Lima tahun lalu, kepada William Taubman, yang menuliskan biografinya, "Gorbachev: His Life and Times (Hidup dan waktunya)" (2017), Gorby—panggilan akrab Mikhail Gorbachev—dengan terus terang mengakui kelemahannya. "A czar must conduct himself like a czar. And that I don’t know how to do (Seorang Tsar harus berperilaku seperti seorang tsar. Dan aku tidak tahu bagaimana melakukannya)".
Pengakuan pemimpin terakhir Uni Soviet tersebut memberi kita penjelasan gamblang kenapa negara adidaya tersebut, yang merupakan eksperimen terbesar sistem komunisme pertama di dunia, ternyata bisa ambruk begitu mudah tak lama sesudah merayakan hari ulang tahunnya yang ketujuh puluh (1991). Seorang pemimpin lemah, yang tidak tahu cara menggunakan kekuasaannya, merupakan penyebabnya. Tak heran, meski tiap tahun rutin memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Gorby, Vladirim Putin secara terus terang menyebut pendahulunya tersebut sebagai penggerak “bencana geopolitik terbesar” abad ke-20.
Sebagai pemimpin, Gorby memang telah membuat kekeliruan besar ketika mengira bahwa demokrasi bisa disulap atau diimpor begitu saja. Dia mengira transformasi politik dan ekonomi bisa dilakukan sekadar dengan mengubah prosedurnya. Padahal, sebuah negara totaliter bisa saja beralih menyelenggarakan pemilihan umum, namun hal itu tidak otomatis menghadirkan demokrasi.
Seandainya Gorbachev mau belajar kepada Deng Xiao Ping, mungkin sejarah Soviet bisa ditulis dengan cerita lain. Sebagaimana halnya Gorby, Deng Xiao Ping juga berusaha menyelamatkan Cina dengan jalan pemurtadan dari ajaran komunisme. Meniru keberhasilan Lee Kuan Yew membangun Singapura. sejak 1979 Deng Xiao Ping dan PKC (Partai Komunis Cina) melakukan reformasi pasar, serta membuka pintu terhadap investasi asing dan munculnya entrepreneur dalam negeri. Meskipun demikian, seluruh industri strategis tetap dikuasai oleh negara.
Sesudah reformasi tahap pertama tersebut berhasil, sejak akhir dekade 1980-an Cina kemudian melangkah pada reformasi tahap kedua, yaitu mencoba memperluas privatisasi, melonggarkan monopoli, serta memberi tempat yang lebih luas kepada sektor swasta.
Namun, berbeda dengan Gorby yang mengusung reformasi ekonomi dan politik sekaligus, Deng Xiao Ping melakukan reformasi ekonomi dengan tetap memegang kuat tali politik. Hasilnya, sesudah satu dasawarsa melakukan reformasi, perekonomian Cina melaju pesat.
Apa yang dilakukan Deng Xiao Ping di Cina pada akhir tahun 1970-an itu sebenarnya mirip dengan apa yang dilakukan Soeharto di Indonesia pada akhir dekade 1960-an. Mewarisi kebangkrutan ekonomi sepanjang periode Demokrasi Terpimpin Soekarno, Soeharto memilih untuk membuka keran ekonomi lebar-lebar sembari mengontrol politik secara ketat.
Kembali kepada Gorby, ketika menjual jargon "demokratizatsiya", pemimpin Soviet yang banyak disanjung oleh dunia Barat itu sebenarnya tak sedang benar-benar mengkampanyekan demokrasi. Jargon itu, jika kita periksa ulang, sebenarnya lebih merupakan taktik politiknya saja untuk menjauhkan kekuasaan kepresidenan yang tengah dipegangnya dari intervensi PKUS (Partai Komunis Uni Soviet), yang bukan merupakan rahasia lagi, sebenarnya tak terlalu menyukainya.
Belajar dari kesalahan Gorby, seorang Tsar memang harus berperilaku laiknya seorang Tsar, bukan seperti walikota, apalagi kepala desa. Sungguh celaka jika kita memberikan kekuasaan kepada seseorang yang tidak punya kapasitas bagaimana mempergunakannya.
-Makassar, 16 September 2022-
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar