Dante Alegiere’, salah seorang filosof berkebangsaan prancis, dalam karyanya “ Divina Comedia” menyatakan manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah yang suci (Baca: Hanif). Karena itu, manusia hidup dalam alam paradiso, dan ketika mati ia berpulang masuk surga. Namun seiring berjalannya siklus waktu dengan suguhan beragam kenikmatan dan kesenangan artifisial (baca : Dunia), kebanyakan manusia terjebak dan tergoda sehingga secara evolutif mengantarkannya ke alam inferno. Alam inferno adalah alam kesenangan, kelezatan, dimana kebanyakan manusia senang dan hobi menginvestasi dosa, kejahatan, keburukan, baik secara sadar dan struktural maupun secara tidak sadar karena adanya hukum kausalitas, sehingga dirinya menjadi kotor dan nista.
Keterjebakan manusia pada alam inferno ini simultan dengan igauan ‘Albert Camus’ yang mendasarkan diri pada tindakan yang lebih dasar : “ saya memberontak, karena itu saya ada”. Terma memberontak dalam pandangan ‘Ali Sayri’ati’ memperlihatkan proses “becoming” seacara sangat dramatis. Selama manusia hidup tanpa salah dialam surgawi, ia justru tidak manusiawi. Hanya dengan memberontak, ia menjadi manusia. Ketika mengetahui ia ditakdirkan tanpa salah dan tidak produktif di dalam surga, ia memberontak dengan memakan buah pengetahuan, buahnya pemberontakan dan kesadaran. Demikianlah ia diusir dari surga yang penuh dengan kesenangan, kemudahan, konsumsi dan kepuasan.
Dibumi, sebagai tempat baru ia merasakan tanggung jawab atas dirinya dan kehidupannya. Pandangan ‘Ali Syari’ati’ juga mendapat dukungan ‘Muhammad Iqbal’ yang mengatakan bahwa kejatuhan adam sebagai hukuman dan merupakan langkah kebangkitan manusia, yakni kebangkitan manusia dari keadaan primitif selera naluriah kepemilikan sadar dirinya, yang mampu bersikap ragu dan membangkang. Kejatuhan tersebut bukan merupakan bentuk kemerosotan moral, ia merupakan peralihan dari kesadaran sederhana ke kilasan pertama kesadaran diri, seakan tersentak dari mimpi alami karena deburan sebab individual ke dalam wujud dirinya sendiri.
Mencermati dialektika kehidupan manusia dengan visi kesadaran pada tindakan yang lebih sadar, maka momentum puasa ramadhan dalam pemaknaan ‘ Emha Ainun Nadjib’ adalah merupakan bulan suci, bulan tersediannya ampunan dan barokah sehingga manusia yang menggembaraiannya senantiasa berada dalam bimbingan Allah, yang pada gilirannya akan memperoleh penyucian pada dirinya. Atau memakai jargon lain, puasa merupakan proses peragian spiritual, kristalisasi atau esensialisasi.
Proses laku puasa, memerdekakan jiwa manusia dari beban dan kotoran keduniaan. Dalam hal ini, puasa seakan-akan merupakan ilmu untuk mati. Artinya manusia yang berpuasa, belajar menyortir segala sesuatu yang ada dalam hidupnya, mana yang sejati dan mana yang semu, mana yang abadi dan mana yang temporer, mana yang bisa dibawa ke alam kekekalan dan mana yang hanya dibawa ke alam kubur. Pada posisi ini bulan ramadhan pada sisi esoteris berarti membayi, yakni selalu melalui proses panjang selama satu bulan, manusia selalu suci tanpa noda dan kesalahan. Atau meminjam ungkapan ‘Komarudin Hidayat’ : “selama sebulan kita mengalami transendensi diri”, keluar dari gegap gempitanya lalu lintas politik dan nafsu angkara murka yamg saling mengalahkan satu sama lain.
Bulan ramadhan bagaikan oase yang meberikan kesejukan, ketentraman, kesyukuran dan keteduhan diri dari rasa letih dan pengap oleh proses konsolidasi demokrasi yang semrawut. Oleh karena itu, bulan ramadhan bukanlah bulan pelarian atas dosa-dosa politik, baik yang dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar, entah itu pelakunya adalah penguasa, politisi, maupun para birokrasi. Justru sebaliknya setelah sebulan melakukan pertapaan dan instrospeksi yang intensif akan mengantarkan kita untuk memasuki orbit kesadaran ruhani, diaman suara nurani yang terbebaskan dari dominasi egoisme yang selalu mengejar self glory, agar kedepan kita lebih arif menapaki kehidupan.
Pembelajaran kesadaran dan pengendalian diri selam menjelankan puasa akan menjadi modal utama dan kekuatan agar tidak kembali terjerembab pada kesalahan dan kejahatan yang sama ketika mengarungi sebelas bulan yang akan datang. Pesan normatif ini menurut penulis adalah bentuk esensial dari makna idul fitri.
Menurut ‘ Prof. Dr. M. Quraish Shihab’ bahwa kata idul fitri berarti kembali dan fitrah yang berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Kalau kita memahami sebagai agama yang benar, maka hal itu menuntut “keserasian hubungan”, karena keserasian itu tanda keberagamaan yang benar. Jadi, orang yang beridul fitri berarti mampu mengalahkan dan mengendalikan kecenderungan-kecenderungan personal dan harus secara objektif mengakomodasi kepentingan kolektif deni mencapai sinergitas bersama. Atau dalam ujaran yang lain ‘Jalaluddin Rakhmat’ menjelaskan hakekat fitrah adalah potensi untuk berevolusi menuju ketinggian, keluhuran dan kesempurnaan hidup. Malahan ‘Maslow’ Menyebut fitrah sebagai inner nature.
Berbicara tentang fitrah ‘Abraham Harold Maslow’ mengatakan : alangkah baiknya kita mengeluarkan fitrah dan mengembangkannya, dan bukan menekannya. Jika fitrah membimbing kita, kita akan tumbuh sehat, produktif, bahagia. Bila fitrah ditolak atau ditekan, kita akan sakit, destruktif dan menderita. Fitrah kadang-kadang melemah karena kebiasaan buruk, sikap yang menyimpang, korup dan menyimpang. Denegn demikian, salah satu fitrah manusia adalah kecenderungan untuk mencintai dan dicintai, menyanyangi dan disayangi. Kita adalah mahkluk hidup yang tidak bisa hidup sehat tanpa kecintaan dan kasih sayang. Anak yang kekurangan kasih sayang akan rentan terkena penyakit fisik dan menta, sulit menyesuaikkan diri dan kecerdasannya terlambat. Orang dewasa yang tidak bisa mencintai dan dicintai akan mengalami kesepian, frustasi dan demoralisasi. Orang egois, yang mementingkan dirinya sendiri, ia tak pernah bisa bahagia. Ia mudah kecewa, gampang tersinggung dan sering terobsesi oleh hal-hal yang absurd, semu dan menyakitkan.
Oleh karena itu, sebuah pencapaian kualitas taqwa adalah sebuah kemenangan spiritual vertikal, karena manusia tidak dilahirkan secara horizontal, untuk menang atas orang lain, melainkan menang vertika, yakni menang atas diri sendiri sehingga memperoleh derajat sosial. Didalam konteks idul fitri, dengan keridhoan sosial kita tidak saja tergolong diantara kaum aidun (orang-orang yang kembali halal integritasnya bagaikan bayi), melainkan juga termasuk kumpulan manusia berderajat Faidzin yaitu orang-orang yang menang atas dirinya. Orang-orang yang memperoleh kemenangan dan keuntungan dalam kriteria Allah SWT. Dengan demikian idul fitri menawarkan sebuah dimensi kemanusiaan terbaru yang suci secara jasmaniah dan merdeka, bebas, secara bathin. Inilah hakekat fitrah dalam khasanah sufistik.
Dengan demikian, marilah kita kembali kepada fitrah kita, kita hidupkan kembali kasih sayang yang selama ini terabaikankarena kesibukan dan keserakahan dunia. Kita dekati lagi Allah SWT yang selama ini dilupakan kehadirannya. Meminjam kata-kata ‘ Jalaluddin Rumi’ : “diatas jalan fitrah, kita sudah menanam semak berduri”. Semak itu sudah banyak melukai orang, juga diri kita sendiri. Dalam suasana idul fitri, cabutlah semak-semak berduri itu sekarang juga. Rumi berkata : “ Ambilkan kapak dan hancurkan semak berduri itu dengan jantan, Seperti Ali R.A menghancurkan benteng Khaibar atau gabungkan semak berdurimu dengan rumpun mawar. Gabungka cahaya Allah SWT dengan api Nafsu supaya cahayanya memadamkan apimu, supaya bergabung dengan dia untuk mengubah semak berduri menjadi rumpun mawar yang semerbak.
Akhitnya, selamat berhari raya Idul Fitri 1442 H ; Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Amin Ya Robbal alamin.
#Rst
#NalarPinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar