Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Rabu, 26 Agustus 2020

SEUMPAMA REMBULAN BULAT - PENUH ; SILOGISME (2)


(Foto : (C) Erison J kambari.)

Kemarin malam. tubuhku di gigil beku, semilir angin lereng di negeri leluhurku. Tetiba, saluran telephone berdering. Engkau, Nona Diujung telephon. bicara bulan bulat penuh. Sumbing pun, tidak. Purnama, indah lagi menawan.

Mengapa keindahan ini, tidak pernah lama?. Begitu Tanyamu.

Ku tuturkan padamu tentang Pepatah persia lama : "Bulan akan tetap purnama. bila, kita bisa menerima sisi-sisi gelapnya". Begitupun, dengan hidup. Bukan, hanya kesempurnaan cahaya yang kusuka, pada Purnama. Tetapi, ia selalu ranum sempurna, lewat tepat didepan beranda. Seperti pada kali pertama, engkau lewat bersama senja. tepat, didepan beranda dengan senyum tipis, berhias pesona.

Apa hubungan antara Senyum dan Purnama, Gombal sekali Kamu, Kak?.

Nona, Seutas senyum mampu meringankan luka, dan Senyummu Mampu Merubah Segalanya. Senyum memiliki nilai yang tinggi di dalam Islam, hingga Allah swt mengabadikan senyuman Nabi Sulaiman As. dalam firman-Nya; “Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu.” (QS.An-Naml:19).

Artinya, Satu senyuman kecil mampu menyalakan api semangat. Satu Senyuman mampu menerangi hidup seseorang, yang selama ini terkurung dalam kesedihan dan kegelapan.

Masih Mau lagi; Senyumanmu, pada orang tuamu menenangkan hati mereka. Senyumanmu, pada orang terdekatmu, mewarnai harinya. Senyumanmu, pada tetanggamu, mengobati kesedihan mereka. Senyumanmu, pada Saudaramu, menghilangkan kepenatan mereka.


Abu Ja’far Al-Baqir, Cicit Husain Bin Ali pernah berpesan; “Senyuman seseorang kepada saudaranya adalah kebaikan dan menghilangkan gangguan dari mereka adalah kebaikan. Dan tidak ada ibadah yang lebih disenangi Allah (selain yang wajib) seperti memberikan kebahagiaan kepada orang mukmin".

Berkenaan dengan itu juga, Imam Ali bin Abi tholib as, pun berpesan: “Seorang mukmin itu keceriannya tampak, di wajahnya dan kesedihannya tersimpan di dalam hati.”

Maka,  ku katakan Senyum tipismu, yang berhias pesona Bak Bulan bulat penuh nan indah. Tebarkanlah senyuman, karena senyum adalah sedekah yang paling mudah.

Dan tanpa ku sadari, ternyata senyuman di bibirmu meruntuhkan gunung beku dihati. Seperti kerinduan purba, barangkali, inilah yang dimaksud : Senyuman memiliki hukum kekekalan energi. maka, sesungguhnya bukan senyuman yang hilang, tapi bibir yang menerbitkannya.

Bunyi hukumnya : energi dapat berubah ke suatu bentuk ke bentuk yang lain. tetapi, tidak bisa di hilangkan atau di musnahkan.

Tetap, tersenyum Merekah. renyah dan indah, sebab itu juga ibadah. Tersenyumlah, karen ku yakin ada makna yang tak terhingga, Ada rasa yang tak terbaca, ada rayuan tanpa kata dan ada pahala tanpa doa.



Jadi, bagaimana Dengan Bulan Bulat penuh itu, kak?.

51 tahun yang lalu. Manusia pertama menjejakkan kakinya di bulan. Bulan juli 1969, sudah 51 tahun yang lalu, setengah abad.

Peristiwa pendaratan pertama manusia di bulan tersebut, menjadi peristiwa yang legendaris, bombastis dan menegangkan bagi orang yang menontonya secara live (waktu itu). Tentunya, mereka yang telah mengenal tv. Orang tua kita di kampung pasti tidak menonton. sebab, Tv menjadi barang yang hanya jadi buah bibir, di kisahkan dari mulut ke mulut.

Kawan bapak saya pernah bercerita, bahwa di tengah-tengah masyarakat kita, kisah pendaratan tersebut sering dianggap mubazzir. Pernyataannya "untuk apa menguasai bulan, berlomba-lomba ke luar angkas, hanya menghabiskan biaya. Tidak ada gunanya, lebih baik membantu orang miskin. Sering terdengar perbincangan di ruang publik, dulu. Waktu itu, dan untuk beberapa tahun setelahnya.

Mereka tidak tau, pada juli 1969, 51 tahun yang lalu, Setelah bergerak diantara kaki-kaki modul bulan Eagle, melayang-layang di gravitasi Nol, setelah beberapa jam menunggu, kemudian turun ke sebuah cekungan bulan, astronout Neil Amstrong menjejakan kakinya di bulan. Bulan, yang hanya dulu bisa di pandang takjub warga bumi.

Lalu Astronout Neil amstrong mengemukakan sebuah kalimat yang jadi buah bibir : " that's one small step for a man, one giant leap for mankind (ini langkah kecil bagi seseorang, tapi loncatan raksasa bagi manusia)".

Kini, coba nona bayangkan, bila ikhtiar penaklukan bulan 51 tahun yang lalu, serta setelahnya, eksplorasi ruang angkas tidak di lakukan oleh negara-negara dan ilmuan-ilmuan hebat itu. Maka dapatkah engkau, merasakan kemudahan-kemudahan interaksi Nir-batas ruang atau tempat yang engkau, kita dan generasi zaman kita lakukan atau rasakan ini?.

Berterimakasihlah pada mereka-mereka yang telah memajukan peradaban ummat manusia.

Lalu katamu : Teknologi itu baik dalam pengembangan Imajinasi disatu sisi. Namun disisi lain, ia memenjarakan kita pada keterbatasannya. Sebab, Kesempurnaan imajinasi tidak ada pada Tehnologi. Tehnologi hanya setitik (noktah) bagi Imajinasi.

Satu diantaranya, yang Separuhnya dihilangkan Teknologi ialah Keindahan Cinta.

Andai, Teknologi Tak ada. Maka hampir bisa ku pastikan, SenyumanMu yang seumpama Bulan Bulat Penuh (purnama), yang melipir di beranda rumah. Tak akan, pernah di tangkap mata Lensa, kamera. 


- Alor, 24 Juli 2019 - 



*Rst
*Pena Koesam
*Nalar Pinggiran



Selasa, 25 Agustus 2020

MEMBACA INDONESIA DARI PINGGIRAN

- Istana dan Referendum Papua -


Teriakan referendum membuncah di bumi cendrawasih. Buihnya menyerbu lobang-lobang telinga di sabang.

Istana sang Raja menyumpali kupingnya dengan kapas sutera. Padahal, teriakan itu tepat menyasar di depan mata beningnya yang melihat Indo-nesia.


Nusa satu, bangsa satu menjadi remeh temeh. NKRI adalah Harga yang telah Mati. tak hidup, usai di koyak-koyak. Bahkan Nasionalisme pun jadi soal sepele.

Kita memang kerap abai, tentang siapa yang paling cinta pada Untaian zamrud Khatulistiwa ini?.

Tuan-Tuan penghuni Istana.! stimulus (Teriakan), tidak dapat respon (penanganan). Hanya pada mereka yang rungu. Apakah Tuan-Tuan telah Rungu?.


- Makassar ( 6 September 2019) -


***


- Sekedar Islam - 

Yang satu menganggap Paham sana, salah. Yang satunya lagi menganggap paham sini, salah. Yang satu beranggapan, agama perlu dibela. Yang satu beranggapan, agama tidak mesti dibela.

Yang satu mengatakan jenggot, cingkrang, sorban dan Cadar adalah Sunnah Nabi. Yang satu mengatakan, jenggot, Cingkrang, sorban dan cadar adalah konsep dan budaya Arab, Ini indonesia Bung, Nusantara, Pekiknya.

Yang satu bilang, sana Radikal dan Ekstrimis. Yang satu bilang, Bid'ah dan Haram.

Yang satu menuding, sana Tidak Rahmatal lil alami. Yang satu mengatakan, sini Rahmatal lil alami.

Yang satu ahli Neraka. Yang satu ahli surga.

Apakah wajah Islam?, adalah wajahnya yang Saling serang, silih berganti. Saling meyalahkan antar Firqoh. Surga disertifikasi menjadi milik Firqoh tertentu. Yang lain masuk neraka.

Pahala menjadi milik otoritas firqoh tertentu. Yang firqoh lain dapat dosa. Padahal, sumber dan rujukannya sama.

Mereka berislam, hanya untuk saling serang. Saling menyalahkan. Beginilah akibatnya, jika Tempurung kepala Lebih besar ketimbang otak.

Kawan, Tamasyalah, pada Sebab-sebab Jatuh dan hancurnya Dinasti-Dinasti besar Islam, dahulu. Cikal bakal kehancuran peradaban Islam dahulu, Akibat Budaya Saling menyalahkan. Budaya Saling menyesatkan. Budaya Saling tuding.

Begitulah terus menerus. Biar, kita saksikan tontonan, membaca Tulisan-tulisan, mendengar ujaran-ujaran dan menelaah pernyataan-pernyataan Kalian, diPinggiran.

Biarkan saja mereka. Biar kita, diPinggiran mendengungkan Islam Secara universal disaat mereka Tampil dengan Primordialitas Pahamannya.


- Makassar, 03/12/2019) - 


***


- Kasihan bangsa Ini -




Bangsa ini kasihan. Jika bukan mengimpor. yah, berhutang.  Jika bukan berhutang, yah, menjual. Begitu terus sampai kucing mengaku Nabi.

Bangsa ini kasihan. Ada yang kritis, di tuding Anti NKRI. Ada yang memainkan fungsi control di anggap intoleran. Ada yang bicara fakta, di sangka tidak indonesiais. Ada yang mengkaji problem ummat di masjid di labeli radikalis.

Bangsa ini kasihan. Kesalahan di bungkus dengan jubah pluralistik. Ketimpangan di tutup-tutupi dengan pembenaran logika yang taklid. Ketidakmampuan di sangka kebanggaan.

Bangsa ini kasihan. Mereka merdeka, disisi lain. mendongakkan kepala pada pantat kekuasaan di sisi yang lain. Mereka mendengungkan Cinta NKRI tapi tidak angkat suara saat impor.

Mereka berteriak intoleran tapi di luar kelompoknya adalah salah. Mereka mencekoki radikalis tapi diam-diam saat pemerintah menjual Aset negara.

Bangsa ini kasihan. kasihan melihat segelintir kita yang kerap kali menyembah kuasa.


--Makassar, 04/08/2018--


***


- Kapan Merdeka - 



75 tahun, dalam rupa dan laku manusia : adalah renta bahkan hampir uzur.

75 tahun, Segala rupa-rupa penyakit akan menggerogoti, bila imun tak kuat.

75 tahun, sejatinya di rawat seumpama kanak-kanak.

75 tahun, harus selalu diajak bicara agar tak kesepian.

75 tahun, harus di mengerti agar tak marah.

75 tahun, harus di pahami agar tak meratapi nestapa.

Karena..! 

Tak ada kemerdekaan bagi pikiran yang dijajah.

Tak ada Kemerdekaan bagi Rasa yang tertawan.

Tak ada kemerdekaan bagi hati yang Tersandera.

Tak ada kemerdekaan bagi Sikap yang terpenjara.

Karena..! 

Merdeka itu bukan menghamba pada sesama.

Merdeka itu tak takluk pada syahwat kuasa.

Merdeka itu bukan sekedar penghormatan secara simbolik pada bendera.

Merdeka itu tidak sekedar momentum seremonial setiap tahun.

Merdeka itu tidak sekedar mengagungkan prasasti pahlawan.

Merdeka itu bukan sekedar menyanyikan lagu-lagu pembangkit Ghiroh patriotisme.

Ingatlah..! 

Kemerdekaan adalah ketika dalam hati sanggup mengusir segala selain-MU.

Kemerdekaan adalah Fitrah kemanusiaan.

Kemerdekaan adalah Nilai esensial yang di ikrarkan sejak Zaman Azali.

Kemerdekaan adalah pilihan ikhlas.

Kemerdekaan adalah Inklusif (terbuka).

Kemerdekaan adalah manusia yang niscaya paripurna :  Dalam laku, dalam prinsip, dalam integritas, dalam pikir, dalam hati.

Mengapa kemerdekaan harus diisi?. karena tong kosong nyaring bunyinya.

Mengapa kemerdekaan harus di Isi?. Karena sepeda Hias di lombakan, lari kelereng diadukan, masukan paku dalam botol di tandingkan, Dan makan kerupuk di lombakan.

Jika tidak, anak-anak akan sedih..!


--Makassar 16 Agustus 2020--


***


- Kontrasmu Bisu -




Katanya merdeka tetapi banyak Tanah, sawah dan ladang, di rampas demi hunian mentereng.

Katanya merdeka, tetapi Hutannya di babat demi pabrik-pabrik yang canggih.

Katanya merdeka, tetapi lautnya ditimbun, demi Gedung-gedung pencakar langit.

Katanya merdeka, tetapi jurang kemiskinan dan kekayaan menganga.

Katanya merdeka, tetapi mempertontonkan kekayaan dan kemewahan dihadapan mereka yang terbakar terik demi seonggok nasi.

Katanya merdeka, tetapi telinganya Tuli mendengar jerit lapar kaum papah di malam buta.

Katanya merdeka, tetapi terang-terangan korupsi waktu, tanpa malu korupsi wewenang, bahkan tertawa saat korupsi berjama'ah.

Katanya merdeka,  tetapi keluarga Number uno, orang lain sebentar dulu (nepotisme).

Katanya merdeka, tetapi Hukumnya Tumpul keatas, tajam kebawah.

Katanya merdeka, tetapi kecil salah, cepat-cepat hukum ditegakkan. 

Katanya merdeka, tetapi besar salah, diam pura-pura tidak tau.

Apa mesti kita mendefenisikan ulang diksi Merdeka itu.?.

Apalah artinya kemerdekaan, jika dalam waktu bersamaan, ada derai mata yang menghujam bumi karena tanahnya, Sawahnya di rampas.

Apalah arti kemerdekaan, jika dalam waktu bersamaan ada saudara kita, yang terisak karena himpitan kemiskinan. 

Apalah artinya kemerdekaan, jika hati kita, kian kering dari tetes tangis keharuan pada sesama.

Apalah artinya kemerdekaan, jika saudara kita, mengencangkan ikat pinggangnya karena menahan lapar dan dahaga.

Apalah artinya kemerdekaan, jika nurani kita semakin bau dan bernanah.

Apalah artinya kemerdekaan, jika kita semakin Individualistik.

Apalah merdeka dari api yang terlanjur tersulut. Selain leleh dan menguap atau habis menjadi abu.

Bukankah Kemerdekaan Ialah Hak setiap manusia.?


--Makassar, 18 Agustus 2020--


***

- DUNIA TIDAK BUTUH MAKANAN -

Nabi Ibrahim Pernah mendapat teguran, gegara Ucapannya kepada seorang Majusi : " Kau Ku beri makan, tetapi Masuk Islam dulu", kata Nabi Ibrahim.

"Sejak 50 Tahun aku memberinya Makan, aku tak pernah mempermasalahkan kekafirannya. Kau mau memberi sedikit makan, kenapa kau permasalahkan AgamaNya?". Begitu Tegur Tuhan pada Nabi Ibrahim.

Duhaii Kawan, Dunia Ini tidak membutuhkan makanan. Dunia membutuhkan kemanusiaan.  Dunia kita, lingkungan kita sedang berada dalam kelaparan moral.

Seorang bijak ditanya: Apakah ada yang lebih buruk dari kebakhilan (pelit)? ; Dia jawab: " Iya ada, yakni ketika orang kaya memamerkan 1 kedermawanan kepada orang yang diberinya".

Itulah sebabnya Syeikh Mutawalli Al Sya'rawberkata :  "Harta adalah rezeki yang paling rendah. Kesehatan adalah rezeki yang paling tinggi. Anak sholeh adalah rezeki yang paling utama. Sedang mendapatkan ridho Tuhan adalah rezeki yang sempurna".


- Makassar (29 Juli 2020) - 


***

- Apalah Arti hidup tanpa berbagi -

Perut Kosong tanpa di isi Nasi, Mata Sayu karena tak makan Berhari-hari. 

Tidak ada waktu senggang untuk menikmati Tegukan secangkir kopi atau sekedar bercanda riang.

Yang mereka tau, waktu siang kala terik membakar Kulit, adalah Mengais Uang demi seonggok Nasi, agar saat malam menyelimuti, mereka tak menegencangkan ikat pinggang karena menahan dahaga dan lapar.

Ini bukan Takdir, Kawan..!. Mereka tak tau kalau mereka di eksploitasi. Mereka tak tau bahwa Mimpinya pun terbeli.

Yang mereka tau, waktu selalu keluar sebagai pemenang dalam etape Kehidupan ini.

Mereka cuman bisa Pasrah pada jarum jam yang selalu saja ke arah kanan. Pasrah adalah pilihan Final karena mereka tak punya Hak untuk memilih.

Terus masih saja Kita bilang itu Takdir, Konyol kan..!. Seolah Tuhan Tidak Maha pengasih dan penyanyang melihat Derita dan Nestapa mereka.

Tauhid yang kerap di dengungkan di mimbar-mimbar dalam Konsepsi para Nabi, selalu erat kaitannya dengan perubahan sosial : "kita di perintahkan Berhenti makan sebelum Kenyang".

Negara telah kalah berkali-kali, Instrumen dan semua lapisan bangsa ini sibuk mengurusi hal remeh temeh.

maka, benarlah bahwa banyak manusia, tidak lebih dari seenggok danging dan tulang yang gentayangan. 



 - Makassar (25 Agustus 2020) -


***


- Serakah Bahagia -


Mengapa Engkau Seperti Kebanyakan Yang berpikir dan merasa Bahwa Kehidupan selalu di bangun diatas Realitas Kecenderungan.

Tidak, Kataku..!. Kehidupan Itu seimbang. siapa yang memandang pada keceriaan saja, Dia Gila. Dan Siapa Yang memandang pada kesedihan saja, Dia Sakit.

Ku ingatkan padamu tentang igauan Albert Camus : Dulu mamaku mengatakan betapapun sengsaranya hidup, selalu ada yang patut disyukuri. Dan suatu pagi, ketika langit cerah dan matahari menembus jendela kamarku, aku setuju dengannya.

Jangan terlalu serakah dengan Bahagia, hingga lupa, pada Duka dan luka sesama. Ingat, Neraka bisa melipat gandakan panasnya Tanpa aba-aba.

Jangan terlalu setengah mati mengejar, sesuatu yang hasilnya tidak bisa di santap di alam kubur dan barzah. Kita tidak akan membawa tanda mata apa-apa. 

Kelak ,di peristirahatan yang sempit itu, hanya bisa di isi 3 Mahkluk : Jasad kita, mungkar nakir dengan Daftar pertanyaan dan palu di genggaman tangannya.

Olehnya, jika kebahagiaan di hati orang lain membuatmu bahagia, maka kamu adalah manusia.


- Makassar (20 November 2018) -


***


- Menjarah Nestapa -

Engkau rampas negeri orang. pemiliknya, kau perlakukan seperti binatang ternak. korban kekejamanmu, kini tidur di bawah tenda-tenda darurat.

Dalam otakmu, hanya soal uang dan untung. Duka nestapa kau tebar dengan girang.

Mata bening mereka yang polos menatap biru langit diatas sana. Ada keinginan yang murni terpancar. Ada harapan tentang hidup yang tak lagi redup. 

Kawan, mereka Semua beribu bapak tapi nasibnya di pinggir. Tubuh-Tubuh mungil ini bergelombang menantang udara. Ada saja badai yang menunggu di depan. 

Tapi, Ada tumpukan cinta di sini. Ada timbunan kasih di sini. Ada rimbun sayang di sini.

Sabarlah, Tuhan pasti tak akan menidurkan Sepi dan menghukum mimpi. 

Tabahlah, sebab Tidak ada perbuatan yang tidak berbalas, semua ada resikonya. Kelak, balasan itu akan datang. Cepat Atau Lambat.


- Makassar ( 08 Agustus 2020) -


***

- Anak Pesisir -


Mereka tertawa tanpa rencana. Bicara apa adanya, belum ada nafsu mengkorup uang negara.

Sederhana pikirannya, belum sanggup bicara hal yang jauh dari pandangannya, apalagi di minta bicara soal masa depan maritim. 

Sederhana ukuran bahagiannya. Bisa mandi air laut bersama, mendayung sampan beramai-ramai, itu sudah cukup baginya. 

Makan dari apa yang di kasi, tidur dari apa yang siapkan. Sekolah di alama bebas, cita-citanya sederhana ; jika kelak besar nanti, bisa bantu bapak cari ikan dalam jumlah yang lebih banyak.

Apakah mereka bahagia?. Tentu, mereka sangat bahagia, mereka bahagia dalam kesederhanaannya. 

Dalam kesederhanaannya mereka bahagia. Bahagia adalah, saat menjadi seorang anak kecil. 


- Indonesia, 23/11/2018 -


***

- Patologi sosial -

Ditengah Keriuhan kemegahan, Hura-hura Kesementaraan. Ada peluh dan derita, Serta kesengsaraan yang terlupakan.

Ada tetes Keringat yang terbakar terik. Ada air mata bercucuran yang dibasuh hujan. 

Bukankah Rosulullah sangat membenci kemiskinan?. lantas, mengapa negara, yang Menjadikan Tuhan Yang Maha Esa sebagai dasar Sikap dan Lakunya, memelihara Kemiskinan, anak terlantar dan Kaum papah. 


- Makassar, 21 Februari 2020 -


***

- Istana Paranoid -

Istana lebih Khawatir Dengan Pelantikannya di todong Teroris sedang banyak Manusia terlunta-lunta di wamena yang nyaris nihil dalam pemberitaan media Nasional.

Istana lebih terkuras energinya dlm mengkaji ulang Pengesahan revisi UU KPK dan menunda RUU KUHP karena gelombang Demonstrasi Mahasiswa sedang Nyawa Manusia tak berdosa di bantai di depan Mata tak di pikirkan ulang. 

Istana seolah menyepelakan pilu, jerit dan derai air mata manusia di wamena. 

Kemana mereka, lembaga-lembaga yang Getol menyuarakan narasi Kebhinekaan.

Kemana mereka, LSM-LSM kemanusiaan yang lantang berbicara praktek Dehumanisasi.

Kemana mereka semua, Yang konsentrasinya selama ini mengintip dan mengintai gerakan Radikalisme di Bumi Manusia ini.

Sementara gerakan Separatis di Bumi cedrawasih mereka pura-pura tak mendengarnya.

Satu Manusia yang Mati adalah kematian bagi semua manusia. Begitu ajaran Luhur Manusia yang memanusia di Bumi Manusia. 


- Makassar, 29 September 2019 -


***

- LUKA KODINGARENG LUNAS-

Belum kering Air Mata Puluhan Emak-Emak Yang Menghujam Bumi Celebes, tepat di depan Hidung Tuan. Mereka menangis sambil memanggilmu Gubernur Andalan.

Tak ada jawaban Yang mereka dapatkan Di depan Istanamu.

Atas Titahmu, Perusahaan Tambang Pasir di kodingareng beroperasi.

Mereka mengiba, karena wilayah tangkapannya di keruk. Keruh. Keruan kerumunan ikan menjauh.

Para nelayan tak terima. Merek melawan. Dus, di kriminalisasi. Perahu mereka di rusak.

Menjadi Benar Ludwich Feurbeach ; Ada-Ada saja manusia berpakaian akademik, berpeci agama. Tetapi, sikapnya Dzolim.

Itulah akibat dari Seorang Akademisi berotak Bisnis. Agama di jadikan Komoditas, alat Hegemoni gerak tipu. Agar Ia di sangka alim dan Di Andalkan.

Hari ini Guman, emak-emak menembus dinding-dinding langit. Di Ijabah. Doa orang yang tertindas itu " melawan" dari arah yang tak di sangka-sangka. Piutang rakyat yang teraniaya di bayar tunai.

Keadikaryaan alam di keruk. Kodingareng diokupasi. Keadilan di korupsi. Kemarin Engkau Lolos dari banyak jerat, Tuan. Hari Ini, Engkau mendapatkan lawan Main Tangguh.

Semoga Kebenaran Berta'aruf dengan Empunya. Hanya Tuhan Pemberi Jalan Terbaik.


- Makassar, 15/05/2020


***

- Tengadahlah


Tengadahlah..!

Merunduklah dalam palung paling lirih dalam munajat panjang. Tak ada kegetiran yang layak di sandarkan kecuali pada langit.

Langit adalah tempat terlapang dalam menampung segala kecemasan.

Langit merupakan sandaran terempuk melebihi permadani terindah.

Langit adalah ruang berpulangnya segala ketakutan.

Langit adalah makamnya kebeningan.

Langit tak marah,
Langit tak Murka,
Langit bukan angkara.

Tengadahlah saudaraku.

Tengadalah pada derai air mata syuhada yang pulang dalam manja.

Tengadalah Pada jerit yang menggema di kolong bumi seribu masjid.

Tengadalah pada tetes tangis keharuan di bumi manusia.

Tengadalah..!

Sebab Langit tak akan pernah alpa genapi janjinya; "Ud uni astajiblakum " berdoalah Niscaya akan ku kabulkan.

Doa adalah senjata orang-orang percaya.
Langit akan berlari saat kita berjalan menujunya.
Langit akan datang sedepa jika kita menuju sehasta.
Langit akan datang dengan berjalan cepat jika kita menujunya dengan merangkak.

Ia (Langit) lebih dekat dari Urat Nadi.


- Puisi Untuk Gempa Lombok, 20 Agustus 2018 - 



***

-Ilmuan yang Naif-


Betapa naifnya, seorang ilmuan, seorang Profesor. Di peralat penguasa untuk menghancurkan agamanya ; jabatan dan kekuasaan telah membutakan nuraninya.

