Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Kamis, 16 Maret 2023

LIFE IS BEATIFUL ; CITIZEN JOURNALISME



Dalam Filem Life is Beatiful memberikan pelajaran historis bahwa dalam sejarah panjang ummat manusia. Selalu ada komunitas yang terpinggirkan. Dan selalu ada satu atau dua tokoh yang berperan sebagai pemusnah atau Yang ingin memusnahkan komunitas itu.

Komunitas disini, mungkin saja adalah kumpulan individu. Mungkin juga suatu ideologi, aliran atau ajaran Normatif agama.

Filem ini mendapat penghargaan dari cannes Festival dan juga oscar. Filem ini diambil dari kisah nyata dengan setting penceritaan gerakan anti Yahudi yang dilakukan NAZI. Guido Orifice dan Putranya Joshua termasuk dibawah ke kamp konsentrasi. Guido ingin puteranya memandang hidup dengan cara terindah walau dalam situasi apapun. Guido menunjukkan kepada anaknya bahwa hidup ini indah, tergantung bagaimana cara kita memandangnya.

Kehidupan dalam kamp yang menyedihkan dan mengerikan terasa menyenangkan bagi Joshua, karena hal itu tidak lebih dari permainan.

Sungguh kisah yang menyedihkan ditengah teror yang bernama Nazi dengan penjaga Ruhnya adalah Hitler. Filem ini menggambarkan, bagaimana sebuah komunitas (Yahudi) menjadi korban, bagaimana ganasnya sebuah ideologi Fasisme atau Rasisme Ultra. Guido dan anaknya, bukan siapa-siapa. Tapi, bagi Hitler mereka salah memilih Takdir. Mereka berasal dari komunitas Yahudi, dan sebagaimana doktrin dalam ideologi Fasisme " mereka pantas dan sudah seharusnya dimusnahkan, karena pemusnahan itu harus dituntaskan".

Filem ini, sama juga dengan Filem-Filem lainnya, seumpama; "Schlinder list". Kembali memperlihatkan kepada sejarah tentang peran besar seorang orator ulung. Pribadi menakutkan sekaligus menarik, Hitler. 

Hitler, lengkapnya adalah Adolf Hitler, lahir diBranau-Austria 1889. Waktu PD-1 (1914-1918), Hitler muda masuk angkatan perang jerman. Kekalahan jerman membuatnya terpukul. Tidak berselang lama, ia bergabung dipartai kecil berhalauan kanan diMunich. Yang pada akhirnya partai ini berubah nama menjadi partai buruh nasional jerman (Nazi).

Dalam tempo 2 tahun, ia kemudian menjadi pemimpin jerman yang sungguh sulit ditemukan tandingannya kala itu. Julukannya adalah Fuehrer setidaknya memperlihatkan kedigdayaan Hitler ini. Setelah gagal melakukan kudeta dengan nama The Munich beer Hall puts dan melalui politik yang dinamis, akhirnya pada bulan januari Tahun 1933, ia menjadi kanselir jerman. Dan mulailah Hitler menjalankan politik kepemimpinannya, bahwa " Matahari" tidak boleh dua dan musuh harus dituntaskan. Oposisi dilabraknya tanpa proses pengadilan. Musuh politiknya dihabisi dan kemudian ia menciptakan kestabilan politik, karena ditangannya terpegang kekuatan kedigdayaan absolut. Rakyat jerman waktu mendukungnya, karena kestabilan politik berkorelasi dengan kestabilan peningkatan ekonomi yang dirasakan rakyat jerman kala itu.

Nafsu "De Fuehrer"nya tak terbendung, tahun 1936 ia mencaplok Austria dan ini berarti Hitler mengangkangi perjanjian Versailles. Hitler tidak bergeming. Ini diperlihatkan dengan pencaplokan negara lain, Cekoslovakia. Tahun 1940 menjadi tahun emas hitler. Denmark dan Luxemburg dilabraknya. Belanda, prancis dan belgia bertekuk lutut ditahun itu juga. Sebuah prestasi yang mengejutkan dan membuat banyak orang terhenyak. Negara-negara utama di eropa kala itu masih dalam genggaman Hitler. Hanya inggris yang bertahan dan mati-matian terhadap serangan udara Jerman yang dikenal dengan Battle Britain. Hitler tak mampu menjajakan kakinya diinggris, tahun 1942 Hitler telah sanggup menguasai sebahagian daerah dieropa tanpa sanggup dilakukan oleh siapapun dalam sejarah. Menariknya, bukan hanya Eropa, ia juga mencaplok Afrika Utara.

Selama berkuasa, Hitler terlibat pembunuhan massal yang tidak ada tandingannya dalam sejarah panjang ummat manusia. Mungkin hanya Kaisar " Nero" saja yang hampir mendekati kebringasan putra petani diAustria ini. Hitler sangat Rasialis yang ultra. Terlebih kebenciannya pada Komunitas Yahudi yang meletup-letup. 

Dalam Filem Schilder List, bagaimana kebenciannya diselipkan dengan sebuah Ideologi; kehancuran ekonomi jerman dan orang yang bertanggung jawab atas kelaparan orang jerman adalah orang Yahudi.

Mereka merampas peluang kerja kita. Sebagai bangsa Aria, Ras paling Unggul didunia. Tentunya kita tidak mau dihina dengan Ras paling rendah dan telah membuat kita menjadi melarat dan menderita yaitu Ras bangsa Yahudi. Untuk memenuhi ambisi kebencian ini, dibuatlah kamp-kamp konsentrasi sebagaimana yang terlihat dalam Filem ini.

Sejarah kemudian mencatat, lebih kurang 6 ribu juta manusia dibunuh, mayoritas Yahudi selain rusia, gypsi sebagai Ras-ras rendah dan orang yang dianggapnya berpotensi membuat kerusakan "ummat manusia" seperti orang gila dan idiot. Hitler membangun kamp-kamp maut dengan basis organisasi yang rapi dan cermat, seakan-akan ia sedang membangun perusahaan bisnis besar. Data-data tersusun dengan Rapi, jumlah ditetapkan dan mayat-mayat dipreteli anggota badannya yang berharga seperti cincin atau gigi emas. Bahkan banyak mayat yang dimanfaatkan menjadi sabun.

Namun, perbuatan melawan hakikat kemanusiaan dan kebenaran yang tersusun secara baik dan sistematis dan didukung oleh banyak orang, pada gilirannyaakan menuai kehancuran. sejarah mencatat, Fir'aun yang kuat sekalipun hancur lebur dilaut merah. Dan Hitler pada musim semi tahun 1945 bersama Eva Braun (pacarnya), bunuh diri dikamp pertahanannya diberlin. Tujuh hari kemudian, jerman menyerah.

Hingga hari ini, kebencian hitler masih tetap terjaga disebahagian benak kita, orang-orang sekeliling kita. Kita acapkali mengutuk seseorang karena "Takdir" mereka harus dikutuk.

Terkadang kita juga tidak bisa membedakan mana Yahudi, mana ZionisMe dan Mana Bani Israel.

Apakah Hitler masih Hidup?.

Wallahu a'lam.


Makassar, 19 September 2019


*Pena Koesam
*Rst
*Nalar Pinggiran

ONE DAY ONE JUZ MASIH KALAH YANG INI

 

Ramadhan memang selalu jadi wasilah yang dianjurkan untuk mengkhatamkan Al Qur'an. Sekalipun amalan-amalan sunnah lainnya pun menjadi pilihan. 

Berapa banyak mendaras al Qur'an semalam, apakah satu Juz sehari atau lebih dari itu?.

Ibnu Katsir dalam kita Mukaddimahnya menjelaskan. "satu hal yang luar biasa yang di riwayatkan oleh Abu Ubaid dari Sa'id bin ufair dari bakr bin mudhr bahwa sulaiman bin itr' mengkhatamkan Al Qur'an 3 kali dalam semalam dan juga bersenggama dengan Istrinya 3 kali di malam yang sama.

Ketika meninggal, Istrinya berkata : semoga Allah merahkmatimu, sebab engkau telah melayani Tuhan dengan baik dan memuaskan keluargamu".

Istrinya ditanya, bagaimana maksudnya itu?. Istrinya menjawab : dia sholat malam kemudian mengkhatamkan Al Qur'an dan menjimak Istrinya, lantas mandi. kemudian mengkhatamkan al Qur'an lagi, setelahnya menjimak istrinya, terus mandi. Setelah itu, untuk ketiga kalinya mengkhatamkan Al Qur'an, menjimak istrinya, mandi dan berangkat sholat subuh.

Aku (Ibnu Katsir) berkata : sungguh Sulaiman Bin Itr adalah seorang Tabi'in yang mulia, terpercaya dan mulia. dia pernah menjabat sebagai Hakim di mesir pada masa Mua'wiyah.

Abu Hatim mengatakan dari Abu Darda, dan darinya ibnu zahr. di kabarkan kepadaku dari ka'ab bin Al-Qomah yang berkata Sulaiman Ibn Itr adalah salah satu Tabi'in terbaik.


*Pustaka Hayat
*Pena Koesam
*Nalar Pinggiran

RADEN RARA NIKE RANADILLAH KUSNADI



Parasnya ayu, khas Perempuan Sunda. Kak Nike Tipikal perempuan pemalu dan sedikit Cadel. 

Saya Yakin, Teteh Orang Baik, selain tenar. Sebab setiap Tahun, banyak orang-orang yang berbondong untuk merapal doa diatas pusaramu.

Sengaja diposting, setelah berbuka. Agar tak mengurangi kadar dan kualitas puasa saat memandangi lamat-lamat paras tetah yang manis. Mungkin karena saya telah lama tertawan dengan yang manis, bukan yang cantik. He he he.

Teteh Keke, sapaan karibnya , Si Manis tanpa pemanis buatan : Glowwing, Alis, Gincu, make up, dsb. Yang justru merusak orisinalitas paras yang Alami.

Saya punya beberapa Koleksi lagunya yang diIringi Gitaris Bang Pay Burman (Ex Gitaris Slank), dan memang Diantara semua Lagunya, Bang Pay lah yang paling banyak mengisi lead gitar Tetah keke, sekalipun Dewa Bujana, Dewa Gitar Indonesia (Ian Antono), Mus Mujiono dan Joe Wings (dewa Gitar Malaysia) pun pernah mengisi lead gitarnya. Tetapi saya tetap ngefans pada Pay, mungkin karena alasan, Ia alumni Potlot yang masih Slengean.

Jauh sebelum Teteh Nike Terkenal bersama debutnya dengan Deddy dores, sebenrnya Ia sudah digadang-gadang menjadi penerus Lady Rock Indonesia (Nike Astria), dengan Nama Nike Astriana, sehingga diawal-awal, ia menginjakkan kaki di Ibu kota, diusia 12 tahun, Teteh Nike telah Masuk dapur rekaman dengan 1 Album lagu yang tidak pernah dikomersilkan bahkan mungkin jarang didengarkan.

Apapun itu, Memang Teteh Nike, Asli Manis, Tanpa pemanis buatan. Bagi saya salah satu bentuk kesyukuran terhadap Ciptaan adalah dengan tidak mempermak hasil ciptaan-asli yang orisinil.

Semoga Allah, melapangkan Kubur tetah Nike dan kelak bisa berjumpa adik ais serta Menjadikan Ia salah satu dari sekian Bidadari.


*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

PPKM LEVEL AYAM GEPREK ; CITIZEN JOURNALISME


Pemerintah kita ini mau menangani wabah atau mau pesan ayam geprek?. 

Level apapun itu, selama pemerintahan ini dikelola dengan tidak Jujur dan masih ada Ummat yang Wafat akibat wabah. Maka, Kalian telah gagal.

Jangan Merubah-rubah istilah, hanya untuk menghindari tangung jawab pada rakyat, sementara penanganan wabah ini tetap sama, sejak awal wabah ini muncul di Wuhan. 

Kata Einstein "Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda". 

Tak Tahukah kita bahwa Satu dari sekian ciri pemimpin Dzolim adalah memaksakan Kehendaknya. Sebagimana fir'aun dan Namrud.

Padahal, untuk agama yang jelas-jelas tidak hanya menjadi radar bagi dunia, tetapi sekaligus menjadi bekal untuk akhirat. Itu saja, Allah Masih memberikan Alternatif (pilihan) pada Manusia ;" La Iqro haa Fid Din".  

Lalu, untuk apa gagasan demokrasi, jika semua aturan yang keluar dari corong istana dan pemimpin-pemimpin bangsa ini adalah memaksa. Bukankah Demokrasi meniscayakan adanya alternatif bagi manusia. 

Heii, Tuan dan Puan ; Jangan sepelekan bunyi yang tercipta dari piring dan sendok yang nyaris kosong. Keberanian bisa datang dari perut yang kosong.  Kelak, kebijakanmu akan ditawur rakyat yang nekat.

Siapapun itu, waktu tidak akan berhenti untuknya; dengan alasan apapun. Yang kecil akan tumbuh, yang kuat akan melemah, yang tertindas akan menang, dan yang dzalim akan dimintai pertanggungjawaban.

Buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, belajar agama kemana-mana. Jika tindakan kita di dikte oleh orang bodoh. Mestinya kita hanya di dikte oleh Allah SWT, bukan di dikte oleh Hukum sosial. Sebab, selama ini kita hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita. 

Itulah sebabnya, Kata Gus Baha : " Yang haram dalam Islam, tidak hanya Riba. Bodoh Juga. 

Semoga bangsa ini lekas bebas dari wabah, juga para pemimpin yang tidak kompeten.  Aamiin Ya Mujibassailin🤲

**

Virusnya datang dari luar, kita begitu remeh membuka layanan penerbangan internasional. setelah masuk dan rakyat terjangkit secara masif, mereka jual vaksin ke kita dengan setengah memaksa. Lalu, Hasil penjualan vaksin, Rakyat sama sekali tidak ikut menikmatinya. tapi, deritanya kita ikut tanggung. 

Vaksin yang tidak mujarab 100% itu dipakai jadi prasyarat untuk beberapa hal. padahal stoknya juga kadang terbatas dibeberapa daerah. 

Nasib punya pemimpin yang lemah, dipilih dengan biaya triliunan. Rakyat terus jadi objek pemerasan dan penindasan bangsa-bangsa besar. 

Bayangkan, Jika ada tenaga medis kita atau para penyintas yang hampir setiap hari berbusa mulutnya menjelaskan kepada rakyat soal bahayanya virus ini. Tapi, rakyat tetap terbelah, itu terjadi dari struktur paling atas hingga ke akar rumput. 

Pagi tadi mama saya Marah selepas Menonton berita, Tentang "perkelahian" tenaga medis di RS dan seorang Ibu ; Katanya keluarga ibu ini adalah pasien struk yang tidak pernah keluar rumah, pas ke RS divonis Covid. 

Realitas seperti di atas sudah masif sampai ke rakyat paling bawah, siapa yang bertanggung jawab?.  Sementara jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal akibat Covid juga TDK sepenuhnya bukan data palsu. 

Ini masalahnya apa?. Menurutku, Itu karena pemimpin kita hilang kepercayaan. 

Untuk urusan hidup dan mati rakyat, negara masih gunakan gerombolan buzzer untuk memproduksi isu yang membelah rakyat. Kenapa setakut itu mengajak rakyat berbicara?. HTI bubar, FPI bubar, HRS dan pengikutnya masuk penjara. Prabowo-sandi masuk kabinet. Harusnya kita sudah aman, sudah selesai dengan isu-isu tdk produktif. 

Ayolah, Bangsa ini harus bersatu melawan wabah, Agustus ini momentumnya, bubarkan para buzzer istana, aparat jangan lindungi yang sudah terjerat hukum. InsyaAllah bangsa ini kuat. Kita bangsa petarung, sekian abad bertahan dari penderitaan. Bahkan lebih sadis dari hari ini.

Kita harus jujur, yang paling menderita dari wabah ini adalah tenaga medis, yang setiap hari harus berjibaku dgn semua orang dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pemahaman. Sudah begitu kadang belum dibayar intensifnya oleh negara. Padahal taruhan mereka juga bukan murah. Ini soal Nyawa.


*Rst

*Pejalan sunyi

*Nalar Pinggiran

CELOTEH CAMAR TOLOL ; CITIZEN JOURNALISME

 

Bupati dan Wakil Bupati Alor, jangan Takut. Biarkan PDIP Memecat Bapak. Sebab, Bapak Bukan Bupati PDIP. Bapak adalah Bupati Masyarakat Alor. Bapak Adalah Bupatinya Rakyat bumi Seribu Moko.

Bapak, Jangan takut. Sebab, Jauh lebih baik seribu kali bapak di pecat sebagai kader Parpol karena menegakkan UU. Ketimbang tetap menjadi kader Parpol, tetapi terbukti melakukan penyalahgunaan Wewenang.

Kemarahan bapak, yang di anggap banyak khalayak sangat tidak beretika dan tidak mencerminkan wibawa seorang pejabat publik. Halooo, standar etika di Republik ini, seperti apa?. Ukuran Cerminan Wibawa seorang Pejabat publik itu dimana?. Tolong dijawab ini.

Etiskah seorang pejabat menyalahgunakan Wewenang yang telah di atur di dalam UU. Silahkan Bentangkan sendiri "UU MD3", di situ bisa lihat, seperti apa tupoksi DPRD (Legislatif). Berwibawakah seorang pejabat publik, jika terbukti mengangkangi Amanat UU MD3.

Di dalam UU MD3, sudah jelas. Bahwa DPRD tidak Punya wewenang dan berhak membagikan Bansos Presiden dan Mensos. Itu anda-anda yang punya etika, menganggapnya seperti apa?.

Amanat UU MD3 memerintahkan, bahwa  yang berwenang dan berhak membagikan bansos adalah eksekutif atau pemerintah daerah, melalui satgas penanganan bencana Seroja, yang dikoordinir oleh BPBD.

Jika kita sudah paham alurnya, maka kita bisa Mendeteksi Seperti apa Marahnya seorang pejabat publik yang di anggap tidak terkontrol tersebut. Ini soal harga diri sebagai seorang kepala daerah yang di lucuti, tepat di depan matanya. Lalu, hal itu di nilai tidak memenuhi kualifikasi etika komunikasi?. (Di bawah saya akan uraikkan)

Mensos RI itu sudah sering bekerja Out Of The Box. Dulu, dia pernah berjanji membuat program rumah gratis di Jakarta. Padahal, Kemensos tidak punya program Rumah Gratis. Cuman Mensos RI yang pernah panjat tembok di kawasan kumuh Jakarta, mencari Tuna wisma. Cuman Mensos yang kerap bekerja out Of the box.

Di Postingan Senior saya, sekitar Januari, kalau saya tidak salah ingat, bahwa KPK mengabarkan, ada 16,7 juta penerima Bansos tanpa NIK. Media merangkumnya menjadi Bansos fiktif. Melayang kemana bansos-Bansos itu?. Kalau di hitung-hitung, ada sekitar Rp.5,010 triliun yang melayang percuma dan blusukan kemana-mana tanpa ujung pangkal. Tak tepat sasaran.

Siapa yang tahu, kalau Bansos fiktif itu, ternyata melayang-layang percuma ke Pilkada 2020. Ini cuman asas praduga. Pun Kalau benar adanya, nasi sudah jadi bubur.

Asal kita tau saja, Korupsi Bansos itu sudah mendekati Rp. 10 triliun. Lalu, kini ada bansos fiktif yang nilainya Rp. 5 triliunan. Mau dbilang ajaib, tapi nyata.

Jadi standar moralitas kita sekarang adalah Tidak masalah korupsi, asal berwibawa. Tidak jadi soal menyalahi wewenang, asal Beretika. Fuiihhh.

Di sinilah Misnya ; Kenapa ketua DPRD menerima bansos bencana tidak melapor ke bupati?. Siapa yang tanda tangan berita acara bansos tersebut?. Ketua DPRD?. Harusnya ini urusan pemkab Alor?. Mengapa petugas kemensos sebelum dilabrak bupati tidak melapor bahwa yang diterima ketua DPRD itu bansos bencana seroja, bukan PKH. Kenapa diam?.

Ini Hal sepele. tetapi ini soal tatakrama, adab dan etika ketimuran. Kan tadi bicara soal etika kan.

**

sebagai bahan pertimbangan pemikiran untuk kita, mari kita sejenak membuka cakrawala tengkorak kepala kita untuk menelaah beberapa diksi yang dianggap tak pantas. misal, Diksi 'Ja***k' di Jawa sudah tidak lagi di terjemahkan sebagai Makian, bahkan Sujiwo Tejo menjadikannya sebagai frasa nyanyian yang biasa-biasa saja.

Sama seperti, beberapa diksi yang di anggap makian Di Sulawesi, sudah di anggap biasa dan tabu. Bahkan, di pakai sebagai sapaan akrab. Dulu, ada pejabat publik di Makassar sering menggunakan Terma yang dianggap memaki kepada orang yang dianggapnya sangat akrab secara emosional.

Atau dalam struktur Kultural tata bahasa di sulawesi, semarah apapun Orang Bone. Intonasi dan Cara bicaranya tetap sama, tidak ada yang berubah secara signifikan. Hal itu yang membuat kita, termasuk saya tidak tahan untuk tidak baper, kalau Nona Bone yang jadi lawan bicara ☺️. Struktur kultural ini, mirip dengan Orang Sunda di Jabar sana. Siapa yang tidak tau, bagiamana mendayu-dayunya orang Sunda jika bicara. Duhaii...

Tetapi, Coba kita ke arah selatan sulawesi. Saat mereka marah dalam bicara atau bicara biasa. Pasti berbeda, sama dengan karakter bicara orang timur. kalau di jawa, hal itu bisa kita temukan dalam struktur bicaranya orang Madura, pasti berbeda dengan orang Malang. Di Sumatera, kita bisa dengar pada Orang Batak. Tetapi, saya lebih sering tertawan dengan Nona-nona di Selatan Sulawesi 😊.

Itulah sebanya, saya sangat menghindari memberikan ukuran atau standar etis dan tidak etis pada cara bicara orang. Sebab, kita bisa celaka dalam berpikir, tidak variabel baku untuk mengukur cara bicara, gerak tubuh dan simbol-simbol kultural orang. jika kita mengukur etis dan tidak etisnya seseorang, berdasarkan apa yang dia ucapkan. Maka, bagaimana cara mengukur etika komunikasi orang timur dengan paradigma Kultur orang Sunda. Atau bagaimana cara kita menilai etika komunikasi orang betawi, dengan struktur budaya Orang Jogya. Pasti terjadi bias paradigma, jika di paksakan untuk mengukur entitas kultural yang beragam ini. Etis dan tidak etis itu niscaya di ukur secara keseluruhan, ia adalah rangkaian yang menyatu.

Kalau memang kita hendak menginterpretasi sikap dan cara bicara Bupati AJ. Tetapi, pointnya kan bukan di situ. Jangan mengaburkan fakta penyalahgunaan wewenang dengan Asumsi yang sifatnya sangat relatif.

Sikap dan cara bicara AJ, Itu relativitas kultural. Saya kasih contoh lagi, Kata T**o di Alor itu beda interpretasinya dengan T**o di Makassar. Kalau orang Makassar bicara dengan menggunakan diksi T**o Dengan lawan bicara orang Alor, pasti tersinggung. Karena T**o di alor dianggap makian, sedangkan di makassar tidak. Tanya saja kawan-kawan yang kuliah di Makassar, saat pertama kali mendengar diksi itu di ucapkan di Makassar. Pasti mereka kaget.

Jadi, soal cara bicara dan lainnya, itu pengaruh Kultural. Tergantung kita melihatnya dari sudut pandang apa?.

Pointnya adalah, memang Ibu Risma dan Ibu Eny Anggrek salah secara prosedural. Kalau asumsi pembelaannya di media, " tidak ada satupun yang bisa di hubungi saat badai seroja melipir ke Alor". Lalu, kenapa bisa menghubungi Ketua DPRD Alor. Kenapa bisa menyalurkan Bantuan ke kabupaten lain, yang justru jauh lebih parah dampaknya. Atau jangan-jangan Bupati Alor tidak punya HP. 

Bagaimana AJ tidak marah, kalau Penyalurannya bansosnya salah kamar. Sebab, implikasi Bansos yang salah kamar, bisa di duga, di gunakan untuk mendongkrak populisme dan elektabilitas parpol.

Kesalahan mengelola negara seperti ini, yang bikin negara ini rusak. Tidak tau kelola negara.

Saya tidak punya tendensi apapun dengan Bupati Alor, bahkan saya pernah melayangkan surat terbuka atas perbuatan tidak menyenangkannya kepada tetua di kampung saya, di lereng Alila sana.

Tetapi, sebagai orang kultur, yang memilih hidup di pinggiran, dengan laku dan sikap cinta dan mencoba menebar cinta ke sesama, jujur saya sangat menyanyangkan dan sedih mendengar pilihan diksi seorang yang terdidik, seumpama Bupati yang berkomunikasi kepada manusia. emosinya telah membuat otaknya kehabisan kosa kata yang friendly.

Sekalipun pilihan diksi tersebut terdengar biasa-biasa saja bagi telinga timur. Tetapi, Bapak sedang berbicara dengan lawan bicara yang struktur kulturalnya tidak bisa mendengar intonasi keras.

Terakhir : PDIP juga, jangan terlalu lebay lah. Sebab, Konsituen di Alor itu, basis PDIP. Kalkulasi matematisnya jelas. Bupati dan Ketua DPRD nya kader PDIP. Mustahil PDIP menjadi parpol penguasa jika tak ada representasi NTT sebagai basis Ril PDIP. Sekalipun, konsituen Indonesia Timur bergabung, belum bisa mengalahkan Konsituen Jawa timur, apalagi Jawa barat sebagai konsituen terbanyak di indonesia.

Uraian diatas adalah satu dari sekian sudut pandang pinggiran, cara berpikir yang melompati Mainstream. Bisa di uraikkan lebih telanjang sambil ngopi-ngopi, soal etis dan tidak dalam segmen kultural. 

**

JANGAN MARAH DENGAN MEMAKI DI PUBLIK, PAK BUPATI 

Beredar Video berdurasi Kurang lebih 3 menit, tampak Bupati Alor Marah,  bahkan Beberapa diksi yang Terlontar sangat tidak Friendly sebagai seorang Kepala daerah, pejabat publik.

Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi memiliki beragam hasil audit. Jenis-jenis produk tersebut membedakan BPK dengan Badan Pengawasan Keuangan Daerah (BPKAD).

BPK bersifat independen sedangkan BPKAD di bawah pemprov. Dalam menjalanklan tugasnya, produk BPK adalah opini atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Dalam laporan tersebut terdapat empat peringkat penilaian, Antara lain ; 
1. wajar tanpa pengecualian (WTP),
2. wajar dengan pengecualian (WDP), 
3. Adverse (tidak wajar), dan
4. Disclaimer atau tidak memberikan pendapat karena adanya pembatasan proses audit yang dilakukan oleh pihak teraudit.

Jika Penilaian WTP diberikan BPK berarti ada kesesuaian antara anggaran dan pembelanjaan. Jika Penilaian yang masuk WDP, berarti ada kewajaran antara anggaran dengan pembelanjaan namun dengan pengecualian. Jika penilaian yang masuk dalam kategori adverse, adalah ketika tidak ada kesesuaian antara anggaran daerah dengan belanja. Dalam hal ini, tentu saja penilaian BPK bisa menduga adanya pelanggaran dalam pembelanjaan anggaran. Sedangkan yang dimaksud disclaimer adalah ketika auditor mendapat pembatasan dari pihak yang diaudit. Termasuk tindakan menghalang-halangi petugas atau mempersulit auditor dalam melakukan pekerjaan mereka.

Jika Bupati Alor, Amon Djobo Mengamuk dan Menyerapahi bawahannya Bahkan meminta BPK memberikan Disclaimer Pada Kabupaten Alor. Tentu logis jika publik bertanya apa dalilnya, sebab BPK sendiri dalam mengaudit berdasarkan Hasil dari Laporan keungan pemerintah daerah, yang notabennya meruoaka Bagian Integral dari Pemerintah Kabupatan.

BPK sendiri merupakan Lembaga yang bebas dan mandiri, yang berfungsi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Berdasarkan perubahan ketiga UUD 1945, Bab VIIIA BPK Pasal 23E. Bahkan Secara rinci dalam UU Nomor 15 Tahun 2006 disebutkan, BPK bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara lain, Bank Indonesia (BI), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Layanan Umum (BLU), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara.

Adapun cakupan Pemeriksaan BPK adalah pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

Dalam prosesnya, hasil pemeriksaan keuangan negara tersebut akan diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai kewenangannya. Setelah itu, barulah hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan atau badan sesuai dengan UU.

BPK Tidak seperti KPK yang hanya boleh berada di ibu kota negara, BPK memiliki perwakilan di setiap provinsi.

Apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur pidana, BPK melaporkan hal itu kepada instansi terkait sesuai dengan ketentuan perundang-undangan paling lama satu bulan sejak diketahui adanya unsur pidana tersebut.

Laporan BPK dapat dijadikan dasar penyidikan oleh pejabat penyidik yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

BPKAD bertugas membantu Bupati melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan di bidang keuangan yang menjadi kewenangan daerah. Jika mereka di marahi, di maki-maki maka Secara Otomatis Bapak sedang memaki kinerja Bapak yang belum Maksimal.



*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

DIRGAHAYU TNI ; CITIZEN JOURNALISME


Di awal tahun 2000, pakar Komunikasi Politik, Kang Jalaluddin Rahmat pernah menulis  artikel di sebuah harian nasional. Tentang "trauma psikologis" yang berhubungan dengan militerisme. 

Kang Djalal menulis, "Di sebuah tempat di pedalaman Aceh, ketika DOM (Daerah Operasi Militer) masih diberlakukan. Ada sebuah gubuk terpencil yang dihuni satu keluarga. Mereka adalah sebuah keluarga yang mengungsi ke tengah hutan karena tidak sanggup menghadapi konflik bersenjata antara GAM Vs TNI. Kedamaian seakan-akan menjadi barang luks. Ketakutan selalu menghantui mereka. 

Malam itu mereka berkumpul, makan malam bersama, sambil berbincang - bercanda. Suasana terasa hangat-lepas penuh kekeluargaan. Tetiba terdengar suara ketukan pintu. Suasana riang berubah menjadi muram. Dari raut mukanya, terlihat sang ayah sangat takut. Disuruh lah salah satu diantara anaknya untuk melihat dan membukakan pintu. 

Si anak kemudian pergi ke arah pintu, sebagaimana yang diminta oleh ayahnya, dengan raut muka yang juga takut. Sementara sang ayah dan anggota keluarga lainnya menanti dengan harap-harap cemas. 

Beberapa saat kemudian, si anak yang disuruh membukakan pintu tadi mendatangi ayahnya, masih dengan raut muka takut.  Sang ayah bertanya, “siapa yang mengetuk pintu tadi?”.  Si anak menjawab, “Malaikat maut, yah. Ia ingin bertemu dengan ayah !”. 

Spontan si ayah ini menjawab, “Alhamdulillah, saya kira tadi yang datang tentara”. 

Penggalan tulisan Kang Jalal di atas menunjukkan kepada kita sebuah ketakutan dengan simbol-simbol riil militerisme - "tentara".  

