Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Senin, 01 Mei 2023

CORET ESAI ; PERJAMUAN PANJANG


Tatkala benar dan salah begitu kabur dalam waktu, kepercayaan bagai tahayul. Tapi dengan insting, manusia menjelma makhluk jenius yang misterius. Ia mempermainkan salah dan benar. Pada saat yang bersamaan, realitas memang tak bisa diandaikan belaka hitam-putih, salah-benar, baik-buruk. Ia lebih rumit dan muskil. Serumit hasrat dan kehendak yang selalu siap sedia. Ia menempuh cara apa saja dan bersiap pada segala resikonya. Namun insting pula yang membuat ia berkelit dan menghindar. Dan akal manusia - dalam pada itu, tak pernah tertandingi.

Kecemburuan, ujar Catherine Tramel dalam "Basic Instinct" (1992 & 2006), menyebabkan siapa pun dengan status apa pun, melakukan apa pun. Pelampiasan yang celaka. Tapi kita membawa cemburu tiap hari dan ke mana pun pergi. Dalam film yang berkisah perihal psikoanalisa itu, seks dan kematian adalah dua hal yang selalu karib dalam kehidupan manusia. Bagi Catherine Tramel dalam "Basic Instinct", kematian dapat dilupakan. Tapi seks bagai mengekalkan. Sukar dilupakan. Pun enggan dihentikan. 

Keduanya menjadi sebentuk memorabilia. Hasrat seks dan penguasaan pada tubuh sukar dibedakan. Sumber banalitas itu, sejatinya persepsi atas tubuh yang dibakar insting dasar. Bahkan tak hanya dalam film, penikmat film pun akan menghentikan sejenak adegan saat Sharon Stone yang liar dengan rok pendek itu menyilangkan kakinya yang mulus dan putih. Setelah perempuan berbibir liar itu mengatakan tak mengenakan celana dalam. Atau ketika ia telanjang bulat -dengan aksi menatap nakal pada penontonnya amat jenak sekali, lalu membenamkan tubuhnya yang bugil dalam bak mandi yang hangat. Naluri menjelma dalam khayalan dengan keinginan yang tertekan, tatkala naluri tersebut dikekang dan diringkus keharusan-keharusan. Tapi yang tak sedetik pun lengah mencari celah melepaskan diri. Menjadi liar, nakal, ganjil, misterius Dan keji. 

Dalam relasi intersubyektif - katanya, tak bisa dibedakan lagi antara dokter dan pasiennya, antara kebenaran dan kebohongan. Insting purba manusia yang tak punah, konsisten seperti semula, mengiringi dan mendenyut hidup pada jatuh-bangun peradaban.

Kemudian harapan menyeruak kabut. Ia melampaui naluri. Ia terbentuk dari keterasingan. Keterasingan yang membangun kesadaran, bagaimana pun itu, sebagai sesosok manusia yang meski pada banyak sisi tak berbeda dengan hewan bertulang belakang.

Sedang di balik segala cemas, Yesus menjamu kedua belas muridnya. Orang menyebutnya “Perjamuan Terakhir”. Sebuah momentum langka yang konon diabadikan Leonardo da Vinci dalam lukisan mural di akhir abad ke-15. Lukisan yang disimpan di ruang makan Konven Santa Maria delle Grazie di Milan. Siapa sangka, itu adalah perjamuan terakhir. Seperti takdir. Tapi bagi sang pelukis, ini pasti bukan yang terakhir. Sebab besok atau lusa ia akan kembali menyelenggarakan perjamuan-perjamuan lagi, yang boleh memanjang sepanjang kenangan. Imajinasi menggerakkan garis dan warna. Oleh karenanya, ia produktif. Ketika warna menjadi hampa, pelukis mengabadikannya dalam kenangan sejarah. Tapi tak setiap masa memujanya. Orang lebih tertarik pada politik dan ekonomi daripada agama, iman, atau lukisan.

Sejarah bermula (lalu terangkai) dengan "ada mutlak" yang menginspirasinya. Segala peristiwa berlangsung dalam sebentuk bingkai, sebuah batas.

Bagi Hegel, subyek ialah subtansi yang sanggup menggerakkan dirinya sendiri. Ia bergeser pada kemajuan sebagai yang lain dari kesebeluman. Sebentuk "pra-conception".

Perubahan membentuk diri baru, yang berbeda secara terus-menerus. Mendatang, ia butuh penegasan ulang demi mendefinisikan diri yang lain dan lampau, itu dinegasi subyek guna menyelenggarakan kemajuan pada eksistensi inspiratif yang mutlak. Proses internalisasi ini melaju pada ada segala wujud ada terhadap identitas ideal yang diandaikan dahulunya.

Hegel yakin, ada "ide absolut" menata segala prinsip kemengadaan tiap-tiap ada, atau peristiwa. Sejarah pun melaju.

Siapakah kita dalam tiap peristiwa? Sejatinya gerak mengada di tengah sejarah, merupakan interpretasi, tapi yang tak selalu memiliki definisi. Jean Luc Marion menyebutnya "aikon", di mana manusia sadar intensinya yang tak kuasa menangkap-Nya, sesuatu yang eskatologis. Dia menghadirkan diri pada manusia dengan manifestasi. Terang tak tergambarkan. Manusia silau, tak sanggup menatap hadir-Nya. Bagai Musa di bukit Sinai.

Kesadaran keselaluan aku, melajukan aku untuk menerima hadir-Nya yang di luar keselaluanku yang lemah (daif). Aku senantiasa hendak menghadirkan ada pada diriku. Ada yang, bagi Hegel, absolut itu.

Namun manusia bukan yang lain. Ia teladan, pokok ideal bagi dunia, bahkan dalam imajinasi. Manusia memandang semesta, ia tak menemui yang liyan selain dirinya sendiri. Narsisme di Italia abad ke-15 membuat manusia melukis dirinya sendiri, memandang cermin yang memantulkan wajah, mengagumi tubuh lalu menyembahnya.

Bagai dalam teks Borges perihal cermin. Manusia ingin menampilkan diri paling baik, hebat, pahlawan, dan apa saja yang diandaikan. Tapi tampak pula yang tolol. Yang dapat menggandakan manusia selain perkawinan, hanya cermin! Katanya. "Baginda Tuhan adalah maha tanpa muasal sekaligus maha tanpa nama atau wajah," ujar Borges.

Tatkala yang narsis melukis dirinya pada kanvas atau bercermin (ingatan) dalam sejarah, ia melihat dirinya yang juga keji, jenaka, rapuh, menjijikkan. Tapi yang tak sudi direndahkan. Ia ingin dipuja dan dipanuti sebagai contoh teragung yang tanpa cela. Seperti Tuhan. Untuk itu, orang korbankan apa saja, bahkan nasibnya. Agama dan sikap primordial yang mengerikan, menyulut perang demi kekuasaan dan pemujaan terhadap sang diri.

Lukisan, teks, atau tanda dari perjalanan waktu bagai menampilkan manusia yang berbahagia di atas kehancuran orang lain, berkuasa di atas kelemahan sesamanya. Agar ia dikekalkan, diakui yang terkuat, terjaya, dan gambaran paling ideal. Benturan kehendak ingin dikekalkan itu meminta darah, air mata, penderitaan. Mengasah kelicikan dalam gelap. Tubuh harus ditundukkan, dikuasai, diandaikan, dan dikontrol. Bahkan bagi Foucault, ada tubuh yang tak bebas dari kekuasaan yang melembaga atasnya.

Kenapa ia tak berhikmat pada sebuah perjamuan? Perjamuan mesra, yang di dalamnya kita setara dan saling menggenapi. Yang di dalamnya anggur mendenting, roti kehidupan, dan rindu yang berdebu selalu.

Tapi manusia memang selalu bernafsu untuk mendefinisikan kehadiran-Nya yang eskatologis. Manusia ialah legitimasi. Tapi Tuhan menampakkan diri-Nya dengan busana, dan manusia busana-Nya. Citra dan perwujudan-Nya. Dengan mengingkari-Nya, manusia menjelma aku yang mahakuat, bukan Dia! Nafsu untuk mengenali-Nya, membuatnya menggantikan Dia. Bagi seorang pemikir Katolik, Jean Luc Marion, berhala bukan benda-benda dan gambar. Melainkan konsepsi yang diyakini selesai tentang-Nya. Tak ada benda atau lukisan mencelakakan atau menguntungkan manusia.

Dalam ketakhadiran-Nya lantaran manusia telah "menggantikan-Nya", Yesus melewati sejarah sebagai Dia yang hadir dalam pengharapan manusia yang dikalahkan sebagai pembebas dan penyelamat. Lalu apakah Nietzsche berhasil membunuh-Nya? Nietzsche lupa, bahwa Dia tak belaka yang hadir. Pun yang tak terjangkau. Atau yang tak harus hadir.

Nabi Muhammad menjalani sejarah sebagai Dia yang datang, menyempurnakan akhlak (kemanusiaan). Beliau "teladan ilahiyah", pokok sejati yang mengagungkan nama-Nya. Bukan keagunganku, makhluk rapuh yang niscaya berubah, yang niscaya baru dari kelampauannya. Dalam penderitaan dan putus asa, keluhuran ialah keberpihakan pada yang lemah dan dikalahkan.

Muhammad sang rasul menyampaikan sabda-Nya, "sucikan nama Tuhanmu yang mahatinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan, yang menentukan segala kadar dan menunjukinya" (QS.87:1-3). Ibnu Arabi menafsirkan ayat ini dengan kesadaran ganjil yang membongkar kejumudan.

"Sucikan Tuhanmu" ialah manusia yang bergerak meloloskan diri dari rantai keakuan yang menipu. Ia “tasbih” (gerak) azasi kefanaan. Betapa pun rohani menerima sifat-Nya yang mahaluhur, ia tetap tak sempurna meraih-Nya. Sehingga bila manusia menyucikan diri dengan gerak kemanusiaan, cinta dan pengayoman, dalam kesadaran pada kerapuhan (fana), lebur dalam kekekalan sifat-Nya yang luhur itu, setulus hati, maka diri (subyek sejarah) itu, akan merupa nama-Nya yang mahatinggi, yang mengada dalam ruang, waktu, dan peristiwa. Yang senantiasa hadir dalam pengharapan di lubuk segenap penderitaan dan kepedihan dunia.

Di situ, perjamuan panjang yang lena. Lantaran cinta meliputi segala kasih mesra, di dalam nama kemanusiaan. Percintaan agung yang mendebarkan. Dan kerinduan yang tak selalu mudah dijelaskan.

Makassar, 17/06/2022

Keterangan gambar :

"The Last Supper"
Ukuran: 150 cm x 85 cm
Media: cat minyak di atas kanvas
Karya: Rabdul Rohim 2022

CORET ESAI ; RISAU

 


Lantaran harapan untuk hidup, seseorang pun hidup. Tidak melakukan hal-hal yang dapat mencelakakan dirinya Dan tidak menantang celaka. 

Hidup yang sebenarnya hidup, ialah hidup yang tak bisa mati. 

Namun siapa yang sanggup hidup tidak bisa mati?. Tak ada! Semua manusia mati. Mati adalah pasti. Walau manusia tidak ingin mati, ia tetap saja mati. Mau tidak mau. Ketika mati dipikirkan dan dipertanyakan, jawaban akhirnya adalah mati. Tidak dipikirkan pun, tetap saja mati. 

Menurut kawan saya, manusia tidak perlu mencari “ilmunya mati” atau jalan kematian. Karena mati itu pasti. Sedangkan hidup selalu meniscayakan ketidakpastian lantaran ia bergerak dan terus berubah. Di situ ribuan bahkan jutaan kemungkinan dapat terjadi setiap hari sebagai bukti adanya hidup. Besok bisa makan apa dan dapat dari mana? Nanti kita tetap sehat atau tiba-tiba jatuh sakit? Apa rencana, apa kerja, apa yang akan diolah? Apa yang harus ditempuh, dan bagaimana menjaga tanggungjawab kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut barangkali lebih penting dipikirkan, karena jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu penuh ketidakpastian, penuh kemungkinan, dan menyimpan begitu banyak peluang. Jadi buat apa mencari pengertian mati? Tanya kawan tadi. Sebab jika orang takut mati, akhirnya ia mati. Jika orang berani mati, ia malah cepat mati. Kawan saya tertawa. 

Kadangkala manusia gemar menyelamatkan dirinya sendiri meski harus mencelakakan sesama. Di setiap kelakuan orang untuk saling mengungguli, sejatinya ia lemah lantaran tak ingin diungguli Dan setelah semua pertarungan diselenggarakan, yang tersisa hanya risau dan sepi. Lantaran mati akan merenggut segala pencapaian yang dibiayai dengan penindasan dan penghancuran yang bersusah payah diselenggarakan tanpa ampun. Melihat kematian dan penderitaan, seolah parodi sejarah yang tak pernah selesai tatkala orang mencoba memasuki kesadaran kemanusiaan dan menemukan pertanyaan yang sangat mendalam dalam dirinya: “buat apa semua ini?” 

“Itu bukan urusan-Ku!” kata Tuhan sambil tertawa. 

Kerisauan itu pun agaknya dirasakan ",Ingmar Bergman", seorang sutradara mashur Swedia yang pintar. Kerisauan iman atau jiwa yang mendalam, terjadi dalam filmnya "The Seventh Seal" (1957). Di tengah kekejaman, kebusukan, ketegaan perang dan kenyataan kecarut-marutan yang mustahil, manusia patah hati pada agama. Dalam keadaan mengerikan, keterhimpitan yang tak punya jalan keluar, kemelaratan yang menyedihkan, penyakit yang mematikan, agama dan iman tak dapat memberi jawaban mendalam dan selesai atas kerisauan sejarah. 

Agama atau iman justru jadi alasan paling ampuh melakukan kehancuran, memupuk kebencian yang mengobarkan perang, demi kejayaan ekonomi dan kehormatan suatu bangsa. Pada yang tak tampak namun berdampak, kepanikan terjadi. Seperti virus. Orang percaya surga yang tak tampak dari seorang agamawan dan teks suci agama. Seperti orang yang percaya penyakit yang tak terlihat mata pada pakar medis dan teks perihal penyakit. Tapi kepercayaan itu, seringkali disalahgunakan. Dan orang pun terjebak pada tipuan informasi yang menderas tanpa batas. Lantaran kebenaran seringkali ditumpangi kepentingan dan tiba secara terpenggal-penggal. 

Orang yang sempat menyadarinya, bagai tak lagi percaya pada kebenaran yang ditampilkan, tapi memilih kemungkinan untuk meraba kenyataan. Bagi Ingmar Bergman, iman cemas di dalam dada. Risau. Dan tak terjangkau. Buat apa iman beserta segala ketetapannya jika manusia harus menyerahkan nasib pada kenyataan tanpa pembelaan, tanpa peluang dan harapan? 

Sahdan, seorang veteran perang Salib, Antonius Block namanya, pulang dari medan laga. Ia telah melihat penderitaan, kematian, mayat berserakan, dan bau daging yang terbakar. Dalam perjalanan pulang, ia dicegat sosok yang tak terhindarkan oleh umat manusia sepanjang sejarah, bernama Maut. 

"Waktu hidupmu selesai!" ujar Maut, "dan apakah kau telah siap sedia untuk mati?" 

Siapa yang siap? Nyaris tak ada manusia siap dan mau mati. Meski ia siap mati, tapi sesungguhnya ia tidak ingin mati. Jika ada yang siap dan mau mati, barangkali karena tak punya pilihan lain dalam hidupnya. Atau dalam ketakberdayaan. Sedang di lubuk jiwanya, orang ingin berbahagia dan kekal sepanjang masa. Seperti kalimat terakhir dari sebuah dongeng pada malam hari. 

Lantaran tak siap dan tak mau mati, Block mencoba melawan Maut. Itu parodi. Ia tentara yang selalu siap mati di medan perang. Tapi ketika mati itu datang hendak menjemputnya pada sisa atau di luar perang, ia justru takut menemui yang selalu tak ingin ditemui setiap orang, yakni mati. Apakah seorang pembunuh adalah orang yang melawan maut dengan pembunuhan? Tentara menembak agar dirinya tak tertembak? Alangkah sia-sianya! Itulah mungkin yang membuat Block - dalam kisah film garapan Ingmar Bergman yang ambigu itu, mengajak Maut bermain catur. Tentu saja taruhannya adalah hidup dan mati. 

Lalu apa bedanya permainan pertaruhan hidup dan mati itu dengan perang dan pemusnahan, dengan sikap membiarkan orang lain celaka dan sikap yang anti solidaritas? Kenangan samar namun tegas, keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran menyerbu dada Block. Ia melawan Maut di atas meja catur. Alangkah pentingnya hidup. Alangkah berharga satu nyawa di atas meja catur dalam film "The Seventh Seal" itu. 

Setiap orang menyimpan kenangan dan ingatan berharga yang tak mungkin dilepaskan. Tiap orang memiliki harapan. Yang sesungguhnya tak tampak, namun ia mendampak nyata dalam hidup. Mungkin dengan begitu, ia menyadari betapa berharganya hidup ini. Kebersamaan dan bahu membahu dalam maksud bersama, yakni kemanusiaan, jauh lebih berharga daripada kejayaan-kejayaan bagi diri sendiri. 

Narasi Ingmar Bergman itu mirip kisah dalam khazanah Islam, yakni tokoh Nazarudin Hoja. Suatu ketika, ia dicegat Maut. Karena tak siap mati, Nazarudin pun bersiasat. Ia mengajak Maut bertaruh dalam suatu permainan. 

"Bagaimana mungkin engkau akan mencabut nyawa manusia yang belum siap mati, wahai Maut?" ujar Nazarudin bermain kata-kata. 

"Justru aku diutus Tuhan mencabut nyawa orang yang tidak siap mati," jawab Maut tegas. 

"Baiklah. Beri saya kesempatan untuk siap mati." 

"Tak mungkin! Yang saya bunuh pastilah yang tak siap mati." 

"Mari bertaruh! Kita lakukan sebuah permainan sederhana. Coba kau bebaskan istri dan anak-anakku, kawan dan saudara-saudaraku dari kemelaratan, perang, wabah, dan penderitaan. Kita lihat nanti. Jika aku masih belum siap mati, maka ambillah nyawaku." 

Maut menyanggupi tantangan Nazarudin Hoja. Setelah merasa aman dan damai melihat anak-istri, saudara, dan kawan-kawannya tidak kelaparan, Nazarudin pun siap mati. Dan Maut tak dapat membunuh Nazarudin, karena ia sudah tidak masuk golongan orang yang tak siap mati. 

Bukankah narasi ini sesungguhnya kerisauan iman di hadapan realitas sebagaimana film Ingmar Bergman "The Seventh Seal" itu? Bagaimana seseorang dapat berpegang teguh pada keimanan tatkala keimanan itu tengah menipis, bahkan runtuh di hadapan kenyataan yang tak terselesaikan? Lalu kenapa Tuhan justru bersembunyi di balik janji dan mukjizat yang tak nyata-nyata dapat menyelesaikan persoalan kehidupan, kekejian, derita, dan kematian? Bukankah iman selalu risau menghadapi kematian? Kemudian di manakah manusia, jika ia tak sudi saling menjaga dan melindungi? Kenapa orang gemar menebarkan kerisauan dalam kehidupan, padahal menebarkan harapan cukup ampuh meruntuhkan segenap kerisauan yang tak pernah selesai mencekam kenyataan?  

Pertanyaan-pertanyaan itu pelan-pelan larut dalam secangkir kopi yang pekat, kental, dingin, dan pahit. 

Makassar, 20 / 06/ 2022 

CORET ESAI ; AMSAL DINI HARI



Ada keributan hidup diproses dalam pabrik dan politik. Tubuh-tubuh bergula lembek, bibir manusia berjatuhan di lantai. Ketakberdayaan. Kemiskinan jadi hiburan. Oh di mana halus sunyi dan halusnya mengerti? Senyum menjadi gombal. Anak-anak menderita, usia yang matang sebelum waktunya, berlarian di jalanan kota yang petang dan hujan yang akan diturunkan. 

