Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Selasa, 20 Juni 2023

KADER PINGGIRAN MEMBACA HMI DALAM PERGULATAN WAKTU

Berorganisasi atau bernegara dalam skala yang lebih besar seperti siklus hidup manusia. Lahir, tumbuh, besar dan mati. Sebagaimana Allah Berfirman dalam al Qur'an "Walikulli ummatin ajal - setiap ummat atau kelompok atau komunitas akan menemukan azalnya".

75 tahun adalah usia yang cukup lama bagi sebuah komunitas. Ihwal itulah yang menandakan, bahwa "Lafran" muda kala itu dengan niat yang ikhlas membidani lahirnya himpunan mahasiswa Islam ini. 

Setiap zaman telah dilalui HMI. Tahun 80-an kita terjebak dalam pertikaian ideologis sesama kader. Kita lalu terbelah menjadi (Dipo Dan MPO). akibat azas tunggal rezim soeharto, residunya masih ada hingga kini.

Biasanya jelang kongres hampir setiap kandidat ketua umum PB HMI (Dipo) mengangkat isu univikasi HMI. tetapi hingga kini belum juga tercapai. Tentu Ini pekerjaan rumah kader Visioner, agar Kedepannya harus di seriusi dan kembali ke satu rumah yang sama. Alasan ideologis sudah selesai, tinggal teknis penyatuan yang mesti dirancang dengan baik.

Maka dari itulah, Kader Visoner harus mampu mendefenisikan dirinya. Punya kemampuan membaca masa lalu, mengurus akal sehat untuk menggambar peta masa depan. 

Entah mengapa, saya selalu resah dengan dinamika HMI hari ini yang tidak lagi berangkat dari semangat awal lahirnya. Jika ada "keributan" justru hanya berkisar di wilayah PERUT dan DI BAWAH PERUT. Tidak lebih.

Padahal, alasan paling Fundamental Kekalahan Rosulullah SAW Diperang Uhud?. Bukan karena kuatnya musuh. Tetapi, tergiurnya pasukan panah Rosulullah yang meninggalkan bukit Uhud, pada harta (Ghonimah) dan mengabaikkan perintah Rosul (Agama) untuk tidak meninggalkan bukit uhud. Artinya Kemenangan ada syarat-syaratnya, begitupun kekalahan ada sebab-sebabnya.

Relevansinya ialah jika kita berkader, Berhimpun hanya untuk mendapatkan Harta dunia. Jika kita berkader hanya untuk merengkuh popularitas. Maka, jangan berharap kemenangan berada dipihak kita. Kemenangan memang punya syarat yang berat, namun kekalahan pun punya resiko yang tidak ringan.

Makanya, Kita harus menggali "Parit ataukah tidak"?. agar musuh yang banyak itu sulit menembus pertahanan kita, lalu membeli harga diri kita. 

Kita sudah kalah itu fakta. tapi, dalam sejarah, Rosulullah SAW juga tidak menyalahkan pasukan pemanah yang meninggalkan bukit uhud, karena tergiur Ghonimah. Yang di lakukan Rosulullah SAW adalah mengevaluasi pasukannya, memperbaiki mental dan setelahnya hampir pasukan islam tidak pernah kalah saat berperang.

Seperti yang saya sampaikkan diatas, bahwa Tidak ada satu komunitas yang sanggup bertahan lama hingga kiamat. Semua akan menemui ajalnya (bubar) dalam skala waktu, sebab relevan dengan entitasnya yang selalu dialektis. Entah menemukan kejayaan atau bubar, tergantung dari apa yang kita lakukan terhadap pelanjut risalah (kader) sekarang dan ke depan. 

Dinasti-dinasti besar yang di bangun dengan kekuatan pasukan perang paling Canggih, bisa hancur meninggalkan puing. Kini menjadi sejarah. " Walikulli Ummatin Azal (setiap Ummat atau kelompok atau Komunitas mempunyai ajal)".

Tinggal bagaimana cara matinya. Khusnul khotimah atau Suulkhotimah. dengan cara bermartabat atau malah terhina, dengan jalan yang terbaik atau malah mati, karena penghianatan dari dalam. Khalifah umar misalnya yang masa Hidupnya sangat garang, di segani kawan, di takuti lawan. Ternyata sebab matinya ditikam penghianat Abu Lu'luah atau Khalid bin Walid yang sebahagian nafasnya dimedan perang, namun matinya diatas tempat tidur.

Jika Setiap perkumpulan atau kelompok ada masa lahir dan matinya. Maka, hanya ada dua jalan menurut saya dalam mempertahankan eksistensi komunitas atau kelompok. Pertama ialah Individu : setiap individu adalah kader yang hampir memenuhi kualifikasi menjadi pemimpin. Kedua, kualifikasi pemimpin hanya akan terlahir dari belajar terus menerus dan merawat ide-ide besar (Mendorong basis - Basis kultural). Demikianlah rumus siklus waktu untuk tetap eksis.

Meminjan Pernyataan Abang Mantan Ketua Umum HmI. Cab Kupang "Abdul Munir Sara" dalam Narasi Milad HmI ke 71 bahwa " Usia 71 tahun jika di personifikasikan adalah Usia senja, uzur dan renta. di usia-usia seperti ini, jika tidak banyak membaca pasti akan pikun atau kembali infantilis". Karenanya, fisik harus di olah, Nalar dan memori harus di asa agar peka atau sensitif pada alam. Di usia-usia seperti ini suplemen dan Nutrisi harus di jaga agar tidak mudah di serang kolesterol jahat. Tentu di usia-usia ini amalan harus di tingkatkan, karena ajal sudah menganga di depan mata, sedang tubuh merangkak ke tubir pemakaman. Beginilah HmI jika di personifikasi pada satu sosok, Berada di puncak kematangan setelah melewati berbagi etape sejarah.

HMI sebagai sebuah lembaga yang dari awal dilahirkan bertujuan, untuk menciptakan generasi tangguh, diberi beban untuk mengembangkan dan menyebarkan syiar Islam. Namun secara empiris sudah perlahan-lahan masuk dalam jebakan iblis. Banyak anggotanya sudah tidak lagi menjadikan generasi awal HMI sebagai contoh yang baik dalam menjalankan aktifitas organisasi. Pedoman-pedoman HMI sekedar sebagai penghias rak-rak buku yang hanya dipakai jika relevan dengan kepentingan diri dan kelompokoknya.

Padahal Kader adalah mata air peradaban, kerja-kerja organisasinya berorientasi ibadah. Menit dan detik berpikirnya tentang kemaslahatan ummat. tindakannya selalu relevan dengan realitas. Di ujung lidahnya rakyat menitip asa. Ia resah, jiwannya berontak. Ia rela bersusah-susah untuk orang susah. Ia bergerak melawan sampai Berdarah. kalah atau melebur dengan kemenangan.

Jika bicara, terbaca kedalaman ilmu di ujung lidahnya. Ia pemikir sekaligus pemberontak, perlawanan yang ia lakukan karena kedalaman ilmunya. Ia bertahan dengan argumentasi yang kokoh, menyerang dengan bahasa yang kuat, padat dan berisi. Ia tidak melulu mengeksploitasi nestapannya. narator sekaligus menerima jalan yang di laluinnya. Ia nikmati Ghonimah berkader dengan sadar. Bahwa berbagi ilmu, harta dan mengkader adalah jalan serta resiko yang di tanggungnya sampai mati. Ini jalan jihad, ini lorong suci. Lalui saja dengan riang gembira. Nikmati hasilnya dengan kemeriahan dan deklarasikam bahwa kader Visoner tidak akan pernah menyerah dengan kalah.


***


Jika kita bertamasya pada Sejarah terbelahnya komunitas-komunitas besar dulu, maka kita bisa menangakap apa yang mereka pertaruhkan: Awal Februari 1923 Sarikat Islam yang besar itu. mengadakan kongres ke VII di Madiun. Menghasilkan keputusan menambah nama partai di awal Serikat Islam menjadi PSI. Ternyata ada gerbong revolusioner di bawah Semaoen dkk, menolak hasil kongres versi HOS Tjokroaminoto. 

Mereka menuduh HOS dan kelompoknya terlalu kooperatif dengan pemerintahan kolonial belanda. Rivalitas ideologis yang terjadi antara HOS dan Semaoen di internal SI meruncing. Semaoen yang tidak kalah cerdas dengan HOS Tjokroaminoto Itu memprovokasi kelompok Islam abangan. Meyakinkan kepada mereka tentang relevansi agama (Islam) dan ajaran-ajaran kiri (Marxisme - Leninisme).

Hasil konfrontasi dan penolakan terhadap kongres Madiun itu berakhir dengan dibuatnya kongres tandingan pada awal maret 1923 di Kota Bandung. Semaoen dkk berganti nama menjadi Serikat Rakyat yang berhaluan Komunis.

Dalam konteks ideologis, terbelahnya Serikat Islam menjadi merah dan putih, hampir sama dengan kisah terbelahnya HMI menjadi dua. Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang menolak pemberlakuan azas tunggal dan konsisten dengan azas Islamnya dan menuduh kelompok HMI (Dipo) terlalu kooperatif dengan rezim Soeharto waktu itu.

Dua kisah perpecahan di atas akibat dari konflik ideologis, juga bahagian dari strategi dalam mempertahankan eksistensi. Di samping itu, faktor yang menjadi penyebab terbelahnya juga bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Coba kita lihat apa yang terjadi pada HMI hari ini, di struktur paling atas, Pengurus Besar dan Pengurus Cabang. kuasa diperebutkan, popularitas di pertengkarkan. Tontonan yang tidak patut di pentaskan di hadapan ribuan kader-kader yang ikhlas mengabdi. Mereka saling menggigit satu sama lain, bukan pada masalah-masalah ideologis atau soal perbedaan konsep mengorganisir massa untuk melawan rezim. Bukan.

Jangan bohong, HMI memang sedang masuk dalam perangkap iblis. Banyak elitnya masuk dalam perangkap iblis yang durjana. Perebutan kekuasaan di tingkat pusat diawali dengan operasi cabang-cabang dengan mengiming-imingi uang dan jabatan struktural (ini contoh umum). Ide dan gagasan yang mesti dikedepankan sekedar menjadi pelapis ke dua setelah cabang-cabang yang sudah diidentifikasi pragmatis itu diperdagangkan. Dengan tenang diamati, inilah awal dari petaka itu menggerogoti aktifitas organisasi.

Bisa dibayangkan, ada pengurus Cabang dan Pengurus Besar yang tidak lolos screnning awal hanya karena tidak bisa mengaji. Dengan cepat, hal ini mungkin dianggap sepele. tapi, saya melihat ada gejala besar, Dan bisa saja HMI akan mati dengan Suulkhotimah. Jika diteruskan.

Belum lagi soal Sumber-sumber kekuasaan yang terbatas terus menjadi rebutan, walaupun memerlukan biaya yang mahal sekalipun, begitu teorinya. Nah, sudah sampai tahap itukah HmI?. Secara empiris iya, tapi kita malu-malu mengakuinya secara berjamaah. Memilih pemimpin organisasi Islam, tapi tidak di lalui dengan cara-cara yang di ajarkan agama. Itu Paradoks, tapi itu sudah kita anggap lumrah. padahal kita sudah kalah terhadap diri sendiri.

Sebagai kader, saya justru prihatin dengan realitas ini. Sebab, HMI tidak lahir dan besar dalam suatu rahim pengkultuskan politik kekuasaan. HMI tidak lahir dalam suatu surplus politik yang berlebihan. Jelas-jelas di tahun 1947 HMI lahir dari suatu common enemy; baik kolonialisme dan komunisme. Selanjutnya HMI tumbuh besar dalam pikiran besar tentang Keislaman dan keindonesiaan. 

Adapun, Maaf "Islam Nusantara" adalah suatu politik tukar tambah sekelompok elit islam sebagai alat komoditas kekuasaan. Tidak membumi dan tidak memiliki akar sejarah yang kuat sebagaimana paham keislaman dan keindonesiaan yang tumbuh di HMI, Dalam Gagasan Cak Nur.

HMI punya hubungan yang apik dengan kolonial sebagai musuh bersama yang membantai kemanusiaan pribumi. Maka, sejatinya fokus perjalanan mengemban amanah kader, harus mematangkan sudut pandang dan kejiwaan untuk melawan apapun yang merusak kemanusiaan.

Jika berHMI hanya melulu soal pakaian. maka, pilihan terbaik ialah jalan telanjang saja. di situ bisa di ukur siapa yang waras dan Siapa yang sakit jiwa. Begitu Tutur Senior saya dahulu. Olehnya, kita niscaya memperbaiki sudut pandang dan kejiwaan, kalau berani menyematkan diri sebagai kader HmI. Jangan terlalu sibuk mengurusi pakaiaan.

Jika menelisik Dalam genologi politik Indonesia, corak nasionalis religious adalah platform gerak dari mayoritas kelompok islam politik. Ia menjadi tafsir operasional dari relasi setara yang senantiasa bertaut antara keisalaman dan keindonesiaan.

Hal itu secara genetik mengalir dan sejatinya termanifestasi di dalam diri kader HMI, sebagai warisan Lafran Pane untuk Indonesia.

Berkenaan dengan itu juga, Saya lebih cenderung membaca independensi HMI sebagai warning dan petunjuk, yang terekam dalam pasal 6 anggaran dasar. Secara eksplisit batasan indepensi Hmi ialah Hanief - Benar ; dalam pola pikir, sikap dan laku.

Di beberapa episode saya justru menemukan batasan itu terkulai, tidak berdaya di koyak waktu oleh banyak kader, seolah batasan pola pikir, sikap dan laku yang hanief itu melulu diukur dari kebayakan dan siapa?. Jika demikian adanya. maka, orientasi berkader pun bergeser menjadi organisasi yang lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas.

Sebelum semuanya terlanjur pincang dan tenggelam oleh zaman. masih hangat dalam benak sentilan senior saya "Muhammad Akbar (Direktur Akar Insitut)", yang menampar semua kader bahwa berHMI itu pakai aturan dan hukum, Jika tidak, tentu akan melahirkan Kesombongan Ber - Organisasi.

Mengapa?. Hal pertama yang perlu diluruskan, siapa kader yang di maksud ?. Sebab, organisasi seperti HMI hanyalah perkumpulan anggota. Jika perayaan milad dari tahun ke tahun, hanya sebagai cara mendeteksi anggota, tidak ada bedanya seperti segerombolan domba. Ahhh, bukan domba. tapi, kambing yang menunggu waktu untuk disembelih.

Terlalu sombong yang menyodorkan konsep design bahwa seluruh anggota harus bangga menjadi kader HMI. Kapan sebenarnya anggota HMI menjadi kader HMI?. Omong-kosong seperti ini, tidak patut dikonsumsi dan tidak layak tumbuh serta berkembang biak seperti anak babi.

Sekarang menurut saya, HMI harus menarik ghirah masa lalunya untuk menemukan bentuk pergolakannya hari ini. HMI saat ini seperti kehilangan Common Enemy.

Dari tahun 1947 hingga era 80-an dan awal reformasi, HMI selalu menemukan momentum dan dinamika. Selalu ada gerakan dan diskursus yang mengandaikan HMI bergerak dari satu titik ke titik lain. Menjadi dinamik !

Kalau awal mula berdiri HMI punya basic demand, maka sekarang HMI mesti bertanya pada dirinya, apa basic demand HMI hari ini?. Dulu, ada terminologi yang paling agresif di HMI, "bergerak atau kafir?". Saya dapat itu dari senior yang menuturkan kembali ke saya saat saya bertandang ke kupang, setelah ikut rekontruksi NDP di Mataram.

Ihwal itulah, saya teringat dengan Pedagogy of hope’ sebagai rumusan filsuf pendidikan dari brazil, Paulo Freire yang menitikberatkan harapan dan masa depan manusia melalui jalan pendidikan yang humanis (memanusiakan manusia). Jalan yang dipilih adalah menggeser kesadaran manusia dari kesadaran palsu, menuju kesadaran otentik.

Sudah seharusnya, anak-anak Lafran Pane menggugurkan mitos tentang generasi kedua. Generasi yang hanya hidup menikmati warisan generasi pertama dengan masa gemilangnya. Sudah saatnya mereka menjadi tokoh pembaharu yang lain. Bukan hanya menjadi generasi yang hanya mampu menceritakan kisah tokoh dari generasi sebelumnya seperti Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, Akbar Tanjung, Mahfud MD, Anis Baswedan dan lain-lain.

Pendidikan HMI seharusnya bisa melahirkan orang-orang bebas dan merdeka dengan pikiran merdeka. Sekalipun fisiknya di habitus terbatas, tetapi pikiran menjelajah keseluruh sisi terkecil alam semesta. Jadilah anak-anak Lafran Pane, yang begitu sederhana dalam hidup. Tetapi tidak sederhana dalam pikiran. Sehingga tidak dapat dijangkau oleh kepentingan sesaat dari mereka yang berkepentingan. Orang-orang yang merawat pikiran Cak Nur menyebut sebagai manusia yang berpikir bebas (intellectual freedom).

Merapikan kembali pendidikan HMI adalah jalan harapan untuk memperbaiki bangsa Indonesia. Tidak bisa tidak, rusaknya HMI adalah bagian lain dari warna rusaknya bangsa Indonesia. Lewat menanamkan NDP serta AD/ART serta pedoman lainnya sebagai sikap hidup kader HMI. Bahkan lebih dari itu, nilai di HMI seharusnya bermetamorfosa menjadi Ideologi kader dalam jalan panjang pengabdian untuk ummat dan bangsa. Ideologi akan terpenuhi syaratnya melalui ontologi (sikap, prinsip, karakter), sebagai keberanian memilih miskin ketimbang menjadi bandit. Epistemologi adalah kekayaan metodologi melalui pengembangan wawasan ilmu pengetahuan. Aksiologi adalah daya guna dikehidupan berbangsa dan bernegara.

Kini, HMI seakan bergerak, tapi dalam paroki yang amat sempit. HMI tampak sibuk dengan dirinya. Sibuk menyatukan patahan-patahan kecil, hanya karena goncangan ringan di sekitar dengan amplifikasi politik kekuasaan yang remeh temeh.

Ingat, HMI pernah melewati goncangan ideologis. Efek goncangan ideologis itu, membelah HMI dalam dua lempengan besar. Efek residunya masih ada hingga hari ini. Itu ujian kekuasaan. HMI mestinya lebih matang dengan situasi demikian.

Hari-hari ini, fragmen-fragmen sosial itu menganga lebar. Di depan mata kader HMI. Dikotomi-dikotomi sosial seakan difasilitasi politik kekuasaan. Pilar-pilar demokrasi menjadi  lumpuh total.

Sumber daya politik dan ekonomi serta sirkulasinya, hanya bergerak di sekitar sekelompok kecil elit yang menguasai 80% sumber daya ekonomi. Demokrasi mengalami konglomerasi.

Ruh dari pada aktivisme politik menjadi pudar dan transaksional. HMI mesti secara cepat mereformulasi apa basic demand-nya hari ini !.


***

Jika kita membaca  hasil keputusan kongres HMI VIII, bahwa kader adalah tulang punggung organisasi, pelopor, penggerak, pelaksana, penyelamat cita-cita HMI masa kini dan akan datang di manapun berada. Tetap berorientasi kepada asas dan syariat Islam.

Tahun 1947, Jabatan di HMI hanya sekedar medium. Tahun yang ke-74, Jabatan di HMI cenderung dijadikan sebagai tujuan. Dari jabatan sebagai alat pemersatu, bermutasi mengubah jabatan menjadi alat kuasa untuk dualisme. Memangnya ini HMI milik pengurus Besar HMI dan Pengurus Cabang kah?. 

HMI Tahun 1947, Kakanda Lafran Pane yang semula menjadi ketua Umum Pengurus besar rela turun menjadi Ketua Cabang, demi untuk masa depan HMI. Tahun yang ke-74 HMI, Beberapa oknum PB HMI rela memecah struktur, demi untuk perebutan tampuk Ketua Umum PB HMI.

HMI tahun 1947, kongres Pertama (I) dilaksanakan. Kakanda MS Mintaredja disepakati kembali sebagai Ketua Umum PB (pengurus besar). Tujuan awalnya memang agar HMI tidak dianggap milik Kampus Islam STI. Di masa itu boleh dibilang tidak ada senioritas. Yang ada hanya bagaimana HMI bisa mekar di kampus-kampus lainnya. 

Tahun ke-74 HMI, kongres XXXI yang Dijadwalkan maret bulan depan di Surabaya. Kandidat-Kandidat Calon Ketua Umum, yang telah mendaftar agaknya masih di garis koordinasi yang sama dengan oknum-Oknum yang membuat dualisme dibatang tubuh HMI dibeberapa tahun terakhir. hemat saya, hal ini Masih dalam jaringan oligarki senior. 

Sementara dualisme PB berkonsekuensi kepada dualisme struktur cabang. Faktanya banyak cabang-Cabang yang dualisme. Efek terparahnya bahkan bisa konflik horisontal ke sesama anggota. 

HMI tahun 1947, menjadi Pengurus Besar itu ujiannya berat. Banyak stigma peyoratif yang terbangun. Setelah dicurigai sebagai organisasi pemecah persatuan ummat, dimusui oleh organisasi mahasiswa sayap kiri. Yang paling berat adalah ikut serta dalam perang melawan Agresi Belanda dan (pemberontakan) PKI.

HMI ke-74. Menjadi Pengurus Besar itu enak. Bukan lagi enak, tapi enak sekali. Modal relasi senior, bisa lanjut S2 dan S3 di Jakarta. Tinggal nongkrong-ngopi dan cerita tidak ada nilainya, sudah bisa bikin dualisme kepengurusan. 

HMI setelah tahun 1947, Ketua Umum PB Di-PJ-kan ke Kakanda Lafran Pane dan Lukman Elhakim. Dikarenakan PB HMI mengalamai stagnasi dan juga pindahnya ibu kota ke Jakarta, yang dengan sendirinya berpindah pula kedudukan PB HMI dari kota kelahiran Jogjakarta ke Jakarta. 

HMI menuju tahun yang ke-74. Pengurus besarnya juga main PJ-PJ-an. PJ Arya Kharisma Hardy versus PJ Abdul Muis Amiruddin. Manakah PJ Tum PB versi penguasa?. (bukan pertanyaan).


***

Dari Narasi diatas, tentang HMI perjalanan saya terasa begitu panjang dan makin menemukan titik-titik rumitnya. Entah pemikiran saya yang makin menemukan relevansi kekinian yang kompleks, atau jangan-jangan pikiran ini tak lazim, tidak berguna hingga sepi dalam keramaian.

Tetapi, kita Harus memperteguh Motif berkader. Sebab, Dalam siroh para Nabi ada energi yang muncul setelah mereka mengalami fase yang berat dalam hidup. Nabi yusuf misalnya ; setelah kedengkian 10 saudaranya. konspirasi pembunuhan pun di rencanakan, Yusuf lalu dibuang ke dalam sumur secara hidup-hidup. 40 tahun kemudian mereka (Saudara-Saudaranya) datang dengan menghamba pada Yusuf untuk meminta makan dinegeri mesir.

Yusuf sudah jadi raja atas tanah itu. mereka para pembunuh itu datang dengan muka papah. Mengiba pada raja agar diberi bantuan makan. Mereka sama sekali tidak mengenali bahwa yang ada dihadapannya adalah adik kandung yang dulu ingin dibunuh akibat dengki. 

Hidup itu dipertukarkan. dibanyak kesempatan kita menang dalam pertarungan. tetapi, kekalahan juga bahagian dari resiko yang harus ditanggung bersama dengan keinginan untuk menang. Allah pasti punya jalan untuk memenangkanmu dipertarungan berikutnya.

Selepas BerHmI, kita jadi apa?. 

Memang dulu HmI itu produsen politisi. Sehingga surplus politisi dan defisit disektor profesional lain. Bahkan dalam beberapa kesempatan sistem perkaderan yang demikian mengungkit kritik di Internal HmI. Karena asumsi inilah, maka pada saat kegiatan rekonstruksi NDP dan perkaderan HmI di Mataram (2004), ada beberapa kawan senior yang mengusulkan dihapuskannya materi Ideopolstratag dalam kurikulum trainning HmI. Agar kader-kader tidak genit dengan politik praktis. Tapi, menurutku bukan itu solusianya. Saya kira, yang demikian ini, karena intuisi leadership dalam anatomi perkaderan HmI begitu kuat. Hal Ini membawa akibat pada naluri setiap kader untuk memimpin.

Saluran paling mungkin adalah melalui politik praktis dan jaringan alumni politis. Saya kira, kondisi yang sama juga di rasakan teman-teman OKP lain seperti IMM, PMII, GMKI, GMNI, PMKRI dan lainnya.

Artinya, sejak awal embrio cita-cita sosial setiap kader HmI itu ada dan mendarah daging. Selepas BerHmI kita di uji untuk mengartikulasikan-mengobjektifikasi cita-cita sosial perkaderan itu di alam nyata Dan kita semua sekarang sedang melakukannya dengan cara masing-masing. Kuncinya perkaderan itu membesarkan, bukan besar sendiri-sendiri Semu! Demi cita-cita sosial kita semasa berHmI.

Nilai telah tergerus kepentingan elit kaum Muda.

Nilai tak lagi memiliki ksatria penjaga.

Nilai telah menjadi pertaruhan ego dan popularitas.

Harapan berbenah berakhir dengan sedikit slogan "Yakin Usaha Sampai".

Yakin dan pasti, ada sekelompok kecil di sudut identitas selalu menjaga Nilai agar tak menjadi Buih. yang tersisa, Bertahanlah..!


Semoga kita menjadi kader muslim, intelektual, professional Dan Semoga kelak HMI ini lenyap dalam keadaan Husnul khotimah, bukan su'ul khotimah.


* Pustaka Hayat
* Yakin Usaha Sampai
* Muslim Intelektual profesional
* Makassar, 24 Juni 2018
* Rst - Nalar Pinggiran

Selasa, 13 Juni 2023

MANUSIA TERBAIK TERLAHIR DARI GAGASAN MERITOKRASI

 

Beberapa kawan, kerap menanyakan, Apakah kita semakin menjauh dari hukum alam atau tidak?. Secara cepat saya menjawabnya, bahwa kita semakin menjauh. Sebab, Salah satu hal yang bisa kita pelajari dari alam. misalnya, pada Singa. Singa Yang punya keturanan adalah singa yang punya kualitas terbaik dalam beradaptasi terhadap kondisi lingkungannya. Sehingga singa yang paling dominanlah, yang Gennya akan mengikutinya. Siklus itu akan berputar terus menerus. Artinya, bagaimana kumpulan singa menghargai kualitas terbaiknya di dalam kumpulannya.

Demokrasi mungkin akronim dari yunani yang paling absurd. Sebab, bagaimana mungkin "Demos- Rakyat" bisa menyatu dengan "cratos - otoritas" atau kekuasaan rakyat bisa mewujud secara absolut dan kongkrit.

Sementara pemilu dianggap sebagai mekanisme paling modern untuk merealisasikan suara rakyat pun hanya mewakili sebahagian dan sebahagian dari keseluruhan tersebut, hanya memabawa Rakyat ke jurang Kenestapaan.

Di titik itulah Socrates - peletak Dasar Demokrasi pun meragukan Demokrasi. Justru ia mengusulkan gagasan MERITOKRASI. Sebuah gagasan, dimana rakyat di pimpin oleh orang-orang yang memiliki keahlian tinggi di bidang-bidang yang di butuhkan oleh sebuah masyarakat modern. 

Sebuah negara, yang tidak menghargai kualitas terbaiknya, di bidangnya masing-masing. pasti negara itu mengalami penurunan grafik.

