Mengenai Saya

Kamis, 16 Maret 2023

APEL MERAH - SILOGISME (3)

Aku mimpi makan apel. Warnanya merah marun. Manis menggigit. Aku sudah merasakan kelezatannya meski baru kutatap. Begitu segarnya, sampai aku tak tega mengupas apel itu. Aku takut, tiap goresan pisau yang kukenakan akan mencederai warnanya. Tiap sentuhan udara akan mengubah segar dagingnya. Kenapa kelezatan apel hanya bisa hadir lewat goresan pisau? Bisakah kita menikmati tanpa harus mengupas, menguliti. Kutatap apel itu. Ia masih merah marun. Saat ingin kupegang, aku terbangun.

Aku terduduk di tepi ranjang. Aku berpikir, apakah aku harus merasa menyesal karena belum sempat menyentuhnya? Layakkah aku merasa kehilangan atas apa yang sebenarnya tak kumiliki? Kupeluk lutut seperti biasanya.

Aku beranjak, pergi ke kamar mandi. Kucipratkan air dan sebait lagu terlantun dari pojokan kamar kecil itu. 

**

Barangkali memang benar, mimpi lebih indah ketimbang kenyataan. Tapi, apakah dengan begitu kita berhak mencampakkan kenyataan, menolaknya, atau meminggirkannya sembari membuang muka?!.

Kelezatan apel hanya bisa dirasakan lewat pelepasan semua atribut kecantikan dalam warna. Aku menyebutnya: bertukar mata dengan lidah. Dengan begitu kita bisa merasakan kelezatan sebuah apel dengan utuh, tak hanya sepotong-sepotong, tak sekadar merah marunnya warna.

Tapi, hanya sedikit orang yang berani membayangkan apel merah, dan lebih sedikit lagi yang berani menyentuh dan mengupasnya. Barangkali, ini pula sebabnya kenapa beberapa orang memilih hidup tanpa pasangan, atau menghindari untuk membangun sebuah hubungan yang mendalam. Mereka adalah orang-orang yang diliputi ketakutan bahwa kenyataannya apel itu tak semerah yang mereka bayangkan. Mereka ingin tetap menikmati keindahan bersitatap dari jauh dan tak mau kehilangan semua keindahan estetik itu. Mereka tak ingin menemukan kenyataan apel itu tak semerah yang mereka bayangkan, atau mereka tak ingin keindahan yang menyatu dalam “warna” itu pupus ketika disentuh, atau mereka tak ingin ketemu kenyataan bahwa apel itu sesungguhnya tak bisa mereka miliki. Jika sudah demikian, mereka akan bertahan dalam dunia yang mengambang: mimpi si apel merah.

Kalau menceritakan kembali sirah apel merah, aku jadi suka ingat seseorang yang kalau tersipu pipinya pasti memerah. Merah yang lain, karena tak bersemu padam, melainkan merah berbinar. Hanya sedikit orang yang memiliki keistimewaan semacam itu.

Perasaan itu seperti sastra: tak jelas batas antara fakta dengan fiksi. Di balik unsur puitiknya, terdapat banyak potret nyata. Di balik kelajakan dan spontanitasnya, menyembul segurat mimpi yang dibangun panjang sekali. Mana batas antara fakta dan fiksi tak jelas benar. Semuanya baur dan bercampur, antara nalar dengan imajinasi.

Sedang apa kamu saat ini? Barangkali kamu sudah sampai di dunia yang sangat jauh, dunia sastra-perasaan, dimana fakta dan fiksi saling membaur dan berbenturan. Nikmati saja. Semoga ceritanya menyenangkan.

Oya, aku menerima pesanmu, bahwa dalam pemilihan umum tanggal 29 September nanti kamu telah memutuskan akan mendukung partai yang kupilih. Aku senang bukan karena pilihanmu sama denganku. Aku senang, karena problematisasimu atas persoalan-persoalan politik di negeri kita tak sama dengan kebanyakan orang. Kamu tahu, kebanyakan kita lebih merisaukan soal-soal permukaan, yang gampang dilihat di atas ranjang, dan enggan menyelinap agak lebih mendalam. Sebab, persoalan yang sesungguhnya selalu tersembunyi di balik selimut, di bawah ranjang, dan bahkan tersuruk di dapur. Aku senang karena kamu sangat jernih mengenai soal itu. Dan aku mengatakan begitu, bukan karena pilihanmu sama denganku.

Aih, kenapa kita jadi melibatkan politik dalam percakapan? Yang jelas, aku sudah membawakanmu bibit jambu. Kamu bisa menanamnya di halaman rumahmu yang teduh. Lusa, kutunggu kamu di pojokan jalan itu.


-Makassar, 15 Agustus 2019-


*Pustaka Hayat

*Pejalan Sunyi

*Rst

*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar