Bayangkan dunia, dimana manusia tidak lagi terikat oleh keterbatasan fisik. Penyakit sudah menjadi sejarah, bahkan kematian pun dapat di tunda.
Dunia dimana kita - Homo sapiens bertransformasi menjadi Homo deus. Mahkluk setengah dewa yang mengendalikan takdirnya sendiri.
Kedengarannya seperti fiksi ilmiah. Tetapi, inilah masa depan yang bisa kita hadapi. Seperti yang di jelaskan Yuval Noah Harari, dalam Homo Deus - A brief History of Tomorrow. Buku ini adalah kelanjutan dari buku sebelumnya yang membahas tentang sejarah panjang ummat manusia - Sapiens (A brief History of Humankind).
Kalau dalam sapiens, Harari menelusuri Evolusi dan Pencapaian Sapiens, hingga menjadi spesies dominan di bumi. Maka, dalam Homo Deus, ia mengalihkan fokusnya ke masa depan.
Apa yang akan terjadi pada Homo sapiens Di masa depan. Khususnya ketika teknologi semakin berkembang pesat?.
Dunia saat ini sedang diambang perubahan yang sangat pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan Industri membawa kita ke sebuah era baru yang penuh dengan ketidakpastian. Harari menyebut era ini sebagai titik awal transisi menuju Homo Deus, yang secara Harfiah berarti manusia dewa. Terma ini mencerminkan harapan dan tantangan, ketika manusia tidak sekedar bertahan hidup. Tetapi, juga mulai mengendalikan hukum biologis, fisika dan alam.
Ketika Harari berbicara tentang masa depan manusia, ia memulai dengan menyebut 3 revolusi besar yang mendefenisikan perjalanan manusia, hingga sampai saat ini. Pertama, Revolusi Kognitif. Kedua, Revolusi pertanian. Ketiga, revolusi ilmiah.
Ketiga revolusi tersebut, telah merubah cara manusia berpikir, bertani dan memahami dunia. Namun saat ini, kita mungkin sedang berada di puncak revolusi yang jauh lebih besar. Dimana transhumanisme muncul sebagai sebuah konsep yang mewarnai percakapan global. Transhumanisme berfokus pada - bagaimana manusia dapat meningkatkan atau mengubah dirinya menggunakan teknologi. Seperti Rekayasa Genetika, Kecerdasan buatan (AI) dan Augmentasi Tubuh.
Revolusi pertama yang mengubah sejarah ummat manusia adalah revolusi kognitif. Yang terjadi sekitar 70 ribu tahun yang lalu. Pada periode ini, Homo sapiens mulai mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan lebih kompleks. Memungkinkan mereka berkerja sama dalam kelompok besar dan berbagi pengetahuan. Harari menjelaskan, bahwa kemampuan berkomonikasi ini tidak hanya kemampuan berbicara atau memberi perintah. Melainkan juga menciptakan dan mempercayai mitos kolektif. Mitos - mitos itulah yang memungkinkan manusia bersatu dalam komunitas besar. Mempercayai hal - hal abstrak seperti agama, uang atau hukum.
Mitos kolektif menjadi pondasi dari masyarakat modern, dan tanpa itu, manusia tidak mungkin mencapai dominasi global.
Revolusi kedua ialah revolusi pertanian yang terjadi sekitar 12 ribu tahun yang lalu, yang memungkinkan manusia untuk menetap dan mengembangkan peradaban. Manusia tidak lagi hanya berburu dan mengumpulkan makanan. tetapi, mengembangkan teknis pertanian yang menghasilkan makanan dalam jumlah besar.
Revolusi ini menciptakan dasar, bagi munculnya kota - kota, negara dan peradaban modern. Namun, Harari juga mengingatkan bahwa revolusi ini jug membawa dampak negatif bagi Homo Sapiens, seperti peningkatan kesenjangan sosial, penyakit dan perang.
Revolusi ketiga ialah revolusi ilmiah, yang di mulai sekitar 500 tahun lalu, yang memicu perubahan besar dalam cara manusia memandang dunia dan alam semesta. Penemuan - penemuan dalam sains, seperti teori Gravitasi Newton atau Teori Evolusi Darwin. Membuka jalan bagi kemajuan teknologi yang kita nikmati saat ini.
Teknologi modern, seperti Komputer, HP dan internet adalah Hasil lansung dari revolusi ilmiah ini.
Ilmu pengetahuan juga telah memungkinkan kita dalam memahami dan memanipulasi dunia dengan cara yang sebelumnya tak terpikirkan.
Masa depan yang di gambarkan Harari dalam Homo deus, berbeda dengan masa lalu. Di masa depan, Homo Sapiens tidak hanya menguasai Alam. Tetepi, juga mengendalikan proses biologis dan genetika mereka sendiri.
Transhumanisme adalah dimana manusia dapat meningkatkan kemampuan fisik, mental dan bahkan spiritual mereka, melalui teknologi. Hal ini, bukan lagi sekedar teori. Tetapi, mulai menjadi kenyataan, berkat kemajuan dalam bioteknologi, Neuro Teknologi dan kecerdasan buatan.
Salah satu Teknologi yang sering di sebut - sebut adalah Crisprer - Teknologi ini memungkinkan manusia melakukan pengeditan genetik. Artinya kita bisa mengubah DNA untuk mencegah penyakit atau bahkan meningkatkan kualitas hidup manusia.
Sebuah penelitian di Oxford of Universty menyebutkan bahwa manusia mungkin dapat mencapai usia yang jauh lebih panjang, bahkan mendekati usia tak terbatas, dengan bantuan teknologi kesehatan regeneratif.
Crisprer, misalnya sudah mulai di gunakan untuk mengedit Gen manusia guna memperbaiki cacat genetik dan mencegah penyakit keturunan. Namun, pertanyaan besar yang di tawarkan Harari adalah apakah dampak dari semua ini terhadap manusia?. Jika kita bisa mengendalikan evolusi kita sendiri : apakah kita masih bisa disebut manusia atau kita akan bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar manusia, yaitu Homo Deus?.
Ketika kita berbicara tentang keabadian dan teknologi semakin membawa manusia dengan tujuan tersebut. Ada pertanyaan yang muncul, apakah manusia siap menjadi Dewa?. Dalam Buku Homo Deus, Harari tidak hanya membahas kemungkinan - kemungkinan masa depan. Tetapi, mengajak kita berpikir lebih dalam, tentang implikasi moral dan etika yang mungkin timbul dari teknologi ini.
Sepanjang sejarah, Tujuan Homo sapiens selalu sama, yaitu mengatasi penderitaan, penyakit dan yang paling mendasar adalah Kematian. Dalam Upaya ini, manusia telah menciptakan agama, filosofi, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melawan batasan - batasan alamiah yang mereka hadapi.
Namun, di abad ke 21 ini dengan kemajuan Pesat bio enginering, nano teknologi dan AI. Manusia mungkin mencapai tujuan tersebut. Kecanggihan Teknologi ini, memunculkan pertanyaan mendasar : apakah keabadian akan menjadi berkah atau kutukan?. Seberapa jauh kita akan melangkah dalam upaya ini?. Siapa yang akan memiliki akses terhadap teknologi ini?. Dan bagaimana dampaknya kepada masyarakat?.
Harari memandang hal itu sebagai tantangan etika terbesar yang di hadapi umat manusia di era mendatang.
Coba kita bayangkan sebuah skenario yang menarik. Bayangkan seorang anak yang lahir di tahun 2100. Anak yang tidak hanya terbebas dari penyakit genetik. Tetapi juga dilengkapi dengan potensi hidup ratusan, bahkan ribuan tahun. Teknologi medis dan genetik memungkinkan kita untuk mengedit DNA mereka, mencegah penyakit, memperbaiki kecacatan dan bahkan memperlambat atau menghentikan proses Penuaan.
Sekilas ide ini terdengar seperti pencapaian manusia, sebuah pencapaian dalam peradaban yang mampu mengatasi batasan terbesar umat manusia, yaitu kematian. Namun Harari mengajak kita untuk merenung lebih dalam, jika kebadian di capai - apakah hal itu adalah berkah atau kutukan. Jika manusia tidak lagi menghadapi kematian sebagai akhir yang pasti, bagaimana hal itu akan mempengaruhi cara kita menjalani hidup.
Keabadiaan mungkin terdengar menakjubkan. Namun, banyak cerita fiksi ilmiah yang menggambarkannya sebagai kutukan. Seiring waktu, individu yang hidup tanpa batas waktu, mungkin kehilangan makna hidup mereka. Mungkin akan ada kejenuhan eksistensial, dimana setiap hari tidak lagi terasa bermakna, karena tidak ada ancaman kematian yang memaksa kita untuk menghargai hidup. Harari menyebut bahwa kematian sangat memberi arti bagi hidup. Karena dengan adanya batas, manusia dipaksa untuk menjalani hidup sepenuhnya. Jika kita menghilangkan batasan tersebut, mungkin kita akan mengalami krisis eksistensial yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sebagai tambahan, ada juga pertanyaan moral yang harus di jawab : Siapakah yang memiliki akses terhadap keabadian tersebut?. Apakah hanya orang kaya dan berpengaruh untuk membayar teknologi tersebut?. Jika demikian, kesenjangan manusia akan semakin melebar dalam menciptakan dua kelas manusia : mereka yang hidup selamanya dan mereka yang masih rentan terhadap penyakit dan kematian.
Hal ini adalah salah satu dilema terbesar yang akan kita hadapi. Harari mengingatkan, bahwa ketidaksetaraan yang di sebabkan oleh akses teknologi dapat memperburuk ketegangan sosial di seluruh dunia.
Jika keabadian menjadi mungkin, bagaimana kita memutuskan siapa yang bisa hidup selamanya dan siapa yang tidak?.
Dalam skenario ideal, semua orang memiliki akses yang sama dalam teknologi ini. Namun, kenyatannya Teknologi canggih hanya tersedia bagi mereka yang memiliki sumber daya. Dengan kata lain, bahwa keabadian hanya tersedia kepada segelintir mereka yang kaya.
Dalam pandangan Harari, hal ini adalah salah satu tantangan moral paling mendesak yang mesti di jawab.
Teknologi Bio Enginering, AI dan Nano Teknologi berpotensi merubah struktur masyarakat secara drastis. Jika akses terhadap keabadian di batasi oleh kekayaan dan status sosial. Maka ketidakadilan yang ada saat ini akan semakin mendalam.
Manusia yang tidak abadi, mungkin akan merasa terpinggirkan dan terdiksriminasi oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama. Hal ini mungkin akan menciptakan konflik sosial yang lebih besar dan mungkin menimbulkan pemberontakan terhadap sistem yang ada.
Kondisi ini membawa kita pada masalah lain, apakah masyarakat sudah siap secara sosial dan politik untuk menghadapi dampak keabadian?. Mungkin akan ada dampak besar dalam cara kita memandang pekerjaan, keluarga dan mungkin hubungan antar individu.
Jika kehidupan tidak memiliki batas waktu, bagaimana manusia dapat menemukan makna dalam hidup mereka?. Harari mengajukan pertanyaan ini sebagai bahagian dari refleksinya tentang masa depan, dimana eksistensi tanpa akhir, mungkin tidak seindah yang kita bayangkan.
Teknologi AI dan Peran Manusia di masa depan.
Selain keabadian, salah satu aspek lain yang sangat berpengaruh terhadap masa depan manusia adalah Kecerdasan buatan, yang memiliki banyak potensi menggantikan pekerjaan saat ini di lakukan manusia, Dengan otomasi yang semakin berkembang, Pekerjaan - pekerjaan tradisional yang membutuhkan keterampilan manual akan semakin berkurang. Misalnya, sudah ada robot - robot di pabrik yang menggantikan pekerjaan manusia seperti perakitan barang. Hal ini tentu, menimbulkan pertanyaan besar, jika AI menggantikan peran manusia, apa yang akan di lakukan manusia?.
Harari menggambarkan, kemungkinan munculnya kelas manusia yang tidak berguna, yaitu orang - orang yang tidak lagi memiliki peran ekonomi, karena pekerjaan mereka telah di ambil alih oleh AI. Kelas ini akan perlahan terpinggirkan dan teralienasi dalam struktur masyarakat.
Otomasi tidak hanya mengancam pekerjaan manual. Tetapi juga pekerjaan yang membutuhkan keterampilan kognitif, seperti analisis data atau Pekerjaan administratif.
Jika AI menggantikan pekerjaan - pekerjaan manusia, lantas apakah yang di lakukan manusia untuk tetap relevan. Artinya, AI juga dapat menimbulkan tantangan Etika besar.
Saat kecerdasan buatan semakin pintar dan dapat mengambil keputusan yang lebih kompleks. Lalu, siapakah yang akan bertanggung jawab atas kesalahan yang mungkin terjadi?. ketika AI melakukan kesalahan dalam tugas yang kritis, seperti diagnosis medis atau Pengelolaan lalu lintas. Siapa yang akan di salahkan?.
AI mungkin dapat mengambil semua Tugas manusia. Tetapi pertanyaan tentang Akuntabilitas dan tanggung jawab juga tak kalah pentingnya.
Sebagai contoh, mobil otonom sudah mulai di gunakan di beberapa negara. Mobil - mobil tersebut di kendalikan oleh AI dan tidak membutuhkan pengemudi manusia. Meskipun hal itu dapat mengurangi kecelakan yang di sebabkan oleh manusia. Ada potensi masalah etika disitu, ketika mobil otonom harus mengambil keputusan moral. Bayangkan saja, ketika mobil otonom harus memutuskam untuk menabrak pejalan kaki atau menghindari tabrakan dengan resiko melukai penumpang di dalam mobil.
Keputusan moral seperti itu adalah tantangan terbesar bagi pengembangan otomasi kecerdasan buatan yang lebih cerdas di masa depan.
Apakah Manusia siap menjadi Dewa?.
Dengan semua kemajuan teknologi tersebut, Harari menantang kita untuk bertanya : Apakah manusia siap benar - benar menjadi dewa?. Dalam pengertian Transhumanisme, manusia tidak lagi hanya berperaan sebagai spesies yang beradaptasi dengan lingkungan mereka. Tetapi, juga mengendalikan hukum biologis dan Fisika, yang mendefenisikan keberadaan kita. Namun, seperti yang Harari Tunjukkan, bahwa menjadi Dewa bukan hanya memiliki kekuatan. Tetapi juga memiliki tanggung jawab yang sangat besar.
Harari memperingatkan bahwa manusia tidak selalu siap menghadapi konsekuensi dari teknologi yang mereka ciptakan. Di masa depan kita mungkin menghadapi tantangan moral, etika dan eksistensial yang belum pernah kita hadapi sebelumnya .
Ketika kita memiliki teknologi yang dapat memperpanjang hidup kita, memanipulasi genetik dan menggantikan peran manusia dengan mesin : apakah kita masih bisa mempertahankan kemurnian identitas manusia?. Ataukah kita akan berubah lebih dari sekedar manusia?. Dan jika itu terjadi, apa yang akan terjadi dengan kemanusiaan itu sendiri?.
Dalam Homo Deus, Harari memaksa kita untuk memikirkan pertanyaan - pertanyaan tersebut dan merenungkan apa yang terjadi di masa depan. Teknologi membawa banyak potensi, tetapi juga membawa banyak resiko yang tidak boleh di abaikan.
