Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Minggu, 31 Maret 2024

MENGUAK TRANSENDENSI - PENDAKIAN - MI'RAJ PUASA DAN MENEMU KENALI ASAL USUL MANUSIA SEBAGAI PUNCAK CIPTAAN


Ramadhan secara harfiah, berakar dari kata "Romdan" yang bermakna "pembakaran". Pembakaran yang di maksud sebenarnya sangat bernuansa spiritual. 

Ketika Nabi mengatakan, Ramadhan adalah Tuan dari semua bulan. Hal itu, bisa kita ilustrasikan bahwa bulan-bulan yang lain itu bersifat materil sedangkan Ramadhan adalah bulan yang bersifat spiritual. Hal ini mengandaikan satu instruksi kesadaran bahwa apapun aktus - aktivitas yang kita lakukan di bulan ramadhan ini, harus di letakkan di dalam kerangka dan kesadaran spiritual.

Ramadhan dalam arti pembakaran spiritual di ilustrasikan sebagai suatu Ikhtiar manusia untuk menekan DIRI yang Palsu dan dalam waktu yang bersamaan kita diajak untuk MENEMU KENALI DIRI KITA YANG OTENTIK, DIRI KITA YANG SEJATI, DIRI KITA YANG ASLI. 

Mengapa?. Karena selama ini kita seringkali terjebak pada diri kita Yang palsu atau Terlempar dari Keotentikan diri kita. Lantas, SIAPAKAH DIRI KITA SESUNGGUHNYA?. pertanyaan fundamental Ini  bukan saja terdapat dalam tradisi islam. Hampir semua tradisi agama-agama, selalu berangkat dengan Pertanyaan, DARI MANA ASAL USUL AKU DAN SIAPAKAH AKU?.

Artinya kita harus memahami Ramadhan sebagai satu aktus pembakaran, yang di andaikkan sebagai emas atau logam mulai ; Ketika Emas atau logam Mulia di padukan atau di kepung oleh logam-logam Palsu. Maka tidak ada cara lain, kecuali dengan cara melakukan suatu aktus atau aktivitas pembakaran dengan titik didih tertentu.

Demikianlah ramadhan hadir untuk membakar, menempa dan mendadar diri kita secara spiritual. Agar kita bisa memilah dan memilih, mana diri kita yang asli dan mana diri kita yang palsu. Ihwal itulah, menemukan diri yang otentik - Asli adalah mission Ramadhan dan juga merupakan mission Keislaman.


**

"Dante Alegeri", seorang Penyair di abad pertengahan melahirkan satu karya Sastra Religius bernama "Divine commedy" - suatu proses perjalanan spiritual, dimana setiap manusia mengalami tiga fase, antara lain : Inferno, Purgaturio dan Paradiso. Inferno adalah masa kegelapan - masa dimana kita berkubang dengan dosa. Purgaturio adalah masa pencerahan atau pembakaran, yang secara Harfiah identik dengan kata ramadhan. Paradiso adalah Masa dimana kita terlepas dari segala sekat-sekat Fisik yang bersifat material. 

Al Qur'an menstressing kata "Pulang" dengan berbagai bentuknya yaitu Roja'ah - Yarji'un - irji'i. secara harfiah berarti Pulang atau kembali. Apa Maksud Pulang atau Kembali Dalam Kaitannya dengan Puasa sebagai sebuah Metode untuk Menemu kenali diri kita Yang Asli - Otentik?. 

Secara Filosofi, yang di sebut Pulang adalah orang-orang yang senantiasa tiba pada titik dimana dia berangkat. Ketika kita berangkat pada sebuah titik dan pulang pada titik yang sama, maka hal itu menujukkan bahwa kita sukses untuk pulang. Tetapi, kalau kita berangkat dari sebuah titik dan pulang pada titik yang berbeda. Maka, hal itu menunjukkan bahwa kita gagal untuk pulang atau dalam istilah Al qur'an di sebut ; tersesat.

Pulang atau Kembali berarti menemukan kembali titik dimana kita berangkat. titik berangkat inilah yang di sebut dengan Ide Asal Usul. Ketika kita mampu Menautkan titik pulang dan titik berangkat, pasti lurus. Hal itulah yang disebut dengan "sirotal mustakim". Sekalipun sebenarnya sirotal mustakim itu bukan jalan lurus. Melaikan, Istiqomah atau konsisten - dimana pun dia terlempar atau dimana pun Dia Terjebak pada diri yang Palsu, dia tetap pulang pada dirinya yang Asli.

Sebagaimana yang saya utarakan diatas, bahwa Hampir semua tradisi agama-agama, membicarakan tentang Teori Asal Usul. Sebab, Hanya orang yang tahu asal usulnya yang sukses untuk pulang dan ini merupakan suatu Visum atau suatu cara pandang yang jauh kedepan, bahwa kita jangan merasa abadi di bumi ini, karena kita selalu terpanggil untuk pulang. Berbahagialah kita, jika kita selalu menjadi pribadi yang merindukan pulang atau Kembali. 

Di titik itulah, kita mengenal satu tradisi dalam islam di sebut tradisi keterpanggilan?. Hal itu tidak lain dan tidak bukan, di wakili oleh Tradisi Tawaf (Haji) ; satu bentuk melingkar mengelilingi ka'bah yang berlawanan dengan arah jarum jam. Menurut "Sayyid Husain Nasser", tawaf mengandaikkan kepada kita bahwa kita memutar arah jarum jam kembali ke belakang. Memutar arah jarum jam berarti kita akan menelusuri titik berangkat kita dan titik berangkat kita juga merupakan titik pulang kita. Di situlah hikmah dan makna, "Innalillahi wa inna ilahi rojiun - kita berangkat dari Allah dan Kembali kepada Allah".

Artinya, Hanya dengan memutar ke belakanglah mekanisme yang paling tepat untuk menemu kenali titik keberangkatan kita - "irji'i ila robbi qirodiyatan mardiyah - kembali kepada TuhanMu". Hanya orang-orang yang kembalilah yang sukses menemukan titik berangkatnya.

Dalam Tradisi keronahian Islam atau yang biasa kita kenal dengan Terminologi Irfani, ada satu diktum terkenal yang menyebutkan, "man arofa nafsahu fa qod arofa robbahu - barang siapa yang menemu kenali dirinya maka ia berpotensi mengenali Tuhannya".

Menurut Prof. Dr. Sayyid Husain Nasser, seorang Guru Besar yang termasuk 200 Filosof dunia mengatakan, ada yang menarik ketika orang hendak mengkaji status ontologi Ego - Asal Usul Atau Diri, sebab selama ini ketika orang membicarakan Ego atau diri yang otentik, Rujukan kita akan tertuju Pada "Rene Descartes" - Cartesian dengan diktum terkenalnya, "Aku eksis karena aku berpikir". Tetapi, Nasser dalam salah satu perjumpaan mengatakan, sesungguhnya ketika kita hendak mengkaji ego otentik atau Asal Usul Manusia dalam perspektif status ontologis, maka Q.S. At Tin adalah salah satu Pintu masuknya".

Hadist yang Di riwayatkan oleh Imam Ahmad Bin Hambal, seorang sahabat Abu Dzar Al Ghifari bertanya kepada Rosulullah, "apa makna dari surat At Tin?. Mengapa Di dalam Q.S At Tin, Allah bersumpah kepada Alam 4 kali berturut-turut - "wat tini waz zaitun wa turusinin Wa hadzal baladil amin - aku bersumpah, demi Pohon Tin, demi Buah zaitun, demi bukit sinai dan demi kota yang penuh dengan keberkahan dan kedamaiaan (Mekkah)".

Lantas, apa hubungan sumpah Allah kepada Alam sebanyak empat kali dan di susul dengan informasi manusia, "lqod kholaqnal insanu fi ahsani taqwim - sungguh kami telah mencipta manusia dalam sebaik-baik penciptaan".

Di titik itulah, problem kita kebanyakan Memang harus di mulai dari cara kita menemu kenali diri kita. Kalau selama ini kita kerap terlempar keluar, mengangkangi diri kita yang otentik dan Menautkan diri pada Realitas eksternal, maka ramadhan kali ini kita niscaya merefleksikan kembali untuk menengok kembali ke dalam diri kita dan mencari diri kita kembali ke dalam diri kita.

Mengapa Allah Bersumpah kepada Alam 4 kali dan setelah itu Allah memberi Informasi tentang manusia?.

Nabi menjawab, wahai sahabatku Abu Dzar, Allah bersumpah kepada Alam sebanyak 4 kali sesungguhnya sesungguhnya sebuah simbol atau metafora untuk mewakili 4 tradisi kenabian : pertama, At tin adalah simbolisme suatu pohon, tempat dimana secara historis Nabi Zulkifli melakukan proses Transendensi, proses pensucian kerohanian diri atau bertahannus di bawah pohon tin dan di bawah pohon itulah Nabi zulkifli di daulat sebagai Rosul. 

Dalam studi - studi lingkungan, penelitian menunjukkan bahwa Nama Zukifli adalah nama Non Arabic. Namanya sesungguhnya adalah Zul dari Kota yang bernama Al Kifil berada di dataran india atau Kafilah Wastu. Siapakah tokoh besar yang lahir di Kafilah wastu india, yaitu Sidharta Budha Ghautama, yang pernah mengalami Pencerahan rohani dari Sang Yang Widi di bawah pohon Bodi. Jangan sampai Pohon Bodi itulah yang di sebut Pohon At Tin. Sebab, Dalam Q.S. Al Mukmin : 78, Allah berfirman, "laqod arsanal rusulan ming qoblik minhum mam qosasna alaik wa minhum man lam naksus alaik - sungguh muhammad, sebelum aku membentangkan dan membangkitkan engkau sebagai Rosul, aku telah mengutus rosul-rosul sebelum engkau, sebahagian rosul itu aku kisahkan kepadamu di dalam Al Qur'an dan sebahagian lainnya kami tidak kisahkan kepadamu".

Abu Dzar kembali bertanya, Ya Rosulullah berapa Jumlah Nabi dan Rosul yang tidak di kisahkan Allah di dalam Al Qur'an. Rosulullah menjawab, " Nabi-nabi yang tidak di kisahkan Al qur'an, tidak kurang dari 125 ribu orang". Makanya hindarilah Pemahaman yang menganggap kitalah yang paling benar dan satu-satunya jalan keselamatan menuju Tuhan.  Allah itu Maha kasih dan Maha Penyanyang. Itulah sebabnya jalan menuju Tuhan, sebanyak Nafas-nafas orang yang merindukannya.

Kedua, Az zaitun adalah simbolisme yang di nisbatkan kepada Nabi Isa yang terdapat di Palestina, yang sampai hari ini kita ketahui palestina adalah negeri yang memproduksi buah zaitun. Ketiga, Bukit sinai adalah simbolisme Kanabian Nabi Musa. Ke empat, Baladil amin adalah simbolisme yang di nisbatkan kepada Rosulullah Muhammad SAW.

Bagian yang paling menarik, kata Sayyid Husain Naser adalah di dalam risalah Al Qur'an, ada namanya sumpah. Ketika Allah bersumpah atas sesuatu, berarti sesuatu itu sangat penting. Ada penekanan, ada aksentuasi. Dalam Q.S. At Tin ini kita melihat bagaimana Pertautan antara Alam yang 4 kali berturut dan di susul dengan informasi hakikat cipta manusia.

Dalam studi-studi al qur'an kita mengenal terma Munasabah, dari kata Nasab - Kekerabatan atau hubungan kekeluargaan. Artinya, al qur'an bersumpah atas Nama Allah dan beberapa karakter alam, lantas di susul dengan manusia. Maka secara hakiki menunjukkan bahwa ada hubungan kekerabatan antara alam dan manusia. Salah satu jejak persaudaraan kita dengan Alam, mengalami keterpanggilan untuk kembali kepada asal usulnya.

Semesta dan manusia memiliki status yang beririsan. Maka di sinilah menjadi suatu landasan ontologis untuk mengungkap siapa aku?.

Dalam perspektif Filsafat, realitas semesta ini terdiri dari empat status ontologis. Realitas yang paling rendah di sebut, Alam Hamparan atau alam Terestia. Seperti bumi dan Planet-planet. Realitas kedua di sebut realitas intermidite atau alam antara (Cakrawala) - Cak Nur menyebutnya sebagai Kaki Langit. Diatas Alam antara, di sebut alam Selestia (Langit). Lapisan terakhir atau tertinggi dari semesta di sebut Alam Infinitum - Sidhratul muntaha atau realitas al mustawa - Lauful mahfudz.

Empat karakter lapisan alam semesta inilah yang mempertautkan Lapisan diri manusia, yang juga ada 4 lapis.

Lapisan pertama diri kita disebut dengan Tubuh, yang beririsan lansung dengan Lapisan alam yang pertama ; Terestia - hamparan bumi. Secara elementer, apa yang menjadi elemen-elemen semesta yang ada di bumi, juga ada pada tubuh kita. Kalau kita pernah bersentuhan dengan Tradisi filsafat kuno dari semua peradaban yang ada di bumi ini, maka kita akan menemukan satu kesimpulan bahwa elemen-elemen semesta yang ada di bumi ini ada empat lapis ; Api, air, tanah, udara. Karena bumi dan tubuh kita bertaut, maka Tubuh kita juga mengandung empat anasir ; Tanah - segala sesuatu yang kita makan. Air. Udara dan Api - darah kita.

Lalu naik ke lapisan kedua, ke level Cakrawala. Di titik ini, sudah bukan lagi Pertautan Tubuh. Melainkan pertautan rasio atau akal. Itulah sebabnya antara cakrawala dan Pikiran bersaudara. Makanya, kita kenal istilah cakrawala pemikiran. 

Level ketiga adalah langit. Bukan lagi Tubuh dan akal. Tetapi, lebih dalam dari itu. Langit bertautan dengan Anfus - Nafs atau Jiwa. Nafs memiliki tiga kategori, pertama Nafsul Mutmainnah, Nafsul lawwamah dan Nafsul amarah.

Lantas siapa diri kita?. Saya menegaskan sekali lagi, Hanya orang-orang yang mengetahui titik berangkat dan titik pulanglah yang mengetahui hakikat dirinya. Hanya orang-orang yang Berinnalillahi lah yang mengatehui dirinya atau yang biasa kita sebut dengan Fitri.

**


Puasa sebagai Sarana Pendakian Spiritual punya keterkaitan pada proses pencaharian Diri kita yang sesungguhnya. Saya kerap menyebutnya sebagai Transendensi Puasa atau Proses menemukan kembali pesan spiritual puasa.

Transendensi sesungguhnya Istilah Filsafat yang berakar dalam Tradisi Al Qur'an, yaitu Mi'raj. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Mi'raj adalah sebuah peristiwa Spiritual, tentang pendakian kerohanian.

Mi'raj sebagaimana yang tertuang Di dalam Q.S. Al Ma'arij : 3, di tegaskan oleh Allah, "Minallahi Dzilma ma'arij - yang berasal usul dari Allah lah yang mengalami Proses pendakian Spiritual (Mi'raj)". Artinya, Entitas atau sesuatu yang tidak berasal usul dari Allah, tidak akan pernah mengalami Proses pendakian Spiritual.

Hal ini menarik untuk kita Konstruksi secara dalam dan jauh, yang mana yang berasal dari Allah secara kategoris dan filosofis, serta yang mana yang tidak ber - asal usul dari Allah.

Pertama, tentu kita akan bertanya apa itu Transendensi atau Mi'raj?.

Ada sebuah hadist yang menyebutkan bahwa, "Assolatu mi'rajul mu'minun - Sholat adalah mi'rajnya orang Mukmin". Hanya saja kita harus lebih ke dalam melihat perspektif mukmin ini, tidak hanya sekedar memahami secara Letter late. 

tentu kita akan bertanya lagi, Siapakah Mukmin?. Sejauh ini kita melihat dan hampir semua tafsir ketika mencoba memberikan Penafsiran terkait dengan Diksi Mukmin dengan berbagai derivasinya : Mukminin, mukminat, yukminun, dst. Cenderung meletakkan mukmin sebagai Sesuatu yang bersifat Eksternal atau sesuatu yang berada di luar kita, seperti Manusia mukmin makassar, mukmin jakarta, mukmin sumatera, mukmin NTT, mukmin Kalimantan. Sehingga pengetahuan kita tentang mukmin adalah suatu entitas - Komunitas - Masyarakat - Bangsa - Negara. 

Padahal pesan Al Qur'an tentang kategori mukmin ini lebih kepada aspek spirtual. Mengapa?. Karena sholat sebagai sebuah media sesungguhnya berdimensi spiritual. Sehingga menjadi tidak logis, jika sholat sebagai sebuah media Spiritual bagi seorang mukmin, sementara yang melakukan Pendakian Spiritual - Mi'raj adalah sesuatu yang Non Spiritual.

Di titik inilah kita sudah mulai mengalami kemacetan Paradigma mengenai diksi Mukmin. Karena itulah, perlu kita kembali merekonstruksi bahwa semua diksi mukmin yang terdapat di dalam Al qur'an menunjuk kepada aspek yang berdimensi spiritual. Termasuk, syarat Mukmin pada perintah Puasa.

Lantas, Mukmin itu apa?.

Di dalam Tafsir - Tafsir metafisik atau Tafsir Isyari. Salah satunya adalah tafsir Risalatul Qusyairiyah karya Imam Qusairi di andaikan bahwa mukmin adalah AR RUH. Artinya, jika Al qur'an menggunakan diksi Mukmin, sesungguhnya menurut Imam Qusyairi, Allah sedang menyapa Ruh - Ruh yang sedang bersemayam di dalam pribadi-pribadi kita. Bukan eksternalitas diri atau sesuatu yang berada di luar diri kita. 

Itulah sebabnya, mengapa Puasa kita harus maknai sebagai suatu peristiwa Spiritual. Bukan cuma sekedar peristiwa Fiqih belaka. Jika cuman sekedar peristiwa Fiqih - Menahan diri dari tidak makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari yang di mulai dari terbentang fajar shodiq sampai jatuhnya ufuk di sebelah barat. Jika seperti itu cara kita memaknai puasa, maka sangat jauh kemungkinannya kita bisa meraih taqwa.

Mengapa demikian?. Salah satu ujung Puasa yang hendak kita capai adalah taqwa. Tetapi, selain derajat taqwa yang hendak kita capai. ada beberapa anggitan-anggitan atau Konsep-konsep yang harus kita bongkar kembali. Sebab, bertautan juga dengan Terma Fitrah, seperti Zakat Fitrah dan Idul Fitri.

Mengapa selain Taqwa, Fitrah atau Fitri juga berada pada ujung Puasa?. Hal ini tentu mengandaikkan kepada kita bahwa hanya manusia-manusia yang menemu kembali dirinya yang otentik - Fitrah yang dapat meraih derajat taqwa. Jika kita tidak berhasil menemukan Manusia yang Otentik atau Manusia yang asli (Diri Yang Fitrah). Maka, kita berpotensi gagal mencapai derajat taqwa.

Hal inilah kira-kira hubungan antara Transendensi - Mi'raj (Pendakian Spiritual) dan Menguak Misteri Manusia (menemukan diri yang Otentik dan Diri yang Palsu).

Di dalam Al Qur'an, kita mengetahui bersama bahwa Tujuan Puasa adalah Taqwa. Tetapi, taqwa itu apa?. Taqwa adalah Puncak kemuliaan. Dalam Bahasa Al-qur'an di sebut "Akram -  Mulia", bentuk super latif daripada kata "Karim". Ketika kita membuka Al Qur'an. Maka, hanya ada dua posisi "Akram" atau hanya ada dua pintu "Akram". Akram adalah Potensi kemaha-muliaan Allah yang di teteskan kepada orang-orang yang di kehendaki : Pertama, "Inna akramakum inndallahi Astqoqum - Potensi kemahamuliaan Allah, hanya bisa di teteskan kepada orang-orang yang terus membangun tradisi Taqwa". Kedua, "Iqro warobbukal akram - kemaha muliaan Allah sangat berpotensi di berikan kepada orang-orang yang mengkonstruksi tradisi membaca".

Artinya taqwa dan membaca inilah yang menjadi pusat setrum kesadaran kaum mukminin. Sebab, ketika kita mengabaikan hal ini, maka kita akan terpuruk dari segi peradaban. Tetapi, ketika kita memadukan antara tradisi taqwa dan tradisi membaca, maka dari titik itulah Peradaban bermula.

Ramadhan berdasarkan Nubuwah Rosulullah SAW mengandaikan bahwa, "Man shoma romadhona imanan wah tisaban, ghufiralahu ma taqoddama min tsambi - barang siapa yang bersungguh - sungguh menegakkan puasa ramadhan dengan iman dan mengkaji atau membaca dirinya. Maka dia berpotensi mendapatkan ampunan dari Allah".

Hal ini menarik, sebab ada pesan-pesan yang tersembunyi di balik nubuwah rosulullah dan pesan-pesan Al Qur'an yang selama ini enggan kita bongkar secara serius.

Bagaimana kita berproses atau melakukan pendakian spiritual atau Mi'raj?. Di dalam Al Qur'an di sebutkan, "Aqimisshola li dzikri - Dirikan sholat untuk mengingatku atau mengenangku". Apakah ingatan yang di maksud adalah ingatan yang berada pada intelektualitas kita?. Tentu tidak. Sebab, ada ingatan yang lebih sublim dan lebih Ilahi yaitu ingatan spiritual. Bagaimana mungkin Allah memerintahkan kita untuk mengingat sesuatu yang kita sendiri tidak pernah menyaksikannya?. Artinya kita pernah menyaksikan Allah Sebelumnya. Sebab, Hanya hal-hal yang pernah kita saksikanlah yang bisa kita ingat.

Luar biasanya Al qur'an karena ia memberikan informasi tentang Perjumpaan kita dengan Allah yang sekaligus mengandaikkan satu pesan penting yang juga tertuang di dalam Al Qur'an, agar kita banyak mengingat Allah, "Udzkuruni udzukurukum -  perbanyaklah engkau mengingatku, maka aku pun akan mengingatMu".

Jika demikian, diri yang manakah yang mengingat perjumpaan tersebut?. Di sinilah Allah mentarbiyah kita, bahwa ada satu peristiwa Peradaban Pasca Keabadian, yang kita sebut dalam risalah Al Qur'an, yaitu Ar Ruh. Dimana setiap ruh kita pernah berjumpa dengan Allah, "Alastu Bi robbikum, Qolu bala syahidna". Menurut Ibnu Arobi, salah seorang Teosof dalam Risalatul Qoul (Risalah tentang Cosmos - Assyajaratu Qoul - Pohon Semesta). Kata Qoul itu berasal dari kata "Kun - idza aroda syai'an ayyakulalahu kun fayakun". Ketika Allah di kepung oleh keMaha Tunggalannya, KeMaha Senyapannya dan KeMaha Sendiriannya. Maka, Allah berkeinginan menciptakan sesuatu di luar dirinya dan beliau hanya menyatakan Kun Fayakun.

Siapakah Kun dan siapakah Fayakun?. Menurut Ibnu Arobi, secara Ontologi ; Kun hakikatnya adalah Muhammad dan Fayukun hakikatnya adalah seluruh semesta - seluruh realitas (Malakut, jabarut, jin dan Ruh). Ihwal itulah, dalam salah satu Syair Puisi Gus Mus - K.H. Mustifa Bisro menyebutkan, "Muhammad, engkau adalah KunKu dan Aku adalah FayukunMu".

Ihwal itulah Nabi dalam sebuah sabdanya mengatakan, "Ana nurillahi wal mukminuna Minni - aku ini adalah manifestasi cahaya Allah yang melimpah ruah atau dalam bahasa Al Qur'an di sebut Sirojan Munira (cahaya yang terang benderang) dan mukmin itu adalah tetesan cahayaku".

Artinya, Sebagaimana yang saya sebutkan diatas, semkain menemukan arah yang jelas, bahwa Mukmin itu bukanlah sesuatu yang berada di luar diri kita - Eksternal. Melainkan Ar Ruh itu sendiri. Al Qur'an surat Al Hijir : 29 memberikan informasi, mengapa Mukmin itu Ruh?. Karena Ruh itu ber asal usul dari Allah, " fa idza sawwaituha Wa nafakhtu fi hi mirruhi - ketika aku telah menciptakan manusia secara sempurna, maka ku tiupkan ruhku kepada setiap pribadi".

AR Ruh adalah sesuatu yang bersifat Ilahi dan juga di sebut sebagai Mukmin. Dimana sandarannya?. Bisa kita cek Di Q.S Al Hasyar, " huwallahul ladzi lailaha illahu Huwal malikul quddusi salamul mukkinul muhaiminul azizul jabbaru mutakabbir". Mukmin itu adalah Yang Maha mempercayai dan memberikan kepercayaan. Kalau di kategorikan Mukmin sebagai salah satu Sifat Allah adalah MIM besar. Ketika Allah meniupkan ruhnya ke dalam diri kita, Mim besar ini mengalami derivasi atau penetesan cahaya menjadi mim kecil.

Di titik inilah, kata-kata mukmin dalam bentuknya yang paling beragam menunjuk kepada Ruh ; ya ayyuhaladzina amanu innallahu wa mala ikatu yu shollauna alan nabi ya ayyuhal ladzina amanu shollu alaihi wassalimu mutaslima - Wahai Ruhku, sesungguhnya Allah dan Para malaikatnya memberikan mandatori kepada Muhammad sebagai wasilah (penghubung) dan Wahai Mukmin-mukmin kamu juga harus berwasila menjadikan Muhammad sebagai wasilah".

Kalau hal ini kita bisa renungi dan Pahami. Maka bisa kita ketahui mengapa ujung Puasa itu di sebut sebagai Puncak Kemuliaan - Akram.

Apa yang harus di lakukan untuk mendapatkan kedudukan termulia?. Dengan melakukan transendensi - pendakian spiritual secara terus menerus, "minallahi dzilma ma'arij - karena hanya ruh kitalah yang berasal usul dari Allah", maka hanya Ruh lah yang bisa melakukan Mi'raj atau pendakiam spiritual.

Kedua, Al Qur'an memerintahakan kepada kita untuk rendah hati atau menemu kenali kembali hakikat diri kita dengan melihat alam semesta sebagai saudara kita atau kakak kita.

Perjumpaan antara yang Ilahi (Tinggi) dan paling terdalam (Ruh) inilah yang di sebut dengan Diri manusia yang orisinil, Otentik dan asli.  

**

Menemukan kembali diri yang otentik atau Ego otentik, merupakan Tradisi Kerohonian Yang tidak hanya di kukuhkan oleh seorang "Rene descartes" di sebuah kota kecil di belanda pada abad ke 17. Tetapi, juga di percakapkan secara sublim dalam Al Qur'an, bahkan Al Qur'an memberikan sebuah jejak Pembelajaran dan pencerahan yang sangat luar biasa kepada kita pada Q.S. Thoriq ; 1 - 7, Allah menebarkan satu informasi yang sangat dahsyat tentang ASAL USUL DIRI ATAU DIRI OTENTIK.


وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙ - ١

Demi langit dan yang datang pada malam hari.

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الطَّارِقُۙ - ٢

Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?

النَّجْمُ الثَّاقِبُۙ - ٣

(yaitu) bintang yang bersinar tajam,

اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌۗ - ٤

setiap orang pasti ada penjaganya.

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ - ٥

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ - ٦

Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar,


يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ - ٧

yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada.

Pada Qur'an Surat At Thoriq sesungguhnya, Allah Mengandaikan bahwa setiap manusia memiliki dua asal usul. Tetapi, sebelum Allah menyingkap Diri kita secara otentik, Allah bermain Kode, metafora atau Semiotika.

Semiotika atau kode hadir untuk menegaskan satu hal bahwa narasi-narasi biasa teramat sulit untuk mengungkapkan realitas yang sesungguhnya. Makanya, menjadi wajar jika banyak Filosof Kebingungan, bahkan Stres. 

Ketika kita ingin mengetahui diri kita, Ego otentik atau asal usul kita. Maka, berdasarkan Instruksi QS. AT thoriq, kita di perintahkan untuk memecahkan Tiga Kode.

Pertama, "Was ssama' - Demi Langit. Ada apa dengan langit?. Mengapa setiap orang yang hendak menemukan atau menelusuri hakikat dirinya, ia harus memecahkan kode Langit. Langit adalah simbol ketinggian - Assam'u - Salah satu karakteristik Dzat Ilahi - entitas tertinggi - yang Infinitum - sesuatu yang bersifat mulia dan agung.

Seolah-olah Allah hendakan mengatakan kepada kita, wahai manusia, ketika engkau hendak mengonstruksi kesadaran asal usulmu, ketahuilah bahwa Wassama' - Demi aku dan Demi Langit, sejatinya engkau ini adalah Elemen-elemen langit. Bukan bumi ini.

Maulana Jalaluddin Rumi sebagai seorang Sufi Mistik dan penyair di abad pertengahan mengandaikkan manusia Dalam selarik puisinya, "wahai Diri, mengapa engkau harus terjerembab di bumi. Padahal engkau bahagian dari elemen langit. Engkau memiliki sayap-sayap. Terbanglah dan jangan engkau terpuruk di muka bumi ini".

Kedua adalah "wa ma adroka ma thoriq - demi malam yang Penuh dengan misteri". Memang malam, dalam Pengkajian Post modern mengalami destruksi pemikiran. Karena, konotasi malam dalam Posmo identik dengan kedurjanaan ; Manusia malam, bahkan Mahluk paling eksotik seperti kupu-kupu saja di sematkan dengan malam, menjadi hancur leburlah. Makanya ada distorsi tentang malam yang kita temukan dewasa ini. Padahal Diksi malam dalam Jejak Al Qur'an  merupakan wadah, dimana setiap orang dapat menemukan dirinya yang otentiknya. Sebagaimana Al qur'an menegaskan, "wa minal layli fathajjada bihi na fil latalka asa ayyaba atsaka robbuka maqoman mahmuda - hendaklah engkau merebut dua pertiga malamku, tegakkan sholat tahajjud dan engkau akan menemukan kebajikan yang tak terper-maknai dan engkau aku dudukkan bersama orang-orang istimewa".

Ketiga adalah "Annajmu tsakib" - bintang yang berpendar cahayanya. Ada apa dengan bintang?. Tidak ada bintang yang bersinar di siang hari. Sebab, Bintang kedirian kita hanya akan bersinar di malam hari. Ketika kita ingin menemu kenali diri kita yang otentik, maka akrab-akrab dengan malam. 

Ketika kita bisa memecahkan tiga kode ini. Maka sebenarnya hakikat diri kita adalah sesuatu yang langit, sesuatu yang penuh dengan misteri.

Allah memberikan informasi tentang Asal usul kita yang pertama adalah "Ingkullu nafsin alaiha hafiz - Ketahuilah di dalam dirimu ada Hafidz". Secara Harfiah hafidz itu adalah penjaga yang sangat kokoh, penjaga yang tidak bisa di negosiasi, penjaga yang tidak bisa di bohongi dan tidak bisa di instruksi.

Apa itu Hafidz? Dialah Ar - Ruh. Apa itu Hafidz? Dialah "Minnalahi Dzilma Ma'ari. Sesuatu yang berasal usul dari Allah. Hafidz dalam berbagai kajian Epistemologi islam, di sebut dengan Ar Ruh. Dalam Q.S. Al Hijr : 29, Allah menyatakan, " fa idza sawwaytuhu wa na fahktuh fi hi min ruhi". Karena dia adalah sesuatu yang di tiupkan oleh Allah, maka dialah yang berasal usul dari Allah. Dialah Mukmin - Entitas kepercayaan dari Allah yang di teteskan kedalam diri kita.

Dalam tradisi mistik Islam, Ruh inilah di andaikkan sebagai sesuatu yang Ilahi - Tajalli ilahi. Karena Ruh berasal usul dari Allah. Makanya di sebut Al Aslu - al asli. Lalu,  di transmisi ke dalam bahasa indonesia menjadi Asal Usul dan dari asal usul inilah kata Asli itu muncul.  Artinya diri kita yang asli atau yang otentik adalah AR RUH - ELEMEN LANGIT YANG DI ANDAIKKAN MAULANA RUMI. 

Di dalam diri kita ada sesuatu yang terus memperingatkan kita, mengistruksi kita, jika kita membelot dari pesan-pesan ilahi, pesan-pesan Kenabian. Itulah diri kita yang asli, diri kita yang otentik - Ego yang Asli. 

Sebelum kita mengakhiri puasa, kita di berikan beban syar'i, tetapi bermakna spiritual yaitu zakat fitrah - suatu bentuk negosiasi kepada Allah, bahwa aku sukses menemu kembali diriku yang sesungguhnya, diriku yang otentik dan orang yang berhasil menemu kenali dirinya yang otentik inilah yang Berhak Merayakan (Idul Fitri). Sebuah perayaan Tentang kembalinya seorang Mukmin, yang selama ini di kepung oleh Simulacrum - simulacrum atau jejak - jejak tanda yang bersifat eksternal atau dalam bahasa yang lebih halus kepalsuan-kepalsuan. 

Makanya, Puasa ini seharusnya di maknai secara mendalam sebagai sarana Pendadaran diri dari Tradisi-tradisi kepalsuan yang mengepung kita selama ini. 


Makassar, 15 Maret 2024


*Rst

*Pejalan Sunyi

*Nalar Pinggiran

Rabu, 28 Februari 2024

- TIMBAL BALIK ; SALAHKAH POLITISI - POLITIS ITU -

Manusia hidup dalam Ruang sejarah, Dimensi waktu. Setiap masa memiliki Nilai zamannya. Setiap era punya kisahnya sendiri. Punya tema besar. Jika tidak salah setiap gerak gerik Manusia di hubungkan dengan tema besar tersebut. Bahkan perilaku binatang pun di hubung-hubungkan.

Di Tahun politik, Seluruh tingkah laku kita kerap di hubung-hubungkan dengan apapun. Ucapan atau diksi yang kita pilih, kedipan mata kita, nyanyian yang kita nyanyikan, gerak gerik jemari kita, jumlah kodok di rumah kita kemudian dikalikan dengan jumlah ayam lalu dibagi dengan angka tertentu dan akhirnya dapat angka tertentu. Selanjutnya di kaitakan dengan Kandidat tertentu. Bahkan berapakali kita kentut di suatu malam akan di hubung-hubungkan dengan kontestasi itu.

Melabelkan Fakta sosial (Politik) dengan warna, mungkin hanyalah kategorisasi. Agar apa?, Biar orang mudah dalam menentukan identitas warna tersebut dalam melakukan analisis. Namun perlu juga di ingat. Persoalan warna tidak melulu soal politik. Dalam hidup ini, persoalan estetik selalu jadi pertimbangan seseorang dalam memilih warna. Acap kali saya menegenakan Baju Hitam, celana Hitam, topi Hitam, Sepatu Hitam dan kulit hitam Manis, Itu juga di hubung-hubungkan dengan Warna Parpol dan kandidat tertentu. Bung Karno pernah berujar, "apa yang telah di sepakati dalam politik, jangan lagi di perdebatkan secara estetik".

Pesan dalam politik tak pernah nampak secara terang di halaman depan. Selalu di wakilkan oleh simbol-simbol samar, atau di bungkus dengan kalimat-kalimat bersayap. Selebihnya, maksud dan kepentingan kerap di bicarakan secara tertutup, di bincangkan diam-diam, atau di sampaikan lewat bisik-bisik. Dimana?, seperti rumah, politik juga punya ruang-ruang gelap, dimana tempat segalanya diletakan diatas meja, lalu dibahas secara utuh dan tuntas.

Misalnya, Nasi Goreng Di Apong atau Ulu Juku di Racing Center. Yang gamblang terlihat hanyalah pertemuan dan menu makan siangnya, tapi isi obrolan, topik yang dibicarakan, lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah remahan kode-kode tersirat yang terbang tinggi entah ke mana alamatnya dituju, bersama kalimat-kalimat bersayap di hadapan awak media. Lalu, apa yang tertinggal setelahnya?. publik yang riuh menebak-nebak dan pengamat warung kopi yang sibuk menyusun tafsiran.

Mengarungi politik memang selayaknya menyusuri rimba belantara dengan panduan peta buta. Keliru membaca, bisa-bisa celaka menanti dimuka. Karenanya, pandai-pandailah menebak kode. Itulah sebabnya dulu kerap kali saya menyampaikkam bahwa "Politik itu- Naskahnya dapat ditulis, namun segala sesuatu dapat berubah dilapangan. Detik-detik terkhirlah yang paling menentukan. Karena Politik bukanlah Dunianya Albert Einstein, dimana E = Mc2. Bukan pula Dunia Mekanika Kuantumnya Stephen William Hawking, yang bagaimana pun rumitnya, tetap berjalan dalam rel sebuah rumus.

Jika kita menelisik, Dalam konsepsi sosiologi politik, ada sebuah teori yang diperkenalkan oleh Earving Goffman, Teori Dramaturgi. Asumsi dasarnya, sederhana, dalam sebuah interaksi sosial (politik), selalu ada panggung depan dan panggung belakang.

Penonton yang riuh lebih sering terfokus pada panggung depannya. Menonton dan menyeksamai mereka yang sedang melaksanakan tugas mereka sebagai politisi. Padahal Politik ialah dunia yang sangat dinamis, bergerak dalam ritme yang tidak terdeteksi. Ada panggung depan, ada panggung belakang, bermusuhan kemudian berangukulan, saling Kandatto (Jitak) lalu saling elus. Maka sudah seharusnya dihadapi dengan humor tinggi.