Dia menggadaikan identitasnya akibat lapar. Lalu, akses dapat makan di buka. Berubah menjadi WC Umum, murah dan Gratis. 

Ternyata ego berhalanya lebih aktual, ketimbang nalar natqiyahnya. Selama ini, ego berhalanya telah menyusup masuk ke alam bawah sadarnya, sehingga dia mengalami krisis nilai, yang merusak citranya sebagai pengawal kebenaran. 

Sungguh ironis, ternyata ego berhalanya telah membuat dirinya menjadi kalap dengan membenarkan kejahatan menjadi sebuah kebenaran yang dipaksakan. 

Aktifkan nalar fatsoenmu, agar dapat menyelamatkan kesesatan logikamu yang selama ini menghalusinasi dalam dirimu. Restropeksi dan muhasabah adalah solusi bijak untuk menakar ego berhalamu yang kini nyunsep oleh hal-hal absurd dan Menyesatkan. ketika ego berhala menjadi lifesyle, maka benar sindiran louis Lehay, bahwa didalam diri manusia telah terjadi kegersangan psikologis Vis a Vis nuraninya telah mengalami mati suri yang amat memprihatinkan.

Begitulah mental seorang politikus, yang dulu dianggap cerdas, idealis, brilian, juga berani. harus menjadi anjing, yang menjilat demi menyelamatkan lapak makannya. Maka, kita harus meras iba. 

Yah, Kecerdikan yang lacur, kerap bersanding dengan kelicikan. Demikianlah, sejarah menukilkan, tentang perilaku penghianat.

Di zaman fir'aun , tertulis riwayat ; kaum cerdik pandai yang memperdagangkan Hujjah demi kuasa. Kelak, dikenal sebagai " Haman". Sejenis hama yang merusak peradaban. 

Itulah sebabnya, Amru Bin Ash bertutur; "Jangan sampai kita mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin, karena menghinakan orang-orang mulia dari kita. Sesungguhnya kehilangan 1000 orang termulia dari kalian, jauh lebih baik dari naiknya satu orang yang bodoh ke kursi kekuasaan". 



***
- DARI UAS SAMPAI PAPUA -


Konten potongan ceramah lawas UAS merebak di Nusa persada. Seolah Rahmat dan laknat, sangatlah tipis, serupa kulit bawang. Silahkan Laporkan, sebab uji kelayakan hukumnya di pengadilan.

Belum selesai silang urat saraf itu. papua di sirami cuka, setelah kaki tangannya terluka lama. Sayatannya semakin menganga lebar. Setelah mereka di serapahi dengan sebutan khas kolonialias Rasialis.

Lalu, mereka yang sok Nasionalis, betapa entengnya berujar dengan Narasi yang itu-itu saja : "jangan mudah terprovokasi". "jangan memecah belah bangsa".

Tahukah kita bahwa Dulu, di zaman penjajahan. Masyarakat nusantara sering di sebut " inlader". Saat itu, tidak ada pilihan lain selain merebut kemerdekaan.

Momentum kemerdekaan RI ke 74, belumlah sewindu. Bukannya kita memeriahkannya dengan suka cita. Tetapi kita, justru mengulang kejahatan yang sama seperti kejahatan Kolonial yang silam itu.

Apa Memang?. menjajah, memaki, sumpah serapah, hujat caci dan menghina adalah identitas manusia di nusa ini.

Ataukah memang?. Akal dan Nurani kita sudah menjadi entitas purbakala yang kian hari, kian terpojok di ruang keruh.

Saya semakin Skeptis bahwa ini bumi Manusia.
Sebab Nasionalisme yang ku pahani adalah mereka yang telah selesai dengan urusan remeh temeh (perbedaan).

Biarkan mereka tumpahkan kekecewaannya yang terkulai lama. Lawan kawan, langit tak akan runtuh.


- Makassar, 20 Agustus 2019 -



***















KEKUATAN ISTIGHFAR

Suatu ketika Hasan Basri Murid Imam Ali Bin Abi Thalib, Didatangi tiga orang ke rumahnya. 

Orang pertama bersama istrinya berkata : " Wahai Imam, saya sudah 10 tahun menikah dengan Istri saya, tapi belum punya anak. Kami sudah ikhtiar kemana-mana, tapi belum ada hasilnya. Apa saran anda?". Hasan Basri menjawab : " Perbanyak Istigfar".

Orang kedua berkata, "Wahai Imam saya sudah bertahun-tahun kena Penyakit di perut saya. Berobat kemana-mana tidak permah sembuh. Apa saran anda?". Hasan Basri Menjawab : " Perbanyak Istigfar". 

Orang ketiga berkata, "Wahai Imam, saya sudah bertahun-tahun menjalankan bisnis, tapi saya tidak pernah kaya-kaya. Apa saran anda?" . Hasan Basri Menjawab : " Perbanyak Istigfar.

Setelah ketiga orang tersebut pulang, Istri Hasan Basri Berkata, " Wahai Suamiku mengapa engkau memberikan saran kepada ketiga orang untuk memperbanyak Istigfar?, jangan sampai mereka butuh saran Tabib, atau butuh modal usaha?". Hasan Basri menjawab : Wahai Istriku, engkau tidak dengar, penuturan mereka bertiga bahwa mereka telah berusaha-Ikhtiar. Penyumbatnya itu dosa mereka, Penyumbatnya itu harus diangkat, Dan tidak ada cara lain kecuali Istigfar.

Setali tiga uang dengan Kisah diatas, Suatu waktu, ketika sudah Sepuh usiannya, Imam Ahamd Bin Hambal tidak tau kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota diIrak. Padahal tidak ada janji sebelumnya atau hajat yang lain.

Setelah bertikai sekian waktu dengan pikirannya sendiri, akhirnya Imam Ahmad memutuskan pergi ke Bashrah dengan menempuh sekian kilo meter. Setelah tiba, tepat waktu Isya, Imam Ahmad Bin Hambal Sholat berjama'ah dimasjid. Begitu selesai sholat dan Jama'ah telah bubar. 

Imam ingin berbaring, tetiba Marbot Masjid menghampiri Imam dan bertanya : "kenapa Pak, mau buat apa disini?". Marbot tidak tau, jika yang hendak diusirnya adalah Imam Ahmad. Imam tidak memperkenalkan siapa dirinya. Kata Imam, "saya ingin Istirahat, saya musafir". Kata Marbot, Tidak boleh tidur diMasjid. Imam didorong-Dorong keluar dari masjid. setelah keluar, masjid pun dikunci. 

Karena capek akibat menempuh perjalanan jauh dan juga Rasa kantuk yang luar biasa. Imam Terpaksa tidur diteras Masjid. Ketika sudah berbaring, marbotnya datang lansung marah-marah kepada Imam. "Mau buat apa lagi Orang Tua?", kata Marbot. "Mau tidur, saya musafir", jawab Imam. "Didalam Masjid tidak boleh, diluar masjid tidak boleh". Imam Ahmad diusir dan didorong-dorong keluar sampai ke jalan.

Disamping Masjid, ada seorang penjual Roti yang sedang membuat adonan. Sambil melihat kejadian Imam Ahmad yang didorong-dorong oleh Marbot tadi. Saat Imam sudah sampai dijalanan, penjual Roti memanggil dari jauh "Mari Orang tua, anda boleh nginap ditempat saya. Saya punya tempat, meskipun kecil". Kata Imam :" baik ". Imam masuk kerumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat adonan roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya memperkenalkan sebagai Musafir).

Penjula roti ini, punya perilaku tersendiri, kalau imam Ahmad ajak omong, dia menjawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti, sambil melafalkan Istighfar : Astagafirullah. Saat menaruh garam, astagafirullah. Saat memecahkan Telur, Astagafirullah. Saat mencampurkan gandum, astagafirullah. Selalu mengucap istigfar. 

Setelah beberapa jam Imam memperhatikannya. Sang imam bertanya kepada penjual roti ; "Sudah berapa lama kamu lakukan ini (Istigfar)"?. Sudah lama sekali orang tua, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu, saya amalkan Istigfar ini, jawabnya. "Apa hasil dari perbuatanmu ini?", Tanya Imam Ahmad kembali. Penjual roti menjawab : " Lantaran Wasilah Istigfar ini, tidak ada hajat yang saya minta, kecuali di kabulkan oleh Allah, semua yang saya minta lansung di terima oleh Allah SWT". Lalu penjual Roti melanjutkan penuturanya : "Semua di kabulkan oleh Allah, kecuali satu. Masih satu yang belum di kabulkan oleh Allah". Imam Ahmad bin Hambal penasaran, lalu bertanya : "Apa itu?". Kata penjual Roti : "Saya minta kepada Allah, agar di pertemukan dengan Imam Ahmad Bin Hambal". Seketika itu juga Imam Ahmad bin Hambal bertakbir, Allahu Akbar. 

Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Baghdad, pergi ke Bashrah sampai di dorong-dorong oleh Marbot keluar masjid hingga keluar ke jalanan karena Istigfarmu. Penjual roti merasa gembira dan memuja-muji Allah, sebab ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad Bin Hambal. 

Itulah sebabnya Rosulullah SAW bersabda : "Barang siapa yang memperbanyak istigfar maka Allah akan menjadikan untuknya kelapangan bagi setiap kandundahannya, jalan keluar bagi setiap kesempitan, dan dia memberikan rezeky untuknya dari jalan yang tidak terduga". 


* Bersambung
* Coretan Pena Nalar Pinggiran


Senin, 24 Agustus 2020

CORETAN PENA KOESAM PADA NONA - NONA

- Mencintai Nona -


Dia menikmati kehadiran Tuhan pada tiap-tiap kerlingan menggoda dari pasangan Wanitanya.

Dia terbius pesona Hawa yang dirasakan Adam dan terbawa terbang dengan tiupan Roh dariNYA. Sering kali dia diam terpaku, Terpukau.

Dia melihat malam yang menutupi siang saat melihat dua mata yang terpejam dalam nikmat yang seakan tak berujung.

Dia mendengar suara ombak saat purnama, pelan dan sayup. saat sang kekasih wanitanya mendesah panjang dalam napas yang tertahan.

Dia menikmati senandung cinta surgawi pada tiap-tiap tarikan napas yang memburu, ketika pendakian semakin mendekati puncak penyatuan asmara.

Duhai, Sang pejalan Sunyi melukis tubuh kekasihnya dengan tinta dari cinta padaNYA.

Sang Pejalan sunyi melukis tubuh kekasihNya dengan jiwa yang tetap tersambung dengan langit.

Sang Pejalan Sunyi tidak menyapu kuasnya diatas tubuh kekasih dengan kotornya syahwat dan birahi.

Tetapi pada tiap sentuhan Pejalan Sunyi, diatas tubuh halus lembut kekasihnya, jiwanya bergetar dengan Asma dan nama-NYA.

Pejalan Sunyi tahu, Semua ini hanyalah percikan, Manifestasi tetesan kecil dari samudera mata air kenikmatan surgawi.

Namun Sang Pejalan itu pun Mahfum bahwa Percikan dan tetesan kecil itu adalah pemberian Tuhan, agar kita tahu, Sungguh kelak disurga-NYA, Kenikmatan itu seluas samudera, tidak bertepi dan kita bebas mereguknya sepuasmu.

Pejalan Sunyi tenggelam dalam diri-NYA, Seiring suara lenguhan kekasih dan jiwanya bergetar dalam rasa syukur yang lezat.


-  Makassar, 02 Agustus 2020 (Pukul : 03.54)



***
-SuaraMu Nona-

Diantara bising hilir mudik para pelancong kehidupan yang lalu lalang.

Suaramu adinda, merambat pelan; pelan-pelan menembus ruang belukar kesunyian. yang telah lama ku sembunyikan dari bising.

Diantara keteduhan yang telah lama berlalu, Suaramu adinda Adalah sebentuk kebeningan yang menyerbu lobang-lobang telingaku dan memasung nalar kritisku.

Diantara jeda percakapan dan dentingan WA, Suaramu adinda, telah mampu menggetarkan debaran kesunyian yang telah lama sembunyi dan tak sanggup ku takar dengan nalar.

- Makassar, 04/09/2018 -



***

- Ada Luka di Ijabmu I - 

Jika engkau hendak cemburu, cemburulah pada air mata.

Ia adalah Penguasa Hati yang tak memiliki Tahta ; kerjanya memperhamba duka, memperbudak bahagia.

Dalam satu imperium rasa, Segalannya bisa berairmata. Walau air mata tak merubah segalannya.

Rahasia terbesar air mata, terikat pada waktu. Ketika menjanjikan sebuah pertemuan, kemudian memberikan sebuah keputusan tentang kehilangan.

Air mata yang luruh oleh sebab keberadaan. Ini bukan rahasia, Ini hanyalah suatu Fragmen dari lakon drama kehidupan.

Di mata, ada air mata. Dari sanalah semua sembab bermula. Isakan berakhir. Hati harus yakin terhadap kuasa takdir.

Ibuku, mengajari agar tidak menjadikan air mata sebagai pelarian. Namun, kita Sesekali menyeka air mata yang entah berhulu dari mana. 

Isak Tangis, bukan sekedar teks yang kamu capture dan viralkan. Ratapan Hati pecinta, tak bisa terwakili dalam beribu meme. 

Matahari akan hilang di batas senja, bulan akan hadir menggantikkan jingga. Demikianlah siklus takdir bekerja.

Kita tak bisa memaksa Tuhan untuk memiliki seseorang. Dia yang menjelma dalam tiap nama, telah merancang rute takdir untuk kehidupan kita.

Dia Maha Tau dengan siapa kita akan berpasangan nantinya. Di kehidupan ini, kita hanya berjalan menyusuri setapak Takdir masing-masing.

Ihwal Itulah, Tidak perlu terlalu vulgar memeriahkan hubunganmu diSosial Media.

Toh, pada akhirnya kita tidak bisa memaksakan kehendak untuk berpasangan dengan siapa.

Sampaikkan saja Doa-Doamu di ruang senyap, berulang-ulang diakhir sujud, Hingga Allah mendengar kekhusyuanmu meminta.

Dan, jangan sekali-kali mengharapkan lebih dari yang Tuhan Kehendaki.

Sabarlah, Tiap diantara kita, ada yang mengaturnya. Semoga Allah berkendak Lain, Ada hikmah di tiap lipatan waktu.

- Makassar, 08/09/2015 -


***

-Ada Luka Di Ijabmu II-

Malam itu, ku pikir lembayung semu telah mengintip di bibir fajar. Ternyata, bias sinar pembakaran kayu menipu bola mata.

Kayu telah habis dan malam masih sangatlah panjang. Dingin pun telah menusuki tubuh.

Kian malam, semakin melengking digigil kebekuan.

Kini, hanya sisa pembakaran kayu diatas tanah yang kering.

Tolong, jangan biarkan abunya berserakan dipelataran. Sebab itu hanya akan membuat luka semakin menganga lebar.

Bawalah abunya bersama kebekuan. Jika tidak ingin, hujan mengguyur derasnya. Lalu menggilas semua jejak yang tertinggal.

-Makassar, 10/09/2015-


***
-Ada Luka di IjabMu III -


Jika masih tersisa noktah cinta di masa lalu, aku rela engkau mendendangkan kembali kidung harapanmu di tengah elegi jiwaku yang semakin nanar. 

Aku telah menjadi dewasa tuk  merasakan gelora bathinmu yang kian membuncah. Ini tentang 'dirinya' yang begitu berarti bagimu.

Aku memahami dengan sepenuh jiwa, bahwa sosoknya terlampau istimewa dengan neraca kenaifan yang semakin gagu di bandingkan denganku yang apa adanya.

Andaikan, aku tak sanggup memberikan keyakinan akan tulusnya cintaku kepadamu. maka, aku ikhlas dengan sepenuh jiwaku memberikan waktu kepadamu tuk mengagumi tentangnya, dengan personifikasi yang absurd. 

Sementara, aku terburai, rapuh, galau di antara resonansi hidup yang kian getir.

Kebahagiaan semu, kesenangan hedonis, kenikmatan profan yang engkau damba selama ini adalah daur hidup yang tak pernah menjadi realitas yang menjanjikan. 

Biarlah semua itu menjadi kado pahit yang selalu ku kenang. Singkirkan seluruh hasrat tuk bahagia bersamaku karena memang aku takkan pernah bisa.

Cukuplah tuk menghakimiku. lelah jiwaku, gemulai batinku, tuk menerima sikapmu yang ambigu. 

Mempreteli (ke-akuanku) adalah satu bukti betapa nihilnya cintamu kepadaku. 

Dirimu adalah sosok ambivalen yang tak dapat dijamah dengan nalar yang tautalogis. 

Aku pasrah dalam keterbatasan yang membisu, aku kalah karena terjebak oleh liciknya pion cintamu di tengah arogansi bidak kuda yang begitu rapuh.

Maafkanlah diriku bila salah mengkalkulasi dirimu dengan mizan kearifanku, karena aku hanya manusia biasa, punya keterbatasan dengan segala kekurangan yang tak mampu kutakar.

-Catatan Jejak Langkah ; Makassar, 15/03/2018)-



***
- Sedang Berjuang I -

Akan ku dapati kau di seberang sana dengan utuh. Tidak ada jalan kembali, kita putuskan untuk melangkah bersama. 

kemudian kita bertemu, sisanya adalah sejarah. Saling memadu kasih, merawat sesama. Berjuang dan memeriahkan kemenangan secara berjama'ah.

Lalu, Di bola matamu kudapatkan ribuan kata terpendam. Sunyi dan senyap tak terpengaruh oleh deru dan haru. suka dan duka. Susah dan senang adalah sebuah laku. 

Berjalan atau berlari adalah cara ikhtiar, duduk juga kadang di perlukan untuk mengendapkan rasa yang tertekan. 

Malam ini masih panjang, tak perlu terlalu risau. lihatlah jarum jam yang masih terus berjalan, pertanda waktu masih melaju.

Sabarlah, Aku sedang membangun Rumah untukmu, tempat kita kelak saling menghidangkan rindu.

Jika tak sabar. Pergilah sejauh mungkin, hanya saja selipkan aku dipikiranMu. Tak harus diSeluruh HatiMu. tak apa hanya tempat kecil yang sederhana.

Hanya saja, pastikan selalu ada diantara peluhmu, Diantara bingar duniamu. Karena hanya itu yang akan membawamu pulang. 

Pulanglah seutuh kau pergi. Utuh dan Sendiri...!

- Makassar, 5 Januari 2020 -



***

- Sedang berjuang II - 

Jika menurutmu, aku ini tersesat. Mengapa tak engkau Peluk dan sayangi aku. Lalu, engkau tunjukkan dimana jalan kebenaran itu?. 

Pada sunyi, Rinduku sembunyi. Ia Tiba, sejak senyap menyergap. Pada bulir kedua matamu, intuisiku hinggap. Lunak dan lantah. 

Naif, jika rinduku harus kembali mengalah. Tetapi, Naas. engkau tak pernah paham Diksi kesunyiaan. 

Biarlah..!

Petarung memang, harus berani memanggil keputusannya Pulang. Ia bawakan kepastian akan ada apa esok hari?. Pilihannya bahagia diantara sepi atau tertawa ditengah-tengah sunyi. 

Banyak dari kita yang berhenti karena menyerah, bukan akibat kalah. Padahal orang yang menyerah tidak akan pernah menjadi pemenang. 

Kekalahan telah mencicipiku manisnya kemenangan dari sebuah perang besar yang paling monumental, yaitu Menaklukan diri sendiri.".

Biarlah saya kalah dengan gagah. Berdiri di teriknya harapan yang menyala-nyala, menggambar birunya langit yang tersenyum mengancam.

Al ghazali mengingatkan kita, kadar cinta seseorang benar-benar diuji saat berpisah dengan sesuatu yang dicintainya.

- Makassar, 5 Februari 2020 - 


***

Aku Ingin -

Aku ingin memandangmu, tanpa bayang, tanpa bias.

Aku ingin Bercengkrama, tanpa kata, tanpa syair, tanpa kias.

Rupa-Rupa dua alam penuh kemas, penuh hias.

Aku ingin mencintaiMu, tanpa solek, tanpa rias.

Aku ingin mencintaiMu, saja. 

- Daun Coffe, 26/11/2019 -


***

- Ada surga di telapak kaki Tuna Susila -

Masih saja beberapa senyummu dianggap Bisa- bisa malam.

tak mengapa pula desahmu di renggut lelaki hidung belang, yang mencoba menghabiskan peluh hanya lewat senggama.

Memang kadang Nasib terkulai di antara tumpukan cacian bahkan di cap legam hitam bernoda.

Semoga surga di telapak kakimu tak ada habisnya, meski kaki-kaki seringkali telentang, di gagahi gemerlap malam.

- Gandoli ; Surabaya  2015 -


***

 - Daeng Bungaku 1 -


Daeng Bungaku, kemana lagi engkau ku cari?. padahal telah ku sirami setiap batang pohon, agar kau merakah berseri. namun tak jua terlihat walau sebatas kelopak_mu.

Daeng Bungaku, pernah aku merasakan harum diri-mu, sungguh membuatku terpaku membisu.
Tanpa ragu ku bersiap menghisapmu, ku rasakan manisnya madu. tetapi, kepakan sayapku terpaksa berhenti, ku lihat ada kumbang lain datang menghampiri, terlihat engkau begitu menanti.

Daeng Bungaku, kini ku mengerti telah, lama kau berbagi, membuatkuu merunduk mengelus hati. menyadarkanku, bahwa engkau bukan bunga yang ku cari.

lalu dimanakah engkau daeng bungaku. masikah engkau berbagi madu bersama kumbang lain atau sendiri menanti datangnya diriku untuk berbagi madu sepanjang waktu.

- Makassar, 13 November 2020-


***


- Daeng Bungaku 2 - 

Daeng Bungaku, Ku Ingatkan padamu, bahwa cintaku tak ingin di ikat dunia. Sebab, Dunia ini akan pecah, ambruk dan terbakar, jika menanggungnya. 

Daeng Bungaku, Dunia ini terlalu sibuk merajut jeratan-jeratan dan mempersulit dengan ikatan-ikatan. memuat panjangnya manusia yang antrian, untuk memasuki penjara. 

Daeng Bungaku, kasih sayangku tak terpanggul oleh ruang dan waktu. Ia, membebaskanMu hingga ke Tuhan. 

Daeng Bungaku, Ruang tata hidup perkawinan, kebudayaan dan sejarah adalah gumpalan sepi, dendam dan kemalangan.

Daeng bungaku, Jika semesta waktu hendak mengukur cintaku?. ia perlu mati berulang kali untuk hidup berulang kali kembali. 

- Makassar, 05 Desember 2020- 


***

- Daeng bungaku 3

Daeng Bungaku, Aku hanya Ingin mencintaiMu, dengan Cara yang Paling Radikal.

Daeng Bungaku, engkau Tahu, Epos kesejatian Cinta adalah sejarah paling tua, seumur keberadaan manusia (Adam Dan Hawa). 

Daeng bungaku, Adam Dan Hawa Terusir dari taman Eden. Akibat, melanggar perintah (membangkang). Lalu, mereka Bersua kembali dibukit cinta adalah drama kesejatian cinta, yang paling menggahar elan kecintaan.

Daeng bungaku, Pertemuan keduanya adalah hukum baku, dua kutub cinta yang saling mengandaikan (puncak kerinduan).

Itulah sebabnya, Dalam sejarahnya, cinta tak pernah hidup dalam bara pengkhianatan (keluar Dari Fitrah). 

-  Makassar, 08 Januari 2021 - 


***

- Daeng Bungaku 4 - 


Daeng Bungaku, Ku harap engkau, tidaklah seumpama Bunga Edelweis. Bunga yang hanya sering mekar di bulan April dan Agustus. 

Harapku, engkau mekar tiap saat. Sebab, bahagia itu setiap hari, tidak mengenal musim.


Daeng Bungaku, Aku pun berharap, engkau tak seperti bung Senduro. Bunga Yang hanya tumbuh di puncak pegunungan. 

Harapku, engkau tumbuh dan mekar bersama Mustad'fin, Tani, nelayan, Rakyat miskin kota dan Buruh. Membumi bersama mereka. Semoga itulah yang di maksud dengan Bunga revolusi. 

Daeng Bungaku, Bagaimanapun. Maaf. Sebenarnya, tak pantas engkau ku personifikasi dengan Bunga. Sebab, bunga terlalu profan. 

Sementara "Panggaingku RI Kau", ia transenden tak terpermai. Selamanya cinta ini akan tetap ayu dan lestari. 

- Makassar, 16 agustus 2021 -


***


- Daeng bungaku 5 -

Daeng Bungaku. Kebutuhanmu, hanya mengikuti keinginanMu yang menggebu. sebenarnya yang kurang bukan uangmu dalam saku. Tapi, rasa syukur-Mu terhadap sesuatu yang menghuni sakuMu. 

Daeng Bungaku, Hidup akan lebih membahagiakan, jika Engkau menyederhanakan keinginanMu. Sesederhana keinginanku menikahimu. 

Daeng Bungaku, Aku akan segera datang, dan kita akan menempuh jalan bersama. Akan ku temui engkau disini, sebentar lagi. Setelah kita di dewasakan oleh sepinya kerinduan.

Biarlah sejenak, ku titipkan kerinduanku diselasar magrib. Agar seluruh niat baik ini, mengikuti doa para hamba yang menjemput suara adzan ; Innaka la Tuhkliful Mii' add Ya ar hamar rahimun (sesungguhnya engkau tiada menyalahi janji, wahai Dzat yang Maha Penyanyang)". 

Daeng Bungaku, Bersyukur memang adalah keindahan yang jarang dicoba oleh mereka yang gemar mengeluh. Padahal, Jarak antara kita dengan kebahagiaan itu simpel; dibatasi oleh barang yang belum kita miliki.

- Makassar, 25 januari 2022 -


***

- Bulan bergerak tanpa berisik -

Kita hanyalah dinding-dinding lelah yang melekat di ruang Rasa, hening tanpa suara. merestui kehilangan dari semesta, meski pernah kita memaksa hujan redah di balik matahari yang gagah.

Sekat tanya begitu melangit di udara, mencari harapan yang gugur di lahap senja. bahkan jejak langkah kita yang terpisah, tetap pergi menemui arahnya.

