Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Minggu, 05 September 2021

PERJALANAN ISRO' DAN KECEPATAN CAHAYA



Diakhir bulan Rajab, kita kenal dalam sejarah islam dan sejarah Kenabian. ada sebuah peristiwa yang sangat luar biasa, yaitu Peristiwa Isro' dan Mi'raj. Pada tahun tersebut adalah tahun kesedihan Rosulullah SAW. Mengapa?. Karena, Siti Khodijah dan Paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Thalib meninggal di tahun itu. Bahkan Khodijah pernah berkata pada suaminya " jika suatu saat aku wafat, engkau butuh harta demi Syiar Islam. maka  gali kuburku dan jual tulang belulangku". 

Di riwayat lain, Khodijah pernah berguman, Jika suatu saat engkau Menyiarkan Islam. Tetapi, harus menyebrangi sungai dan tidak ada jembatan yang menghubungkanmu ke tempat itu. Maka, gali kuburku, Ambil tulang belulangku untuk engkau jadikan sebagai jembatan". 

Rosulullah SAW sangat merasa kehilangan, ketika Khodijah wafat, bahkan Ia tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Sehingga, banyaj Ukama yang menyebutkan bahwa Perjalanan Isro dan Mi'raj adalah perjalanan untuk menghibur dan menunjukkan betapa besar Kekuasaan Allah SWT. 

Pada bagian ini, saya coba Coret sependek pengetahuanku, tentang sebuah peristiwa yang sangat Luar Biasa, yaitu peristiwa Isro' atau perjalanan Malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso. 

Di kesempatan lain, saya akan uraikan peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad SAW, sekalipun menurut Guru saya, kedua perjalanan ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena hal itulah, sehingga Saya belum cukup berani menerjemahkan Pikiran saya, tentang Perjalanan Mi'raj Nabi Muhammad SAW.  

Sebab, Hal-hal yang menyangkut peristiwa keimanan atau aqidah, rujukan utama dan pertamanya mesti diambil dari dalam al-Qur'an. Setelah itu barulah kita mengambil rujukan lainnya, untuk ditafsir, dita'wil dan dikaji dengan menggunakan berbagai macam pendekatan.

Tentang perjalanan Isro' Nabi Muhammad SAW, Allah menyampaikan dalam Q.S. Al-Isro' Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 1).

Ayat tentang peristiwa Isro' Nabi Muhammad SAW ini adalah ayat satu-satunya yang menceritakan peristiwa Isro' Nabi Muhammad SAW. Allah tidak menceritakan Lagi peristiwa Isro' diayat yang lain. Lantas, bagaimanakah kita bisa menjelaskan secara detail perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Palestina, jika cuman satu ayat ini saja yang mejelaskan peristiwa tersebut?.

Jika kita mentadabburi lebih dalam Ayat ini, sebenarnya ayat ini mengandung Makna yang sangat dalam. sebab, ayat ini masuk dalam kategori ayat yang Mustasyabihat, bukan Muhkamat yang Tafsirnya cukup sederhana dan penjelasanya sangat gamblang, yang biasanya terdapat pada ayat-ayat tentang hukum dan ibadah-ibadah formal.

Selain ayat Muhkamat yang terdapat dalam Al qur'an, tidak sedikit ayat Mustasyabihat yang berisi tentang cerita-cerita, hikmah-hikmah dan makna-makna yang membutuhkan pengkajian sangat mendalam dari berbagai sumber, salah satunya ialah ilmu pengetahuan yang bisa digunakan sebagai wasilah untuk menjelaskan ayat-ayat mustasyabihat tersebut.

Jika kita menyeksamai dengan tenang pada Ayat Pada Peristiwa Isro Nabi Muhammad SAW, terdapat 8 Kata Kunci yang bisa kita jadikan sandaran persepsi kita. Tentu, pertanyaanya adalah Mengapa Rosulullah SAW bisa Melakukan perjalanan (Berpindah) dari Mekkah ke palestina, yang ditempuh dengan waktu yang sangat singkat?. Bahkan sebuah riwayat menceritakan, kecepatan perjalanan Malam Rosulullah SAW itu di gambarkan ; "ketika Rosulullah SAW terbangun dari tempat tidurnya untuk melakukan perjalanan Malam dan kembali ke tempat tidurnya. tempat tidur tersebut Masih terasa Hangat.

Dalam riwayat yang lain, Rosulullah SAW sempat menyenggol tempat (Ceret) air minum sehingga tumpah, sebelum melakukan perjalanan. Begitu kembali dari melakukan perjalanan, air itu didapati masih dalam keadaan menetes.

Hal Itu menunjukkan, bagaimana perjalanan tersebut berlansung sangat cepat. Nanti kita lihat bagaimana ayat Al-Qur'an menjelaskan kedalaman makna dari sebuah peristiwa Isro' Nabi Muhammad SAW.

Hanya saja dari berbagai sumber riwayat dijelaskan, bahwa Isro' dan Mi'raj terjadi pada suatu malam, bahkan lebih cepat dari satu malam. Di riwayat lain di jelaskan bahwa Rosulullah SAW melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan yang bernama "Buraq".

"Buraq" itu digambarkan seumpama Kuda, yang ukurannya lebih besar dari seekor keledai dan lebih kecil dari seekor Kuda. Kakinya 4 empat, ada sayapnya dan kepalanya adalah kepala manusia. 

Tetapi, ketika kita menelusuri hal ini. Sesungguhnya penggabaran Buraq dalam riwayat tersebut, sebenarnya sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad SAW Lahir. Misalnya, dalam legenda-legenda India atau dalam Mitologi Yunani Kuno.

Nah, Kita coba ambil sudut pandang yang lain untuk menjelaskannya. bagaimana perjalanan seorang anak manusia yang berjalan secepat kilat. Mengapa kilat?. Karena, Buraq berasal dari kata "Barqun" yang artinya adalah Kilat. Maka secara Ilmiah, Perjalanan Rosulullah SAW dari Mekkah ke madinah, dilakukan dengan kecepatan Kilat (Barqun). 

Pertanyaannya, Apakah mungkin perjalanan seperti itu dilakukan oleh seorang Manusia?. Ternyata Ilmu pengetahuan Modern menjelaskan, bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan oleh Seorang Manusia.

Daripada kita disuguhkan cerita seperti dalam sebuah legenda, bahwa Buraq itu seperti Kuda, memiliki sayap, kepalanya manusia. Ini agak sukar diterima oleh generasi kita, karena entah bagaimana membuktikannya secara ilmiah. Maka, lebih baik kita melakukan rekonstruksi terhadap peristiwa tersebut secara saintifik.

Kita coba lihat 8 kata kunci yang di jelaskan Dalam Q.S. Al-Isro : 1 . 

Pertama, Setiap Allah menceritakan kejadiaan yang luar biasa maka Allah pasti memulai kalimat tersebut dengan kalimat "Subhanallahu". Kalimat takjub dan tasbih. Allah memulai Ayat tersebut dengan Diksi "Subhanalladzi". Apa yang terkandung pada perjalanan ini sehingga Allah memulai ayat tersebut dengan diksi "Subhanalladzi" yang artinya adalah Maha Suci Allah.

Diksi "Subhanalladzi", jika di tengok pada ayat yang lain, selalu menunjukkan pada Pujian yang memuji bahwa Allah adalah dzat yang maha suci, tidak memiliki kekurangan atau Sifat-sifat yang melemahkan eksistensi Ketuhanannya.

Diksi "Subhanallah" juga kerap di debati, ada yang mengutarakan bahwa diksi Subhanallah hanya pantas diucapkan pada hal-hal yang negatif. Sedangkan, pada hal positif atau kekaguman, pantasnya kita mengucapkan "Masya Allah" yang berarti Semua terjadi atas kehendak Allah. Terlepas dari perdebatan diksi tersebut, menurutku tergantung pada pemaknaan kalimatnya. Ketika kita kagum kepada Allah bisa juga kita mengucapkan "MasyaAllah", bisa juga kita mengucapkan "Subhanallah", bisa juga mengucapkan "Alhamdulillah", ataukah "Allahu Akbar".

ketika peristiwa isro' ini di jelaskan, maka hal ini menujukkan bahwa Peristiwa ini sangat luar biasa dahsyatnya dan menimbulkan kekaguman.

Kedua, Diksi "Asro" yang berasal dari akar kata "Syaro" ; Sin Ro Ya, yang bermakna Malam. Artinya Perjalanan yang dilakukan oleh Rosulullah SAW, dilakukan dimalam hari. Bukan dipagi hari atau siang hari. Selain itu, diksi " Asro" juga bermakna "perjalanan berpindah tempat". Hal itu di pertegas pada sambungan ayatnya bahwa Memang Rosulullah SAW berpindah tempat dari Masjidil harom ke Masjidil Aqso.

Pemaknaan ini juga sekaligus membantah pemahaman yang menururtku tidak benar, yang menganggap bahwa Rosulullah SAW melakukan perjalanan Malam tidak berpindah tempat, dan hanya Rohnya saja yang berpindah. Secara cepat kita bisa mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Karena, kata "Asro" menujukkan perpindahan tempat.

Ketiga, "memperjalankan". Artinya Rosulullah SAW tidak melakukan perjalanan dengan sendirinya. Tetapi, diperjalankan oleh Allah. Atas kehendak Allah. Saking dahsyatnya perjalanan ini, sejak zaman Rosulullah SAW Masih hidup hingga zaman dimana sains dan teknologi sekarang mulai Berkembang Pesat dengan metode eksperimental. ternyata bisa memindahkan benda-benda tertentu dalam jarak yang jauh. Dalam sains Modern, kita kenal hal itu dengan terma "teleportasi (tele = jauh. Portasi = tempat kedatangan atau keberangkatan)". Jadi, teleportasi digambarkan sebagai sebuah perjalanan jarak jauh dari suatu tempat ke tempat lainnya, yang dilakukan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Teleportasi ini diakui dalam ilmu pengetahuan modern dan inilah yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana proses perpindahan Rosulullah SAW dari Mekkah ke Palestina.

Keempat, "abdi hi (hamba Allah)". Mengapa dalam keterangan Al qur'an ini harus menggunakan diksi "Hamba"?. Hal itu menunjukkan bahwa yang bisa melakukan perjalanan tersebut adalah seorang yang memiliki derajat kehambaan yang tinggi. Siapa hamba itu?, Adalah seseorang yang taat, tunduk dan patuh pada Tuhannya.

"Abdhi Hi", menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, dalam kitab Tafsirnya menjelaskan bahwa " qouluhu bi abdhi hi bil jasadihi wa ruhuu (hamba adalah hamba yang utuh, dengan jasad dan ruh)". Dan ini merupakan pendapat yang paling muhkamat. Sebab jika Rosulullah Isro dan Mi'raj dengan Ruh atau jasad saja maka Allah tidak akan menggunakan kata "Abdhi hi". 

Pada bahagian bawah, saya akan Jabarkan problem tentang Makna Abdhi hi pada Q.S. Al Isro : 1, yang menjadi dalil bahwa Rosulullah SAW melakukan perjalanan Jazadi dan beberapa Soal lain yang kerap kita dengarkan dari Ustadz-Ustadz yang kurang kompherensif dalam menjelaskan peristiwa ini. 

Kelima, "laylan". Sebenarnya pada kata kunci sebelumnya "Asro", sudah menyebutkan perjalanan malam. Mengapa diulang lagi dengan diksi "laylan" (pada suatu malam). Diksi ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan tidak sepanjang malam. Melainkan, perjalanan sebahagian malam saja. Berdasarkan beberapa riwayat yang saya kemukakan diatas.

"laylan" adalah izim nakira yang di tandai dengan tanwin, kalau izim ma'rifat maka di tandai dengan "alif lam" (Al-layli). Kalau izim Ma'rifat artinya satu malam. Kenapa pakai izim nakira. Karena, memang peristiwa tersebut terjadi di sebahagian malam. 

Keenam, "minal masjidil harom ilal masjidil aqso". Dikata kunci keenam inilah sebenarnya kita harus membongkar dan menguraikan, Jarak antara mekkah dan Palestina Sekitar 1.500 Km. Tetapi, mampu di tempuh Oleh Rosulullah SAW tidak sampai sebahagian malam?.

Diatas telah saya kemukakan bahwa Perjalanan dengan kecepatan kilat, bisa digambarkan dengan mekanisme teleportasi. Lantas, Bagaimana bisa membuktikan bahwa Mekanisme teleportasi bisa memperjalankan Rosulullah Saw?. 

Dalam Terma Sains kontemporer, bahkan sudah banyak para sains yang membuktikannya, bahwa materi bisa berubah menjadi gelombang dan Materi bisa menjadi energi cahaya. Albert Einstein sudah menjelaskanya, dalam teori kenyataannya "E = m2. E = Energi. M = massa (Materi). Kuadrat = cahaya". Jadi, ada korelasinya, bahwa Massa/Materi bisa berubah menjadi cahaya dan menghasilkan energi yang sangat besar.

jika mengikuti persamaan Teori Albert Einstein tersebut. maka, Energi bisa diciptakan dari Massa ke Materi yang besarnya dikalikan dengan kecepatan cahaya kuadrat. Sebaliknya massa itu bisa di ciptakan atau dimunculkan kembali, dengan cara, E dibagi C2 = M, artinya massa (materi) bisa diciptakan atau di kristalkan dari sebuah energi dengan cara membagi C2. sederhananya, materi bisa diubah menjadi cahaya dan cahaya bisa diubah menjadi materi.

Hal itu menjadi diskusi panjang dalam Fisika Modern atau yang kerap kita sebut sebagai fisika Kuantum.

Makanya, jika menggunakan pendekatan mekanisme atau teori Teleportasi ini, dengan mudah kita bisa menjelaskan bahwa sangat mungkin Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Mekkah ke Palestina dengan kecepatan kilat (barqun). Dengan kata lain, badan Nabi Muhammad SAW diubah menjadi badan cahaya. Karena materi bisa diubah menjadi cahaya dan cahaya bisa diubah kembali menjadi materi.

Reaksinya disebut reaksi antisipasi, "partikel ditabrakan dengan anti partikelnya". maka, kedua partikel ini akan lenyap menjadi sinar Gama. jika Sinar gama dilewatkan dimedan inti atom dengan kekuatan tertentu, 200 Elektron Volt. Maka, sinar Gama bisa kembali menjadi Partikel dan Anti partikel. Reaksinya disebut perperductions (produksi kembar).

Memang hal ini masih membutuhkan pembuktian secara teknologi. Tetapi, sudah diwadahi oleh Ilmu sains Modern, sehingga menjadi mungkin.

Kongklusinya, Badan Materi kita bisa diubah menjadi cahaya. Itulah sebabnya perjalanan Rosulullah SAW didampingi oleh malaikat Jibril, yang notabennya adalah Cahaya, yang Melakukan perjalanan dengan materi yang sudah diubah menjadi cahaya dengan kecepatan cahaya (buraq).

Ketika badan Rosulullah SAW dikonversi menjadi badan cahaya. Yang harus kita ketengahkan adalah Kecepatan cahaya itu, "1 detik kecepatan cahaya sama dengan 300 Ribu Km. Misalnya, jarak Kota A dan kota B adalah 1000 Km. Dikota A ditembakan cahaya menuju kota B dan dikota B dipasangkan cermin agar terpantul kembali ke Kota A, sedangkan dikota A juga di pasangkan Cermin yang sama, agar cahayanya pantul memantul (bolak balik). Maka, hanya butuh 1 detik untuk 300 kali cahaya bolak balik dengan jarak 1000 km. Begitulah kecepatan cahaya.

Secara sederhana, misalnya Kita tembakan cahaya untuk mengelilingi bumi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Keliling (Diameter) Bumi itu adalah 40 ribu km. Jika kecepatan cahaya, "1 detik = 300 ribu Km". Maka, 1 detik perjalanan cahaya, sudah bisa mengelilingi Bumi sebanyak 7,5 kali. 

Nah, Jarak Mekkah ke Palestina adalah 1.500 Km, sementara kecepatan cahaya adalah 1 detik = 300 ribu km. Maka, waktu yang di butuhkan Cahaya ialah 1500 : 300 ribu = 0,005 detik. Artinya, Perjalanan Rosulullah SAW dari Mekkah ke Palestina, hanya butuh waktu 0,005 detik saja.

Fakta empirik ini persis sama dengan cerita Al-Qur'an tentang Nabi Sulaiman as yang memindahkan Singasana Ratu Balqis yang beratnya luar biasa. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh staf dan ilmuannya dan mengajukan pertanyaan, siapa yang bisa memindahkan Singasana Ratu Balqis?. Yang pertama mengacungkan tangan adalah Jin Ifrit. Kata Nabi Sulaiman, berapa lama engkau membutuhkan waktu untuk memindahkan Singasana Ratu Balqis?. Kata Jin Ifrit, sebelum baginda berdiri dari kursi baginda.

Nampaknya Nabi Sulaiman As tidak puas dengan jawaban Jin Ifrit dan masih mengajukan pertanyaan yang sama. Maka, seorang staf manusia yang mengacungkan tangan. Kata Nabi Sulaiman As, berapa lama waktu yang engkau butuhkan?. Jawab orang tersebut, sebelum baginda berkedip, Singasana Ratu Balqis sudah pindah ke hadapan baginda.

Dalam keterangan Al-Qur'an, Manusia tersebut adalah orang yang menguasai ilmu alkitab. Ia memindahkan Singasana ratu Balqis dengan kecepatan cahaya atau dalam sains modern kita sebut sebagai mekanisme teleportasi.

Ihwal itulah yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW, yang berpindah dari Mekkah ke Palestina, hanya dalam waktu Nol koma sekian detik. lebih cepat Dari kedipan mata. Di titik inilah kata kunci perjalanan Isro' itu berlansung.  Artinya, kedua Masjid, "Masjidil harom ke masjidil aqso" memiliki energi positif yang sangat besar, sehingga menyebabkan peristiwa Teleportasi. 

Tempat yang mulia menuju tempat yang mulia, Sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW,  "La tussaddu rihal illa ila salasa masjid lihadza, wa masjidl haram wa masjidil aqso (tidak ada bepergian yang lebih utama selain pergi ke 3 masjid ; masjid Nabawi, masjidil haram dan masjidil aqso)".

Lalu, dilanjutkan dengan ayat "Barokna haulahu (kami berkati sekelilingnya)". Ia, jika sekelingnya tidak diberkati, tidak dijaga oleh Allah, sekalipun perjalanan tersebut lebih cepat dari kedipan mata. Maka, akan bermasalah dengan Nabi Muhammad SAW.

Ke tujuh, "li nuriyahu min ayatihi". Tujuan perjalanan isro' adalah untuk memperlihatkan tanda-tanya kebesaran Allah.

Kedelapan, "innallahu samiun basyir (sesungguhnya Allah maha melihat dan maha mendengar). Meskipun perjalanan tersebut hanya 0,005 detik.  Tetapi, bagi Rosulullah SAW bisa melihat berbagai hal.  Kenapa hal itu bisa terjadi?. Hal Itulah yang disebut dengan relatifitas waktu.  Karena dalam ukuran kita,  0,005 detik itu sangat cepat,  tetapi bagi Rosulullah SAW yang diperjalankan dengan kecepatan cahaya adalah lama, karena Rosulullah SAW diperlihatkan berbagai hal.

***

Memang peristiwa Isro dan Mi'raj ini telah lama menggaduh di kalangan ummat islam, antara yang percaya dan tidak percaya. Baik yang percaya dan tidak percaya, juga memiliki dasar argumentasi masing-masing.

Aliran teologi Mu'tazilah misalnya, mereka percaya Isro dan Mi'raj. Tetapi, menganggap peristiwa tersebut merupakan perjalanan Rohani. Bukan Perjalanan jazadi. Lalu, ahlu sunnah wal jama'ah (Asy'ariyah), mengatakan, sesungguhnya peristiwa tersebut merupakan perjalanan jazadi, dengan menujukkan Dalil Q.S. Al isro ; 1, yaitu "Subhanalladzi Asro bi abdhi hi". Bahwa makna abdhi Hi itu merujuk pada Jazad (Fisik). Tetapi hal itu, menimbulkan pertanyaan lain, yaitu Maksud "Abdhi", pada Q.S. al Isro ;1, itu menunjukkan pada siapa?. Sebab, tidak di sebutkan dengan jelas di dalam Al-Qur'an, apakah Abdhi Hi itu adalah Nabi Muhammad SAW atau Bukan?. 

Sementara hanya Q.S. Al Isro ;1, yang di jadikan sebagai Rujukan dari peristiwa Isro. Sedangkan, pada ayat kedua dari Q.S. Al-Isro, di sebutkan, "Waa atayna Musal kitaba". Bukan Nabi Muhammad SAW yang di sebutkan. Tetapi, Nabi Musa As. Apakah Nabi Musa As, yang di perjalankan atau Nabi Muhammad SAW?. Hal Ini mesti di jelaskan secara detail. Sebab, jika tidak. Maka akan menimbulkan polemik.

Jika kita membaca Q.S. Al Isro ; 1, di situ tidak dijelaskan secara eksplisit bahwa yang di perjalankan adalah Nabi Muhammad SAW. Tetapi, ada dua kata kunci, yang bisa di jadikan dasar, bahwa yang di perjalankan saat itu adalah Nabi Muhammad SAW. Bahkan jika kita kaitakan dengan ayat berikutnya. kita akan menemukan kata kunci ketiga, bahwa ayat pertama yang bercerita tentang seorang Hamba yang di perjalankan. Sedangkan ayat kedua, Allah bercerita tentang Nabi Musa.

Ayat kedua dari Q.S. Al Isro. Bercerita tentang Nabi Musa. Tetapi, di mulai dengan kata "Dan kami berikan kepada Musa sebuah Al kitab" (Waa atayna Musal kitaba). Jadi, kalau ada dua kalimat yang di sambungkan dengan kata "Dan". Bisa bermakna memiliki dua makna, bisa memiliki hubungan lansung. Tetapi, bisa juga becerita dua hal yang berbeda sama sekali. Artinya tidak bisa di pastikan, bahwa ayat Pertama dari Q.S. Isro yang bercerita tentang seorang Hamba, yang melakukan perjalanan itu adalah Nabi Musa.

Yang menarik di ayat pertama, ada dua kata kunci yang menunjukkan bahwa bukanlah Nabi Musa yang di perjalankan. Tatapi, Nabi Muhammad SAW yang perjalankan. Kata kunci yang menunjukkan bahwa yang di perjalankan adalah Nabi Muhammad SAW adalah "Abdhi hi" (Hambanya).

Sebagaimana yang kerap saya sampaikkan, bahwa dalam memahami Qur'an, kita tidak boleh hanya mengambil satu ayat saja. Meskipun Peristiwa tentang Isro, hanya di jelaskan dalam satu ayat. Tetapi, Kata kunci yang ada di dalamnya, punya penjelasan-penjelasan di ayat yang lain. Setelah kita menelusuri, maka kita menemukan bahwa ada sejumlah ayat yang menjelaskan, siapa itu abdhi hi (Hamba) itu. Misalnya kita bisa melihat di dalam Q.S. Al kahfi ; 1. Di ayat pertama ini juga tidak secara Eksplisit di jelaskan oleh Allah, siapa itu abdhi hi dan al kitab itu menunjukkan pada apa. Akan tetapi, di jelaskan di Q.S. Al Furqon ; 1. Bahwa Al kitab itu adalah Al furqon yang di berikan kepada hambanya.

Seperti yang kita ketahui bahwa Nama lain dari Al qur'an adalah Al furqon. Yang di berikan kepada Hambanya (Abdhi Hi). Maka dari dua ayat diatas kita bisa mendapatkan gambaran, bahwa abdhi hi itu adalah Nabi Muhammad SAW, yang mana kepada beliaulah Al Qur'an di turunkan.

Jika kita mau lebih jelas lagi tentang diksi Abdhi hi itu siapa. Bisa kita lihat di dalam Q.S An Najm : 10 atau di dalam Q.S. Al Hadid ; 9.

Dengan demikian, jika sebuah ayat belum jelas atau masih samar-samar. Karena ayat tersebut masuk kedalam kategori ayat Mutasyabihat. Maka, janganlah kita menyimpulkan dari satu ayat saja. Melainkan ambillah sejumlah ayat, dengan kata kunci yang saling terhubung. Maka kita akan mendapatkan informasi yang lebih utuh.

Berdasarkan gambaran beberapa ayat diatas. Maka, Kata abdhi hi pada Q.S. Al Isro, ayat 1 bukanlah bercerita tentang Nabi Musa. Melainkan, bercerita tentang Nabi Muhammad SAW.

Kata Kunci yang kedua di Q.S. Al Isro ; 1 itu adalah "Minal Masjidil Harom ilal masjidil Aqso". Bahwa Nabi yang di perjalankan adalah Nabi yang tinggal di Mekkah. Sementara Nabi Musa tinggalnya di kota Mesir, yang kemudian berpindah ke Palestina.

Lalu, dua peristiwa, yang kerap menjadi polemik, yang sampai saat ini belum selesai terjawab secara utuh. yaitu peristiwa Isro dan Mi'raj. Peristiwa Isro terjadi pada tahun kedua ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosulullah SAW, "Ba'dal bigtsa tihi Rosulan". Sedangkan, Mi'raj merupakan peristiwa yang berbeda. Terjadinya pada tahun ke 11 atau 12, setelah Di utusnya Nabi Muhammad SAW menjadi Rosulullah. 

Hal itu tertuang di dalam Q.S. An Najm, 13-18. Jadi, perbedaannya 9 tahun. Tetapi, di gabungkan menjadi satu peristiwa, yaitu Isro dan Mi'raj.

Soal lain, misalnya. Banyak juga yang menganggap bahwa peristiwa Isro dan Mi'raj adalah sebuah mukzijat?. Coba kita dudukkan, soal mukzijat ini. Salah satu faktor yang paling substantif tentang Mukzijat adalah kejadian di luar nalar manusia, di luar kebiasaan manusia, melanggar Hukum alam dan harus ada yang menyaksikannya.

Misalnya, Nabi Isa bisa menyembuhkan orang buta dengan mengusapkan tangannya pada mata orang yang buta. Banyak saksi yang melihat pada saat Ia melakukannya. 

Nabi Yusuf juga demikian, ia bertanya kepada Bayi yang Baru lahir ; siapa yang bersalah, aku atau Zulaikha?. Bayi tersebut mengatakan, jika baju Yusuf sobek bagian depannya, maka Yusuf lah yang salah. Tetapi, jika robek bagian belakangnya. maka Zulaikha lah yang salah Dan hal itu di lakukan di depan orang banyak (di hadapan Raja).

Nabi Musa pun demikian, ketika memukul lautan di hadapan para prajurit dan Bala tentara Fir'aun. makanya, benerapa soal diatas adalah mukzijat. Bagaimana dengan Perjalanan Isro dan Mi'raj, apakah Dia masuk.kedalam kategori Mukzijat?.   

Ketika Nabi Muhammad SAW melakukan isro dan Mi'raj di katakan sebagai Mu'zijat. Apakah ada yang menyaksikannya sehingga bisa di jadikan sebagai alasan, bahwa memang peristiwa Isro dan Mi'raj adalah perjalanan mu'zijat.

Peristiwa Tersebut, tidak ada seorang pun yang menyaksikannya. Sebab, saat Rosulullah SAW pulang dari perjalanan Isro Dan Mi'raj, tidak ada yang menjemputnya?. Justru, Rosulullah, saat pulang dari Isro dan Mi'raj, Beliau menginap di rumah sepupunya, yaitu Ummu Kaltsum. Ummu kaltsum, menuturkan bahwa Memang Rosulullah SAW menginap di rumahnya dan menceritakan tentang Peristiwa Isro dan Mi'raj tersebut. Artinya, Rosulullah hanya menceritakan, orang tidak menyaksikannya. Lantas, bagaimana kita bisa mengatakan hal itu sebagai mukzijat.

Lalu, Masjidil Harom dan Masjidil aqso, pada tahun kedua setelah Hijriayah. Pertanyaanya adalah kapan ka'bah menjadi Masjidil Haram. Sebab, sebelumnya Ka'bah merupakan tempat berhala-berhala dan siapa yang punya otoritas menyebut ka'bah sebagai Masjidil harom ; apakah waktu itu sudah jadi masjid, ka'bah itu?. "Belum".

Sama dengan Masjidil aqso?. "Belum menjadi Masjidil Aqso". Masjidil Aqso itu baru menjadi Masjid setelah Palestina di Taklukkan oleh Umar Bin Khottab. Pun ada tempat ibadah di situ, disebut dengan Syinagog Nabi Sulaiman (tempat Ibadah Ummat Yahudi). Sedangkan, Ka'bah dan sekitarnya, sebelum Masa Rosulullah SAW adalah tempat menyebah berhala. Sekitar 480 berhala dan belum ada orang sholat disitu.

Justru, pada zaman Nabi Ibrahim As Ka'bah di sebut dengan, "Inni awwala baiti Wudhia linnasi llalladzi bi baktan mubaroka". Bahwa rumah Tuhan pertama di bangun di Muka bumi, yaitu di bakkah. Apakah Bakkah itu adalah mekkah?. Nah, hal itu masih membutuhkan pengkajian secara antropologi.

Soal lain, misalnya. Model sholat kita saja tidak ada yang sama, dari mulai Takbir sampai Tahyiyat saja berbeda. Ada yang bersedekap dan ada yang tidak. Ada yang baca al fatihah, dengan bismillah, Ada yang tidak. Ada yang qunut, ada yang tidak. Ada yang tahyiyat, tangan di goyang-goyang, ada yang tidak. Semuanya berbeda, bahkan dari perbedaan itu, kita saling menyalahkan, membid'ahkan dan mengkafirkan. 

Jujur saja, Nabi Muhammad SAW sholatnya itu bagaimana. Memang ada Ada Hadistnya yang menyebutkan bahwa "Shollu kama Ro aytamuni usalli (sholatlah engkau sebagaimana engkau melihatku sholat)". Pertanyannya, Bagaimana sholatnya Nabi. Sebab, kita tidak mempunyai Informasi yang Pasti, bahwa Sholatnya Nabi itu Seperti ini.

Hal ini pernah ini terkonformasi oleh Prof Dr. Quraisy Shihab, tentang model sholat yang bermacam-macam. Prof. Dr. Quraisy menuturkan, " kana Rosulullahi yatanawaw aw fihi sholati (Nabi itu sholatnya bervariasi)". Jadi, kadang-kadang Membaca Fatihah dengan membaca Bismillah. Kadang-kadang qunut, kadang-kadang bersedekap dan kadang-kadang tidak.

Selain itu, hampir semua Hadist Nabi tentang sholat. Tidak ada yang Mutawatir. Semuanya adalah hadist ahad. Jika Hadist ahad, semuanya berbeda-beda. Kalau pun Shohih. Ia shohih li Ghoirihi. Maksudnya, hadistnya berbeda tapi maknanya sama.

***

Kita kembali ke topik utama, Untuk memudahkan kita memahami penjabaran saya selanjutnya. Saya akan mengantarkan sebuah paradigma yang niscaya kita dudukkan secara Rasional, bahwa seluruh peristiwa Di muka bumi, berada dalam Galaksi Bima Sakti atau dalam terma Yunani Kuno disebut The Milky way. Hal itu berangkat dari mitos Yunani, dimana ada seorang Dewi (Ratu) yang sedang tertidur. Begitu dia terbangun, ternyata ada bayi di sampingnya yang sedang menyusu di dirinya. Dia terkaget, karena bukan bayinya. Akhirnya, dia melepaskan Bayi tersebut, sampai terjatuh ke bumi. Sedangkan susunya berhamburan di angkasa ini dan bayi yang Jatuh tersebut adalah manusia pertama. Karena itulah, Galaksi kita ini disebut dengan The Milky way.

Lalu, letak matahari di galaksi kita ini. Terletak di tengah-tengah. Matahari kita ini disebut dengan Bintang sedang, cahayanya juga tidak terlalu terang dan tidak terlalu redup, serta dia punya planet-planet yang mengelilinginya. Sedangkan Bulan, bukanlah planet. Tetapi, hanyalah satelit.

Matahari di tengah-tengah Galaksi Bima Sakti seperti setitik debu, yang sangat kecil sekali. Bumi kita ini tidak kelihatan. Okelah, kita lebih mendekat sedikit, sehingga bumi kelihatan satu titik. Pertanyaannya, Dimana Ka'bah?. "Di titik itu". Dimana masjidil aqso?. "Yah, di titik itu juga". Adakah jaraknya, jika semuanya berada di titik itu. Jadi, yang namanya jarak itu ketika dimana kita berada.

Lalu, persoalan waktu. Yang perlu kita lacak ialah sejak kapan waktu itu terlahir, waktu itu ada atau tidak ada. Bagaimana munculnya waktu. Manusia dulu, tidak tahu waktu. Yang mereka tahunya, kalau siang terang. Kalau malam gelap.

Kapan orang membuat waktu?. Dalam sejarah mesir kuno, mereka menentukan waktu yang di tancapkan ke dalam pasir. Bayang-bayang merekalah menjadi ukuran waktu ; jika bayang mereka, berada di utara. Maka, mataharinya berada di sebelah selatan. Hal itu berarti musim dingin. Begitupun sebaliknya. Sampai kepada jam yang menggunakan mekanik seperti sekarang ini.

Lantas, dari mana orang-orang menyatakan bahwa satu minggu, sama dengan 7 hari?. Orang jawa menghitung Seminggu sama dengan 5 hari. Orang china, menghitung seminggu sama dengan 12 hari. Di afrika, mereka menghitung seminggu sama dengan 4 hari. Artinya, penanggalannya saja berbeda-beda.

Ketika peradaban Masehi atau kalender Masehi. Mereka menghitung berdasarkan variabel Matahari. Sedangkan, peradaban Islam menghitung Penanggalannya berdasarkan perhitungan bulan (Qomariyah). Maka terjadi perbedaan Hitungan. Bisa saja 100 tahun qomariyah. Tetapi, pertanggalan Syamsiyah (Matahari) tidak sampai 90 Tahun.

Jadi, waktu itu sesungguhnya dimana?. Syarat pertama dari waktu ialah harus ada ruang, harus ada benda yang bergerak yang menjadi patokan. Andaikkan bumi ini tidak berputar, apakah ada esok atau kemarin?. Itulah sebabnya, kelak di surga, segala sesuatu itu menjadi abadi. Karena semua entitas menjadi stabil.

Apakah waktu kita di bumi sama dengan waktu di bulan, tentu berbeda. Bisa jadi usia kita di bulan 30 bulan. Tetapi, saat di bumi usia kita 30 tahun. Karena perbedaan waktu. Artinya keberadaan kita sangat menentukkan waktu. Misalnya, saat kita berada di luar bumi. Maka, kita tidak terikat dengan batasan waktu di bumi. Selain itu, ketika kita bisa berjalan dengan mengendarai kendaraan dengan kecapatan Cahaya, yang kecepatannya itu adalah 300 Ribu KM perdetik. Jika kita punya kendaraan dengan kecepatan 300 Ribu Km perdetik. Maka, satu detik kita bisa mengelilingi Bumi sebanyak 7,5 kali. Artinya, kecepatan cahaya sesungguhnya keluar dari dimensi waktu.

Dari pada kita berdebat dan bertengkar tentang hal itu. Bagi yang percaya, silahkan. Bagi yang tidak percaya juga silahkan ; apakah perjalanan Isro dan Mi'raj adalah Perjalanan jazadi atau perjalanan Rohani, silahkan. 

Kita ambil jalan tengah saja, bahwa ada hal yang boleh di percayai dan ada yang boleh dan tidak di percayai. Yang wajib kita percaya adalah Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isro dan Mi'raj. Lalu, outputnya ialah sholat 5 waktu.

Tetapi, apakah sholat 5 waktu itu di berikan setelah proses tawar menawar dengan Tuhan atau setelah di marah-marahi dengan Nabi Musa, agar Rosulullah SAW meminta Kortingan sampai 9 kali. Bisa kita percaya dan bisa tidak.

Sama dengan cerita yang terdapat di dalam peristiwa Isro dan Mi'raj, yaitu saat Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para Nabi dan lalu mereka sholat berjama'ah di Masjidil Aqso. Tetapi, Ketika di langit ketiga,  Nabi Muhammad SAW kembali Bertemu dengan Nabi Zakariyah As. Percakapam terjadi, Tetiba Nabi Zakariyah menanyakan kepada Nabi Muhammad SAW, apakah Engkau telah di utus menjadi Nabi?. Mengapa, bisa Nabi Zakariyah mempertanyakan hal itu. Bukankah, sebelum berjumpa di Langit ketiga, mereka telah sholat berjama'ah di Masjidil Aqso. Jadi, memang ada beberapa soal yang Saya anggap Sangat tidak valid keotentikannya. 


--BERSAMBUNG--

#RST

#Pejalan Sunyi

#Samar Cakrawala

#Coretan Pena Nalar Pinggiran


Minggu, 25 Juli 2021

DI BALIK KRISIS, ADA HARAPAN ; KEJARLAH - IKHTIAR


Jika dalam menjalani hidup, ada momen yang sangat berat, sehingga kita tak kuasa membendung tangis. Maka, Istiratlah sejenak. Kadang beban itu perlu di lepaskan sebentar, tak harus di pikul terus. 

Cahaya tak akan pernah punya nama, jika lalai datang menerangi gelap. Matahari pun, hanyalah semacan lintasan meteor, jika pada akhirnya bukan menggantikan hitamnya malam. 

Menderasnya hujan tak bermakna menghilangkan kehausan, jika tak ada kemarau yang mengeringkan tenggorokan. 

Sebuah makna akhirnya memang harus bertemu dengan kebalikannya bermakna. 

Saling menguatkan, saling membutuhkan, tidak pernah berniat saling meruntuhkan. Apalagi untuk saling menghilangkan. 

Menelusur jejak, jarak dan waktu. Hanyalah bahagian dari proses alamiah yang telah di gariskan menjadi jalan-jalan kehidupan. Apa yang kita ingini belum tentu menjadi kehendak-Nya. Di dalamnya ada proses yang mencengangkan, kita menuju ke suatu tempat namun ia membuat kita berkeliling, memutar, hingga kita memahami alur taqdir-Nya. 

Jangan mengharapkan sesuatu yang Tidak di kehendaki-Nya. Sebab, Pola pikir kita tentu berbeda dengan pekerjaan-Nya yang Maha sempurna. Sungguh, manusiawi jika KesempurnaanNya, tidak mampu di pahami dengan Pemahaman Kita Yang cacat. 

Mengeluhlah pada-NYA, ini jalan paling Logis untuk mengakui kelemahan kita sebagai manusia. 

Bebaskan jiwa dari ikatan-ikatan yang di rajut sendiri, ikatan-ikatan itu akan menyakiti jiwa. Percayakan saja semuanya pada yang menghendaki kehidupan ini. 

Tersenyum, Lalu Berilah kesempatan pada lelah untuk beristirahat. Agar setiap harapan pulang kerumahnya yang hampir pugar di bangun. Sebab, pada akhirnya, Tuhan Jugalah yang memberi Batas bahwa waktu telah cukup untuk membuatmu menunggu.

jika punya ekspektasi ; perjuangkan. Kalau ada aral melintang ; terjang. Jadilah kompas, atas segala peta jalan sesat. 

Burung-burung kecil, hingga besar dalam kandang. Di memorinya tertanam, terbang adalah hal yang paling di larang. 

Saat mereka berkata ; Kita tak bisa mewujudkan mimpi. Sesungguhnya itu batasan mereka, yang tak relevan. Bukan batasan kita, yang tahu cara keluar kandang dan terbang. 

Pandangan demikian memang riskan. anehnya itu terjadi pada sekelompok anak muda yang bertarung dengan pesimisme sepanjang usia. Seolah mereka terlahir untuk memikul dunia ini sendirian. Kalah lebih cepat, terluka begitu sering, mendendam begitu lama dan terasing begitu mudah. 

Anak muda itu niscaya menolak layu dan tidak cepat berserah pada kalah. Sebab, Yang pernah jatuh adalah dia yang pernah berjalan atau bahkan berlari ; Yang berjalan membuka tabir dan yang berlari membuka jalan takdir. Yang berjalan adalah ia yang tahu bagaimana rute takdir berkerja dan yang berlari adalah ia di gerakkan oleh akar keyakinan yang kuat. 

Tersenyum dalam kelelahan, menangis dalam kegembiraan, optimis dalam keterbatasan dan tegar di tengah badai adalah Siklus hidup yang manusiawi. Semua kita niscaya melalui fase ini. 

Saat bantuan mahkluk sudah tidak mungkin. Percayalah ; Allah akan mengurus kita Tanpa Tidur. Sebab, Allah yang akan menolong kita. Dia akan mengatur takaran beban yang kita tanggung. Jangan menyerah, dia tak mungkin membebani sesuatu yang lebih berat dari rasa sanggup kita. Jangan mundur, saat beban terasa berat, dia sedang membuat kita naik tingkat.

Pun suatu saat hidup kita hancur berantakan. Lalu, kita mengalami Disorientasi dan merasa berjalan, entah kemana. Kembalilah, ke kaidah-kaidah sebab kehancuran itu ; Kelalaian - Hawa Nafsu - Kehancuran. Sebagaimana Bunyi Qolam Kesunyiannya, pada Q.S. Al Kahfi ; 28, " dan janganlah engkau mengikuti orang-orang yang kami lalaikan Hatinya dari mengingat kami. Lalu, ia mengikuti Hawa Nafsunya, maka seluruh hidupnya berantakan". 

**

Diperjalanan singkat, hidup kita. Ada begitu banyak orang baik yang sudah jadi jalan pertolongan Allah. Ada yang menyusahkan, sengaja atau tidak. Ada juga yang melupakan pertolongan kita. 

Pada waktu senggang, saya mengingat mereka satu persatu Dan sampailah saya pada satu kesimpulan ; "tidak ada hubungan yang lebih baik, selain menguntungkan dalam kebaikan". 

Saya hendak mengabarkan, tentang sebuah kisah nyata. Seorang Pendaki dan Pemandunya, yang pertama kali menjajakan jejaknya diPuncak tertinggi didunia, Yakni Mount Everst. 

Sesaat Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay turun dari puncak Mount Everst, hampir semua reporter berebut untuk mewawancarai Hillary. Namun, hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay.

Reporter, "sebagai seorang pemandu, tentu anda berada didepan Hillary. bukankah, andalah yang menjadi orang pertama, yang menjajakan kaki di Mount everst?".

Tenzing Norgay,, "ya, benar. Namun, pada saat tinggal beberapa langkah mencapai puncak. saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjajakan kakinya dan menjadi orang pertama didunia, yang berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi didunia".

Reporter, "mengapa anda lakukan itu?".

Tenzing Norgay : "karena, itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. impian saya berhasil membantu dan mengantarkan dia (Edmund Hillary) meraih impiannya.

Sesekali kita harus menjadi Tenzing Norgay. ada banyak hal yang ia kubur, di rendam, ditenggelamkan dikedalaman realitas. lalu, kita memproyeksikan teman seperjalanan kita meraih impiannya.

Sukses itu soal sudut pandang, yang penting sebenarnya adalah cara meraihnya dan dengan siapa. itulah sebabnya kita harus benar-benar menentukan dengan siapa kita harus berkawan dalam perjalanan panjang ini.

Jika anda ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. namun, jika ingin melakukan perjalanan panjang, lebih baik jalan bersama-sama.

Dengan siapa?. Disinilah, nalar sehat harus benar-benar diletakkan untuk memverifikasi siapa-siapa yang layak diajak berjalan panjang dan siapa yang ditinggal. sebab, lebih baik kamu meninggalkan dari pada akan terjadi kejadian terbalik (di tinggalkan).

Dulu, bahkan mungkin kini. jika orang membicarakan Leonardo Da Vinci. maka, orang akan menuturkan pula tentang lukisan Monalisa. Jika orang membicarakan Pose Chairil Anwar, orang tidak pernah membincangkan, siapa Baharuddin Mara Sutan. Dia adalah orang yang memotret Chairil Anwar. 

Lukisan Monalisa, tidak usah dijelaskan lagi, Ia Masterpiece Da Vinci. Hampir bisa dipastikan, seluruh penduduk dunia Tahu senyum Monalisa yang Mahal itu. Ketika orang menyebut Monalisa, Nama Da Vinci terbawa serta. Sebaliknya pun demikian, jika Da Vinci diperbincangkan, Monalisa akan disebut-sebut pula. 

Lalu, Chairil Anwar?. Orang tidak tahu siapa yang memotretnya. Sebahagian besar kita pernah melihat fotonya. Foto terpopuler Chairil. Foto yang mempesona Banyak Orang, termasuk saya pernah meniru gaya posennya tempo waktu. Foto ia dan rokok. Tapi, Baharudin Mara Sutan, Sahabat Chairil yang juga seniman Balai pustaka itu, tidak pernah menjadi buah bibir.

Kelak, jika berkawan, carilah yang mau mengambil resiko sepertimu. Ada banyak cara mengidentifikasinya, ukur saja resiko yang anda ambil untuknya dan resiko yang dia ambil untukmu. jika sama sekali ia tidak mempertimbangkan segala resiko yang anda ambil untuknya, itu pertanda selama ini dia memanfaatkanmu. Tinggalkan dia segera, itu lebih baik bagimu Dan untuk keputusanmu mengambil resiko untuknya, anggap saja sebagai kompas bagi perjalananmu yang masih panjang. Disuatu waktu, ada masa dimana anda akan menuai apa yang di tanam, diapun demikian.

Dulu, 4 sahabat Rosulullah SAW, sama-Sama kehausan dalam suatu pertempuran. Tetapi, air yang tersedia tidak cukup untuk mereka berempat. Maka, mereka mendahulukan saudaranya. Sampai gelas itu berkeliling, tidak ada satu pun yang meminumnya. Begitu sampai kepada Prajurit pertama, ia sudah syahid. Begitu juga yang kedua, ketiga dan keempat. Semua gugur menjadi syuhada.

Mereka syahid, karena mereka justru ingin memberi kesempatan pada kawannya untuk terus hidup.

Dalam Realitas yang lain, kadang kita menemukan kerumitan dalam berkawan. Itu masalah kecocokan visi. Sebab, harus ada dua tangan untuk bisa bertepuk. Dua jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu, kalau hajat mereka sama. Itu sebabnya Rosullulah bertutur : "Jiwa-Jiwa itu ibarat Prajurit yang dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan menyatu dan saling melembut. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan menjauh dan berpisah".

Ada manis yang kita cecap bersama. Sering ada pahit yang kita cicipi. Mendidihkan air mata saat kita lapar, Terlebih jika tidak ada rokok. Perkawanan itu Bukan sekedar kepompong, hadir lalu menjadi kupu-kupu. Ia gorong-gorong yang mengalirkan kehidupan. Membuat kita tidak pernah pandir.

Ada kebahagian juga kesedihan dalam persahabatan yang dimeriahkan bersama. Relasi ini saya yakin akan jauh lebih lama dari sekedar teman makan, minum dan buang air. Sebagaimana Gumam Jokpin, Bahwa sumber segala kisah adalah Kasih".

(Makassar,  15 / 06/ 2020) Nalar Pinggiran


**

Satu dari sekian esensi Peristiwa Qurban Ialah saat Ibrahim As meninggalkan Istrinya ; Hajar dan Ismail anaknya yang masih kecil dipadang pasir yang tak bertuan?. Seperti jamaknya, Hajar hanya bisa menduga, bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberinya putra.

Hajar mengejar Ibrahim As - suaminya, seraya berteriak : "Mengapa engkau tega meninggalkan kami disini, bagaimana kami bisa bertahan hidup?". Ibrahim As tak bergeming, ia terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya, terjepit antara "pengabdian" dan "pembiaran".

Hajar masih terus mengejar sambil terus menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit : "Wahai suamiku, ayahanda Ismail, Apakah ini Perintah TuhanMu?". Kali ini Ibrahim As, Sang Kholiulloh, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim As. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semuanya terkesiap. Ibrahim As membalik tegas, dan berkata : "Iya, ini perintah Tuhanku !"

Hajar berhenti mengejar, dan dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semua Malaikat, serta menggusarkan butir pasir dan angin : "Jikalau ini perintah TuhanMu, pergilah wahai suamiku. Tinggalkan kami disini. Jangan khawatir, Allah akan menjaga kami dan memberikan jalan keluar atas setiap ujian".

Ibrahim AS pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah.

Sebuah pesan Pengabdian, atas nama Perintah Allah, bukan pembiaran. Itulah yang di sebut IKHLAS.

IKHLAS adalah wujud sebuah Keyakinan Mutlak, pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah pada kalah. Ikhlas itu adalah ketika engkau sanggup untuk berlari, mampu untuk melawan dan kuat untuk mengejar, namun engkau memilih untuk patuh dan tunduk.

Ikhlas adalah sebuah kekuatan untuk menundukkan diri sendiri, dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengkalkulasi hasil akhir. Ikhlas tak pernah berhitung, tak pernah pula menepuk dada.

Ikhlas itu Tangga menuju-Nya, Mendengar Perintah-Nya, MentaatiNya. IKHLAS adalah IKHLAS itu sendiri. Murni tanpa embel-embel kepamrihan apapun. Suci bersih 100 persen, hanya karenaNya dan mengikuti KehendakNya, tidak yang lain!.

Setelah ditinggal suaminya-Ibrahim, Hajar mengendong putranya-Ismail Sambil lapar dan haus, Hajar Mondar mandir diantara Bukit safah dan Marwah adalah sebuah tindakan konyol dalam pandangan kita. Apalagi ditengah Gurun Tandus. Tapi, dalam situasi krisis itu, ada harapan yang membuatnya berlari-lari kecil diantara dua bukit. Harapan dan usaha yang dilakukan berulang-ulang, pasti membuahkan hasil : Air Zam-Zam.

Air zam-zam adalah pertemuan antara krisis : harapan dan usaha. Bahkan Air zam-zam itu tumbuh bersama perdaban besar dan menjadi artefak penting dalam sejarah mekkah, sebagai salah satu sentrum pergerakan Islam.

Pada Siti Hajar, ibunda Nabiullah Ismail. Tercermin sebuah Prototype dari Beyound the Crisis Zone. Keluar dari zona Krisis. Ingat, dalam masa-masa Sulit (Pandemi) ini, kita tak perlu digulung-gulung oleh nestapa. Tapi terus mendelik dalam satu kesempatan (oppurtunity). Orang-orang Sukses adalah Orang selalu membaca, apa yang terjadi balik krisis. Mereka mampu berpikir melampaui krisis dengan membuahkan kesuksesan besar.


***

Berkenaan dengan Zona krisis tersebut, saya teringat dengan Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani. Ulama dengan ratusan kitab tentang Islam. Nama aslinya adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani Al Asqalani.

Lumayan panjang nama ini. Menyebutnya, bisa makan sampai dua tiga suap nasi dan lauk pauknya. Tempat lahirnya Ibnu Hajar sendiri masih soal, entah di Mesir atau di Palestina. Yang jelas, konon dimasa kanak-kanak, ia dikisahkan sebagai anak yang telmi. Rajin tapi telat mikir.

Saking tak paham apa-apa yang diajarkan di madrasah, Ibnu Hajar putuskan pulang kampung karena merasa otaknya berat. Ia izin gurunya untuk pulang. Ditengah perjalanan pulang itulah, Ibnu Hajar mendapat pelajaran.

Di sebuah gua tempatnya istirahat saat jalan pulang, di dapatilah sebuah batu hitam yang keras, yang terus menerus ditimpa satu dua butir air dari atas gua hingga batu itu berlubang. Tak sangka, disitulah ia terpantik.

Ia terinspirasi, bila batu yang keras saja terus-menerus ditimpa air, akan lubang juga. Begitupun dirinya, bila tekun, kelak akan genius juga. Dus, setelah peristiwa itu, ia pun kembali ke sekolahnya.

Sejak itu, semangat belajarnya membumbung. Menjadi anak paling pintar. Hingga menjadi ulama besar sebagaimana yang dikisahkan dalam literatur-literatur.

Saya juga pernah nonton Forrest Gump. Film yang diperankan Tom Hanks. Mengisahkan tentang sosok Forrest Gump yang tumbuh dan menjadi sosok terkenal dengan IQ 75. Dimasa kecilnya dilewati dengan bullying teman sekelasnya.

Tak ada yang berkawan dengannya karena telmi. Lalu, cintanya yang ditolak mentah-mentah oleh Jenny gadis impiannya.

Forrest Gump akhirnya jadi tentara di Vietnam. Dengan kecepatan larinya, Forrest Gump menyelamatkan nyawa banyak serdadu. Bokongnya tertembak di Vietnam.

Setelah berhenti ikut perang Vietnam, berbagai lakon hidup dijalaninya. Namun Jenny tetaplah menjadi cinta sejati yang tak bersambut.

Dalam hidupnya ia sudah mencapai beberapa hal, namun pada Jenny ia dipaksa terus berlari. Mengejar impiannya.

Kurang lebih 3,5 tahun Forrest Gump berlari keliling Amerika, mengejar imajinasinya pada sosok Jenny yang impersonal. Suatu waktu nama Forrest Gump ada di headline koran lokal.

Jenny membacanya. Mereka bertemu dan sama-sama tenggelam dalam madunya cinta setelah Forrest Gump berlari 3,5 tahun. Berlarilah !

***

Sudah dua tiga hari ini, saya tidak bosan-bosan dengar ceramah Mark Zuckerberg, CEO Facebook. Mark Zuckerberg di DO dari Harvard University.

Saat ceramah di HU, dia katakan, kalau dia bisa tuntaskan ceramahnya, maka itu satu-satunya hal yang bisa diselesaikan di Harvard, selain kuliahnya yang gagal.

Apa yang ada di kepala orang-orang kala Zuckerberg DO dari Harvard?. Bukan karena ia telmi. Tidak, orang hanya menganggapnya tak berhasil di sebuah kampus terbaik kelas dunia.

Kini Zuckerberg menjadi CEO sebuah platform digital dengan user 2,7 miliar diseluruh dunia. Dia menjadi presiden semua warga Dumai yang hidup diplanet facebook.

Kekayaannya mencapai Rp.2.400 triliun. Lebih besar dari fulus yang dimiliki seluruh rakyat Indonesia.

Apa tujuan hidup Zuckerberg sekarang?. Dia bilang make your purpose. Itu yang dia lakukan meski DO dari Harvard.

Sekarang dia meloncat, membangun komunitas global, lalu mengajak semua orang untuk makes a purpose.

Dari Kisah Siti Hajar, Ibnu Hajar, Forrest Gump juga Mark Zuckerberg, mereka adalah orang-orang yang dulunya tak direken. Kini apa?. Ibnu Hajar menulis puluhan kitab dan diterjemahkan ke seluruh belahan bumi.

Forrest Gump menginspirasi musik, sejarah dan inspirasi bagi masyarakat Dunia, pun Mark Zuckerberg yang mampu menyatukan manusia dalam satu komunitas digital bernama facebook. Mereka hanya meletakkan tujuannya, lalu mengejarnya secara konsisten !.


***

Mengimpikan sesuatu diluar batas kemampuan kadang dinilai "gila". Padahal, pasrah pada realitas yang punya kemungkinan-kemungkinan bisa diubah sama dengan gila betul. sebab, hanya orang gilalah yang tidak punya mimpi dan cita-cita, bahkan surga yang menjadi idola semua manusia untuk masuk dan abadi didalamnya, tidak pernah di fikirkan.

Pasrah boleh. tetapi, setelah melewati ikhtiar itu baru dinamakan tawaqqal.

Jika saja takdir bukanlah hal yang misterius dari sebuah proses (ikhtiar) pencapaiaan. Maka, untuk apa tawaqqal?. Takdir harus misterius, agar proses pencapaian mencengangkan.

Ada sebuah cerita tentang pegawai kereta api yang secara tidak sengaja terkunci didalam gembong pendingin kereta api. karena, merasa tidak mampu ia pasrah pada nasib, ketika tubuhnya mulai dingin dan kematiannya mulai dekat. dia mulai menulis tentang proses kematiannya tersebut pada kalimat-kalimat yang ditorehkan di dinding-dinding gembong; ”saya mulai kedinginan”, tulisannya. sekarang bertambah dingin.

Tidak ada yang dilakukan selain menunggu, ini mungkin kata terakhir. dan memang itu kata-kata terakhir, yang dituliskannya. karena, setelah dibuka gembong kereta tersebut, ia ditemukan tewas.

Suhu dalam gembong kereta itu 58 F, sementara alat pendingin telah rusak, tidak ada penyebab fisik atas kematiannya. udara banyak, dia tidak kehabisan udara. bisa disimpulkan dia tewas, karena pasrah tanpa ikhtiar dan tertipu oleh ilusinya.

Hiduplah adalah proses menuju apa yang diimpikan, sebuah proses yang mau tidak mau harus dijalani oleh semua yang hidup didunia ini. Bunyi Firman Allah ; " Dan manusia akan mendapatkan apa yang diusahakannya (Q.S.An-Najm;39).

Akhir dari semua perjuangan sering dianggap anomali oleh kebanyakan orang. Hanya satu sebabnya, kita sering mengukur standar ikhtiar dengan ukuran kita. Mungkin juga karena ia terlampau abstrak.

Misalnya, Dalam Islam, ikhtiar itu sangat penting. Menghindari mudarat dan mengambil maslahat, juga merupakan kaidah agama. Dulu, Rosulullah SAW, 1.400 tahun Nan silam menerapkan Lock Down saat wabah melanda. Umar Bin Khottab yang keras kepala saja, yang Cuman Taat pada Rosulullah SAW dan Allah, juga pernah mengurungkan perjalananya, karena tempat tujuannya dilanda wabah.

Agama itu sangat Logis. Jika pun ada ghaibnya, itu karena kemampuan Rasional Kita tidak mampu menembus yang suprarasional. Butuh Supra Genialitas untuk menjangkaunnya. Larangan sholat berjama'ah dengan argumen-argumen medis itu juga agamais, berdasarkan kaidah. Beragama itu bukan berarti menjadi seorang Fatalis. Toh, takdir juga bukan sesuatu yang given.

Kematian selalu ada sebabnya, dalam Hadist yang Diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rosulullah saja bersabda, "Setiap anak Cucu Adam memiliki 99 sebab kematian". Artinya, kematian pun punya faktor-faktor logis atau dalam Bahasa medis disebut Cause of Death (COD). Apa jadinya beberala tahun silam, jika Positiv Covid-19 mengalami peningkatan kurva normal atau meningkat secara Eksponsial. Maka, tentu Membludak pasien di RS dengan Faskes yang terbatas, pun tenaga medis?. Hal itu, bisa menyebabkan tingkat Mortality melambung tinggi.

Sosial Distancing hingga Lockdown berfungsi menekan penularan. Agar yang terpapar Covid-19 berada dibawah Kurva normal. Dalam kasus wabah Corona, tindakan medis adalah upaya menekan tingkat kematian dibawah kurva normal. Agar pasien yang terpapar mendapatkan pelayanan medis yang optimal bagi yang menderita. Hanya kematianlah, akhir dari setiap Ikhtiar manusia. Inilah contoh, bahwa ikhtiar itu penting.


**

Dulu ada senior saya menceritakan pada saya, tentang seniornya, yang bernama Bang Saleh Daulay. Bang saleh ini pernah cerita, membeli Es campur saat hujan lebat di ciputat tempat dia Indekos waktu masih Mahasiswa S1 bersama teman-temannya. sampai-sampai temannya heran dan mengajak Bang saleh berdebat.

kira-kira begini Isi Debatnya ; "Le, Ngapain kamu beli es campur saat hujan lebat gini, Dingin pula lagi". Kata bang Saleh ; "sudah, kamu beli saja sana, Sebentar saya ceritakan apa maksudnya". Aneh Kamu, Le, Ujar kawannya. 

Akhirnya, Kawan Bang Saleh membeli dua porsi Es Campur. Setelah abang tukan Es itu pergi, Bang Saleh Memberi Ceramah kemanusiaan pada kawannya. "Kau lihat bapak Tukang Es itu; sudah hujan lebat, angin sekencang ini. Dia dorong gerobaknya sepanjang jalan. kau lihatlah, dia berjuang demi anak dan istrinya. dengan membeli Es dua porsi itu, kita sudah merawat harapan Si bapak itu. Dia hampir saja putus harapan (pasrah), saat mendorong Gerobaknya .

Jika semua orang cara berpikirnya sama dengan engkau, bahwa Mana ada hujan lebat, dingin pula, orang mau membeli Es campur. Maka, sebenarnya, kita telah membunuh Haraoan orang. Engkau tengok sana, setelah kita beli dua porsi Es campurnya, si bapak tambah kencang mendorong gerobaknya; tambah semangat dia".

Cerita diatas datang dari pengalaman Hidup Mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah, kini menjadi Anggota DPR RI. saat Masih S1. Cerita ini Sering sekali saya sampaikkan dalam forum-forum apapun, saat saya di undang sebagai Pembicara. Sebab, Tindakan bang saleh itu mematahkan logika Umum, yang ada dipikiran bapak Tukang Es campur itu ; bahwa tidak mungkin hujan lebat, angin kencang dan hawa dingin. ada orang mau minum es. Percaya atau tidak, si tukang Es ini nyaris putus asa dihari itu ; sebelum es campurnya dibeli. Tapi di saat, ada orang yang beli Es campurnya. Dua porsi pula, maka harapan yang nyaris patah tadi, kembali menukik.

Artinya, berharap itu boleh. Tentu tidak salah, bahkan dianjurkan. Bahkan, Al-Ghazali menempatkan Formula "Cemas" dan "Harap" dalam nukilan-nukilan Teosofinya berkaitan dengan Ibadah. Berharap semoga tetap terjadi, cemas kalau tidak berlaku. Demikian juga dengan penyair klasik cina "Lut szun" pernah berkata; "Harapan itu ibarat berjalan didalam rimba. Pada awalnya jalan itu tak ada. Tapi, karena sering dilaluinnya. Akhirnya jalan itu ada dengan sendirinya".



*Pustaka Hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*pena Nalar Pinggiran


Kamis, 08 Juli 2021

IBU DARI IBUKU REBAH DI BULAN JULI




Nenek Hilang diangkat oleh Allah dari kerendahan ke ketinggian. Dipindahkan oleh Allah dari tempat yang dikuasai oleh kegelapan ke tempat yang dipenuhi cahaya-Nya. Dihijrahkan dari kegaduhan dan keriuh-rendahan menuju maqam yang amat sunyi sehingga bisa ia temukan secara sangat terang benderang setiap sapuan suara sejati selirih apapun.

Nenek Hilang dipanggil Allah untuk bergeser dari ‘Alam Syahadah yang telah sukses menipu berpuluh-puluh miliar manusia sepanjang zaman, memasuki ‘Alam Haqiqah yang memerdekakan Nenek, sesudah beberapa puluh tahun ia bersabar dan sangat tabah menemani dan mengayomi manusia di sekitarnya di sejauh jaringan silaturahminya yang terjebak oleh tipudaya kemewahan dunia.

kepergian Nenek Hilang seperti dijemput oleh kendaraan yang dulu mengangkut Nabi Muhammad Saw berisra` mi’raj. Super high speed. Di bawah sadar kita, terutama Ibu Saya sukar percaya bahwa Nenek Hilang sudah tidak bersama kita lagi di sini. Nenek Hilang terlalu dekat untuk jauh. Kita semua tidak siap untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah nun jauh di sana, terlebih Ibu saya, anak kandung yang dua tahun terakhir Ia tanyakan. Ya Allahu.

Belum tiga empat minggu yang lalu, beliau VC dan Menanyakan ; " Kenapa Rais Belum datang menjemput Nenek, semua cucu nenek sudah semua Nenek lihat tumbuh, Rais belum pernah sekalipun?". Kira-kira begitu Tanya pada Mama.

Padahal, Satu Minggu kedepan, saya sudah persiapkan keberangkatan ke Batam, untuk menghadiri acara Nikahan Saudara saya, sekaligus mengunjungi Nenek dan Membawanya Ke makassar. 

Namun Kabar kegetiran siang ini terlalu dini, tiba. Sorot mata Kosong Mama saya, seperti kehilangan bintang-bintang di langit. Ia seperti penghuni bumi tanpa rembulan. Ia menghuni padang pasir tanpa pepohonan. Mama saya masih terus butuh dan ingin berenang, tetapi samudera mengering dan sunyi tanpa gelombang.

Mama dan keluarga, lebih dari terkejut oleh ketetapan Allah itu. Kita semua masih sangat membutuhkan Nenek.

Memang, tak ada kuasa dan otoritas kita, untuk menghindar, bersembunyi, apalagi berlari dari Maut.

Memang, Tidak ada yang bisa berlari dari maut. Sebab, ia selalu lebih cepat dari semua yang kita pikirkan, bahkan sangkakan.

Memang, Tidak ada tempat di bumi yang bisa menghindari Maut. Ia selalu tiba, di batas usia.

Tetapi, saya belum menepati janji untuk menjemputnya, agar bisa bersua dengan anaknya yang begitu lama yang rindukan.

Allah Maha Lebih Mengetahui apa saja yang kita hanya mengetahuinya sedikit-sedikit, seserpih-seserpih atau sangat sebagian kecil. Dipanggilnya Nenek Hilang oleh Maha Pencipta dan Pemiliknya adalah misteri bagi pengetahuan kita. Adalah “ghaib”. Dan Allah jauh-jauh hari sudah menyiapkan mental dan jiwa kita agar menerimanya dengan iman, tanpa mempertanyakannya secara ilmu dan pengetahuan. Alladzina yu`minuna bilghaibi. Dan kita memperbanyak sujud pasrah kepada-Nya. Kita teguhkan “yuqimunas shalat” dan memperluas kemurahan hati “wa mimma razaqnahum yunfiqun” dengan terus memperjuangan kelahiran baru demi kelahiran baru.

Semua Kita ada dalam kesementaraan, datang tetapi untuk pulang. Selamanya disini hanya berteman rindu, satu-satunya penuntun arah adalah untuk kembali menyatu dengan kekasih Sejati Zat, Yang Maha Hidup.

Yahh, memang Perginya Nenek itu (seumpama) kembang, tumbuh tanpa kata dan bulan bergerak tanpa berisik.

Almarhum itu tidak ada hubungannya dengan kematian. Almarhum itu artinya orang yang di rahmati oleh Allah. Kita semua mudah-mudahan sudah almarhum. Hanya saja dalam kebudayaan, Diksi Almarhum kerap kali di asosiasikan kepada kematian.

Menurut Allah, Tidak ada orang yang mati. Makanya dalam hidup, kita harus selalu punya hubungan batin terhadap sesama. Karena, dia abadi. jika hanya hubungan fisik, hubungan badan, hubungan politik itu hanya sementara.

DalamQur'an Allah berfirman : Jangan sangka bahwa hamba-hambaku yang berjuang di jalanku, itu mereka mati. Melainkan mereka hidup dan mendapatkam rezeki. Jadi, orang yang kita sebut sebagai almarhum ini sedang memasuki rezeki tingkat kedua, melebihi rezeki yang kita dapatkan di dunia. Rezekinya berbeda-beda, dan almarhum sedang menikmati itu. Kalau kita, rezeki kita itu cuman makan, minum, motor, rumah, dsb. Yang ketika di sapu angin akan hilang menurut kesementaraan waktu.

Manusia itu tidak hidup sementara. Manusia itu hidup abadi ; "Kholidina Fii ha abada". Kita terus menerus hidup, hanya saja polanya berbeda. Seumpama Ulat, kepompong, lalu menjadi kupu-kupu. Nah, kita hidup ini, bagaimana caranya menjadi ulat, kepompong dan menjadi kupu-kupu.

Innahu Waa Inna Ilaihu Roji'un..!!

#Rst

#nalarPinggiran











Rabu, 07 Juli 2021

NENEK MOYANG BANGSA NUSANTARA, GURU PELAYARAN BANGSA CHINA




Tahukah kita, bahwa Nusantara, sejak fajar peradaban terkait erat dengan satu bangsa di utara, namanya China atau Tiongkok.

Peta dunia lama terbagi atas dua sudut, timur dan barat. Timur adalah China, pusat populasi manusia dan material. Barat adalah India, pusat ide-ide budaya (agama).

Ada sekitar 20 juta manusia di China pada era dinasti Qin, abad 1 masehi. Jumlah yang menyedot minat pedagang dari segala penjuru untuk memasuki China. Judulnya "Jalur Sutra", bukan sekedar perdagangan, tetapi juga pertukaran budaya, politik, dan penyebaran agama. Hal itu Berlangsung sejak abad 2 SM hingga kolaps di abad 18 M. Sutra hanya penanda, tapi jalur Sutra tidak melulu menawarkan kain sutra, tetapi juga keramik, kaca, logam mulia, perkakas, getah damar, hingga rempah.

Membentang sejauh lebih dari 5.000 km, Jalur Sutra darat lebih dulu terkenal, kafilah-kafilah bergerak menyusuri daratan dengan titik kunci di Asia Tengah. Di sana ada bangsa yang kini sudah musnah, Bangsa Sogdiana, hidup di sekitar Kazakhstan dan Uzbekistan, mereka bangsa pedagang utama, perantara agung, yang mengajari bangsa China bagaimana cara berdagang, sekaligus memperkenalkan agama Budha pertama kali ke China. Nasib Sogdiana berakhir setelah ditaklukkan muslim.

Karena jalur Sutra darat demikian berat dan berbahaya, muncullah alternatif kedua, yaitu Jalur Sutra Laut (maritime silk road). Di sinilah nenek moyang Nusantara bersua. Membentang lebih dari 3.000 mil laut, antara China dan India, awalnya jalur ini terputus di tanah genting Kra (Thailand dan Myanmar), kemudian ditarik ke bawah, melalui Selat Malaka.

Jika di darat ada bangsa Sogdiana, maka operator utama Jalur Sutra Laut adalah nenek moyang kita, orang nusantara. Kapal-kapal awal yang bergerak ke India dari Selat Malaka. dan rute Timur, Selat Malaka hingga China, mayoritas adalah kapal nenek moyang kita. India dan China belajar berlayar dari nenek moyang kita yang tangguh.

Orang China menganggap tetangga di selatan mereka, bangsa Kunlun (ras Austronesia, nenek moyang kita) yang bertanggung jawab membuka seluruh jalur pelayaran yang memungkinkan barang dari China mencapai India melalui laut, dan mengangkut pendeta Budha China berziarah ke India. Simak pengakuan Pendeta Budha Faxian (abad 5 M) yang transit di Yehpoti (Kalimantan) pada saat berangkat dan pulang ziarah dari India.

"[Saya] menumpang di atas kapal dagang besar, yang memuat lebih dari dua ratus jiwa, dan di belakangnya ada kapal lebih kecil mengantisipasi jika terjadi kecelakaan di laut yang menghancurkan kapal besar itu."

Kapal dagang yang mampu memuat lebih 200 orang pada abad 5 M adalah pencapaian luar biasa para pelaut atau pedagang nenek moyang kita.

Ada kesilapan paham sementara ini yang menganggap bahwa orang dari India yang berinisiatif atau memprakarsai penyebaran agama Hindu dan Budha ke nusantara. Yang lebih tepat adalah nenek moyang kita sendiri yang menjemput bola ke India dengan kapal-kapal mereka, membawa pulang keyakinan baru yang lebih kompleks untuk diterapkan di nusantara, menjadi atribut kerelijiusan yang lebih megah dibanding agama asli, menjadi tanda keagungan kerajaan-kerajaan nusantara untuk menaklukkan rakyatnya dengan ajaran yang lebih rumit.

Awalnya nenek moyang kita hanya berperan sebagai operator kapal dagang, melayani pertukaran barang produksi China maupun India (juga bangsa-bangsa yang singgah di India seperti Arab dan Persia), namun belakangan nenek moyang kita menitipkan komoditas tambahan hasil asli nusantara: itulah rempah-rempah. Lada, getah hutan, Pala, Cengkeh, Kayu manis dll. Awalnya hanya barang dagangan tambahan, lalu perlahan berkembang menjadi komoditas utama, karena bangsa-bangsa asing (China, India, Arab, hingga Eropa) menggandrunginya.

Pada puncaknya, rempah nusantara di masa itu ibarat minyak bumi bagi Timur Tengah saat ini. Komoditas utama yang mengantar nusantara ke dua tujuan berbeda, kejayaan dan kemudian kehancuran.

Politik dan dinasti-dinasti di kerjaaan nusantara jatuh dan bangun oleh interaksi mereka dengan perdagangan rempah, beras, kerajinan, dan logam mulia. Diplomasi kerajaan-kerajaan nusantara dengan imperium China adalah politik yang utama. China berkepentingan menjaga atau memastikan kestabilan komoditas masuk ke negerinya melalui pengakuan-pengakuan terhadap otoritas kerajaan nusantara. Sebaliknya nusantara membutuhkan pengakuan dari imperium China untuk melegitimasi kekuatan mereka, utamanya terhadap kerajaan saingan di nusantara. Jatuhnya Kerajaan Sriwijaya, Singosari, hingga kemudia Majapahit tak lepas dari konsekuensi yang mereka peroleh akibat konflik yang menyertai hubungan perdagangan internasional yang melewati nusantaara.

Pulau Jawa pernah berkelimpahan, pada abad 11-14 M, dan terutama ketika di bawah otoritas Majapahit, Jawa menyediakan beras untuk semua pelaut pedagang yang singgah di pelabuhan Gresik dan Tuban ditukar dengan uang perunggu China, koin emas dari Barat, kain dari India, dan keramik. Beras juga diangkut ke kepulauan Maluku untuk ditukar dengan rempah-rempah. Pelabuhan Gresik menjadi pusat perdagangan beras dan rempah. Demikian melimpahnya hingga simbol kemewahan di zaman itu, keramik dan uang perunggu bertebaran di kalangan masyarakat biasa, jauh dari Istana. Temuan-temuan keramik dan celengan, dengan uang perunggu China di dalamnya, di pelosok Jawa Timur, adalah bukti dari kelimpahan tersebut. Pelancong dari Italia, Marco Polo mencatat:

“ Jawa... melebihi kekayaan, menghasilkan semua macam bumbu, sering dikunjungi oleh pengiriman dalam jumlah besar, dan oleh pedagang yang membeli dan menjual barang-barang mahal yang menghasilkan keuntungan besar. Sesungguhnya, harta karun pulau ini begitu besar sehingga tidak pernah diceritakan”.

Namun kelimpahan dan permintaan internasional akan rempah-rempah yang besar ini perlahan menjerumuskan nusantara. Ketika Bangsa Eropa berhasil menembus hambatan pedagang Persia, mereka berdatangan sendiri ke nusantara, menggunakan teknologi kapal dan persenjataan lebih maju, memonopoli perdagangan, dan membangun koloninya. Rusaklah tata niaga lama yang sudah berusia 1500 tahun. Empat ratus tahun kemudian, Eropa semakin dominan dan bangsa-bangsa Timur tenggelam di bawah kakinya.

Namun keadaan sudah berubah lagi, setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Jika hari ini kita di nusantara baru yang bernama Indonesia mengalami era tarik menarik kepentingan regional yang berpusat di China, maka pola itu sudah berumur 2.000 tahun. Bukan hal baru.

*pena Nalar Pinggiran

Selasa, 15 Juni 2021

DENGARKANLAH KARENA IA MENCINTAIMU, BUKAN YANG LAINNYA



Belum lama ini, ada yang bertanya pada saya : " Saudara Kerjaku cuman Ibu rumah tangga, saya tidak punya profesi lain?".

Saya terkaget mendengar hal itu, sambil bertanya ; "Wadduh, Ibu rumah tangga itu lebih berat dari direktur perusahaan. Mengapa?, Karena Lebih berat itu menjadi Ibu. Makanya, menjadi wanita itu puncak karirnya adalah menjadi Ibu. Pertama, jadi perempuan. Kedua, jadi Istri. Dan Ketiga, jadi Ibu.

Ihwal ini sejalan dengan, apa yang disebutkan Nabi, jika ada yang paling pantas untuk dihormati ialah Ibu...Ibu...Ibu... baru Bapak.

misalkan, Kalau dikampus atau disekolah, atau disemua level komunitas dan organisasi, yang biasa kita dengarkan jika ia berbicara Matematika, pasti ahli Matematika atau sarjana Matematika. Kalau bicara teknik Bangunan, yang kita dengarkan adalah orang Teknik sipil. Yang kita dengarkan adalah orang-orang tertentu, yang Ekspertasi pengetahuan spesifik.

Lalu, menjadi ibu apa Keahliannya?.

Ku beritahukan padamu, kawan. Ibu itu didengarkan. Karena dia yang paling "mencintai kita". Jadi, orang yang lebih pantas untuk didengarkan adalah orang yang paling mencintai kita. Bukan orang yang lebih pandai, bukan orang yang pintar, bukan penguasa, serta bukan orang hebat diantara kita. Jelassss!.

Sebab, yang paling kita harus patuhi dan dengarakan adalah orang yang paling mencintai kita, begitu ukuran Allah. Kalau ukuran universitas dan kurikulum pendidikan modern, yang kita dipaksa untuk mendengarkannya adalah yang paling ahli dibidangnya. Sementara ukurannya Allah adalah Ibu kita..!.

Satu satu diantara banyak Sebabnya, sehingga ibu adalah orang paling berhak untuk didengarkan. "Karena Ibu adalah perempuan yang tersenyum dihadapan maut saat melahirkan kita ke alam syahadah ini". Sehingga, yang paling punya Hak untuk didengarkan adalah Ibu dan Paling punya Hak untuk diabdi.

Seperti saya ini, tidak punya profesi. Seharusnya saya menolak untuk bisa diajak berdiskusi dan berdialektika apapun. Sebab, saya bukan ustadz, bukan Kiai, bukan intelektual dan bukan siapa- siapa. Mengapa saya betah diajak diskusi dan berdialektika?. Alasannya cuman satu : 'I Love You'.

Bukan sombong, saya minta maaf. Saya bisa bertahan berdiskusi dan berdialektika hingga bedug subuh ditabuh dimasjid, kenapa hal itu bisa terjadi, karena partikel cinta berkelindan diantara gelombang diskusi. Kalau hanya peristiwa seumpama didalam kelas, hampir bisa dipastikan tidak ada yang bisa bertahan sampai jam-jam demikian. Karena, Yang bisa mempertahankan kita berdiskusi sampai jam-jam demikian, karena kita saling mencintai karena Allah, sehingga Allah mencintai kita semua.

Itulah sebabnya, saya berkeinginan mengurusi generasi milineal yang disebutkan Allah Dalam Q.S. Al-maidah ; 54, " akan aku datangkan kaum yang baru, yang aku cintai kata Allah dan mereka mencintaiku".

Kitalah kaum yang baru itu, kitalah yang akan membangun Indonesia lebih baik dari sekarang ini. Kitalah yang akan mendirikan mercusuar masa depan republik Indonesia, dan kitalah yang akan membuat seluruh dunia segan serta segan dengan kita sebagai bangsa yang luar biasa.

Jika kita membaca, Juara-juara olimpiade didunia, 90% orang Indonesia. Mau fisika, mau matematika, mau biologi dan mau apa saja, yang juara adalah orang Indonesia. Hanya saja, pemerintah Indonesia buta hatinya dan buta matanya.

Makanya, saya jatuh cinta pada Dialektika untuk membangun masa depan generasi milineal dan kita semua Dan saya tidak perduli sama pemerintah yang sekarang, organisasi apapun itu.

Silahkan cari didunia ini, Di Amerika kah, di Inggrish kah, di Jepang kah, di Arab kah dan dimanapun. Tidak ada yang belajar sampai tengah malam hingga bedug subuh ditabuh, kecuali di Indonesia.

Apakah itu belum cukup bukti, bahwa Allah sangat menyanyangi bangsa Indonesia. apakah itu belum cukup bukti bahwa Allah sangat menunggu-nunggu masa Depan kita, untuk memimpin seluruh dunia. Karena seluruh dunia sekarang, tidak hanya pemerintah Indonesia, salah motif hidupnya, salah tujuan, salah pengelolaan dan salah asal usulnya.

Yang benar adalah kita, rakyat kecil yang setia hingga tengah malam mencari ilmu bersama-sama.

Saya tidak perduli, saya jadi apa. Terkenal atau tidak, masuk tipi dan koran atau tidak. Jokowi kenal saya atau tidak, Joe Biden dan Yahudi Kenal saya atau tidak. Saya tidak perduli semua itu dan hal itu tidak penting.

Bahkan saya tidak ikut mempunyai diriku sendiri, saya tidak perduli. Cukuplah saya dengan Allah. Jika ada urusan apa-apa, kita berhadapan dengan Allah, tidak berhadapan dengan saya.

Sekarang saya tanya, apa perbedaan pelajaran umum dan pelajaran agama?.

Untuk menjawabnya, kita coba endapkan pertanyaan lain ; apa sifat Allah dan apa sifat ciptaan Allah?. Kita ini terlalu banyak mengingat, bahwa kita ini manusia. Kita tidak pernah mengingat, bahwa ada jenis spesies lain selain manusia, yaitu hewan, tumbuhan, air, tanah, jin, dsb. Seolah-olah Allah hanya sayang manusia, tidak pada yang lainnya. Tidak apa-apa juga, jika demikian perspektifnya, tetapi tidak lengkap.

Apa sebabnya, kita belajar Fisika?. Dalam fisika itu kita tahu bahwa ketika kita memukul air, maka airnya akan muncrat. Jika kita kencing, kemana arahnya air kencing kita : airnya kesana atau kesini?. Maka, air kencing kita akan kesana, karena ada Gravitasi. Artinya orang belajar fisika itu adalah belajar sifat ciptaan Allah. Jadi, itu pelajaran agama.

Lalu, orang-orang datang mengatakan bahwa sains itu bukan pelajaran agama. Lantas sains itu apa?.

Saya tanya, kita kencing. Yang buat kencing itu siapa? (Terserah apa namanya). yang membuat kencing adalah Allah dengan melewati proses-proses biologis. Jadi, kencing juga berurusan dengan Allah atau tidak?. Atau kita boker, yang membuat ta'i kita menjadi kalori itu siapa?. Jadi, berak itu urusan agama atau bukan. Di atur atau tidak dalam urusan agama hal itu?. Jika kencing harus duduk, begitu agama mengaturnya.

Sekarang saya tanya lagi, sebutkan pada saya, satu benda atau 1 peristiwa dan satu keadaan yang tidak terkait pada Allah?. "Tidak ada". Atau sebutkan kepada saya, satu pelajaran yang tidak terkait pada agama?. "Tidak ada".

Tidak ada, sebab tidak ada pelajaran umum. Yang ada adalah pelajaran agama. Karena umum dan agama, tidak tergantung pada materi pelajarannya. Tetapi, tergantung pada persepsi kita, jika kita lupa dengan Allah, maka ia akan Jadi pelajaran umum. Jika kita tidak lupa pada Allah, maka ia akan jadi pelajaran agama".

Saya kasih contoh lagi, Misalnya sepak bola. Sebutkan ke saya yang bukan urusan Allah dalam sepak bola?. Yang dipakai untuk menendang bola, apa namanya?. "Kaki". Kaki kita ini buatan siapa?. "Allah". Jika patah, bisa dibeli atau tidak?. "Tidak bisa". Rumputnya milik siapa?. "Allah". Tanahnya milik siapa?. "Allah". Gawangnya (besi atau kayunya) milik siapa?. "Allah".

Sebutkan satu unsur dilapangan, yang Messi dan Ronaldo lari-lari, yang bukan milik Allah?. "Tidak ada". semua milik Allah". Maka, adakah urusan yang bukan urusan Allah dan agama?. " Tidak ada".

Nah, sekarang kita ini, membedakan pelajaran umum dan pelajaran agama, karena kita ratusan tahun dijajah Belanda, sehingga kita menjadi sekuler. Sekuler itulah yang membedakan agama dan negara. Itulah nikmatnya menjadi orang Islam, karena semua hal diatur dan diurusi agama. Kita hanya diikat oleh Allah dan Rosulullah SAW. Makanya, saya tidak mau menjadi pemimpin kalian. Karena pemimpin kita bersama adalah Rosulullah SAW. 

Saya tanya lagi, ini agak dalam pertanyannya ; " Rosulullah SAW masih ada atau tidak?. Siapa yang menyebutkan bahwa Rosulullah Mati?. Saya beritahukan kalian nanti yah, jika kita berani mengatakan bahwa Rosulullah SAW telah mati.

Rosulullah ada didalam hati kita yang paling dalam atau tidak?. "Iyya, Ia berada di hati kita". Berarti Dia masih ada atau tidak?. Jadi, mati itu ada atau tidak?. ' tidak ada'.

mati itu tidak ada, sebab Yang ada adalah perubahan, yang ada adalah transformasi'. Dari ulat, menjadi kepompong. Dari kempompong menjadi kupu-kupu.

Nah, kita ini, saat ini, di sini. Sedang belajar menjadi kepompong. Insya Allah, besok lusa akan menjadi Kupu-kupu yang indah berterbangan di surga Jannatun naim.


#Nalar pinggiran

WIRID




Kompas, Minggu, 16 Oktober 1994.

Oleh M. Dawam Rahardjo 

Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Pabelan saja. Ya, mengapa kok sulit-sulit memilih pesantren? Bukankah aku sudah demikian akrab dengan pondok yang terletak di Muntilan itu? Kiainya sahabatku. Barangkali di antara para kiai yang kukenal, dialah, Kiai Hamam Dja'far, yang paling dekat, dalam pikiran maupun perasaan. Lagi pula itulah pondok yang paling indah bagiku. Aku berkenalan dengan pondok ini kira-kira pada tahun 1973 ketika aku mula pertama mengunjunginya, atas anjuran Pak Ud.

Kukira aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dalam romantisasiku, pesantren itu mestilah rindang. Tapi jarang aku melihat pesantren yang halamannya masih ditanami pohon-pohon yang lebat. Dulu mungkin. Namun kini telah banyak ditebangi untuk memberi tempat pada bangunan baru yang umumnya ceroboh itu. Pabelan, sangat berbeda. Pohon-pohon di desa itu masih lebat. Malah Pak Kiai menambahnya dengan tanaman-tanaman baru. Ketika itu sedang musim menanam jeruk. Buah jeruknya besar-besar, tidak seperti biasa. Tapi ada juga ditanam pohon melinjo dan kemudian flamboyan.

Sebelum kuputuskan pergi ke Pabelan saja, aku sudah mempertimbangkan pesantren lain, terutama di Jawa Timur. Pernah kupertimbangkan untuk memilih Tebuireng. Pak Ud pasti mengizinkan. Suasana peribadatannya pun enak. Dalam lima waktu, masjid utamanya pasti penuh jamaahnya. Tapi aku pakewuh dengan Pak Ud. Jangan-jangan kedatanganku merepotkannya. Karena aku, maksudku istriku, pasti tak akan diizinkan untuk bisa memasak sendiri.

Aku juga pernah berpikir, alangkah indahnya bisa tinggal untuk beberapa hari di Gontor, Ponorogo. Tapi sudah lama aku di persona non grata-kan Kiai Zarkasi, gara-gara aku pernah mengritik pondok modern ini, karena sikap isolatifnya terhadap masyarakat sekelilingnya. Padahal sahabat-sahabat mudaku banyak yang alumni Gontor. Cocok aku dengan kebanyakan mereka itu, dengan pola akidahnya, akhlaknya yang manis-manis dan kepandaian mereka umumnya dalam bahasa Arab.

Lalu, oleh Pak Malik Fadjar, aku pernah dianjurkan pula untuk menengok sebuah pesantren di pantai utara Jawa. "Kiainya Muhammadiyah lho!" katanya. Dia pikir aku pasti cocok dengan cara berpikir kiai ini. "Kiainya gemar qira'ah dan tafsir," ujarnya lagi sambil mengacungkan jempolnya. Pak Malik mungkin menyadari bahwa aku senang dengan qira'ah dan tafsir. "Cobalah ditengok dulu," ia menganjurkan.

Sebuah mobil dengan sopirnya membawaku dan istriku menyusuri pantai utara Jawa. Sebelumnya, karena ingin menempuh jalan pintas, mobil sedan kecil itu menembus jalan-jalan kecil di antara bentangan tambak yang gemerlapan ditimpa sinar mentari pagi. Di sebuah kota kecil di tepi pantai yang panas tapi juga cukup rindang itu, bercokol pesantren itu. Di situ aku bisa "menghilang" untuk sementara waktu yang telah kurencanakan, pikirku. Tak mungkin bisa orang menghubungiku. Ketika orang mencariku, mungkin aku sedang berjalan-jalan dengan istriku di sampingku, menatap tongkang-tongkang mengapung di perairan. Kami berdua bisa menghafal wirid sambil menikmati debur ombak.

Karena aku tidak begitu sreg dengan situasi pondok yang kurang bersih itu, aku mengurungkan niatku. Dan tiba-tiba aku berpikir, mengapa tidak ke Pabelan saja?
Kurundingkan ideku dengan Hawariah, istriku. Ia tampak begitu senang. "Ke mana saja Mas pergi dan membawaku, aku akan senang. Kebahagiaanku adalah bila bersamamu Mas," katanya mendukung dan membesarkan hatiku. Kata-kata inilah yang sering dikatakan kepadaku, hampir klise. Maka kulayangkan sepucuk surat kepada Kiai Hamam, mohon untuk bisa diterima. "Saya bersama istri mau nyantri barang sebulan, bila diterima," kataku dalam surat.


***

Dari jalan raya Yogya-Magelang, aku naik dokar. Istriku memakai kebaya dan kerudung yang berenda kembang. Kerudung tradisional yang masih dipakai ibuku dan perempuan-perempuan desa. Wajahnya yang putih dan bulat seperti rembulan itu selalu tersenyum. Hatiku selalu hangat bersamanya.

Kami disambut dengan tawa lepas, khas Kiai Hamam.

"Mau belajar wirid? Ha, ha, ha," tawanya berderai.

"Apa mau jadi sufi?" tanyanya lagi dengan nada senda gurau. Walaupun begitu tanggapan formalnya, tetapi Kiai Hamam penuh pengertian.

"Saya membutuhkan guru yang bisa membimbing, Kiai," kataku.

"Siapa yang bisa jadi guru Mas Dawam?" jawabnya penuh keyakinan. Kami, dalam waktu-waktu sebelumnya, memang sering bicara mengenai tasauf dan filsafat, sebuah pembicaraan "tingkat tinggi". Kalau berbincang-bincang, tentu sampai larut malam. Yang tadinya menemani kami, biasanya mundur satu per satu. Akhirnya tinggal kami berdua, hingga subuh.

"Saya ingin bisa wirid yang agak panjang," kataku. "Juga ingin bisa membaca doa iftitah untuk pidato atau ceramah." Kalau diminta ceramah keagamaan, aku sebenarnya malu jika hanya bisa membaca yang itu-itu saja. Syukur kepada Allah dan salawat untuk nabi, itu saja. Aku juga sering diminta untuk memberi khotbah Jumat. Bahkan juga khotbah Idul Fitri atau Idul Adha. Dan aku selalu menolak. Mereka tidak tahu bahwa aku tak bisa mengucapkan bacaan-bacaan yang diperlukan itu di luar kepala. Tahu mereka, aku adalah "tokoh Islam", atau "cendekiawan Muslim".

Akhirnya Kiai Hamam maklum juga. Tapi guru-guru muda yang pintar-pintar di situ, tak seorang pun bersedia menjadi guru mursyid-ku. Mereka hanya menuliskan doa-doa untukku. Malah mereka memberiku doa wirid bikinan Pondok Gontor yang ditulis sendiri oleh Kiai Imam Zarkasyi. Ternyata doa ala Gontor itulah yang paling bisa kuterima.

Ingin bisa baca wirid yang agak panjang. Itulah obsesiku. Dengan wirid itu aku akan merasa tak perlu lagi berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan secara verbal. Kupikir, Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Mendengar suara batin sekalipun. "Berzikirlah kalian akan Daku, niscaya Aku akan mengingatmu," demikian tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 152.

Karena tak ada yang bersedia menjadi guruku, akhirnya aku belajar sendiri saja. Tentu saja aku mengalami kesulitan, karena aku sudah tidak lagi lancar membaca huruf-huruf Arab. Tapi aku ini memang tolol benar. Mengapa aku tak melihat potensi istriku? Bukankah ia lulusan Mu'alimat Muhammadiyah Yogya yang terkenal itu? K.H. Yunus Anis dan K.H. Ahmad Badawi, keduanya pernah menjadi Ketua Umum Muhammadiyah, termasuk guru-gurunya.

Sungguh keterlaluan aku ini. Tidak pernah berpikir bahwa seorang perempuan itu bisa menjadi guru mengaji lelakinya. Maklum, aku selalu menjadi imam waktu shalat.

"Dengar baik-baik ya Mas! Aku baca pelan-pelan, Mas menirukanku," katanya mulai menjadi guru mursyid-ku. Kalau ia membimbing doa wirid habis shalat, kedengarannya biasa saja. Tetapi kalau doa-doa untuk khotbah, memang agak janggal. Mungkin karena adanya persepsi bahwa perempuan itu tidak pernah jadi khatib.

Kalau shalat, tentu saja aku yang menjadi imam. Aku bangga sekali bisa menjadi imam istriku. Seolah-olah itulah tanda kelaki-lakianku yang sejati. Ketika berdoa, kami berdoa bersama. Kadang-kadang bacaanku dikoreksi. Ada kalanya aku jengkel dikoreksi. Apa ini karena pengaruh alam patriarki? Hawariah hanya tersenyum sabar dan terus membimbingku.

Di waktu magrib, isya dan subuh, kami selalu pergi berjamaah ke masjid. Tapi kami sering bepergian kala siang. Jadi tak bisa pergi ke masjid di waktu lohor dan isya, kecuali salat dhuha. Kami selalu menjalankannya. Sehabis subuh kami menderas Alquran bersama-sama. Hanya saja mengajiku terputus-putus, karena aku sering membaca terjemahannya. Aku bawa The Holy Quran, terjemahan dan catatan kaki Maulana Muhammad Ali. Aku paling matuk (cocok) dengan tafsir ini, rasional dan optimis.

Ketika matahari sudah terbit, ia mulai memasak sarapan. Aku keluar jogging yang sudah menjadi kebiasaanku itu. Lalu kami makan bersama. Sesudah masak, langsung ia mencuci piring. Dan aku menimba air sumur. Air dari pompa dragon bukan air yang baik. Jadi aku ngangsu sumur tetangga yang jernih, mengisi kolah dan ember persediaan untuk dimasak menjadi air minum. Setelah itu kami membersihkan halaman yang setiap pagi bertabur dedaunan yang rontok. Sambil menyapu, aku melatih hapalanku keras-keras agar bisa dikoreksi kalau salah.

***

Sayang sekali, aku datang ke Pabelan pada saat liburan. Jadi kampus kosong, tak ada santrinya, kecuali beberapa yang tinggal, mungkin untuk mengikuti kursus khusus. Tapi justru karena itulah kami seperti diberi kesempatan untuk bisa mandi di Kali Pabelan. Kali sepi dari santri yang biasa mandi di situ.

Air sungai itu mengalir bening. Batu-batuan besar kecil yang bertebaran membuat suara gemercik dialiri arus. Hawariah, seperti orang desa lainnya, memakai kain dan mandi di pancuran dan kali yang dangkal. Bagi orang yang biasa hidup di Jakarta, ini adalah suatu kemewahan. Ketika mandi, Hawariah seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kain batik melilit ketat di tubuhnya yang basah. Rambutnya tergerai.

Di jalan pulang kami berbelanja di warung desa. Hawariah selalu berbicara renyah waktu membeli bahan-bahan kebutuhan. Karena itu ia memang lekas dikenal. Menurut perasaanku yang subyektif, istriku itu mungil, putih dan bersih. Posturnya seperti putri bangsawan atau mungkin berwajah "elitis" dalam bahasa masyarakat kota. Tapi penampilannya sederhana, seolah-olah ia tak sadar akan kecantikannya sendiri. Tak usah berusaha menampilkan diri, kehadirannya di desa itu sudah sangat terasa. Orang-orang melihat kami, waktu kami berjalan. Kadang-kadang mereka menegur. Orang lelaki tentu melihat kepadanya. Yang perempuan juga melihatnya, lalu menengok kepadaku seolah-olah ingin tahu siapa lelaki yang beruntung di sampingnya itu.

Ia rajin datang ke pengajian di rumah tetangga sebelah. Suatu ketika pengajian memutuskan untuk memperbarui tikar yang telah banyak rusak itu. Uang yang terkumpul agaknya masih jauh dari mencukupi. Istriku langsung bilang, ialah yang menutupnya. Baginya, uang itu tidak seberapa. Tapi bagi ibu-ibu di desa itu nilainya masih lumayan besar.

Di waktu malam sering terdengar suara berzanji. Inilah yang khas di desa itu. Penduduk desa umumnya memang jamaahnya NU. Tetapi pesantrennya beraliran reformis. Santrinya mengikuti wirid Gontor. Tapi imam masjidnya tetap berada di tangan kiai desa. Masjid pondok itu tetap dibiarkan seperti aslinya. Ini cocok dengan suasana desa yang rindang.

Kami sering ingin mengejar dari mana datangnya suara berzanji itu. Ada kalanya dari perhelatan perkawinan. Di waktu sore, menjelang magrib, kami mengejar suara salawat nabi yang dikumandangkan itu. Kalau tidak hujan kami jalan-jalan. Yang kami jumpai adalah langgar-langgar atau masjid-masjid kecil. Pohon-pohon kelapa meneduhi halaman masjid.

"Mas, bangun Mas, sudah subuh lho," kata istriku membangunkan. Aku sebenarnya sudah mendengar suara azan. Malah sudah kudengar suara orang mengaji atau membaca sesuatu, dengan irama khas. Aku pun bangun, bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

Tapi di luar masih sangat gelapnya. Tak ada lampu. Apalagi gerimis agak lebat turun. Kami pergi pakai lampu senter. Untung di Pabelan, tanahnya berpasir, jadi tak begitu becek. Kalau berjalan, tangannya pasti menggandengku, agak di belakang. Terasa benar aku menjadi lelaki, sandaran hidupnya. Memang sulit benar berjalan berdua dengan satu payung. Air pun tak bisa kami hindari. Aku seperti sedang berpacaran, dalam beribadah.

Aku bersyukur punya istri yang cocok. Coba bayangkan, jika istriku itu bukan "ahli ibadah", repot. Aku tidak pernah menjelaskan maksudku nyantri seperti itu. Ia sudah tahu dengan sendirinya. Malah itu menjadi keinginannya juga. "Mondok" seperti itu lebih memberi kebahagiaan daripada piknik. Dengan beribadah berdua seperti itu kami sekaligus berpacaran, menunjukkan rasa cinta. Kami tidak pernah merasa sedang bertapa.

Sebelum meninggalkan Pabelan, Hawariah pamit. Para ibu pada semedot, dengan berat hati menerima pamitan itu. Beberapa waktu kemudian bu nyai menceriterakan betapa tetangga-tetangga di sekitar rumah tempat kami menginap itu, semacam “guest house” pesantren, sangat gelo kami meninggalkan Pabelan. Sangka mereka kami adalah penghuni baru. Mereka senang mendengar suara-suara yang terdengar dari pondokan kami. Suara orang mengaji atau kaset salawat dan doa yang dilagukan oleh Ustadz H. Salahuddin Benyamin dengan paduan suara perempuan-perempuan yang mengiringi atau alunan suara ustadz Umar Said yang merdu. Tapi yang paling terkesan pada mereka agaknya adalah pasangan kami berdua yang tampak runtang-runtung, seorang perempuan berkebaya dan lelaki yang selalu berkopiah.

***

Empat tahun kemudian, tak kusangka, istriku di panggil Allah. Kini, kurasakan dalam kenangan, itulah sepotong kenangan yang begitu indah dalam hidupku.

Istriku pergi untuk selamanya di kamar kami, di suatu subuh. Ketika itu istriku tak berdaya, sakit. Ia hanya bisa terbaring miring. Setelah salat sunat koblal subuh, aku pun bersalat subuh. Kubaca Al Fathihah, surat Al-Tin dan surat Al-Qadr seperti yang selalu dibaca imam di Masjid Pabelan, agar dia mendengarkan, seolah-olah kami sedang berjamaah. Aku yakin ia sedang ma'mum kepadaku. Belum sempat wirid, Hawariah telah memintaku mengelus-elus dengkulnya yang sakit. Ia seperti menikmatinya, karena aku mengelus-elusnya dengan mesra sambil membaca wirid.

Ketika aku kemudian keluar dari kamar, Yu Jum, pembantu yang merawat istriku, berganti masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian ia berteriak-teriak dan meminta agar aku masuk ke kamar. Aku lihat istriku seperti telah tiada. Anakku lelaki yang memeriksanya merasakan bahwa mamaknya tak lagi bernapas. Nadinya pun tak lagi berdenyut. Tangis dua anak pun berderai bersama dengan tangisku dan orang-orang rumah.

Di hari kedua, sesudah kematian itu aku salat subuh di tempat yang sama. Aku pun membaca wirid yang dulu pernah kupelajari di Pabelan. Tangisku meledak. Wiridku tersendat-sendat di sela-sela sedu tangis yang berat. Terkenang olehku ketika aku sedang dibimbing olehnya, membaca wirid di Pondok Pabelan. Mungkinkah rohnya mencari jalan keluar lewat wirid dan elusanku di dengkulnya itu.

Masih segar dalam ingatanku kami berjalan bergandengan, sambil membawa payung dan lampu senter, sarimbit ke masjid, dalam hujan gerimis di waktu malam dan subuh, yang menyebabkan pakaian kami basah. Terkenang olehku kami bercinta dalam salat berjamaah berdua yang sudah menjadi kebiasaan yang indah itu. Sehabis salat dan wirid, ia selalu mengajakku bersalaman dan menciumi tanganku berulang-ulang. Dan aku pun mengecup keningnya.

Aku mengecup kedua mata-istriku yang terakhir kalinya ketika jenazahnya hendak digotong ke masjid sebelah, hendak disalatkan. Bulu matanya terasa dibibirku, seolah ia masih hidup.


***

Ketika ditinggal oleh istri pertamanya, Hawariyah, yang telah menemaninya seperempat abad, Dawam mengaku sangat terpukul dan frustrasi. Hal itu telah mengundang keprihatinan kawan-kawannya. Mereka tidak ingin hal itu mengganggu psikologi dan kesehatan Dawam. Itu sebabnya, cerita Dawam, mereka berlomba-lomba memperkenalkan dan menjodohkannya dengan sejumlah orang. 

Dawam mengaku sangat terhibur oleh perhatian teman-temannya itu. Besarnya perhatian mereka turut mengobati luka hatinya. Atas dorongan teman-temannya, Dawam kemudian membuat resolusi: ia harus menikah lagi. Amien Rais, salah satu karibnya, misalnya, menjodohkan Dawam dengan seorang stafnya di PPSK (Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan). 

“Dia cantik sekali. Menurut saya, PPSK waktu itu ramai dikunjungi orang dan tokoh bukan karena kegiatannya, tapi karena di sana ada perempuan cantik itu,” seloroh Dawam. 

“Termasuk juga saya,” akunya, sambil terbahak. Saya ikut terbahak mendengarnya.

“Saya sempat dipertemukan dengannya secara tidak langsung di Malang oleh Amien Rais. Dia janda, punya anak satu,” imbuhnya. “Saya diberitahu jika suami pertamanya adalah seorang insinyur. Waktu mengetahui itu saya berpikir, kenapa ya dia bisa pisah dengan suaminya, padahal suaminya kan insinyur? Apakah karena ‘demand’-nya terlalu tinggi? Saya tidak berusaha mencari tahu lebih jauh. Yang jelas, akhirnya saya tak berani meneruskan,” ujar Dawam, mengenang.

Sesudah itu, Dawam dijodohkan dengan janda seorang pemimpin Muhammadiyah. Perjodohan itu dicomblangi oleh Munawir Sjadzali. Amien Rais juga merestuinya. Beberapa kali Dawam mengaku “dijebak” untuk ketemu dengan perempuan yang dimaksud. 

“Orangnya sih cantik. Tapi dia bekas isteri tokoh, saya jadi sungkan. Dan kemudian juga tidak muncul perasaan apapun saya terhadapnya,” akunya. Kandidat itupun dicoret dari daftar.

Karena hampir semua kandidat yang disodorkan teman-temannya tak ada yang nyantol, Dawam sempat mutung kepada teman-temannya. “Nggak ada yang beres,” ujarnya. Sampai suatu ketika adik perempuannya menyodorkan sebuah nama: Sumarni.

Dawam sudah lama mengenal Sumarni. Kebetulan, sejak jaman mahasiswa di Yogya, Sumarni juga adalah aktivis HMI. Oleh karenanya, tak ada halangan berarti ketika Dawam dipertemukan kembali dengan tokoh perempuan tersebut. Sebagai seorang romantis, Dawam tentu mudah jatuh cinta. Apalagi, anak-anak Dawam, yang waktu itu masih kuliah, juga merasa cocok dengannya.

Ada cerita unik ketika Dawam mengabari kawan-kawannya bahwa ia akan segera menikah kembali. Karena banyak dari mereka sebelumnya merasa direpoti oleh Dawam untuk mencarikan jodoh, banyak dari mereka yang marah karena Dawam tak memperkenalkan lebih dulu calon istrinya itu ke kawan-kawannya. 

“Mereka terlalu sayang pada saya, sehingga tidak ingin kalau saya bakal kecewa. Jadi, inginnya mereka, siapapun calonnya, mereka harus tahu lebih dulu, agar bisa memberikan pertimbangan. Fuad Bawazier itu marah sekali pada saya,” cerita Dawam.

Sebagai penghormatan kepada teman-temannya, akhirnya Dawam memperkenalkan calon isterinya. Lucunya, ujar Dawam, ternyata semua yang hadir hari itu adalah mantan aktivis HMI, sehingga jadi mirip rapat KAHMI. “Mereka semua kaget, karena yang saya bawa adalah mantan aktivis Kohati,” cerita Dawam.

“Ya, ampun, ternyata Mbak Marni tho!?” ujar Mar’ie Muhammad, ketika itu. 

Ya, sebagai alumni HMI dan tokoh penting di Kementerian Perempuan pada masanya, Sumarni tentu juga dikenal di lingkungan kawan-kawan Dawam. 

Meski berpendidikan tinggi, dan seorang lulusan Amerika, menurut Dawam, di rumah Sumarni tetap menempatkan dirinya sebagai perempuan Jawa yang sangat menghormati suaminya. Berbeda dengan Dawam yang keras, Sumarni memang sosok yang lemah lembut.


***

WIRID DAN HARGA SEBUAH KENANGAN

Cerpen di diatas adalah "Wirid" (1994), yang sesungguhnya sangat kuat, sehingga sanggup menggugurkan air mata siapa saja yang membacanya, tak pernah dimasukkan Dawam dalam buku kumpulan cerpennya, "Anjing yang Masuk Surga" (2007). Tentu saja itu menerbitkan pertanyaan. Kenapa tidak dimasukkan?!

Mengenai hal ini, saya juga pernah membaca tentang percakapan Dawam dengan kerabatnya. Kerabatnya saat itu masih menjadi asistennya. 

Berdasarkan penuturan kerabat Dawam, bahwa alasan tak dimasukkannya Cerpen "Wirid", kedalam kumpulan Cerpennya, bisa membuat kita tersenyum, namun juga memberi banyak pelajaran, setidaknya bagi kerabatnya waktu itu.

Mereka yang telah membaca cerpen itu tentu saja paham, jika cerpen diatas adalah sebuah tanda kasih sekaligus biografi kehilangan dari seorang lelaki yang telah direnggut cintanya. kehilangan itu telah melahirkan duka. Cukup dalam. Namun, sebagaimana lazimnya duka, dan juga luka yang biasa menghinggapi para pujangga atau pemikir, duka itu juga telah menjadi energi yang kemudian melahirkan karya yang kuat. Bagi Dawam, bekas duka itu adalah cerpen diatas.

Ceritanya, pada Tahun 1994, Dawam kehilangan isterinya, perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Perempuan ini, yang pernah disebutnya sebagai bulan itu, kemudian menjadi pendamping hidupnya selama lebih dari dua puluh tahun, sebelum kemudian maut merenggutnya.

Ada satu adegan yang mudah sekali kerabatnya bayangkan saat Dawam menceritakan mendiang isteri pertamanya. 

"Saat Dawam menulis, istrinya kerap menemaninya. Seringkali ia bahkan sampai jatuh tertidur dilantai dibelakang kursi yang Ayahanda Dawam duduki. Meski sering dilarang, ia menganggap itu sebagai tanda cinta dan pengabdian kepada suami," demikian ceritanya, suatu hari.

Jadi, kita bisa paham, kenapa Ayahanda Dawam kemudian bisa menangis hingga berhari-hari sesudah kepergian isterinya. Setidaknya itu cerita yang pernah didengarkan dari beberapa kawannya.

Tapi hidup toh harus dilanjutkan bukan?! Anak-anak Dawam juga perlu diperhatikan. Apalagi, sebagaimana lazimnya anak-anak, meskipun telah beranjak remaja mereka juga tetap membutuhkan sosok ibu di tengah-tengah keluarga, sebagai pengimbang sosok ayahnya. Akhirnya, atas desakan sejumlah keluarga dan kolega, Dawam kembali membuka hatinya.

Kerabatnya mendengar ada drama, roman, dan sejumlah anekdot seputar proses pencarian pendampingnya untuk kali kedua itu. Singkat cerita, ia kemudian bertemu dengan mantan aktivis Kohati Yogya, adik angkatannya, yang saat itu merupakan pejabat tinggi di sebuah kementerian. Perempuan itu, yang juga sama-sama berasal dari daerah Vorstenlanden, seorang lulusan Amerika. namun yang selalu bisa menghadirkan dirinya sebagai perempuan Jawa, kemudian menjadi pendamping baru Dawam. 

Perempuan ini juga seorang isteri yang berdedikasi. Dawam mengaku sangat beruntung memiliki isterinya yang sekarang. Di saat-saat sulit, terutama ketika ia berada di tengah-tengah masa sakitnya, isterinya setia mendampingi, sekaligus bisa menjadi bemper psikologisnya, orang yang menyediakan dirinya menjadi keranjang keluh kesah suaminya.

Ketika Dawam mulai bangkit dari sakitnya dan hendak membukukan cerpen-cerpennya, munculah insiden, yang bisa membuat kita tersenyum. Namun, mengandung pelajaran yang berharga. 

Ceritanya, sesudah divonis gagal ginjal pada tahun 2006, Dawam mulai berdamai dengan penyakitnya dan pelan-pelan mencoba bangkit. Pada saat itu, ia sangat produktif menulis cerpen, hobi yang telah ditekuninya sejak masih SMA di Solo. Karena cerpen yang ditulisnya cukup banyak, Dawam hendak membukukannya. Dan munculah insiden tersebut.

Istrinya, Sumarni, menangis hebat. Pasalnya, Dawam hendak memasukkan cerpen “Wirid”, yang ditulis untuk mengenang istri pertamanya, Hawariyah, ke dalam buku kumpulan cerpennya. Sumarni mengaku tidak rela kalau cerpen yang ditulis pada 10 Oktober 1994 itu ikut dimasukkan

"Ibu" menangis. Dia tidak mau cerpen "Wirid" masuk ke dalam buku saya.” Kalimat itu meluncur dari mulut M. Dawam Rahardjo (1942-2018), pada suatu siang, ketika kerabatnya masih bekerja sebagai asistennya, bertahun-tahun silam. Kerabatnya, tidak ingat persis, bagaimana perbincangan itu bermula, yang jelas hari-hari itu Dawam banyak bercerita mengenai kehidupan pribadinya. Ia, misalnya, bercerita tentang perempuan-perempuan yang pernah ditaksirnya, termasuk kisah cintanya dengan kedua isterinya. Ya, sepanjang hidupnya, Dawam punya dua istri. 

Orang yang dipanggil “ibu” itu tak lain adalah istri keduanya, Sumarni, yang dinikahinya pada 17 Maret 1995. Dawam menikahi Sumarni sesudah istri pertamanya, Zainun Hawariyah, yang dinikahinya sejak tahun 1968, meninggal pada bulan Desember 1994. 

Pada awalnya Dawam menganggap jika itu hanyalah rengekan biasa yang tak perlu panjang diperhatikan. Ia ingin memasukkan cerpen itu semata-mata karena cerpen itu adalah cerpen yang bagus dan pernah mendapatkan penghargaan, jadi bukan dengan maksud hendak mengawetkan kenangan.

Namun ia kemudian melihat jika isterinya benar-benar merasa terluka. Iapun merenung. Sesudah itu, ia kemudian bisa memahami perasaan isterinya, yang telah belasan tahun mendampinginya. Apa yang telah berlalu, memang harus berlalu. Dalam sebuah pernikahan, bahkan bagi pasangan senior seperti dirinya, karat-karat masa lalu bisa menjadi kerikil yang mengganggu. Itu sebabnya Dawam kemudian bukan hanya mengeluarkan cerpen itu dari bukunya, namun juga membakar seluruh arsip yang terkait dengan masa lalunya itu.

Itu tentu bukan hal yang mudah. Bahkan bagi seorang Dawam. Namun ia tak ingin mengawetkan rasa cemburu isterinya, yang bisa menghalangi keikhlasan dan kesepenuh-hatiannya, dengan membiarkan masa lalu menyelinap diam-diam dalam kehidupan mereka. 

Semua hal dalam hidup memang ada harganya. Saat tiba giliran membayar, kita harus rela melepaskannya, agar tak menjadi orang berutang seumur hidup. Bukankah hidup memang persis seperti penggalan puisinya Amir Hamzah, "bertukar tangkap dengan lepas"?!

Begitulah cerita kenapa cerpen "Wirid" tak masuk dalam buku "Anjing yang Masuk Surga". 



*Nalar pinggiran