Mengenai Saya

Rabu, 14 Mei 2025

MANTAN

Apakah seorang yang (tadinya) ber-Tuhan, dan berubah menjadi Atheis, maka otomatis dia akan mengunakan istilah "mantan" Tuhan bagi diri nya?.

Kita, orang-orang Indonesia, umumnya suka sekali mengunakan topeng untuk terlihat "manusiawi". misalnya, mengganti istilah pelacur, menjadi "WTS" atau penjara dengan "Lembaga Pemasyarakatan", juga perebut suami orang dengan "pelakor" dan contoh-contoh lainnya.

Suka atau tidak suka, istilah-istilah "penghalusan" seperti contoh diatas itu hampir tidak memiliki korelasi positif dengan "perubahan" prilaku dari yang bersangkutan maupun dari sisi fungsional lembaga-lembaga termaksud diatas.

Tapi baik lah, kita terima saja istilah-istilah "penghalusan" tersebut diatas. Paling tidak, anggap saja sebagai kosa kata (baru) yang di harapkan akan berdampak positif bagi semua pihak. 

Lantas mengapa harus berbicara tentang "mantan" itu?. 

Jika kita mau mengembalikan substansi dari istilah "mantan" itu sesuai faktanya, maka kita harus rela menerima satu fakta bahwa "mantan" itu adalah "bekas". 

Lebih ekstrem lagi, dan itu bisa juga dipahami sebagai "limbah" yang harus dibuang, sebab tidak berguna lagi bagi kita. Semakin cepat disingkirkan, maka semakin aman kita dari bau busuknya yang menyengat.

Contoh kongkritnya, misalnya WC: keberadaannya kita butuhkan lebih pada fungsinya (fungsional). Mengapa, karena itu kita hanya mengingatnya saat-saat tertentu saja (agar) bekas atau limbah busuk yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh kita punya tempat pembuangan akhirnya. 

So, harusnya kita pun tidak keberatan jika menggunakan istilah "mantan" untuk kotoran busuk yang keluar dari tubuh kita itu. Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan penggambaran saya di atas. Sebab, ini hanya refleksi dari orang yang sedang gundah Gulana saja, hehe...

Maka bagi saya, tidak akan pernah ada istilah "mantan" atau "bekas" atau "limbah" itu, jika hanya karena faktor keterpisahan fisik belaka. Bahkan legalitas formal pun tidak mampu membatasinya. Artinya (sejatinya) interaksi itu tetap terhubung. Tapi, dalam dimensi yang berbeda, bersifat spritual (spritual conection): jiwa dengan jiwa tanpa terhalang hukum-hukum fisik, ruang, waktu dan jarak. 

Salah satu ciri-cirinya adalah kerinduan. Ini tentang rasa yang penuh misteri dan membingungkan. Datang dan pergi begitu saja sesuka-sukanya. Tidak bisa di atur atau dikendalikan. Tidak bisa diajak kompromi, ia keras kepala, seumpama dendam yang harus di bayar tuntas. 

Ada satu ciri lain lagi yang sangat menakjubkan dari sebuah interaksi spritual itu ketika jiwa memunculkan kembali memori-memori khusus terkait seseorang yang dihubungkan dengan perubahan perilaku diri kita: 

Dari prilaku yang tadinya liar dan tidak terkendali menjadi pribadi yang jinak, yang mulai menyadari tentang kehormatan dan kemuliaan, yang sebelumnya tidak pernah kita fokuskan sebelum mengenal dia, dan contoh-contoh terpuji lainnya. 

Semua hal-hal indah itu (sekalipun) kita sudah tidak lagi tersambung secara fisik, tetap saja effek positifnya itu masih meliputi kita. 

Kita pun akhirnya menyadari sepenuhnya apa yang dia suka dan tidak suka kita lakukan (saat bersamanya) ternyata hal itu memang terkait dengan apa yang Tuhan sukai dan murkai. 

Itulah esensi utama dari interaksi spritual itu. 

Jika hal-hal itu tidak ada, maka keterpisahan yang terjadi itu memang tidak lebih dari interaksi transaksional belaka. Artinya disana yang sesungguhnya terjadi tidak lebih dari tukar menukar kepentingan antara satu jenis syahwat (ego) dengan jenis syahwat (ego) lainnya yang ditentukan berdasarkan nilai tukar nominal tertentu.

Untuk jenis seperti itu maka saya sangat setuju jika istilah "mantan" atau "bekas" atau bahkan "limbah busuk" memang pas digunakan.

Jangan pernah menyebutku mantan. Sebab, (whatever you are), kamu tetap sesuatu yang indah untuk ku hormati dan muliakan. 


Makassar, 18 / 05 / 2018


*Pena Koesam

*Rst



HIKAYAT






Saban hari, seorang raja di rundung sedih. hatinya kelu, nafsu makannya menurun, tiap jam makan tiba. Sang Raja memikirkan putera mahkotanya, ternyata seorang pemuda pemalas. Apatis. Talenta raja tidak terlihat dalam pribadinya.

Suatu saat, Sang raja menemukan cara merubah pribadi Puteranya, "Menggunakan kekuatan Cinta". Sang Raja mendatangkan Gadis-Gadis Cantik ke istananya. Istana pun berubah menjadi Taman, semua bunga pun mekar di sana Dan terjadilah sesuatu yang memang di harapkan sang Raja.

Puteranya, Jatuh cinta pada salah seorang gadis diantara mereka. Tetapi, pada gadis itu, Raja berpesan : " Kalau puteranya menyatakan cinta Padanya bilang saja, aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk raja atau seseorang yang berbakat menjadi raja".

Benar saja. Seketika Putera raja itu tertantang. Maka, ia pun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang Raja. Ia melatih dirinya menjadi raja Dan terbukti talenta raja-raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata. Semuanya terjadi akibat cinta.

Setali tiga uang dengan hikayat diatas. Dari usianya, kelihatan bahwa perempuan tersebut sudah senja, kulitnya Hitam, wajahnya tidak banyak yang suka memandang. Waktu pertama kali seorang lelaki masuk ke rumahnya, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu.

Lelaki kaya itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya menikahi perempuan itu?. Tetapi, ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu seutuhnya. Apapun resikonya. Akad nikah di lansungkan, semua hadirin berdoa agar keluarganya menjadi mawahdah dan warohmah dalam mencapai Sakinah.

Di suatu saat perempuan itu berkata, " ini emas-emasku yang sudah lama ku tabung, pakailah untuk mencari wanita idamanMu, aku hanya membutuhkan status, bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri". Tetapi, lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu Dan takkan menikah lagi".

Semua orang heran, keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka di karunia anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun orang-orang menanyakan rahasia itu padannya. Lelaki itu menjawab biasa, " aku memutuskan untuk mencintainya, aku berusaha melakukan yang terbaik. 

Tapi, perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Justru, Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang membuat aku melupakan pada fisik". Begitulah cinta yang sudah terurai dalam laku. Melebur bersama waktu.


***


Alkisah, seorang pedagang keliling di suatu daerah di Mesir. Dia biasa menghabiskan waktu rata-rata seminggu berada diluar rumah, membawa barang-barang dagangan yang di butuhkan oleh banyak orang di masa itu. Suatu saat, sang pedagang keliling itu, mengalami satu hal yang akibat Dari Perbuatan itu, sangat melelahkan jiwa dan pikirannya. Sekalipun dia sadar (perbuatan) itu terjadi tanpa di sengaja.

Saat itu, Dia mangkal disuatu kampung dan seperti biasanya, banyak ibu-ibu dan gadis yang mengerumuni dagangannya untuk membeli kebutuhan yang mereka butuhkan. Di antara para perempuan itu, ada yang paling cantik (Sebagai laki-laki normal), secara naluriah mengeringi perempuan itu. Ada pikiran terlintas di hatinya, andai dia dapat sekedar "menyentuh" tubuh perempuan itu sekalipun hanya sekian detik saja. Itu sudah lebih dari cukup.

Tapi, dia segera sadar bahwa dirumahnya sedang menunggu isteri tercintanya. Toh, tidak kurang cantiknya dari perempuan itu. Pikiran normalnya kembali pulih dan dia kembali fokus pada dagangannya, serta para pembelinya. Tetapi, hal aneh terjadi, di luar kesengajaan, dimana entah mengapa tetiba perempuan cantik itu jatuh kepleset dan menimpa si pedagang itu, yang secara refleks tangan pedagang menahan tubuh perempuan itu agar tidak terjatuh ke tanah.

Dia terengah-engah bukan karena beban berat badan perempuan itu, tapi karena Syahwatnya bergejolak. Sebab, posisi perempuan itu telengkup dan buah dadanya persis dilengan atau tangannya. Peristiwa itu berlansung cepat, secepat perempuan itu bangkit dan menjauh sambil terisak malu serta menyebut nama Tuhan. Orang-orang yang ada disekitarnya menenangkannya dan beberapa saat peristiwa itu terlupakan begitu saja, hingga sang pedagang pergi. Itu memang hari terakhir dia diluar dan hari itu pula dia akan pulang ke daerahnya.

Jika bagi mereka yang hadir saat peristiwa itu terjadi, telah lupa dengan hal itu. Tapi tidak dengan pedagang itu, sepertinya kekenyalan tubuh perempuan itu masih melekat ditangannya Dan ingin segera pulang untuk bertemu isteri tercintanya. Tapi, sungguh perasaannya tidak enak. Dia merasa kotor dan berdosa. Dia menganggap telah menghianati istrinya. Walau ia sadar bahwa peristiwa itu terjadi, tanpa kesengajaan.

Tapi, Begitulah. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya Kacau. Pikirannya lansung tertuju pada Guru (Mursyid) spiritualnya. Dia akan menangis di kaki sang Guru nanti.

Sampailah dia dirumah, dia memaksakan diri bersikap biasa saja pada Istrinya. tetapi, ada yang aneh. Dia melihat mata isterinya sembab dan bengkak, itu pasti karena tangisan. Dia semakin panik, saat dia tanyakan ada masalah apa sehingga mata Istrinya sembab dan bengkak seperti itu, justru istrinya lansung menangis. Tanpa pikir panjang, dia lansung menghadap Guru Spiritualnya dan sambil menangis, ia menceritakan semua yang terjadi, juga tentu tentang sikap istrinya yang tidak wajar.

" anakku, Hatimu sungguh bersih. kamu laki-laki setia yang senantiasa berkomitmen pada Allah. Kamu benar-benar berusaha menjaga amanah terkait Istrimu". Dia terdiam sejenak dan menlanjutkan : Peristiwamu dengan perempuan yang terjatuh di pangkuanmu itu adalah peristiwa yang tidak di sengaja. Tali Tuhan ingin memberikanMu hikmah dengan peristiwa itu. Jangan pernah ada syahwat lain kepada perempuan lain, kecuali dengan cara yang halal. Bahwa cinta yang agung itu adalah hadiah Tuhan buat kita. Maka hargailah hal itu dengan kesetian, dimanapun kau berada dan seindah apapun godaan (Syahwat) di depan matamu", Sang Guru itu Melanjutkan.

" perihal sikap Istrimu, Sungguh dia adalah perempuan yang setia. Jika saja Allah tidak menguatkannya dengan Iman, dia bisa Gila. Dia sungguh sangat takut pada Allah dengan kesetiannya padamu. Pulanglah, peluk dia. Hibur dan tenangkan dia dengan penuh cintamu. Nanti kamu akan tahu, apa yang terjadi, lansung dari Mulutnya", kata Sang Guru.

Jadi, rupanya Persis saat peristiwa pedagang itu tertimpa Tujuh sintal perempuan itu, maka pada saat yang sama dirumahnya ada perampok yang masuk dan karena ketakutan si Istri tak sadar, jika tubuhnya sempat di geranyangi oleh tangan si Perampok sebelum melarikan diri plus dengan sedikit hasil rampokannya. Setelah tersadar sang Istri menangis sejadi-jadinya karena merasa kotor dan ternodai.!

Mendengar cerita istrinya itu, sang pedagang justru menangis dan memeluk istrinya dengan penuh cinta. Dia ingat kata Gurunya bahwa Tuhan hendak memberikanMu Hikmah atas semua peristiwa yang terjadi.

Jika benar-benar dua hati (Dan jiwa), saling mencintai (dengan Nama Tuhan), maka antara keduannya ada ikatan Tali (Rohani) yang sangat kuat. Virbrasinya melampaui ruang dan waktu, serta jarak. Jika salah satunya "menyeleweng", maka salah satunya akan merasakan perasaan yang tidak enak di jiwannya. Walau dia tidak persis sebenarnya apa yang terjadi.

Demikian pula dengan yang terlanjur " menyeleweng" atau Khianat itu, akan terus di hantui perasaan bersalah yang menyesakkan dada, plus rasa khawatir di hatinya. Vibrasi dari dua jiwa yang sangat kuat dalam cinta ini sering disebut dengan " Twinflame atau Soulmate (kembaran atau Belahan jiwa)". Pada kasus-kasus yang lain, itu juga bisa terjadi antara orang tua dan anak-anak yang jauh.

Pada kasus lain yang lebih khusus lagi, acap kali peristiwanya saling tarik menarik. Jika yang satu selingkuh, maka yang satunya lagi akan di tarik untuk melakukan hal sama, entah disengaja atau tidak, disadari atau tidak. Dalam Terma yang lain, semua rangkaian proses diatas itu juga kerap disebut orang-orang dengan " Hukum daya tarik menarik (low of attractions)" yang terjadi pada level energi. Juga sebahagian yang lain menyebutnya sebagai " Karma".

Entahlah, diera medsos ini, apakah masih ada yang terjadi seperti yang diatas.


***

Saya ingat dengan sebuah kisah ; Suatu ketika, Seorang bertanya Pada Mulla Nasruddin, Yaa, syaikh; apakah engkau tidak pernah berpikir untuk menikah?.

" Syaikh : dulu, aku ingin menikahi seorang wanita sempurna, untuk itu aku melewati lembah dan gurun, hingga aku tiba di Damaskus. Disana aku menemukan wanita cantik dan mempesona. tapi, sayang wanita itu tiada kabar akan dunia. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Lebanon, disana saya menemukan seorang wanita, memiliki pengetahuan tentang langit yang luar biasa. namun, sayang ia tidaklah cantik. Dan saya pun melanjutkan perjalanan ke mesir, disana saya menemukan wanita cantik, berpendidikan, kaya raya dan hampir saja saya menaikahinya".

Kata kawannya ; lantas, mengapa engakau tidak menaikahinya, syaikh?.

" Syaikh ; wahai kawan, sayang wanita itu pun mencari pria yang sempurna dan itu bukan aku".