Jemari yang tak tersentuh, menarik diri dari rasa tunggu. sebab, menjauhimu adalah cara terbaik berdamai dengan masa silam.

Siklus waktu masih merahasiakan sebuah doa. memanjangnya di setiap helai sujud manusia, lalu kita terbiasa dengan hal-hal yang semestinya.

Kamu memulangkan kenangan pada tempat terbaik untuk di ingat, sedang aku tengah menunjukkan caranya menerima luka yang menganga. meski bukan sepertiMu yang menunjukkan air mata.

Kita hanyalah bekas-bekas gengsi perasaan yang perlahan saling membenci. walaupun kau masih sering menghiasi janji. tapi, percayalah aku bukan petir dan kilat yang lebih cepat dari cahaya.

Masa membiasakan diri darimu, ku lalui dengan cara yang sederhana, Menyeruput kopi, mendaras Literasi dan mengepulkan asap tembakau, yang menembus dinding-dinding kamarku, hingga bercerita layaknya seseorang yang baru saja di hadiahi sesuatu yang berharga.

Kita tetap dua Hati, yang kini memilih pilihan untuk sebuah cerita baru. Berbanggalah sebab engkau pernah menguatkan seseorang dan menjadi tuju dari tiap usahannya.

Saya tidak Lupa, bahwa Sempat dalam benakku. Kau tetaplah batu keras yang tak akan mungkin terkikis. Meskipun begitu, seiring waktu yang bergulir engkau tetap menjadi yang terkisah.

Kisahku di abu-abu, terdapat namamu. Entah di bagian mana, ku yakin kau ada. Ini adalah Sesuatu yang selama ini, sangat susah untuk ku jelaskan. mungkin sia-sia, ku utarakan dan sangat hati-hati ku sampaikan.

Kelak, Jangan menjadi bayang yang tak dapat di genggam dan mudah menghilang kala gelap. Jadilah kisah yang merindukan.

Aku bukan penggiat yang baik. tetapi, Tuhan terlalu banyak menyimpan kamu di kepala. Bahkan sejauh ini aku memunggungimu, sedekat itu Tuhan mempertemukan kita dalam ingatan.


- Makassar, 11 Juli 2014-


***

-Keindahan Tak pernah terlukis sebelumnya- 

Kita tanggalkan saja sejenak segala anasir, yang akan membelenggu keterlepasan jiwa, untuk terbang merangsek ke palung terdalam irama semesta.

segala keindahan hanya ada, pada pandangan pecinta terhadap Kekasihnya. Maka temukanlah Pecinta.

Para pecinta. Dihadapannya, kekasih tak pernah tercela, begitu sempurna, hingga keluh tak layak dapat tempat, Tak sudi singgah walau sejenak.

Pecinta adalah orang yang paling bersyukur akan kekasihnya. Bagaimana jika ada yang mengaku pecinta, tapi matanya sibuk mencela kekurangan yang bahkan tak terlihat kasat, banyak mata.?

Hanya para pencintalah yang mengenal kekasih-NYA dengan sangat dekat. Sebab, di dalam cinta, setiap penjelasan akan mati tak berdaya.

Ihwal itulah, sering saya katakan - Jangan mendebatku, tentang seseorang yang kamu lihat dengan mata kepalamu, sedangkan aku melihatnya dengan Hatiku

Hal itu sama dengan, apakah kita tahu alasan daun bisa jatuh cinta kepada embun?. Jika engkau tahu. Tolong, Ajarkan aku mendefenisikan cinta dengan benar. Sebab, cinta yang ku pahami saat ini, sudah benar-benar mengubur logikaku di liang kubur yang nyaris tertutup.

Sudikahh engkau memanggil aku kekasih setelah engkau pecahkan cawan anggur cintaku. Sang Sufi, Abu Sa'id al-Khairi pernah berjumpa dengan Ibn Sina dan berkata: "Wahai engkau yang tidak mengenal mereka yang terbakar - atau yang sedang terbakar, sesungguhnya cinta adalah sesuatu yang muncul sendiri ; ia tidak diajarkan."

Cinta adalah keindahan Tuhan. Sedangkan, Keindahan Tuhan mengungguli keindahan lain. Tetapi keindahan lain itu sering kali menjadi penghalang bagi Keindahan-Nya." 



***
-CANTIKLAH SEBELUM PENSIL ALIS DAN GINCU TIBA-


Saya tidak menjanjikan banyak hal. Namun, satu hal yang niscaya engkau pegang sebagai ransum ialah Cantiklah, sebelum pensil alis dan gincu tiba. 

Peradaban ini tidaklah di bangun dari seberapa tebal bedak dan gincumu. Peradaban ini, di bangun dari Jalan pikiranMu.

Pikiranmu niscaya berdiri diatas semua sumber mata angin. Lalu, tirulah akhlaq Ummahatul Mukminin Siti Khodijah, yang dari rahimnya terlahir perempuan tangguh Seumapama Fatimah. Serta Cerdaslah, seperti Siti Aisyah. 

Legakan nafasmu, pandang dunia seluas imaji. Sebab, tak ada yang kusut di hadapan akal sehat.  Sebab, Kecantikan itu malapetaka, Perang Troya berkecamuk. Bersumbu, karena memperebutkan "Helena". 

Cikal Bakal Perang antara kerajaan Prambanan dan Majapahit. karena, memperebutka "Diah Pitaloka". 

Romeo, tak akan permah berani meneguk Racun. Jika bukan karena Kekasihnya, "Juliet", Dan Qois, Tak akan pernah Di lekatkan Majnun. Kalau Bukan, Karena "Layla". 

Tertawan pada Kecantikan itu lumrah. Sebab, Kita (lelaki) adalah Manusia, bukan malaikat, yang terbebas dari segala kencenderungan. Hanya saja, Ingatlah bahwa Kecantikan bisa mendatangkan Malapetaka. 

Nona, sejatinya bedakMu adalah debu jalanan, kecantikanmu terlontar lewat dentuman suara kebenaran yang menggema di kolong Langit Ketidakadilan.

Engkau adalah PER-AN yang niscaya mengembalikan EMPU-AN. Engkau mesti memastikan keotentikan dirimu bahwa engkau adalah PER-EMPU-AN, yang berdaulat atas dirimu, bahwa perempuan harus menjadi Puan atas dirinya.

Engkau sejatinya Melompati perangkap iklan industri kosmetik. menambrak kejumudan pikiran, bahwa perempuan adalah mahluk second Choice, yang standar kecantikanMu di pasung orang-orang.

Sekali lagi, Cantiklah sebelum pensil alis dan gincu Tiba. setelah Itu. Tumbulah..!. Sebab, Daun kering dan gugur telah menjadi tanah. Lalu, menjadi nutrisi bagi tumbuhnya tunas-tunas Muda.

Tidak pernah hujan adalah duka baginnya, dan kemarau adalah sepenggal cara merelakan daun-daun kering untuk menjemput masa gugurnya.

Tidak seluruh waktu di jalaninnya dengan musim kembang dan tidak pula seluruh waktu adalah musim panen.


- Makassar, 4 Maret 2021-



***
-Kontemplasi Cinta-


Penjara Manusia adalah karena berdiri diatas kebenaran diri sendiri. 

Saya tidak pandai berpesan. Tetapi, alangkah lebih baik jika kita bergandeng tangan. 

Beberapa bagian hidup yang telah lewat adalah drama untuk kita saling mengerti, bahwa kita benar-benar sendiri dan septutnya hidup bersama.   

Hidup bersama, bukanlah menjadi ; satu kepala, satu badan, satu perilaku. Sebab, kita tidak bisa melakoninya masing-masing. Karena semestinya satu itu prinsip nilai universal, yang di tetapkan.

Jangan menjadi egois, apalagi pragmatis. Toh, Hidup ini bukan untuk diri sendiri. 

Apa yang salah, untuk saling memahami, menasehati, menyelami, juga menjalani kehidupan bersama dengan perbedaan ini.

Aku Menyanyangimu, Maka Merdekalah..!

Engkau menyanyangiku, Maka biarkan aku dengan kehendakku. Jika aku salah, ingatkanlah dengan ketetapan nilai universal. Bukan standar etik keegosian pribadimu. 

Dengan begitu, kita layak bersama dan bergandeng mesra. Sebab, sejatinya kita tidak di ciptakan untuk hidup sendiri. 

-Makassar, 23 februari 2021-


***

-MEMPUASAKAN CINTA SELAINMU-


Cinta adalah ketika engkau merasa cukup dengan seseorang Yang engkau cintai. 

Seolah-olah engkau tak pernah melihat siapapun kecuali Dia dan Pandangan Mata kita telah cukup OlehNya. 

Saya berhak mencintai Semuanya. Tetapi, saya tidak melakukannya. Tak ku lakukan, Karena saya Hanya MencintaiMu.

Ingatlah, bahwa hal itu bukan Ilmu Mencintai. Tetapi, ilmu tentang puasa. 

Bagaimana Dunia ini tidak menjadi belantara Khuldi. jika kita menganggap, bahwa Puasa itu hanya soal tidak makan dan tidak minum, Dan hanya di lakukan di Ramadhan. 

Saya mempuasakan diri untuk tidak mencintai selainmu. Bukankah hal itu adalah cinta yang sejati?. 

Namun, engkau benar-benar abai mendengarkan debaran itu. Jika saja, engkau mau mendengarkan suaraku, sesungguhnya itu SuaraMu. 

-Makassar, 20 April 2021-



***
MAWAR 1 


Tidak ada pilihan yang mudah, Sebab ia tidak lebih dari sekedar memisahkan beras dari sisah gabah.

Duri itu keniscayaan pada mawar. Ikhlas adalah konsekuen atas pilihan mencintai mawar, bukan mencaci dan menyumpah serapahi saat durinya menghujam relung.

Kelemahan kita ialah pandai mengingat saat tertusuk duri Mawar tapi abai pada kelopaknya yang memantulkan keindahan di saat yang lain.

Bukankah lewat indahnya, Kelopak mawar telah banyak memberi keindahan, kita pun harus ikhlas bila tertusuk durinya.

Sebanyak apapun narasi orang menuliskan tentang keindahamu, Engkau tetap memiliki duri. Mendambamu untuk di miliki adalah merela tertusuk durimu.

Mawar, Hanya akan mekar jika debu di kelopaknya hilang. 


NB ; Malino, 23 Mei 2015



***
MENGANGA LUKA (MAWAR 2)


Takdir dan Hasrat seringkali Paradoks. Maka biarkan takdir menertawakan Ikhtiar. Di pojok ruang pikir yang keruh, bunga acap menjadi duta bahagia.

Karena Tidak ada mawar yang tak mematulkan keindahan. Namun, Tidak ada mawar yang tidak memiliki duri pada batangnya.

Karena Tidak ada pecinta keindahan, yang tidak menaruh kekaguman pada keindahanmu. Namun, tidak ada yang tertusuk duri yang tidak merasakan sakit.

Pilihan cinta pada keindahanmu, ialah keinginan untuk tidak memilikimu. Terlampau ideal, memang. Sebab hal itu berbanding terbalik dengan kodrat manusia. Sebab di banyak Lakon hidup, hanya sedikit diantara banyak manusia yang menaruh kecintaan pada keindahanamu, yang menggemakannya di Ruang sunyi yang sembunyi.

Pilihan Memilikimu dalam kadar kepantasan, itu sulit. sebab butuh pengenalan dan pengendalian diri. Ukurannya ialah pada Kadar kepantasan.
Seberapa ikhlaskah kita, Bila Dihempaskan Sang Mawar berduri.

Acapkali saya membatin, apakah perangai mawar selalu menyembunyikan duri pada batangnya dan merinai-rinai gembira saat pendambanya tertusuk. Namun itu belum bisa di jadikan kesimpulan dalam jalan panjang ini. sebab tidak semua Mawar tega menghempaskab pengangum, penyuka dan pecintannya.

Tidak jarang juga kita temukan, di banyak lakon manusia yang menyumpah serapahi bahkan menghujat caci saat dihempaskan oleh Mawar. padahal, indahnya kelopak dan durimu adalah satu kesatuan yang tidak terpisah.

Sulit memang menemukan, manusia yang menaruh kagum, suka dan cinta pada semua keutuhan yang tak terpisah dari mawar.

Jika suka mawar maka suka juga durinya. Jika mendamba mawar maka mendamba juga durinya. Jika cinta mawar maka cinta juga durinya. Jika memilih mencintaimu maka konsekuensi dari sikap dan laku kecintaan ialah merelakanmu. TITIK.

Siapa saja yang merasa memiliki maka bersiaplah merasakan kehilangan dan kehilangan itu menyakitkan. Siapa saja yang Mengangumi dan menyukai serta mencintaimu untuk di miliki adalah kerelaan jika suatu saat duri-duri pada batangmu akan menusuk. 

Mengenggam erat tangkaimu yang berduri merupakan pengorbanan biasa, bagi darah yang menetes.

Tuhan menciptakan Mawar, tanpa memaksa kita bersyukur atas Indah bunganya. Bisa jadi, hikmah justru, datang dari durinya, atau bahkan pohonnya yang mulai meranggas. 

Itulah mungkin sebabnya Bunga Mawar Di artikan dalam Bahasa "latin" adalah "rosa santana". Sedang engkau akan Ku beri nama "Rasa yang Paling bermakna". 


NB ; Makasar, 19 Juni 2015



***

MAWAR 3


Apakah engkau tahu bahwa tupai jantan selalu menghadiahi tupai betina dengan sekuntum bunga mawar?.

Pasti Engkau Tak menyadari itu.

Olehnya, Berhatilah-Hatilah menekan dan mengirim Emot Mawar Di Geadgetmu. Sebab Mawar Adalah seluruh ungkapan cinta yang pernah terucapkan. 

Dari semua defenisi rasa yang pernah diciptakan.


Makassar, 26 Juli 2020


***

- BARAKALLAHU FI UMRIK -

Nona. Usia itu Bertambah. Tetapi tidak menjadi banyak. Sebab, waktu selalu menguranginya. Maka, terimalah yang cukup. Yang telah tiba dini hari tadi. 

Usia akan usai, hanya sebagai angka-angka saja. Jika di perjalanannya tak kita beri tanda. Menjadi dewasa atau bertahan menjadi bahagian dari milineal itu adalah pilihan. Yang berat melakonj keduannya.

Saya yakin ada banyak orang yang diam-diam bangga dengan dirimu. Biarlah saya yang terang-terangan bangga mrngenalmu.

Selamat Milad, doaku lebih banyak ku bawa dalam waktu-waktu syahdu bersama Tuhan  ketimbang di Captions ini.


***
--Coretan Perempuan 2--


Perempuan itu seperti anak kecil yg merepotkan, dan ketika Ia sudah tdk merepotkan lagi. Ketauhilah, bahwa ada orang lain yg telah memberinya keindahan (Nizar Qabbani).

Kata Arthur Schopenhauer, "keangkuhan perempuan meskipun tdk lebih genting ketimbang lelaki. tetaplah lebih membahayakan. Sebab haluannya, yg semata2 materil. mendambakan keelokan paras, perhiasan, pesta, pertunjukan, serta berbagai bentuk kemewahan".

Begitulah, jika PER-AN kehilangan EMPU-Nya (erperangkap oleh iklan industri kosmetik. Maka, sudah tdk otentik disebut PER-EMPU-AN. Padahal sepatutnya perempuan menjadi Puan atas dirinya.

Yah, Benar Guman Nizar Qobbani, bahwa " Perempuan itu sekumpulan tanda koma, juga tanda tanya. Yg Membuat lelaki menghabiskan sepanjang hidupnya, hanya untuk memecahkan misteri dari sebuah tanda-tanda".

Itulah juga yg membuat Prof Quraish shihab mengatakan, " Butuh 1 lelaki untuk mencintai Perempuan, tetapi 1000 lelaki tak cukup untuk memahami Perempuan".

Padahal, Cantik itu " Innallahu jamilun Wa yuhibbul jamal". Cantik itu kualitas jiwa, bukan kualitas Fisik. 

Kenapa?. Karena perempuan adlh mahkluk yg luar biasa, ada Rahim dlm tubuhnya sebagai pusat kasih, ada cinta dihatinya sebagai jalan bakti, dan ada nalar dipikirnya sebagai sarana diksi.

Nona, Romantis itu ketika Zulaikha berkata Pada Nabi Yusuf ; "Memandangmu lebih aku cintai, ketimbang dunia dan seisinya".

Nona, Romantis itu ketika, Fatimah binti abdul Malik, Isterinya Umar bin Abdul Azis. Kakeknya adalah Khalifah, ayahnya khalifah. Suami, saudara dan sepupunya juga Khalifah. 

Dia meninggalkan harta kekayaannya, ketika Suaminya Berkata ; "Seluruh harta kita untuk Baitul Mal". 

Adakah yang lebih indah, selain perempuan sholehah. Duhaii, Edelweis?.

Ku ingatkan sekali lagi bahwa yg menghancurkan Tun Abdul Najib (Mantan PM Malaysia) ialah Rosmah, Istrinya yang glamor. Anwar Ibrahim, kuat karena Wan Azizah Islami. Sabar, walau suaminya dua kali dituduh zodom, diDua periode.

Berhati-hatilah dgn emosi perempuan. Sebab, Fir’aun pada akhirnya kalah. karena tunduk pada kemauan perempuan (Istrinya). 

Tak sanggup aku menulismu, Nona ; Hidup hanya bertaruh.


- Makassar, 06 September 2021


***