Tapi janganlah terlebih dahulu kita berburuk sangka. Militerisme bukanlah (mutlak) suatu keadaan dimana pemerintahan dipimpin oleh para perwira militer seperti militer di Myanmar dan negara-negara "sejenis". Tentara jadi representasi kekuasaan politik dihampir semua lini vertikal masyarakat.  Bukan itu. 

Militerisme lebih kepada kondisi sosial dan kejiwaan masyarakat. Ini bisa dijumpai dalam masyarakat yang dipimpin oleh sipil sekalipun. Apatah lagi bila dipimpin kalangan militer, seumpama masa Orde Baru, dulu. 

Tiga tahun yang lalu, ketika saya merekan percakapan seorang ayah dan Anaknya, yang tengah jalan-jalan. Mereka berjumpa dengan seorang anak muda. Berpakaian tentara Angkatan Darat. Sang anak secara spontan memanggilnya, "Hallo .... Pak Tara !", sambil melambaikan tangan kanannya. Anak muda, seumuran saya ini tersenyum sambil melambaikan tangannya pula pada Si anak Gadis.

Sang anak Gadis sumringah sambil berkata pada ayahnya, "ramah pak tara itu. ya, Ayah ?. Dulu, katanya sang anak gadis tersebut pernah diajak foto bareng dengan pak tara yang lain. Diajak bincang-bincang. Mereka sangat baik sekali !". 

Saya tersenyum. Kenangan saya pergi ke masa-masa silam. Ketika membaca beberapa kisah anak seusia anak Gadis tersebut. Ketika kekuasaan Orde Baru yang militeristik tersebut sedang kuat-kuatnya. Ada dua sosok yang kerap di takuti dan kebanyakan orang menakutinya bila berjumpa, yaitu tentara dan hantu. Sosok pertama riil-empirik, sedangkan yang kedua tak pernah berjumpa tapi mengendap baik dalam benak. 

Tentara (termasuk poliisi)  bagi orang yang hidup masa itu, sangat "menakutkan". Bila perlu, tak usah berjumpa. 

senior-senior Saya pernah "Hampir kencing celana" ketika dihardik tentara (Garnisum) hanya karena sudah larut, masih nongkrong di depan Lorong. Memang waktu itu, dalam kondisi mabuk. Padahal hardikannya biasa-biasa saja. Lebih keras hardikan guru atau ayah mereka, Katanya Padaku. 

Jangankan melihat ataupun berdekatan, mendengar nama tentara saja, saya langsung terkulai. Ibarat kerupuk kena air. 

Beruntunglah generasi Kita, hidup di zaman ini.

Selamat HUT TNI, untuk Kalian saya menitip dua pesan yang dulu di sampaikan Soekarno dan Jendral Sudirman. Soekarno menyatakannya dengan Silogisme yang sangat mencerahkan ; " saudara-Saudar Tentara, Kalian adalah alatnya negara. Dan negara adalah alatnya Rakyat. Jadi, Kalian adalah Alatnya alat". 

"Pemimpin negara boleh berganti, kabinet pun boleh berganti tiga bulan sekali. Namun, tentara tetap berjuang terus bersama rakyat sampai kemerdekaan tercapai 100%. Lebih baik diatoom sama sekali daripada tak merdeka 100%.” -Jenderal Soedirman.


*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Punggiran

TSAR YANG BERTINDAK SEPERTI WALIKOTA - CITIZEN JOURNALISME


Lima tahun lalu, kepada William Taubman, yang menuliskan biografinya, "Gorbachev: His Life and Times (Hidup dan waktunya)" (2017), Gorby—panggilan akrab Mikhail Gorbachev—dengan terus terang mengakui kelemahannya. "A czar must conduct himself like a czar. And that I don’t know how to do (Seorang Tsar harus berperilaku seperti seorang tsar. Dan aku tidak tahu bagaimana melakukannya)".

Pengakuan pemimpin terakhir Uni Soviet tersebut memberi kita penjelasan gamblang kenapa negara adidaya tersebut, yang merupakan eksperimen terbesar sistem komunisme pertama di dunia, ternyata bisa ambruk begitu mudah tak lama sesudah merayakan hari ulang tahunnya yang ketujuh puluh (1991). Seorang pemimpin lemah, yang tidak tahu cara menggunakan kekuasaannya, merupakan penyebabnya. Tak heran, meski tiap tahun rutin memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Gorby, Vladirim Putin secara terus terang menyebut pendahulunya tersebut sebagai penggerak “bencana geopolitik terbesar” abad ke-20.

Sebagai pemimpin, Gorby memang telah membuat kekeliruan besar ketika mengira bahwa demokrasi bisa disulap atau diimpor begitu saja. Dia mengira transformasi politik dan ekonomi bisa dilakukan sekadar dengan mengubah prosedurnya. Padahal, sebuah negara totaliter bisa saja beralih menyelenggarakan pemilihan umum, namun hal itu tidak otomatis menghadirkan demokrasi.

Seandainya Gorbachev mau belajar kepada Deng Xiao Ping, mungkin sejarah Soviet bisa ditulis dengan cerita lain. Sebagaimana halnya Gorby, Deng Xiao Ping juga berusaha menyelamatkan Cina dengan jalan pemurtadan dari ajaran komunisme. Meniru keberhasilan Lee Kuan Yew membangun Singapura. sejak 1979 Deng Xiao Ping dan PKC (Partai Komunis Cina) melakukan reformasi pasar, serta membuka pintu terhadap investasi asing dan munculnya entrepreneur dalam negeri. Meskipun demikian, seluruh industri strategis tetap dikuasai oleh negara.

Sesudah reformasi tahap pertama tersebut berhasil, sejak akhir dekade 1980-an Cina kemudian melangkah pada reformasi tahap kedua, yaitu mencoba memperluas privatisasi, melonggarkan monopoli, serta memberi tempat yang lebih luas kepada sektor swasta.

Namun, berbeda dengan Gorby yang mengusung reformasi ekonomi dan politik sekaligus, Deng Xiao Ping melakukan reformasi ekonomi dengan tetap memegang kuat tali politik. Hasilnya, sesudah satu dasawarsa melakukan reformasi, perekonomian Cina melaju pesat.

Apa yang dilakukan Deng Xiao Ping di Cina pada akhir tahun 1970-an itu sebenarnya mirip dengan apa yang dilakukan Soeharto di Indonesia pada akhir dekade 1960-an. Mewarisi kebangkrutan ekonomi sepanjang periode Demokrasi Terpimpin Soekarno, Soeharto memilih untuk membuka keran ekonomi lebar-lebar sembari mengontrol politik secara ketat. 

Kembali kepada Gorby, ketika menjual jargon "demokratizatsiya", pemimpin Soviet yang banyak disanjung oleh dunia Barat itu sebenarnya tak sedang benar-benar mengkampanyekan demokrasi. Jargon itu, jika kita periksa ulang, sebenarnya lebih merupakan taktik politiknya saja untuk menjauhkan kekuasaan kepresidenan yang tengah dipegangnya dari intervensi PKUS (Partai Komunis Uni Soviet), yang bukan merupakan rahasia lagi, sebenarnya tak terlalu menyukainya. 

Belajar dari kesalahan Gorby, seorang Tsar memang harus berperilaku laiknya seorang Tsar, bukan seperti walikota, apalagi kepala desa. Sungguh celaka jika kita memberikan kekuasaan kepada seseorang yang tidak punya kapasitas bagaimana mempergunakannya. 

-Makassar, 16 September 2022-

*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

POEISI 3

Saat aku tua nanti

aku ingin menikmati hujan dari bilik perpustakaan 

sembari ditemani rindu pada anak cucu, 

dan ubi rebus buatanmu

Aku ingin menua seperti buku-bukuku

yang telah kau rawat dengan penuh hormat

dan selalu kau jamah dengan ramah

Sebab, hanya seorang terdidik

Yang bisa memperlakukan buku dengan benar

ujarmu, suatu kali kepadaku

Saat kau ikut menua bersamaku

aku ingin kau tahu

meskipun krim tubuhmu telah diganti balsem

dan parfumu telah berbau minyak kayu putih

kasihku padamu tak pernah letih

Sembari menikmati hujan dari bilik perpustakaan

kita akan berbincang tentang masa lalu

Juga tentang encok dan nyeri sendi

ditemani sebotol minyak angin dan secangkir kopi


Makassar, 28 November 2017


*Pena koesam
* Nalar Pinggiran

POEISI 1

Lentera ini akan tetap menyala

Andai tak kau tiup, sayang

Kerlipnya akan berpijar

Membunuh gelap dan diam

Mengapa kerlip itu kau biarkan

Kalau nantinya kau tiup

Mengapa harus kau tiup pula

Kalau kau mabuk pijarnya?

Biarkan dia berpijar, sayang

Agar hidupmu merona terang


*Pena Koesam

*Nalar Pinggiran


SEANDAINYA - POEISI 4

Seandainya kau adalah buku, aku ingin kau segera dicetak ulang, sesudah aku melewatkan edisi pertamamu. 

Seandainya kau adalah buku, aku ingin menyelamimu dengan seksama, mengejamu dengan mataku, hingga kantuk menjemput, dan kau terpelanting dalam pelukku. 

Seandainya kau adalah buku, izinkan aku menjunting edisi keduamu, agar bisa kuperbaiki sedjumlah kesalahan pada edisi pertamamu.

Seandainya kau adalah buku, tak perlu lagi ku memberitahumu, sebesar apa aku bisa mencintaimu. 

Seandainya kau adalah buku, aku tak perlu kacamata dan lampu menyala untuk membacamu. 

Seandainya kau adalah buku, maka aku akan selalu bisa menemukanmu, meski entah kapan. 

Seandainya kau adalah buku, hari ini aku ingin membakarmu. 

Seandainya, engkau tahu ; Debu yang melekat di buku itu seperti rindu, gampang bikin sesak paru-paru.

Seandainya engkau Tahu ; Sendirian, aku dan engkau adalah buku yang kesepian. Bersamamu, kita bisa menjadi perpustakaan.

Demikianlah, Mencintai Buku, sama dengan Memeluk Dunia. Mencintai perempuan yang mencintai buku. maka, sama dengan memeluk dunia dan seisinya. Perempuan dan buku kerap sama, dalam menciptakan jatuh cinta. 

Tetapi, Diantara 1000 yang baru, hanya ada satu Perempuan yang mencintai Buku. 

Itupun sudah ada yang punya.


Makassar, 28 Desember 2016


*Pena Koesam

*Nalar Pinggiran