Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Kamis, 16 Maret 2023

PAYUNG - SILOGISME (8)

"Benar kata pepatah," ujar lelaki itu sembari melepaskan asap Tembakaunya. Matanya menembus ke luar jendela. Di luar sana hujan jatuh bercucuran.

"Maksudmu?" tanya perempuan yang duduk di depannya. Mulutnya masih mengunyah irisan apel yang tadi dikupasnya. 

Perempuan itu tinggi semampai. Dengan kebaya yang belum dilepas, serta rambut yang disanggul kecil, sekilas ia mirip para pramugari Garuda.

"Kamu tahu apa pepatah yang sering digunakan orang di musim hujan?" tanya lelaki itu.

"Apa?! Sedia payung sebelum hujan?"

"Bukan!"

"Ihh, terus apa?" tanya perempuan itu, penasaran. Kali ini ia mengambil apel dengan pisau buah. Potongan apel itu digigit-gigit kecil di mulutnya yang mungil.

Ditatapnya lelaki yang duduk di depannya. Cahaya lampu membuat matanya yang coklat jadi terlihat berkilauan.

Lelaki itu menatap balik perempuan di depannya.

"Bukan sedia payung sebelum hujan, Nona," ujarnya, lirih. Hampir berbisik.

"Lantas, apa pale?!"

"Mmm... Sedia kamu sebelum hujan!"

"Ah, Kita itu...."


Hujan turun kian deras. 


*Pejalan sunyi

*Nalar Pinggiran

POEISI 2

Cinta itu puitik," katamu, senja itu, ketika anak itik telah pulang ke kandang.

"Kenapa puitik?" tanyaku.

Merah matahari senja membuatmu seperti siluet. Dan itu adalah siluet yang indah senja itu.

"Karena puisi adalah kebohongan yang selalu bicara kebenaran. Begitu juga dengan cinta," ujarmu, yakin.

Aku terkekeh mendengarnya.

"Pernahki baca 'Soft Caramel'?" tanyaku.

Kamu menggeleng.

"Cocteau juga menyebut cinta adalah bentuk kejahatan terburuk," terangku.

Kamu tertawa.

"Menurut kita, cinta itu apa?" tanyamu, sembari menyandarkan tubuh ke kursi.

"Cinta itu seperti demokrasi," jawabku.

Kamu mengernyitkan dahi. "Kenapa na demokrasi?" tanyamu.

"Karena pemilunya cuma lima menit, tapi kampanyenya lima tahun," jawabku.

Kali ini kamu tertawa terbahak-bahak. Dan tawa itu selalu membuatku jatuh hati. Sungguh.

Setelah puas tertawa, kamu menatapku tajam.

"Jadi, Kakanda Perayu, katakanlah, kenapa Kita mencintaiku?", kamu bertanya seolah elang yang hendak menerkam mangsanya.

Saya menghela nafas. "Seperti tadi kubilang, cinta itu seperti demokrasi. Dalam cinta, kita paling cuma sesekali bercinta, selebihnya adalah bercakap," ujarku tenang. "Aku menyukai percakapan denganmu. Dan aku ingin menghabiskan hidup untuk bercakap-cakap denganmu."

Kukatakan itu sembari menatapmu balik, dalam-dalam. Aku melihatmu tersipu sembari menggigt bibir.

Itulah petang paling keparat yang tak mudah dilupakan.


-Benteng Somba opu, 15 Maret 2018-

*Pena Koesam
*Nalar Pinggiran

LOTRE - SILOGISME (7)

“Aku benci hujan!” ujar perempuan itu, sembari mendekatkan cangkir tehnya yang masih mengepul. Pandangannya dilempar ke luar dinding kaca di seberang sana.

Bibirnya terkatup. Gincu merah tuanya terlihat tak menyolok dibanding dua anting yang menggantung di telinganya. Hujan memang jatuh berderai di luar jendela. Di musim panas, hujan bisa datang dan pergi sesuka hati. 

Seorang lelaki bertubuh tinggi dan seorang perempuan berambut keriting pirang nampak berlari-lari menyeret kopernya ke ruang tunggu di ujung lorong. Mereka sempat jadi perhatian ketika si perempuan jatuh terpelanting. 

Lelaki bertubuh tinggi itu hanya menengok sebentar lalu menggelengkan kepala pada si perempuan. Untung seorang petugas segera menolong dan memapahnya. Si perempuan, yang rambut keritingnya jatuh menutupi mukanya yang pucat, terdengar bersungut-sungut pada lelaki bertubuh tinggi itu.

“Kenapaki membenci hujan? Bukankah hujan itu puitik?!”, tanya lelaki yang duduk di depan perempuan itu, sesudah lelaki bertubuh tinggi dan perempuan berambut keriting yang terburu-buru tadi menghilang di ujung lorong.

Perempuan itu menarik nafasnya.

“Kita ia sendiri, kenapa menyukai hujan?!” ia malah bertanya balik pada lelaki di depannya.

Lelaki di depannya terkekeh.

“Kita itu, kalau ditanya selalu balik bertanya. Sejak dulu selalu begitu,” ujar lelaki di depannya.

“Begitu ka kah?!”

“Iya!”

“Saya tidak suka hariku dirusak oleh hujan. Bagiku, mereka ini pengganggu. Itu mungkin sebabnya semua orang selalu bergegas meninggalkan hujan,” ujar perempuan itu sembari meraih cangkir tehnya. Jemarinya yang lentik hampir menyentuh jari lelaki itu. 

Orang Di sini memang sangat kikir. Di dalam maupun di luar bandara, mereka hanya menyediakan meja-meja sempit dan tempat duduk berdesakkan di hampir semua kedai.

“Jadi, kenapa pale kita menyukai hujan?” perempuan itu kembali melontarkan pertanyaannya.

Lelaki itu membuang nafasnya. Ia sangat membenci pertemuan-pertemuan kecil seperti ini. 

“Saya suka sekali komposisinya,” jawab lelaki itu.

“Maksud'T?” perempuan itu mengernyitkan dahinya.

“Ya, aku menyukai hujan karena komposisinya. Hujan itu sebenarnya hanya sepuluh persennya saja terdiri dari air,” ujar lelaki itu.

“Oya?! Baru ku tahu itu. Dan sembilan puluh persennya?!” tanya perempuan itu, penasaran.

Lelaki itu menatap perempuan di depannya.

“Sembilan puluh persennya terdiri dari kenangan!”, jawabnya, dengan ekspresi dingin.

Tawa perempuan itu segera meledak. 

Tapi ia segera sadar dan mengecilkan volume tawanya ketika melihat pandangan orang-orang kini tertuju padanya.

Dia tatap lelaki yang duduk di depannya. Sudah setahun mereka tak bersua. Beberapa menit lalu secara tak sengaja mereka bertemu di ruang tunggu.

“Mmmm…masih kita ingat kah?!” tanya si perempuan.

Lelaki itu mendesah.

“Ayolah, tidak mungkin saya lupa,” balas lelaki itu.

Perempuan itu terdiam. Pandangannya kembali dilempar ke luar.

“Tapi kenapa kita tak berusaha menghubungi saya lagi sesudah itu?” tanyanya. Nadanya kini meninggi.

Lelaki itu terdiam.

“Mencintaimu bagiku sudah seperti menang lotre. Dan aku tidak ingin terlihat tamak.”

“Ah, brengsek memang Kita!"

Keduanya kini terdiam. Di luar dinding kaca, hujan turun tipis-tipis.


-Bandara Sultan Hasanuddin, 4 Juli 2020-





PERCAKAPAN HUJAN - SILOGISME (6)


Guguran bunga flamboyan berserak di halaman. Angin, yang setengah jam lalu seperti bergemuruh, masih bertiup kencang, mengantarkan aroma tanah basah melewati kisi-kisi jendela yang separuh terbuka itu. Hujan memang baru saja lewat.

“Kata orang, jika kita sangat menginginkan sesuatu, lepaskan saja.”

Perempuan itu mengucapkannya tanpa menatap tamu di depannya. Pandangannya menerawang jauh ke luar sana.

Mendengar itu, lelaki di depannya hanya melirik kecil. Keduanya masih terduduk di kursinya masing-masing, seperti tiga puluh menit lalu.

“Sepertinya terdengar ganjil. Kenapakii begitu?” tanya lelaki itu.

Perempuan itu memalingkan mukanya. Kali ini ia menatap lelaki di hadapannya.

“Supaya kita tahu, kalau ia kembali, berarti ia memang milikmu. Sesudahnya, pasti tak akan lepas lagi. Tapi jika tidak kembali, berarti memang bukan milikmu,” ujarnya.

Lelaki itu mengernyitkan dahinya.

“Kalau begitu, saya benar-benar milikmu di", ujarnya.

Perempuan di depannya tertawa kecil.

“Kenapa bisa begitu?”, tanyanya.

“Karena, saya selalu kembali,” ujar lelaki itu, sembari terkekeh.

Perempuan itu ikut tertawa.

“memangnya saya pernah mengatakan sangat menginginkanmu?” ujarnya kemudian.

Mendengar hal itu, lelaki di depannya mendengus.

“Ayolah. Hujan tadi sudah membuat pertemuan ini jadi syahdu, kamu jangan merusaknya,” ujarnya.

Perempuan itu terkekeh.

Ia tatap lelaki di depannya dalam-dalam.

Lelaki ini tak pernah mampir di mimpinya. Tetapi, dari caranya menatap sejak mereka pertama kali ketemu, dari Tulisan-tulisannya yang panjang dan tak berkesudahan itu, dari kegigihannya yang pernah membuatnya sebal itu, ia bersyukur kalau lelaki ini bukanlah mimpi.

“Oh, Tuhan, hampir lupa. Maaf, aku belum menawarimu minum,” ujar perempuan itu, sembari menutup mukanya. Ia kemudian berdiri.

“mauki minum apa, teh atau kopi?” tanyanya.

Lelaki itu menggaruk-garuk tengkuknya.

“Kalau boleh, saya minta susu saja,” ujarnya, sembari menguap.

Perempuan itu, yang hampir beranjak ke belakang, segera menghentikan langkahnya. Dahinya mengernyit.

“Seriuskii?” tanyanya.

Giliran lelaki itu yang mengernyitkan dahinya.

“Memangnya kenapa? Kamu tidak punya?!”

Perempuan itu terlihat salah tingkah.

“Tapi…” kata-katanya kali ini tercekat.

Giliran lelaki itu menatap perempuannya. Dahinya ikut mengernyit. Heran.

Untuk beberapa saat keduanya saling mendelikkan mata, sebelum kemudian sama-sama tertawa.

Jalanan mulai gelap. Beberapa rumah di kiri-kanan tampak mulai menyalakan lampu. 


Makassar, 16 Mei 2018 

*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

SUJUD - SILOGISME (5)

Menurutmu, keajaiban itu apa?" tanya perempuan itu.

"Sujud," ujar lelaki di depannya.

"Kenapa na sujud?!" tanya perempuan itu. Air mukanya agak kecewa.

"Saat sujud kamu berbisik pada bumi, tapi langitlah sebenarnya yang mendengarkan bisikanmu."

"Well... Sound nice."

"Ajaib bukan?"

"Heeh."

Perempuan itu mengangguk.

"Oya, apa yang biasanya kau bisikan ke bumi saat sujud?" tanya perempuan itu, menyelidik.

"Aku membisikan namamu," ujar lelaki itu, sembari menandaskan cangkir kopinya.

"Mdedede, kita..."

"Tapi sayangnya langit tak pernah mendengarkannya," tambah lelaki itu.

"Hua ha ha ha..." perempuan di depannya terbahak, memperlihatkan deretan giginya yang berkilauan ditabrak cahaya lampu. 


Makassar, 29 April 2019


*Rst
*PejalanSunyi
*NalarPinggiran

TELANJANG 1 - SILOGISME (9)

Apa yang akan kamu lakukan, jika suatu saat aku datang kepadamu dengan tubuh telanjang?” tanya perempuan itu menggoda, pada suatu petang yang selalu dikenangkan lelaki itu. 

lelaki itu menatap perempuannya dalam-dalam, sambil berkata, "Aku akan mengainimu dengan kain paling pantas yang kumiliki," jawabnya yakin. 

“Cuma itu?” perempuan itu sepertinya tak percaya. 

“Lalu kita akan mencari penghulu. Setelah itu aku akan memelukmu, dan tak akan pernah melepaskanmu hingga ujung nafasku.” 

Kali ini si perempuan tersipu. “Kenapa kamu selalu saja naif begitu?” ia terus bertanya. 

“Tuhan pasti telah menciptakanmu karena suatu alasan. Mungkin aku salah satunya, mungkin juga bukan. Entahlah. Yang jelas, aku tak ingin merenggutmu dengan tanpa permisi dulu kepadaNya.” 

Senja terus merona merah di ufuk barat. 


*Rst

*Nalar Pinggiran


RAYUAN KOPI - SILOGISME (4)

Lelaki itu terus memandangi perempuan berambut panjang yang berdiri di rak seberang. Hari itu toko buku kebetulan agak lengang. Dan di tengah deretan rak-rak buku, perempuan dengan tas selempang berwarna abu-abu itu terlihat sangat menonjol. Pandangannya tak pernah beranjak dari buku bersampul coklat yang ada di tangannya. Sesekali dia terlihat menggigit-gigit jarinya. Sepertinya, ia sedang tenggelam dalam buku itu. 

Sesudah beberapa lama, lelaki itu berjalan mendekat. Agar tak mengejutkan perempuan itu, ia berdehem kecil.

"Banyak temanmu di kampus menyebutmu gadis yang pintar?" ujarnya, membuka obrolan.

Perempuan itu mendongak. Ekspresinya sedikit kaget.

"Sepertinya memang begitu," balasnya, dingin. 

Ia segera kembali ke buku di tangannya.

"Kalau begitu, kamu pasti mau kutraktir secangkir kopi di kedai sebrang jalan?" tanya lelaki itu.

Perempuan itu kembali mendongak. Kali ini dia tersenyum.

"Terima kasih. Aku sedang asyik dengan buku ini," ujarnya, sopan.

Lelaki itu segera mengernyitkan dahinya.

"Oh... Berarti teman-temanmu pasti keliru. Ternyata kamu tak sepintar itu," ujarnya, sembari ngeloyor pergi.

Mendapat respon demikian, perempuan itu tentu saja melongo. Untuk beberapa saat dia masih terlihat kaget memandangi lelaki yang baru saja menyapanya. 

"Heiii... Tunggu!" ujarnya, kemudian. 

Ia segera mengembalikan buku yang dipegangngnya ke rak dan bergegas mengejar lelaki itu. 


- Makassar, Sultan Alauddin 04 Januari 2017-


*Rst

*PejalanSunyi

*Nalar Pinggiran



TAWAKKAL - SILOGISME 10

“Sudah lama, di, kita tidak bicara?” tanya perempuan itu.

Sembari mengaduk-aduk cangkirnya, lelaki itu menganggukkan kepala.

“Iye, sudah beberapa tahun,” ujarnya. “Kenapa, kamu kangen, ya?”.

Perempuan itu terkekeh.

“Tidak ji. Saya cuma bertanya-tanya saja.”

Lelaki di depannya mengernyitkan dahi.

“Soal?” ujarnya, sembari menatap perempuan di depannya.

“Dulu kamu orang yang gigih. Atau setidaknya aku selalu melihatnya begitu. Tapi lalu tiba-tiba menghilang. Lama.”

“ihh, gigih dan menghilang kan tidak selalu berhubungan!?”

Perempuan itu menggeleng.

“Bagaimana bisa menunjukkan kegigihan, jika kamu menghilang?” tanyanya.

Lelaki itu tersenyum.

“Seperti pernah kamu bilang, kadang jika kita sangat menginginkan sesuatu, sebaiknya, ya, mungkin dilepaskan saja.”

“Haah? Aku pernah bilang begitu, ya?!” tanya perempuan itu.

