Pemerintah kita ini mau menangani wabah atau mau pesan ayam geprek?.
Level apapun itu, selama pemerintahan ini dikelola dengan tidak Jujur dan masih ada Ummat yang Wafat akibat wabah. Maka, Kalian telah gagal.
Jangan Merubah-rubah istilah, hanya untuk menghindari tangung jawab pada rakyat, sementara penanganan wabah ini tetap sama, sejak awal wabah ini muncul di Wuhan.
Kata Einstein "Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda".
Tak Tahukah kita bahwa Satu dari sekian ciri pemimpin Dzolim adalah memaksakan Kehendaknya. Sebagimana fir'aun dan Namrud.
Padahal, untuk agama yang jelas-jelas tidak hanya menjadi radar bagi dunia, tetapi sekaligus menjadi bekal untuk akhirat. Itu saja, Allah Masih memberikan Alternatif (pilihan) pada Manusia ;" La Iqro haa Fid Din".
Lalu, untuk apa gagasan demokrasi, jika semua aturan yang keluar dari corong istana dan pemimpin-pemimpin bangsa ini adalah memaksa. Bukankah Demokrasi meniscayakan adanya alternatif bagi manusia.
Heii, Tuan dan Puan ; Jangan sepelekan bunyi yang tercipta dari piring dan sendok yang nyaris kosong. Keberanian bisa datang dari perut yang kosong. Kelak, kebijakanmu akan ditawur rakyat yang nekat.
Siapapun itu, waktu tidak akan berhenti untuknya; dengan alasan apapun. Yang kecil akan tumbuh, yang kuat akan melemah, yang tertindas akan menang, dan yang dzalim akan dimintai pertanggungjawaban.
Buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, belajar agama kemana-mana. Jika tindakan kita di dikte oleh orang bodoh. Mestinya kita hanya di dikte oleh Allah SWT, bukan di dikte oleh Hukum sosial. Sebab, selama ini kita hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita.
Itulah sebabnya, Kata Gus Baha : " Yang haram dalam Islam, tidak hanya Riba. Bodoh Juga.
Semoga bangsa ini lekas bebas dari wabah, juga para pemimpin yang tidak kompeten. Aamiin Ya Mujibassailinš¤²
**
Virusnya datang dari luar, kita begitu remeh membuka layanan penerbangan internasional. setelah masuk dan rakyat terjangkit secara masif, mereka jual vaksin ke kita dengan setengah memaksa. Lalu, Hasil penjualan vaksin, Rakyat sama sekali tidak ikut menikmatinya. tapi, deritanya kita ikut tanggung.
Vaksin yang tidak mujarab 100% itu dipakai jadi prasyarat untuk beberapa hal. padahal stoknya juga kadang terbatas dibeberapa daerah.
Nasib punya pemimpin yang lemah, dipilih dengan biaya triliunan. Rakyat terus jadi objek pemerasan dan penindasan bangsa-bangsa besar.
Bayangkan, Jika ada tenaga medis kita atau para penyintas yang hampir setiap hari berbusa mulutnya menjelaskan kepada rakyat soal bahayanya virus ini. Tapi, rakyat tetap terbelah, itu terjadi dari struktur paling atas hingga ke akar rumput.
Pagi tadi mama saya Marah selepas Menonton berita, Tentang "perkelahian" tenaga medis di RS dan seorang Ibu ; Katanya keluarga ibu ini adalah pasien struk yang tidak pernah keluar rumah, pas ke RS divonis Covid.
Realitas seperti di atas sudah masif sampai ke rakyat paling bawah, siapa yang bertanggung jawab?. Sementara jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal akibat Covid juga TDK sepenuhnya bukan data palsu.
Ini masalahnya apa?. Menurutku, Itu karena pemimpin kita hilang kepercayaan.
Untuk urusan hidup dan mati rakyat, negara masih gunakan gerombolan buzzer untuk memproduksi isu yang membelah rakyat. Kenapa setakut itu mengajak rakyat berbicara?. HTI bubar, FPI bubar, HRS dan pengikutnya masuk penjara. Prabowo-sandi masuk kabinet. Harusnya kita sudah aman, sudah selesai dengan isu-isu tdk produktif.
Ayolah, Bangsa ini harus bersatu melawan wabah, Agustus ini momentumnya, bubarkan para buzzer istana, aparat jangan lindungi yang sudah terjerat hukum. InsyaAllah bangsa ini kuat. Kita bangsa petarung, sekian abad bertahan dari penderitaan. Bahkan lebih sadis dari hari ini.
Kita harus jujur, yang paling menderita dari wabah ini adalah tenaga medis, yang setiap hari harus berjibaku dgn semua orang dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pemahaman. Sudah begitu kadang belum dibayar intensifnya oleh negara. Padahal taruhan mereka juga bukan murah. Ini soal Nyawa.
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran



Tidak ada komentar:
Posting Komentar