Selain itu, Dalam Homo Deus, Yuval Noah Harari menyajikan pandangan yang sangat mendalam tentang peran AI dalam mengubah Landcape sosial dan ekonomi di dunia. Harari menyebutkan, bahwa AI tidak hanya mengubah cara kita bekerja. Tetapi, juga akan mengambil alih banyak pekrjaan yang saat ini di lakukan oleh manusia. Baik pekerjaan manual, maupun pekerjaan intelektual.
Otomasi yang di dorong oleh kecerdasan buatan akan menciptakan kelas sosial baru. Harari menyebutnya sebagai kelas manusia tidak berguna atau sekelompok manusia yang tidak lagi di perlukan dalam perekonomian, karena pekerjaan mereka telah di gantikan oleh mesin.
AI dan Transformasi dunia Kerja.
Pertanyaaan dan menjadi inti perdebatan ini adalah jika mesin dapat melakukan Pekerjaan lebih baik daripada manusia. Lantas, apa yang tersisa untuk kita?. Hal ini bukan lagi pertanyaan teoritis yang jauh di masa depan. Melainkan, kenyataan yang sudah mulai kita hadapi. Harari menjelaskan kemajuan AI dan Otomasi teknologi telah menciptakan perubahan yang sangat drastis di dunja kerja, menciptakan tantangan besar bagi jutaan pekerja, yang mungkin kehilangan pekerjaan mereka.
Kecerdasan buatan hari ini telah banyak merambah sektor industri - dari manufaktur, hingga layanan keuangan, kesehatan, bahkan hukum. Robot industri sudah mampu menggantikan pekerjaan manusia di pabrik - pabrik besar, melakukan tugas - tugas berulang dengan kecepatan dan akurasi yang jauh lebih tinggi.
Di sektor lain, algoritma cerdas dapat menganalisis data besar - Big data dan membuat keputusan, yang dulunya hanya bisa di lakukan oleh manusia yang berpengalaman. Misalnya, kecerdasan buatan dalam dunia medis kini dapat mendiagnosa penyakit berdasarkan hasil pemeriksaan medis dengan tingkat akurasi yang menyaingi, bahkan melampaui dokter manusia.
Studi dari Mckinsev Global Insitute memperkirakan bahwa pada tahun 2030, sekitar 375 juta Pekerja di seluruh dunia akan memerlukan pelatihan ulang atau harus beralih ke pekerjaan baru, karena otomasi. Perubahan ini tidak hanya akan mempengaruhi industri yang secara Tradisional masih mengandalkan pekerjaan fisik. Seperti manufaktur dan konstruksi. Serta pekerjaan - pekerjaan yang menggunakan keterampilan intelektual dan analitis.
Sebagai contoh, di sektor keuangan dan asuransi, AI dapat melakukan analisis resiko dan memberikan nasehat Investasi secara otomatis, yang sebelumnya merupakan tugas dari analis manusia.
Di bidang hukum, AI dapat Memproses dan menganalisis Berkas - berkas Hukum dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, ketimbang Pengacara Manusia.
Hal ini membuat Pekerjaan seperti, analisis, broker dan pengacara beresiko tergantikan oleh teknologi. Meskipun dampak ini tampak negatif. Tetapi ada juga potensi besar bagi perubahan positif.
Harari juga menyatakan bahwa Kemampuan AI dan Otomasi teknologi juga dapat menciptakan Pekerjaan baru yang sebelumnya kita belum bayangkan. Sebagaimana revolusi industri yang menciptakan pekerjaan - pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Demikian juga revolusi teknologi ini dapat menciptakan pekerjaan di sektor - sektor baru di masa depan. Misalnya, profesi yang berkaitan dengan pengembangan AI, Robotica, dan etika teknologi akan menjadi semakin penting.
Harari menyebutkan istilah kelas yang tidak berguna sebagai fenomena baru yang terjadi akibat Perubahan radikal ini. Kelas ini bukanlah orang - orang yang tidak mampu bekerja, melainkan mereka yang tidak lagi relevan dalam sistem ekonomi, karena pekerjaan mereka telah di gantikan oleh AI dan mesin.
Tantangan ini bukan hanya di aspek ekonomi. Tetapi, juga menjadi tantangan sosial dan psikologis. Ketika manusia kehilangan pekerjaan, manusia kerap kali merasa seperti kehilangan tujuan hidup, Yang dapat menimbulkan pada kesehatan mental dan kesejahteraan mereka. Namun Harari juga memberikan Perspektif yang lebih optimis. Dalam dunia yang semakin terotomasi, manusia dapat lebih fokus pada kegiatan kreatif dan pengembangan diri dan pencaharian makna hidup. Dengan lebih banyak waktu luang, karena tidak terikat oleh pekerjaan rutin. Manusia bisa lebih fokus pada inovasi, pembelajaran dan peningkatan kualitas hidup.
Dunia yang di dominasi oleh AI juga dapat membuka peluang bagi manusia untuk mengalihkan perhatian mereka dari pekerjaan yang melelahkan secara fisik dan mental ke aktivitas yang lebih bermakna dan produktif secara emosional.
Harari menyoroti, bahwa AI dan Otomasi Teknologi adalah masa depan yang tak terelakan. Meskipun tantangan yang di hadapi oleh pekerja manusia sangat besar, ada peluang dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik. Jika kita dapat mengatasi masalah etika, sosial yang menyertainya. Dengan mempersiapkan diri melalui pendidikan dan adaptasi. manusia tetap dapat menemukan cara untuk relevan dan bermakna di era AI.
Buku Homo Deus, mengingatkan kita bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang harus di takuti. Tetapi, sesuatu yang harus kita bentuk dengan bijak. Harari mengajak kita untuk memahami peran kita sebagai manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi ini dan mempertimbangkan bagaimana kita bisa menggunakan kecerdasan buatan sebagai alat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua orang.
**
Ekonomi dan Kekuasaan
Dalam Buku Homo Deus, Harari menyebutkan perubahan yang sangat mendalam mengenai sumber daya yang paling berharga di dunia. Jika di masa lalu, sumber daya yang paling berharga adalah Tanah dan Minyak sebagai kunci kekuasan dan kekayaan. Harari memperingatkan bahwa data adalah aset yang paling penting di masa depan.
Di era digital, data menjadi pusat di hampir semua interaksi sosial, ekonomi dan politik. Harari berargumen, bahwa perusahaan yang memiliki kendali atas data akan menjadi penguasa masa depan, menggantinkan para pemilik tanah dan pabrik di era sebelumnya.
Harari menggambarkan bagaimana pengendali kekuasaan berubah dari waktu ke waktu. Pada masa feodal, orang yang memiliki tanah adalah orang memiliki kekuasaan dan pemegang kontrol atas kehidupan orang lain. Pada saat itu, tanah adalah sumber paling penting, karena menjadi basis dari sumber pertanian, yang menyokong kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Lalu, pada era revolusi industri, hal paling penting adalah mereka memiliki pabrik dan industri-lah yang menjadi penguasa. Pabrik - pabrik tersebut menghasilkan barang - barang dalam skala yang lebih besar dan kepemilikan atas pabrik menjadi penentu utama atas kekayaan dan kekuasaan.
Namun, sekarang kita berada di era informasi, dimana data telah muncul sebagai sumber daya paling berharga. Harari menjelaskan, di masa depan mereka yang memiliki data akan menjadi penguasa. Pengaruh ini sudah bisa kita lihat dengan munculnya perusahaan -- perusahaan teknologi besar, seperti Google, FB, Tiktok, IG, amazon, apple, dsb.
Perusahan - perusahan tersebut mengendalikan data pribadi milyaran orang di seluruh dunia dan dengan itu mereka mendapatkan akses bagaimana orang berpikir, berperilaku, dan bahkan membuat keputusan. Contoh nyata dari fenomena ini dapat di lihat dalam algoritma personalisasi yang di gunakan oleh perusahaan teknologi menentukan. Algoritma ini mempelajari pengguna melalui data yang di kumpulkan. Seperti Riwayat Pencaharian, aktivitas medsos dan preferensi belanja. Dengan memanfaatkan data ini perusahaan mampu menargetkan iklan, menawarkan produk yang relevan dan bahkan mempengaruhi opini politik.
Salah satu yang menjadi alasan utama mengapa data menjadi begitu berharga, karena data dapat memberikan informasi berharga terhadap perilaku konsumen, Trand pasar dan pergerakan politik.
Di masa depan, kontrol atas sangat menentukan siapa yang memiliki kekuasaan atas ekonomi dan siapa yang tidak. Data memberikan kekuatan yang belum lernah ada sebelumnya, yaitu kemampuan untuk memprediksi, mengontrol dan memanipulasi perilaku manusia.
Banyak perusahaan berinvestasi besar - besaran dalam teknologi yang bisa mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis data dalam jumlah yang sangat besar. Big data memungkinkan perusahaan untuk melakukan analisis prediktif, yang berarti mereka dapat memprediksi perilaku konsumen dan trand pasar sebelum terjadi. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif yang sangat besar. Dengan adanya Big data, mereka dapat melihat kebiasaan dan preferensi konsumen.
Selain kekuasaan ekonomi Harari juga memperingatkan bahwa data juga akan menjadi alat kekuasaan politik yang sangat kuat. Karena kemampuannya mengumpulkan dan menganalisis data dalam jumlah yang sangat besar. Pemerintah dan perusahaan teknologi besar dapat mempengaruhi opini publik, hasil pemilu dan bahkan kebijakan pemerintah.
Harari berpendapat bahwa di masa depan pemerintah mungkin tidak kagi bergantung pada pemungutan suara untuk mengetahui keinginan rakyatnya. Sebaliknga mereka bisa menggunakan data untuk memahami, apa yang di inginkan rakyat, tanpa perlu mengadakan pemilu.
Hal ini membuka pengawasan massal bagi pemerintah dan perusahaan teknologi.
Dalam banyak hal data adalah kekuatan. Dengan mengumpulkan data pribadi dalam setiap aspek kehidupan individu, pemerintah dan perusahaan dapat mengontrol perilaku masyarakat dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Harari mengutip Tiongkok, bagaimana negara sudah mulai menggunakan data untuk mengontrol perilaku warganya. Di tiongkok, pemerintah sudah menerapkan sistem skor credit sosial, dimana setiap warga negara di beri skor berdasarkan perilaku mereka. Skor ini dapat menentukan apakah seseorang layak mendapatkan pinjaman, mendapatkan pekerjaan atau bahkan bepergian ke luar negeri. Kontrol sosial melalui data tersebut, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh data terhadap kehidupan individu di masa depan.
Dengan kekuasan besar yang datang dengan penguasaan data. Muncul juga pertanyaan ktiris tentang privasi dan hak individu - Seberapa besar data yang boleh di kumpulkan tentang seseorang dan siapa yang harus memiliki kendali atas data tersebut?.
Di dunia yang semakin terkoneksi, dimana hampir semua yang kita lakukan dapat di lacak melalui perangkat digital, pribadi menjadi komoditas yang langka. Di negara - negara demokratis, perlindungan data pribadi menjadi salah satu isu paling penting untuk di bicarakan, apalagi berkaitan dengan masa depan ekonomi data.
Banyak aktivis HAM berpendapat bahwa kebebasan individu terancam oleh pengumpulan data yang massif oleh pemerintah dan perusahaa teknologi. Edwadrs Noden adalah salah satu Figur yang memperingatkan dunia tentang bahayanya penguasan massal oleh pemerintah. Setelah dia membocorkan informasi tentang program pengawasan rahasia yang di jalankan oleh pemerintah amerika serikat.
Perlombaan untuk menguasai data sudah di mulai. Perusahaan-perusahaan teknologi besar sedang berusaha keras untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data di berbagai penjuru dunia.
Dalam Homo deus, Harari tidak hanya berbicara tentang teknologi canngih seperti super Intelegency - kecerdasan buatan yang melampaui kecerdasan manusia. Tetapi juga menyentuh kepada arti keberadaan manusia di tengah perubahan yang di bawah oleh kecerdasan buatan.
Harari mengajak kita merenungkan apakah manusia masih memiliki arti dan tujuan atau tidak, jika kecerdasan buatan dapat mengambil alih sebahagian besar aspek pengambilan keputusan ?. Apakah kita tetap merasa bermakna ataukah tersingkirkan oleh kecerdasan buatan yang semakin tinggi?.
Super Intelegency bukanlah konsep Fiksi ilmiah semata. Melainkan sebuah fenomena yang semakin tampak nyata. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, kemungkinan besar akan ada saat dimana algoritma dan kecerdasan buatan mampu mengambil keputusan yang lebih baik, cepat dan akurat daripada manusia dalam berbagai aspek kehidupan - Mulai dari ekonomi, politik, bahkan sampai kepada kehidupan pribadi kita.
Salah satu stunding point yang di tekankan, bahwa ketika kita menyerahkan kekuatan pengambilan keputusan pada algoritma, kita mungkin akan kehilangan kemampuan untuk memaknai hidup dengan cara kita saat ini.
Dalam banyak hal, manusia di defenisikan oleh pilihan-pilihan yang mereka buat. Dari keputusan besar tentang karir, hubungan dan hal - hal kecil seperti apa yang kita makan atau aktivitas apa yang kita akan lakoni di waktu senggang. Pilihan ini memberikan rasa kontrol dan makna dalam hidup kita. Namun, di era super intelegency, AI akan mampu membuat keputusan yang lebih rasional, efisien dan lebih tepat daripada manusia.
Misalnya, algoritma dapat memutuskan investasi terbaik, karir yang menguntungkan atau bahkan pasangan hidup yang paling kompatibel untuk kita.
Meskipun semua itu terdengar lebih menggoda, karen menjanjikan kehidupan lebih nyaman dan lebih sedikit kesalahan. Tetapi, konsekuensi eksistensialnya, yaitu apakah hidup kita masih bermakna jika kita tidak lagi membuat keputusan besar itu sendiri? Ataukah jika kecerdasan buatan mengendalikan sebahagian besar aspek kehidupan kita, apakah kita masih memiliki kendali atas nasib kita sendiri?.
Di masa lalu, salah satu sumber makna manusia dalam hidup adalah perasaan mengendalikan takdir mereka sendiri. Kehadiran super Inlegency, mungkin kita akan semakin bergantung pada keputusan yang di ambil oleh alforitma cerdas, yang secara perlahan mengikis kemampuan kita untuk membuat keputusan secara mandiri.
Contoh nyata yang nungkin telah kita alami, bagaimana Platform medsos menggunakan algoritma untuk memutuskan konten apa yang kita lihat. Kita mungkin berpikir, kita memilih apa yang kita baca atau tonton. Tatapi kenyatannya algoritma di balik layar telah membuat keputusan itu untuk kita. Mereka menganalisis preferensi dan apa yang kita sukai.
Netflix menggunakan algoritma canggih untuk memprediksi acara atau filem apa yang kemungkinan besar kita sukai berdasarkan riwayat tontonan kita. Di satu sisi, hal ini memudahkan dan menghemat waktu dalam mencari hiburan yang sesuai dengan selera kita. Tetapi, disisi lain hal ini juga membatasi kebebasan kita untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru atau membuat pilihan - pilihan yang berbeda dari yang di harapkan dari algoritma.
Jika kita menyerahkan seluruhnya kepada kecerdasan buatan, maka kita berpotensi kehilangan Kedalaman emosional dan pengalaman eksistensial terhadap hidup kita sebagai manusia.
Semua ini bukan hanya tentang teknologi. Tetapi, Apakah Esensi menjadi manusia : jika kita menjadi dewa, apakah kita akan tetap menjadi manusia atau kita justru kehilangan jati diri sebagai manusia?.
Sekian...!
Makassar, 05/05/2025
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar