Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Selasa, 11 Juli 2023

SINTESA - KESADARAN UMMAT ISLAM SEBAGAI MASA DEPAN INDONESIA


Bismillahirrohmanirohim...

Alhamdulillahil ladzi faradhol jihadal alal muslimin wa ja'alahu mana taizzhim wa rif'ihim, Asyahadu allah ilaha ilallahu wahdahula syarikalahu syahadatan wa shidiqqin wa haq wa asyahadu anna muhammadan abduhu wa rosululuhu mab utzuu rahmatalil alamin

Wa hayyikum ma'stirol ikhwani wa khawati jami'an bi tahyitai islam Salam, 

Assalamu alaikum Warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan satu ledakan besar Ummat islam yang selalu saya sebut sebagai ledakan islam politik, Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rebuplik ini, ada gelombang ummat yang berkumpul di suatu tempat  dengan satu tema.

Sebenarnya yang kita saksikan bukanlah sebuah demonstrasi dalam suatu peristiwa politik - Pilpres atau Pilkada. Justru, yang kita saksikan adalah kebangkitan politik atau kesadaran Politik ummat islam, yang tidak pernah terjadi dalam skala sebesar itu, sepanjang sejarah indonesia. Bahkan kalau kita melihat peristiwa 411 dan 212, di seluruh dunia islam sekalipun tidak pernah tejadi peristiwa sebesar itu.

Artinya kita memulai satu gelombang baru atau kebangkitan ummat islam dalam kesadaran politik, yang bukan hanya berskala indonesia. Tetapi juga berskala di dunia Islam.

Saya pikir kebangkitan dan kesadaran Ummat Islam, jauh lebih besar dan penting dari sekedar peristiwa politik DKI di tahun 2017 dan pilpres yang telah berlalu. Kebangkitan inilah yang ingin kita rawat, ingin kita pupuk. Kebangkitan ini juga harus kita pelihara, bukan hanya karena kita akan menghadapi Pilpres. Tetapi, yang lebih penting, karena kita akan mendiami republik ini sekarang dan seterusnya. Makanya, apapun yang terjadi dengan republik ini, hal itu menyangkut hidup kita, bukan hidup orang lain.

Presiden yang  akan datang, memimpin 5 tahun  mungkin dia terpilih lagi kalau dia akan mencalonkan lagi di periode kedua. Maksimal hanya 10 tahun. Tetapi, umur ummat ini jauh lebih panjang dari umur presidennya. Oleh sebab itulah, kesadaran kita ummat ini jauh lebih penting untuk di pelihara, ketimbang seluruh peristiwa-peristiwa politik yang pernah terjadi. 

Dalam kaitannya dengan kesadaran kita sebagai ummat, Al Qur'an mengajarkan kita, 3 bentuk kesadaran yang berhubungan dengan waktu. Pertama, kesadaran sejarah. Kedua, kesadaran realitas hari ini. Ketiga, kesadaran tentang proyeksi masa depan.

Pertama, Sebahagian besar Isi Al Qur'an berisi tentang cerita sejarah. Karena salah satu sifat dari sejarah, sekalipun hidup manusia terus berkembang. Tetapi, peristiwa-peristiwa yang mereka alami akan mengalami siklus atau sejarah akan mengulangi dirinya sendiri. Misalnya, ketika Rosulullah mengatakan, "Al Khilafatu fi ummati tsalatsuna aman - khilafah dalam tubuh ummatku, hanya berlansung dalam 30 tahun". Karena itu kalau di hitung, masa kepeminpinan Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali Bin Abu Thalib, Pas 30 tahun.

Hadist ini mengajarkan kepada kita bahwa ada siklus waktu yang akan terulang dan 30 tahun adalah salah satu simbol dari siklus tersebut. Lalu, ketika Rosulullah SAW mengatakan, "Innallahu Yab atsu ala Ro'syi kulli mi'ati sana man yujaddidu li hadzil ummati amra diniha - sesungguhnya  Allah akan membangkitkan setiap seratus tahun seseorang atau beberapa orang yang memperbaharui urusan agama ini". Artinya, setiap satu siklus 100 tahun, akan terjadi peristiwa - peristiwa besar. Angka-angka ini memiliki makna dan karena itulah penting bagi kita untuk memiliki kesadaran sejarah.

Kedua, kesadaran dan pengetahuan kita tentang realitas hari ini. Coba kita lihat ketika Nabi Sholeh melakukan dakwah di komunitasnya, beliau memahami dengan baik, siapa saja yang beliau hadapi di komunitasnya - Siapa musuhnya, siapa kawannya dan bagaiamana situasinya. Maka beliau mengatakan, "wa kana fil madinati tis atu rohtin yufsiduna fil ard - di kota itu ada 9 kelompok yang terus menerus melakukan kerusakan dan tidak melakukan perbaikan".

Perhatikan beliau menyebutkan angka 9 (sembilan). Beliau tidak menyebutkan beberapa. Hal itu menunjukkan pengetahuan yang defenitif, sangat detail, ia mengetahui realitasnya.

Makanya, ummat kita ini harus mengetahui bahwa agenda Keummatan kita ini apa dan harus jelas siapa musuh besar kita?. Hal ini penting kita di ketahui, di samping kita mendapatkan Ilham dari sejarah. Kita juga harus mengetahui realitas kita hari ini. Sebagaimana, Nabi Sholeh menunjukkan kepada kita betapa pentingnya pengetahuan tentang realitas hari ini. Karena pengetahuan tentang realitas hari ini, di bangun diatasnya langkah-langkah yang lainnya. 

Ketiga, kesadaran dan pengetahuan tentang proyeksi masa depan - apa yang terjadi di masa yang akan datang.

Ketika kaum muslimin di mekkah jumlahnya masih sedikit, 13 tahun setelah Rosulullah berdakwah di mekkah. Bisa di lihat dari Jumlah yang hijrah ke madinah, cuman 200 an orang. Yang hijrah ke Habasyah - sekitar 85 orang. Yang masuk Islam dari ahli Yastrib, penduduk madinah (sebelum Rosulullah Hijrah, berjumlah sekita 70 orang). Inilah total dari Hasil dakwah selama 13 Tahun di periode mekkah - kurang  lebih 300 orang saja.

Ketika kaum muslim Jumlahnya masih sangat kecil di mekkah, Allah Menurunkan satu Surat di dalam Al Qur'an, nama suratnya Ar - Rum. Apa Isi Q.S. Ar-Rum?. Isinya cerita tentang pertarungan Persi dan Romawi, "ghulibatir-ruum - Bangsa Romawi telah dikalahkan". "fiii adnal-ardhi wa hum mim ba'di gholabihim sayaghlibuun - "di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang". 

Kelak, setelah Romawi di kalahkan oleh Persi, Romawi akan kembali mengalahkan Persi, "fii bidh'i siniin, lillaahil-amru ming qoblu wa mim ba'd, wa yauma-iziy yafrohul-mu-minuun - dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman".

Para Ahli bahasa mengatakan, Al Bidh'i itu antara 3 sampai 9 tahun. Artinya, al Qur'an menetapkan dalam 3 sampai 9 tahun yang datang, akan ada pembalikan situasi.

Sekarang kita bertanya apa Gunanya, Komunitas yang kecil di mekkah  perlu tahu Situasi pertarungan antara Persi dan Romawi. Padahal Jazirah Arab tidak terhubung Hidupnya dengan Imperium persi dan Kekasisaran Romawi secara Lansung. Mengapa cerita ini penting bagi Komunitas kecil di Jazirah Arab?.

Perhatikan, 20 sampai 30 tahun yang akan datang. Persi dan Romawi sudah ada di dalam peta Geografi Islam. Jadi, Al Qur'an bercerita tentang persi dan Romawi, sebelum kaum muslim bertemu dengan mereka. Mengapa?. Agar kita mengetahui bahwa peristiwa yang terjadi saat ini di sekitar kita, kelak akan ada pengaruhnya bagi kehidupan saat ini dan masa yang akan datang.

Hari ini, realitas sekarang, kita bukan lagi bercerita tentang Persi dan Romawi. Tetapi, cerita tentang China dan Amerika.  Dua gajah bersiteru, apakah mempengaruhi kita?.

Kalau kita lihat di tahun 1945, Kita sudah lama berjuang untuk mencapai kemerdekaan kita. Tetapi, Allah memberikan kita karunia, berupa kekalahan Jepang dalam Perang Pasific, pasca kekalahan jepanglah kita merdeka Tahun 1945. 20 tahun kemudian, kita mengalami peristiwa G 30 S 1965 - Kudeta PKI yang gagal. Apa urusannya indonesia ini dengan orang-orang Komunis dan melakukan gerakan kudeta, darimana asal usul kudeta tersebut?.

Di periode setelah perang dunia kedua, kita memasuki satu babak baru secara Global yang disebut sebagai perang dingin. Dunia terbagi menjadi dua blok - timur dan barat. Yang satu kapitalis, yang satu komunis. Kedua negara ini bertengkar, saling cari dukungan di negara lain, sampailah mereka ke indonesia. Mencari dukungan di sini, Bertengkar di sini, terjadilah peristiwa G 30 S 1965.

Tahun 1990 Uni Soviet Runtuh, Apa hubungannya dengan indonesia. Secara kasak mata, tidak ada hubungannya. Tetapi, 8 tahun setelah itu ternyata ada hubungannya. Setelah Uni Soviet Runtuh, terjadilah Revolusi Global, yang bernama Revolusi Demokrasi dan liberalisme. Dalam terma Internasional, di sebut sebagai Revolusi Kuning. Jadi, terjadi proses Revolusi di negara-negara bekas Uni Soviet ; Di eropa Timur, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Timur sampai Asia tenggara dan Indonesia tahun 1998, terjadilah Reformasi.

Ada satu orang bernama Jhon Soroz bikin perkara di kawasan ini, membuat mata uang semua jatuh. Dia tidak ada di kawasan kita, dia hanya memainkan mata uang dan membuat kejatuhan dimana-mana. Demikianlah bangsa kita, kalau dalam Strata dunia. Bangsa kita adalah kasta rendah. Karena itulah, kalau kasta tinggi bertengkar, kita dapat dampaknya.

Tiga peristiwa yang saya sampaikkan diatas, peristiwa kita merdeka tahun 1945, peristiwa G 30 PKI tahun 1965 dan Peristiwa reformasi tahun 1998, menunjukkan betapa rentannya bangsa kita dari semua peristiwa-peristiwa besar yang terjadi secara Global.

Hari ini dunia sedang menghadapi, tiga (3) ancaman besar. Pertama, ancaman Krisis Ekonomi. Kedua, Krisis akibat Bencana Alam - Perubahan Iklim. Ketiga, ancaman karena Konflik Geopolitik.

Kita lihat seluruh titik di dunia, hampir tidak ada yang tidak mengalami konflik berdarah. Akibat perang kedua Gajah - China Vs Amerika, yang akan mempengaruhi jalannya suatu bangsa. Krisis ekonominya akan sampai ke indonesia, Apalagi Bencan alam akibat Climate Change - Perubahan Iklim, sudah kita rasakan dan mungkin akan lebih parah yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Dalam menghadapi pilpres kelak, Kita akan berhadapan dengan situasi 3 krisis tersebut. Makanya, sebagai Ummat, lebih penting bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis tersebut. Sebab, siapapun menjadi Presiden, dia pasti akan kesulitan menjawab 3 krisis tersebut. Apa masalahnya?. Karena ketika krisis ini terjadi, yang jadi korban adalah kita semuanya sebagai ummat.

Ihwal itulah saya kembali menekankan, lebih penting kita menjaga, memelihara kesadaran dalam pikiran dan hati ummat, agar kita bisa menciptakan gelombang ini terus menerus. Bukan karena hanya ada Pilkada DKI dan pilpres beberapa tahun yang lalu. Karena kita akan mengalami hal-hal yang sama kedepannya. Apalagi kita akan menghadapi krisis besar.

Olehnya, Dengan kesadaran sejarah dan pengetahuan tentang Realitas hari ini, serta pengetahuan tentang Proyeksi masa depan kita pupuk kesadaran politik kita sebagai ummat, agar kita menjadi Tulang Punggung NKRI. Siapapun yang akan menjadi presiden, kita niscaya datang dengan sebuah agenda untuk menyelematkan masa depan Bangsa kita, agenda untuk menyemalatkan hidup kita. Maka dengan begitu, barulah ummat ini memiliki makna dalam kehidupan politik bangsa kita.

Kalau hanya sekedar dukung mendukung, setelah pilpres Tamatlah kita. Sebab, pilpres hanyalah satu etape kecil dalam kehidupan kita sebagai ummat. Tetapi, inilah waktunya kita untuk menunjukkan, siapapun menjadi pemimpin, dia harus bisa berdamai dengan Ummat dan Paham bahwa Ummat ini punya agendanya sendiri, dia adalah tulang punggung. Apa yang menimpa Ummat ini, artinya menimpa tulang punggung Indonesia.

Jika kita punya kesadaran sejarah, realitas Hari ini dan proyeksi masa depan. Lalu, kesadaran tersebut kita gunakan untuk membaca Indonesia. Maka, kita akan mengerti, sekarang ini kita berdiri dimana dan menuju kemana?.

Tahun 2018 saya sangat Tercengang ketika membaca salah satu buah pikir (Buku Ust. Anis Matta yang berjudul Gelombang Indonesia), buku yang di tulisnya pada tahun 2014 yang lalu. Pikiran beliau begitu memukau, secara sederhana saya mendeskripsikan pikirannya. Usta Anis Membagi indonesia ke dalam tiga gelombang. 

Gelombang pertama adalah "menjadi Indonesia. kita awalnya adalah etnis-etnis yang berserakan di bumi persada, kerajaan-kerajaan kecil di nusantara. Setelah lebih dari 300 tahun, kita tidak kuat menghadapi penjajahan. Sampailah kita pada sebuah kesadaran, bahwa sistem politik kerajaan-kerajaan kecil ini sudah tidak bisa di pertahankan. Bahwa etnis-etnis yang berserakan di nusantara ini, tidak bisa melawan penajajahan kalau sendirian. Makanya kita merungubah wujud, melebur menjadi satu - muncullah satu entitas baru yang bernama INDONESIA.

Setelah pondasi entitas baru di tancapkan, Gerakan Kesadaran untuk menjadi satu entitas, di mulai pada tahun 1908. 20 tahun kemudian, pada tahun 1928, kita bikin sumpah pemuda, lahirlah bangsa baru dalam sejarah dunia, bernama bangsa Indonesia. Dari ratusan bahasa yang di punyai, kita memilih bahasa indonesia - melayu. Salah satu alasan mengapa kita memilih bahasa indonesia sebagai bahasa Pemersatu?. Karena bahasa indonesia mengandung semangat Egalitarianisme. Makanya dulu orang di panggil, Hey Bung. Kita setara, pemimpin itu tidak diatas. Pemimpin itu ada diantara kita.

Artinya, Indonesia sebagai bangsa sudah lahir sebelum negaranya lahir. Kita lahir tahun 1928, negara ini baru lahir beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 1945. dari tahun 1908, 1928 dan 1945 setengah abad tersebut adalah masa kita mematangkan diri, dari 300 tahun masa penjajahan. Kita merubah eksistensi kita, dari etnis dan kerajaan kecil-kecil yang berserskan di Bumi pertiwi menjadi satu bangsa dan negara kesatuan republik indonesia.

Para pendiri bangsa meletakkan satu pondasi yang kokoh, kesepakatan tentang sifat negara ini - Pancasila dan UUD 1945 merupakan Platform yang mempertemukan keragaman kita semuanya. Ihwal itulah saya teringat dengan debat para Founding kita tentang Sifat negara yang melahirkan satu sintesa, bahwa indonesia ini memang bukan negara Agama. Tetapi, juga bukan negara sekuler.

Kita ini adalah sebuah bangsa yang religius, kita percaya kepada keyakinan kita semuanya. Faktanya bahwa kita adalah mayoritas, menunjukkan semangat utama yang mempengaruhi karakter kita adalah ISLAM. Makanya, tidak pantas di negara kita mempertentangkan antara ISLAM DAN NEGARA. Tidak ada alasannya sama sekali.

Gelombang kedua, "Proses menjadi negara bangsa yang modern". Sudah ada bangsanya, sudah ada falsafah hidupnya. Ideologinya kita terjemahkan dalam bentuk konstitusi, dalam bentuk struktur pemerintahan dan kita duduk setara dengan negara-negara lainnya yang terdapat di dunia. Alhamdulillah, setelah 70 sekian tahun, rasanya kita boleh berbangga diri sebagai bangsa, bahwa kita adalah salah satu negara bangsa modern di muka bumi ini.

Tentu saja, dalam 70 sekian tahun ini kita selalu tertatih-tatih. Secara sederhana kita mengatakan mengapa kita tertatih-tatih. Karena di masa Orde lama, Ada demokrasi. Tapi tidak ada kesejahteraan. Banyak partai, pemerintahan jatuh bangun, ada kekebebasan. Tetapi, orang lapar. Masalahnya Manusia itu kalau bebas bicara, tapi lapar. Maka bicaranya kotor. Hal inilah yang menjadi ladang subur bagi PKI.

Lahirlah setelah itu, Orde baru. Yang menumpas PKI dan menjadi antitesa orde lama. Kata Orde baru, yang lebih utama Adalah kesejahteraan, bukan demokrasi. Maka, politik di sederhanakan, agar terjadi Stabilitas politik dan dengan cara itu kita bisa membangun ekonomi. Demikianlah Trilogi pembangunan Orde baru, Stabilitas politik, Pertumbuhan ekonomi dan Pemerataan. Ongkos pembangunan inilah, di pangkasnya demokrasi. Partai-partai yang banyak di lebur menjadi tiga : kanan dan semua kaitan-kaitannya adalah PPP. Kiri dan semua yang bersangkutan adalah PDI dan di bikinlah yang baru, di tengah adalah GOLKAR.

Dulu, kalau ada yang Ekstrem dari Ummat Islam di sebut Ekstrem kanan. Karena ada penyederhanaan politik. Tetapi, kita tumbuh dengan kesadaran, bahwa di indonesia ini ada tiga ideologi - Kanan, Kiri dan Tengah.

Ternyata Orde baru mampu menciptakan kesejahteraan. Bayangkan negara sebesar Indonesia, orde baru mampu menuntaskan buta Huruf. Mesir sekarang ini, angka buta Hurufnya masih 60%. Harus di akui, bahwa Dalam 30 tahun Orde baru berhasil melakukan pembangunan itu. Cuman seperti manusia pada umumnya - Tabiat. Jika kenyang, selalu mau bicara bebas. Kalau kita kenyang tapi tidak bisa bicara bebas, artinya burung di dalam sangkar. Hanya di beri makan tiap hari, tapi tidak bisa terbang.

Kebebasan adalah Tuntutan Fitrah kita sebagai manusia. Tetapi, kesejahteraan juga tuntutan Fitrah. Di orde lama ada kebebasan, tidak ada kesejahteraan. Di orde baru ada Kesejahteraan tidak ada Kebebasan.

Datanglah Reformasi, kita ingin menjadi sintesa yang menggabungkan antara Kebebasan dan Kesejahteraan. Kurang lebih reformasi kita telah  bergulir 24 tahun.

Saya membaca dan belajar dari sejarah KhulafaurRasyidin, waktu Rosulullah SAW mengatakan, "Khilafah dalam ummatku, hanya 30 tahun". Saya lakukan studi, komparatif. Dari 30 tahun itu, Masa damainya, hanya 20 tahun saja. 10 tahunnya konflik terus - 5 tahun terakhir di masa Ustman Bin Afwan dan 5 tahun sepenuhnya di masa Ali Bin Abu Thalib.

Kita sekarang menghadapi siklus itu di indonesia, itulah sebabnya saya membicarakan krisis di awal. Berita gembiranya adalah kita telah menuntaskan satu Gelombong penting, yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara bangsa yang modern.

Gelombonag Ketiga, "Menjadikan Indonesia sebagai Kekuatan Super power Ke 5 Dunia". Sebab, seharusnya di gelombang ketiga ini, grafik sejarah kita harus naik. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, sebab kalau kita menjadi pemimpin dunia Islam, di belakang kita ada 2 milyar manusia. Di seluruh dunia, kita termasuk negara ke empat terbesar. Di negara-negara G 20 kita berada di urutan ke 16. Mestinya maqom kita bukan di situ, seharusnya maqom kita naik. Inilah yang di maksud, waktunya indonesia menjadi kekuatan kelima di dunia.

Secara sosiologis, Salah satu ciri utama dari negara gelombang ketiga, masyarakatnya mempunyai tigas sifat Utama. Pertama, Religius. Kedua, berpengetahuan dan Ketiga, Sejahtera.

Saya pikir, Insya Allah masyarakat kita sudah mulai religius. Tapi, kita harus berpengetahuan juga. Apalagi jika kita ingin memimpin indonesia. Al Qur'an mengingatkan kita tentang Nabi Daud Dan Nabi Sulaiman yang punya kerajaan besar, " waa laqod Ataina Dauda Wa Sulaimana ilma - Sungguh kami telah memberikan Ilmu kepada Daud Dan Sulaiman". Makanya Syarat menjadi pemimpin adalah berilmu. 

Makanya tugas kita di gelombang ketiga ini, tidak hanya mempertemukan Demokrasi dan Kesejehteraan. Tetapi, mempertemukan agama, Demokrasi dan Kesejehteraan. Sehingga saat dunia menatap kita, mereka akan melihat sebuah bangsa yang Religius, bebas dan sejahtera. Inilah cita-cita kita sebagai Umnat Islam indonesia dan kitalah yang bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Agenda inilah yang kita akan tawarkan kepada calon pemimpin-pemimpin kita kedepan.

Ihwal itulah, kita perlu mempertahankan gelombang Kesadaran Ummat ini, bukan hanya sejak Pilkada DKI dan Pilpres 17 April yang lalu. Tetapi, seterusnya harus di pertahankan.

Tetapi, Rosulullah SAW juga mengajarkan kepada kita untuk belajar dari Ummat lain. Rosulullah SAW memberikan gambaran tentang Ummat-ummat persi dan Romawi, agar kita belajar. Rosulullah SAW mengatakan tentang orang-orang Persi, "Seandainya Kenabian itu ada di bintang - Soraya, Orang - Orang persi yang akan datang mengambilnya". Hal ini menunjukkan betapa ambisiusnya orang persi, cita-citanya tinggi. Untung kenabian itu pemberian, bukan perolehan. Andaikan Perolehan, maka yang dapat adalah orang Persi. Karena pemberian, maka yang dapat adalah Orang Arab.

Selain itu, Rosulullah SAW juga bicara tentang orang Romawi, hadist yang di riwayatkan oleh Amru Bin Ash, Rosulullah SAW mengatakan, orang romawi itu punya 4 sifat yang terpuji, "innahum la ahlamun nasi inda Fitnah -  mereka adalah orang yang paling santun dan sabar ketika menghadapi Fitnah (Krisis - Benturan). "Wa asra'ahum ghifaqitan ba'da musibah - Dan mereka yang paling cepat bangkit setelah tertimpa musibah. "Wa ausya'q quhum karratan ba'da farro - yang paling cepat pembalasannya setelah berlari (kalah). "Wa khoiruhum ki dhoifin wa yatimin miskin - dan mereka adalah orang yang paling dermawan kepada orang yang lemah, miskin dan yatim".

Tetapi ada tambahan yang kelima, kata Rosulullah SAW, "Wa khomissyatin hasatin jamilah wa amna'uhum bi dzulmil muluk - mereka memiliki sifat yang baik dan Indah. Dan mereka adalah bangsa yang paling tangguh,  tidak bisa di taklukkan oleh Raja-Raja Yang Dzolim.

Saya berharap kita semua bisa belajar dari ke empat sifat dari bangsa romawi. Apalagi, Sifat yang kelima, yaitu bangsa yang paling kuat dan tidam bisa di taklukkan oleh Raja-Raja Yang dzolim. sehingga kita bisa mewujudkan indonesia yang religius, Bebas dan sejahtera.


Tambak perahu telah di lepas dari Dermaga. Layar niscaya di rentangkan dan Perahu pasti di kemudikan.

Jika Ombak dan badai besar datang menghadang.

Ingatlah, petuah orang tua kita, " la tahof, la tahzan Allahu ma'na - jangan takut, jangan ragu-ragu. kita harus Yakin bahwa Allah senantiasa membersamai perjuangan ini". 


Wallahu a'lam...

- Makassar, 11/07/2023 - 



*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran







Minggu, 09 Juli 2023

SABAR


Melawan subjektivitas di dalam diri kita, bukanlah pekerjaan yang mudah. Terutama, jika dampak yang kita harapkan dalam waktu dekat adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Begitu dampak itu tampak menyenangkan, acap kali kita akan bergulat dengan diri kita sendiri. 

Dalam banyak hal, kearifan inilah yang membuat saya seringkali menunda. Persis seperti kita menanam sebuah pohon : Kalau yang kita tanam adalah pohon jagung. maka, insya Allah 4 bulan kedepan kita sudah bisa menuai hasilnya. Tetapi, kalau yang kita tanam adalah Pohon Jati. Kira-kira berapa tahun baru kita bisa menuai hasilnya?.

Menunda keinginan subjektif kita, melawan ketergesa-gesaan, Terutama karena nasihat orang-orang. menerima hal yang tidak kita sukai dalam jangka pendek untuk kesenangan jangka panjang adalah puncak dari Hikmah. Tetapi, puncak tersebut tidaklah mudah untuk di raih oleh setiap orang. Artinya, menjadi bijak tidak melulu soal ilmu pengetahuan. Ada persoalan karakter di situ. 

Lantas Selama apa kita bisa menunda keinginan subjektif?. 

Di dalam cerita Qorun, yang terdapat dalam Al Qur'an, ujung salah satu ayatnya berbunyi begini, "waa ma yulaqqo illas shobirun - dan tidak ada yang di berikan tentang kebijakan seperti ini, kecuali orang - orang yang Sabar". Sedangkan, ayat terakhir dalam penjelasan tentang Qorun ini adalah, "tilka darul akhirotu naj aluha lilladzina la yuridhu uluan fil ardhi wala fasadah wal akibatu lil muttaqin - itulah negeri akhirat, yang hanya kami berikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kejayaan pribadi di dunia dan juga tidak menginginkan kerusakan. Sesungguhnya kemenangan terakhir itu adalah milik orang-orang yang bertaqwa".

Artinya menunda kesenangan subjektif. Tentu memerlukan kesabaran. Itulah sebabnya, kata sabar di dalam Al -qur'an adalah kata sifat yang paling banyak terulang, diantara semua akhlak-akhlak yang lainnya.

Selain itu, mengapa sabar di hubungkan dengan kepemimpinan, bahwa untuk menjadi pemimpin, kita mesti bersabar.

Acap kali waktu yang di perlukan untuk mencapai misi yang begitu besar, sangat panjang dan karena itu, hanya sedikit saja orang yang bisa bersabar dalam menempuh waktu yang panjang tersebut. Kita lihat misalnya, sejak Nabi Yusuf As bermimpi dan tafsirnya di uraikan oleh ayahnya, yaitu Nabi Yaqub, bahwa suatu waktu ia akan menjadi seorang pemimpin. 

Coba kita lihat, berapa jarak antara mimpi tersebut dan saat Nabi Yusuf akhirnya menjadi pemimpin di Mesir?.

Di dalam Riwayat di sebutkan ada 2 perspektif. Riwayat pertama menyebutkan, jaraknya 40 tahun dan riwayat kedua 80 tahun. Terlepas dari mana yang benar diantara kedua Riwayat ini, substansinya kedua riwayat ini mengabarkan jarak waktu yang sangat lama.

Selain itu, Drama kehidupan yang harus Di lalui Nabi Yusuf untuk sampai ke istana dan menjadi seorang pemimpin, bahkan saat beliau menjadi pemimpin, kondisi mesir dalam keadaan krisis. Sudah perjalannya menuju mesir luar biasa tragisnya. beliau harus masuk penjara di mesir dan lalu menjadi seorang pemimpin, sekaligus menyelesaikan semua krisis adalah waktu yang sangat lama.

Karena waktu yang begitu lama, biasanya hanya sedikit orang yang benar-benar bisa sampai di akhir.

Dalam benturan yang begitu besar atau Krisis yang melanda, biasanya hanya sedikit orang saja yang mampu untuk tetap tegar. Pemimpin yang tidak tegar, tentu akan mengalami syok yang besar, apalagi di tengah perjuangan, tetiba banyak dari pasukannya berguguran. Bukan karena mati. Tetapi, karena meninggalkan medan pertempuran.

Misalnya, dalam cerita tentang pasukan Tholut yang akhirnya mundur sebelum berhadapan dengan Jalut. Dari 80.000 pasukan, 76.000 pasukan yang mundur. Tersisa Hanya 4.000 yang bertahan, bahkan di dalam riwayat lain, hanya tersisa 313 saja, sebagaimana jumlah pasukan Kaum Muslimin di medan badar, "fa lamma kutiba alaihim kitalu tawallau illa qolil minhum - dan taatkala perang akhirnya di wajibkan kepada mereka. Mereka semua berpaling, kecuali hanya sedikit orang".

Artinya, Hanya dengan kesabaranlah seorang pemimpin bisa mengelola jiwanya sendiri, mengatur ritme suasana hatinya sendiri. Ketika menyaksikan dalam benturan atau krisis tersebut, pasukannya kocar kacir meninggalkan medan pertempuran.

Kalau kita menelisik uraian diatas, berkenaan dengan waktu yang sangat lama. kita mendapatkan satu istilah, "fasobrun jamil - maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah". Sebab, waktunya lama. Begitu juga ketika benturan terjadi dan tetiba seorang pemimpin menyaksikan dirinya sendiri di kelilingi pasukan yang kecil, menghadapi pasukan yang besar. Karena sebahagian besar pasukannya telah kocar kacir meninggalkannya.

Di titik itulah, kesabaran menjadi kata kunci seorang pemimpin.

Jika terjadi perselisihan dan perpecahan di dalam pasukan atau dalam Tim ataukah dalam organisasi. Maka resolusi konfliknya, biasanya di selesaikan di luar dari persoalan prosedur yang telah di tetapkan. Sebab, ada hal yang jauh lebih fundamental, di luar prosedur penyelesaian masalah, yaitu kesabaran seorang pemimpin dalam menyelesaikan masalah secara tekun.

Makanya, kalau kita lihat di dalam Q.S. al Anfal ; 46. Allah SWT berfirman, "wa ati'ullAllah wa rosulahu wa la tanazaa'uu fa tafsyaluu wa taz habariihukum wassbiru innallahu ma asshobirin  - dan taatilah Allah dan Rosulnya, dan janganlah kalian berselisih - berpecah belah (bertengkar). Yang menyebabkan kalian gentar (Gagal) dan kekuatan kalian akan pergi (hilang) dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar".

Artinya, kesabaran seorang pemimpin, jauh lebih penting dari semua prosedur atau SOP resolusi konflik yang di sediakan oleh sistem di dalam satu organisasi atau komunitas. Karena kesabaran seorang pemimpin tersebut, yang akan memastikan bahwa semua orang merasa nyaman walaupun di tengah situasi konflik dan setelah itu barulah prosedur benar-benar akan di ikuti secara baik.

Di luar dari semua segmen diatas, bahwa kita juga akan menemukan satu fakta, sebahagian besar manusia pada dasarnya tidak akan memahami risalah yang di bawa oleh seorang pemimpin secara benar, apalagi memahami misi besarnya dan ikut berjuang, serta sabar dalam perjuangannya sampai akhir.

Oleh sebab itu, tantangan terbesar seorang pemimpin, pada dasarnya adalah KESEPIAN. dalam banyak situasi, dia akan berdiri sendirian, tanpa orang lain. Drama yang tragis inilah yang di ceritakan oleh Allah SWT kepada kita di dalam Al Qur'an, tentang Kisah Nabi Nuh, setelah dakwahnya yang begitu panjang, hampir seribu tahun lamanya. Dakwah tersebut di tutup dengan satu kalimat oleh Allah SWT, "wa ma amana ma'ahu illa qolila - dan tidaklah beriman kepada Nuh, kecuali hanya sedikit orang".

Di dalam riwayat di sebutkan. Misalnya, yang di nukil oleh Ibnu Katsir, bahwa jumlahnya ada yang mengatakan hanya 80 orang dan yang lainnya mengatakan hanya ada 72 orang. Apapun yang benar dari riwayat tersebut, saya cuman mau bilang jumlah itu terlalu sedikit untuk ukuran masa dakwah Nabi Nuh yang sangat panjang.

Artinya, KESEPIAN adalah musuh terbesar seorang pemimpin dan hanya dengan KESABARAN, seorang pemimpin bisa mempertahankan keyakinannya, bahwa dia telah menunaikan tugasnya, apapun hasilnya. 


- Silahkan di Konversi -

- Semoga bermanfaat -


*Pustaka Hayat

*Rst

*Pejalan Sunyi

*Nalar Pinggiran

Senin, 03 Juli 2023

PESAN ISLAM MENGHADAPI FITNAH (KRISIS - BENTURAN)

Pandemi beberapa tahun lalu sebenarnya, hanyalah Permualan dari krisis panjang yang kita akan hadapi, yaitu Krisis ekonomi, Krisis sosial dan sangat mungkin sekali kita akan menghadapi krisis politik.

Ada 5 pesan yang saya Temukan dalam Buku Anis Matta Tentang Pesan Islam dalam Menghadapi Krisis.

PERTAMA, pendekatan saintifik. Krisis sebagai sebuah krisis, Harus di dekati sebagai sebuah fakta yang saintifik - fakta yang terbuka, fakta yang bisa di pelajari dan fakta yang bisa di baca. Artinya, Krisis tersebut bukanlah sesuatu yang gelap. Walaupun kegelapannya, lebih kepada ketidak mengertian kita tentang apa yang sedang terjadi.

Pesan Islam yang paling awal sekali dalam menghadapi apapun adalah pendekatan saintifik - kita harus membedakan terlebih dahulu, mana fakta yang secara saintifik terbukti dan mana yang terbukti tidak secara Saintifik.

Dalam kaitan dengan pendekatan saintifik, ada dua catatan penting. Pertama, biasanya pendekatan saintifik sering kali di hadap-hadapkan dengan teori konspirasi. Kalau kita lihat, saat pandemi merebak beberapa tahun silam, Disinformasi berseliweran dimana-mana dan pelakunya bukan hanya individu yang nyeleneh. Tetapi, juga sering kali adalah kekuatan yang sangat besar. Bisa compeny, bisa kelompok kepentingan tertentu dan bisa juga negara. Karena itulah, seringkali pendekatan Saintifik ini menjadi Kabur, akibat banyak Disinformasi yang berseliweran dimana-mana.

Padahal, Sekalipun teori konspirasi, dia tetap fakta terbuka yang bisa kita pelajarai dan di baca secara saintifik. Kedua, pseudo Sains adalah kombinasi Antara Sesuatu yang saintifik dan Tafsir agama atau Mistik. Karena itulah, misalnya dalam kaitan dengan Teori Konspirasi dan pendekatan Pseudo Sains ini, kita menyaksikan sikap masyarakat terhadap vaksin.

Dari survey - Survey yang saya baca, sebahagian besar orang yang menolak vaksin itu beralasan karena vaksinnya buatan negara tertentu. Inilah implikasi dari teori Konspirasi atau efek Disinformasi. Ada juga yang beralasan, bahwa Vaksinnya tidak sehat dan tidak halal atau terpengaruh dengan Tafsir agama - Mistik tertentu.

Padahal agama memberi kita pelajaran bahwa vaksin ini merupakan perintah agama untuk mengambil sebab-sebab yang membuat kita sehat atau sembuh dari penyakit ataukah terhindar dari Wabah. Begitu pendekatan ini di lakukan orang-orang yang menerima vaksin menjadi lebih banyak. Apalagi MUI mengeluarkan Fatwa tentang Vaksin sangat mempengaruhi dengan sikap-sikap yang terhubung dengan sikap yang awalnya di pengaruhi oleh Disinformasi Teori Konspirasi ataukah Sikap Pseudo Sains. Pelan-pelan mulai hilang.

Agama pertama kali mengajarkan kita, bahwa cara kita bereaksi kepada sesuatu, sangat di tentukan oleh apa yang kita ketahui tentang sesuatu itu. Hal inilah yang menjelaskan mengapa ayat Al Qur'an yang pertama turun adalah "Iqro Bissmirobbikal ladzi Kholaq" - Bacalah. Maksudnya, kita harus membaca semua fenomena tersebut secara saintifik dan tidak gampang terpengaruh dengan berbagai macam Disinformasi. Tidak gampang terpengaruh dengan teori-teori yang sesungguhnya tidak Ilmiah. Tetapi, seakan-akan Ilmiah (Pseudo Sains).

KEDUA, pendekatan Keimanan. Pada akhirnya dalam semua peristiwa yang kita hadapi, ada bahagian dari sisi keimanan kita yang harus bekerja, bahwa dalam semua peristiwa itu, ada yang di sebut dengan "at tajalli uluhiya - kehadiran Allah SWT dalam semua Fenomena kehidupan yang kita hadapi".

Misalnya, terlepas dari apakah kita percaya bahwa pandemi kemarin adalah rekayasa atau natural. Pada akhirnya, mahkluk apapun yang setiap hari lahir dan tercipta, semua itu terjadi dengan kehendak Allah SWT. Pendekatan keimanan ini berguna untuk memproteksi Mute kita, karena dampak yang paling berat dari setiap krisis adalah tekanan masalah yang kita hadapi.

Survey yang di lakukan selama Pandemi, secara regular, ada empat poin yang mendominasi public mute - Takut, sedih, Frustasi dan marah. Dari ke empat poin ini, semuanya adalah Mute negatif. Ihwal itulah sekarang kita mengerti, mengapa dalam Al Qur'an, ada kalimat, "al khaufu wal Khudzer - takut dan sedih adalah jenis emosi negatif yang paling sering di ulang-ulangi oleh Allah SWT dalam Al qur'an dan hal itu berhubungan dengan keimanan. Keimanan yang benar akan memproteksi orang dari emosi negatif. Karena kita percaya, bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak Allah SWT.

Artinya, pendekatan Keimanan Ini, seandainya secara Saintifik kita mendapatkan dengan fakta gelap yang menakutkan dan menyeramkan. Maka, kita bisa memproteksi diri kita dengan pendekatan keimanan tersebut. Agar, jiwa kita tidak kropos, karena tekanan masalah atau krisis yang kita hadapi.

KETIGA, pendekatan perilaku optimistik. Setiap satu krisis itu, selalu datang dengan dua wajah. Ada negatifnya, tapi ada juga positifnya. Akan ada orang-orang yang sakit, bahkan mungkin wafat. Tapi, akan ada juga orang-orang yang akan lahir. Akan ada individu yang jatuh miskin, perusahaan yang bangkrut atau negara yang remuk. Tetapi, akan ada juga individu yang tetiba menjadi kaya raya, Perusahaan baru yang muncul dan negara yang juga mendapatkan keuntungan dari krisis ini.

Ihwal itulah pendekatan perilaku optimistik ini membantu kita atau melengkapi pendekatan pertama dan kedua, bahwa kita tidak hanya punya proteksi pada mute atau sisi emosi kita dengan pendekatan keimanan. Tapi, juga kita mempunyai sumber keberanian untuk merebut peluang di balik krisis. Karena itu, pada setiap krisis, kita jangan fokus pada masalahnya. Tetapi, Fokuslah pada peluang yang ada di balik krisis tersebut. Sikap mental seperti ini akan membuat kita menjadi sangat saintifik dan penuh keimanan, serta pada waktu yang sama kita menjadi lebih berani.

Saya kira kita semua melihat, secara ekonomi beberapa perusahaan menjadi lebih besar. Bahkan, menurut saya yang agak mengherankan. Justru di masa pandemi kemarin, orang-orang terkaya dunia urutannya menjadi berubah. Sekarang, ada Nama Bernard Ernauld dari Prancis pemilik LV - Jualannya adalah kemewahan atau di tengah situasi krisis kemarin, penjual Tas mewah, sepatu mewah justru melampaui produsen-produsen teknologi seperti Bill Gates, Elon Mas, dst.

Artinya kita melihat ada orang melejit di balik krisis dan ada orang tumbang di balik krisis. Makanya pesan Islam dalam menghadapi krisis adalah bersikaplah secara Optimis, dengan Fokuslah pada Peluang di balik krisis yang kita hadapi.

KEEMPAT, mencari Inspirasi dari sejarah. Biasanya di momentum krisis ini, terjadi pergantian. Pergantian dalam dua hal - pergantian dalam sistem dan pergantian dalam kepemimpinan. Akan ada ide-ide baru yang lahir dan akan ada ide-ide lama yang mati. Akan ada Narasi baru yang muncul dan akan ada Narasi lama yang mati. Akan ada sistem baru yang muncul dan akan ada sistem lama yang mati. Akan ada pemimpin baru yang muncul dan akan ada pemimpin lama yang tidak relevan dan menjadi mati.

Sejarah kerap mengajarkan kita, bahwa Krisis merupakan bahagian dari relevansi waktu. Misalnya kita lihat, dalam cerita Munculnya Nabi Daud sebagai pemimpin, sebagai Nabi dan Raja. Karena terjadi Krisis, Orang-orang Yahudi menghadapi tantang eksternal, yaitu Suku-suku lain yang terus menyerang mereka, terutama dari al amaliqa. Karena tidak ada yang bisa melawannya, mereka semua ada dalam tekanan yang sangat panjang. 

