu. Bagi yang percaya, silahkan. Bagi yang tidak percaya juga silahkan ; apakah perjalanan Isro dan Mi'raj adalah Perjalanan jazadi atau perjalanan Rohani, silahkan. 

Kita ambil jalan tengah saja, bahwa ada hal yang boleh di percayai dan ada yang boleh dan tidak di percayai. Yang wajib kita percaya adalah Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isro dan Mi'raj. Lalu, outputnya ialah sholat 5 waktu.

Tetapi, apakah sholat 5 waktu itu di berikan setelah proses tawar menawar dengan Tuhan atau setelah di marah-marahi dengan Nabi Musa, agar Rosulullah SAW meminta Kortingan sampai 9 kali. Bisa kita percaya dan bisa tidak.

Sama dengan cerita yang terdapat di dalam peristiwa Isro dan Mi'raj, yaitu saat Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para Nabi dan lalu mereka sholat berjama'ah di Masjidil Aqso. Tetapi, Ketika di langit ketiga,  Nabi Muhammad SAW kembali Bertemu dengan Nabi Zakariyah As. Percakapam terjadi, Tetiba Nabi Zakariyah menanyakan kepada Nabi Muhammad SAW, apakah Engkau telah di utus menjadi Nabi?. Mengapa, bisa Nabi Zakariyah mempertanyakan hal itu. Bukankah, sebelum berjumpa di Langit ketiga, mereka telah sholat berjama'ah di Masjidil Aqso. Jadi, memang ada beberapa soal yang Saya anggap Sangat tidak valid keotentikannya. 


--BERSAMBUNG--

#RST

#Pejalan Sunyi

#Samar Cakrawala

#Coretan Pena Nalar Pinggiran


Minggu, 25 Juli 2021

DI BALIK KRISIS, ADA HARAPAN ; KEJARLAH - IKHTIAR


Jika dalam menjalani hidup, ada momen yang sangat berat, sehingga kita tak kuasa membendung tangis. Maka, Istiratlah sejenak. Kadang beban itu perlu di lepaskan sebentar, tak harus di pikul terus. 

Cahaya tak akan pernah punya nama, jika lalai datang menerangi gelap. Matahari pun, hanyalah semacan lintasan meteor, jika pada akhirnya bukan menggantikan hitamnya malam. 

Menderasnya hujan tak bermakna menghilangkan kehausan, jika tak ada kemarau yang mengeringkan tenggorokan. 

Sebuah makna akhirnya memang harus bertemu dengan kebalikannya bermakna. 

Saling menguatkan, saling membutuhkan, tidak pernah berniat saling meruntuhkan. Apalagi untuk saling menghilangkan. 

Menelusur jejak, jarak dan waktu. Hanyalah bahagian dari proses alamiah yang telah di gariskan menjadi jalan-jalan kehidupan. Apa yang kita ingini belum tentu menjadi kehendak-Nya. Di dalamnya ada proses yang mencengangkan, kita menuju ke suatu tempat namun ia membuat kita berkeliling, memutar, hingga kita memahami alur taqdir-Nya. 

Jangan mengharapkan sesuatu yang Tidak di kehendaki-Nya. Sebab, Pola pikir kita tentu berbeda dengan pekerjaan-Nya yang Maha sempurna. Sungguh, manusiawi jika KesempurnaanNya, tidak mampu di pahami dengan Pemahaman Kita Yang cacat. 

Mengeluhlah pada-NYA, ini jalan paling Logis untuk mengakui kelemahan kita sebagai manusia. 

Bebaskan jiwa dari ikatan-ikatan yang di rajut sendiri, ikatan-ikatan itu akan menyakiti jiwa. Percayakan saja semuanya pada yang menghendaki kehidupan ini. 

Tersenyum, Lalu Berilah kesempatan pada lelah untuk beristirahat. Agar setiap harapan pulang kerumahnya yang hampir pugar di bangun. Sebab, pada akhirnya, Tuhan Jugalah yang memberi Batas bahwa waktu telah cukup untuk membuatmu menunggu.

jika punya ekspektasi ; perjuangkan. Kalau ada aral melintang ; terjang. Jadilah kompas, atas segala peta jalan sesat. 

Burung-burung kecil, hingga besar dalam kandang. Di memorinya tertanam, terbang adalah hal yang paling di larang. 

Saat mereka berkata ; Kita tak bisa mewujudkan mimpi. Sesungguhnya itu batasan mereka, yang tak relevan. Bukan batasan kita, yang tahu cara keluar kandang dan terbang. 

Pandangan demikian memang riskan. anehnya itu terjadi pada sekelompok anak muda yang bertarung dengan pesimisme sepanjang usia. Seolah mereka terlahir untuk memikul dunia ini sendirian. Kalah lebih cepat, terluka begitu sering, mendendam begitu lama dan terasing begitu mudah. 

Anak muda itu niscaya menolak layu dan tidak cepat berserah pada kalah. Sebab, Yang pernah jatuh adalah dia yang pernah berjalan atau bahkan berlari ; Yang berjalan membuka tabir dan yang berlari membuka jalan takdir. Yang berjalan adalah ia yang tahu bagaimana rute takdir berkerja dan yang berlari adalah ia di gerakkan oleh akar keyakinan yang kuat. 

Tersenyum dalam kelelahan, menangis dalam kegembiraan, optimis dalam keterbatasan dan tegar di tengah badai adalah Siklus hidup yang manusiawi. Semua kita niscaya melalui fase ini. 

Saat bantuan mahkluk sudah tidak mungkin. Percayalah ; Allah akan mengurus kita Tanpa Tidur. Sebab, Allah yang akan menolong kita. Dia akan mengatur takaran beban yang kita tanggung. Jangan menyerah, dia tak mungkin membebani sesuatu yang lebih berat dari rasa sanggup kita. Jangan mundur, saat beban terasa berat, dia sedang membuat kita naik tingkat.

Pun suatu saat hidup kita hancur berantakan. Lalu, kita mengalami Disorientasi dan merasa berjalan, entah kemana. Kembalilah, ke kaidah-kaidah sebab kehancuran itu ; Kelalaian - Hawa Nafsu - Kehancuran. Sebagaimana Bunyi Qolam Kesunyiannya, pada Q.S. Al Kahfi ; 28, " dan janganlah engkau mengikuti orang-orang yang kami lalaikan Hatinya dari mengingat kami. Lalu, ia mengikuti Hawa Nafsunya, maka seluruh hidupnya berantakan". 

**

Diperjalanan singkat, hidup kita. Ada begitu banyak orang baik yang sudah jadi jalan pertolongan Allah. Ada yang menyusahkan, sengaja atau tidak. Ada juga yang melupakan pertolongan kita. 

Pada waktu senggang, saya mengingat mereka satu persatu Dan sampailah saya pada satu kesimpulan ; "tidak ada hubungan yang lebih baik, selain menguntungkan dalam kebaikan". 

Saya hendak mengabarkan, tentang sebuah kisah nyata. Seorang Pendaki dan Pemandunya, yang pertama kali menjajakan jejaknya diPuncak tertinggi didunia, Yakni Mount Everst. 

Sesaat Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay turun dari puncak Mount Everst, hampir semua reporter berebut untuk mewawancarai Hillary. Namun, hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay.

Reporter, "sebagai seorang pemandu, tentu anda berada didepan Hillary. bukankah, andalah yang menjadi orang pertama, yang menjajakan kaki di Mount everst?".

Tenzing Norgay,, "ya, benar. Namun, pada saat tinggal beberapa langkah mencapai puncak. saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjajakan kakinya dan menjadi orang pertama didunia, yang berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi didunia".

Reporter, "mengapa anda lakukan itu?".

Tenzing Norgay : "karena, itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. impian saya berhasil membantu dan mengantarkan dia (Edmund Hillary) meraih impiannya.

Sesekali kita harus menjadi Tenzing Norgay. ada banyak hal yang ia kubur, di rendam, ditenggelamkan dikedalaman realitas. lalu, kita memproyeksikan teman seperjalanan kita meraih impiannya.

Sukses itu soal sudut pandang, yang penting sebenarnya adalah cara meraihnya dan dengan siapa. itulah sebabnya kita harus benar-benar menentukan dengan siapa kita harus berkawan dalam perjalanan panjang ini.

Jika anda ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. namun, jika ingin melakukan perjalanan panjang, lebih baik jalan bersama-sama.

Dengan siapa?. Disinilah, nalar sehat harus benar-benar diletakkan untuk memverifikasi siapa-siapa yang layak diajak berjalan panjang dan siapa yang ditinggal. sebab, lebih baik kamu meninggalkan dari pada akan terjadi kejadian terbalik (di tinggalkan).

Dulu, bahkan mungkin kini. jika orang membicarakan Leonardo Da Vinci. maka, orang akan menuturkan pula tentang lukisan Monalisa. Jika orang membicarakan Pose Chairil Anwar, orang tidak pernah membincangkan, siapa Baharuddin Mara Sutan. Dia adalah orang yang memotret Chairil Anwar. 

Lukisan Monalisa, tidak usah dijelaskan lagi, Ia Masterpiece Da Vinci. Hampir bisa dipastikan, seluruh penduduk dunia Tahu senyum Monalisa yang Mahal itu. Ketika orang menyebut Monalisa, Nama Da Vinci terbawa serta. Sebaliknya pun demikian, jika Da Vinci diperbincangkan, Monalisa akan disebut-sebut pula. 

Lalu, Chairil Anwar?. Orang tidak tahu siapa yang memotretnya. Sebahagian besar kita pernah melihat fotonya. Foto terpopuler Chairil. Foto yang mempesona Banyak Orang, termasuk saya pernah meniru gaya posennya tempo waktu. Foto ia dan rokok. Tapi, Baharudin Mara Sutan, Sahabat Chairil yang juga seniman Balai pustaka itu, tidak pernah menjadi buah bibir.

Kelak, jika berkawan, carilah yang mau mengambil resiko sepertimu. Ada banyak cara mengidentifikasinya, ukur saja resiko yang anda ambil untuknya dan resiko yang dia ambil untukmu. jika sama sekali ia tidak mempertimbangkan segala resiko yang anda ambil untuknya, itu pertanda selama ini dia memanfaatkanmu. Tinggalkan dia segera, itu lebih baik bagimu Dan untuk keputusanmu mengambil resiko untuknya, anggap saja sebagai kompas bagi perjalananmu yang masih panjang. Disuatu waktu, ada masa dimana anda akan menuai apa yang di tanam, diapun demikian.

Dulu, 4 sahabat Rosulullah SAW, sama-Sama kehausan dalam suatu pertempuran. Tetapi, air yang tersedia tidak cukup untuk mereka berempat. Maka, mereka mendahulukan saudaranya. Sampai gelas itu berkeliling, tidak ada satu pun yang meminumnya. Begitu sampai kepada Prajurit pertama, ia sudah syahid. Begitu juga yang kedua, ketiga dan keempat. Semua gugur menjadi syuhada.

Mereka syahid, karena mereka justru ingin memberi kesempatan pada kawannya untuk terus hidup.

Dalam Realitas yang lain, kadang kita menemukan kerumitan dalam berkawan. Itu masalah kecocokan visi. Sebab, harus ada dua tangan untuk bisa bertepuk. Dua jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu, kalau hajat mereka sama. Itu sebabnya Rosullulah bertutur : "Jiwa-Jiwa itu ibarat Prajurit yang dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan menyatu dan saling melembut. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan menjauh dan berpisah".

Ada manis yang kita cecap bersama. Sering ada pahit yang kita cicipi. Mendidihkan air mata saat kita lapar, Terlebih jika tidak ada rokok. Perkawanan itu Bukan sekedar kepompong, hadir lalu menjadi kupu-kupu. Ia gorong-gorong yang mengalirkan kehidupan. Membuat kita tidak pernah pandir.

Ada kebahagian juga kesedihan dalam persahabatan yang dimeriahkan bersama. Relasi ini saya yakin akan jauh lebih lama dari sekedar teman makan, minum dan buang air. Sebagaimana Gumam Jokpin, Bahwa sumber segala kisah adalah Kasih".

(Makassar,  15 / 06/ 2020) Nalar Pinggiran


**

Satu dari sekian esensi Peristiwa Qurban Ialah saat Ibrahim As meninggalkan Istrinya ; Hajar dan Ismail anaknya yang masih kecil dipadang pasir yang tak bertuan?. Seperti jamaknya, Hajar hanya bisa menduga, bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberinya putra.

Hajar mengejar Ibrahim As - suaminya, seraya berteriak : "Mengapa engkau tega meninggalkan kami disini, bagaimana kami bisa bertahan hidup?". Ibrahim As tak bergeming, ia terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya, terjepit antara "pengabdian" dan "pembiaran".

Hajar masih terus mengejar sambil terus menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit : "Wahai suamiku, ayahanda Ismail, Apakah ini Perintah TuhanMu?". Kali ini Ibrahim As, Sang Kholiulloh, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim As. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semuanya terkesiap. Ibrahim As membalik tegas, dan berkata : "Iya, ini perintah Tuhanku !"

Hajar berhenti mengejar, dan dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semua Malaikat, serta menggusarkan butir pasir dan angin : "Jikalau ini perintah TuhanMu, pergilah wahai suamiku. Tinggalkan kami disini. Jangan khawatir, Allah akan menjaga kami dan memberikan jalan keluar atas setiap ujian".

Ibrahim AS pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah.

Sebuah pesan Pengabdian, atas nama Perintah Allah, bukan pembiaran. Itulah yang di sebut IKHLAS.

IKHLAS adalah wujud sebuah Keyakinan Mutlak, pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah pada kalah. Ikhlas itu adalah ketika engkau sanggup untuk berlari, mampu untuk melawan dan kuat untuk mengejar, namun engkau memilih untuk patuh dan tunduk.

Ikhlas adalah sebuah kekuatan untuk menundukkan diri sendiri, dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengkalkulasi hasil akhir. Ikhlas tak pernah berhitung, tak pernah pula menepuk dada.

Ikhlas itu Tangga menuju-Nya, Mendengar Perintah-Nya, MentaatiNya. IKHLAS adalah IKHLAS itu sendiri. Murni tanpa embel-embel kepamrihan apapun. Suci bersih 100 persen, hanya karenaNya dan mengikuti KehendakNya, tidak yang lain!.

Setelah ditinggal suaminya-Ibrahim, Hajar mengendong putranya-Ismail Sambil lapar dan haus, Hajar Mondar mandir diantara Bukit safah dan Marwah adalah sebuah tindakan konyol dalam pandangan kita. Apalagi ditengah Gurun Tandus. Tapi, dalam situasi krisis itu, ada harapan yang membuatnya berlari-lari kecil diantara dua bukit. Harapan dan usaha yang dilakukan berulang-ulang, pasti membuahkan hasil : Air Zam-Zam.

Air zam-zam adalah pertemuan antara krisis : harapan dan usaha. Bahkan Air zam-zam itu tumbuh bersama perdaban besar dan menjadi artefak penting dalam sejarah mekkah, sebagai salah satu sentrum pergerakan Islam.

Pada Siti Hajar, ibunda Nabiullah Ismail. Tercermin sebuah Prototype dari Beyound the Crisis Zone. Keluar dari zona Krisis. Ingat, dalam masa-masa Sulit (Pandemi) ini, kita tak perlu digulung-gulung oleh nestapa. Tapi terus mendelik dalam satu kesempatan (oppurtunity). Orang-orang Sukses adalah Orang selalu membaca, apa yang terjadi balik krisis. Mereka mampu berpikir melampaui krisis dengan membuahkan kesuksesan besar.


***

Berkenaan dengan Zona krisis tersebut, saya teringat dengan Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani. Ulama dengan ratusan kitab tentang Islam. Nama aslinya adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani Al Asqalani.

Lumayan panjang nama ini. Menyebutnya, bisa makan sampai dua tiga suap nasi dan lauk pauknya. Tempat lahirnya Ibnu Hajar sendiri masih soal, entah di Mesir atau di Palestina. Yang jelas, konon dimasa kanak-kanak, ia dikisahkan sebagai anak yang telmi. Rajin tapi telat mikir.

Saking tak paham apa-apa yang diajarkan di madrasah, Ibnu Hajar putuskan pulang kampung karena merasa otaknya berat. Ia izin gurunya untuk pulang. Ditengah perjalanan pulang itulah, Ibnu Hajar mendapat pelajaran.

Di sebuah gua tempatnya istirahat saat jalan pulang, di dapatilah sebuah batu hitam yang keras, yang terus menerus ditimpa satu dua butir air dari atas gua hingga batu itu berlubang. Tak sangka, disitulah ia terpantik.

Ia terinspirasi, bila batu yang keras saja terus-menerus ditimpa air, akan lubang juga. Begitupun dirinya, bila tekun, kelak akan genius juga. Dus, setelah peristiwa itu, ia pun kembali ke sekolahnya.

Sejak itu, semangat belajarnya membumbung. Menjadi anak paling pintar. Hingga menjadi ulama besar sebagaimana yang dikisahkan dalam literatur-literatur.

Saya juga pernah nonton Forrest Gump. Film yang diperankan Tom Hanks. Mengisahkan tentang sosok Forrest Gump yang tumbuh dan menjadi sosok terkenal dengan IQ 75. Dimasa kecilnya dilewati dengan bullying teman sekelasnya.

Tak ada yang berkawan dengannya karena telmi. Lalu, cintanya yang ditolak mentah-mentah oleh Jenny gadis impiannya.

Forrest Gump akhirnya jadi tentara di Vietnam. Dengan kecepatan larinya, Forrest Gump menyelamatkan nyawa banyak serdadu. Bokongnya tertembak di Vietnam.

Setelah berhenti ikut perang Vietnam, berbagai lakon hidup dijalaninya. Namun Jenny tetaplah menjadi cinta sejati yang tak bersambut.

Dalam hidupnya ia sudah mencapai beberapa hal, namun pada Jenny ia dipaksa terus berlari. Mengejar impiannya.

Kurang lebih 3,5 tahun Forrest Gump berlari keliling Amerika, mengejar imajinasinya pada sosok Jenny yang impersonal. Suatu waktu nama Forrest Gump ada di headline koran lokal.

Jenny membacanya. Mereka bertemu dan sama-sama tenggelam dalam madunya cinta setelah Forrest Gump berlari 3,5 tahun. Berlarilah !

***

Sudah dua tiga hari ini, saya tidak bosan-bosan dengar ceramah Mark Zuckerberg, CEO Facebook. Mark Zuckerberg di DO dari Harvard University.

Saat ceramah di HU, dia katakan, kalau dia bisa tuntaskan ceramahnya, maka itu satu-satunya hal yang bisa diselesaikan di Harvard, selain kuliahnya yang gagal.

Apa yang ada di kepala orang-orang kala Zuckerberg DO dari Harvard?. Bukan karena ia telmi. Tidak, orang hanya menganggapnya tak berhasil di sebuah kampus terbaik kelas dunia.

Kini Zuckerberg menjadi CEO sebuah platform digital dengan user 2,7 miliar diseluruh dunia. Dia menjadi presiden semua warga Dumai yang hidup diplanet facebook.

Kekayaannya mencapai Rp.2.400 triliun. Lebih besar dari fulus yang dimiliki seluruh rakyat Indonesia.

Apa tujuan hidup Zuckerberg sekarang?. Dia bilang make your purpose. Itu yang dia lakukan meski DO dari Harvard.

Sekarang dia meloncat, membangun komunitas global, lalu mengajak semua orang untuk makes a purpose.

Dari Kisah Siti Hajar, Ibnu Hajar, Forrest Gump juga Mark Zuckerberg, mereka adalah orang-orang yang dulunya tak direken. Kini apa?. Ibnu Hajar menulis puluhan kitab dan diterjemahkan ke seluruh belahan bumi.

Forrest Gump menginspirasi musik, sejarah dan inspirasi bagi masyarakat Dunia, pun Mark Zuckerberg yang mampu menyatukan manusia dalam satu komunitas digital bernama facebook. Mereka hanya meletakkan tujuannya, lalu mengejarnya secara konsisten !.


***

Mengimpikan sesuatu diluar batas kemampuan kadang dinilai "gila". Padahal, pasrah pada realitas yang punya kemungkinan-kemungkinan bisa diubah sama dengan gila betul. sebab, hanya orang gilalah yang tidak punya mimpi dan cita-cita, bahkan surga yang menjadi idola semua manusia untuk masuk dan abadi didalamnya, tidak pernah di fikirkan.

Pasrah boleh. tetapi, setelah melewati ikhtiar itu baru dinamakan tawaqqal.

Jika saja takdir bukanlah hal yang misterius dari sebuah proses (ikhtiar) pencapaiaan. Maka, untuk apa tawaqqal?. Takdir harus misterius, agar proses pencapaian mencengangkan.

Ada sebuah cerita tentang pegawai kereta api yang secara tidak sengaja terkunci didalam gembong pendingin kereta api. karena, merasa tidak mampu ia pasrah pada nasib, ketika tubuhnya mulai dingin dan kematiannya mulai dekat. dia mulai menulis tentang proses kematiannya tersebut pada kalimat-kalimat yang ditorehkan di dinding-dinding gembong; ”saya mulai kedinginan”, tulisannya. sekarang bertambah dingin.

Tidak ada yang dilakukan selain menunggu, ini mungkin kata terakhir. dan memang itu kata-kata terakhir, yang dituliskannya. karena, setelah dibuka gembong kereta tersebut, ia ditemukan tewas.

Suhu dalam gembong kereta itu 58 F, sementara alat pendingin telah rusak, tidak ada penyebab fisik atas kematiannya. udara banyak, dia tidak kehabisan udara. bisa disimpulkan dia tewas, karena pasrah tanpa ikhtiar dan tertipu oleh ilusinya.

Hiduplah adalah proses menuju apa yang diimpikan, sebuah proses yang mau tidak mau harus dijalani oleh semua yang hidup didunia ini. Bunyi Firman Allah ; " Dan manusia akan mendapatkan apa yang diusahakannya (Q.S.An-Najm;39).

Akhir dari semua perjuangan sering dianggap anomali oleh kebanyakan orang. Hanya satu sebabnya, kita sering mengukur standar ikhtiar dengan ukuran kita. Mungkin juga karena ia terlampau abstrak.

Misalnya, Dalam Islam, ikhtiar itu sangat penting. Menghindari mudarat dan mengambil maslahat, juga merupakan kaidah agama. Dulu, Rosulullah SAW, 1.400 tahun Nan silam menerapkan Lock Down saat wabah melanda. Umar Bin Khottab yang keras kepala saja, yang Cuman Taat pada Rosulullah SAW dan Allah, juga pernah mengurungkan perjalananya, karena tempat tujuannya dilanda wabah.

Agama itu sangat Logis. Jika pun ada ghaibnya, itu karena kemampuan Rasional Kita tidak mampu menembus yang suprarasional. Butuh Supra Genialitas untuk menjangkaunnya. Larangan sholat berjama'ah dengan argumen-argumen medis itu juga agamais, berdasarkan kaidah. Beragama itu bukan berarti menjadi seorang Fatalis. Toh, takdir juga bukan sesuatu yang given.

Kematian selalu ada sebabnya, dalam Hadist yang Diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rosulullah saja bersabda, "Setiap anak Cucu Adam memiliki 99 sebab kematian". Artinya, kematian pun punya faktor-faktor logis atau dalam Bahasa medis disebut Cause of Death (COD). Apa jadinya beberala tahun silam, jika Positiv Covid-19 mengalami peningkatan kurva normal atau meningkat secara Eksponsial. Maka, tentu Membludak pasien di RS dengan Faskes yang terbatas, pun tenaga medis?. Hal itu, bisa menyebabkan tingkat Mortality melambung tinggi.

Sosial Distancing hingga Lockdown berfungsi menekan penularan. Agar yang terpapar Covid-19 berada dibawah Kurva normal. Dalam kasus wabah Corona, tindakan medis adalah upaya menekan tingkat kematian dibawah kurva normal. Agar pasien yang terpapar mendapatkan pelayanan medis yang optimal bagi yang menderita. Hanya kematianlah, akhir dari setiap Ikhtiar manusia. Inilah contoh, bahwa ikhtiar itu penting.


**

Dulu ada senior saya menceritakan pada saya, tentang seniornya, yang bernama Bang Saleh Daulay. Bang saleh ini pernah cerita, membeli Es campur saat hujan lebat di ciputat tempat dia Indekos waktu masih Mahasiswa S1 bersama teman-temannya. sampai-sampai temannya heran dan mengajak Bang saleh berdebat.

kira-kira begini Isi Debatnya ; "Le, Ngapain kamu beli es campur saat hujan lebat gini, Dingin pula lagi". Kata bang Saleh ; "sudah, kamu beli saja sana, Sebentar saya ceritakan apa maksudnya". Aneh Kamu, Le, Ujar kawannya. 

Akhirnya, Kawan Bang Saleh membeli dua porsi Es Campur. Setelah abang tukan Es itu pergi, Bang Saleh Memberi Ceramah kemanusiaan pada kawannya. "Kau lihat bapak Tukang Es itu; sudah hujan lebat, angin sekencang ini. Dia dorong gerobaknya sepanjang jalan. kau lihatlah, dia berjuang demi anak dan istrinya. dengan membeli Es dua porsi itu, kita sudah merawat harapan Si bapak itu. Dia hampir saja putus harapan (pasrah), saat mendorong Gerobaknya .

Jika semua orang cara berpikirnya sama dengan engkau, bahwa Mana ada hujan lebat, dingin pula, orang mau membeli Es campur. Maka, sebenarnya, kita telah membunuh Haraoan orang. Engkau tengok sana, setelah kita beli dua porsi Es campurnya, si bapak tambah kencang mendorong gerobaknya; tambah semangat dia".

Cerita diatas datang dari pengalaman Hidup Mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah, kini menjadi Anggota DPR RI. saat Masih S1. Cerita ini Sering sekali saya sampaikkan dalam forum-forum apapun, saat saya di undang sebagai Pembicara. Sebab, Tindakan bang saleh itu mematahkan logika Umum, yang ada dipikiran bapak Tukang Es campur itu ; bahwa tidak mungkin hujan lebat, angin kencang dan hawa dingin. ada orang mau minum es. Percaya atau tidak, si tukang Es ini nyaris putus asa dihari itu ; sebelum es campurnya dibeli. Tapi di saat, ada orang yang beli Es campurnya. Dua porsi pula, maka harapan yang nyaris patah tadi, kembali menukik.

Artinya, berharap itu boleh. Tentu tidak salah, bahkan dianjurkan. Bahkan, Al-Ghazali menempatkan Formula "Cemas" dan "Harap" dalam nukilan-nukilan Teosofinya berkaitan dengan Ibadah. Berharap semoga tetap terjadi, cemas kalau tidak berlaku. Demikian juga dengan penyair klasik cina "Lut szun" pernah berkata; "Harapan itu ibarat berjalan didalam rimba. Pada awalnya jalan itu tak ada. Tapi, karena sering dilaluinnya. Akhirnya jalan itu ada dengan sendirinya".



*Pustaka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*pena Nalar Pinggiran


Kamis, 08 Juli 2021

IBU DARI IBUKU REBAH DI BULAN JULI




Nenek Hilang diangkat oleh Allah dari kerendahan ke ketinggian. Dipindahkan oleh Allah dari tempat yang dikuasai oleh kegelapan ke tempat yang dipenuhi cahaya-Nya. Dihijrahkan dari kegaduhan dan keriuh-rendahan menuju maqam yang amat sunyi sehingga bisa ia temukan secara sangat terang benderang setiap sapuan suara sejati selirih apapun.

Nenek Hilang dipanggil Allah untuk bergeser dari ‘Alam Syahadah yang telah sukses menipu berpuluh-puluh miliar manusia sepanjang zaman, memasuki ‘Alam Haqiqah yang memerdekakan Nenek, sesudah beberapa puluh tahun ia bersabar dan sangat tabah menemani dan mengayomi manusia di sekitarnya di sejauh jaringan silaturahminya yang terjebak oleh tipudaya kemewahan dunia.

kepergian Nenek Hilang seperti dijemput oleh kendaraan yang dulu mengangkut Nabi Muhammad Saw berisra` mi’raj. Super high speed. Di bawah sadar kita, terutama Ibu Saya sukar percaya bahwa Nenek Hilang sudah tidak bersama kita lagi di sini. Nenek Hilang terlalu dekat untuk jauh. Kita semua tidak siap untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah nun jauh di sana, terlebih Ibu saya, anak kandung yang dua tahun terakhir Ia tanyakan. Ya Allahu.

Belum tiga empat minggu yang lalu, beliau VC dan Menanyakan ; " Kenapa Rais Belum datang menjemput Nenek, semua cucu nenek sudah semua Nenek lihat tumbuh, Rais belum pernah sekalipun?". Kira-kira begitu Tanya pada Mama.

Padahal, Satu Minggu kedepan, saya sudah persiapkan keberangkatan ke Batam, untuk menghadiri acara Nikahan Saudara saya, sekaligus mengunjungi Nenek dan Membawanya Ke makassar. 

Namun Kabar kegetiran siang ini terlalu dini, tiba. Sorot mata Kosong Mama saya, seperti kehilangan bintang-bintang di langit. Ia seperti penghuni bumi tanpa rembulan. Ia menghuni padang pasir tanpa pepohonan. Mama saya masih terus butuh dan ingin berenang, tetapi samudera mengering dan sunyi tanpa gelombang.

Mama dan keluarga, lebih dari terkejut oleh ketetapan Allah itu. Kita semua masih sangat membutuhkan Nenek.

Memang, tak ada kuasa dan otoritas kita, untuk menghindar, bersembunyi, apalagi berlari dari Maut.

Memang, Tidak ada yang bisa berlari dari maut. Sebab, ia selalu lebih cepat dari semua yang kita pikirkan, bahkan sangkakan.

Memang, Tidak ada tempat di bumi yang bisa menghindari Maut. Ia selalu tiba, di batas usia.

Tetapi, saya belum menepati janji untuk menjemputnya, agar bisa bersua dengan anaknya yang begitu lama yang rindukan.

Allah Maha Lebih Mengetahui apa saja yang kita hanya mengetahuinya sedikit-sedikit, seserpih-seserpih atau sangat sebagian kecil. Dipanggilnya Nenek Hilang oleh Maha Pencipta dan Pemiliknya adalah misteri bagi pengetahuan kita. Adalah “ghaib”. Dan Allah jauh-jauh hari sudah menyiapkan mental dan jiwa kita agar menerimanya dengan iman, tanpa mempertanyakannya secara ilmu dan pengetahuan. Alladzina yu`minuna bilghaibi. Dan kita memperbanyak sujud pasrah kepada-Nya. Kita teguhkan “yuqimunas shalat” dan memperluas kemurahan hati “wa mimma razaqnahum yunfiqun” dengan terus memperjuangan kelahiran baru demi kelahiran baru.

Semua Kita ada dalam kesementaraan, datang tetapi untuk pulang. Selamanya disini hanya berteman rindu, satu-satunya penuntun arah adalah untuk kembali menyatu dengan kekasih Sejati Zat, Yang Maha Hidup.

Yahh, memang Perginya Nenek itu (seumpama) kembang, tumbuh tanpa kata dan bulan bergerak tanpa berisik.

Almarhum itu tidak ada hubungannya dengan kematian. Almarhum itu artinya orang yang di rahmati oleh Allah. Kita semua mudah-mudahan sudah almarhum. Hanya saja dalam kebudayaan, Diksi Almarhum kerap kali di asosiasikan kepada kematian.

Menurut Allah, Tidak ada orang yang mati. Makanya dalam hidup, kita harus selalu punya hubungan batin terhadap sesama. Karena, dia abadi. jika hanya hubungan fisik, hubungan badan, hubungan politik itu hanya sementara.

DalamQur'an Allah berfirman : Jangan sangka bahwa hamba-hambaku yang berjuang di jalanku, itu mereka mati. Melainkan mereka hidup dan mendapatkam rezeki. Jadi, orang yang kita sebut sebagai almarhum ini sedang memasuki rezeki tingkat kedua, melebihi rezeki yang kita dapatkan di dunia. Rezekinya berbeda-beda, dan almarhum sedang menikmati itu. Kalau kita, rezeki kita itu cuman makan, minum, motor, rumah, dsb. Yang ketika di sapu angin akan hilang menurut kesementaraan waktu.

Manusia itu tidak hidup sementara. Manusia itu hidup abadi ; "Kholidina Fii ha abada". Kita terus menerus hidup, hanya saja polanya berbeda. Seumpama Ulat, kepompong, lalu menjadi kupu-kupu. Nah, kita hidup ini, bagaimana caranya menjadi ulat, kepompong dan menjadi kupu-kupu.

Innahu Waa Inna Ilaihu Roji'un..!!

#Rst

#nalarPinggiran











Rabu, 07 Juli 2021

NENEK MOYANG BANGSA NUSANTARA, GURU PELAYARAN BANGSA CHINA




Tahukah kita, bahwa Nusantara, sejak fajar peradaban terkait erat dengan satu bangsa di utara, namanya China atau Tiongkok.

Peta dunia lama terbagi atas dua sudut, timur dan barat. Timur adalah China, pusat populasi manusia dan material. Barat adalah India, pusat ide-ide budaya (agama).

Ada sekitar 20 juta manusia di China pada era dinasti Qin, abad 1 masehi. Jumlah yang menyedot minat pedagang dari segala penjuru untuk memasuki China. Judulnya "Jalur Sutra", bukan sekedar perdagangan, tetapi juga pertukaran budaya, politik, dan penyebaran agama. Hal itu Berlangsung sejak abad 2 SM hingga kolaps di abad 18 M. Sutra hanya penanda, tapi jalur Sutra tidak melulu menawarkan kain sutra, tetapi juga keramik, kaca, logam mulia, perkakas, getah damar, hingga rempah.

Membentang sejauh lebih dari 5.000 km, Jalur Sutra darat lebih dulu terkenal, kafilah-kafilah bergerak menyusuri daratan dengan titik kunci di Asia Tengah. Di sana ada bangsa yang kini sudah musnah, Bangsa Sogdiana, hidup di sekitar Kazakhstan dan Uzbekistan, mereka bangsa pedagang utama, perantara agung, yang mengajari bangsa China bagaimana cara berdagang, sekaligus memperkenalkan agama Budha pertama kali ke China. Nasib Sogdiana berakhir setelah ditaklukkan muslim.

Karena jalur Sutra darat demikian berat dan berbahaya, muncullah alternatif kedua, yaitu Jalur Sutra Laut (maritime silk road). Di sinilah nenek moyang Nusantara bersua. Membentang lebih dari 3.000 mil laut, antara China dan India, awalnya jalur ini terputus di tanah genting Kra (Thailand dan Myanmar), kemudian ditarik ke bawah, melalui Selat Malaka.

Jika di darat ada bangsa Sogdiana, maka operator utama Jalur Sutra Laut adalah nenek moyang kita, orang nusantara. Kapal-kapal awal yang bergerak ke India dari Selat Malaka. dan rute Timur, Selat Malaka hingga China, mayoritas adalah kapal nenek moyang kita. India dan China belajar berlayar dari nenek moyang kita yang tangguh.

Orang China menganggap tetangga di selatan mereka, bangsa Kunlun (ras Austronesia, nenek moyang kita) yang bertanggung jawab membuka seluruh jalur pelayaran yang memungkinkan barang dari China mencapai India melalui laut, dan mengangkut pendeta Budha China berziarah ke India. Simak pengakuan Pendeta Budha Faxian (abad 5 M) yang transit di Yehpoti (Kalimantan) pada saat berangkat dan pulang ziarah dari India.

"[Saya] menumpang di atas kapal dagang besar, yang memuat lebih dari dua ratus jiwa, dan di belakangnya ada kapal lebih kecil mengantisipasi jika terjadi kecelakaan di laut yang menghancurkan kapal besar itu."

Kapal dagang yang mampu memuat lebih 200 orang pada abad 5 M adalah pencapaian luar biasa para pelaut atau pedagang nenek moyang kita.

Ada kesilapan paham sementara ini yang menganggap bahwa orang dari India yang berinisiatif atau memprakarsai penyebaran agama Hindu dan Budha ke nusantara. Yang lebih tepat adalah nenek moyang kita sendiri yang menjemput bola ke India dengan kapal-kapal mereka, membawa pulang keyakinan baru yang lebih kompleks untuk diterapkan di nusantara, menjadi atribut kerelijiusan yang lebih megah dibanding agama asli, menjadi tanda keagungan kerajaan-kerajaan nusantara untuk menaklukkan rakyatnya dengan ajaran yang lebih rumit.

Awalnya nenek moyang kita hanya berperan sebagai operator kapal dagang, melayani pertukaran barang produksi China maupun India (juga bangsa-bangsa yang singgah di India seperti Arab dan Persia), namun belakangan nenek moyang kita menitipkan komoditas tambahan hasil asli nusantara: itulah rempah-rempah. Lada, getah hutan, Pala, Cengkeh, Kayu manis dll. Awalnya hanya barang dagangan tambahan, lalu perlahan berkembang menjadi komoditas utama, karena bangsa-bangsa asing (China, India, Arab, hingga Eropa) menggandrunginya.

Pada puncaknya, rempah nusantara di masa itu ibarat minyak bumi bagi Timur Tengah saat ini. Komoditas utama yang mengantar nusantara ke dua tujuan berbeda, kejayaan dan kemudian kehancuran.

Politik dan dinasti-dinasti di kerjaaan nusantara jatuh dan bangun oleh interaksi mereka dengan perdagangan rempah, beras, kerajinan, dan logam mulia. Diplomasi kerajaan-kerajaan nusantara dengan imperium China adalah politik yang utama. China berkepentingan menjaga atau memastikan kestabilan komoditas masuk ke negerinya melalui pengakuan-pengakuan terhadap otoritas kerajaan nusantara. Sebaliknya nusantara membutuhkan pengakuan dari imperium China untuk melegitimasi kekuatan mereka, utamanya terhadap kerajaan saingan di nusantara. Jatuhnya Kerajaan Sriwijaya, Singosari, hingga kemudia Majapahit tak lepas dari konsekuensi yang mereka peroleh akibat konflik yang menyertai hubungan perdagangan internasional yang melewati nusantaara.

Pulau Jawa pernah berkelimpahan, pada abad 11-14 M, dan terutama ketika di bawah otoritas Majapahit, Jawa menyediakan beras untuk semua pelaut pedagang yang singgah di pelabuhan Gresik dan Tuban ditukar dengan uang perunggu China, koin emas dari Barat, kain dari India, dan keramik. Beras juga diangkut ke kepulauan Maluku untuk ditukar dengan rempah-rempah. Pelabuhan Gresik menjadi pusat perdagangan beras dan rempah. Demikian melimpahnya hingga simbol kemewahan di zaman itu, keramik dan uang perunggu bertebaran di kalangan masyarakat biasa, jauh dari Istana. Temuan-temuan keramik dan celengan, dengan uang perunggu China di dalamnya, di pelosok Jawa Timur, adalah bukti dari kelimpahan tersebut. Pelancong dari Italia, Marco Polo mencatat:

“ Jawa... melebihi kekayaan, menghasilkan semua macam bumbu, sering dikunjungi oleh pengiriman dalam jumlah besar, dan oleh pedagang yang membeli dan menjual barang-barang mahal yang menghasilkan keuntungan besar. Sesungguhnya, harta karun pulau ini begitu besar sehingga tidak pernah diceritakan”.

Namun kelimpahan dan permintaan internasional akan rempah-rempah yang besar ini perlahan menjerumuskan nusantara. Ketika Bangsa Eropa berhasil menembus hambatan pedagang Persia, mereka berdatangan sendiri ke nusantara, menggunakan teknologi kapal dan persenjataan lebih maju, memonopoli perdagangan, dan membangun koloninya. Rusaklah tata niaga lama yang sudah berusia 1500 tahun. Empat ratus tahun kemudian, Eropa semakin dominan dan bangsa-bangsa Timur tenggelam di bawah kakinya.

Namun keadaan sudah berubah lagi, setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Jika hari ini kita di nusantara baru yang bernama Indonesia mengalami era tarik menarik kepentingan regional yang berpusat di China, maka pola itu sudah berumur 2.000 tahun. Bukan hal baru.

*pena Nalar Pinggiran