“Ya,” ujar lelaki itu. “Saya kira, apa yang kamu bucarakan waktu itu ada benarnya,” ujar lelaki itu.

“Maksudmu?! Aku benar-benar lupa soalnya.”

“Ya, saya pikir, apa yang melewatkanku pastilah tidak akan pernah menjadi takdirku. Tapi, apa yang ditakdirkan untukku, pastilah tak akan pernah melewatkanku. Jadi, ya, biarlah mengalir saja."

Perempuan itu mengangguk-angguk.

“I see.”

Untuk sesaat keduanya terdiam.

“Jadi, apa yang kamu lakukan beberapa tahun ini? Menunggu takdir itu mampir, begitu?!” tanya perempuan itu, sembari tersenyum.

“Ya, aku belajar tawakal saja,” ujar lelaki itu.

Perempuan di depannya terkekeh.

“Kok jadi relijius begitu?!”

Lelaki di depannya mengangguk.

“Pada akhirnya mungkin harus begitu. Dan aku memang selalu mempercayai satu hal.”

“Apa itu?” tanya perempuan itu, sembari meraih bantal kursi ke pangkuannya.

“Aku selalu percaya, doa yang kulangitkan, tidak akan pernah kembali dengan tangan kosong.”

“Ah, kau…” ujar perempuan itu.

Keduanya kemudian kembali sama-sama terdiam.

Di luar ruangan, beberapa daun ketapang tampak berguguran.

Ketika perempuan itu menatap lekat dirinya, lelaki itu mencoba membuang pandangannya ke atas langit-langit.

“Itu bukan pertama kalinya sih kamu menghilang. Dulu, waktu kuliah, kamu juga pernah menghilang.”

Lelaki itu menurunkan pandangannya. Kali ini giliran dia yang menatap dalam-dalam perempuan di depannya. Yang ditatap kemudian terlihat agak kikuk.

“Itu karena aku dulu salah menilaimu,” ucapnya.

“Salah menilai bagaimana?”

“Aku dulu mengira kamu itu seperti rukun Islam yang kelima,” ujar lelaki itu.

“Maksudmu?!” tanya perempuan itu, sembari menyondongkan badannya ke depan.

“Ya, aku mengira kamu terbatas untuk yang mampu saja.”

Kali ini keduanya sama-sama terbahak.


- Gowa, 12 Juli 2020 -


*Rst

*NalarPinggiran

APEL MERAH - SILOGISME (3)

Aku mimpi makan apel. Warnanya merah marun. Manis menggigit. Aku sudah merasakan kelezatannya meski baru kutatap. Begitu segarnya, sampai aku tak tega mengupas apel itu. Aku takut, tiap goresan pisau yang kukenakan akan mencederai warnanya. Tiap sentuhan udara akan mengubah segar dagingnya. Kenapa kelezatan apel hanya bisa hadir lewat goresan pisau? Bisakah kita menikmati tanpa harus mengupas, menguliti. Kutatap apel itu. Ia masih merah marun. Saat ingin kupegang, aku terbangun.

Aku terduduk di tepi ranjang. Aku berpikir, apakah aku harus merasa menyesal karena belum sempat menyentuhnya? Layakkah aku merasa kehilangan atas apa yang sebenarnya tak kumiliki? Kupeluk lutut seperti biasanya.

Aku beranjak, pergi ke kamar mandi. Kucipratkan air dan sebait lagu terlantun dari pojokan kamar kecil itu. 

**

Barangkali memang benar, mimpi lebih indah ketimbang kenyataan. Tapi, apakah dengan begitu kita berhak mencampakkan kenyataan, menolaknya, atau meminggirkannya sembari membuang muka?!.

Kelezatan apel hanya bisa dirasakan lewat pelepasan semua atribut kecantikan dalam warna. Aku menyebutnya: bertukar mata dengan lidah. Dengan begitu kita bisa merasakan kelezatan sebuah apel dengan utuh, tak hanya sepotong-sepotong, tak sekadar merah marunnya warna.

Tapi, hanya sedikit orang yang berani membayangkan apel merah, dan lebih sedikit lagi yang berani menyentuh dan mengupasnya. Barangkali, ini pula sebabnya kenapa beberapa orang memilih hidup tanpa pasangan, atau menghindari untuk membangun sebuah hubungan yang mendalam. Mereka adalah orang-orang yang diliputi ketakutan bahwa kenyataannya apel itu tak semerah yang mereka bayangkan. Mereka ingin tetap menikmati keindahan bersitatap dari jauh dan tak mau kehilangan semua keindahan estetik itu. Mereka tak ingin menemukan kenyataan apel itu tak semerah yang mereka bayangkan, atau mereka tak ingin keindahan yang menyatu dalam “warna” itu pupus ketika disentuh, atau mereka tak ingin ketemu kenyataan bahwa apel itu sesungguhnya tak bisa mereka miliki. Jika sudah demikian, mereka akan bertahan dalam dunia yang mengambang: mimpi si apel merah.

Kalau menceritakan kembali sirah apel merah, aku jadi suka ingat seseorang yang kalau tersipu pipinya pasti memerah. Merah yang lain, karena tak bersemu padam, melainkan merah berbinar. Hanya sedikit orang yang memiliki keistimewaan semacam itu.

Perasaan itu seperti sastra: tak jelas batas antara fakta dengan fiksi. Di balik unsur puitiknya, terdapat banyak potret nyata. Di balik kelajakan dan spontanitasnya, menyembul segurat mimpi yang dibangun panjang sekali. Mana batas antara fakta dan fiksi tak jelas benar. Semuanya baur dan bercampur, antara nalar dengan imajinasi.

Sedang apa kamu saat ini? Barangkali kamu sudah sampai di dunia yang sangat jauh, dunia sastra-perasaan, dimana fakta dan fiksi saling membaur dan berbenturan. Nikmati saja. Semoga ceritanya menyenangkan.

Oya, aku menerima pesanmu, bahwa dalam pemilihan umum tanggal 29 September nanti kamu telah memutuskan akan mendukung partai yang kupilih. Aku senang bukan karena pilihanmu sama denganku. Aku senang, karena problematisasimu atas persoalan-persoalan politik di negeri kita tak sama dengan kebanyakan orang. Kamu tahu, kebanyakan kita lebih merisaukan soal-soal permukaan, yang gampang dilihat di atas ranjang, dan enggan menyelinap agak lebih mendalam. Sebab, persoalan yang sesungguhnya selalu tersembunyi di balik selimut, di bawah ranjang, dan bahkan tersuruk di dapur. Aku senang karena kamu sangat jernih mengenai soal itu. Dan aku mengatakan begitu, bukan karena pilihanmu sama denganku.

Aih, kenapa kita jadi melibatkan politik dalam percakapan? Yang jelas, aku sudah membawakanmu bibit jambu. Kamu bisa menanamnya di halaman rumahmu yang teduh. Lusa, kutunggu kamu di pojokan jalan itu.


-Makassar, 15 Agustus 2019-


*Pustaka Hayat

*Pejalan Sunyi

*Rst

*Nalar Pinggiran

Rabu, 15 Maret 2023

MAFIA PAJAK DAN PANGERAN DIPONEGORO : CITIZEN JOURNALISME


GAYUS. Ya, tepatnya, Gayus Partahanan Halomoan Tambunan beberapa tahun yang lalu telah divonis berlipat tahun. Namanya hingga hari ini tetap jadi buah bibir publik. Menjadi Ta'i dan sampah sejarah. Timbunan uangnya yang bertimbun-timbun puluhan milyar tersebut, bahkan hampir 100 milyar, lebih kurang, disita untuk negara. Entah adil entah tidak, saya tidak punya parameter. Bila Menkopulhukam, waktu kasus Gayus jadi "trending topik",  Djoko Suyanto, mempersilahkan publik untuk menilai adil tidak adilnya hukuman tersebut, maka saya juga “senada”, biarlah ahli hukum yang menilai.

Kita masih ingat, setelah Hakim Albertina Ho membacakan keputusannya, Gayus mulai menembakkan beberapa amunisinya, dari klaimnya telah ditunggangi sebagai pion politik Satgas Anti Mafia Hukum hingga aparat hukum yang “dikentutinya” - meminjam istilah advokat senior, alm. Adnan Buyung Nasution. Tapi, bau pengemplang pajak tetap menyebar.

“Saya hanya teri, big fish tidak tersentuh”, demikian yang (selalu) diucapkan Gayus ini dalam berbagai kesempatan. Yah, ia mengaku hanya "teri".

Pajak yang dikumpulkan dari masyarakat itu, bisa disunat si “teri” Gayus yang Golongan III/a itu hampir 100 Milyar, bagaimana dengan yang Paus-nya?.

Baliho “Orang Bijak Sadar Pajak” terus terpampang di berbagai sudut-sudut Kota dan Desa. Pada titik ini, saya teringat dengan Pangeran Diponegoro. Pangeran Gua Selarong yang menjulang tinggi itu, membuat Jawa “berdarah-darah” karena marah bergejolak melihat masyarakat di “pajak-i”.

Sejarawan Peter Carey pada tahun 1821 melaporkan bahwa para petani terpaksa menjual seluruh hasil kebun tembakaunya hanya untuk membayar pajak tanah, sementara mereka harus tetap hidup hanya dengan memakan sedikit jagung belaka. Sistem pajak yang amat sangat menekan tersebut, ditambah lagi dengan pajak lain - pajak “tol”. Orang-orang Cina yang mendapat “lisensi” pengelolaan jenis pajak itu, meninggikan sewa jalan-jalan “tol” yang harus dilalui pedagang dari berbagai desa. Ironisnya, para pedagang tersebut seringkali “terpisah” dengan dagangannya hanya untuk bisa membayar pajak “tol” ini.

Para Bupati dan kaum bangsawan, berselingkuh dengan kolonial Belanda, untuk memperkaya pundi-pundi mereka. Sistem pajak yang menghinakan dan menyengsarakan ini, membuat rakyat kecil merindukan kedatangan Ratu Adil. Ketika Pangeran Diponegoro, yang juga memiliki keprihatinan mendalam, langsung menyambutnya. Jawa berkobar dengan biaya mahal.

Perang Jawa, menurut Carey telah melibatkan 2 juta rakyat Jawa dan menewaskan hampir 200.000 orang, 8.000 pasuka Eropa dan 7.000 “Belanda Hitam”. Pemerintah Belanda harus mengeluarkan dana hingga 20 juta gulden untuk memadamkan Pangeran Diponegoro. Hampir 5 tahun, Jawa bergenangan darah.

Kalau bolehlah saya berandai-andai (itupun kalau boleh), Jika persoalan mafia pajak tidak tertangani menurut prinsip keadilan, tidak kecil kemungkinan peristiwa Pangeran Diponegoro dalam “bentuk lain” akan terjadi di Indonesia. Semoga saja Tidak. Sebab, saya pun menyadari, bahwa Agak sulit membayangkan "bentuk lain" perang Jawa pada hari ini, karena bukan negara secara institusi yang mencekik rakyat dengan pajak. tetapi para pencoleng berseragam abdi negara.

Masih Lebih mudah membayangkan kemarahan rakyat yang ditujukan kepada pencoleng dengan mengejar-ngejar dan menyeret mereka ke depan GEUOLOTIN seperti pada revolusi Perancis dulu, dimana Rakyat memburu raja Louis XIV dan kroninya.

Ihwal itulah, sehingga Rakyat dalam terma indonesia berbeda dengan Kata Rakyat dalam terminologi Inggris. Dalam terma Inggris, Rakyat adalah People. Kalau kita katakan People, maka ingatan orang terhadap peristiwa di alun alun kota paris pada tahun 1789, di jam 10 pagi ketika Raja Louis XIV di tenteng oleh seorang rakyat. Setelah di penggal oleh pisau GEUOLOTIN. Karena raja tersebut adalah seorang Koruptor. 


*PustakaHayat

*Rst

*Pejalan Sunyi

*Nalar Pinggiran