Di tengah situasi itulah Nabi Daud Muncul dan berhasil mengalahkan Jalut. Dalam cerita Nabi Daud dengan Jalut, kita menyaksikan satu fakta, di tengah semua kekuatan Jalut - Postur tubuhnya, Perlengkapan perang, dsb. Mengahadapi Nabi Daud yang kecil, masih muda, dan tidak punya perlengkapan perang. 

lantas bagaimana cara Nabi Daud Menghadapi Jalut. Pertama, Nabi Daud Melihat peluang dan Kedua, ia melakukan inovasi. Apa peluang yang di lihat Nabi Daud, Kalau saya memakai Baju Besi melawan Jalut, saya pasti kalah. Sebab, saya terlalu kecil, baju Besi terlalu berat untuk saya dan saya tidak bisa melakukan manuver. Jadi, saya tidak perlu baju besi dan pedang untuk berperang, yang saya perlukan adalah batu, agar saya lincah dalam bermanuver. Batulah yang mengalahkan jalut. Nabi Daud Fokus pada titik kelemahan Jalut. Artinya, Nabi Daud fokus pada kekuatannya dan tidak fokus pada kelemahannya. Serta, Nabi Daud Fokus pada Kelemahan lawan dan tidak Fokus pada Kekuatan Lawan. Sehingga pola pertahanan dengan baju yang di lakukan oleh Jalut, menjadi tidak relevan lagi.

Coba kita lihat, benteng-benteng kerajaan dulu. Konstantinopel, misalnya. Sangat Mustahil untuk di hancurkan dan di taklukkan. Kecuali setelah 700 Tahun dari era Rosulullah SAW. Salah satu sebab, mengapa konstantinopel bisa di takaklukkan di era Al Fatih, karena ada telnologi baru - Senjata Cannon, yang bisa membuat pertahanan benteng menjadi tidak relevan.

Artinya, di setiap krisis, akan ada sesuatu yang tidak relevan dan ada sesuatu yang relevan. Ihwal itulah yang kita petik dari sejarah yang terjadi berulang-ulang. Mengapa kita perlu menelisik sejarah sebagai Satu cara dalam menghadapi krisis, karena seperti itulah cara Al-Qur'an membentengi kita menghadapi Krisis.

KELIMA, perhatikan Faktor di luar diri kita, yang di sebut Faktor Geopolitik. Sejak tahun ke 7 di masa Mekkah, Allah SWT sudah menghadirkan cerita tentang Persi dan Romawi dalam Q.S. Ar. Rum. Artinya, Surat itu Turun, ketika Jumlah Kaum Muslimin masih sangat sedikit. Tapi, mereka sudah mendapatkan pelajaran Geopolitik. Karena cepat atau lambat, peta jalan sejarah yang akan di lalui oleh kaum muslimin, akan bertemu Persi dan Romawi di satu titik persimpangan dan Hal ini terbukti.

Dalam cerita persi dan romawi itu, ada tiga kombinasi masalah yang terjadi di persi dan Romawi, yang membuat Islam Hadir sebagai The New Grade Power - Kekuatan Global baru pada waktu itu menjadi mungkin. Pertama, Karena adanya Wabah, sejenis pandemi yang menimpa seluruh wilayah Persi dan Romawi, yang bukan hanya menyebabkan persebaran wabah. Tapi, juga terjadi krisis ekonomi, krisis politik internal dan jumlah prajurit yang terlalu banyak mati. Perang antara Persi dan Romawi yang sangat melelahkan. Artinya ada tiga masalah ; pertama terjadi Wabah, kedua Krisis ekonomi dan Politik, serta banyaknya prajurit yang mati dan Ketiga peperangan yang berkepanjangan. 

Tiga kombinasi masalah itulah yang membuat Persi dan Romawi lemah, sebelum Islam Muncul sebagai kekuatan Global baru.

Begitu Islam selesai mengkonsolidasi seluruh kekuatan di Jazirah Arab dengan mudah sekali, Islam menghabisi satu dari dua kekuatan, yaitu Persi. Dalam sejarah kita melihat, Islam dan Persi berhadapan dalam waktu 20 Tahun dan persi hilang dari peta dunia. 

Dari 20 tahun tersebut, Hanya empat tahun kira-kira pertempuran yang sangat besar sekali terjadi, yang mempengaruhi jalannya pertempuran selanjutnya. 16 tahun sisanya, lebih banyak merupakan tahun-tahun pembersihan eksistensi Persi.

Setelah itu, kondisi Bipolar terjadi secara Geopolitik, tetapi kekuatan yang terjadi hanya Islam dan Romawi saja.

Artinya, sejak Awal Al Qur'an menceritakan masalah ini. Karena garis sejarah kita akan bertemu dengan persi dan Romawi.

Hari ini, Isu Geopolitik ini sangat penting, karena kita hidup dalam dunia yang sangat terintegrasi. Coba kita lihat pandemi muncul di China. Vaksin yang di pakai pun, pada akhirnya dari china. Coba kita lihat dengan dua fakta ini, asalnya dari satu tempat, menyebar ke seluruh dunia. merubah konstalasi seluruh dunia dan menghentikan pergerakan manusia secara global atau menyebakan terjadinya de-globalisasi. Memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan krisis dimana-mana. Artinya, dalam dunia yang terintegrasi seperti ini, tidak mungkin ada satu peristiwa di satu negara secara umum, apalagi yang punya kekuatan besar, tidak mempengaruhi peristiwa- peristiwa di negara yang lain.

Demikianlah kelima pesan islam dalam menghadapi Krisis, Yang saripatinya saya tangkap dari Buku Anis Matta. 

ayahanda Anis Matta sengaja mengajukan Tema ini, karena bersamaan dengan Pandemi kemarin. Terjadi peningkatan kesadaran beragama. Tetapi, juga terjadi Polarisasi yang sangat kuat, terutama polarisasi yang di sebabkan oleh Pilpres 2014 dan 2019 yang lalu. Sehingga, kombinasi Disinformasi, konspirasi di tambah pemahaman agama yang lemah, hal ini bisa membuat orang salah bereaksi terhadap krisis yang kita hadapi. 

Wallahu a'lam..


*Pustaka hayat

*Pejalan sunyi

*Pengangum Pikiran Ust Anis Matta

*Rst

*Nalar Pinggiran

GENERASI PEMIKUL BEBAN - PETARUNG

Alhamdulillahil ladzi allafa baina qulubina wa ja alana ikhwanan mutahaqqinan aminina jahidun jahidinan fi sabilih, Hayyitun ma'syiro ikhwani wa akhwati bi jami'an tahiyati islam, Assalamu alaikum Warohmatullahi wabarokatuh.

Sebagai generasi yang tumbuh dengan beban yang barangkali mungkin sedikit saja dari generasi yang se-era dengan saya sanggup memikulnya. Sembari menyudut di ruang yang sepi untuk melakukan permenungan, Ada 4 permenungan panjang yang hendak saya  sampaikkan pada kesempatan tulisan ini, agar kita bisa memetik ibrah bersama. 

POINT PERTAMA, ada dua diktum dari Umar Bin Abdul Azis, pada saat beliau pertama kali menjadi Khalifah, yaitu menjelang pelantikan dan beberapa saat sebelum beliau menghembuskan nafas yang terakhir. 

Jarak diantara dua diktum yang di ucapkan oleh Umar Bin Abdul Azis, hanyalah 2,5 Tahun.

Saat Umar Bin Abdul Azis di lantik sebagai seorang Khalifah, beliau berbisik pada salah seorang Ulama besar di samping beliau, yaitu Al Imam Az Zuhri - Salah satu Gurunya Imam Malik. Umar Bin Abdul Azis mengatakan, "Inni akhofun Naar - Saya Takut kepada Neraka".

"Inni akhofun Naar" adalah kalimat pertama yang di ucapkan oleh Umar Bin Abdul Azis saat menjelang Ia di lantik sebagai seorang Khalifah. 

Apa korelasi kalimat Umar bin Abdul Azis terhadap pencapaian orang dalam Kepemimpinan atau Ketika seseorang sedang memulai debutnya sebagai seorang pemimpin, dengan mengucapkan "Inni Akhofun nar - Saya takut kepada api Neraka".

Artinya Umar Bin Abdul Azis memulai pelantikannya dengan akhir, bahwa akhir dari semua yang kita lakoni diatas panggung kehidupan ini, pada akhirnya adalah kematian dan hidup setelah kematian hanya mempunyai dua pilihan - Surga atau neraka. 

Ihwal itulah, Ulama-ulama kita mengatakan, A'qolun - A'dzorun nas fil awaqib - orang yang berakal adalah orang yang paling jauh pandangannya tentang akhir dari semua yang dia lakukan".

Hal itu seperti kita bertanya tentang muara dari sungai dimana kita berenang atau kita bertanya pulau yang kita akan tujuh dari suatu pelayaran. 

Khalifah Umar Bin Abdul Azis memulai masa Kepemimpinannya tidak dengan bertanya atau memulainya dengan Surga. Beliau memulainya, justru dengan Rasa Takut kepada neraka.

Orang boleh tidak membuat pencapaian, tetapi, Paling tidak dia tidak melakukan kesalahan dan dengan memanajet ketakutan di dalam dirinya, akhirnya beliau memiliki sumber energi yang tidak habis dalam Bekerja.

Tidak ada yang menyangka, termasuk juga beliau sendiri, ketika ia mengucapkan kalimat tersebut, bahwa umurnya yang tersisa setelah itu, tinggal 2,5 tahun. Tidak ada. Karena Ia adalah orang yang sangat bugar dan sehat. 

Para ahli sejarah menyebutkan, jika orang melihat batang Leher Umar Bin Abdul Azis, sangat kelihatan bahwa beliau adalah orang yang sangat terawat. Sebab, ia adalah Trand Center dalam keluarga Umawiyah. Dari kejauhan saja orang sudah mengenalinya, kalau yang datang adalah Umar, karena Wangi Parfumnya. Bahkan cara dia berjalan, di ikuti oleh orang-orang Istana dan Juga orang-orang pada Umumnya, makanya cara berjalannya di sebut - Al Massyar Umariyah.

Ketika Umar hendak melakukan perubahan besar, ia mesti memulai dari dirinya sendiri. Bukan dari orang lain. Karena Umar adalah bahagian dari masa lalu Umawiyah yang hendak Ia rubah. Jika ia hendak melakukan perubahan besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah merubah dirinya sendiri terlebih dahulu, lalu keluarganya. Barulah perubahan ia lakukan di luar istana.

Sebab itulah, Setelah beliau melaksanakan pelantikan sebagai seorang khalifah. Yang pertama kali di lakukan adalah mengumpulkan seluruh keluarganya dan mengambil seluruh Harta keluarganya untuk di kembalikan ke Baitul Mal. Bahkan, beliau mengancam istrinya "kalau kamu tidak ingin menyerahkan Harta yang sudah saya berikan kepadamu, Maka pilihannya hanya ada dua, yaitu "Kamu mengambil harta tersebut dan kita bercerai atau tetap bersama saya dan mengembalikan Harta itu ke baitul Mal". 

Pergolakan memang sempat terjadi di dalam keluarganya. Tetapi beliau mampu melewatinya dengan Baik.

Kita sekarang hidup di era Kapitalisme. Kapitalisme ini berhasil, paling tidak dalam 100 tahun terakhir ini menyebar kesejahteraan ke banyak penduduk Bumi. Tapi, ada satu Fakta yang tidak bisa di Capai oleh Kapitalisme sekarang ini, yang dulu berhasil di capai oleh Umar Bin Abdul Azis, yaitu saat Para Amir Zakat berkeliling di seluruh Afrika untuk mencari orang Miskin yang Mau menerima Zakat. Tetapi, Tidak ada satupun yang mau menerima zakat. Itulah pencapaian Umar Bin Abdul Azis, yang di capai Hanya dalam kurun Waktu 2, 5 tahun. 

Singkat Cerita, saat Umar Bin Abdul Azis Wafat. Beliau termasuk mati muda, karena saat beliau wafat, usianya 39 Tahun. Sebelum beliau menghembuskan Nafas terakhirnya, beliau meminta istrinya yang menemaninya terus di dalam kamar, agar keluar dari kamar. Dari luar orang-orang mendengarkan, beliau mengucapkan satu ayat dalam al qur'an, yaitu "Tilka Darul akhira naja aluha liladzina la yuridhuna uluan fil ardhi wa la fasadah wal akibatu lil Muttaqin - Itulah hari akhirat, yang kami siapkan kepada orang-orang yang tidak menginginkan keangkuhan di muka bumi, tidak juga kerusakan dan ujung dari semuanya ini adalah kemenangan bagi orang-orang yang bertaqwa".

Ayat ini berada di dalam Q.S. Al Qosas, persis menyudahi Cerita Qorun setelah di telan oleh Bumi, Lansung di tutup dengan Ayat yang saya sebutkan.

Dari Potongan cerita Al Qur'an di surat Al Qosas tentang Qorun, Allah SWT memulainya dengan, "inna qooruuna kaana ming qoumi muusaa fa baghoo 'alaihim wa aatainaahu minal-kunuuzi maaa inna mafaatihahuu latanuuu-u bil-'ushbati ulil-quwwati iz qoola lahuu qoumuhuu laa tafroh innalloha laa yuhibbul-farihiin - Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri (Q.s. Al Qosas : 76).

"wabtaghi fiimaaa aataakallohud-daarol-aakhirota wa laa tangsa nashiibaka minad-dun-yaa wa ahsing kamaaa ahsanallohu ilaika wa laa tabghil-fasaada fil-ardh, innalloha laa yuhibbul-mufsidiin -  Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 77).

Setelah di beri teguran demikian, Qorun Justru mengatakan, "qoola innamaaa uutiituhuu 'alaa 'ilmin 'ingdii, a wa lam ya'lam annalloha qod ahlaka ming qoblihii minal-quruuni man huwa asyaddu min-hu quwwataw wa aksaru jam'aa, wa laa yus-alu 'ang zunuubihimul-mujrimuun - Dia (Qarun) berkata, Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 78)

"fa khoroja 'alaa qoumihii fii ziinatih, qoolallaziina yuriiduunal-hayaatad-dun-yaa yaa laita lanaa misla maaa uutiya qooruunu innahuu lazuu hazhzhin 'azhiim - Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 79).

"wa qoolallaziina uutul-'ilma wailakum sawaabullohi khoirul liman aamana wa 'amila shoolihaa, wa laa yulaqqoohaaa illash-shoobiruun - Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 80).

"fa khosafnaa bihii wa bidaarihil-ardh, fa maa kaana lahuu ming fi-atiy yangshuruunahuu ming duunillaahi wa maa kaana minal-mungtashiriin - Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam Bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 81).

"wa ashbahallaziina tamannau makaanahuu bil-amsi yaquuluuna waika-annalloha yabsuthur-rizqo limay yasyaaa-u min 'ibaadihii wa yaqdir, lau laaa am mannallohu 'alainaa lakhosafa binaa, waika-annahuu laa yuflihul-kaafiruun - Dan orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudukannya (Qarun) itu berkata, Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 82).

Qorun menganggap bahwa semua kekayaan ini di berikan oleh Allah kepadanya, karena memang ia memiliki Ilmu. Ia Menganggap Penafsir keberhasilannya adalah hasil dari kekuatan Individunya. Ihwal itulah yang membuat Allah tidak rela dan ridho. Qorun ini abai, bahwa sebelum dia, ada banyak kaum yang lebih kaya dan kuat yang telah di binasakan oleh Allah SWT.

Setelah peristiwa Qorun di telan oleh Bumi, Allah menutup cerita tersebut dengan mengatakan, "tilkad-daarul-aakhirotu naj'aluhaa lillaziina laa yuriiduuna 'uluwwang fil-ardhi wa laa fasaadaa, wal-'aaqibatu lil-muttaqiin - Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Qasas 28: Ayat 83).

Artinya, Semua masa jabatan yang di mulai dengan, "Inni Akhofun nar - Takut pada Neraka" di akhiri dengan ayat, "tilkad-daarul-aakhirotu naj'aluhaa lillaziina laa yuriiduuna 'uluwwang fil-ardhi wa laa fasaadaa, wal-'aaqibatu lil-muttaqiin".

Salah seorang sejarawan muslim moderen, Dr. Imanuddin Khadi menulis buku biografi tentang Umar Bin Abdul Azis yang berjudul, Revolusi Islam di zaman Umar Bin Abdul Azis. Hampir 90 halaman dari buku tersebut, di mulai dengan satu Bab yang di beri judul, "Al Munhanan Nafsih - dukungan Jiwa".  Dari mana Umar Bin Abdul Azis mendapatkan sumber Energi untuk melakukan hal-hal besar dalam waktu 2,5 tahun. Setelah di telusuri, sumber kekuatan yang luar biasa dari Umar bin abdul Azis, ialah ketakutannya pada neraka.

Ihwal itu pula yang akan membuat kita ini tidak akan bercanda dengan peran dalam hidup kita. Kita tidak akan main-main dengan pilihan-pilihan yang akan kita putuskan untuk diri kita dan untuk orang lain, karena kita tahu akibat dari apa yang kita ambil. Kita tahu akibat dari keputusan yang kita bikin dengan makna dari ingatan kepada akhirat itu seluruhnya, akan melahirkan sumber kekuatan atau sumber energi, yang kita sebut dengan "Ruhul Mas'uliyah - semangat pertanggung jawaban".

Kita menyadari bahwa kita ini adalah pemikul beban. Bukan pencari kuasa. Bukan pemburu popularitas. Karena sebesar apa beban yang kita pikul, sebesar itu pula kelak tempat kita di akhirat, " wa ingtata wallaw yastabdhil qauman ghoirohum Tsumma la yaqunu amstalakum - kalau kalian berpaling, Allah akan mendatangkan kaum yang lain, yang akan memikul beban ini dan mereka tidak akan seperti kalian yang bermain-main dengan amalan".

Doa-doa yang lahir dari Ruhul mas'uliyah ini adalah "Allahummas taqdimna wala tastabdhillah". Karena Rosulullah Mengatakan, "innallahu idza ahabba abdhan ista'malahu - Allah Kalau mencintai Hambanya, Allah akan menggunakan hambanya untuk kepentingan agamanya".

Ruhul mas' uliyah - semangat pertanggung jawaban yang membuat kita punya energi dalam memikul beban. Hal itu kira-kira akan lahir dalam pernyatan- pernyataan pribadi sejenis ini.

Abu Bakar As Shiddiq adalah satu-satunya sahabat yang terus menerus ngotot untuk memerangi Kaum Riddah. Alasan Abu Bakar as shiddiq secara Syar'i, bahwa beliau akan memerangi semua orang yang akan memisahkan zakat dari sholat. Tetapi, juga ada alasan yang pribadi, bahwa ketika menyangkut resiko dan pertanggung jawaban besar seperti itu, dia mengambil alihnya secara personal. Karena itu Abu Bakar Menyatakan, "Ayamqutsul islamu wa ana haiy - apakah boleh Islam ini berkurang padahal saya masih hidup". Abu bakar mengambil alih secara personal dan tidak menganggapnya sebagai Fardhu Kifayah.

Semangat pertanggung jawaban seperti inilah yang di butuhkan Ummat kita saat ini. Kita ingin semangat ini hidup di dalam diri kita semua. Karena dengan pernyataan seperti ini, orang-orang akan menemukan Motif yang benar dari awal. Niat yang benar ketika melangkah, bahwa kita ini tidak di kumpulkan oleh kemarahan, kita tidak di kumpulkan oleh kekecewaan. Tetapi, di kumpulkan oleh semangat pertanggung jawaban : Pertanggung jawaban pribadi kita kepada Allah SWT dan pertanggung jawaban sejarah kita di hadapan ummat manusia. Sebab, cepat atau lambat, kita akan termasuk dengan apa yang di sebut oleh Allah SWT dalam al qur'an, "Tilka ummatun Qod kholad laha ma kasabat walahum ma kasabtum".

Semangat pertanggung jawaban ini akan membuat kita Merdeka, karena kita merasa sumber pertanggung jawaban kita yang pertama, yaitu kepada Allah SWT. Kita mempertanggung jawabkan kehidupan individu kita dan karena itu kita bertanggungbjawab sepenuhnya atas semua pilihan-pilihan sadar yang kita ambil. Apa yang mendorong kita mengambil satu keputusan tersebut, bukanlah kemarahan dan bukanlah kekecewaan. Tetapi di dorong oleh semangat, Ruhul mas uliyah dari jenis yang di katakan oleh Abu Bakar As shiddiq, "ayamqustul Islamu wa ana haiy".

Semua perkumpulan yang di mulai dengan kemarahan tidak akan bertahan lama. Semua perkumpulan yang di awali dengan kekecewaan juga tidak akan bertahan lama. Kalau kita ingin berkumpul dalam waktu yang lama dan melakukan hal-hal besar di dalam hidup, maka pastikan sejak awal bahwa niat kita adalah niat yang benar dan pastikan bahwa semua yang kita lakukan akan kita pertanggung jawaban kepada Allah SWT.

POINT KEDUA adalah cara kita memilih peran yang tepat bagi kita. Kalau kita salah memilih peran, kita tidak akan efektif di dalam hidup ini. Kita akan membuang banyak sumber daya, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Kita akan membuang banyak waktu, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Kita juga akan sering berkumpul, tetapi juga tidak menghasilkan apa-apa. Hanya, jika kita memilih peran yang tepat. Kita akan menjadi orang yang tepat. Lalu, cara kita memilih peran tersebut, dengan menggabungkan dua hal - memahami dengan baik apa yang terjadi di lingkungan kita, di zaman kita dan melihat kemampuan yang ada di dalam diri kita yang di berikan oleh Allah, yang bisa kita berikan bagi manusia dan alam semesta.

Poin yang pertama, mengingatkan kepada kita  apa yang di sebutkan oleh para Fuqaha sebagai, "Wa jibul Waqad - apa kewajiban zaman ini". Sesuatu yang merupakan tuntutan zaman. Inilah peran yang di harap di zaman ini. Lalu, poin yang kedua adalah membaca kemampuan kita sendiri untuk bisa berkontribusi dari total kebutuhan yang ada di lingkungan kita, "Wa kullun uyassarun lima kholiqolahu - setiap orang akan mudah melakukan peran yang untuknya dia di ciptakan". 

Artinya, Poin kedua ini meniscayakan kita membaca arah jalannya sejarah. Hanya ketika kita mampu membaca kemana sejarah ini sedang mengarah, kita bisa mendefenisikan fakta-faktanya, apa masalah yang sedang di hadapi oleh ummat kita dan apa masalah yang sedang di hadapi oleh manusia secara Umum, serta apa solusi yang bisa kita tawarkan.

Kita semua di takdirkan hidup di zaman yang keras dan saya percaya ini adalah karunia yang di berikan Allah kepada kita. Dari Usia kita memulai hidup, kira-kira era reformasi. Sekitar 20 tahun kemudian, kita berada di era yang bukan lagi kekacauan nasional yang terjadi, melainkan kekacauan global. menurut saya ada dua hal yang mendefenisikan jalannya perubahan Geopolitik secara global ; pertama, Trend penolakan pada sistem Global atau Global Order, dan kedua adalah munculnya leadership style yang baru dari negara-negara besar. Misalnya, Putin Di Rusia, Xi Jing Ping Di China, Erdogan Di turki. 

Secara Global Kita telah melampaui satu tahap dari penolakan tersebut, tahapnya yang kita sebut sebagai Global disorder. Sekarang kita memasuki tahap yang kedua, yaitu Global Chaos. Biasanya, tahap antara Chaos ke tahap selanjutanyaa, satu dari dua hal yang sering terjadi dalam sejarah adalah perang. Yang kedua, jika suatu bangsa di karuniai pemimpin-pemimpin yang berakal, bertangan dingin, maka ia bisa menemukam kesepakatan baru, untuk keluar dari masalah yang sedang di hadapi. Ihwal itulah, kelak kita akan melihat seperti apa masing-masing pemimpin ini mendefenisikan musuhnya, seperti itulah dia akan bertindak. Tetapi, dua elemen ini sangat menentukan. Masalahnya bagi kita dalam global sistem ini atau Global order, dunia Islam adalah Outsider dan dalam sistem politik di semua dunia islam - Harokah Islamiyah juga masih Outsider.

Apa kita tahu, ayat geopolitik pertama yang turun dalam sejarah Rosulullah SAW, yang turun di mekkah, yaitu  "ghulibati ruum", ayat dan surat ini bukanlah ayat madaniah, tetapi ayat makkiyah. Di turunkan di mekkah, Agar generasi baru yang tumbuh tahu, bahwa hal ini hanyalah masalah waktu dan akan bertemu dengan dua kekuatan besar. Tetapi, sejak awal kita mesti sadar.  Artinya, sejak awal ketika orang-orang arab atau ummat rosulullah tumbuh dan belum melakukan apa-apa, mereka sudah sadar tentang peta Geopolitik global. 

kalau kita perhatikan ayat tersebut sangat defenitif, "ghulibati ruum", aktornya dulu di sebutkan semuanya - ada persi dan romawi. Tempatnya, "fi adnal ardh". Lalu, Siklusnya, " wahum mim ba'di gholabihim sayaghlibun". Setelah itu Time Framenya, " fii bid'in siniin - dalam beberapa tahun". Kata bid'in, berarti antara 3 sampai 9 tahun. Dengan kesadaran geopolitik seperti itu, maka kaum muslimin di bawah kepemimpinan Rosulullah SAW mengerti, bagaimana mereka meretas jalan mereka. Mengerti, bagaimana cara mereka menemukan peta jalan bagi diri mereka sendiri.

Jika kita membaca sejarah Genghis Khan, kita akan tahu, bahwa beliau melewati 40 tahun umurnya sebagai buron, karena ayahnya sebagai kepala Kabilah di bunuh oleh lawannya dan seluruh keluarganya di bantai habis. Genghis Khan lari dan di buru kemana-mana. Tetapi karena dia menghadapi tekanan selama 40 tahun, maka berlaku teori fisika - Gaya berbanding lurus dengan tekanan. Maka, dalam waktu 20 tahun sesudah itu, beliau mengusai separuh dari hampir seluruh dunia.

Salah satu tipe dari orang-orang yang terlahir di masa Tekanan atau yang biasa di sebut oleh sejarawan "Strong Leader" adalah kemampuan mereka merubah tantangan menjadi peluang. Kemampuan mereka merubah ketakutan menjadi keberanian. Kemampuan mereka merubah kelemahan mereka menjadi kekuatan. Demikianlah cirinya. Hari ini, kalau kita melihat berdasarkan peran situasi Geopolitik ini, kita sudah harus mengisi peran sejarah yang akan kita lakukan, dengan menggabungkan kedua hal yang telah saya uraikan diatas, "kebutuhan zaman dan kemampuan yang kita miliki".

Saya ingin kita melihat beberapa contoh di dalam sejarah Islam, tentang bagaimana orang berpikir dengan cara ini. Kalau kita membaca 4 pemimpin mazhab, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad. Kita akan melihat bahwa ada satu hal yang sama dari mereka berempat, yaitu mereka menjauhi Politik dan hal itu dengan sadar mereka lakukan. Karena mereka tahu, bahwa hal itu bukanlah peran utama yang di tuntut oleh zamannya mereka. Mengapa bukan peran utama?. Karena masa itu, estabilished. Politik itu Estabilish, negara kuat dan masyarakat pada umumnya juga sejahtera. 

Tetapi, ada satu tantangan besar dalam sejarah islam, yaitu Ekspansi Islam yang sangat luas, baik secara Teritori yang terus bertumbuh dan maupun secara demografi. kemudian yang lebih penting adalah pertemuan kebudayaan - Multikultur. karena itu secara intelektual kalau kita ambil referensinya, orang akan mengulangi kesulitan dalam berinteraksi dengan teks-teks Al Qur'an dan As Sunnah untuk bisa memahaminya secara lebih ril. Sementara Teks Qur'an dan Sunnah di periode tersebut Sementara di kumpulkan. Sedangkan tidak semua orang memiliki kemampuan metodelogi untuk memahami Al Qur'an dan Sunnah agar di terapkan dalam hidupnya. Apalagi dengan begitu banyak budaya baru yang bergabung dalam horizon islam, sehingga peluang terjadi Multitafsir kepada teks-teks pun menjadi sangat besar. Karena alasan itulah, sehingga Mereka para imam mazhab bersepakat mewakafkan dirinya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.

Misalnya, Coba kita lihat dari Kehidupan Abu Hanifah. Abu hanifah waktu muda, ia tidak memulai belajar dari kecil, beliau belajar di tengah jalan, karena beliau adalah seorang pedagang. Suatu waktu, ada Seorang ulama di zamannya ketemu Abu Hanifah, di tanyalah Abu Hanifah, mau kemana?. Mau ke pasar, jawab Abu Hanifah. Di tanya lagi sama Ulama Tersebut, kamu tidak ke majelis-majelis Ilmu yang sedang berlansung?". Jawab abu Hanifah, saya lebih sering ke pasar ketimbang bertemu ulama. Kata ulama tersebut, saya melihat engkau memiliki kecerdasan dan energi. Mengapa engkau tidak mengarahkannya untuk ilmu?. Imam Ahu Hanifah, kembali ke rumahnya dan memikirkan sepanjang malam, kalimat ulama tersebut. Sejak itulah, beliau merubah jalan hidupnya.

Kita tengok ke Imam Syafi'i. Imam Syafi'i itu lahir di gaza. Besar di Mekkah dan madinah setelah itu ia keliling di irak dan terakhir di mesir, sekaligus wafat di Mesir. Umur 7 tahun beliau hafal Qur'an, umur 10 tahun beliau menghafal muattan Imam Malik dan biasanya kita mendapatkan penjelasan dalam Tarikh tasrih in islamiyah bahwa imam abu Hanifah adalah imamnya para ahli Ro'an dan Imam Malik adalah imamnya para ahlul Hadist. Sedangkan Imam Syafi'i, belajar kepada Imam Malik dan juga bertemu dengan Murid - murid Imam Abu Hanifah. Tetapi, beliau keliling ke seluruh negara-negara yang menjadi rujukan utama ilmu yang ada di zaman itu, Di jazirah, di irak, di syam dan juga di mesir. Hasil dari semua itulah yang mengantarkan beliau menemukan bahwa di perlukan satu metodelogi  baru untuk memahami teks-teks ini. Kalau kita hendak menurunkan hukum dari teks - teks tersebut berdasarkan situasi yang ada di lapangan. Dari situlah kemudian lahirlah ilmu Ushul Fiqih.

Jika kita lihat, di luar dari Khulafaurrasyidin yang empat. Apakah ada Khulafa-khulafa atau raja-raja dari negara-negara islam yang lebih populer dari empat imam Mazhab ini?. Kita semua yang ada sekarang, cara kita beragama di defenisikan oleh ke empat Imam Mazhab ini. Di irak dan Hampir semua Negara Asia Tengah dan selatan, Secara Populasi mungkin itulah pengikut mazhab hanafi paling besar di dunia. Di negara - negara Teluk dan syam dan beberapa diantaranya adalah pengikut Hambali. Tetapi kalau kita menengok ke afrika utara, sebahagiannya di mesir dan boleh di katakan hampir semua negara Afrika itu Pengikut Maliki. Lalu, sebahagian Syam, mesir dan ke Asia Tenggara atau Asia Pada Umumnya itu adalah pengikut Imam Syafi'i.

Artinya, Cara kita beragama ini di defenisikan oleh Keempat Imam Mazhab tersebut. Mereka sejak awal, mengerti tentang peran sejarah yang harus mereka lakukan. Karena waktu itu politik well estabilihs dan kondisi ekonomi juga bagus. Makanya, mereka memilih perannya.

Kebalikannya, ketika Tartar mulai menyerbu seluruh dunia dan mulai masuk ke wilayah-wilayah islam. Ada satu orang yang kemudian mengalahkan pasukan Tartar. Ia berdoa, berniat dan terus memikirkan bagaimana caranya mengalahkan pasukan tartar. Ia Mewakafkan hidupnya untuk itu, bahwa suatu waktu ia akan mengalahkan Tartar tersebut. Karena setelah Tartar mengambil Irak, mengambil syam dan seluruhnya, wilayah yang tersisa bagi dunia islam, tinggal mesir dan di mesir itulah orang tersebut berada. tetapi, dia bukan orang mesir. Dia orang dari antara Afganistan dan Irak, dulu anak dari kerajaan Khawarizme yang di hancurkan oleh Pasukan Tartar. 

Dia adalah "Saifuddin al qutus atau Al malik al muzaffar sayaf addin al qutuz". Dia tahu bahwa inilah peran terbesar yang mungkin tidak bisa di lakukan oleh orang lain. dia sendiri punya Histori dengan Pasukan Tartar, dimana keluarganya Habis di bantai dan dia melarikan diri - selamat. Lalu, masuk menjadi budak, di perjual belikan di damaskus. Setelah itu ia di kirim ke mesir dan ia menjadi Tentara - Fi ahdil mamalik. Akhirnya di zamanya-lah ketika Pasukan Tartar akan datang yang di pimpin oleh Khulagu Khan, beliau berhadapan dengan itu. Dia berhasil mendefenisikan perannya secara tepat sesuai dengan Tuntutan zamannya.

Lalu, bagaimana kita mendefenisikan peran sejarah kita?. 

POINT KETIGA adalah Inovasi. Setiap generasi itu punya cara berpikirnya sendiri, punya cita rasanya sendiri. Karena itu punya bahasanya sendiri. Kita di niscayakan untuk bekerja dengan perangkat-perangkat intelektual yang ada di zaman kita sendiri.

Lingkungan atau zaman dimana kita hidup ini, penuh dengan tantangan-tantangan yang berat, yang tidak bisa kita hadapi dengan cara berpikir yang biasa saja. Di perlukan begitu banyak terobosan untuk menghadapi tantangan tersebut. Saya membaca beberapa buku inovasi, Tetapi, saya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa Inovasi itu bukanlah produk kecerdasan. Inovasi belakangan ini adalah produk dari sebahagian Keberanian dan Sebahagian dari Rasa penasaran.

Hanya orang-orang yang penasaran yang dapat membuat Inovasi. Tetapi, inovasi akan membuat kita sendiri dan hanya orang-orang berani yang mau berdiri sendiri.

Khalid Bin Walid ketika menghadapi persi dan Romawi, Dia tahu betul bahwa dalam sejarah militer, yang pertama kali menerapkan sistem militer secara terstruktur dan sistematis adalah romawi. Ada sejak Tahun 300-an Sebelum masehi. Saat Khalid berhadapan dengan Romawi, di tahu betul bahwa dia sedang menghadapi bangsa yang memiliki pasukan militer regular, yang punya tata cara perang, yang punya aturan main sendiri. Khalid bin Walid juga hidup sendiri di tengah orang badui, yang juga punya tata cara perangnya sendiri.

Cara perang Orang badui, jika di gunakan untuk menghadapi tentara regular, pasti tidak akan kuat. Tetapi, asal kita ketahui, bahwa Jazirah - orang badui itu merupakan wilayah yang tidak pernah bisa di akses oleh persi dan romawi. Sekalipun, Orang badui ini tidak bisa berhadapan dengan Romawi dan Persi, faktanya adalah Jazirah adalah wilayah yang tidak pernah di jajah oleh mereka.

Oleh karena itu, secara Saintifik atau ilmu pengetahuan, dapat di katakan bahwa pola perang orang badui tidak di ketahui oleh orang persi dan romawi. Mereka buntu akan hal itu. Sedangkan, ahli-ahli strategi mengatakan, "jika anda ingin menang, maka berpikirlah dengan cara yang tidak di pikirkan oleh musuhmu". Makanya, Strategi Khalid Bin Walid kalau kita baca adalah Kombinasi antara Strategi Tentara Regular Romawi dan Persi, serta Teknik perang Orang-orang badui.

Mislanya, ketika Orang-orang badui berhadapan dengan Orang persi, saat perang Qudisiyah, yang di pimpin oleh Saad bin Abi Waqqos - kaum muslim tidak tidak pernah membayangkan kalau yang mereka hadapi adalah Gajah, sementara pasukan muslim menggunakan Kuda dan berjalan kaki, akhirnya di injak-injak lah oleh Gajah. Akibatnya, pasukan Muslim mundur dan melakukan musyawarah, untuk menemukan formulasi, bagaimanakah cara menghadapi Gajah?.

Ternyata kelemahan gajah terletak di matanya. Karena kelemahan gajah terletak di matanya, maka pasukan yang di butuhkan, buka pasukan kuda. Tetapi, pasukan pemanah. Begitu salah satu gajah di lepaskan, di panah tepat di matanya, akhirnya gajah tersebut berbalik. Sehingga gajah-gajah yang lainnya kocak kacir, berbalik merusak dan memporak-porandakan pasukan persi sendiri.

Begitu juga saat menghadapi pasukan Romawi dalam perang Yarmuk. 36 ribu pasukan muslimin menghadapi 240 ribu pasukan Romawi, secara jumlah tentu pasukan kaum Muslimin kalah telak. Lantas, Bagaimana cara Khalid Bin Walid menghadapi pasukan romawi?.

Khalid bin walid akhirnya menebar pasukannya -pasukan tengah, sayap kanan dan sayap kiri. Tetapi, khalid membolak balik setiap hari pasukannya, kadang yang di tengah, di tukar dengan yang ada di kiri dan yang kanan di tukar dengan pasukan yang berada di tengah. Setiap hari Khalid merotasi pasukannya. Nah, orang-orang Romawi yang melihat hal itu, berpikir sepertinya Setiap hari pasukan muslim bertambah - ada suplay pasukan terus, Jumlahnya berapa tidak bisa di defenisikan. Artinya khalid bin walid tahu cara berpikir lawannya. Tetapi, Lawannya tidak tahu cara berpikir khalid bin walid.

Lantas apa yang menyelesaikan masalah tersebut?. Itulah sebabnya diatas saya katakan, bahwa Inovasi bukanlah produk kecerdasan. 

Walaupun khalid bin Walid sudah melihat situasi tersebut, bahwa kaum muslimin ini juga memiliki rasa Gentar menghadapi pasukan romawi tersebut, karena bagaimana pun kaum muslimin tidak pernah menghadapi jumlah pasukannya yang begitu besar seperti yang di miliki pasukan romawi. Artinya, dua pasukan ini punya masalah psikologis yang sama, Pasukan kaum muslimin yang kecil melihat jumlah pasukan yang besar dan Pasukan besar - Romawi juga tahu, bahwa pasukan kecil ini tidak pernah punya sejarah kalah. Jadi, sama-sama dalam kondisi ragu. Karena itulah, beberapa bulan, kedua pasukan yang akan perperang ini saling menatap dan tidak saling serang.

Abu Bakar yang melihat hal itu, tahu bahwa sebenarnya ini persoalan Komandan lapangan dan yang bisa memutuskan semua ini adalah komandan lapangan. Makanya, Khalid bin Walid di tarik dari Irak menuju Yarmuk. Begitu Khalid Bin Walid melihat situasi tersebut, Ia berkesimpulan sama dengan kesimpulan Abu bakar. Makanya, di buatlah kompromi - bergantian menjadi komandan. Tetapi, serangan harus kita mulai. Begitu serangan di mulai, Beliau mengatakan, " Ya Ma'syirol muslimin hadza yaumun min ayyamillah fa aklisu fi jihadakum lillah - wahai kaum muslimin, ini satu hari dari sekian hari-hari Allah, maka Ikhlaskanlah jihad kalian di jalan Allah SWT. Dari pada kalian sibuk menghitung jumlah musuh kalian, lebih baik kalian sibuk memenggal leher mereka".

Karena itulah menjadi seorang inovator harus memiliki keberanian.

POIN KEEMPAT, adalah Taufiq Allah. Kita boleh menjadi inovator yang ulung. Tapi, pada akhirnya sukses itu pekerjaan Allah SWT dan kita mengenal satu kaidah bahwa jika Allah ingin memperlakukan takdirnya, maka dia menyiapkan sebab-sebabnya.

Taufiq Yang di maksud adalah titik dimana kehendak Allah bertemu dengan Kehendak kita. Kemauan kita dan kemauan Allah bertemu dalam suatu waktu dan tempat dalam suatu situasi. 

Gambaran paling visual dari pendapat Taufik ini adalah saat kita Istiqharoh sebelum memutuskan untuk menikah, saya sudah mau. Tetapi, apakah Allah sudah mentakdirkannya. Kita belum tahu. Di tengah ketidaktahuan itulah kita di dorong oleh rasa penasaran untuk terus berusaha - terus menerus ta'aruf, terus menerus berkomunikasi, terus menerus mempersiapkan. Tetapi, juga kita harus mempersiapkan kemungkinan, bahwa jangan sampai tidak terjadi.

Begitu kita menikah, sudah akad, baru kita tahu  bahwa hal ini memang terjadi. Waktu akadnya sudah terjadi, itulah takdir. Saat kita taaruf, itu adalah perjalanan menemukan takdir kita. Apa yang Allah takdirkan pada kita dalam hidup ini, sampai kita wafat, kita tidak tahu. Yang harus kita lakukan adalah terus menerus berjalan mencari takdir tersebut.

Oleh karena itulah, di awal saya menyebutkan, saat Umar Bin Abdul Azis mengatakan, " inni akhofun naar", dia tidak tahu bahwa ternyata umurnya tinggal 2,5 tahun lagi. Sesungguhnya dia sedang berjalan menemukan takdirnya dan hal itu juga yang harus kita lakukan. agar kita mengetahui, bagaimana cara kita menemukan takdir kita.

Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan satu doa yang terus saya amalkan, " allahumma ja'al hammi hamman akhiroh - Ya Allah, jadikanlah seluruh keinginanku adalah akhirat. Jadikanlah seluruh kegelisahanku adalah akhirat.


Wallahu a'lam...


- Makassar, 03/07/2023 -


*Pustaka hayat

*Pejalan sunyi

*Rst

*Nalar pinggiran