Dunia cuma gambar, didera badai keluhan dan komplain. Jalan liku, silang, tanda. Lampu-lampu Dan profil-profil palsu. 

Jendela tua. Jeruji-jeruji besi. Dingin pasi. Cemas menempel di sana. Gerimis. Angin membentur pintu-pintu. Menggoyahkan langit-bumi. Pada sekira dini hari, anak manusia berseru-seru sendiri : "Elly! Elly! Elly! Lama sabachtani?" 

Sunyi kembali Dan terus kemari. 

Waktu matahari memerah langit kota. Asap  gelap, pohon-pohon runduk cemas. Burung-burung takzim dalam muram dan pulang. Masih bisakah kau panggil mimpi di pedalaman kepedihan, di antara suara-suara ganjil yang menggema dari hutan-hutan derita, tempat merahasiakan air mata? 

Ketika petang jelang. Lampu-lampu dihidupkan. Kekalutan memburam pada kaca keluh layar sentuh. Masih ada waktukah kau simak kembali, kisah seorang tua yang menjajakan rindu malam-malam dengan sepeda kaki dan lampu api? 

Sunyi masuk dalam kelam. Ada keremajaan. Ada kerut-merut didera usia. Ketiadaan. Kepergian. Kenangan. 

Ruang gelap dan dingin. Bayangan lokomotif yang beranjak, meliuk jauh, lampu-lampu menyala ke dalam dirinya sendiri. 

Matamu dimasuki sepi. Kesepian yang dicemaskan siang dan malam hari. Relung-relung keterasingan. Garis kelabu. Udara. Tali-tali yang dikencangkan. 

Ada kabut pertanyaan. Dinding-dinding kegelisahan Dan zaman yang saling-silang. 

Politik membuat rumah dari listrik Dan orang-orang terpanggang kepercumaan. 

Dalam diam, tawa dari kekalahan manusia menggoda dalam lena yang purba. Ada pesan yang tak berkata-kata. 

Aku rindu seruling Daudmu. Mengirimkan nada semesta raya. Angin landai. Telah disimpannya badai dalam tenang dan sabar. Gunung-gemunung kukuh dalam renung. Suara seruling sang nabi bercerita jiwa. Harap Dan nada-nada yang mujarab. Air gemulai. Telah menghentikan banjir bandang dalam gamang yang diam. Batu-batu dan besi, lunak dibelai nada. 

Tapi hati manusia selalu tak selunak besi dan batu. 

Di mana mukjizat serulingmu, Daud Paduka? Agar semesta mengerti fana dalam iramanya yang baka. Barangkali menginsafi kepalsuan. Atau menyadari mesum kekuasaan yang gemar membakar, seperti Namrud. 

Tiba di belantara kota. Menemui politik, dan zaman yang beriman pada iklan. Aku temui kamu, kekasihku. Bersama mata air airmata yang mengalir jauh hingga di lubuk rahasia sunyi di pedalaman hatiku. Yang tak seorang pun tahu. Tak seorang pun merengkuh. Tak seorang pun lalu. 


Makassar, 27/06/2022

Rabu, 05 April 2023

KEDALAMAN IQRO ; Bagian Pertama

Malam itu 17 Ramadhan adalah rangkaian dari malam-malam sebelumnya, Rasulullah melipir dan berkhalwat di Gua Hira. Pada ketinggian 270 meter di punggung Jabal Nur, Rasulullah membenamkan diri, mencelupkan batinnya dalam keheningan. Ia menepi dari riuh dan hiruk pikuk kehidupan glamour kota Mekkah, yang makin jauh dari ajaran otentik Ibrahim As (Agama hanif – Tauhid).

Mekkah dan berhalanya yang di kuasai kepala-kepala suku Quraisy, selain mendistorsi kemurnian ajaran Ibrahim (bapak Tauhid), juga menjadi perpanjangan tangan praktek borjuasi dalam bentuk primitif, melalui kepala-kepala suku Quraisy. Di balik simbol patung-patung itulah, keyakinan di hegemoni, akumulasi kekayaan dan pengaruh di tancapkan dengan menghalalkan berbagai cara.

Kultur Arab-Mekah dalam fase jahiliyah, sebagaimana yang di jelaskan dalam berbagai literatur Islam, adalah puncak banalisme masyarakat Arab - Mekkah. "Hannah Arendt" ; menjelaskan Banalisme sebagai anggapan yang wajar terhadap kejahatan.

Mekkah dalam fase Jahiliyah, menjadikan kekerasan individu dan struktural, persekusi, perampasan hak, pembunuhan/mengubur hidup-hidup anak perempuan, sebagai hal permisif (sebagaimana banalisme menurut Hannah Arendt). Banalisme sebagai cara untuk mempertahankan status quo.

Maka berkhalwatnya Rasulullah SAW di Gua Hira, adalah ikhtiar menjernihkan hati dan pikiran dari kabut gelap kejahiliyahan yang menggelayuti langit Arab - Mekkah.

Turunlah Surat pertama (QS : Al Alaq : 1-5), adalah titik di mulainya peradaban Atau apa yang disebut sebagai “weltanschauung Islam”.

Malam itu; kala turun wahyu pertama, langit kejahiliyahan Mekah bahkan semesta menjadi terang.  Sebagaimana yang diintrodusir dalam QS : Al Qadr : 1-5. Satu malam yang kualitas dan kemuliaannya lebih baik dari 1000 bulan.

Suatu permulaan peradaban Islam, yang di mulai dengan perintah BACALAH (iqra’)!.

Semiotika Ferdinand Saussure, menjelaskan bawah, sebuah teks, memiliki dua unsur, yakni signifiant (penanda) dan signified (petanda/pemahaman). Signifiant/signifier, merupakan hal-hal yang tertangkap oleh pikiran kita seperti citra bunyi, gambaran visual, dan lain sebagainya. Sedangkan signifie/signified, merupakan makna atau kesan yang ada dalam pikiran kita terhadap apa yang tertangkap.

Iqra’ sebagai penanda (signifiant), memberikan arti iqra’ sebagai menyampaikan, menelaah, mendalami, membaca dan meneliti. Bertolak dari semiotika Saussure, suatu tanda tidak hanya ada dalam bentuk citra bunyi dan visual, tetapi juga dalam bentuk pemahaman (Signified). Dengan demikian, Iqra’, memiliki keluasan pandangan dan pemahaman.

Syeikh ‘Abdul Halim Mahmud, mantan pimpinan Al Azhar - Kairo, menjelaskan; “Membaca disini adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan 'bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu.”

Maka, semiotika IQRA’ sebagaimana maksud Syeikh Halim Mahmud, memiliki kedalaman makna sebagai bentuk kesadaran aktif manusia, untuk bergerak menuju fitrah Ilahi. Ikhtiar menuju nilai-nilai hanif atau apa yang disebut "Prof. Abdul Munir Mulkhan" sebagai trans human - pembaruan diri atau transformasi menuju Insan Kamil.

Maka, malam Nuzulul Quran yang acap kali diperingati pada malam ke-17 Ramadhan, tidak hanya berkutat pada rutinitasnya. Atau berbagai spekulasi metafisis tentang karomah Lailatul Qadar.

Kedalaman Iqra’ harus dipahami sebagai sebuah perintah, membaca berbagai jalan kebaikan, untuk menuju kebaikan, sebagaimana harapan menjadi Al Muttaqin, titik akhir destinasi bagi mereka yang berpuasa.

Agama selalu bermula pada yang numinous, Yang Tak Tercakapkan, " La Harfin Wa la Shouf". lalu, berakhir dengan konstruksi. Agama juga diawali dengan gigil cinta yang ganjil, ada harapan, ada ketakutan, ada amor dan horor yang bertaut. Ada momen tak lazim dan unik. Tapi, terpuncak. ketika seseorang mengalami “kehadiran” Yang Maha Lain, yang diandaikan oleh "Rudolf Otto" sebagai mysterium - tremendum - fascinosum. 

Di abad 5 M, Santo Agustinus dikerkah pengalaman yang mirip : “Dan aku gemetar dengan kasih dan ngeri”. Di lekukan sejarah yang dingin, di Abad Pertengahan, pun penyair "Dante" mengeja kembali pesan sunyi dan senyap itu dalam Divine Comedy, sebilah karya sastra mistik yang dianyamnya dalam semesta kode yang sublim, yang mengandaikan seseorang mengalami “ketercelupan ontologis” ke yang numinous melalui tiga fase perjalan ruhani : inferno - purgatorio - paradiso. 

Pengalaman sublim “kemahahadiran” dan “kemahaawasan” Tuhan yang numinous, dalam detak-detik jantung para perindu dan pecintanya, yang pada urutannya tidak hanya menyalakan spirit ketaqwaan. tapi, Juga menginternalisasikan sifat Cinta-Kasih-Nya ke dalam ego. Di titik ini pula mengapa “puasa” dan “taqwa” terpaut dalam buhul yang erat. Kualitas Ego taqwa adalah ego tuah yang tercerahkan - visun sosiokultural, moral, intelektual dan spiritualnya: lokus kesadaran ego otentik yang sejauh ini justru terbungkam oleh hiruk pikuk kehidupan post reralitas yang “menuhankan” materi.

Latihan menahan diri di alam purgatorio bersumbu pada latihan “membakar” ego nisbi agar menemukan ego otentik dan sepenuhnya merasakan “Kemahahadiran Allah” dalam segenap detak hidup : sebuah episentrum cahaya yang membawa diri menemukan kesucian asalnya dan kembali ke fitrah. 

Wallahu’alam..


Makassar, 17 Ramadhan 1443 H

#Rst
#Pejalan Sunyi
#Nalar Pinggiran


CORETAN PINGGIRAN 29 : TEGANYA ENGKAU MENINGGALKAN KAMI

Teganya Engkau, tinggalkan kami semua, wahai bulan suci Ramadhan. Engkau biarkan kami kembali terkapar dimedan perang. padahal, nafsu kami sangat besar dan kuat untuk kami lawan.

Tanpa Engkau, kami tenggelam dalam pelampiasan dan keserakahan.

Kini, tak ada lagi teriakan Indahnya imsakmu, wahai Ramadhan, kami terbebas dari kewajiban menahan dan mengendalikan.

Kami merdeka untuk melampiaskan, menghancurkan, menginjak-injak, menyebarkan kedzoliman, mengikis Nilai-nilai Tuhan, mengeksploitasi alam dan kehidupan.

Kini, kaki dan tangan kami, borgolnya telah dilepaskan. Kami-lah, Iblis yang berwujud Manusia itu.


Makassar, 29 Ramadhan 1441 H

#NalarPinggiran

CORETAN PINGGIRAN 28 ; WAJAH BERLUMURAN DUNIA

 


Duhai, semua orang rindu ramadhan dan sangat berduka bila di tinggalkan. Namun, aku Justru ketakutan?. 

Ada apa ini?.

Jika Ia datang aku minggir ke keremangan. Aku bersembunyi dikesunyian.

Sebab, jangan sampai tercium olehNya, bau busuk dari hidupku yang luar dalam.

Kalaupun tak terelakkan untuk berpapasan, dengan Bulan Ramadhan. Telah Ku siapkan wajah berlumuran dunia.  

Yang memancarkan Nafsu angkara murka. Keserakahan dipandang mata. Ambisi dan kehinaan : tanduk kembarku dikepala. 

Wahai Puasa, sembunyilah di belakang Punggungku, sesudah sebulan tak makan dan Minum dari Fajar hingga senja. Mereka membuangmu dalam kehidupan nyata.


Makassar, 28 Ramadhan 1443 H

#NalarPinggiran


CORETAN PINGGIRAN 24 ; PUASA CERMIN

Maha Bijaksana Allah, yang melatih kanak-kanak manusia, untuk membiasakan diri menjadi pemerintah atas diri kita sendiri. Diktator kepada Nafsunya, Otoriter membatasi keinginannya. Memaksa jasadnya untuk lapar dan haus dari saat lembayung Fajar menyinsing sampai Jingga senja meluruh pada malam. Membangun martabat agar tak dieksploitasi oleh makanan dan minuman. 

Allah sang Maha Guru, yang menata barisan kaum Milineal menjadi pasukan aqil balig yang mengenali syriatnya. Merambah keluasan alam semesta hingga batas cakrawala. Menguasai wilayah lingkup kekuasaan yang dibatasi oleh akalnya. Menangkap dan memasung musuh-musuh dalam dirinya. 

Allah Panglima Maha Panglima, yang menantang orang dewasa, agar sepanjang usia membuktikan martabat kemanusiaannya. Siang malam meneguhkan kesetiaan terhadap kekhilafaannya.   Merumuskan kurikulum puasa disetiap tapak dan lakunya.  Tak perduli dibulan ramadhan atau diwaktu kapanpun saja.

Jika sampai dewasa Manusia mampu bertahan pada kekanak-kanakannya, Bila sampai tua manusia berhenti pada kekerdilan keremajaannya. Kalau sampai matinya, manusia tak pernah menjadi dewasa.

Ketika Izrail datang mereka masih menjadi budak Nafsunya. Maka, bercerminlah kembali, mengapa malaikat menginterpusi proses penciptaan (Manusia).


Makassar, 24 Ramadhan 1441 H

#NalarPinggiran

CORETAN PINGGIRAN 23 - SOSOK HITAM KELAM

 

Pada I'tikaf keduaku, dalam kelam dan panjangnya malam, saat kubenamkan diri ke relung paling palung dari kesunyian yang hampir mendekati ketiadaan, yang hadir padaku justru sosok yang hitam kelam.

Barangkali, Inilah Iblis yang tenggelam dibungkus kutukan. sebab, wajah-wajah cahaya yang mendatangiku pada malam yang lalu, mengajakku berjalan meninggalkan batas-batas kemanusiaan, pastilah bukan dari golongan iblis atau setan.

Tetapi yang dikatakan oleh sosok hitam kelam ini, justru membuatku skeptis : " lailatul Qodr kah, yang saat ini engkau nanti-nanti, dengan iftirasy dan duduk bersila semalaman disini?". Bagian Mana dari seluruh ada-mu, dari kehidupan ini, yang bukan laitul Qodr, yang tidak ghaib dan bukan misteri. Bagian mana dari anugerah Allah atas setiap yang kau alami, yang bukan nikmatnya Rahasia dan dahsyatnya misteri.

Alangkah serakahnya kau dan kebanyakan manusia!. Limpahan rahmatnya yang tak sanggup kau menghitungnya, belum kau takjub dan mensyukurinya.

Kini, kau tuduh Allah tak mencukupimu dengan berkahNya. Kini, Kau tagih lagi Lailatul Qodr dengan Nafsu dan khayal Fatamorgana. Kini, Kau paksa Allah menurunkan, berupa kekayaan dunia.

Kau kutuk kemiskinan dunia sebagai bencana, sedang MuhammadMu memilih hidup jelata dan Papah". 


-Makassar, 23 Ramadhan 1442 H-

#NalarPinggiran

MAMA DI MULUTMU, TUHAN BERSINGGASANA

Mama, di mulutMu, Tuhan Bersinggasana. Di kata-katamu.  

Mama, Engkau telah menenum sepanjang hidup, untuk jalan lurusku.

Mama, apalah arti semua materi, kuasa dan jabatan serta kemolekan dunia. Jika engkau adalah Gua teduh tempatku bertapa sekian lama.

Mama, engkaulah kawah dari mana aku meluncur dengan perkasa. 

Mama, engkaulah bumi yang tergelar lembut bagiku. Melepas lelah dan nestapa. 

Mama, Engkaulah Gunung yang menjaga mimpiku siang dan malam. Dan mata air yang menjaga dahagaku. Telaga tempatku bermain, berenang dan menyelam. 

Mama, Engkaulah langit dan bumi, yang menjaga garis lurus horisonku.

Mama, engkaulah Mentari dan rembulan yang mengawal perjalananku mencari jejak surga di telapak kakimu. 

Mama, Engkaulah elan yang memberi tenaga. seperti photuris; kunang-kunang yang memberi cahaya di malam hari. Kecil, indah dan terang.

Mama, Engkaulah pelita yang menerangi di setiap lorong dan ceruk hati. Bahkan, di setiap leluknya selalu ada cinta yang tercekah.

Mama, Engkaulah sumber keramaiaan, dalam suasana hati yang hening. Senyum dan tawa mama adalah keramaiaan. Bahkan, menggaduh dalam hening. Tapi menggembirakan.

Mama, Dalam lelap malam yang panjang, wajahMu (mama) adalah kemerdekaan yang tergambar. Mama, engkaulah sumber kegembiraan. Kapan saja. 

Mama, Tiada lagi perempuan terbaik selainMu. Engkaulah mahkluk, selain Muhammad yang mampu menyentuh dan menggedor Langit. 

Mama, engkaulah perempuan seribu Tabah, setelah Yaqub AS yang di taqdirkan ke bumi. Doa dan munajatnya tersemat diantara bulu sayap Jibril. 

Semua hati berubah seiring waktu. Tetapi, hati seorang Mama adalah surga yang kekal. 

Yaaa Robbb, Saya Bersaksi bahwa mamaku telah menyampaikkan Kasih dan Sayangmu. Kasihilah Mamaku, seperti engkau mengasihi, kekasih-Kekasihmu.


- Makassar, 01 April 2022 - 

#Rst
#Pejalan Sunyi
#Nalar Pinggiran

Selasa, 04 April 2023

DOA MAMA MUDAHKAN SEGALANYA

"Matahari telah tergelincir. Air wudhunya masih basah, ketika matanya kembali sembab. Sembari menarik Mukenah yang tergantung di belakang pintu". 

"Maa", Engkaulah perempuan "seribu wajah", gemar "menipu" anakmu. Agar ranum berbuah senyum. 

"Maa", Betapa sabar adalah senjataMu. Sesungguhnya, Engkaulah rahim kehidupan. 

Bukti Doa "Mama adalah "Zam-zam". 

Zam-zam adalah Artefak, dari kekuatan doa seorang Mama. Hajar kelelahan setelah berlari, ia berdoa agar anaknya mendapatkan sesuatu dari Allah ; "Ya Allah, tidak mungkin engkau menitipkan ujian ini, tanpa memberikan jalan keluarnya"- Doa Ibunda Hajar A.s.

Tetiba, Ismail terdiam. Hentakan kakinya akibat meronta, menemukan jalan kehidupan baru.

Kawan, Kesuksesan anak, 90 % sahamnya adalah doa mama. Tangisan Ismail adalah simbol ketidakberdayaan seorang anak di hadapan Mama. 

Kesuksesan yang kita Reguk, belum tentu karena kita sibuk (Ihktiar). Bisa jadi, karena doa orang tua kita, yang matanya sembab, diatas sajadah.

Yaa Robb, Kasihi mereka, sama seperti mereka mengasihiku.

"Maa", Dari rahimMu yang cahaya. Segala tangisku lahir belia. Memecah segala sunyi. Di sepanjang sujudMu yang abadi. 

"Maa", Sungai Ini Berhulu di MataMu. Airnya bening. Memanggilku, menjelma ikan. Tetapi, aku batu, Maa.

"Maa", Selain Tuhan. Engkaulah satu-satunya Peri, yang bisa menghibur segala rupa perih. Yang tengah riuh di kepala dan sukmaku. 

Semua hati berubah seiring waktu. tetapi, hatimu "Maa" adalah surga yang kekal.

Yah, Seperti Kata "Beethoven", bahwa Irama paling lembut dan nada paling harmoni tidak bisa dimainkan kecuali oleh hati seorang ibu.


-Makassar, 06 Oktober 2021-


#Rst

#Pejalan Sunyi

#Nalar Pinggiran