Meniti detik, menit, jam dalam proses perjalanan kehidupan, dalam mengarungi samudera waktu. kecenderungan temporal kebanyakan kita, sangat bergantung pada orientasi mencari pasangan yang sempurnaa. namun, acap kali abai memantaskan dan memperbaiki diri.

Kita pun tersadar bahwa hanya Dialah (Tuhan) yang mutlak dan wajib sempurna. sementara kesempurnaan yang kita cari, tidak lain, merupakan kesempurnaan nisbi, semu (sementara). Kata “Jalaluddin Rumi” dalam singasana cinta, datangalah padaku dan engkau akan menyempurna.


***

CINTANYA QOIS YANG MAJNUN

Rumi mendaku, "Cinta selalu menjadikan sesuatu jadi tampak menawan namun yang tampak dan menawan belum tentu menyebabkan jatuh cinta".

Suatu ketika Qois (Majnun) ini tetiba kaget, ada anjing dari kampung laila. Sekonyong-koyong berjalan lewat didepannya Qois. Qois mengikutinya karena dia ingin segera bersua dengan Laila: jangan-jangan ini bisa mempertemukanku dengan laila.

Ditengah perjalanan, Qois melewati sekelompok orang yang sedang Sholat berjama'ah. Mungkin anjingnya lewat Masjid, tetapi Qois tidak melihat mereka sebab Qois Konsentrasi melihat anjing.

Setelah Qois pulang, sekelompok orang yang sholat tadi itu marah-marah pada Qois : Wahai Qois, tadi saat engkau lewat, kami sedang Sholat, mengapa engkau tidak ikut sholat bersama kami. Kamu tau kami sedang sholat, kamu lewat saja, dasar kurang ajar kamu Qois.

Kata Qois : Demi Allah, saat kalian sedang sholat berjama'ah, aku sama sekali tidak melihat kalian.

Kenapa?. Karena hatinya hanya fokus pada anjing dan yang Ia cintai (laila).

Hikmahnya : Bila kalian benar-benar cinta pada Allah, sebagaimana Aku cinta pada Laila. Pasti kalian tidak melihat diriku. Padahal kalian sedang berbicara dengan Allah tetapi kenapa kalian justru masih memperhatikan diriku. Aku saja yang mengejar anjing kepunyaan laila, si pujaan hatiku. Sama sekali tidak melihat kalian, lupa pada kalian. Sedang kalian, sedang beribadah pada Allah tetapi sibuk dengan diriku.

Suatu ketika dirumah Laila, diadakan pesta. Semua warga desa diundang. Qois (Majnun) tidak diundang, Ia menyusup masuk sampai didalam rumah. Dia melihat orang-orang antri, untuk mendapatkan makanan. akhirnya Dia juga ikut antri. Sewaktu Qois mengantri, yang membagikan makanan antrian adalah laila. Sehingga dia bisa memandang wajahnya laila.

Saat Qois dapat giliran antrian, laila tidak membagikan makanan ke Qois. Tapi malah piring untuk Qois di banting hingga pecah.

Keluarganya laila senang: Alhamdulillah, laila sudah sadar sekarang. Orang-Orang yang melihat hal itu, merasa senang semua. Tetapi ada satu orang yang melihat dan memperhatikan Qois : kenapa Qois justru ikut senang. Lalu ditanyalah Qois sama Orang yang memperhatikannya itu : Qois kenapa Mukamu tersenyum. Bukankah Kamu telah dipermalukan didepan semua warga desa?. "Qois menjawab" : kapan saya dipermalukan?. Tadi waktu Laila memecahkan piring?. Qois menjawab ; oh tidak begitu, kamu salah paham. Laila itu memecahkan piringku, Tujuannya hanya satu, agar aku ikut mengantri lagi. Jika saya mengantri lagi, maka saya akan bertemu lagi dan kita bisa berlama-lama saling memndang sehingga rindunya bisa terobati.

Itu sindirian Qois : Jika Kamu diuji, dicoba, barangkali Tuhan ingin dekatnya lama sama dirimu. Jika doamu belum juga terkabulkan, mungkin Allah Rindu mendengar rintihan suaramu terus menerus. Jangan berprasangka buruk, makanya Cintailah Allah, dekati Allah dengan Rasa Cinta. Maka kecil kemungkinan kita akan kecewa dan putus asa.

**

Suatu ketika Majnun ingin bersua dengan Laila, lalu ia menaiki Onta. Tapi sayangnya, ontanya baru melahirkan. Onta yang baru melahirkan ini, masih sayang-sayangnya sama anaknya. Jadi saat ditunggangi sama Majnun, onta ini bolak balik, maju-mundur, istilahnya. Akhirnya Majnun memilih turun, sudahlah. Cintamu dan cintaku tidak sejalan.

Menunggangi kamu, aku berjalan ditempat, kadang maju, kadang mundur. Perjalanan sehari, membutuhkan waktu lama. Tidak, aku tak akan menunggangi kamu lagi.

Majnun turun, berlari dan terjatuh. Akhirnya kakinya patah. Tapi dia tak putus asa, dia ikat sendiri kakinya yang patah dan menggelindingkan badannya.

Hikmahnya adalah jika kita masih terikat dengan dunia, dengan banyak hal diluar diri kita (seperti onta tadi yang ditunggangi) maka kita tidak akan sampai-sampai pada yang dicintai.

Tinggalkan semua bebanmu, berjalanlah, berlarilah, menggelingdinglah menuju yang kamu cintai.

**

Suatu ketika Qois (Majnu) ini sakit, dibawalah sama teman-temanya ke tabib. Kata Tabib : ini sakitnya parah, harus dibedah. Ada yang infeksi, ada darah yang harus dikeluarkan. Tapi Majnun menolak, saya tidak mau dibedah.

Tabib heran : kenapa kamu takut, bukankah selama ini kamu keluar masuk hutan sendirian?. Harimau kamu tidak takut, Macan kamu tidak takut?. Ini mau dibedah saja kamu takut?.

Kata Majnun: bukan dibedahnya yang saya takut. Tabib : terus kamu takutnya apa?.

Kata majnun: aku takut, pisaunnya menyakiti Laila. Tabib : sambil keheranan, ia berguman menyakiti dari jalur mana. Yang dibedah ini kamu Qois bukan laila?.

Kata Majnun : justru itu. Laila ada disetiap bagian Tubuhku, Dia ada di aliran darahku. Jadi aku takut menyakitiNya.

Hikmahnya adalah : ketika orang sudah sangat mencintai, antara yang mencintai dan yang dicintai sudah tidak memiliki sekat, hijab lagi. Ketika Laila disakiti maka Majnun yang sakit. Majnun yang dibedah, laila yang sakit. Itu yang dikhawatirkan Majnun.

Masih ada yang seperti itu, saya Yakin Dikolong langit ini Hanya Rais, Ehh salah Qois yang bisa melakukannya.

***

PENGEMIS YANG DULU ITU AKU

Alkisah, ada seoasang suami dan Istri yang hidup berkecukupan. Suatu ketika, saat pasangan suami istri tersebut sedang duduk dimeja makan dan bersiap-siap untuk makan siang, tetiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang pengemis. Sang Istri hendak memberinya makan, tetapi suaminya kemudian menghardik dan mengusir pengemis tersebut. Beberapa tahun setelah kejadian itu, usaha sang suami mengalami kebangkrutan. Kekayaannya Sirna. Selain itu, karena perangai yang buruk sehingga ia juga bercerai denga istrinya. 

Sang perempuan menikah lagi dengan Lelaki yang perangainya baik dan hidup berkecukupan. Suatu ketika, perempuan itu tengah bersiap menikmati ayam panggang dimeja makan bersama suami barunya. Tetiba pintuk rumahnya diketuk oleh seorang pengemis. Berbeda dengan sikap suami pertamannya, suami kedua berkata kepada sang Istri : " Tolong berikan makanan kita kepadannya". 

Perempuam itu mematuhi perintah suaminya. Setelah memberikan makanan kepada Pengemis, perempuan itu pun duduk dimeja makan sambil menangis tersedu sedan. 

"Apa yang membuatmu menangis?, tanya Sang Suami". Jawab sang Isteri : pengemisi barusan itu ternyata, mantan suamiku. Dahulu, kami juga pernah didatangi pengemis ketika sedang menikmati hidangan, lalu Ia menghardik pengemis. Sekarang, justru ia menjadi pengemis. 

"Suaminya tersenyum dan berkata dengan lembut : tahukan engkau, pengemis yang dahulu diusir Mantan Suamimu itu adalah Aku".


***

JANGAN BERLEBIHAN

Al Kisah seorang pria yang baru pulang ke rumahnya di kejutkan oleh suara tangisan istrinya. Ditanyakan sebabnya, istrinya menjawab, “ burung-burung diatas pohon itu sering melihatku tanpa hijab dari jendela. Aku takut ini dihitung sebagai maksiat”.

Mendengar jawaban itu, sang suami terenyuh dengan ketaatan istrinya. Dicium kening sang istri setelah itu ia keluar kamar. Dengan sigap dia mengambi kapak lalu menebang pohon besar dipekarangannya.

Seminggu setelah itu dia pulang lebih awal. Betapa kagetnya dia mendapati istrinya tidur dengan laki-laki lain. Hancur hati sang suami. Dia mengambil barang-barang seperlunya, lalu pergi sejauh mungkin dari kotannya.

Sampailah disuatu kota. Terlihat khalayak ramai berkumpul didepan istana kerajaan. Dia bertanya kepada salah satu orang distu. Jawabannya, “ harta kerajaan kemalinagn”. 

Tidak jauh dari keramaian itu ada seorang kakek bersurban dan berjubah, jalan berjinjit. Hal itu menarik perhatiannya. Dia bertanya lagi kepada orang distu ; “ mengapa kakek itu berjalan seperti itu?”. Orang-orang disitu menjawab : “ beliau itu Syaikh dikota ini. Beliau selalu berjalan seperti itu, agar jangan sampai menginjak semut atau satwa apapun dibawah kakinya” . mendengar jawaban itu, sang pria meminta agar segera dihadapkan kepada Raja : “ Aku sudah menemukan pencurinya”, kata Sang pria.

Dihadapan raja pria itu bilang ; “syeikh itu pencuri harta kerajaanmu”. Syeikh pun dipanggil. Setelah terjadi penyelidikan dan persidangan, akhirnya Syaikh itu mengakui perbuatannya. Syeikh pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara. 

Raja berterima kasih kepada pria. kemudian raja bertanya ; “bagaimana kau bisa tau bahwa syeikh itu adalah pencurinya?”. Sang pria berkata ; “pengalaman hidup telah mengajariku, bahwa orang yang berlebih-lebihan dalam menampakkan kesholehan, pasti dia sedang menutupi keburukannya.

***

-KISAH SUFI MULLAH NASHIRUDDIN HODJA-

Mulla Nashiruddin diundang untuk berceramah disuatu desa. Mulla bersedia, tapi dengan satu syarat. sebelum ceramah setiap orang harus memberinya uang 5 keping. Mereka pun menerima syarat itu. 

Di hari yang ditentukan, Mulla mengembalikan uang yang dikantonginya. Orang-orang heran dengan apa yang dilakukan Mulla. Mereka menanyakan alasannya. 

Mulla Nashiruddin menjawab ; “ karena untuk ceramah ini kalian membayar, maka kalian mendegarkan ceramah dengan baik. Dan juga, karena akan mengantongi uang banyak, aku jadi lebih percaya diri dalam”. 


**

Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang ku kenal dan akrab di pesbuk (Insya Allah suatu Waktu bersua Lansung), berkabar berita : "Ibu saya Sudah berpulang, berangkat menuju sang Maha Pemilik setiap insan".

Setiap bicara tentang perginya seorang, Luruh dan runtuh seluruh persendian. Mungkin tak ada perempuan diseluruh dunia yang kasih sayangnya seorang Ibu, bila di ibaratkan air yang diletakkan dalam sebuah cawan, "tak permah kurang", tetapi berlimpah. Selain IBU. Olehnya itu saya Pinjam saja syair Soetardji Calzoem Bahri untukmu : "Tertusuk Padamu, Berdarah Padaku".

Bak Kata seorang kawan kita, bagi seorang anak, Bukan kepergian Ibu yang membuat mata kita sabak memerah. Bukan kepergian itu yang memilukan, tetapi Hilangnya "azimat" dan "semangat Hidup", karena tak ada lagi lantunan doa yang terjamin keihklasannya serta berkualitas tinggi dari hati seorang perempuan buat belahan hidupnya.

Doa yang bermula ketika sang anak bersemayam dalam rahim hingga nafas terakhirnya berhembus dari tubuh ragawainnya.

Sepahit apapun hidupnya, doa itu selalu tumbuh dari hati yang bening, bukan lantunan dari pahitnya empedu.

"Setiap Ibu selalu mempunyai tempat untuk menampung duka, lalu mengecupnya dan bangkit", demikian Tutur Helvy tiana Rose, dalam Novel-Tanah Perempuan.

**

Ada Muallaf baru masuk Islam datang ke masjid untuk melaksakan sholat Magrib, kebetulan yang menjadi Imam Masjid adalah Ustad chalid.

Ustad Chalid ini terkenal sebagai seorang Hafizh (penghafal Al-Qur'an), Si Fulan Nama Muallaf itu memberanikan diri mendekati Ustad Chalid.

Muallaf : "Maaf pak Ustad, nanti shalat Magribnya baca surat apa?.

Ustad Chalid : Insya Allah saya akan baca Q.S.Al-Baqorah.

Muallaf : kalau boleh tau arti Al-Baqaroh apa?.

Ustad chalid : sapi betina, sambil melangkah ke dalam Masjid.

Hal itu terbukti, pada rakaat pertama Ustad Chalid membaca 30 ayat pertama Q.S. Al-Baqarah. Si Fulan (Muallaf) capek berdiri lama. Pada rakaat kedua Si Fulan (Muallaf) lebih lama lagi berdiri karena Ustad Chalid membaca 50 ayat berikutnya.

Si Fulan (Muallaf) pulang dengan kaki pegal, istrinya mengurut kakinya sambil berusaha menyabarkannya. Keesokan harinya Si Fulan (Muallaf) memberinakan diri untuk sholat lagi di masjid, di pintu Masjid dia berpapasan dengan Ustad Chalid. Si Fulan lansung bertanya.

Si Fulan : Maaf pak Ustad, Nanti baca Al-baqarah lagi?.

Ustad Chalid : ohh, tidak. Sebentar saya baca surat Al-Fiil saja. Sambil senyum.

Rupanya sudah sampai kabar ke telinganya kalau Si Fulan kemarin komplen.

Si Fulan : maaf ustad, arti Al-fiil itu apa?.

Ustad Chalid : Gajah. Singkat dan beliau segera pergi ke tempat wudhu.

Si Fulan (Muallaf) langsung pulang, tidak jadi sholat berjama'ah di masjid. dalam hatinya dia berkata : kemarin baca Q.S. Al-baqrah yang artinya sapi betina saja lama sekali apalagi sekarang mau baca surat Al-Fiil yang artinya Gajah. Gajah lebih besar daripada sapi betina, bakal bengkak kakiku. Saya sholat dirumah saja lah...hehehehe

Begitulah, Anekdot diatas menjelaskan. bagaimana seorang Imam betapa alimnya dia dan tidak memperhatikan kondisi jama'ahnya.

"Muadz Bin Jabal" juga pernah di tegur oleh Nabi Muhammad ketika memimpin jama'ah dengan bacaan surat yang panjang sekali.


Makassar, 04 / 10 / 2016

*Pena Koesam
*Rst

Selasa, 13 Mei 2025

CINTA ITU SENI, BUKAN JATUH

"Disana ada hati yang tak mengenal benci sekalipun telah kau lukai, namun disana juga ada hati yang tak mengenal cinta walaupun engkau telah melakukan apapun deminya" - (Shakespeare).

Entah, saya tidak mengerti bagaimana orang sebesar Shakespeare harus menulis pernyataan seperti itu. Jika maksudnya bahwa memahami manusia sangat tidak mudah, dan tentu saja (apalagi) memahami hakekat cinta, maka pernyataan dia diatas bisa di mengerti. Sebab, pada diri manusia hanya ada dua sisi terbesar yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia: (1) Cinta. (2) benci. Maka, hati dan Jiwa memiliki dua ruang utama yang masing masingnya di isi oleh benci dan cinta. Ruang dimana "benci" bertahta di kenal dengan nama "syahwat atau Ego". Ruang dimana "cinta" bertahta di kenal dengan nama "nurani" tempat dimana rasa empati dan kasih sayang meliputi.

Bagi mereka yang manjadikan "kebencian" dan "syahwat atau Ego" sebagai motor penggerak hidupnya. dia akan menjadi "wali Iblis" (angkara murka) dan sulit menemukan bekas-bekas penuh Rahmat pada hampir seluruh perbuatan manusia ini, kecuali kerusakan, kebusukan dan kesengsaraan. baik bagi dirinya sendiri dan (terutama) pada orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang menjadikan "nuraninya" sebagai motor penggerak kehidupannya. maka, seluruh bekas-bekas perbuatannya di liputi Rahmat, kasih sayang, manfaat, perbaikan, kesehatan jiwa dan akhlak, ketulusan serta kebahagiaan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Kelompok kedua diatas umumnya di panggil sebagai "kekasih Allah" (wali Allah). Manusia, apapun dan siapapun dia, akan selalu berada di antara dua pertarungan abadi diatas : menjadi Wali Iblis atau Wali Allah, sesederhana apapun bentuknya. Maka, (menurut saya) pernyataan Shakespeare di atas yang dikutip seseorang, telah membawa saya pada satu kesimpulan sederhana bawah manusia seperti itu ; "Yang tidak memiliki benci dan cinta" di hatinya (adalah) manusia yang hakekatnya sudah "mati" sebelum "kematiannya".

Sebab, bagaimana mungkin dia akan mampu memiliki rasa Empati dan sense of sensitivity (merasakan derita orang lain) sepenuh hatinya. (entah), akibat perbuatan dia sendiri atau perbuatan orang lain. (jika), dirinya sendiri tak miliki "benci" dan "cinta" dalam kehidupannya?. Bagaimana mungkin dia akan mampu memiliki rasa keadilan, penghargaan dan penghormatan pada orang lain?. Pada janji-janji dan komitmen yang di buatnya, Juga keberpihakan pada kebenaran dan menolak kedzaliman?.

Bagi saya (pribadi) penggambaran William Shakespeare tentang manusia seperti isi pernyataan dia, diatas itu tidak lebih hanyalah seonggok "mayat hidup" belaka. Mayat hidup belaka.


**


Cinta sebagai sebuah energi yang menggerakkan. Lantas, Cinta itu apa ?. Apakah Cinta itu bersifat pasif atau Aktif?. Manakah yang lebih didahulukan, mencintai atau dicintai?.

Kebanyakan kita belakangan ini dan mungkin saja yang lalu-lalu pun sama, bahwa mendefenisikan Cinta itu adalah ekspresi dari Rasa suka pada sesuatu, seperti rasa yang tetiba datang, sebagaimana banyak diksi-diksi yang berseliweran. Maka, yang acap kali kita gunakan untuk mendeskripsikan hal itu adalah "Jatuh cinta". Apakah cinta seperti itu?.

Kata Eric From, "Cinta itu seni". maka, ia mesti dipelajari. konsekuensinya harus di aplikasikan. Sehingga urusannya bukan kamu mencintai siapa. tetapi, bagaimana caramu mencintai.

Suatu ketika, kita terfokus pada apa yang kita sukai, pada apa yang kita cintai. kata Eric From, itu salah. Sebab, Untuk menjadi seorang pecinta, Fokuslah pada Cara mencintai yang baik. Berhentilah menguras energi mencari cinta. Mulailah Berperilaku sebagai pecinta, agar segala sesuatu layak dan tanpak untuk dicintai.

Jika kita terfokus pada Apa yang harus kita cintai. maka, tak ayal jika kita kerap memilah-milih. (Suka yang ini, tidak suka yang itu. Seleraku yang ini, yang itu bukan seleraku). Itu kan egois namanya.

Problem cinta kita, selama ini adalah, kita salah mengidentifikasinya, menganggap bahwa mencintai itu harus ada yang di cintai. Padahal, yang harus kita dahulukan adalah bagaimana cara mencintai yang baik dan benar. Misalnya, kita mau menulis; pertama-tama, yang kita harus tahu bagaimana cara menulis. Sebab, sebagus apapun objek dari sesuatu yang kita mau tulis, jika kita tidak tahu menulis, hasilnya pasti tidak jelas. Begitulah kebanyakan kita yang mencintai. tetapi, tidak sadar bahwa kita telah merusak yang dicintai atau merusak dirinya sendiri yang mencintai.

Ada Idiom dalam Terma pejalan sunyi, yang bertutur : "belajarlah cara mencintai". Mengapa?. sebab, Hampir semua ilmuan dan Filsuf berkata, bahwa relasi paling agung antar manusia ialah relasi Cinta Dan hal itu yang di identifikasi saat Filsafat itu lahir.

Di titik itulah, cinta itu aktif. tidak pasif. Karena, cinta itu seni bukan Jatuh. Olehnya, ia Niscaya dipelajari dan dipraktekkan.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan Cinta Platonic. Di level tersebut, Kita tidak perlu khawatir, kita bisa jatuh cinta kepada siapapun. Kalau mencintai, yah cintai saja. Tidak ada urusan dengan fisik. Tidak ada urusan dengan apakah Di terima atau di tolak Atau saya menyebutnya, mencintai tanpa diketahui bahwa kita mencintainya. 

Cinta yang di maksudkan adalah Cinta tanpa keterikatan emosional. Sebab, Sumber keterikatan emosional adalah keterasingan pada Diri. Sementara kondisi Keterikatan, sependek pengetahuanku, dalam Kaca mata Teologis, hanya berpangkal pada Allah. Sedangkan, keterikatan emosional selain kepada Tuhan, hanya akan melahirkan harapan dan keinginan. harapan dan keinginan ini, jika tidak di penuhi. maka, akan melahirkan kekecewaan. Sehingga pola yang kita petakan adalah yang tidak berharaplah yang tidak akan pernah kecewa. Sebab, yang banyak harapan dan keinginanlah yang akan merasakan kekecewaan. Pinjam istilah sayidina Ali, "Aku sudah merasakan seluruh kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia". 

Cinta yang emosional, menurut plato, ibarat cinta serigala kepada domba. Cintanya Membelenggu, memasung. Sebab, tidak akan mungkin serigala jatuh cinta pada domba. Sedalam apapun cintanya, jika sudah lapar, pasti di mangsa juga.

Implikasi Keterikatan Emosional adalah ketakutan pada rasa kehilangan. Akhirnya, kita bergantung. Sebab, tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terikat, yang tidak akan terpisah. Pasti terpisah. Olehnya, Janganlah mengikutkan Emosi dan Ketergantungan dalam sebuah hubungan, agar Cinta tidak menjadi sumber kesedihan. Setiap hubungan yang tidak melibatkan EGO (beban psikologis dan emosional) umumnya, lepas apa adanya dan mengalir begitu saja. Entah, itu sifatnya negatif atau positif, (terutama) di awal-awal interaksi.

Berkenaan dengan itu, saya juga kembali teringat dengan pemikir bermazhab Frankfrut "Eric From" dalam buku yang berjudul The Art Loving, Yang menegaskan bahwa pentingnya relevansi cinta dalam masyarakat kapitalis, yang terdisentegrasi dengan ketimpangan sosial. bagi From, disentegrasi itu adalah cerminan dari eksistensi manusia yang tidak dapat mengatasi keterpisahan. Cinta itu tidak akan mungkin di bahas tanpa menganalisis eksistensi manusia. menurut From, teori apapun tentang cinta harus di mulai dengan teori tentang manusia (eksistensi).

Cinta adalah jawaban dari problem eksistensi manusia yang berhasil secara alamiah dari kebutuhan manusia untuk mengatasi keterpisahan dan penjara kesepian. tetapi, penyatuan di dalam cinta melebihi suatu simbiosis. karena, cinta yang dewasa ialah penyatuan di dalam kondisi dengan tetap terpelihara integritas seseorang. Cinta adalah kekuatan yang aktif di dalam diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dengan sesama.

Sayang dan cinta kasih di era kapitalisme hanya menjadi komoditas (dagangan). begitu banyak kisah cinta, yang murah yang umbar dalam lagu-lagu, sinetron, hikayat, puisi, dsb. Sebab, komersialisasi cinta yang demikian, akan menunjukkan kata cinta dan prakteknya mengalami degradasi.

Hal inilah yang di sampaikkan oleh "Nuraini Soyumukti" dalam filsafat cintanya. beliau yang konsen dalam menggugat budaya kapitalis, sekalipun seorang psikoanalisis. Ia menyuguhkan bagaimana "Karl Marx" adalah seorang yang sangat Romantis dan Humanis. sebagaimana yang kita ketahui bahwa Marx banyak bicara soal cinta dan kepercayaan yang dibangun manusia dalam filsafatnya. Bahkan Marx mencita-citakan bahwa cinta hanya bisa di tukar dengan cinta dan kepercayaan hanya bisa di tukar dengan kepercayaan.

Urusan mencintai itu sebenarnya bukanlah urusan Falling In Love. Tetapi, lebih kepada urusan Stunding For Love. Sebab, Kalau Falling In Love itu Intuitif - punya dorongan jiwa Untuk mencintai, sebagaimana Fitrah kita sebagaimana manusia. 

Maka, semua orang Bisa. Tetapi, kalau Cinta adalah Urusan Stunding For Love - ketika rasa itu muncul dan kita sudah mengalami jatuh cinga, maka apa yang harus kita lakukan, agar cinta dapat menegakkan cinta.


**

Ada banyak persepsi soal cinta. Banyak sekali Dan kerap kali yang kita maksudkan tentang cinta, kadang kala, cuman urusan lawan jenis saja. Kalau saya melihatnya, bahwa cinta itu sangat Fundamental. Misalnya, "Karena cintanya Allah kepada Nur Muhammad. maka, Allah menciptakan jagat raya". Berarti cinta itu sangat fundamental Atau, ini agak lebih abstrak, Kalau benda untuk bisa (Eksis) berada, membutuhkan ruang. tanpa ada ruang, tidak mungkin ada benda. Relasinya, Kata Kerja : dinamika, bergerak, melakukan sesuatu. Itu hanya akan ada, jika ada cinta. Jadi, ruangnya kata kerja adalah cinta. 

Selain itu juga, Cinta itu bertingkat-tingkat. Saat kita kecil dulu, cinta selalu kita ekspresikan berkaitan dengan "AKU" - mainanku, punyaku, bapakku, ibukku, dsb. Untuk berbagi saja, kita tidak mau. Karena, pelajaran pertama kita adalah ketika kita punya watak. maka, kita harus mencintai watak kita agar bertahan hidup.

Setelah menginjak remaja sampai dewasa sedikit. Kita Mulai terganggu dengan hormon-hormon. Cinta kita seolah-olah berkembang ; "Aku Cinta Padamu". Pada kondisi ini, kerap kali yang terjadi ialah ketika kita mengutarakan,"aku cinta padamu". Lantas, cinta kita di tolak. akhirnya cintanya hilang, berubah menjadi benci. Sebenarnya, pada dasarnya kita masih mencintai diri kita sendiri. Hanya saja, obejeknya ke orang lain. Kita Mencoba mengekspresikan cinta melalui objek orang lain. Sehingga, cinta dinding-dinding syarat dan alasan.

Kemudian berkembang menjadi dewasa lagi. Punya anak. Pada level ini, cinta sejatinya sudah tanpa syarat. Contoh, tidak mungkin seorang bapak, saat di kencingi atau air liur anaknya menempel dipipinya. Bapaknya lansung memutuskan hubungannya dengan anaknya. Tetapi, faktanya Akan berbeda jika hal itu terjadi pada pacar kita, misalnya. Apakah hal itu membuat kita senang?. Pasti kita menjawab, gila kamu.

Ihwal itulah, menurut saya cinta itu berkembang Dan perkembangan cinta juga meningkatkan kesadaran tentang AKU. Artinya, kita cinta tidak sama tangan kita?. Ataukah pernahkah kita mengikrarkan cinta pada tangan kita?. Ya, tidak pernah. Mengapa?. Karena, kita tahu bahwa tangan kita adalah bagian dari diri kita. Kita mencintai tangan kita, tanpa dinding-dinding syarat. Bahkan ketika tangan kita sakit, kita secara natural mengobatinya. Atau, misalnya Ibu kita tiba-tiba jatuh, kita menolongnya memakai alasan atau tidak (saya harus menolongnya, agar bisa masuk surga, kira-kira begitu alasannya)?. Tentunya, Tidak ada lagi pikiran atau dinding-dinding syarat dan alasan demikiam. Sebab, secara otomatis, kita lansung menolongnya. Karena, kita menolong ibu kita, seperti kita menolong diri kita sendiri. Mengapa?. Karena, Aku-Nya telah berkembang. 

Point Lain dari Tulisan ini, ketika semua Manusia di muka bumi. Aku-Nya terekspresikan. Maka, kita tidak perlu belajar toleransi, menghormati, menghargai, siapakatau, siapaka'inga kepada orang lain. Karena, kita otomatis akan melakukannya. Sederhannya begini ; ada cewek, tetiba di kandatto (jitak) kepalanya. Apakah kita merasa sakit juga. Yah, tidaklah. Kenal saja tidak. Tetapi, kalau cewek itu adalah pacar atau istri kita, tetiba dikandatto. Kita marah atau tidak?. Secara spontanitas, kita akan marah, bahkan mungkin kita akan Hantam orang tersebut. Mengapa?. Karena, kita merasakan sakitnya juga. 

Ummat Islam, seharusnya demikian. Jika satu sakit. Maka, semuanya ikut merasakan sakit. Karena, satu badan ini adalah AKU Dan seharusnya tidak berhenti di situ, karena bedanya manusia dengan hewan. Wataknya, sama-sama butuh makanan, sama-sama butuh tidur, sama-sama butuh berkembang biak. Bedanya, yang paling mendasar pada konteks ini ialah naluri pada hewan adalah memberi batas (ini daerahku). Sedangkan Manusia, Ia ingin mengembangkan diri, sehingga tidak ada batasnya, (kalau sudah paham, mau di kembangkan. Kalau sudah cinta, mau lebih cinta lagi). Kadang-kadang arahnya Paralel, bukan seri.

Jika pertanyaan begini, apakah percaya dulu atau cinta dulu?. 

Nah, ini lagi-lagi ada limitasi bahasa. Percaya itu, paling sedikit ada dua jenisnya. Pertama, percaya pada sesuatu yang kita tidak tahu. Misalnya ; ada kambing terbang, percaya atau tidak?. Pun kita mempercayainya, hal itu percaya pada sesuatu yang kita tidak ketahui. Kenapa?. Karena, tergantung siapa yang memberikan informasi. Kalau saya yang memberi informasi, pasti orang tidak percaya. Tetapi, kalau Ustadz-Ustadz yang tersohor yang berikan informasi. Masa, ustadz-Ustdaz mau berbohong. 

Kedua, percaya pada sesuatu yang pasti terjadi dan tidak akan bergeser. Ini dua jenis percaya yang berbeda. Misalnya, kita percaya tidak, pada gaya gravitasi?. Walaupun, kita tidak mengikrarkan bahwa kita percaya. Tetapi, di alam bawah sadar kita percaya. Sebab, Sedetik saja kita tidak percaya pada gravitasi, maka kita tidak akan berani untuk kencing. Jangan-jangan arah kencing kita tidak kebawah, tapi muncrat keatas.   

Jadi, percaya dulu atau cinta dulu?. Saya yakin bahwa Percaya dulu. Bukan, percaya pada sesuatu yang belum terjadi. Tetapi, percaya pada sesuatu yang sudah kita alami terjadi dan kita tahu. Karena, yakin kepada sesuatu yang kita tidak ketahui, kita hanya bisa mempercayainya. Tetapi, sesuatu yang kita alami, kita menjadi tahu, tidak hanya percaya. 

Tetapi, Kalau percaya, belum tentu dialami. Misal, kita percaya ada salju?. Iya percaya. Kita pernah mengalaminya?. Nah, itu hanya pengetahuan. Bukan pengalaman.  

Pointnya adalah : Banyak orang kecewa karena cinta, bukan karena cintanya. Tapi, Karena dia percaya pada imajnasi apa yang terjadi setelah cinta ini berjalan. Dia percaya pada imajinasinya, bukan pada kenyataan yang sudah terjadi. sebab, Kita tidak bisa keluar dari cinta. kita pasti mengalami cinta, sejak berada di dunia. Karena, dunia, di ciptakan oleh cinta. Hanya saja, kesadaran kita pada cinta, seberapa intensifikasinya?. Dan tentunya, pandangan kita pada cinta, sebersih apa?. Untuk level cinta tertentu, tidak bisa lansung kita tahu. Kita perlu belajar. 

Makanya, jika masih kecil, belajar dulu cinta sama mainan, cinta sama game, cinta sama teman. Lalu, tumbuh dan memahami bahwa ada kausalitas (sebab akibat) di dunia ini, yang bisa saya yakini. Karena saya mengalaminya atau menyakini kebenarannya. Setelah itu meningkat, ke level pacaran. Kita harus berdasarkan pada sesuatu yang kita alami. 


***

Cinta merupakan kekuatan dan blue print bagi keberlansungan hukum kosmis. Sebab, Menafikan realitas cinta, sama artinya Mendistorsi harmoni jagat raya. Cinta adalah kekuatan Maha dahsyat yang dapat meluluhkan arogansi. cinta pula dapat mendamaikan hati yang sedang nanar. 

Cinta bermakna memberi kasih sayang. Cinta melimpah, mengalir dari Bahasa "diam" ke bahasa "diam", sebab bahasa tak akan mampu bertutur secara Objektif dari Narasi jiwa. Maka, bahasa diam adalah cara terbaik mendialogkan Hati. tanpa tendensi, ikhlas, damai dan rebah dalam kedamaian cinta. 

Kekuatan cinta terletak pada pengalaman bukan pada pembahasan dan dialektika. Cinta tidak akan menjadi nanar dan menjauh. hanya, karena ketidakmampuan pengungkapan. Sebab, cinta bertumpu pada Hati, bukan pada Rasio. 

Cinta menurut Abraham Harold Maslow adalah "energi yang menakjubkan". Orang yang kehilangan cinta pasti telah lama kehilangan Harga diri. Orang yang ketiadaan cinta, maka jiwanya gelisah. Kehampaan dan ketiadaan cinta akan mengantarkan seseorang mengalami resesi dan akan jauh dari kebaikan. 

Cinta sejati menghendaki kebenaran yang utuh. Karena, ia telah melampaui logika dan Rasionalitas. Cinta membutuhkan tindakan dan menafikan logika. Sebab, logika hanyalah rajutan gagasan yang acap  berlalu tanpa makna. 

Maka, rajutlah cinta sejati dengan bertumpu pada hati. sebab, hati tidak akan pernah membohongi realitas Dan rasio seringkali mempreteli fakta tanpa mempertanggung jawabkan di akhir narasi.


AKU MENCINTAIMU DAN ITU URUSANKU. BAGAIMANA KAMU TERHADAPKU ITU URUSANMU


Alor, 11 Januari 2019


*Rst

*Pejalan sunyi

*Nalar Pinggiran






HOMO DEUS - MASA DEPAN MANUSIA

Bayangkan dunia, dimana manusia tidak lagi terikat oleh keterbatasan fisik. Penyakit sudah menjadi sejarah, bahkan kematian pun dapat di tunda. 

Dunia dimana kita - Homo sapiens bertransformasi menjadi Homo deus. Mahkluk setengah dewa yang mengendalikan takdirnya sendiri. 

Kedengarannya seperti fiksi ilmiah. Tetapi, inilah masa depan yang bisa kita hadapi. Seperti yang di jelaskan Yuval Noah Harari, dalam Homo Deus - A brief History of Tomorrow. Buku ini adalah kelanjutan dari buku sebelumnya yang membahas tentang sejarah panjang ummat manusia - Sapiens (A brief History of Humankind).

Kalau dalam sapiens, Harari menelusuri Evolusi dan Pencapaian Sapiens, hingga menjadi spesies dominan di bumi. Maka, dalam Homo Deus, ia mengalihkan fokusnya ke masa depan. 

Apa yang akan terjadi pada Homo sapiens Di masa depan. Khususnya ketika teknologi semakin berkembang pesat?.

Dunia saat ini sedang diambang perubahan yang sangat pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan Industri membawa kita ke sebuah era baru yang penuh dengan ketidakpastian. Harari menyebut era ini sebagai titik awal transisi menuju Homo Deus, yang secara Harfiah berarti manusia dewa. Terma ini mencerminkan harapan dan tantangan, ketika manusia tidak sekedar bertahan hidup. Tetapi, juga mulai mengendalikan hukum biologis, fisika dan alam.  

Ketika Harari berbicara tentang masa depan manusia, ia memulai dengan menyebut 3 revolusi besar yang mendefenisikan perjalanan manusia, hingga sampai saat ini. Pertama, Revolusi Kognitif. Kedua, Revolusi pertanian. Ketiga, revolusi ilmiah. 

Ketiga revolusi tersebut, telah merubah cara manusia berpikir, bertani dan memahami dunia. Namun saat ini, kita mungkin sedang berada di puncak revolusi yang jauh lebih besar. Dimana transhumanisme muncul sebagai sebuah konsep yang mewarnai percakapan global. Transhumanisme berfokus pada - bagaimana manusia dapat meningkatkan atau mengubah dirinya menggunakan teknologi. Seperti Rekayasa Genetika, Kecerdasan buatan (AI) dan Augmentasi Tubuh. 

Revolusi pertama yang mengubah sejarah ummat manusia adalah revolusi kognitif. Yang terjadi sekitar 70 ribu tahun yang lalu. Pada periode ini, Homo sapiens mulai mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan lebih kompleks. Memungkinkan mereka berkerja sama dalam kelompok besar dan berbagi pengetahuan. Harari menjelaskan, bahwa kemampuan berkomonikasi ini tidak hanya kemampuan berbicara atau memberi perintah. Melainkan juga menciptakan dan mempercayai mitos kolektif. Mitos - mitos itulah yang memungkinkan manusia bersatu dalam komunitas besar. Mempercayai hal - hal abstrak seperti agama, uang atau hukum. 

Mitos kolektif menjadi pondasi dari masyarakat modern, dan tanpa itu, manusia tidak mungkin mencapai dominasi global. 

Revolusi kedua ialah revolusi pertanian yang terjadi sekitar 12 ribu tahun yang lalu, yang memungkinkan manusia untuk menetap dan mengembangkan peradaban. Manusia tidak lagi hanya berburu dan mengumpulkan makanan. tetapi, mengembangkan teknis pertanian yang menghasilkan makanan dalam jumlah besar. 

Revolusi ini menciptakan dasar, bagi munculnya kota - kota, negara dan peradaban modern. Namun, Harari juga mengingatkan bahwa revolusi ini jug membawa dampak negatif bagi Homo Sapiens, seperti peningkatan kesenjangan sosial, penyakit dan perang. 

Revolusi ketiga ialah revolusi ilmiah, yang di mulai sekitar 500 tahun lalu, yang memicu perubahan besar dalam cara manusia memandang dunia dan alam semesta. Penemuan - penemuan dalam sains, seperti teori Gravitasi Newton atau Teori Evolusi Darwin. Membuka jalan bagi kemajuan teknologi yang kita nikmati saat ini. 

Teknologi modern, seperti Komputer, HP dan internet adalah Hasil lansung dari revolusi ilmiah ini. 

Ilmu pengetahuan juga telah memungkinkan kita dalam memahami dan memanipulasi dunia dengan cara yang sebelumnya tak terpikirkan.

Masa depan yang di gambarkan Harari dalam Homo deus, berbeda dengan masa lalu. Di masa depan, Homo Sapiens tidak hanya menguasai Alam. Tetepi, juga mengendalikan proses biologis dan genetika mereka sendiri. 

Transhumanisme adalah dimana manusia dapat meningkatkan kemampuan fisik, mental dan bahkan spiritual mereka, melalui teknologi. Hal ini, bukan lagi sekedar teori. Tetapi, mulai menjadi kenyataan, berkat kemajuan dalam bioteknologi, Neuro Teknologi dan kecerdasan buatan.  

Salah satu Teknologi yang sering di sebut - sebut adalah Crisprer - Teknologi ini memungkinkan manusia melakukan pengeditan genetik. Artinya kita bisa mengubah DNA untuk mencegah penyakit atau bahkan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Sebuah penelitian di Oxford of Universty menyebutkan bahwa manusia mungkin dapat mencapai usia yang jauh lebih panjang, bahkan mendekati usia tak terbatas, dengan bantuan teknologi kesehatan regeneratif. 

Crisprer, misalnya sudah mulai di gunakan untuk mengedit Gen manusia guna memperbaiki cacat genetik dan mencegah penyakit keturunan. Namun, pertanyaan besar yang di tawarkan Harari adalah apakah dampak dari semua ini terhadap manusia?. Jika kita bisa mengendalikan evolusi kita sendiri : apakah kita masih bisa disebut manusia atau kita akan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar manusia, yaitu Homo Deus?. 

Ketika kita berbicara tentang keabadian dan teknologi semakin membawa manusia dengan tujuan tersebut. Ada pertanyaan yang muncul, apakah manusia siap menjadi Dewa?. Dalam Buku Homo Deus, Harari tidak hanya membahas kemungkinan - kemungkinan masa depan. Tetapi, mengajak kita berpikir lebih dalam, tentang implikasi moral dan etika yang mungkin timbul dari teknologi ini.

Sepanjang sejarah, Tujuan Homo sapiens selalu sama, yaitu mengatasi penderitaan, penyakit dan yang paling mendasar adalah Kematian. Dalam Upaya ini, manusia telah menciptakan agama, filosofi, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melawan batasan - batasan alamiah yang mereka hadapi. 

Namun, di abad ke 21 ini dengan kemajuan Pesat bio enginering, nano teknologi dan AI. Manusia mungkin mencapai tujuan tersebut. Kecanggihan Teknologi ini, memunculkan pertanyaan mendasar : apakah keabadian akan menjadi berkah atau kutukan?. Seberapa jauh kita akan melangkah dalam upaya ini?. Siapa yang akan memiliki akses terhadap teknologi ini?. Dan bagaimana dampaknya kepada masyarakat?. 

Harari memandang hal itu sebagai tantangan etika terbesar yang di hadapi umat manusia di era mendatang. 

Coba kita bayangkan sebuah skenario yang menarik. Bayangkan seorang anak yang lahir di tahun 2100. Anak yang tidak hanya terbebas dari penyakit genetik. Tetapi juga dilengkapi dengan potensi hidup ratusan, bahkan ribuan tahun. Teknologi medis dan genetik memungkinkan kita untuk mengedit DNA mereka, mencegah penyakit, memperbaiki kecacatan dan bahkan memperlambat atau menghentikan proses Penuaan. 

Sekilas ide ini terdengar seperti pencapaian manusia, sebuah pencapaian dalam peradaban yang mampu mengatasi batasan terbesar umat manusia, yaitu kematian. Namun Harari mengajak kita untuk merenung lebih dalam, jika kebadian di capai - apakah hal itu adalah berkah atau kutukan. Jika manusia tidak lagi menghadapi kematian sebagai akhir yang pasti, bagaimana hal itu akan mempengaruhi cara kita menjalani hidup.

Keabadiaan mungkin terdengar menakjubkan. Namun, banyak cerita fiksi ilmiah yang menggambarkannya sebagai kutukan. Seiring waktu, individu yang hidup tanpa batas waktu, mungkin kehilangan makna hidup mereka. Mungkin akan ada kejenuhan eksistensial, dimana setiap hari tidak lagi terasa bermakna, karena tidak ada ancaman kematian yang memaksa kita untuk menghargai hidup. Harari menyebut bahwa kematian sangat memberi arti bagi hidup. Karena dengan adanya batas, manusia dipaksa untuk menjalani hidup sepenuhnya.  Jika kita menghilangkan batasan tersebut, mungkin kita akan mengalami krisis eksistensial yang tidak pernah terjadi sebelumnya. 

Sebagai tambahan, ada juga pertanyaan moral yang harus di jawab : Siapakah yang memiliki akses terhadap keabadian tersebut?. Apakah hanya orang kaya dan berpengaruh untuk membayar teknologi tersebut?. Jika demikian, kesenjangan manusia akan semakin melebar dalam menciptakan dua kelas manusia : mereka yang hidup selamanya dan mereka yang masih rentan terhadap penyakit dan  kematian. 

Hal ini adalah salah satu dilema terbesar yang akan kita hadapi. Harari mengingatkan, bahwa ketidaksetaraan yang di sebabkan oleh akses teknologi dapat memperburuk ketegangan sosial di seluruh dunia.

Jika keabadian menjadi mungkin, bagaimana kita memutuskan siapa yang bisa hidup selamanya dan siapa yang tidak?.

Dalam skenario ideal, semua orang memiliki akses yang sama dalam teknologi ini. Namun, kenyatannya Teknologi canggih hanya tersedia bagi mereka yang memiliki sumber daya. Dengan kata lain, bahwa keabadian hanya tersedia kepada segelintir mereka yang kaya. 

Dalam pandangan Harari, hal ini adalah salah satu tantangan moral paling mendesak yang mesti di jawab. 

Teknologi Bio Enginering, AI dan Nano Teknologi berpotensi merubah struktur masyarakat secara drastis. Jika akses terhadap keabadian di batasi oleh kekayaan dan status sosial. Maka ketidakadilan yang ada saat ini akan semakin mendalam. 

Manusia yang tidak abadi, mungkin akan merasa terpinggirkan dan terdiksriminasi oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama. Hal ini mungkin akan menciptakan konflik sosial yang lebih besar dan mungkin menimbulkan pemberontakan terhadap sistem yang ada. 

Kondisi ini membawa kita pada masalah lain, apakah masyarakat sudah siap secara sosial dan politik untuk menghadapi dampak keabadian?. Mungkin akan ada dampak besar dalam cara kita memandang pekerjaan, keluarga dan mungkin hubungan antar individu. 

Jika kehidupan tidak memiliki batas waktu, bagaimana manusia dapat menemukan makna dalam hidup mereka?. Harari mengajukan pertanyaan ini sebagai bahagian dari refleksinya tentang masa depan, dimana eksistensi tanpa akhir, mungkin tidak seindah yang kita bayangkan. 


Teknologi AI dan Peran Manusia di masa depan.

Selain keabadian, salah satu aspek lain yang sangat berpengaruh terhadap masa depan manusia adalah Kecerdasan buatan, yang memiliki banyak potensi menggantikan pekerjaan saat ini di lakukan manusia, Dengan otomasi yang semakin berkembang, Pekerjaan - pekerjaan tradisional yang membutuhkan keterampilan manual akan semakin berkurang. Misalnya, sudah ada robot - robot di pabrik yang menggantikan pekerjaan manusia seperti perakitan barang.  Hal ini tentu, menimbulkan pertanyaan besar, jika AI menggantikan peran manusia, apa yang akan di lakukan manusia?. 

Harari menggambarkan, kemungkinan munculnya kelas manusia yang tidak berguna, yaitu orang - orang yang tidak lagi memiliki peran ekonomi, karena pekerjaan mereka telah di ambil alih oleh AI.  Kelas ini akan perlahan terpinggirkan dan teralienasi dalam struktur masyarakat. 

Otomasi tidak hanya mengancam pekerjaan manual. Tetapi juga pekerjaan yang membutuhkan keterampilan kognitif, seperti analisis data atau Pekerjaan administratif. 

Jika AI menggantikan pekerjaan - pekerjaan manusia, lantas apakah yang di lakukan manusia untuk tetap relevan. Artinya, AI juga dapat menimbulkan tantangan Etika besar.

Saat kecerdasan buatan semakin pintar dan dapat mengambil keputusan yang lebih kompleks. Lalu, siapakah yang akan bertanggung jawab atas kesalahan yang mungkin  terjadi?. ketika AI melakukan kesalahan dalam tugas yang kritis, seperti diagnosis medis atau Pengelolaan lalu lintas. Siapa yang akan di salahkan?. 

AI mungkin dapat mengambil semua Tugas manusia. Tetapi pertanyaan tentang Akuntabilitas dan tanggung jawab juga tak kalah pentingnya. 

Sebagai contoh, mobil otonom sudah mulai di gunakan di beberapa negara. Mobil - mobil tersebut di kendalikan oleh AI dan tidak membutuhkan pengemudi manusia. Meskipun hal itu dapat mengurangi kecelakan yang di sebabkan oleh manusia. Ada potensi masalah etika disitu, ketika mobil otonom harus mengambil keputusan moral. Bayangkan saja, ketika mobil otonom harus memutuskam untuk menabrak pejalan kaki atau menghindari tabrakan dengan resiko melukai penumpang di dalam mobil. 

Keputusan moral seperti itu adalah tantangan terbesar bagi pengembangan otomasi kecerdasan buatan yang lebih cerdas di masa depan. 


Apakah Manusia siap menjadi Dewa?. 

Dengan semua kemajuan teknologi tersebut, Harari menantang kita untuk bertanya : Apakah manusia siap benar - benar menjadi dewa?.  Dalam pengertian Transhumanisme, manusia tidak lagi hanya berperaan sebagai spesies yang beradaptasi dengan lingkungan mereka. Tetapi, juga mengendalikan hukum biologis dan Fisika, yang mendefenisikan keberadaan kita. Namun, seperti yang Harari Tunjukkan, bahwa menjadi Dewa bukan hanya memiliki kekuatan. Tetapi juga memiliki tanggung jawab yang sangat besar. 

Harari memperingatkan bahwa manusia tidak selalu siap menghadapi konsekuensi dari teknologi yang mereka ciptakan. Di masa depan kita mungkin menghadapi tantangan moral, etika dan eksistensial yang belum pernah kita hadapi sebelumnya .

Ketika kita memiliki teknologi yang dapat memperpanjang hidup kita, memanipulasi genetik dan menggantikan peran manusia dengan mesin : apakah kita masih bisa mempertahankan kemurnian identitas manusia?. Ataukah kita akan berubah lebih dari sekedar manusia?. Dan jika itu terjadi, apa yang akan terjadi dengan kemanusiaan itu sendiri?.

Dalam Homo Deus, Harari memaksa kita untuk memikirkan pertanyaan - pertanyaan tersebut dan merenungkan apa yang terjadi di masa depan. Teknologi membawa banyak potensi, tetapi juga membawa banyak resiko yang tidak boleh di abaikan. 

Selain itu, Dalam Homo Deus, Yuval Noah Harari menyajikan pandangan yang sangat mendalam tentang peran AI dalam mengubah Landcape sosial dan ekonomi di dunia. Harari menyebutkan, bahwa AI tidak hanya mengubah cara kita bekerja. Tetapi, juga akan mengambil alih banyak pekrjaan yang saat ini di lakukan oleh manusia. Baik pekerjaan manual, maupun pekerjaan intelektual.

Otomasi yang di dorong oleh kecerdasan buatan akan menciptakan kelas sosial baru. Harari menyebutnya sebagai kelas manusia tidak berguna atau sekelompok manusia yang tidak lagi di perlukan dalam perekonomian, karena pekerjaan mereka telah di gantikan oleh mesin.


AI dan Transformasi dunia Kerja.

Pertanyaaan dan menjadi inti perdebatan ini adalah jika mesin dapat  melakukan Pekerjaan lebih baik daripada manusia. Lantas, apa yang tersisa untuk kita?. Hal ini bukan lagi pertanyaan teoritis yang jauh di masa depan. Melainkan, kenyataan yang sudah mulai kita hadapi. Harari menjelaskan kemajuan AI dan Otomasi teknologi telah menciptakan perubahan yang sangat drastis di dunja kerja, menciptakan tantangan besar bagi jutaan pekerja, yang mungkin kehilangan pekerjaan mereka. 

Kecerdasan buatan hari ini telah banyak merambah sektor industri - dari manufaktur, hingga layanan keuangan, kesehatan, bahkan hukum. Robot industri sudah mampu menggantikan pekerjaan manusia di pabrik - pabrik besar, melakukan tugas - tugas berulang dengan kecepatan dan akurasi yang jauh lebih tinggi. 

Di sektor lain, algoritma cerdas dapat menganalisis data besar - Big data dan membuat keputusan, yang dulunya hanya bisa di lakukan oleh manusia yang berpengalaman. Misalnya, kecerdasan buatan dalam dunia medis kini dapat mendiagnosa penyakit berdasarkan hasil pemeriksaan medis dengan tingkat akurasi yang menyaingi, bahkan melampaui dokter manusia. 

Studi dari Mckinsev Global Insitute memperkirakan bahwa pada tahun 2030, sekitar 375 juta Pekerja di seluruh dunia akan memerlukan pelatihan ulang atau harus beralih ke pekerjaan baru, karena otomasi. Perubahan ini tidak hanya akan mempengaruhi industri yang secara Tradisional masih mengandalkan pekerjaan fisik. Seperti manufaktur dan konstruksi. Serta pekerjaan - pekerjaan yang menggunakan keterampilan intelektual dan analitis. 

Sebagai contoh, di sektor keuangan dan asuransi, AI dapat melakukan analisis resiko dan memberikan nasehat Investasi secara otomatis, yang sebelumnya merupakan tugas dari analis manusia. 

Di bidang hukum, AI dapat Memproses dan menganalisis Berkas - berkas Hukum dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, ketimbang Pengacara Manusia. 

Hal ini membuat Pekerjaan seperti, analisis, broker dan pengacara beresiko tergantikan oleh teknologi. Meskipun dampak ini tampak negatif. Tetapi ada juga potensi besar  bagi perubahan positif. 

Harari juga menyatakan bahwa Kemampuan AI dan Otomasi teknologi juga dapat menciptakan Pekerjaan baru yang sebelumnya kita belum bayangkan. Sebagaimana revolusi industri yang menciptakan pekerjaan - pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Demikian juga revolusi teknologi ini dapat menciptakan pekerjaan di sektor - sektor baru di masa depan. Misalnya, profesi yang berkaitan dengan pengembangan AI, Robotica, dan etika teknologi akan menjadi semakin penting. 

Harari menyebutkan istilah kelas yang tidak berguna sebagai fenomena baru yang terjadi akibat Perubahan radikal ini. Kelas ini bukanlah orang - orang yang tidak mampu bekerja, melainkan mereka yang tidak lagi relevan dalam sistem ekonomi, karena pekerjaan mereka telah di gantikan oleh AI dan mesin. 

Tantangan ini bukan hanya di aspek ekonomi. Tetapi, juga menjadi tantangan sosial dan psikologis. Ketika manusia kehilangan pekerjaan, manusia kerap kali merasa seperti kehilangan tujuan hidup, Yang dapat menimbulkan pada kesehatan mental dan kesejahteraan mereka. Namun Harari juga memberikan Perspektif yang lebih optimis. Dalam dunia yang semakin terotomasi, manusia dapat lebih fokus pada kegiatan kreatif dan pengembangan diri dan pencaharian makna hidup. Dengan lebih banyak waktu luang, karena tidak terikat oleh pekerjaan rutin. Manusia bisa lebih fokus pada inovasi, pembelajaran dan peningkatan kualitas hidup. 

Dunia yang di dominasi oleh AI juga dapat membuka peluang bagi manusia untuk mengalihkan perhatian mereka dari pekerjaan yang melelahkan secara fisik dan mental ke aktivitas yang lebih bermakna dan produktif secara emosional. 

Harari menyoroti, bahwa AI dan Otomasi Teknologi adalah masa depan yang tak terelakan. Meskipun tantangan yang di hadapi oleh pekerja manusia sangat besar, ada peluang dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik. Jika kita dapat mengatasi masalah etika, sosial yang menyertainya. Dengan mempersiapkan diri melalui pendidikan dan adaptasi. manusia tetap dapat menemukan cara untuk relevan dan bermakna di era AI. 

Buku Homo Deus, mengingatkan kita bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang harus di takuti. Tetapi, sesuatu yang harus kita bentuk dengan bijak. Harari mengajak kita untuk memahami peran kita sebagai manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi ini dan mempertimbangkan bagaimana kita bisa menggunakan kecerdasan buatan sebagai alat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua orang. 


**

Ekonomi dan Kekuasaan

Dalam Buku Homo Deus, Harari menyebutkan perubahan yang sangat mendalam mengenai sumber daya yang paling berharga di dunia. Jika di masa lalu, sumber daya yang paling berharga adalah Tanah dan Minyak sebagai kunci kekuasan dan kekayaan. Harari memperingatkan bahwa data adalah aset yang paling penting di masa depan. 

Di era digital, data menjadi pusat di hampir semua interaksi sosial, ekonomi dan politik. Harari berargumen, bahwa perusahaan yang memiliki kendali atas data akan menjadi penguasa masa depan, menggantinkan para pemilik tanah dan pabrik di era sebelumnya. 

Harari menggambarkan bagaimana pengendali kekuasaan berubah dari waktu ke waktu. Pada masa feodal, orang yang memiliki tanah adalah orang memiliki kekuasaan dan pemegang kontrol atas kehidupan orang lain. Pada saat itu, tanah adalah sumber paling penting, karena menjadi basis dari sumber pertanian, yang menyokong kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Lalu, pada era revolusi industri, hal paling penting adalah mereka memiliki pabrik dan industri-lah yang menjadi penguasa. Pabrik - pabrik tersebut menghasilkan barang - barang dalam skala yang lebih besar dan  kepemilikan atas pabrik menjadi penentu utama atas kekayaan dan kekuasaan. 

Namun, sekarang kita berada di era informasi, dimana data telah muncul sebagai sumber daya paling berharga. Harari menjelaskan, di masa depan mereka yang memiliki data akan menjadi penguasa. Pengaruh ini sudah bisa kita lihat dengan munculnya perusahaan -- perusahaan teknologi besar, seperti Google, FB, Tiktok, IG, amazon, apple, dsb. 

Perusahan - perusahan tersebut mengendalikan data pribadi milyaran orang di seluruh dunia dan dengan itu mereka mendapatkan akses bagaimana orang berpikir, berperilaku, dan bahkan membuat keputusan. Contoh nyata dari fenomena ini dapat di lihat dalam algoritma personalisasi yang di gunakan oleh perusahaan teknologi menentukan. Algoritma ini mempelajari pengguna melalui data yang di kumpulkan. Seperti Riwayat Pencaharian, aktivitas medsos dan preferensi belanja. Dengan memanfaatkan data ini perusahaan mampu menargetkan iklan, menawarkan produk yang relevan dan bahkan mempengaruhi opini politik.  

Salah satu yang menjadi alasan utama mengapa data menjadi begitu berharga, karena data dapat memberikan informasi berharga terhadap perilaku konsumen, Trand pasar dan pergerakan politik. 

Di masa depan, kontrol atas sangat menentukan siapa yang memiliki kekuasaan atas ekonomi dan siapa yang tidak. Data memberikan kekuatan yang belum lernah ada sebelumnya, yaitu kemampuan untuk memprediksi, mengontrol dan memanipulasi perilaku manusia. 

Banyak perusahaan berinvestasi besar - besaran dalam teknologi yang bisa mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis data dalam jumlah yang sangat besar. Big data memungkinkan perusahaan untuk melakukan analisis prediktif, yang berarti mereka dapat memprediksi perilaku konsumen dan trand pasar sebelum terjadi. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif yang sangat besar. Dengan adanya Big data, mereka dapat melihat kebiasaan dan preferensi konsumen. 

Selain kekuasaan ekonomi Harari juga memperingatkan bahwa data juga akan menjadi alat kekuasaan politik yang sangat kuat. Karena kemampuannya mengumpulkan dan menganalisis data dalam jumlah yang sangat besar. Pemerintah dan perusahaan teknologi besar dapat mempengaruhi opini publik, hasil pemilu dan bahkan kebijakan pemerintah. 

Harari berpendapat bahwa di masa depan pemerintah mungkin tidak kagi bergantung pada pemungutan suara untuk mengetahui keinginan rakyatnya. Sebaliknga mereka bisa menggunakan data untuk memahami, apa yang di inginkan rakyat, tanpa perlu mengadakan pemilu. 

Hal ini membuka pengawasan massal bagi pemerintah dan perusahaan teknologi. 

Dalam banyak hal data adalah kekuatan. Dengan mengumpulkan data pribadi dalam setiap aspek kehidupan individu, pemerintah dan perusahaan dapat mengontrol perilaku masyarakat dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.  

Harari mengutip Tiongkok, bagaimana negara sudah mulai menggunakan data untuk mengontrol perilaku warganya. Di tiongkok, pemerintah sudah menerapkan sistem skor credit sosial, dimana setiap warga negara di beri skor berdasarkan perilaku mereka. Skor ini dapat menentukan apakah seseorang layak mendapatkan pinjaman, mendapatkan pekerjaan atau bahkan bepergian ke luar negeri. Kontrol sosial melalui data tersebut, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh data terhadap kehidupan individu di masa depan. 

Dengan kekuasan besar yang datang dengan penguasaan data. Muncul juga pertanyaan ktiris tentang privasi dan hak individu - Seberapa besar data yang boleh di kumpulkan tentang seseorang dan siapa yang harus memiliki kendali atas data tersebut?. 

Di dunia yang semakin terkoneksi, dimana hampir semua yang kita lakukan dapat di lacak melalui perangkat digital, pribadi menjadi komoditas yang langka. Di negara - negara demokratis, perlindungan data pribadi menjadi salah satu isu paling penting untuk di bicarakan, apalagi berkaitan dengan masa depan ekonomi data.

Banyak aktivis HAM berpendapat bahwa kebebasan individu terancam oleh pengumpulan data yang massif oleh pemerintah dan perusahaa teknologi. Edwadrs Noden adalah salah satu Figur yang memperingatkan dunia tentang bahayanya penguasan massal oleh pemerintah. Setelah dia membocorkan informasi tentang program pengawasan rahasia yang di jalankan oleh pemerintah amerika serikat. 

Perlombaan untuk menguasai data sudah di mulai. Perusahaan-perusahaan teknologi besar sedang berusaha keras untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data di berbagai penjuru dunia. 

Dalam Homo deus, Harari tidak hanya berbicara tentang teknologi canngih seperti super Intelegency - kecerdasan buatan yang melampaui kecerdasan manusia. Tetapi juga menyentuh kepada arti keberadaan manusia di tengah perubahan yang di bawah oleh kecerdasan buatan. 

Harari mengajak kita merenungkan apakah manusia masih memiliki arti dan tujuan atau tidak, jika kecerdasan buatan dapat mengambil alih sebahagian besar aspek pengambilan keputusan ?. Apakah kita tetap merasa bermakna ataukah tersingkirkan oleh kecerdasan buatan yang semakin tinggi?. 

Super Intelegency bukanlah konsep Fiksi ilmiah semata. Melainkan sebuah fenomena yang semakin tampak nyata. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, kemungkinan besar akan ada saat dimana algoritma dan kecerdasan buatan mampu mengambil keputusan yang lebih baik, cepat dan akurat daripada manusia dalam berbagai aspek kehidupan - Mulai dari ekonomi, politik, bahkan sampai kepada kehidupan pribadi kita. 

Salah satu stunding point yang di tekankan, bahwa ketika kita menyerahkan kekuatan pengambilan keputusan pada algoritma, kita mungkin akan kehilangan kemampuan untuk memaknai hidup dengan cara kita saat ini. 

Dalam banyak hal, manusia di defenisikan oleh pilihan-pilihan yang mereka buat. Dari keputusan besar tentang karir, hubungan dan hal - hal kecil seperti apa yang kita makan atau aktivitas apa yang kita akan lakoni di waktu senggang. Pilihan ini memberikan rasa kontrol dan makna dalam hidup kita. Namun, di era super intelegency, AI akan mampu membuat keputusan yang lebih rasional, efisien dan lebih tepat daripada manusia. 

Misalnya, algoritma dapat memutuskan investasi terbaik, karir yang menguntungkan atau bahkan pasangan hidup yang paling kompatibel untuk kita. 

Meskipun semua itu terdengar lebih menggoda, karen menjanjikan kehidupan lebih nyaman dan lebih sedikit kesalahan. Tetapi, konsekuensi eksistensialnya, yaitu apakah hidup kita masih bermakna jika kita tidak lagi membuat keputusan besar itu sendiri? Ataukah jika kecerdasan buatan mengendalikan sebahagian besar aspek kehidupan kita, apakah kita masih memiliki kendali atas nasib kita sendiri?. 

Di masa lalu, salah satu sumber makna manusia dalam hidup adalah perasaan mengendalikan takdir mereka sendiri. Kehadiran super Inlegency, mungkin kita akan semakin bergantung pada keputusan yang di ambil oleh alforitma cerdas, yang secara perlahan mengikis kemampuan kita untuk membuat keputusan secara mandiri. 

Contoh nyata yang nungkin telah kita alami, bagaimana Platform medsos menggunakan algoritma untuk memutuskan konten apa yang kita lihat. Kita mungkin berpikir, kita memilih apa yang kita baca atau tonton. Tatapi kenyatannya algoritma di balik layar telah membuat keputusan itu untuk kita. Mereka menganalisis preferensi dan apa yang kita sukai. 

Netflix menggunakan algoritma canggih untuk memprediksi acara atau filem apa yang kemungkinan besar kita sukai berdasarkan riwayat tontonan kita. Di satu sisi, hal ini memudahkan dan menghemat waktu dalam mencari hiburan yang sesuai dengan selera kita. Tetapi, disisi lain hal ini juga membatasi kebebasan kita untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru atau membuat pilihan - pilihan yang berbeda dari yang di harapkan dari algoritma. 

Jika kita menyerahkan seluruhnya kepada kecerdasan buatan, maka kita berpotensi kehilangan Kedalaman emosional dan pengalaman eksistensial terhadap hidup kita sebagai manusia. 

Semua ini bukan hanya tentang teknologi. Tetapi, Apakah Esensi menjadi manusia :  jika kita menjadi dewa, apakah kita akan tetap menjadi manusia atau kita justru kehilangan jati diri sebagai manusia?. 


Sekian...!


Makassar, 05/05/2025


*Rst

*Pejalan sunyi

*Nalar Pinggiran


SOPHISTICATED LA GALIGO DARI AKAR KEARIFAN INDONESIA UNTUK DUNIA

Mata Saya Berkaca - kaca saat Membaca Tesis Ibu Prof. Dr. Nurhayati Rahman - Dosen Filologi Unhas. Perempuan Bugis yang saya Kagumi. Beliau salah satu yang Mentranslate di skripsinya, Isi Gubahan ulama - ulama Dahulu di Sulawesi selatan yang persis sama dengan Isi Kitab Paling Tua dan terpanjang Di dunia, Yaitu La Galigo. 

La galigo sendiri terdiri dari 5 suka Kata dan ada beberapa episode yang terdiri dari 8 suku kata. Makanya Tesis dan Disertasi Ibu Nurhayati Rahman tentang La Galigo, sempat di larang oleh Co Promotor Doctornya - Prof. Dr. Mattuladda, karena jangan sampai disertasinya tidak selesai dan terlalu rumit membaca naskahnya, karena sebahagian huruf-huruf (kosa kata) di dalam naskah kuno tersebut telah hilang.  

Bahasa Bugis Kuno berbeda dengan bahasa Kawi (bahasa jawa kuno). Sekalipun ada beberapa suku kata yang mirip, karena terserap dari bahasa sangsakerta. Seperti, diksi "palguna" (Bahasa Sangsakerta). Karena di bugis tidak ada huruf mati, maka penyebutan verbalnya di sebut "palaguna". Atau seperti Dewat Langit, Sang hiyang, dsb. 

Teks Kuno kitab La galigo memang belum banyak di bahas, padahal di dunia barat (Inggris dan belanda). Kitab La galigo sudah pernah di salin. 

Pada pertengahan abad ke 19, belanda mengirim orang - orang untuk belajar budaya - budaya penduduk setempat. Lalu, menerjemahkan Bibel (Injil) ke dalam bahasa dan huruf - huruf tua. Tidak hanya di sulawesi selatan, tetapi di seluruh indonesia. Di sulawesi selatan sendiri, yang di tugaskan untuk mempelajari budaya penduduk setempat adalah "Doctor Benjamin Frederic Matthes" - Kolektor la galigo dari belanda yang mempelajari bahasa bugis. 

"Matthes" ini datang di sebuah kabupaten Si sulawesi selatan yaitu Kabupaten Pinrang, ia melihat ada orang sekarat (sudah mau meninggal). Tetapi, bukan Al Qur'an yang di dendangkan padanya, padahal seseorang tersebut adalah seorang muslim. Melainkan gubahan La galigo yang masih Tertulis dari huruf Lontara. Disitulah pertama kali Matthes berjumpa dengan huruf - huruf Kuno di sulawesi selatan dan tertarik mempelajari. 

Namun saat itu belum ada masyarakat yang memiliki naskah La Galigo secara utuh. Hanya tersebar 1 jilid - 1 Jilid saja. Naskah yang tersebar 1 jilid saja itu sudah sesuatu yang sangat Luar biasa. 

Obsesi Matthes untuk mengumpulkan semua naskah La Galigo secara Keseluruhan dan menyusunnya secara Kronologis. Akhirnya ia meminta Bantuan seorang bangsawan bugis, yang saat itu menjadi Tapol (Tahanan Politik) di makassar, di bayar secara profesional dan kita tidak bisa membayangkan betapa rumitnya pengerjaannya, karena hampir 10 tahun dengan jumlah 12 Jilid. Di tulis secara manual - dalam terma Bugis di sebut Kallank (Qolam : Bahasa Arab). 

Genre La galigo menyangkut banyak hal - Tentang Etos dan semangat, tentang ritual, Tentang Alam semesta di ciptakan, tentang Cinta, tentang manusia pertama, tentang pengembaraan, dsb. 

La Galigo adalah kitab suci orang Bugis makassar. Sebelum menjadi seorang yang beragama (Muslim dan Kristen). Ihwal itulah mengapa isi kitab La Galigo cukup di sucikan dan punya Sakralitas, sekalipun orang bugis makassar telah memeluk Agama. 

Salah satu gubahan di dalam La Galigo bercerita tentang Para dewa dan dewi yang ada di langit, yang bernama Kerajaan "Boting Langiq" (kerajaan langit). Di kerajaan "Boting langiq", ada dewa tertinggi bernama "Patotoe" (Sang Penentu Nasib) dan Ratunya "Palinge". Selain itu, Di dunia bawah atau Laut di sebut "Peretiwi", di pimpin oleh Seorang Dewi (Saudara PatotoE) "Dewi Sinauq Toja" Dan Suaminya Guru Ri Selleq Dan dunia tengah - antara Dunia langit dan dunia bawah (laut), di sebut "Kawaq, alelino" - Bumi. 

Suatu Waktu "Patotoe", dewa tertinggi sangat marah karena penjaga ayamnya tidak ada di tempat. Yang mengakibatkan ayam Patotoe berkeliaran di istana boting langiq. Di panggil-lah penjaga ayamnya, dari mana engkau selama tiga hari ini?. Jawab penjaga ayamnya, "saya dari Bumi Tuanku. Ternyata bumi kosong. Apalah arti Tuanku sebagai dewa, jika tidak ada manusia yang menyembahMu. Makanya, lebih baik Tuanku menurunkan keturunan di dunia untuk berkembang biak, agar ada yang menyembahmu". 

Jawaban Penjaga ayam Patotoe logis dan masuk akal dalam benak Patotoe. Akhirnya, patotoe mengadakan musyawarah besar. Patote mengundang saudara perempuannya di dunia bawah (laut), yang menjadi Dewi di sana untuk naik ke langit, dengan menggunakan pelangi sebagai tangga untuk naik ke langit. 

Dari hasil musyawarah di Istana Langit, di putuskanlah bahwa harus ada putra "Patotoe" dari Langit yang di turunkan ke bumi dan putri "Datu Sinauq Toja" di naikkan ke Bumi. Lalu, mereka di kawinkan, agar mereka berkembang biak dan bumi Tidak kosong.  

Kalau kita mengkomparasi Cerita tentang penciptaan langit dan Bumi dalam Naskah kuno La Galigo ini, dengan beberapa cerita dalam agama - agama. Misalnya dalam Kristen - Yudhaisme, bahwa pelangi adalah bukti janji Tuhan dengan manusia setelah membuat dosa. Sedangkan, Di La Galigo pelangi adalah Tangga yang di gunakan oleh dewa dan dewi untuk naik dan turun ke bumi. 

Dari cerita epos di Sulawesi selatan kita bisa mengetahui pertama kali proses penciptaan langit dan bumi. 

Dewa Patotoe sebagai Dewa Tertinggi langit dan Dewi Sinauq Toja sebagai dewi Tertinggi di dunia bawah (laut), sesungguhnya bersaudara. Anak mereka yang pertama yang di turunkan ke bumi dan di naikkan ke bumi. Lalu, di nikahkan. 

Tokoh utama dalam Naskah Kuno La Galigo adalah SAWERAGADING. Yang terkenal dengan Petualangan Lautnya. Mengapa?. Karena Karajaan - kerajaan harus di bina, dengan cara berlayar. Dari proses pelayaran tersebut, saweragading bertemu dengan beberapa tokoh - Tokoh di dunia. Artinya,  cerita ini telah Kosmopolit. Karena di gambarkan, Ada China, ada india, ada sriwijaya, dsb. 

Hal itu yang membuat para sejawaran dan budayawan memperkirakan bahwa Cerita ini lahir, pada saat kejayaan Hindu di nusantara, tetapi tidak berakar secara keseluruhan di Sulswesi selatan, hanya sepintas saja. Tidak seperti di jawa, bali, dsb. Yang Konstruksi hindu dan Budhanya sangat kuat.

Sejarawan berbeda pendapat soal abadnya, Prof Mattuladda menyebutkan sekitar abad ke 7 - 10. Prof Noer Daeng di Belanda memperkirakan sekitar abad ke 10. Sedangkan Cristian Pelras - Penulis buku manusia Bugis, menyebut sekitar abad Ke 11. Tetapi, yang pasti sebelum Islam masuk. 

Di dalam La Galigo, semua episodenya menceritakan. Seseorang tidak akan di lantik menjadi Raja, sebelum ia berlayar. Hal ini sangat bertautan dengan etos masyarakat bugis makassar untuk berlayar, sekaligus bentuk penghargaan terhadap laut. Makanya, dalam La Galigo Buaya tidak di sebut Buaya. Tetapi, sang Pemilik air - "Datu Palingeq".  

Cerita La Galigo ini, orang tahu bagaimana bumi di ciptakan, bagaimana kepahlawanan Saweragading, bagaimana hubungan antara manusia dan alam. 

Secara Kosmogoni, Dunia kita ini berada di tengah - tengah. Antara langit dan Laut. Beberapa mitos di dunia ini, laut dianggap tempat gelap dan hitam (tempat para setan). Tetapi, dalam tradisi masyarakat Bugis makassar, laut adalah tempat para dewa dan dewi yang hidup di dasar laut. Makanya harus di hargai dan di hormati. Itulah sebabnya, cara menghormatinya sebelum masyarakat bugis makassar menjadi Muslim, ada dua : Jika ia hendak menyembah ke langit, ia naik gunung. Jika, ia menyembah kepada laut, maka mereka mendatangi laut atau pinggir laut, sungai atau danau.  

Secara Filosofis, manusia tinggal dan hidup di dunia tengah, Tidak di langit dan laut atau tergantung. Maka, meniscayakan bagi mereka untuk berlayar. Dan fungsi pelayaran, untuk menjaga keseimbangan - Harmoni.

Hal inilah yang di representasikan di dalam kehidupan Masyarakat bugis makassar. Misalnya, dalam Sistem pemerintahan orang bugis makassar, menurut Prof Dr. Zainal abidin, Orang bugis makassar, satu - satunya yang memiliki bentuk pemerintahan di dunia ini yang tidak melalui Penaklukkan. Tetapi melalui kontrak sosial dan kontrak sosial yang mengikat masyarakat bugis makassar dianggap sebagai Kontrak sosial tertua Di dunia. 

Sebelum jauh, saya sebutkan dulu : Saweragading adalah Cucu dari Batara Guru. Batara Guru adalah Anak Pertama (Manusia pertama di dunia) dari PatotoE yang turun dari langit. Di nikahkan dengan Putri Dari Dunia bawah (Laut), yaitu We Nyili Timoq".

Batara guru dan We Nyili Timoq menikah dan punya anak bernama "Batara lattu". "Batara Lattu" menikah dengan We Tenriyabeng" dan memiliki anak bernama Saweragading. Saweragading yang kelak menikah dengan I we Cudai (Saudara Kembar). Sekalipun dalam Fakta sejarah yang tertulis dalam naskah tersebut di sebutkan bahwa Saweragading memang beberapa kali menikah. 

Saweragading sendiri memang di lahirkan kembar (Kembar emas). Kembar Emasnya Bernama "We Tenriyabeng". Agar ia tidak jatuh cinta kepada saudara kembarnya ketika kelak besar. Maka, di pisahkan lah tempatnya. Tetapi, dalam sebuah momentum, Saweragading melihat perempuan cantik, yang ia sendiri tidak tahu bahwa itu adalah saudara kembarnya. Saweragading Terkesima dan jatuh cinta sebagaimana layaknya orang jatuh cinta. Akhirnya ia berkeinginan untuk menikahinya.

Namun menikahi Saudara kembar dapat mendatangkan bencana bagi kehidupan di tanah tersebut. 

Rapat dewan adat di laksanakan untuk membicarakan persoalan Saweragading, yang keputusannya berisi rekomendasi untuk menanyakan kepada Raja - Batara Latuq, " apakah engkau memilih anakmu atau RakyatMu". Batara Latuq menjawab, "Saya memilih Rakyatku. Kendati saya harus mengorbankan keinginan anakKu". 

Akhirnya saweragading Di perintahkanlah untuk mencari Saudara sepupu saudara kembarnya yang berada di negeri Cina - Tanete (Bone) perawakan, paras dan kecamtikannya mirip dengan saudara kembarnya - We Tenriyabeng. Dari situlah Saweragading melakukan pelayaran Ke Cina. Proses ini sangat panjang, karena beberapa kali lamarannya di tolak. Sekalipun pada akhirnya ia menikahi dengan Sepupunya yaitu I We Cudai dan melahirkan keturanan bernama La Galigo.

Salah satu point yang bisa kita ambil, bahwa di masa itu sudah ada dewan adat. Sehingga sang raja tidak serta merta memberikan titah dan dewan adat tersebut di ceritakan secara detail dalam Naskah La galigo, bagaiamana mereka memutuskan suatu perkara. 

Artinya pemisahan kekuasaan - Raja tidak memegang kekuasaan absolut, yang di jabarkan dalam Trias Politika.  sudah di Praktekkan dalam bentuk kerajaan dalam masyarakat bugis makassar. 

Kalau kita mau mencoba mengkomparis hal ini, misalnya Kontrak sosial tentang pemisahan kekuasaan yang kita kenal hari ini. Di mulai oleh Jhon Locke atau Thomas Hobbes sejak abad 17 - 18. Atau di tarik ke belakangan sedikit di Masa Jhon Calvin di eropa, ketika mereka bingung tentang kekuasaan gereja yang mengatasnamakan Tuhan menjadi kekuasaan yang Mutlak. Maka, mulailah ada pergerakan untuk memisahkan kekuasaan (Eksekutif, Yudakatif dan Legislatif). 

Tetapi, hal itu telah di bahas dan di laksanakan dalam Praktek kerajaan di Sulawesi selatan di abad ke 7 - 8. 

Diatas saya sedikit menyinggung tetang musyawarah agung di boting langiq, saudara perempuan Patotoe di hadirkan dan di mintai pendapat. Pendapatnya diperhitungkan. Dalam beberapa tradisi kita, agama atau budaya - budaya kita, kebanyakan pendapat perempuan tidak di perhitungkan. Selain itu, Raja juga menerima pendapat dan mengikuti saran dari Penjaga ayamnya. 

Artinya dalam Naskah La Galigo ada semacam panduan untuk memperlakukan Gender yang berbeda dan kelas sosial yang berbeda. Sekalipun saat itu belum ada terma Kelas sosial. Bahkan, Terma "Hamba" waktu itu di sebut sebagai "Bissu patudang - Mahkluk Suci yang melayani". Saking di hargainya manusia waktu itu. 

Makanya menurut Prof Fredie dari belanda menyatakan, "Dulu tidak ada di sulawesi selatan. Kelak, kita kenal terma hamba ketika Akulturasi Hindu masuk yang membagi kelas - kelas sosial secara Tajam".  

Tesis dari dunia eropa, bahkan Dunia timur, sebelum pergerakan feminisme yang mungkin terjadi setelah abad 19 - 20. Memang wanita tidak di perhitungakan dalam ranah - ranah publik dan tidak punya hak memilih. Mereka belum paham tentang peran dunia perempuan dalam ruang - ruang publik. 

Secara antropologis di dunia ini, sistem kekeluargaan secara garis besar di bagi tiga : 1. matriarki - sistem kekeluargaan berdasarkan garis Ibu, seperti yang di praktekkan orang Minang, sebahagian di India dan Afrika. 2. Partiarki - Sistem kekeluargaan berdasarkan garis ayah. Seperti, di barat. 3. Bilateral - Keseimbangan berdasarkan Negosiasi dan kompetensi. 

Point ketiga inilah yang sangat di rindukan oleh kaum Feminisme dan gerakan - gerakan gender yang ada di barat. 

Hampir semua peneliti, baik barat maupun indonesia mengatakan bahwa sistem kekerabatan Yang di anut oleh masyarakat bugis makassar adalah sistem kekerabatan Bilateral - Keseimbangan. 

Keseimbangan antara lelaki dan perempuan di dalam Naskah La Galigo, memang belum diatur secara terperinci. Kelak, di aplikasikan ke dalam sistem pemerintahan Tradisional, yang hampir mirip dengan Konsep demokrasi, perempuan - perempuan mendapat tempat yang istimewa. Seperti lelaki. 

Tidak ada di dunia ini yang memberikan lima Tempat kepada gender seperti yang tertuang dalam naskah La Galigo di sulawesi selatan. Bukan dua dan tiga saja, tetapi lima : 1. Lelaki. 2. Perempuan. 3. Calabai - Lelaki yang berperilaku seperti perempuan. 4. Calalai - perempun yang berperilaku seperti lelaki. 5. Bissu - bukan lelaki dan bukan perempuan. 

Mengapa Bissu harus independen, karena ia berfungsi menghubungkan manusia dengan Tuhan. Kapan Bissu menjadi independen, ia akan menjadi partisan. 

Semua gender tersebut di berikan tempat dalam struktur Khusus di masyarakat Bugis makassar, yang di praktekkan selama ratusan tahun yang lalu. 

Kalau kita baca sejarah - sejarah di sulawesi selatan. Bagaimana perempuan - perempuan menjadi raja dan memimpin perang. Makanya, James Bruck saat datang Di Sulawesi Selatan tahun 1812, la kaget melihat perempuan bugis makassar keluar rumah tanpa meminta izin suami. Berkuda, memimpin perang. 

Perang paling dahsyat yang di hadapi belanda sampai mereka meminta bantuan ke batavia, yang di pimpin oleh seorang perempuan Bugis bernama Sultana Sitti Aisyah ummul Hadi Ilal Hadi - Raja Bone ke 22. 

Tetapi, konsep demokrasi barat dan Konsep demokrasi Sulawesi selatan berbeda. Konsep demokrasi barat sangat liberal - Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (Fox Populi Fox Dei). Kalau dalam La Galigo, di sebut "Solo mpawawoi dan Mangelleqpasang (air yang mengalir dari atas ke bwan dan air yang menghempas ke darat)". Pertautan antara suara dari atas dan dari bawah inilah yang di godok oleh dewan adat yang berfungsi sama dengan DPR. Dewan adat inilah yang mengeluarkan UU - Aturan. 

Selain itu, Dalam merumuskan aturan, juga di anut perbandingan Hukum yang tidak statis, melainkan dinamis. Makanya di anjurkan untuk berlayar, karena ia bisa menemukan sistem adat dan tradisi di tempat-tempat lain, serta hal itu memungkinkan untuk di adopsi, sepanjang hal itu memenuhi unsur - unsur keadilan. Setelah dia dapatkan Kearifan lainnya yang berbeda tersebut, di praktekkan dan di Ekspor lagi keluar. Seperti itulah cara Masyarakat bugis makassar menyebar kearifan Peradaban mereka. 

Betapa dalamnya apa yang tersirat dan tersurat di dalam La Galigo. 

Di dunia barat menganggap, pertama manusia di ciptakan, karena manusia adalah manifestasi dari Tuhan. Maka ia punya kebebasan berbicara. Lahirlah Etos Individualisme dan Liberalisme. Manusia di tempatkan di dunia untuk menjaga dunia sebagai representasi kekacauan. Itulah sebabnya, pertanyaan manusia dan alam atau manusia dan budaya selalu menjadi penting bagi budaya - budaya barat. 

Tetapi, dalam Penciptaan manusia dalam La Galigo, merupakan Produk dari langit dan Laut untuk mencri keseimbangan antara order dan Chaos dengan cara berlayar. Dari situ kita bisa temukan etos tentang lingkungan Hidup (Alam semesta) dan manusia bugis makassar menyadari betul posisi di dunia dan seperti apa cara dia memperlakukan alam semesta. 

Mengapa Masyarakat  Bugis makassar begitu demokratis dan hak - hak individu sudah di atur, bahkan memberi tempat kepada semua manusia tanpa memandang kelas sosial dan gendernya. Hal itu di kenal dengan terma : "pada idi, pada elo, sipatuo, sipatokkong" (Seiya, Sekata, Saling membantu, saling menguatkan). Secara individu, semua manusia punya kemauan. Namun, secara sosial manusia harus saling menghidupi dan saling memanusiakan.  

Secara Umum tiga tema besar dalam La Galigo adalah Demokrasi - keseimbangan antara suara raja dan suara Rakyat. Gender - keseimbangan antara semua jenis kelamin. Hak asasi manusia - keseimbangan antara hak individu dan solidaritas sosial. 

Semua hal itu baru di sahkan oleh PBB di tahun 1920. padahal, telah lama di tulis dan di praktekkan oleh masyarakat Bugis makassar di abad ke 7 - 11 M. 

Hubungan manusia dengan konteks sosialnya benar benar menjadi cikal bakal liberalisme dan nasionalisme, Thomas Hobbes dan Jhon locke adalah peletak kontrak sosialnya di barat. Bahwa manusia adalah mahkluk individu. Tetapi, tidak bisa setuju satu sama lain. Sehingga Butuh negara untuk mengarbitrase permasalahan diantara mereka. Lalu, memberikan kepada negara sedikit dari Hak individu mereka, supaya mereka semua bisa berada di dalam sistem yang stabil. 

Namun, ada pandangan Lokal yang menuntun bagaimana seharusnya manusia bernavigasi diantara sistem sosial dengan manusia manusia yang lain, Yaitu La Galigo. 

Salah satu Kearifan Masyarakat Bugis makassar adalah Pelaut. Ihwal itulah, masyarakat Bugis makassar secara otomatis sangat kosmopolit. Bertemu dengan banyak bangsa dan satu - satunya yang bisa menjaga keseimbangan tersebut dengan saling menghargai antara hak - hak individu dan hak -- hak sosial.  

La galigo sebenarnya di tulis bukan untuk di baca sebagai Individu seperti di barat. La Galigo di tulis untuk di abadikan yang berfungsi untuk di dendangkan di muka publik. Sebab, tidak semua masyarakat punya Naskah La Galigo. Makanya nilai yang terkandung di dalamnya Harus di sebar. Cara mendendangkan Gubahan - Gubahan di dalam La Galigo di sebut dengan "Ma sureq". Bayangkan saja 360 ribu bait. baitnya tidak tersusun seperti puisi. Setiap bait dalam La Galigo saling bersambung. 360 ribu bait inilah yang di kukuhkan oleh Unesco sebagai Memori of the world. 

Salah satu Penyalin La Galigo yang berisi 12 Jilid adalah "Retna Kencana Colliq Pujie" - Bangsawan Bugis yang berketurnan Melayu dari jalur Ibunya dan ayahnya adalah Raja Tanete. 

Dalam Struktur penulisan La Galigo mereka benar - benar telah memikirkan bagaimana caranya mempreservasi pengetahuan tersebut, karena di dendangkan. Sebenarnya tidak banyak Gubahan yang di dendangkan dengan Per-Lima suku kata. 

Mungkin tidak banyak di kebudayaan - kebudayaan timur tengah. Mungkin, seperti Song of solomon - Kidung agung. Hal itu juga berirama. 

Saya cuman mau bilang betapa tetua kita dahulu sangat dalam cara berpikirnya, bukan hanya menyampaikkan isi dari kata - kata di Kitab La Galigo. Tetapi, juga cara mempreservasi penyampaiannya. Sebab, sangat penting untik generasi selanjutnya untuk tahu isinya dan tidak lupa dengan cara mendengdangkannya.

Hanya dengan cara Mendendangka lah cara mensosialisasikan nilai - nilai kitab tersebut kepada masyarakat umum. Makanya, biasanya kalau anak raja menikah. Mereka mengundang "Pa sureq (Pendendang)" atau kalau ada yang mau pergi berlayar, ada tradisi "Ma Sureq" di pinggir laut atau kalau mau menanam padi, 1 hari 1 malam orang akan Ma sureq. 


**

Cara manusia memperlakukan alam, hari ini telah mendominasi isu - isu geopolitik, yang dalam waktu bersamaan mempengaruhi isu - isu domestik. Karena bumi ini untuk di pakai bersama - sama. Bagaimana orang menyikapi alam, sangat memiliki akar dengan kebudayaan. Dulu, Barat menganggap Indonesia adalah orang Oriental atau Alam kacau dan mereka (barat) adalah Manusia. Jadi kedatangan mereka ke indonesia untuk memberi ketaraturan agar tidak lagi mejadi buas. 

Karena ada perubahan paradigma, iklim dsb. Hal itu berbalik, bahwa alam itu di pandang sebagai perawan yang suci dan manusia itu seperti kangker atau orang jahat. Dunia ini telah berbalik. 

Ada satu episode tentang "Meong Paloe" bercerita tentang Petualangan Putri Batara Guru yang meninggal ketika Berusia 7 hari. Seminggu kemudian, Batara Guru dan Istrinya meninjau kuburannya. di kuburan tersebut tumbuh padi yang sangat banyak. Ternyata anak Batara Guru tersebut di takdirkan sebagai "Sangiang sri" (Pengaruh Hindu mulai masuk ke sulawesi Selatan sekalipun hanya sebatas istilah verbal) : Dewa padi - Simbolisme Kesuburan.

Memang di dalam petualangan dalam La Galigo, saat pertama kali ia meninggalkan kerajaan Luwu. Ia marah, karena orang Luwu hanya memakan sagu (Saat ini makanan paling populer di dunia, bernama Kapurung). 

Tersinggunglah Dewi Sangiang sri, karena mereka tidak makan padi. Akhirnya ia pergi ke enrekang. Tetapi, manusia sangat jahat karena kucingnya di pukuli. Akhirnya ia meninggalkan lagi tempat tersebut. Hampir semua kabupaten ia lewati, bukan berlayar seperti Tokoh - Tokoh La Galigo yang lainnya. Semua yang di lewati oleh Dewi Sri, mendeskripsikan Hubungan antara manusia dan alam. 

Mengapa Kucingnya Dewi Sri di pukul kepalanya saat mengambil ikan di soppeng, karena memang di soppeng tidak ada laut - Susah ikan. Begitu seterusnya sampai di Kabupaten Barru. Di situ ia di jamu dengan Ikan, di jamu dengan beras, masyarakatnya Ramah, tidak menaikkan harta di tengah malam - Mencuri.

Di kabupaten barru inilah ia mendapatkan semua yang dia inginkan. Tetapi, karena ia sudah terlalu lelah dari satu kampung ke kampung lain. Akhirnya ia raib ke langit melapor kepada kakeknya, " Saya sudah tidak mau hidup dunia. Karena manusia sudah tidak lagi memperlakukan alam dengan seimbang". Tetapi, kakeknya di langit mengatakan, "Engkau saya ciptkan memang untuk memberi kehidupan kepada manusia". 

Dewi Sangiang Sri memilih kabupaten barru sebagai daerah tempat menetapnya, Yang secara kebetulan di situlah lahir penyalin Kitab La Galigo tersebut. Di Barru memang secara Topografi alamnya mewakili : Ada Lautnya, ada Gunungnya, ada daratannya sebagai salah satu penghasil beras. Ternyata tokoh - tokoh dalam La Galigo hanya mau menetap kepada orang - orang yang mau menghargai alam. 

Ada makna tersirat sebenarnya, Bahwa manisfestasi dari alam di sebut dengan Dewi Sangiang sri - Sosok Feminisme. Kalau di komparatif kebudayaan Yunani, memang alam itu di representasikan sebagai Feminim atau Bumi Pertiwi - Perempuan. 

Tidak hanya itu, Respectnya tidak hanya kepada tumbuhan. Melainkan kepada binatang juga. 

Stunding poin dari narasi Meong Paloe diatas : Pertama Hubungan, antara sesama manusia. Hubungan manusia dan alam kedua, semacam penalti sosial - Tidak pantas dan tidak punya malu. 


**

Di dalam La galigo itu adalah sistem Nilai. Salah satu nilai yang di pegang orang bugis makassar adalah Siri' na Pacce (Kesadaran Emosional untuk menanamkan budi Pekerti yang sesuai tuntunan alami dan kodrat manusia sebagai ciptaan Tuhan). Filosofi tertinggi bagi manusia Bugis makassar adalah "siri" - Harga diri dan martabat. Kalau hal ini yang di sentuh memang bisa menimbulkan image negatif dan Bisa Fatal akibatnya. 

Pacce adalah solidaritas. Tetapi, solidaritas masyarakat Bugis makassar berbeda dengan apa yang kita pahami dari barat atau tempat lainnya. Pacce - solidaritasnya orang bugis makassar itu rela berkorban. Bahkan nyawanya sekalipun ia akan korban untuk melindungi sistem sosial yang dianut. 

Siri' Na Pacce memang adalah satu kesatuan yang tidak bisa di dikotomi. Dalam bisnis misalnya, memang sangat individualis. Karena mereka punya prinsip, " ma sili sure wa rampa wa ta (badan ini boleh bersaudara secara biologis. Tetapi, harta kita jangan bersaudara). Ihwal itulah mengapa Orang Bugis makassar sangat di kenal sebagai Saudagar. Tetapi, ketika "Pacce" bicara, jangankan harta, nyawapun bisa saya berikan. Harta yang di kumpulkan banyak, Dapat di distribusikan demi solidaritas tersebut.

Orang Bugis makassar itu senang sekali bersaing dan satu - satunya yang mengikat persaingan tersebut adalah solidaritas yang sangat tinggi. 

Begitu pun dengan konsep keadilannya berbeda dengan konsep keadilan yang di anut oleh barat. "Kalau terpaksa menempuh jalan kesulitan, beri di lawan seimbang".  Dalam La Galigo di sebut, "apabila engkau bertemu dengan musuh di tengah laut, maka palingkanlah perahumu tujuh kali ke kanan, tujuh kali ke kiri. Kalau sudah tidak ada jalan yang di berikan kepada perahumu. Barulah engkau menempuh jalan kesulitan. Tetapi, sekali menempuh jalan kesulitan. Maka, jangan pernah mundur selangkah pun". 

Inilah yang kerap membuat orang bugis makassar selalu nekat. Sebab, kalau sudah Siri'nya yang terganggu atau di ganggu. Nyawanya sekalipun akan dia korbankan. 

Menarik sekali sebenarnya, sebab ada semacama cara orang Bugis makassar mamahami individualisme dan solidaritas. Artinya kebebasan individu tidak tumbuh liar kemana - mana dan mencederai kesenjangan sosial, karena di pagari oleh solidarisme yang original sebagai cara mereka memaknai manusia yang lain. 

Selain itu misalnya, kalau bertemu musuh di laut. Hindrilah dulu untuk melihat ke kiri dan kanan. Kalau sudah mentok dan tidak ada jalan lain, maka harus di hadapi. Hal ini semacam stoicisme - sebuah mental pantang mundur menghadapi masalah, yang membuatnya punya karakter khas yang kita kenal dengan Keras. 

Dulu sebelum raja di lantik ada kontrak sosial. Hal inilah yang di maksud Prof Zainal Abidin mendahului barat. Kontrak sosial inilah yang di tuliskan secara formal dan di baca pada saat pelantikan raja secara turun temurun sampai tahun 1901. Jadi sulawesi selatan hanya 44 Tahun di jajah belanda, tidak seperti wilayah lainnya. 

Selain itu, waktu belanda berkuasa, kita jangan lupa bahwa mereka membuat UU yang salah satu pointnya adalah melarang perempuan mencampuri wilayah publik. Dari situlah perempuan - perempuan Bugis makassar mulai di domestifikasi. 

Di tahun 1928, kita sepakat menjadi indonesia - satu bahasa, satu wilayah. Yang berpuncak ketika 1945 yang menjadi satu bangsa dan menjadikan pancasila sebagai Dasar hukum tertinggi. 

Sayangnya, ketika semua rentetan ini terjadi dan berpuncak di Proklamasi, dengan 1000 lebih suku. Satu - satunya di dunia yang begitu banyak sukunya. Afganistan saja hanya 4 suku tapi perang terus. Sayangnya yang saya maksud adalah ketika kita menjadi Indonesia, kita berbondong - bondong meninggalkan rumah kecil kita (kearifan sebagai kekayaan Dan Khazanah yang sangat luar biasa).  

Berbeda dengan Jepang dan Korea, mereka punya kearifaan yang terus di konstruksikan kepada generasi ke dalam semua segmen kehidupannya. 

Sementara kearifan budaya kita di indonesia terputus, tidak di manej dengan baik saat kita menyatakan Untuk Bersatu sebagai sebuah bangsa?. Kita mengindonesia, tetapi kita tidak punya karakter, menjadi bangsa yang Inferior. Bahkan segala sesuatu yang datang dari barat kita kagun dan kita anggap kehebatan yang sangat luar biasa. 

Saya tidak menyalahkan indonesia. Tetapi, sistem kita tidak menyajikam keseimbangan untuk tetap mempertahankan kearifan kita menjadi Nilai yang menubuh dan menyejarah, sehingga menjadi sikap dan karakter yang menghiasi manusia indonesia. 

Misalnya kita ke daerah - daerah, Banyak sekali terpampang tulisan, mari berbahasa indonesia yang baik baik dan benar. Pernah kah ada keseimbangan yang meniscayakan atau Pamflet yang menyebutkan, "marilah menggubakan bahasa ibu dengan baik dan benar sekalipun itu di rumah saja". Tidak ada. 

makanya, Di perkirakan dari 1000 suku yang mendiami indonesia, setengahnya akan Punah. Kenapa di sebut 1000 suku, karena bahasanya berjumlah 1000. Apa indikatornya?. Semua ibu muda tidak ada lagi berbahasa Ibu kepada anak - anaknya. Jadi salah satu yang bertanggung jawab kehancuran peradaban bangsa ini adalah para Ibu.  

Kita mengindonesia, tetapi ketika kita tanya yang mana indonesia itu?. Hal itu yang di sebut Ben Anderson, bahwa sebenarnya Indonesia itu adalah Just Imajinations - hanya imajinasi. Mana ada indonesia, sebab ketika kita keluar, yang terkenal hanya Jawa, sunda, makassar, bugis, timur, minang, dsb. 

Kita ini memang kebablasan akibat Eforia kemerdekaan saat lepas dari penjajahan, sehingga melupakan bahwa Kita adalah indonesia. Sebab, tidak ada peristiwa sejarah se-Cermerlang indonesia yang mampu merangkum 1000 suku, bahasa dan wilayah yang begitu memukau seperti indonesia. Riak dan konflik itu ada, tetapi eskalasinya tidak separah yang terjadi di balkan, timur tengah, soviet, dsb.

Para petinggi bangsa kita ini mulai gelisah, melihat kebablasannya kebebsan yang melanda Generasi kita, sudah tidak ada sistem filter terhadap katakter dan perilakunya. Sehingga mereka berkeinginan untuk mengembalikan Pelajaran P4, seperti di zaman orba. Padahal, mereka - mereka yang telah mendapatkan penataran P4 di zama orba itulah semua para koruptor dan palukka. 

Artinya apa, penataran P4, hanya mengahsilkan manusia - manusia penghafal. Bukan manusia yang Original dalam laku dan sikap atau Semua Sumber nilai yang kita anut tidak menubuh dan menyejarah.

Lantas apa?. Kembalikan Pancasila ke rumah - rumah kecil orang indonesia. Orang Bugis makassar punya sistem nilai sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Orang Papua punya sistem nilai sendiri, orang sumatera punya sistem nilai. Oramg timur Punya sistem nilai sendiri, orang jawa, orang sunda, orang kalimantan dan sumatera punya sistem nilai Hidup sendiri. Jangan simpan semua sistem nilai hidup tersebut di jakarta, baru anda - anda semua mau menatar generasi sampai pelosok - pelosok. 

Anak - anak muda yang menggantikan generasi sebelumnya pun tidak memahami bahwa kekayaan terbesar kita adalah kita punya Rumah - rumah kecil yang lahir dari akar kebudayaan yang begiru kuat. 

Rumah kecil - Rumah Kecil Kita di Indonesia adalah Kekayaan yang tiada tandingannya di dunia dan Betapa Bangganya saya menolak semua Konsep Westernisasi.


SEKIAN...!


Makassar, 10 Mei 2025


*Rst

*Pejalan sunyi

*Nalar Pinggiran