Pertanyaanya, "Salahkah mereka?". Jawabannya, "Tidak". Sebab, hal itu keniscayaan dalam politik praktis. Hitung-hitungannya pasti ada. Ujungnya adalah pragmatisme. Tidak ada yang mau merugi seutuhnya. Karena mereka sedang melaksanakan tugas, apalagi tugas yang dilindungi undang-undang. Tugas yang bertujuan untuk kemaslahatan ummat. Sehingga tidak salah dalam melaksanakan tugas itu, kata-kata yang sering kita dengar adalah Untuk rakyat, demi Rakyat, atas nama Rakyat.

Sedangkan kita?, Kita terlena, terbawah amarah, kadang Gigi gemeretak. juga air mata bercucuran. Jantung berdetak berdegub kencang dan Menangis. bahkan kadang membuka lembaran-lembaran suci untuk merepresentasikan rasa hati. Mengutip khazanah-khazanah lama, terkadang menghubung-hubungkannya dengan tanda-tanda alam empirik, pun tidak jarang mentamsilkannya dengan mimpi semalam.

Kontestasi politik itu, rutinitas. Ia bukan persoalan kalah dan menang. Dalam bahasa "Paulo Coelho" : hidup bukan tersebabkan oleh kalah dan menang, tapi karena perubahan. Dalam bahasa teologis (Al-Qur'an) : janganlah membenci berlebihan, suatu masa kamu akan menyukainnya. Pun jangan terlampau mencintainnya, mana tau pada suatu masa kamu akan kecewa. Manusia itu selalu berubah. Tempatkan mereka pada posisi sepantasnya dan semestinya.

Politik praktis itu ibarat minum kopi susu. Walau antara kopi dan susu itu berbeda warna. Tapi, mereka bisa berbaur dan menyatu. Hasil yang kita reguk pun, terasa asyiek dan nikmat. Sehingga, janganlah terlampau tegang sekali. Secara Praksis Politik itu realitas yang paling rasional, kalkulasinya juga jelas. Bukan realitas emosional.

Dalam pendekatan fungsional, Teori sosiologi : sebuah entitas akan senantiasa mencari "keseimbangan". Equilibrium, istilah lainnya. Biasannya, setelah kontestasi berlansung, mereka akan mencari keseimbangan. Untuk mencari peluang melaksanakan tugas mereka dimasa mendatang. Begitu terus pola yang terjadi dalam interaksi politik hingga upin ipin lulus kuliah.

Perdebatan akan usai, semua berjalan dengan damai. Dulu kamu bilang mereka bersitegang urat leher, tangan mereka dikepal. Sekarang justru bertolak belakang. Jangan bingung, biasa saja. Politik itu kompromi. Kompromi itu terkadang (Hampir) tidak butuh pertimbangan-pertimbangan historis-ideologis. Kalaupun itu ada, sudah jadi barang langka. Kompromi dalam dunia politik, lebih mengedepankan pertimbangan pragmatis. Tidak tahukah kita, bagaimana diksi paling umum dalam dunia politik; " siapa yang mendapatkan apa, bagaimana dan kapan".

Ihwal itulah, jangan terlalu fanatik dan juga terlalu benci. Hidup ini tidak stagnan. Demikian juga dengan harapan. Ketika kita berharap terlalu tinggi kemudian dibungkus dengan rasa Fanatik yang berlebihan, Suatu saat mereka yang kita harapkan mengecewakan kita. Demikian juga sebaliknya. Orang yang kita tidak sukai, jangan dibungkus dengan, aroma kebencian, karena mana tahu, suatu ketika mereka justru yang membuat kita jatuh hati. Mengutip Igauan Imam Ali, "Jangan menghakimi orang lain hanya karena dosanya berbeda dengan dosamu".

Bersemayam dibathin dan raga kita, akan sembuh. Bila dokter, yang umumnya tidak banyak bicara, menyarankan beberapa buah obat untuk satu penyakit. Justru penjual obat yang biasa kita nikmati kampanyenya tersebut, menyarankan satu buah obat untuk seluruh penyakit. Semua orang terhipnotis. Bahkan orang yang terkagum-kagum mengelilinginya. Dengan sukarela, dompetpun dibuka dan obat dibelinya, uang berpindah. Resep tidak ada, petunjuk pun sederhana. Yakinlah, tidak akan ada yang bertanya, memangnya si penjual obat dulu sekolohnya dimana?. Demikian pula; Pilihlah dirinya, coblos gambarnya. Seluruh masalah bangsa teratasi semuannya. Kita jarang bertanya, ia bagaimana?.

Secara teoritis, dalam kajian etika politik; kekuasaan yang didapatkan seharusnya diarahkan untuk kemaslahatan ummat, walau bertentangan dengan motto atau slogan yang selama ini diusung dan ditawarkan. Dalam konteks ini, teringat kita dengan Deng xiao ping : "jangan perdebatkan warna kucing, bila ia pandai menangkap tikus. Pelihara dan gunakanlah".

Sementara itu, dalam interaksi politik praktis ketika ingin merengkuh kekuasaan. Seluruh potensi isu yang ada dimanfaatkan secara maksimal sekalipun tidak mendidik, seperti ; anti asing, anti aseng, anting asong, relasi dan sejenisnya. Padahal dalam praktek dan rekam jejak historisnya, mereka menjadi bagian itu semua.

Akhirnya, mari kita merenungkan pernyataan orang terkenal dan besar asal Prancis, pasca perang dunia ke Dua, Charles de Gaule, " politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut jika Rakyat mempercainnya".

Bulan - bulan ke depan dan bulan-bulan sebelumnnya adalah bulan-bulan dimana kita sebagai "penonton" dan sekaligus "pemilik mandat", tinggal kita saja, yang mau belajar atau tidak dari seluruh peristiwa politik yang terjadi.

**

Coba kita lihat pertarungan parpol-parpol di luar sana. Di ujung dari public discourse, yang mereka lahirkan adalah aspek kognitifnya. Jadi, di ujung dari perdebatan politik, ada semacam struktur nilai yang masuk ke ruang-ruang publik untuk tujuan mencerdaskan. Menggahar pengetahuan dan pendalaman tentang pokok substansi. Mereka meributkan program. 

Di China sudah selesai dengan komunisnya, di Amerika sudah selesai dengan neolibnya. Antara demokrat dan republikan, mereka sudah selesai dengan dikotomi isme-nya. Yang mereka ributkan adalah program konkret dengan corak masing-masing. 

Di negeri sudut pandang kamera, justru mempertajam benturan ideologi sentris. Pancasila dianggap belum selesai. Sebuah kontrak sosial politik yang gagal. Lalu, ada upaya amandemen terhadap ideologi bangsa. Malah yang terjadi adalah penyimpangan. Malpraktek ideologi.

Dalam politik yang gladiatoris, kemanusiaan seharga di bawah telapak kaki. kebenciaan dan balas dendam, di kibarkan. Adu kuat dan sorak sorai atas kelemahan dan kekalahan lawan menjadi bagian inti yang di terima. Saling membantai dengan cara yang kejam menjadi sesuatu yang permisif. Bahkan di anjurkan sebagai akhir dari tontonan dalam koloseum.

Akhir-akhir ini purbasangka publik tengah menyala-nyala. Ulama di bantai, ustad dianiyaya, pendeta di jegal. Cuman sayang; nalar investigasi Negara hanya sampai pada spekulasi orang gila. Sadis, jika kita ingat teori koloni ke 5 bahwa lemahnya kekuatan intelejen Negara menjadi ciri utama hancurnya Negara tersebut.

Politik bukan seperti koloseum gladiatoris. Tontonan kekejaman Marcus Aurelius Comodus Antonius Agustus, Penguasa Roma paling kejam, yang berkuasa sejak 180 M hingga 192 M. setiap hari dan kepada semua, Comudus menumpahkan kebencian. semua cara di halalkan demi ambisi dan kemarahan. Berbeda dengan oposannya Jendral Maximus. sosok yang selalu meletakkan kata maaf dan kemanusiaan di ujung pedangnya dengan harga kemanusiaan yang begitu mulia.

Berbeda itu biasa saja. pertentangan juga biasa saja. menganggap pertentangan sebagai tujuan, pada hal saya menganggapnya sebagai dialektika. semua adalah proses menuju pengetahuan, pencerahan, partisipasi dan pemihakan.

Silahkan cari pada kolong langit ini bahwa Insights selalu lahir dari pertentangan yang dialektis. Jika anda-anda masih menganggap pertentangan itu seperti baku hantam. maka, kita perlu kursus, kuliah ulang supaya bisa belajar politik. Sebab, kami sudah loncat "beyond the mainstream" menuju "the deepening of politcs. dimana nilai merupakan alat mencapai tujuan "walfare society". Itulah mengapa beda Tukang politik dan politis.

Berkenaan dengan itu, saya ingin menggaris bawahi sebuah hal yang penting, menurutku, bahwa Sekularisasi sebagaimana pemikiran Cak Nur. berbeda dengan konsepsi gerakan sekularisme yang ingin melepaskan politik dari dominasi dan ortodoksi agama di eropa pada abad 18-19 M.

Sekularisasi dalam perspektif kontemporer Cak Nur adalah suatu pemikiran tentang kosmopolitanisme islam. menghela cara pandang teologi islam yang vertikalistik menjadi lebih kosmopolit. Dengan demikian, kesadaran keberislaman mampu mengaktualisasikan segala dimensinya nilainnya ke segala tatanan dunia baru.

oleh karena itu, saya ingat Frasa bijaksana ini adalah petuah Nene’ Mallomo, cendekiawan Sidenreng abad 16 M, yang saya jadikan sebagai filosofi hidup. Sekaligus platform politik. Petuah ini selalu mengejawantah dalam pratek politik saya, sebagai sebuah relasi. Bukan sebatas momentum. 

" Takkan mati kejujuran itu, takkan runtuh yang datar, takkan putus yang kendur, takkan patah yang lentur.”

Politik bagi saya, dipahami sebagai relasi timbal balik dalam ekosistem yang luas. Karenanya, politik selalu hadir bersenyawa dalam interaksi yang panjang dan menyejarah. Yang kemudian mengkristal dalam momentum-momentum. Di titik itu, momentum hanyalah akibat kausal dari sebuah proses yang panjang. Bukan sesuatu yang disulap sekejap seperti mengerjakan Candi Prambanan. Apakah kau paham hal itu, kawan?. 


Makassar, 12/02/2020

*PUSTAKA HAYAT
*PEJALAN SUNYI
*ISLAM PROGRESIF
*RST
*NALAR PINGGIRAN



WASPADAHALAH PANCAROBA KONSITUEN ; SO, INDONESIA MENGANUT VOLTUNARY VOTING (JANGAN GOLPUT)

 

Tadi seseorang Kawan tetiba berbicara Soal Hak, yang membikin Hati orang yang berpikir waras, menjadi Remuk redam. 

Kawanku ini, agaknya tak pernah Membaca Peringatan "Minke" Dalam "Bumi Manusia" Pramoedya, bahwa Segala Hak yang berlebihan adalah PENINDASAN. 

"Wiji Thukul" Penyair yang Tak akan Pernah Kembali itu, hanya Punya satu Kata Untuk Segala Jenis PENINDASAN, YAITU LAWAN 🔥. 

Sebagai Kawanmu, saya ingatkan kamu, bahwa "Orang Yang Kamu Pilih saat Kontestasi Demokrasi adalah Dia Yang dengan Sirene polisi menyuruhmu Minggir di jalan Raya. 

Kawanku, Yang tak tertangkap statistik adalah getar denyut di nadi warga yang telah lama bergerak dalam diam. Hal itu mustahil terpotret dalam keriuhan buzzer dan influencer : Ia dengung bersambut yang hanya bisa dirasakan melalui desir angin, Yaitu ANGIN PERUBAHAN.

Makanam saja untuk matang, perlu dimasak. Bahwa untuk berhasil, manusia perlu berusaha. Bahwa untuk sukses, seseorang harus menginvestasikan tenaga dan waktunya. Ini adalah sunnatullah yang berlaku untuk semua makhluk Allah, muslim maupun tidak.

Ada sunnatullah di alam semesta. Namun kita cenderung terpesona dengan kisah-kisah yang membuat kita terlalu bertumpu pada keajaiban. Pada mukjizat. Padahal, seluruh hidup Rasulullah SAW itu dihias dengan ikhtiar manusiawi yang begitu besar. Tetapi kita lalai melihat dimensi tersebut. 

Untuk memenangkan pertempuran Badar, Rasul tak sekadar menunggu kabar dari langit. Beliau bermusyawarah untuk menentukan tempat strategis. Beliau atur langkah pasukan untuk mencounter serangan. Bahkan Rasul memilih posisi yang secara apik membuat sinar matahari tidak menyilaukan buat sahabat.

Namun setelah semua ikhtiar itu diusahakan, Allah menyempurnakan dengan turunnya hujan rintik yang menegakkan langkah. Allah sempurnakan dengan hadirnya rasa kantuk yang melegakan di malam sebelum tempur.

Jika dilihat, Polanya sederhana; ikhtiar manusiawi sebagai mukaddimahnya. Kemudian pertolongan Allah akan hadir dengan kemenangan.

Ihwal itulah yang membuat dalam berbagai sejarah umat islam, jumlah yang sedikit tapi serius dalam imannya dan serius dalam manajemennya bisa menang. 

Tahukah Kamu?. Sebelum "Musa" menjadi pembela keadilan yang kokoh dan membawa obor perubahan. Ia dididik lansung di bawah jemari Fir'aun, di suapi lansung oleh raja diktator itu, dan hidup di bawah bayang-bayang istana mesir yang megah.

Tahukah kamu?. Sebelum namanya menjadi Madinah Al Munawwarah - kota itu bernama Yastrib, sebuah daerah kelam penuh dengan peperangan dan tanah dimana Yahudi mengepakkan sayap keangkuhannya. Kini, Madinah menjadi Primadona yang di rindukan Milyaran Muslim untuk menziarihinya.

Allah itu digdaya, dia dengan mudahnya memenangkan semua pertempuran dan menolong hamba-hambanya melawan musuh mereka. Namun, Allah sang Kreator Skenario terbaik menginginkan lebih dari hanya sekedar menang. Allah sengaja, memberi kita panggung sejarah ; bahwa Musuh yang berusaha meluluhlantakkan kita, malah merencanakan kekalahannya sendiri dengan perbuatannya.

Semua itu agar menjadi pengingat bagi siapapun yang mentadabburi kisah-kisah kaum muslimin ; bahwa para pendengki dan pembenci bisa saja merencanakan makar terkuat, tapi ketika mereka merasa diatas angin, sebenarnya Allah sudah meliputi mereka dengan genggamannya, "Padahal Allah mengepung dari belakang mereka." (Al buruj ; 20).

Dalam Al qur'an, skenario Maha agung itu terbentang dalam kisah "Yusuf". Semua makar di lakukan oleh saudara - saudaranya ; berbohong, berkhianat, berkonspirasi atas kejahatan mereka pada Yusuf.

Namun di akhir kisah, Justru Allah befirman dengan gagahnya, " Kadzalika Kidna li Yusuf - demikianlah kami mengatur rencana untuk Yusuf," (Yusuf ; 76).

Olehnya, Tidak ada kemenangan yang layak dikenang sejarah, yang tidak dimulai dengan kerja keras dan perjuangan yang berat. 

Kita telah bertumbuh dari keterbatasan, lalu berkembang dari setiap jengkal kerumitan. seperti itulah jalan hidup yang kita lewati dengan segala keindahannya. 

Kita yang telah berkali-kali diterjang badai, apakah gentar dengan sekadar cipratan gerimis? Tidak, Sayang. Sama sekali tidak!. 

Perjuangan memang butuh kesabaran. Karena itu, Simpan semua kemarahanmu, simpan segala luka dan dukamu, lalu bawa serta semuanya nanti di Tanggal 14 februari di bilik suara, pastikan dengan jelas, bahwa ; Kita berpihak kepada tegaknya demokrasi, kepada Cita - Cita reformasi!. 

Setiap anak muda harus mengambil peran. Percayalah, generasi akan berganti. Hal Itu adalah sunnatullah. Tetapi setiap generasi punya determinasi akan menjadi apa mereka dalam lingkaran siklus sejarah ; Menjadi generasi yang pro pada status quo atau berani memecahnya dan menciptakan kisah baru. 

Kepada siapapun yang berada di persimpangan. Gelombang selanjutnya akan datang. Tetapi, kita belum tahu, apakah ia gelombang yang mengantarkan kita pada Palung atau mengantar kita pada puncak gulungannya. Apapun itu jangan pernah Kehilangan HARAPAN. 

Mari menelusuri rantai panjang perjalanan Peradaban Bangsa ini, ia saling bertautan dan berkelindan. Apa-apa yang terjadi di masa depan amat erat kaitannya dengan masa lalu.  

Milineal dan Gen Z harus diajak berpikir agar lebih banyak belajar dari peristiwa masa lampau, di lekuk naik masa jayanya dan sebab kemunduran bangsa kita. 

Sejarah banyak mengajarkan kita tentang nilai-nilai penting. Jika Ia ditakdirkan memiliki lisan, mungkin Ia akan berkata lirih pada kita semua, “Di masa lalu, telah hancur beberapa sendi nilai Kehidupan karena ini dan itu, kalian jangan mengulanginya, agar ke depan kalian tak mewariskan bangsa ini dalam keadaan hancur berkeping-keping"

Mempelajari setiap lekuk sejarah bangsa ini, bukan sekedar mempelajari tanggal dan tahun, kapan lahir, siapa tokoh-tokohnya. Lebih dari itu, ia adalah cara kita menyelidiki masa lalu, mengambil pelajaran dari kejayaannya, agar kita bisa mengulangi kegemilangan, prestasi sekaligus menghindari sebab-sebab kemunduran. 

Langit yang menaungi kejayaan bangsa ini dahulu, adalah langit yang sama yang menaungi dunia kita sekarang. Pun mentari yang cerah benderang menerangi kita kini, adalah mentari yang sama yang menemani awal perjuangan para pendiri bangsa Ini. 

Dalam genggaman semua orang yang berikhtiar adalah kewajiban manusiawi memenuhi semua persyaratan kemenangan. Setelah itu yakin bahwa pena Tuhan sedang menulis taqdir untuk menjadi seseorang yang akan mengubah alur sejarah. 

Yakinlah bahwa Di jalur yang benar, mungkin engkau akan terjatuh berulang - ulang. Tetapi, selama engkau masih mau berjalan, engkau pasti akan sampai ke tujuan. 

Para nabi dan Rosul Tuhan, mewariskan Nilai - nilai profetis sebagai mental model kepemimpinan. Basis Nilai kepemimpinan, seperti Kecerdasan, amanah, Jujur dan Humality di gerakkan oleh sumber paling tinggi dan infinity, yakni ILAHI. 

Nilai - Nilai kepemimpinan di maksud adalah nature atau Fitrahnya Manusia.  

Semakin dekat seseorang Pada TuhanNya, ia makin lekat pada Naturenya. Makin mengayomi, inklusif dan merdeka dari semua batasan primordial yang Kaku. 


**


Memilih adalah hak tiap warga Negara. sehingga tidak ada konsekuensi lansung berupa sanksi, jika mengabaikkan hal itu (tidak memilih).

Namun Apatisme ; mengabaikkan hak konsitusi sebagai konsituen, merupakan mimpi buruk bagi Negara yang masih berumuran remaja dalam system demokrasi.

Setiap entitas yang hidup di alam demokrasi, hendakanya menjalankan peran sinergi untuk saling mencerdaskan. Kata Nabi “pemimpin adalah cerminan atas orang-orang di pimpin”. Pesan Nabi beberapa abad silam mestinya menubuh, menyejarah dan merasuk ke jantung kesadaran kita.

Gairah berdemokrasi, membangun sistem terbaik sebagai corong aspirasi sekaligus ujung tombak kebijakan pada akhirnaya mengalami stagnasi. Dinamika ini akhirnya di persepsikan sebahagian orang, sebagai panggung sandiwara kekuasaan yang lebih banyak di akhiri dengan dramaturgi.

Di pesta demokrasi, kita menyaksikan beberapa orang unjuk kebodohan. Soal demokrasi elekoral, ini soal-soal kepastian. orang-orang mengkapitalisasi kemenangan berdasarkan prediksi-prediksi metedologis. bukan klaim, bukan dukun, ramal sini, ramal sana. Bayangkan dengan klaim mereka berpuas diri. mengkompenisasi kegundahan terhadap keunggulan lawan politik dengan mengklaim. padahal politik sekarang secara praksis di lapangan mengalami saintifikasi. Jadi, tukang politik mengira kita rakyat merupakan objek mati yang tergelatak begitu saja, bahkan kosong melompong tidak punya pikiran terhadap suatu fakta atau opini publik.

Mereka lupa bahwa kita rakyat punya local genius atau naturally genius yang membuat kesadaran politik kita tumbuh secara alamiah.

Rakyat itu bukan pemilih. Tetapi, konsituen. Ada hak-hak konsitusi kita yang perlu di advokasi melalui politik anggaran dan pembangunan. Politik itu alat memperjuangkan keadilan, kebenaran dan keberpihakan pada rakyat. Jadi, bukan ajang main-main atau cari pamor apalagi sampai olah mengolah. Itulah kenapa beda tukang politik dengan politisi.

Dimana-mana, peramal atau semacam dukun pilkada itu pake metode kebetulan. Jadi, persis seperti 10 batu, yang di pakai melempar tiang listrik. Jika salah satu batu menyasar tiang listrik, itu dianggap kepastiannya. padahal kebetulan. Kalau kepastian itu, tidak bermain-main dengan banyak kemungkinan. tingkat toleransi terhadap kesalahan terlalu besar.

Berbeda dengan suatu survey public (QC) ; semakin besar presentase margin of error. maka, semakin jauh sampel tersebut mewakili populasinya. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil presentase margin off error. maka, semakin besar sampel mewakili populasinnya.

Jadi, jika selisih elektabilitas paslon A dan B beda tipis dan masih dalam presentase margin of error. maka, jangan bilang bahwa paslon A berpontensi menang. Apalagi respon rate dalam survey terbilang kecil presentasenya. Itu artinya kredibilitas data di persoalkan, belum mendekati fakta lapangan dan itu berpengaruh pada besaran margin of error.

Diam bukan berarti tidak bersikap. Bisa jadi mereka yang diam, tidak mau masuk wilayah perdebatan A sampai Z. Bisa jadi mereka yang diam itu menggerutu dan berkata ; semakin kalian tawar maka, semakin kita membeli, berapapun harganya. "Hati-hati dengan mereka yang tidak menentukan sikap". Merekalah yang di namakan swing voters.

Belajar pada kasus pemilihan presiden amerika Serikat, seluruh lembaga survey Amerika serikat. Dari CNN. cc. DetikNews. Hampir semua bersepakat bahwa Hillary Clinton akan menang. Padahal lembaga-lembaga Survey di Amerika tersebut canggih-canggih. Metedologi mereka teruji. Tapi, dalam perilaku politik (political Behaviuor) dan perilaku memilih (electoral Behaviour), selalu ada yang membuyarkan prediksi.

Siapa mereka?. Mereka yang meyatakan "Diam". Nyatanya " Donald Trump" yang setiap hari di Bully luar biasa itu, menang. Padahal jauh-jauh hari opini telah terbentuk bahwa Trump itu "memuakkan". Post Factum (setelah Fakta berlansung), seluruh lembaga survey bersepakat mengatakan, bahwa Trump di menangkan oleh mereka yang selama ini berada dalam posisi yang tidak masuk dalam hingar bingar, caci maki dan perdebatan yang tidak berkesudahan, yang menghiasi suasana politik Amerika serikat menjelang pilpres. Mereka itu adalah Swing Voters. Iya, pemegang hak pilih yang diam itu.

Hati-hati dengan mereka.!.

Dalam psikologi politik ; semakin harapan mereka di sudutkan, semakin mengkristal militansi mereka. Dan mereka akan "membalasnya" di bilik suara, hanya dalam hitungan detik.

Saya hanya ingat apa yang dikatakan Sayidina Ali Bin Abi Thalib, pendapatnya dapat di gunakan oleh pihak yang Anti A dan Pro A (tergantung bagaimana memaknainya saja) ; bahwa "kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan di kalahkan dengan kebathilan yang terorganisir".


Makassar, 12/02/2024


*Islam Progresif

*Pejalan Sunyi

*Muslim Intelektual Profesional

*Nalar Pinggiran

*RST




Minggu, 11 Februari 2024

IMPLEMENTASI MAQOSYID SYARI'AH DALAM KOALISI POLITIK

Transisi demokrasi di indonesia tahun 1998, sebenarnya tidak murni di inisiasi atau di dorong oleh masyarakat indonesia. Tetapi, efek global yang di lakukan oleh AS dan negara-negara Eropa, persis setelah Uni Soviet runtuh di tahun 1990 an awal. Gerakan ini di mulai di semua negara-negara bekas Uni Soviet, mulai dari Eropa Timur, Asia Tengah, Masuk Asia selatan dan akhirnya gerakan tersebut sampai pada kita di indonesia.

Sayangnya ada satu kawasan yang tidak terlalu tersentuh oleh proses demokratisasi yang terjadi pada waktu itu, yaitu Timur tengah. 12 tahun setelah proses demokratisasi yang terjadi,  barulah masuk ke kawasan timur tengah dengan peristiwa Arab Spring.

Makanya model demokrasi yang kita terapkan di indonesia adalah model demokrasi yang di cangkok dari pemahaman barat. Kira-kira kita bisa katakan sebagai American Style.

Peristiwa 1998 di indonesia adalah salah satu rangkaian dari gerakan Global. Sementara pemerintahan yang ingin di akhiri pada dasarnya suatu rezim yang punya prestasi yang cukup bagus dalam pembangunan di bidang ekonomi selama 30 tahun. Orde baru di indonesia, relatif seangkatan dengan proses pembangunan di Malaysia di bawah Mahatir Muhammad, Marcos di Fhiliphina, Li kwan yu di Singapura.

Ketika rezim orde baru harus dijatuhkan dengan gelombang demokratisasi dan Ledakan partisipasi politik yang sangat luar biasa. Tetapi, kita hanya tahu ada 3 partai yang di defenisikan secara sederhana, yaitu ; partai kanan (semua Yang Islam-islam) di wakili satu partai, namanya PPP. Yang kiri (termasuk Yang Non Muslim sebahagian), di wakili satu partai yang bernama PDI dan Yang tengah di wakili oleh Golkar. Di masa Orde baru, ada Proses penyederhanaan politik.

Dari 3 partai ini, tetiba di tahun 1998, menjadi 160 partai yang mendaftarkan diri, Yang berhak mengikuti Pemilihan Umum hanya 48 parpol, dan Yang mendapatkan suara di parlemen, sekitar 24 parpol.

Hampir semua Fiqih Syiayash syar'ia yang kita warisi sebagai warisan intelektual Islam di tulis, setelah ke-khilafaan berdiri dan Estabilish. Sebahagiannya juga di tulis, untuk menjawab berbagai pertanyaan pemerintah dalam berbagai masalah. Oleh sebab itu, hampir semua buku-buku Fiqih Syiayash di mulai dengan satu Bab Yang pertama yaitu Kitabul Imama - kepemimpinan.

Jarang sekali kita menemukan dalam buku-buku tersebut, ada bab tentang Impictman. Kecuali setelah abad ke 4 dan 5, ketika fenomena itu sudah mulai ada. Banyak khalifah yang harus di jatuhkan, karena tidak mampu menghadapi situasi dan karena itulah, sudah mulai ada perbedaan buku-buku yang di tulis oleh Imam Al Juwaini - Gurunya Imam Al Ghozali.

Buku-buku tersebut di tulis untuk suatu masa yang estabilish. Sementara kita bekerja, memulai dari Nol, membangun apa yang sudah selesai pada waktu itu.

Kalau kita menggabungkan bacaan-bacaan tersebut dengan pengalaman kita di lapangan. Maka, politik itu ada dua dimensinya ; pertama, berhubungan dengan tujuan. Kedua, berhubungan dengan proses. Oleh karena itu, defenisi yang paling sederhana dari Syiasyah Syar'ia adalah "taqribun nasi ilal haq wataj dibu minal batil -  mendekatkan (menciptakan situasi yang sedemikian rupa) agar orang dekat pada kebenaran dan menciptakan situasi sedemikian rupa, agar orang jauh dari kebatilan". Artinya tujuan politik itu mulia.

Tetapi, ada satu hal yang tidak kita sadari, bahkan hampir semua ideologi di dunia mempersepsikan bahwa negara adalah Sumber daya  dan hal itulah yang di persepsikan barat beberapa abad lamanya. Jadi setiap ideologi yang ingin menyebarkan dirinya secara Massif, instrumen yang paling efektif untuk itu adalah negara. 

Dulu, komunis juga beprikir seperti itu. Apalagi kapitalisme dan dalam kenyataannya Islam juga demikian.

Kalau kita lihat dalam perjalanan hidup Rosulullah SAW, jumlah orang yang masuk islam pada periode mekkah selam 13 tahun, kira - kira berjumlah ; yang Hijrah ke Habasyah, sekitar 85 orang. Yang Ke madinah, sekitar 200 orang. Yang masuk islam dari Kaum Ansor, sekitar 70 orang. Jadi, kurang lebih 355 an orang dan inilah modal Daulah islamiyah di madinah.

355 orang adalah hasil kerja selama 13 tahun pada periode mekkah. Lalu, lihat 10 tahun terakhir di madinah, bagaimana angka-angka tersebut bertambah. Tahun kedua di madinah, terjadi perang badar, yang ikut kurang lebih 300 orang, riwayat yang paling mahsyur adalah 319 orang. Tahun ke 3 terjadi perang Uhud, yang ikut sekitar 1000 orang. Tahun ke 5 terjadi perang Khandaq, yang ikut 3000 ribu orang. Saat Fathuh makkah, yang ikut sekitar 10.000 orang dan tahun ke 10 saat Haji wada', ada dua riwayat ; yang ikut ada 100.000 ribu dan 125.000 ribu.

Sekarang coba kita bandingkan, jumlah pencapaian orang yang masuk islam ketika periode mekkah (belum ada negara) dan Periode madinah (sudah ada negara).

Artinya, kalau barat itu takut jika ada istilah negara Islam, memang ada alasannya. Karena dalam perspektif mereka, negara adalah sumber daya dan semua ideologi berpikir hal yang sama. Hal itu sama seperti ketika kita sementara di jalanan dan menghindari kemacetan, sehingga kita mencari jalan lain. Tapi, ternyata semua orang yang berada di jalanan juga sedang mencari jalanan yang tidak macet. Akhirnya macet juga.

Proses politik itu sebenarnya penuh dengan keMacetan. Oleh karena itu, politik pada tujuannya berorientasi perubahan. Tapi, politik pada prosesnya sepenuhnya berisi konflik. Makanya kita harus menguasai dua hal ; Change manajemen dan Konflik manajemen.

Demikianlah tabiat amal syiasyiah dan karena itulah masalah kaum islam, mereka berpikir bahwa politik itu hanya punya satu dimensi, yaitu dimensi yang berhubungan dengan tujuannya dan tidak memasukkan di dalam kepalanya bahwa politik juga berhubungan dengan prosesnya. Sehingga ketika dia masuk di dalam politik, dia mengalami benturan.

Waktu kita masuk kedalam amal Syiasyiah, kira-kira semua parpol berada dalam tiga tahapan pertumbuhan. Pertama, menjadi bahagian sistem politik nasional. Kedua, bagaimana kekuatan arus utama dalam politik. Ketiga, bagaimana menjadi leader.

Persoalan kita di tahap pertama dalam hal mengintegrasikan diri dari bahagian sistem politik adalah menghilangkan permusahan yang lama antara islam dan negara. Karena permusahan ini benar-benar tidak hilang sampai sekarang dan hal itu adalah tragedi terbesar yang terjadi setelah arab spring. Begitu kita ingin menjadi bahagian dari mainstream, maka kita harus membuktikan bahwa kita punya kekuatan ril. Lalu, ketika kita ingin memimpin, yang kita lakukan adalah meyakinkan semua orang bahwa kita punya sesuatu yang membuat kita relevan untuk memimpin semua orang.

Koalisi itu pada dasarnya adalah penerapan implementasi politik dari prinsip kerja sama. Tapi, dalam kerja sama ada dua bentuknya. Pertama, kerja sama untuk mewujudkan kebaikan. Kedua, kerja sama untuk mencegah kerusakan. Karena ada kerja sama untuk melawan kerusakan atau semua daya destruktif dalam suatu masyarakat. Maka secara otomatis dalam politik, kita punya dua orang lain ; pertama adalah kawan dan kedua adalah musuh.

Jangan pernah membayangkan, bahwa kita masuk politik dan kita tidak punya musuh. Sebab, hal itu juga merupakan kaidah, "wa kadzalika jaalna li kulli nabiyyin aduwuan minal mujrimin". Jadi, yang kita lakukan adalah, mencari kawan sebanyak banyaknya dan meminimalisir musuh. Baik kawan atau musuh, sama-sama punya tiga level ; Pertama, ada kawan Ideologi dan ada Musuh ideologi. Kedua, ada kawan strategis dan ada musuh strategis. Ketiga, ada kawan Taktis dan ada musuh Taktis.

Kekeliruan kaum muslim adalah mereka hanya mendefenisikan kawan dan lupa mendefenisikan musuh.

Kalau kita memahami konteks koalisi, maka sebenarnya kerja utama kita dalam politik adalah menciptakan perimbangan kekuatan. Agar, jangan sampai hanya ada satu kekuatan yang bisa punya peluang mencengkram kehidupan kita bersama dan membuat kita susah. Tetapi, hal ini juga menjadi sumber masalah dalam sistem demokrasi, karena stabilitas politik meniscayakan adanya pemerintahan yang kuat. Sementara pemerintahan yang terlalu kuat, cenderung diktator.

Al mawardi, menyebutkan bahwa seluruh urusan dunia kita ini hanya akan menjadi teratur, kalau ada enam syarat. Syarat yang kedua yang di sebutkan oleh al mawardi adalah Sultonun qohir - penguasa yang kuat.

Dulu Nabi Musa, punya doa yang berbeda dengan Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman. Doa nabi Musa adalah "Robbisyarhli sodri wa yassirli amri wahlul uqdatan min lisani yafqohu qouli". Ini adalah doa kaum oposoan atau oposisi, karena yang di hadapi adalah Fir'aun.

Nabi Yusuf, doanya merupakan doa syukur, karena sudah di kumpulkan dengan saudaranya setelah dia menjadi raja.

Justru, Yang menarik adalah doa Nabi Sulaiman, "Robbi Habli mulkan lanyambaghili ahadin mim ba'dhi - Ya Allah berikanlah aku kerajaan yang tidak akan engkau berikan lagi kepada siapapun yang datang sesudahku".

Nah, Kira-kira kita bekerja dalam tiga tahapan doa yang saya nukil diatas. Silahkan, pilih dan defenisikan diri kita, sedang berada dimana?.


Wallahu a'lam..


*Pustaka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran



Sabtu, 30 Desember 2023

FATWA DAN NADA - NADA HARMONI TOA MASJID ISHAK SERTA GEREJA ISMAIL DI ALOR

Fatwa itu kata bahasa arab, bila di Indonesiakan artinya bisa "nasihat", "petuah", "jawaban" atau "pendapat". Kata ini biasa dilakukan oleh lembaga atau per-orangan yang diakui otoritasnya, disampaikan oleh seorang Mufti atau Ulama, sebagai tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa (mustafti) yang tidak mempunyai keterikatan. Dengan demikian peminta fatwa tidak harus mengikuti isi atau hukum fatwa yang diberikan kepadanya.

Di atas hanya pengulangan saja, biar semua tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Setiap pergantian tahun di bulan Desember, selalu saja kata fatwa ini menjadi bulan-bulan orang. Bahkan saya dengar, ada yang dari tidur sampai tidur kembali mendebatkan soal ini. 

Apa sih urgensinya?, tentu ada bagi orang sebahagian, dan ada juga yang menganggapnya tidak penting. Tergantung dari mana ia memulai memandang.

Begini kiria-kira, MUI sekalipun banyak yang melecehkan, mempertanyakkan otoritasnya, menghina orang-orang di dalamnya, bahkan ada yang menyerukan untuk dibubarkan. Tetap saja dipandang sebahagian ummat Islam sebagai lembaga yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan petuah-petuah keagamaan. Bukan hanya itu, dalam kasus dugaan penistaan beberapa tahun kemarin, justru pihak kepolisian meminta fatwa MUI sebagai alasan utama diterima atau tidaknya pelaporan.

Saya juga masih memandang lembaga ini cukup penting untuk dipertahankan eksistensinya. Sekalipun ada poin-poin fatwa tertentu yang secara peribadi saya tidak pernah patuhi sampai hari ini, juga tidak diikuti cercaan terhadap kumpulan ulama-ulama tersebut dengan kata-kata yang tidak sejuk. Karena apa?. Karena, Meraka sudah saya anggap memenuhi kualifikasi itu (otoritas).

Fatwa bukan agama, hukum-hukum agama (Islam) juga bukan hanya fatwa. Tetapi mengeluarkan fatwa bukan pekerjaan semua orang (Islam). Ada Ilmunya, ada sandarannya, ada dalilnya, ada rujukannya dan lain-lain. pertangungjawabannya juga bukan hanya di dunia. tetapi, di Akhirat. Itulah sebabnya, integritas moral, kesalehan sosial maupun individu, ilmu pengetahuan dalam soal agama, benar-benar harus diverifikasi bagi siapapun yang mengeluarkan Fatwa.

Dalam mengeluarkan Fatwa, tidak juga semua Ulama seragam menyepakatinya Dan sudah berlangsung lama sampai hari ini, itu artinya kita masih punya pilihan-pilihan lain. Pilihan-pilihan itu bukan dipilih di atas rasa suka dan tidak sukanya kita terhadap Ulama atau lembaga tertentu, tetapi lebih pada kedalaman ilmu (agama) yang kita miliki, kesadaran atas manfaat dan mudharat dalam pilihan kita. Begitu kira-kira pandangan saya dalam memahami dan mematuhi fatwa Ulama.

setelah kita letakkan persoalan ini, mari kita bicara soal kepatuhan orang (Islam) terhadap fatwa. Saya berani katakan, tidak semua ummat Islam di Indonesia patuh dan taat terhadap "petuah" yang dikeluarkan oleh MUI (Toh, Firman Allah dan Sabda Nabi saja sering dilanggar oleh kita-kita). Cuman bukan kemudian Ulama-Ulama itu pensiun dari mengelurkan fatwa atau nasihatnya, sepanjang agama ini masih ada, ummat masih ada (sekalipun hanya 1 orang saja). Tugas Ulama adalah meluruskan dan menyelamatkan aqidah ummatnya.

Dalam konteks Fatwa soal penggunaan atribut Natal, ucapan natal dll, banyak saya lihat di media sosial yang mendebatkannya. Ketidakseragaman pendapat Ulama-pun muncul dalam soalan ini, saya ingin menarik diri dari persoalan debatebel ini untuk menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi di lingkungan saya tumbuh, termasuk Di kampung saya. Karena cerita itu bukan basisnya teks, tapi realitas faktual yang terjadi sejak agama hadir sebagai pembeda antara Muslim dan Kristen di Alor - NTT.

Begini ceritanya, tidak sedikit keluarga besar saya dari jalur Bapak dan mama adalah pemeluk Agama Nasrani, adik sepupu kakek dari jalur Bapak beserta anaknya adalah Nasrani, ada juga adik sepupunya Bapak yang menjadi Penatua (Imam) di Gereja kecil di samping Kampung Muslim yang saya tinggali, ada juga kakek saya (saudara sepupu kakek kandung, kakek dari jalur Bapak), baru-baru berpulang keharibaan Tuhan adalah mantan Ketua Yayasan Gereja paling besar di Kalabahi (Tribuana), Alor NTT. Itu belum dari Jalur Mama saya dan Beberapa Keluarga Alor, yang telah lama sudah seperti Om dan tante saya di Landak Baru. Hampir semua hal, ayah saya harus hadir menyatakan pendapat. 

Saudara Kandung nenek, dari Jalur mama, 3 orang sekaligus saudaranya Beragama Nasrani. Semuanya bermukim di Kalabahi, beberapa tahun lalu, saya silaturahim satu persatu dan memperkenalkan nama, bahwa saya Keponakannya. 

Mereka adalah Kakak, Bapak dan Kakek secara biologis yang mesti saya hormati, hargai dan menempatkan mereka sebagaimana agama memerintahkannya. Bahkan beberapa Om dan Tante, saya. Menyelesaikan Studinya, di Makassar. Tinggal bersama Ayah dan Ibu saya. 

Mereka tidak pernah sedikitpun mendebatkan soal aqidah, apalagi meributkannya sampai seluruh dunia tahu. Tidak pernah ada diskusi lintas agama diantara kami, tidak perlu ada lembaga atau LSM yang hadir untuk mengedukasi kami tentang membangun rasa saling menghargai satu sama lain. Karena apa?, kami semua sudah menyadarinya dalam diam, apa-apa yang mesti kami lakukan dan patuhi.

Tidak pernah juga keluarga saya dipaksa harus mengucapkan selamat Natal, apalagi dipaksakan untuk harus menggunakan atribut natal (di kampung belum ada kayaknya). Pun sebaliknya. Karena kami anggap ucapan dan simbol-simbol itu tidak lebih penting dari rasa saling mengharagi satu sama lain sebagai saudara sedarah, semua kehidupan kami jalani penuh toleransi sebelum MUI didirikan sampai hari ini, bahkan sampai dunia ini kiamat.

Justru, Yang saya lihat sejak kecil, Idul Fitri dan Natalan di kampung hampir sudah tidak diletakkan pada tempat sebagaimana orang-orang kota jalani, memandang dan menikmati. Bahwa itu sudah tidak dianggap sebagai upacara keagamaan, tetapi lebih pada pesta keluarga, ruang bersilaturrahim, membagun keakraban, memperkenalkan sanak famili dan lain sebagainya. Karenanya, dalam konteks ini hampir sebahagian besar keluarga lalai dalam mematuhi fatwa MUI. Pertimbagannya adalah lebih besar manfaatnya ketimbang mudharatnya.

Lantas, setelah jalan itu diambil, orang tua kami di kampung mencaci Ulama-ulama yang mengelurkan fatwa?. Jangankan mencaci, membaca bahkan kata fatwa-pun mereka pasti belum pernah mendengarnya. Rutinitas keagamaan dijalankan dengan begitu "alakadarnya", tetapi menyimpan pesan yang sarat maknanya. Bahwa bersaudara secara biologis adalah sesuatu yang Given, tanpa pilihan, sedangkan beragama adalah pilihan sadar. Yang mestinya dijalankan dengan cara-cara sadar tanpa paksaan.

Yang Muslim menghargai yang Nasrani, Yang Nasrani menghargai yang Muslim. Jujur, ini mereka lakukan tanpa kata-kata, dalam diam mereka saling menghargai dan menghormati. Tidak juga karena anjuran siapapun (Ustad, pendeta dll) karena, ajaran untuk saling menghargai hadir sebelum Agama Formal di anut oleh masyarakat sekitar.


**

Saban pagi, denting lonceng gereja POLA -Alor, NTT, melengking, bersahut-sahutan dengan suara adzan. Di teluk Alor, denting lonceng gereja dan gema suara adzan, menjadi harmoni, memintal tiga dimensi; alam, teknologi dan justifikasi teologis dalam satu harmoni keindahan.  

Tak ada “noise,” sebagaimana kegaduhan dan purbasangka tuan dan Puan. Berabad-abad, agama, kebudayaan dan kedatangan teknologi, duduk sebangku dalam harmoni dan common sense. Tak ada soal, apalagi konflik dalam relasi sosial. Dinding teologis menjadi tipis, agama dan terlebih penganutnya, telah mengalami trans-human dan transkultural. Melampaui batas-batas agama dan batas-batas kebudayaan. Hanya tuan dan puan yang hidup dalam imajinasi bernegara yang noise dan false.

Di desa Leluhurku (Alila) - Alor - NTT, Toa masjid Ishak dan lonceng gereja Ismail, terletak saling berhadapan. Nama masjid Ishak dinamai oleh warga Nasrani dan nama gereja Ismail ; disematkan oleh saudara Muslim di desa Alila. Tak ada kegaduhan apalagi purbasangka. Agama dan kebudayaan, justru menjadi alat perekat sosial.

Tiap subuh atau jam ibadat pagi (Nasrani), suara toa dan lonceng saling beradu. Tak ada “noise.” Kebisingan, hanya terjadi dalam kekacauan imajinasi bernegara Tuan dan puan dan sejumlah patologi sosial yang ada di kepala kalian.     

Di Alor, Toa masjid, tak sekedar seruan untuk shalat. kegiatan adat, kerja bakti, kegiatan desa, semuanya diserukan dengan toa masjid. Kebangunan agama, mengalami kosmopolitanisasi pada dimensi adat dan kebudayaan. Sarana agama menjadi sarana kebudayaan, tanpa ada demarkasi ekstrem keduanya.   

Relasi agama dan negara, demikianpun relasi agama dan kebudayaan, perlu diletakkan pada perspektif yang inklusif (saling menerima). Jangan sampai, kita-kita yang mengaku beragama justru menjadi provokator. Teknokratisasi agama oleh aparat negara, justru akan semakin mengacaukan kehidupan beragama. Negara yang partikulir, tak akan sama dengan agama yang universal.

Bila berkenan Tuan dan puan, Suatu hari Ke Alor, untuk Mendengarkan nada-nada Harmoni Toa Masjid dan lonceng Gereja. Siapa tahu, setelah dari Alor dan Kembali ke kota kalian, Bisa sembuh ! 😉. 

Terakhir, Saya lebih memilih berjarak dengan saudara seiman yang bebal, yang memusuhi keluarga dan kaumku secara diam-diam, karena ingin memonopoli surga dan dunia di banding memutus kekerabatan dan menghancurkan persaudaraan yang telah di cerminkan leluhur sebelum kaumku mengenal ajaran wahyu yang diajarkan para muballig, tokoh agama dan misionaris dari negeri yang jauh.

Hal ini bukan assyobiah, tapi ini CINTA. Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha pengasih dan Penyanyang ; Salamun Yauma Wulid Ya Rohul Kudus. 

Silahkan menilai budaya orisnil kami yang telah terkonstruk sekian lama hingga hari ini, Kami tetap mengahrgai Ulama dan menempatkan mereka sebagaimana mestinya. 


*Pustaka hayat

*Rst

*Pejalan sunyi

*Nalar Pinggiran

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL -


Dalam tradisi orang Arab, ada Istilah yang menyebutkan, "Kaama tassarofa bi muhammad bi adnan". Orang tidak tahu, siapa itu adnan?. Tetapi, karena berkahnya Rosulullah SAW, sehingga membuat orang akan mencari-cari Tahu, Adnan itu siapa?. Karena mempunyai cucu, punya Dzurriyah, yang bernama Nabi Muhammad SAW.

Secara lahiriah, keturunan Nabi Ibrahim, ada yang bernama, Yehuda bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim. dari jalur ini, memberitahukan kepada kita, bahwa Nabi Ibrahim adalah Yahudi, sedangkan orang Nasrani menganggap Nabi Ibrahim adalah orang Nasrani, karena sama-sama dari Yerusalem - Nazaret.

Saya Yakin orang Tidak kenal, ayah saya. Tetapi, karena saya bisa bermanfaat buat orang. Maka, orang akan melacak, siapa ayah dan Kakek Saya. Kira-kira begitu, perumpamaannya. Belakangan ini, saya cukup Menggemari dan menyenangi mengkaji, membaca dan mengikuti Kajian Tafsir. Ada satu hal yang hendak saya garis bawahi, yaitu mengapa Nabi Ibrahim disebut, “Maa kana Ibrahimu la yahudiau waa laa nasrani - Ibrahim itu bukan Yahudi dan bukan Nasrani". 

Jika saja tidak datang seorang Rosulullah SAW yang memberitahukan, bahwa Nabi Ibrahim adalah "Hanifaan Muslimin". Maka, hampir bisa di pastikan, kita tidak akan tahu bahwa Nabi Ibrahim adalah Datuknya Nabi Muhammad SAW. Namun ketika Nabi Muhammad SAW di utus menjadi Rosul dan Nabi Terakhir, ada sedikit problem, orang-orang Arab mempertanyakan Muhammad Ini Anaknya siapa, karena Dia orang Mekkah. Sementara yang Hidup di mekkah itu orang Jahiliyah. Maka, Di refleksikanlah oleh Allah bahwa engkau (Muhammad) adalah cucunya Nabi Ibrahim.

Hal itu bisa di Buktikan, bahwa Nabi Ibrahim pernah di mekkah saat meninggikan bangunan Ka'bah bersama Nabi Ismail, "Fii hii ayatum maqomum bainatum ibrahim". Selain itu, Bukti lainnya ialah Sa'i, Sebagaimana Kita Mahfum bahwa di prosesi Sa'i adalah peristiwa dimana Siti Hajar mencari air sebanyak 7 kali. Maka, terlacaklah, bahwa Nabi Muhammad menjadi Nabi itu sah, karena "Bi Dzurriyati Ibarahim". karena, Kakek Buyutnya adalah Nabi.

Di titik itulah, Maka status Nabi Ibrahim sebagai Bapak Tauhid (bapak semua agama) menjadi Paripurna. karena di Maklumatkan (di beritahukan) oleh Cucunya, Rosulullah SAW, "Millata Abikum Ibrahim". artinya, Jika saja tidak datang (ada) Nabi Muhammad SAW. maka Rujukan Nabi Ibrahim hanya pada Jalur Yahudi dan Nasrani. Kehadiran Rosulullah SAW (Islam) mempertegas, bahwa Nazab Biologis dan Teologis Nabi Ibrahim Tidak hanya Yahudi dan Nasrani.

Jika demikian kerangka Epistemiknya, apakah tidak boleh Jika Seorang Muslim mengucapkan Selamat Natal ataukah boleh?. Pertama, Secara pribadi, saya lebih memilih menghindari perdebatan ini. sebab Konsekuensi Tauhidnya ada dan hal ini juga bahagian dari sikap Hati-hati dalam beragama. Kedua, Perdebatan ini, sesungguhnya bukanlah perdebatan kita. Perdebatan ini adalah perdebatan Ulama Saudi (sekalipun Hanya minoritas). Selebihnya, Ulama-ulama di dunia membolehkan mengucapkan selamat Natal.

Memang Kita tidak akan menemukan dalil dari al-Qur’an maupun Sunnah yang secara spesifik membahas hukum ucapan selamat Natal. Polemik ini terjadi di era kontemporer, dimana ia muncul karena keinginan sebagian umat Islam yang hendak mengekspresikan sikap toleransinya dan sikap Egalitiarian kepada non-Muslim. Maka, karena ia tidak ditemukan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang secara tegas menghukuminya, kasus ini masuk dalam kategori Ijtihad.

Jumhur ulama (mayoritas ulama) dari 4 madzhab besar dalam ilmu Fiqih (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali) telah sepakat akan keharaman pengucapan selamat Natal. Namun, ulama-ulama kontemporer kembali mengulas hukum tersebut dikarenakan kasus ini masuk dalam kategori Ijtihad.

Perbedaan pendapat ini terjadi di kalangan ulama kontemporer, disebabkan Ijtihad mereka dalam memahami generalitas ayat atau Hadits yang terkait dengan kasus ini. Untuk memudahkan kita Menganalisa, Saya coba menyuguhkan Dasar Hukum yang bisa dijadikan sebagai legitimasi untuk mengucapkan Selamat Natal, kita bisa merujuk pada Q.S. Al mumtahana ; 8-10, seperti pada Ayat 8, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَا يَنْهٰٮكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَا تِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَا رِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَ تُقْسِطُوْۤا اِلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 8)

Secara Implisit, Pada ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa perbuatan baik (Ihsan) kepada siapa saja itu tidak dilarang, selama mereka tidak memerangi dan mengusir kita dari negeri kita. Sedangkan, mengucapkan selamat natal merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada orang non-muslim, sehingga perbuatan tersebut diperbolehkan.

Selain itu, dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, Rosulullah SAW bersabda, “Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi Muhammad SAW, kemudian ia sakit. Maka, Nabi Muhammad SAW mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: ‘Masuk Islam-lah!’. Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata,‘Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad SAW ). ’Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi Muhammad SAW, keluar seraya bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.’” (HR. al-Bukhari no. 1356, 5657).

Pada hadits tersebut, Rasulullah SAW memberi teladan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada non-Muslim. Sehingga mengucapkan selamat Natal yang merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada non-muslim, walaupun bukan dalam keadaan darurat. Ucapan tersebut diperbolehkan selama tidak mengganggu Akidah kita terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini diantaranya Yusuf al-Qardhawi, Musthafa Zarqa, Abdullah bin Bayyah, Ali Jum’ah, Habib Ali Aljufri, Quraish Shihab, Abdurrahman Wahid, Said Aqil Sirodj, dan lain sebagainya. Selain Merujuk pada QS. Al-Mumtahanah ayat 8 Dan Hadist dari Anas Bin Malik diatas, Kita bisa merujuk pada QS. Maryam : 33, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا لسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."

Pada Ayat Q.S Maryam : 33, sangat jelas bagaimana Allah memberikan selamat atas kelahiran Isa Bin Maryam dan Nabi Isa Mengucapkan selamat atas kelahiran Dirinya. Selain itu, kita bisa merujuk pada Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, juz 3, halaman 586 dan Fatwa Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh Ishom Talimah, KH. Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. KH. Qurais Shihab, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir.

Sedangkan, Para ulama yang memilih sikap untuk mengharamkan ucapan selamat natal bagi umat Nasrani mendasari hukumnya pada firman Allah SWT di dalam surat al-Furqan ; 72, “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Q.S. al-Furqan [25]: 72).

Pada ayat tersebut, Allah SWT menjanjikan bagi orang yang tidak memberikan kesaksian palsu dengan martabat yang tinggi di surga. Sedangkan, apabila seorang muslim mengucapkan selamat natal berarti dia telah memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Nasrani tentang hari Natal (kelahiran Yesus Kristus, salah satu Tuhannya ummat Nasrani). Konsekuensinya adalah ia tidak akan mendapatkan martabat yang tinggi di surga. Dengan demikian, mengucapkan selamat natal kepada umat kristiani tidak diperkenankan.

Selain itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menyerupai suatu kaum. maka dia termasuk bagian kaum tersebut". (HR. Abu Daud, no. 4031). Pada hadits tersebut, Rasulullah SAW mewanti-wanti umat Islam terhadap perbuatan "tasyabbuh" terhadap non-muslim.

Dalam kaidah Bahasa Arab, tepatnya ilmu Nahu Shorof, kata "tasyabbuh" berasal dari "wazan Tafa’ul", yang bermakna "muthawa’ah" (menurut), "takalluf" (memaksa), dan juga "tadarruj" (bertahap atau parsial) dalam melakukan suatu perbuatan. Sehingga, dari wazan ini kata tasyabbuh memiliki arti perbuatan yang dilakukan sedikit demi sedikit, yang awalnya barangkali ia merasa terpaksa atau Ikut-ikutan dengan perbuatan tersebut sampai kemudian ia menurut dan terbiasa mengerjakannya.

Dengan kata lain, siapa saja menyerupai suatu kaum. maka, ia lama kelamaan akan tunduk kepada mereka. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim tidak bermudah-mudahan dalam melakukan perbuatan yang menyerupai orang non-muslim, sebab ia merupakan pintu menuju ketundukan kepada mereka. Sehingga, sikap tegas dengan kaidah saddud dzari’ah (menutup pintu keburukan) merupakan suatu kaidah yang tepat dalam kasus ini, agar akidah kita tidak tergoyahkan akibat ikut-ikutan mengucapkan selamat Natal sebagaimana yang dilakukan oleh umat Nasrani.

Maka, umat Islam yang mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani berarti telah melakukan "tasyabbuh" sekaligus memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat kristiani tentang kebenaran peristiwa natal. Sehingga, kasus ini masuk juga ke dalam ranah akidah yang mengkompromikan antara tauhid dengan syirik. Atas dasar inilah hukum ucapan tersebut diharamkan secara tegas.

Ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini, diantaranya Abdullah bin Baz, Ibnu Utsaimin, Buya Hamka (Abdul Malik Karim Amrullah), Buya Yahya (Habib Yahya Zainul Ma’arif), Ibrahim bin Ja’far, Ja’far At-Thalhawi, Khalid Basalamah, Abdul Somad, Adi Hidayat, dan lain sebagainya. Jadi, perkara mengucapkan selamat Natal ini bukan perkara Liberal dan tidak liberal ataukah Plural dan tidak plural. Hal ini, tergantung dari cara kita memahami dan dari versi apa kita melihatnya ; apakah kita melihatnya dari Segi aqidah atau dari segi Muammalah.

Jika kita melihatnya dari versi aqidah, kita mesti mendefenisikan, Natal itu apa?. Sebab, Dalam Perspektif muamalahnya, kita boleh mengucapkan selamat Natal asalkan mereka tidak dzolim dan mengusir kita. Sebagaimana Legitimasi Teks yang saya sebutkan diatas. Sebab, Kebanyakan kita ini, memang Aneh. Terlampau jauh memperdebatkan Hukum Mengucapkan selamat Natal. Tetapi, tidak mengetahui Natal itu apa?. 

Dalam khasanah keilmuan, Para ahli Fiqih, ahli kalam dan para Filsuf, memiliki Metodologi dalam menjeleskan sesuatu, agar sesuatu itu jelas duduk perkaranya. Metode tersebut, disebut metode Ta'rif atau defenisi. Defenisi itu penting, karena kerap kali kita panjang lebar membicarakan suatu persoalan, tetapi kita tidak membatasi terlebih dahulu persoalannya, sehingga lebih banyak argementasinya Cocologi. 

Natal itu apa?. "Natal itu berasal dari Diksi Natalies, Di serap kedalam bahasa indonesia menjadi Natal. Natal itu sama dengan Maulid atau kelahiran". Maulidnya siapa?. "Maulidnya Isa". Maulidnya Isa Bin Maryam atau Maulidnya Isa Ibdullah?.

Jika Natal yang di maksud adalah kelahiran Isa Bin Maryam. maka, sebagaimana Bab Muamalah yang saya sebutkan diatas adalah boleh mengucapkan selamat Natal. Tetapi, jika yang di maksud Natal adalah kelahiran Isa Ibdullah (anak Tuhan). Maka, di titik inilah perdebatan panjang para Ulama itu berawal.

Padahal, Jika saja kita mau mempertanyakan secara kritis, apakah jika kita mengucapkan selamat Natal, kita menjadi Orang Kristen?. Apakah ketika orang kristen mengucapkan selamat Idul fitri, mereka Jadi orang islam?. Hal itu sama dengan ketika kita Mbeee...Mbee...apakah kita akan jadi Kambing.

Sebagaimana Hadist yang kerap di nukil, sebagai bantahan, atas mereka yang mengucapkan Selamat Natal, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kedalam kau tersebut, " wa man tasyab ba bi kaumin fa huwa minhum".

Hadist tersebut, jangan di pahami secara teks book atau latter late. Harus di analisis secara kompleks dan kita harus menemukan titik yang paling akurat dari maksud hadist terebut. Sebab, kalau kita ngawur, Berpikir sepenggal dan seenaknya saja, maka bisa jadi boomerang buat kita, karena kita akan dapati hukum-hukum yang menjebak kita.

Mengapa, secara Aqidah menjadi perdebatan mengucapkan selamat?. Karena, ucapan selamat Natal mengandung unsur pengakuan terhadap 3 hal. pertama, Nabi Isa adalah anak Tuhan. Kedua, Nabi Isa lahir pada tanggal 25. Ketiga, Nabi Isa mati di salib. Ketiga hal ini di bantah oleh Qur'an. Pertama, Isa anak Tuhan di bantah oleh Qur'an, "laqod kafarol ladzina qolu innallahu tsalisu tsalasa - kafirlah mereka yang mengatakan isa Trinitas dan anak Tuhan. 

Kedua, Tentang Nabi Isa yang lahir tanggal 25 Desember, di bantah juga oleh Qur',an, "Ketika maryam memegang Isa, tidak ada makanan, karena terlahir di tepian kota. Allah memerintahkan untuk menggoncang pangkal batang kurma (Tusakid alaiki rutho ban janiyah), buah kurma mengkal, hanya ada pada musim panas, antara bulan juli-agustus. Ketika Isa lahir, kambing-kambing sedang di gembalakan di padang rumput. Sementara, bulan 12 rumput tidak tumbuh karena tertutup oleh salju. Maka, 25 desember bukan kelahiran Isa, tetapi hari raya merayakan dewa Mytrea (Dewa Matahari), yang di ambil oleh kaisar Konstantin.

Lalu ketiga, tentang Isa yang wafat di palang salib. Di bantah oleh Al-Qur'an, " Wa ma qotalahu wa ma Tsolabuhu wa kin tsu bi alahum - mereka tidak membunuhnya, mereka tidak menyalibnya. Melainkan ada orang yang di serupakan wajahnya dengan Isa, yaitu Yudas Iskariot".

Jadi, pada Intinya semua Pilihan berpulang pada kita masing-masing, karena kitalah yang mempertanggung jawabkan atas setiap hal yang kita ucapkan, pikirkan dan lakukan. Jika mengucapkan selamat Natal dapat menganggu Aqidah kita, tidak usah di Ucapakan. Tetapi, kita juga tidak bisa memaksakan untuk orang lain berpendapat sama dengan kita. Sebab, Semua pilihan Memiliki Legitimasi Hukum yang dapat di buktikan. 


*Rst

*Pejalan sunyi

*Nalar Pinggiran