Kamis, 16 Maret 2023
LIFE IS BEATIFUL ; CITIZEN JOURNALISME
ONE DAY ONE JUZ MASIH KALAH YANG INI
RADEN RARA NIKE RANADILLAH KUSNADI
PPKM LEVEL AYAM GEPREK ; CITIZEN JOURNALISME
Pemerintah kita ini mau menangani wabah atau mau pesan ayam geprek?.
Level apapun itu, selama pemerintahan ini dikelola dengan tidak Jujur dan masih ada Ummat yang Wafat akibat wabah. Maka, Kalian telah gagal.
Jangan Merubah-rubah istilah, hanya untuk menghindari tangung jawab pada rakyat, sementara penanganan wabah ini tetap sama, sejak awal wabah ini muncul di Wuhan.
Kata Einstein "Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda".
Tak Tahukah kita bahwa Satu dari sekian ciri pemimpin Dzolim adalah memaksakan Kehendaknya. Sebagimana fir'aun dan Namrud.
Padahal, untuk agama yang jelas-jelas tidak hanya menjadi radar bagi dunia, tetapi sekaligus menjadi bekal untuk akhirat. Itu saja, Allah Masih memberikan Alternatif (pilihan) pada Manusia ;" La Iqro haa Fid Din".
Lalu, untuk apa gagasan demokrasi, jika semua aturan yang keluar dari corong istana dan pemimpin-pemimpin bangsa ini adalah memaksa. Bukankah Demokrasi meniscayakan adanya alternatif bagi manusia.
Heii, Tuan dan Puan ; Jangan sepelekan bunyi yang tercipta dari piring dan sendok yang nyaris kosong. Keberanian bisa datang dari perut yang kosong. Kelak, kebijakanmu akan ditawur rakyat yang nekat.
Siapapun itu, waktu tidak akan berhenti untuknya; dengan alasan apapun. Yang kecil akan tumbuh, yang kuat akan melemah, yang tertindas akan menang, dan yang dzalim akan dimintai pertanggungjawaban.
Buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, belajar agama kemana-mana. Jika tindakan kita di dikte oleh orang bodoh. Mestinya kita hanya di dikte oleh Allah SWT, bukan di dikte oleh Hukum sosial. Sebab, selama ini kita hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita.
Itulah sebabnya, Kata Gus Baha : " Yang haram dalam Islam, tidak hanya Riba. Bodoh Juga.
Semoga bangsa ini lekas bebas dari wabah, juga para pemimpin yang tidak kompeten. Aamiin Ya Mujibassailinš¤²
**
Virusnya datang dari luar, kita begitu remeh membuka layanan penerbangan internasional. setelah masuk dan rakyat terjangkit secara masif, mereka jual vaksin ke kita dengan setengah memaksa. Lalu, Hasil penjualan vaksin, Rakyat sama sekali tidak ikut menikmatinya. tapi, deritanya kita ikut tanggung.
Vaksin yang tidak mujarab 100% itu dipakai jadi prasyarat untuk beberapa hal. padahal stoknya juga kadang terbatas dibeberapa daerah.
Nasib punya pemimpin yang lemah, dipilih dengan biaya triliunan. Rakyat terus jadi objek pemerasan dan penindasan bangsa-bangsa besar.
Bayangkan, Jika ada tenaga medis kita atau para penyintas yang hampir setiap hari berbusa mulutnya menjelaskan kepada rakyat soal bahayanya virus ini. Tapi, rakyat tetap terbelah, itu terjadi dari struktur paling atas hingga ke akar rumput.
Pagi tadi mama saya Marah selepas Menonton berita, Tentang "perkelahian" tenaga medis di RS dan seorang Ibu ; Katanya keluarga ibu ini adalah pasien struk yang tidak pernah keluar rumah, pas ke RS divonis Covid.
Realitas seperti di atas sudah masif sampai ke rakyat paling bawah, siapa yang bertanggung jawab?. Sementara jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal akibat Covid juga TDK sepenuhnya bukan data palsu.
Ini masalahnya apa?. Menurutku, Itu karena pemimpin kita hilang kepercayaan.
Untuk urusan hidup dan mati rakyat, negara masih gunakan gerombolan buzzer untuk memproduksi isu yang membelah rakyat. Kenapa setakut itu mengajak rakyat berbicara?. HTI bubar, FPI bubar, HRS dan pengikutnya masuk penjara. Prabowo-sandi masuk kabinet. Harusnya kita sudah aman, sudah selesai dengan isu-isu tdk produktif.
Ayolah, Bangsa ini harus bersatu melawan wabah, Agustus ini momentumnya, bubarkan para buzzer istana, aparat jangan lindungi yang sudah terjerat hukum. InsyaAllah bangsa ini kuat. Kita bangsa petarung, sekian abad bertahan dari penderitaan. Bahkan lebih sadis dari hari ini.
Kita harus jujur, yang paling menderita dari wabah ini adalah tenaga medis, yang setiap hari harus berjibaku dgn semua orang dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pemahaman. Sudah begitu kadang belum dibayar intensifnya oleh negara. Padahal taruhan mereka juga bukan murah. Ini soal Nyawa.
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran
CELOTEH CAMAR TOLOL ; CITIZEN JOURNALISME
Beredar Video berdurasi Kurang lebih 3 menit, tampak Bupati Alor Marah, bahkan Beberapa diksi yang Terlontar sangat tidak Friendly sebagai seorang Kepala daerah, pejabat publik.
Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi memiliki beragam hasil audit. Jenis-jenis produk tersebut membedakan BPK dengan Badan Pengawasan Keuangan Daerah (BPKAD).
BPK bersifat independen sedangkan BPKAD di bawah pemprov. Dalam menjalanklan tugasnya, produk BPK adalah opini atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Dalam laporan tersebut terdapat empat peringkat penilaian, Antara lain ;
Jika Penilaian WTP diberikan BPK berarti ada kesesuaian antara anggaran dan pembelanjaan. Jika Penilaian yang masuk WDP, berarti ada kewajaran antara anggaran dengan pembelanjaan namun dengan pengecualian. Jika penilaian yang masuk dalam kategori adverse, adalah ketika tidak ada kesesuaian antara anggaran daerah dengan belanja. Dalam hal ini, tentu saja penilaian BPK bisa menduga adanya pelanggaran dalam pembelanjaan anggaran. Sedangkan yang dimaksud disclaimer adalah ketika auditor mendapat pembatasan dari pihak yang diaudit. Termasuk tindakan menghalang-halangi petugas atau mempersulit auditor dalam melakukan pekerjaan mereka.
Jika Bupati Alor, Amon Djobo Mengamuk dan Menyerapahi bawahannya Bahkan meminta BPK memberikan Disclaimer Pada Kabupaten Alor. Tentu logis jika publik bertanya apa dalilnya, sebab BPK sendiri dalam mengaudit berdasarkan Hasil dari Laporan keungan pemerintah daerah, yang notabennya meruoaka Bagian Integral dari Pemerintah Kabupatan.
BPK sendiri merupakan Lembaga yang bebas dan mandiri, yang berfungsi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Berdasarkan perubahan ketiga UUD 1945, Bab VIIIA BPK Pasal 23E. Bahkan Secara rinci dalam UU Nomor 15 Tahun 2006 disebutkan, BPK bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara lain, Bank Indonesia (BI), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Layanan Umum (BLU), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara.
Adapun cakupan Pemeriksaan BPK adalah pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Dalam prosesnya, hasil pemeriksaan keuangan negara tersebut akan diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai kewenangannya. Setelah itu, barulah hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan atau badan sesuai dengan UU.
BPK Tidak seperti KPK yang hanya boleh berada di ibu kota negara, BPK memiliki perwakilan di setiap provinsi.
Apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur pidana, BPK melaporkan hal itu kepada instansi terkait sesuai dengan ketentuan perundang-undangan paling lama satu bulan sejak diketahui adanya unsur pidana tersebut.
Laporan BPK dapat dijadikan dasar penyidikan oleh pejabat penyidik yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
BPKAD bertugas membantu Bupati melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan di bidang keuangan yang menjadi kewenangan daerah. Jika mereka di marahi, di maki-maki maka Secara Otomatis Bapak sedang memaki kinerja Bapak yang belum Maksimal.
DIRGAHAYU TNI ; CITIZEN JOURNALISME
TSAR YANG BERTINDAK SEPERTI WALIKOTA - CITIZEN JOURNALISME
POEISI 3
Saat aku tua nanti
aku ingin menikmati hujan dari bilik perpustakaan
sembari ditemani rindu pada anak cucu,
dan ubi rebus buatanmu
Aku ingin menua seperti buku-bukuku
yang telah kau rawat dengan penuh hormat
dan selalu kau jamah dengan ramah
Sebab, hanya seorang terdidik
Yang bisa memperlakukan buku dengan benar
ujarmu, suatu kali kepadaku
Saat kau ikut menua bersamaku
aku ingin kau tahu
meskipun krim tubuhmu telah diganti balsem
dan parfumu telah berbau minyak kayu putih
kasihku padamu tak pernah letih
Sembari menikmati hujan dari bilik perpustakaan
kita akan berbincang tentang masa lalu
Juga tentang encok dan nyeri sendi
ditemani sebotol minyak angin dan secangkir kopi
POEISI 1
Lentera ini akan tetap menyala
Andai tak kau tiup, sayang
Kerlipnya akan berpijar
Membunuh gelap dan diam
Mengapa kerlip itu kau biarkan
Kalau nantinya kau tiup
Mengapa harus kau tiup pula
Kalau kau mabuk pijarnya?
Biarkan dia berpijar, sayang
Agar hidupmu merona terang
*Pena Koesam
*Nalar Pinggiran
SEANDAINYA - POEISI 4
Seandainya kau adalah buku, aku ingin kau segera dicetak ulang, sesudah aku melewatkan edisi pertamamu.
Seandainya kau adalah buku, aku ingin menyelamimu dengan seksama, mengejamu dengan mataku, hingga kantuk menjemput, dan kau terpelanting dalam pelukku.
Seandainya kau adalah buku, izinkan aku menjunting edisi keduamu, agar bisa kuperbaiki sedjumlah kesalahan pada edisi pertamamu.
Seandainya kau adalah buku, tak perlu lagi ku memberitahumu, sebesar apa aku bisa mencintaimu.
Seandainya kau adalah buku, aku tak perlu kacamata dan lampu menyala untuk membacamu.
Seandainya kau adalah buku, maka aku akan selalu bisa menemukanmu, meski entah kapan.
Seandainya kau adalah buku, hari ini aku ingin membakarmu.
Seandainya, engkau tahu ; Debu yang melekat di buku itu seperti rindu, gampang bikin sesak paru-paru.
Seandainya engkau Tahu ; Sendirian, aku dan engkau adalah buku yang kesepian. Bersamamu, kita bisa menjadi perpustakaan.
Demikianlah, Mencintai Buku, sama dengan Memeluk Dunia. Mencintai perempuan yang mencintai buku. maka, sama dengan memeluk dunia dan seisinya. Perempuan dan buku kerap sama, dalam menciptakan jatuh cinta.
Tetapi, Diantara 1000 yang baru, hanya ada satu Perempuan yang mencintai Buku.
Itupun sudah ada yang punya.
Makassar, 28 Desember 2016
*Pena Koesam
*Nalar Pinggiran








.jpeg)