"Menurutmu, kepemimpinan di negara kita ini, entah itu Pemerintah, Intelektual atau ulamanya, apakah mereka punya parameter untuk mengukur kualitas dari bangsanya sendiri, sehingga dia punya kebijaksanaan untuk menemukan Kualitas terbaik. Sebab, Kualitas terbaik ini, jika dilihat dalam terma politik, kerap disebut sebagai Putra terbaik. Nah, sekarang, putra terbaiknya bangsa kita, siapa?".

Sebenarnya, persoalan putra terbaik atau kualitas terbaik, tidak hanya terjadi di indonesia, ihwal ini merupakan problem seluruh dunia. Karena Putra terbaik atau Kualitas terbaik itu Emergency, muncul dari interaksi Game (Permainan) dari society.

Misalnya sekarang, ruang publik kita adalah pesbuk, Twitter, IG dan Tiktok. Siapa Yang paling banyak mendapatkan like adalah putra terbaik (kualitas terbaik), tidak ada urusannya dengan kapabilitasnya seperti apa Atau siapa yang paling terkenal, siapa yang paling mendapat perhatian masyarakat, dianggap sebagai kualitas terbaik. Hal ini merupakan simplifikasi-simplifikasi yang berbahaya, dan ini bukan hanya problem Indonesia, melainkan problem dunia .

Sebelum Sistem diatas (Kualitas terbaik diukur dari Jumlah Like diMedsos). kemarin Dunia telah mencoba menemukan kualitas terbaik dengan Sistem yang cukup efektif, yaitu sistem akademik atau cara menunjukkan kualitas terbaik sangat ditentukan dengan hirarki Ekspertasi : Siapa yang S1, S2, S3, sampai dengan Prof. Sehingga pada ihwal-ihwal tertentu yang diambil adalah yang ahli di bidangnya.

"Nah, jika ada pertanyaan pragmatis begini : jadi Internet, medsos dan sejensinya, menurtmu itu menurunkan grafik atau menaikkan grafik dalam menemukan Kualitas terbaik? ".

Wah, ini implikasinya berbahaya jika di jawab sederhana. Bagi saya, internet dan medsos lainnya adalah komponen tambahan. Misalanya, 200 tahun yang lalu, parameternya adalah Sumber Daya (Uang), sekalipun sekarang juga masih sama, tetapi ada penambahan instrumen lainnya, seperti sosmed dan popularitas. 

Maksudnya, popularitas tidak menggantikan komponen uang. Tetapi, komponen popularitas menjadi komponen baru, bersama komponen uang menjadi parameter yang dianggap paling relevan menentukan kualitas terbaik. Tetapi, impacnya berbahaya, karena hilang kepakaran, sehingga membuat dua komponen diatas menjadi rentan.

"kalau menggunakan kerangka argumentasimu, maka apa yang seharusnya dilakukan stekholder bangsa ini untuk menemukan putra terbaik atau Kualitas terbaik itu, berdasarkan dorongan kesadaran primernya?".

Urusan menentukan putra terbaik atau kualitas ini juga kompleks. Tidak hanya pintar saja. Dia juga niscaya punya kepekaan sosial, punya kemampuan komunikasi, punya kemampuan kerja sama. hal itu tidak mudah, ia kompleks. Menurutku, satu tes untuk mencapai tujuan itu tidak begitu akurat juga.

"Oke, Secara sistem, bukankah hal itu merupakan Tugas Parpol, tugas Ulama, tugas Pemerintah, tugas kelompok-kelompok belajar, tugas ormas intelektual yang secara bersama-sama secara random untuk menemukan siapa kualitas terbaik di bangsa ini. Bagaimana kamu melihatnya selama 10 tahun belakangan ini, apakah tugas dan fungsi insitusi menyeleksi kualitas terbaik berjalan atau tidak?". 

sistemnya tidak balance, seharusnya untuk menentukan kualitas terbaik dimanapun dikolong langit indonesia, harus punya kesempatan muncul yang sama.  Masalahnya sekarang adalah kesempatan untuk menjadi kualitas terbaik itu tidak sama. Bukan berarti kita tidak memiliki kualitas terbaik,  kita punya Kualitas terbaik.  Tetapi,  dia tidak mendapatkan akses ruang,  akses ekonomi,  akses koneksi  untuk naik tahta. Sementara yang memiliki seluruh komponen tersebut, sekalipun bukan kualitas terbaik sangat mudah naik tahta. Mengapa?.  Karena memang Sistem kita, belum bisa memberikan equal opurtunity untuk manusia tumbuh.  

"siapa atau golongan apa yang paling bertanggung jawab untuk menemukan Kualitas terbaik ini? ". 

Bukan menumbuhkan yah,  tetapi Membuat sebuah sistem agar semua potensi manapun bisa muncul dengan mudah.  Mau seseorang itu dipinggiran atau ditengah kota, harus punya potensi yang sama. Dan yang paling punya peran dan kekuatan menemukannya adalah pemerintah.

"tapi, bukankah pemerintah sebenarnya adalah parpol-parpol, sampai dilevel akar rumput. Maksud saya, Orang yang tidak pantas berada di tempat yang tidak pantas sedangkan untuk orang yang seharusnya berada disuatu tempat, justru tersingkirkan di suatu tempat?".

Itu tidak pantas pada sistem yang tidak berlaku. Kenapa dia bisa naik?. Karena menurut sistem yang ada, dia pantas. Sekalipun sistem tersbut tidak kompatibel dengan Sunnatullah masa depan.  

"menurut saya, hal itu adalah gagasan kenegarawanan, bukan gagasan politik. Jadi, harus ada simpul-simpul kenegarawanan yang membangkitkan gagasan, untuk kita ketahui, bahwa betapa pentingnya kita memunculkan putra-putra terbaik (kualitas terbaik) bangsa? ". 

Teknisnya begini, tidak usah indonesia dulu. misalnya parpol saja. Untuk menentukan kualitas terbaiknya atau putra terbaiknya, bukan pada urusan dia dekat dengan siapa, bukan dia punya uang seberapa, dsb. Itu sudah lumayan.  

"Jadi menurutmu, apa yang paling urgen yang sejatinya dilakukan oleh generasinya kita sekarang? ". 

Membuat ruang publik, yang setiap orang bisa bermain didalamnya. Equal opurtunity, yang outputnya adalah menemukan manusia terbaik. 

" Ruang publik itu bentuk kongkritnya?". 

Ruang publik yang telah saya sampaikkan sebelumnya, teknologi yang berkembang. Nah, hal ini bisa bergeser tempat, tadinya ruang publik itu adalah ruang-ruang diskusi, media masa, koran, dan seterusnya. Sekarang, ada internet yang setiap orang bisa main didalamnya, tanpa biaya. Seperti dunia maya, misalnya. Hal itu bisa membuat rule of the game baru. 

" Tapi, Faktanya bagaimana? ".

Belum ada yang membuat sistem itu, iya. Tetapi, perlu juga dimaklumi sebab, teknologi itu baru juga masuk, belum 15 tahunan. Sebab, teknologi baru yang masuk, biasanya adalah motif ekonomi dari sistem sebelumnya. Makanya, menjadi wajar saja jika Ruang publik sekarang bukan bermotif menemukan manusia terbaik, tetapi menjadi motif ekononi, make sense. Karena memang evolusinya sedang disitu.  

"Hal yang terpenting sekarang adalah bagaimana generasi yang paling baru mencari konstruksi ruang publik, sebagaimana manusia pertama untuk menemukan berbagai macam formula, yang titik utamanya adalah membuka kesempatan untuk menemukan dan menumbuhkan manusia terbaik? ". 

Yah, efeknya adalah muncul putra terbaik atau kualitas terbaik atau manusia terbaik. 

"jadi mestinya setiap parpol, pikiranya harus demikian, yah?".

Sependek pemahaman saya, soal parpol itu idealnya mereka berkumpul karena menjaga sebuah ideologi, yang dijadikan sebagai kerangka sikap. Nah, make sense dari parpol ialah mencari putra terbaiknya. 

"iya harus, bukankah mereka selalu mengaku untuk indonesia, untuk Rakyat. Mengakunya selalu demikian. Baik itu parpol ataupun ormas-ormas". 

Problemnya, jika dia parpol atau apapun adalah identintas utama dari sebuah kumpulan adalah kumpulannya, bukan indonesianya. Jadi, jika manusia terbaik atau putra terbaik bukan dari kumpulan tertentu, maka dia tidak akan di terima. Nah, inilah kekanak-kanakan kita dalam berkumpul. Sehingga, saya membayangkan, kita perlu berapa puluhan tahun lagi untuk sebuah kedewasaan publik, bahwa untuk menemukan manusia terbaik atau putra terbaik, tidak harus datang dari teman kita, keluarga kita, ras kita dan dari agama kita. Karena efeknya akan berbalik ke kita juga.

Hal itu merupakan kelemahan mental dan psikologi manusia secara internasional. Saya membayangkan kondisi tersebut. seperti ini ; kondisi mental kita seperti manusia pra sejarah, kondisi organisasi (kumpulan) kita seperti abad pertengahan. Tetapi, teknologinya sudah mendekati Tuhan. Hehehe, ini sangat tidak kompatibel.  

Nah, siapa yang bisa mengejar ketertinggalan mental dan psikologi kita yang demikian. tidak lain dan tidak bukan adalah manusia terbaik. Pertanyaan mundurnya ialah bagaimana cara menemukan manusia terbaik?. 

Misalnya, Untuk sampai kita bisa memanen padi, jagung atau tanaman apapun, tugas kita hanya menanamnya, menyiraminya dan Merawatnya. Sementara yang menumbuhkan pohonnya, kan bukan kita, yang menumbuhkan buahnya, kan bukan kita. Jadi menurutku, begitu juga siklus menemukan manusia terbaik dalam sejarah bangsa ini.  

Sekarang yang terpenting adalah bagaimana generasi kita mencari simpul-simpul diseluruh indonesia untuk fokus berpikir menemukan manusia terbaik. NALAR PINGGIRAN Telah memulainnya, sejak 2 tahun lalu. melompati arus Kebanyakan orang berpikir, demi menemukan dan menempa kualitas manusia terbaik. 

Kalau kita bicara indonesia, berarti yang ditanam adalah seluruh indonesia. Bahwa nanti putra terbaik atau manusia terbaiknya datang dari HMI, IMM, PMII, Kammi, NU, Muhammadiyah, datang dari parpol atau datang dari seseorang yang kita benci sekalipun. Itulah kedewasaan yang harus membuat kita siap atau tidak?. Sebab, kita sudah memiliki semua ormas dan Parpol besar di bangsa ini. Hanya saja, belum ada satupun yang relevan dan khusyu memberikan kualifikasi dalam menemukan manusia terbaik. 

Jika hal itu di fokuskan atau di kualifikasi. maka, semua pemimpin di bangsa ini akan muncul secara otomatis. Akan muncul secara alamiah, berdasarkan verifikasi kultural. 

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan, sebuah contoh sejarah, bagaimana mekanisme ini membuat peradaban tersebut luar biasa, yaitu seorang "Temu Jhin". 

Temu Jhin adalah nama asli dari seorang Genghis Khan. memang dia adalah anak selir, yang tidak terlalu kuat sebenarnya. Tetapi, bagaimana sehingga dia bisa mengumpulkan banyak pasukan dan pasukannya bisa menguasai semua suku-suku dan lalu ia bisa mengekspansi dunia begitu luar biasa.  

Ada salah satu yang dilakukan oleh Temu Jhin, yang saya hendak sampaikan pada kesempatan tulisan ini. Waktu itu, semua pemimpin atau panglima atau petinggi, atau Jendral di suku-suku tersebut, harus dari darah biru. Dalam bahasa moderennya adalah oligarki. Kalau kamu bukan darah biru, maka di pastikan kamu tidak akan bisa naik. 

Temu Jhin atau Genghis Khan waktu itu, menabrak semua struktur hirarki tersebut : jika kamu ikut saya, saya tidak perduli, apakah kamu petani, nelayan, atau apapun. jika kamu jendral Hebat, naik. Jika kamu petarung hebat, naik.  

Mereka naik, Benar-benar karena kemampuan mereka masing-masing. Sehingga orang-orang yang terbuang sebelumnya, karena tidak berasal dari darah biru berkumpul kepada Genghis Khan, karena Game Fairnya adalah manusia terbaiklah yang akan naik.  

Itulah bentuk demokratisasi Ala Genghis Khan, sistem tersebut dikenal dengan Terma MERITOKRITAS. 

Bahwa seseorang naik menjadi Manusia atau kualitas terbaik, karena memang dia terbaik. Bukan karena dia Darah apa, koneksinya siapa, Uangnya seberapa, dia dekat dengan siapa.  

Lihatlah Genghis Khan dengan mongolianya, menjadi tersohor di Asia Tengah, karena ia menjalankan kualifikasi, bahwa setiap orang punya potensi menjadi Manusia terbaik.  

Artinya, kita butuh Genghis khan di indonesia. Tetapi, tidak dengan Genghis Khan yang identik dengan kebengisan dan kekejamannya. Melainkan mencari manusia indonesia yang menjalankan Sistem Meritokritas. 


*Pena Koesam
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran

FIDEL CASTRO

 

Fidel Castro Dan Chee Guevara banyak terilhami dengan ide dan gagasan Bung Karno dalam membangun sistem politik Negara Cuba .

Tanggal 3 agustus kemarin Kuba memperingati hari kelahiran Fidel Castro sang pemimpin revolusi yang lahir di tahun 1926.

Sejak memimpin Kuba tahun 1959 Fidel Castro telah mengubah negerinya menjadi salah satu yang terdepan dalam menentang kesewenangan Blok Barat pimpinan AS.

Tentunya Amerika Serikat berusaha menyingkirkan Castro dengan segala cara. Sedikitnya 638 kali upaya CIA untuk membunuh Castro.

Di bawah kepemimpinan Fidel Castro, Kuba berhasil meningkatkan kualitas hidup rakyatnya. Mulai dari pemberantasan buta huruf dan peningkatan kualitas pendidikan hingga pemenuhan layanan kesehatan. Bukan hanya mencukupi kebutuhan akan tenaga medis, bahkan Kuba memiliki dokter dan tenaga medis dalam jumlah yang sangat banyak. hingga mampu mengirim dokter ke berbagai negara yang membutuhkan. Terhitung Sejak tahun 1960-an, sementara USA mengirimkan ratusan ribu tentara yang membunuh jutaan manusia di seluruh dunia, Kuba mengirim lebih dari 200.000 dokter dan tenaga medis lainnya ke berbagai negara.

Kuba adalah salah satu negara dengan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakatnya. Dulu ada pasien malpraktek di Indonesia yang bernama Aguan di beri tawaran oleh dubes Kuba di Jakarta untuk di rawat di Havana secara gratis asal bisa di berangkatkan ke sana pulang pergi.

Banyak yang menuntut ilmu kedokteran disana, termasuk warga Indonesia, biaya pendidikan kedokteran gratis, setelah lulus, untuk waktu 2 tahun, mereka diwajibkan menyumbangkan ilmunya pada masyarakat.

Raul Castro, adik Fidel Castro memang tidak seketat kakaknya. Dia  lebih fokus ke peningkatan ekonomi antara lain mulai menyerahkan pertanian kepada petani swasta dan koperasi demi menggenjot produksi. Juga mencabut larangan beberapa produk AS. Tapi secara garis besar tetap melanjutkan arah kepemimpinan fidel. hubungannya dengan iran juga baik.

Fidel Kastro adalah sahabat dekat Bung karno terdepan dalam mendrikan organisasi negara nonblok menangkal hegemoni Blok barat yang dipimpin USA.


Fidel Castro, Si Flamboyan asal Cuba, di sidangkan dalam sebuah pengadilan ketika rencana kudetannya yang pertama tidak berhasil, Castro berteriak dengan lantang di pengadilan : " Historia Me Absolvera (biarlah sejarah yg membebaskanku)". Demikian kira-kira maksud Tokoh yang berjanggut dan bercambang ini.

Castro benar, sejarah hampir selalu tentang para pemenang. Risalah dan kisah orang besar, yang hidup dan pemikirannya sangat inspiratif bagi generasi berikutnya. Tapi karena pilihan politiknya tidak sejalan dengan pilihn politik pemegang kekuasaan, "orang-orang ini di letakkan dalam Footnote sejarah". Namun tetap, setiap yang inspiratif itu akan muncul oleh perjalanan waktu-setidaknya Begitu Kata Ernest Hemingway dalam salah satu Novelnya. Sekuat apapun daya upaya, pemegang kekuasaan politik menghilangkan ketokohan seseorang, melawan waktu adalah sebuah kemustahilan. 

Pernah suatu ketika, wartawan Senior Almarhum Rosihan Anwar mengatakan Bangsa ini Brengsek, dalam sebuah artikelnya, tokoh pers yang di juluki Begawan Pers indonesia tersebut mengatakan : " Mr. Asaat dan Syafrudin Prawiranergara, tidak pernah di sebut, orang-orang tidak mengenal mereka lagi. Maka saya bilang selama ini, bangsa kita brengsek.


* Pustaka Hayat
* pejalan sunyi
* Rst
* Nalar Pinggiran

MEMOAR OF KHADAFFI DAN IRAN

 

Diminggu-minggu terakhir bulan juni 2011. Delapan tahun yang lalu, Khaddafi mulai "sempoyongan". Anak ideologis Nasser yang terkenal dengan ungkapan; "Amerika serikat dan Rusia, sama saja. Yang satu Imprealis, lainnya atheis", ini pada akhirnya menyerah pada Tuntutan zaman.

Terlepas suka atau tidak suka pada Moammar khaddafi, tapi apa yang berlaku padanya pada Juni 2011 itu, sungguh membuat kita teringat dengan dialog monumental antara Alexander Agung penguasa Mecedonia dan seorang Nelayan kecil.

"Mengapa kamu mengambil ikan dilaut kekuasaan saya", kata Alexander anak Philipus.

"Anda Mencaplok wilayah saya karena anda kuat. maka kamu dianggap pahlawan. Sedangkan saya hanya mengambil sedikit untuk menopang kehidupan hari-hari dan saya dicap penjahat. Kata nelayan kecil tersebut.

Di bulan juli 2011, NATO (ujung tombaknya adalah Amerika serikat), ibarat Alexander Agung dan Nelayan (kecil) adalah Khaddafi.

Di timur tengah, tidak ada yang mengalahkan lamannya khaddafi berkuasa. Baik Husni Mubarok, Maupun Ben Ali serta Pemimpin negara Arab lainnya seperti di Yaman atau di Aljazair. Tapi riak Jasmine revolusi dan egypt revolusi seakan telah memicu konflik horisontal di libya. Atas nama Demokrasi, Obama dan NATO yang kental dengan "kepentingan minyak" dan pemberontakan di libya menyerang mereka. Ia diserang dari empat penjuru mata angin. Khaddafi "sempoyongan" kemudian rebah dan berdarah. Padam.!

Melihat kondisi timur tengah hari ini, apa yang bisa kita ambil dari khaddafi?. Menjelang kejatuhannya, saya pernah membaca tentang khaddafi disebuah portal online tentangnya.

Moammar khaddafi, tidak lebih dan tidak kurang adalah pribadi yang responsif dan spontan. Ia beda dengan Anwar Saddat dan Husni Mubarok, apalagi bila disandingkan dengan Al-Hafeez al- Saddat yang kala hidupnya termasuk tokoh yang paling berpengaruh di timur tengah. Khaddafi memiliki dunianya sendiri yang kadang kontradiktif. Merindukan arab yang bersatu disatu sisi, pada sisi lain dengan mudahya ia melecehkan sultan-sultan konservatif Timur tengah. 

Khaddafi yang menyedot kekaguman saya untuk pertama kali lewat cover majalah Tempo, mengklaim dirinya sebagai anak ideologis Nasser. Saya ingat dengan penggalan wawancara wartawan Tempo (pasca peristiwa peledakan pesawat terbang Pan Am di Lockbery) dengan khaddafi. " ketika berhasil menurunkan Raja Idris, bertanyalah Raja Hassan dari Maroko pada khaddafi, apakah kamu anak sosialis partai beath?", kata khaddafi : tidak, saya adalah anak revolusi Nasser.

Khaddafi mungkin bukan pribadi yang kompleks seumpama Nasser. Kontradiktif memang, boleh dibilang begitu. Khaddafi merupakan pribadi yang puritan dalam dunia yang kompleks. Baginya, selain Islam, tidak ada alternative lain Dan ini, ia tuangkan dalam buku ideologisnya yang terkenal, buku hijau, sebuah buku "mirip" Das Kapital bagi kaum Marxis. Baginya memilih diantara dua kutub ideologi besar ; Amerika serikat atau Uni soviet (Rusia) bukan sebuah pilihan yang cerdas. Sebab satunya "Imprealis, satunya lagi Atheis". 

Sebuah ungkapan yang terkenal, seperti Tidak barat, tidak timurnya Ayahtullah Ruhullah Khomeini. Kala ia menggugat Nasser saat memilih Rusia atau Uni soviet sebagai "teman berdayung" menghadapi israel yang tentunya dibawah bayang-bayang Amerika serikat, Nasser kelabakan menjelaskan hubungan-hubungan politik-Regional yang tidak hitam dan tidak putih pada khaddafi.

Puritanisme khaddafi ini merupakan refleksi dari kesederhanaannya dalam ketenaran. Ia mencintai dunia ini, karena satu Faktor : kedisiplinan. Tapi nalurinya tetap kebebasan ala badui padang pasir. Tidaklah mengherankan bila ia responsif dan spontan. Ia pernah marah besar pada Raja Yordania-Hussien, yang mengobrak abrik kelompok fedayyin: "Raja sinting itu harus diborgol dan dibuang ke luar arab". Dengan santainya khaddafi juga memanggil raja-raja Arab dengan sebutan saudara. Tentu raja-raja konservatif ini tersinggung luar biasa. Khaddafi tidak perduli, apakah ucapannya itu berpotensi menjadi batu penghalang mewujudkan mimpinya akan "persatuan arab". Dan memang, ide besar yang ia rujuk pada Pan Arabisme Nasser ini, tidak pernah didukung negara-negara Arab yang mayoritas kerajaan. 

Jauh sebelum khaddafi menjatuhkan Raja Idris di libya, ia menyaksikan betapa rapuhnya persatuan Arab. Ia miris menyaksikan kehancuran dunia arab, baik dalam perang suez 1955, maupun perang juni 1967 (Yom kippur).

"Semua ini karena persatuan Arab yang bercerai berai", pekiknya.

Tidaklah mengherankan, tidak sampai hitungan minggu ia berhasil merebut libya, khaddafi menyampaikkan pesan pada Nasser, Mentornya. "Beritahukan Nasser, Revolusi ini digerakkan untuknya, karena itu ia boleh ambil apa saja milik kami. Libya punya beratus pantai tengah, punya segalannya. Semuanya itu bisa di pakainya dalam bertempur mewujudkan persatuan arab", ujarnya. 

Gagasan ini tidak ditanggapi Nasser secara serius. Ketika Nasser meninggal dan digantikan Anwar Sadat, khaddafi juga mengajak suami Jehan Sadat untuk penyatuan arab. Bermula dari penyatuan libya dan mesir. Bersama ibu, anak dan istrinya menggerakkan 40.000 rakyat libya Long Marc dari libya ke Kairo, sebuah perjalanan yang teramat panjang. Khaddafi ingin menunjukkan kesungguhan yang responsive dan spontan. 

Anwar Sadat tergugah, pembicaraan kedua negara ini dimulai. Libya akan dijadikan salah satu provinsi dimesir. Lalu khaddafi?, siap melaksanakan jabatannya. Tapi ambisi peyatuan dua negara ini tak bertahan lama. Anwar Sadat dan khaddafi, pecah kongsi dan berselisih paham. Bagi sadat, khaddafi tidak matang dan tidak memiliki keseimbangan. Ia terlampau spontan dan tidak stabil, menggelora tanpa perhitungan. Sebaliknya, khaddafi menilai saddat kurang Revolusioner.

Gagal dengan Nasser dan Anwar Sadat, tidak menyurutkan khaddafi untuk mewujudkan keinginan dan mimpinnya tentang penyatuan arab. Pada awal Tahun 1980-an, ia pernah mengajak negara Aljzair dan syiria serta maroko bersatu. Tapi karena ia adalah gabungan "militer yang disiplin dan naluri badui", membuat negara-negara yang diajaknya ini tidak berkenan. Tapi mimpinya ini setidaknya memberikan catatan bagi sejarah bahwa solusi terbaik bagi negara-negara di timur tengah adalah dua, "penyatuan arab" dan selalu mengingat kata-katannya bahwa Amerika serikat dan rusia sama saja.

"Sepertinya khaddafi benar".

Khadafi Sudah Usai beberapa Tahun lalu. Suriah pun "diobok-Obok", walau akhirnya Bashar Al-Assad tetap bertahan karena didukung penuh mayoritas Rakyatnya. Yaman karena tidak Strategis, dibiarkan mencari Nasib mereka sendiri.


Lalu, Iran tetap dianggap Negara "Epidemik". Pengaruhnya ditakuti, setidaknya dikawasan Timur tengah. Sejak dulu, jauh sebelum Saddam hussein dan Khadafi Jatuh, Iran terus dicurigai. Negara-negara yang berhubungan dengan Iran pun dianggap pantas seperti Iran, bahkan hingga hari ini.

Tetapi, Iran beda dengan Irak dan Libya. Iran adalah salah satu negara terkuat dengan peralatan persenjataan yang mumpuni di timteng, selain Israel.

Berbeda dengan Arab Saudi yang kuat karena sokongan negara-negara barat. Iran justru Menghasilkan sendiri (tentu pada bagian-bagian tertentu di Back up oleh Rusia). Orang Persia sudah sejak dulu dikenal dengan tradisi Intelektualnya yang tinggi, maupun menghasilkan persenjataan-persenjataan yang canggih, sebab mereka tidak ingin diperlakukan seperti Irak dibawah Saddam atau Libya dengan Rezim KhaddafiNya.

Negara-negara Barat (NATO) tidak bisa memungkiri keinginan menaklukkan Iran. Disamping kaya Minyak serta dikuasai oleh Rezim Mullah yang kritis terhadap barat, Iran juga menjadi lawan abadi Israel, miniatur Amerika serikat di Timur tengah. Mereka pasti berpikir ulang, sebab iran berbeda dengan Irak di era Saddam dan Libya di masa Khaddafi.

Di Iran Proses demokrasi berjalan dengan baik. Mayoritas masyarakat Iran adalah penganut Syi'ah secara Sosiologis -Antropologis - Teologis. 

Berbeda dengan Rakyat Mesir - Arab Saudi - Libya yang Mayoritas Sunni. Syi'ah memiliki Militansi yang "Menggetarkan" karena ditopang dengan ajaran Normatif - Teologis-Historis. Karbala dan Hussein Vs Yazid. Inilah yang membuat Saddam hussein pada Era 80-an muntah - Muntah berhadapan dengan iran yang baru Siuman dari Revolusi menurunkan Syah Reza Pahlevi.

Walau didukung oleh Hampir seluruh negara-negara Teluk dan Barat, Saddam Akhirnya mengibarkan bendera putih setelah perang Iran-Irak selama kurang lebih 9 tahun. Riwayat hidup Saddam hussein pun kita tahu bagaimana akhirnya, begitu pula dengan Khaddafi.

Tanggal 25/10/2011, pada Reuters. Ahmadinedjad berkata; " Barat sejak awal hanya ingin menjarah minyak Libya, dan hanya akan mendukung Moammar khaddafi jika menguntungkan mereka. Bahkan, barat tidak akan segan-segan melengserkan khaddafi jika di nilai tidak bisa menyokong keinginan mereka. Tunjukkan pada saya, satu saja pemimpin eropa atau amerika yang belum pernah berkunjung ke Libya atau memiliki persetujuan dengan Libya.

Kongklusinya; "Tak ada makan siang yang gratis". Setidaknya demikian kesepakatan yang di kenal dalam Ilmu politik.

Trump : "Bagaimanapun iran tidak akan memiliki senjata Nuklir". (05/01/2020).

Saya Ingat Tutur Mantan presiden Iran, Mahmmoud Ahmadinedjad : " jika nuklir itu buruk, mengapa anda-anda memilikinya?. Jika nuklir itu baik, lalu mengapa kami tidak boleh memilikinya.

Dalam Kaca Mata Amerika, Iran selalu buruk, sepertinya Amerika merasa diri Negara yang paling baik didunia. Padahal, berapa banyak negara yang dihancurkan oleh Amerika serikat dengan alasan demokrasi. Kalau demokrasi menghancurkan negara lain, apa bedannya dengan Anarki.

Niat Membangkitkan Ghiroh Nasionalisme Chauvinis, atas rencana pemakzulan dirinya (Trump). Tetapi salah Piccah, ternyata Ia (Trump) justru mendapat Protes dari Rakyatnya sendiri. Setelah, atas perintahnya pesawat Nirawak menghujam Bandara Irak, dengan Target pembunuhannya adalah Mayjen Solaimani, pemimpin Garda Revolusi Islam Iran.

Untuk memutus mata rantai komunikasi Iran dengan kelompok-kelompok penentang AS dan kawan-kawan. Solaimani adalah target utamanya.

Tapi ingat, Iran itu Bangsa Persia. Negeri para Mullah. Pembunahan adalah Harga yang harus di bayar mahal. Kisah heroisme bangsa mereka banyak dinukil dalam buku-buku. 



NB ; Pernah Di Publikasikan Di Media On line


* Pustaka Hayat
* pejalan Sunyi
* Rst
* Nalar pinggiran

SADDAM HUSAIN DAN SUKU KURDI

 


Namanya adalah Saddam Hussein. Suka dan benci, geram dan rindu, melekat pada dirinya. Dunia Barat dan sebagian negara (Islam) menganggapnya sebagai pahlawan ketika ia memimpin langsung perang Irak - Iran yang begitu panjang. Kemudian ia (dianggap) kalah. Lantas pihak yang selama ini menggantungkan harapan besar pada dirinya, mulai memandang sinis dan menganggapnya orang yang tidak “pantas” mendapat anjung penghormatan. 

Selanjutnya, Saddam marah dan mencari justifikasi historis ketika mencaplok Kuwait. Sebagian besar negara Islam terkejut dan sedih, “mengapa Saddam melukai hati kita?”. Lalu, ketika Saddam dibombardir dari kiri kanan, dari atas dan “mendatar”, negara-negara Islam hanya menonton, marah yang tidak serius, iba tapi bercampur geram dan sejenisnya. Saddam yang awalnya dianggap pahlawan bagi rakyatnya, pada gilirannya, justru seperti “direstui” rakyatnya untuk dihabisi. 

Setelah melewati persidangan yang (banyak dianggap) berbagai pihak sebagai bentuk ketidakadilan, Saddam digantung. Setelah itu, hingga kini, nama Saddam seperti “dirindukan”. Terlepas dari semua kontroversinya, Saddam dianggap sebagai figur yang mau melawan dominasi Barat. Terlepas dari berbagai analisis yang melatarbelakanginya, karena pada awalnya justru ia dianggap sebagai “boneka” Barat. 

“Siapakah Saddam?”. 

Nama lengkapnya adalah Saddam Hussein al-Takriti. Lahir di Takrit, Irak Tengah. Saddam, menurut banyak pihak, memiliki arti “penentang”. Orang yang suka melawan. Ketika muda, Saddam mulai mengenal politik. Ditandai dengan masuknya Saddam ke Partai Baath. Partai yang didirikan oleh Michel Aflaq ini, awal berdirinya dianggap sebagai partai yang membawa “mimpi” Pan-Arab. Dalam perjalanannya, pecah. Satu berpusat di Suriah, satu lagi di Irak. Mimpi tidak kesampaian, pecah yang justru didapatkan. Biasa, pertentangan internal selalu melahirkan cabang dan ranting. 

Kembali ke Saddam. Partai Baath yang sosialis (agresif) tersebut serta jiwa muda yang - “ingin memakan semuanya”, membuat Saddam terbawa serta dalam sebuah kelompok yang melakukan percobaan pembununhan (gagal) terhadap Presiden Irak, Abdel Kareem Qassem. Ia lalu melarikan diri ke Mesir. Dalam buku biografi Saddam “The Man the Cause and the Future” yang ditulis Fuad Matar, dikisahkan Saddam sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Kairo. Setelah Abdel Kareem Qassem tidak lagi menjadi Presiden, Saddam kembali ke Irak. 

Dalam usia 26 tahun, Saddam menikahi sepupunya, Sajida. Selanjutnya, pernikahan Saddam dengan sepupunya yang lebih tua 1 tahun (ada yang menyebut : 2 tahun) tersebut, menjadi titik balik perjalanan karir politik Saddam. Sajida dikenal sebagai perempuan pintar yang ambisius. Beliau dianggap sebagai faktor utama cemerlangnya perjalanan karir politik Saddam selanjutnya. 

Saddam aktif dalam Partai Baath. Kemudian menjadi Wakil Ketua Dewan Komando Revolusi Irak. Dasar sebagai “penentang”, sesuai dengan arti namanya, Saddam turut serta dalam penyerangan ke istana Kepresidenan Irak. Presiden pada waktu itu, Abdel Salam Aref, turun. Kemudian digantikan oleh Ahmad al-Bakr. Presiden pertama dari partai Baath, partainya Saddam Hussein. 

“Lamakah Ahmad Al-Bakr menjadi Presiden?”. Tidak. Hanya lebih kurang 3 tahun. Tahun 1979, Ahmad al-Bakr disingkirkan. 

“Siapa yang menyingkirkannya ?”.  Saddam Hussein !. 

Bulan Juli 1979, Saddam Hussein menjadi Presiden Irak. Sejak Saddam jadi Presiden, Irak kemudian menjadi “sorotan” dan perbincangan dunia. Bermula dengan Perang Irak - Iran. Perang yang hancur-hancuran dengan sama-sama meneriakkan kalimat yang sama tersebut (maksudnya : takbir yang sama), membuat Saddam (dan Khomeini) menjadi pusat perhatian dunia. Kala itu, membicarakan Timur Tengah, maka orang akan mengarahkan telunjuknya (hanya) pada dua negara, Iran dan Irak. Saddam dan Khomeini. 

Pemimpin-pemimpin negara lainnya di Timur Tengah hanya sebagai sumber berita pelengkap. Selajutnya, atas Resolusi PBB, Perang panjang itu, berhenti. Gencatan senjata diberlakukan. Karena itu, dalam perjalanan Iran dan Irak kemudian, kata “damai” itu, sangat dinamis dan rentan. Hanya gencatan senjata. 

Walau Saddam dianggap “kalah”, ia tetap menjalani petualangan politik “destruktif”nya. Tetap jadi sorotan dunia. Tahun 1990, misalnya, Saddam memerintahkan pasukan militernya untuk menyerbu Kuwait dan menjadikan (salah satu) negara kaya di kawasan teluk ini sebagai Provinsi ke sekian dalam negara Irak. Aneksasi Irak atas Kuwait ini, memicu krisis internasional. PBB atas usul Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, menghukum Irak dengan embargo. Irak tidak boleh menjual minyaknya ke negara lain, merupakan salah satu bentuk embargo diantara embargo lainnya. Saddam langsung terkucilkan dalam pergaulan internasional. 

“Jatuhkah Saddam dengan berbagai bentuk embargo tersebut ?”.  

Di dalam negeri, nama Saddam tetap harum. Ia pandai membakar semangat rakyatnya untuk mengutuk Amerika Serikat dan sekutunya. Mengkapitalisasi kehidupan pahit rakyat Irak, akibat embargo ekonomi tersebut menjadi keuntungan politik tersendiri bagi ayah lima orang anak ini (Usay, Qushai, Raghad, Rana dan Hala). Istri Saddam, Sajida, begitu lihai menyentuh emosi rakyat Irak untuk tetap mencintai Saddam. Sajida melakukan citra diri terhadap Saddam secara massif di seluruh jalanan, media massa dan di berbagai ruang publik. 

Foto-foto Saddam terpampang dalam jumlah yang sangat teramat banyak. Dengan latar yang memberikan pesan, “Saddam begitu mencintai anak-anak”, “Saddam begitu mencintai perempuan Irak”, “Saddam adalah tokoh yang punya harga diri” dan sebagainya. Saddam bahkan dianggap kalangan perempuan di Irak sebagai satu-satu kepela negara Arab yang mendorong emansipasi bagi perempuan. 

Foto-foto Saddam sedang mencium anak-anak, juga begitu menyentuh Dan satu kekuatan Saddam di mata rakyatnya (kala embargo tersebut dilakukan secara massif) adalah Saddam adalah suami dan ayah yang baik. Saddam dikenal sebagai Presiden di negara-negara Arab yang begitu mencintai istrinya, Sajida dan anak-anaknya (walaupun kelakuan anaknya, terutama Uday, sangat kontroversial, bahkan pernah membunuh orang dekat ayahnya). 

Foto dan gambar-gambar Saddam yang jumlahnya tidak terhitung itu, menjadi latar paling diminati rakyat Irak ketika berfoto. Selfie istilah sekarang. Para pejabat bahkan “wajib” berfoto bertiga, bila ia berfoto dengan istrinya. Satu dirinya, yang kedua istrinya dan yang ketiga, gambar Saddam. 

Demikianlah. Tapi semua itu hanya semu. Selanjutnya, atas alasan pembunuhan brutal (dengan embel-embel bom kimia) yang dilakukan oleh Saddam terhadap suku Kurdi, Saddam kemudian dianggap sebagai salah satu “poros setan”, selanjutnya atas resolusi PBB, Amerika Serikat dan sekutunya, menaklukkan Saddam. Tuduhan Saddam mengembangkan bom kimia, tidak terbukti, setelah Saddam ditangkap. Dalam sidang terhadap suami Sajida ini, tuduhan tersebut juga tidak terbukti. Dunia hanya bisa menonton sebagai penonton pasif. Saddam kemudian menutup catatan hidupnya di tiang gantungan.  

“Bagaimana relasi Amerika Sertikat dan Sekutunya dengan Irak, setelah kejatuhan Saddam ?” Mengertilah kita. Tak mungkin biaya besar “menjatuhkan” Saddam itu “lillahi ta’ala”.

Rakyat Irak?. Kata beberapa orang kawan, rakyat Irak, banyak yang mulai merindukan Saddam.


**

-KURDI-

Ada beberapa entitas suku bangsa di dunia ini. Jumlahnya cukup besar secara demografis. Tersebar di berbagai negara. Tapi, mereka tidak memiliki “negara induk”. Negara yang dalam istilah Hannah Arendt sebagai nation state yang dilandasi atau diikat oleh etnisitas. Salah satunya, bangsa Kurdi. Etnis yang tersebar di beberapa negara seperti di Irak, Iran, Turki dan Suriah ini, diperkirakan populasinya mendekati 20 juta jiwa. Bangsa Kurdi, secara etnik, dianggap menjadi bagian dari ras Indo-Eropa atau dikenal dengan ras Arya. Secara historis, mereka menempati daerah yang bernama Kurdistan sejak 2000 SM. Mayoritas Islam (mazhab Sunni). 

Pada waktu Perang Dunia I, nasib orang Kurdi tidak memiliki kejelasan politik. Terombang-ambing. Di Turki, melalui perjanjian Sevres (1920), mereka dijanjikan wilayah otonom yang diperuntukkan bagi orang Kurdistan. Tapi, janji tersebut hanyalah janji manis. Janji kosong. Ketika Turki dipimpin oleh Kemal Ataturk, tokoh sekularis ini melakukan gerakan “Turkinisasi”. Membuang dan menepikan simbol-simbol keIslaman dan etnisitas lainnya yang bertentangan dengan nilai-nilai historis Turki. Imbasnya, orang Kurdi juga tidak luput dari “diturkikan” tersebut. Penggunaan Bahasa Kurdi di larang. Orang Kurdi di Turki harus memanggil diri mereka orang “Turki Timur” atau orang “Turki Pengunungan”. 

Beda dengan orang Kurdi di Turki, orang Kurdi yang berada di Irak diperbolehkan menggunakan Bahasa mereka sendiri. Menyelenggarakan pendidikan dengan mengedepankan simbol-simbol kultural Kurdi. Beberapa tahun setelah Perang Dunia I, melalui Liga Bangsa-Bangsa, Inggris meminta kepada Irak agar meyerahkan daerah Mossul. Daerah yang banyak didiami etnik Kurdi ini menjadi incaran Inggris, karena mengandung sumber minyak di Kirkuk. Tokoh-tokoh nasionalis Kurdi melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk kelak mendirikan sebuah negara. Mereka menjadi “teman baik” Inggris dalam mempertahankan sumber minyak di daerah ini. 

Tapi, mimpi untuk mendapatkan wilayah untuk mendirikan “nation state” tersebut, “mengumpulkan” etnis Kurdi di berbagai wilayah di sebuah wilayah yang - istilah Ben Anderson sebagai “imagine society”, masyarakat yang diimpikan - hilang pupus bersamaan dengan angkat kakinya Inggris dari wilayah Timur Tengah setelah Perang Dunia II. Daerah ini, kemudian berada di wilayah Irak. Orang-orang Kurdi kemudian tak bisa mewujudkan mimpi mereka untuk bersatu dan bersama-sama di sebuah wilayah tertentu. Mereka tetap berpencar di berbagai negara. Bahkan mulai merambah wilayah Eropa dan Rusia (waktu itu : Uni Sovyet). 

Ketika Saddam Hussein berkuasa di Irak, nasib orang-orang Kurdi begitu membahagiakan. Mereka seperti “di anak tirikan”, dan menjadi warga negara “kelas dua” setelah keturunan Arab. Oleh Saddam Hussein, beberapa anak-anak muda Kurdi dijadikan tentara bayaran (mercenaries). Etnik Kurdi dianggap sebagai petarung yang tangguh. Saddam Hussein memanfaatkan nama besar Salahuddin Al-Ayyubi, pahlawan Islam dalam Perang Salib yang berasal dari etnik Kurdi, sebagai nama pasukan khusus dari Kurdi. Biasa disebut sebagai peshmerga, atau “berani mati”. Pasukan peshmerga ini menjadi terkenal ketika dimanfaatkan oleh Saddam Hussein dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-an. Namun dalam perkembangannya, tentara peshmerga ini banyak yang “berkhianat”.  

Setelah Perang Iran-Irak berakhir, dengan kekalahan Irak, Saddam Hussein kemudian menghantam orang-orang Kurdi, bukan hanya pasukan peshmerga saja, dengan bom kimia. Menjadi isu internasional pada waktu itu. PBB bahkan mengutuk kekejaman Saddam Hussein terhadap etnik Kurdi ini. PBB kemudian melakukan intervensi dengan Resolusi yang dikeluarkan oleh Dewan Keamaan PBB untuk melindungi orang-orang Kurdi di Irak Utara. 

Saddam Hussein, memainkan politik “dua kakinya”. Ia berusaha mendekati beberapa faksi dan tokoh-tokoh etnik Kurdi. Etnik Kurdi menjadi pecah. Ada yang pro pada Saddam Hussein, ada pula yang kontra. Pihak yang kontra Saddam Hussein, waktu itu pasti menjadi pihak yang pro-Amerika Serikat atau Inggris. PBB, hanya sebagai “batu landasan” saja bagi AS dan Inggris. Resolusi DK PBB serta pihak yang anti Saddam inilah menjadi dasar bagi Amerika Serikat dan Inggris “ngotot” melindungi orang-orang Kurdi di Irak Utara. Padahal ini hanya menjadi “titik masuk” untuk menghantam Saddam Hussein dan melirik sumur-sumur minyak Irak yang kaya. 

Etnik Kurdi di Irak Utara, makin lama makin asyik dengan konflik internal. Karena mereka di beri wilayah otonomi oleh Saddam Hussein dan memiliki hak untuk mempunyai Partai Politik, maka terdapat dua partai politik berpengaruh di wilayah ini yang secara garis politik berbeda “kawan politik”. Partai Demokratik Kurdistan (Kurdistan Democratic Party, KDP) dipimpin tokoh Kurdi bernama Massoud Barzani. Satu lagi, Persatuan Patriotik Kurdistan (Patriotic United Kurdi, PUK) yang dipimpin tokoh kharismatik Kurdi, Jalal Talabani. KDP dianggap Pro-Amerika Serikat. Sedangkan PUK dipandang memiliki kedekatan dengan Iran. Dua partai ini, dianggap menjadi representasi riil bangsa Kurdi di Irak. Saling sikut menyikut. Saling mencari tempat sandaran politik eksternal. 

Suatu ketika, Jalal Talabani ingin menunjukan keberanian untuk menyampaikan hasrat lama mereka yang terpendam, yaitu ingin memiliki negara sendiri di Irak Utara. Minimal otonomi yang diperluas dengan konsesi minyak 1/3 di wilayah Irak Utara diberikan kepada mereka, atau kalau tidak bisa, meminta posisi Wakil Presiden Irak berasal dari etnik Kurdi. Ia datang kepada Saddam Hussein dan menawarkan serta meminta hal ini. Tentu saja Saddam Hussein menolak. Bukan hanya menolak, tapi memendam amarah.  

KDP yang pro-Amerika Serikat, walau secara politik bertentangan dengan Saddam Hussein, dimanfaatkan oleh Saddam Hussein untuk menyudutkan Jalal Talabani dengan PUK nya tersebut. Konflik internal dikalangan bangsa Kurdi tak terelakkan. Antara KDP dan PUK. Ribuan orang-orang Kurdi tewas akibat konflik ini. KDP yang pro-Amerika Serikat kemudian meminta tolong Saddam Hussein untuk menghantam PUK. Kedekatan PUK dengan Iran serta amarah yang terpendam Saddam Hussein terhadap Jalal Talabani (PUK), menjadi momentum emas bagi KDP menghantam PUK. Saddam Hussein tentu menerimanya dengan senang hati. Maka, pasukan PUK pun diperangi oleh Saddam Hussein. Perang Saudara makin bergelora. KDP yang “didampingi” Saddam Hussein melawan PUK yang senjatanya dipasok oleh Iran. Orang-orang Kurdi, kembali menjadi korban. Ribuan tewas.

Keinginan untuk merdeka "pupus". Peshmerga, pasukan berani mati yang berada di kedua belah pihak (PUK dan KDP), banyak yang mati sia-sia. Tujuan entah apa. Tidak lagi untuk mendirikan negara. Tapi, rivalitas dua tokoh internal, Jalal Talabani yang orang Kurdi dengan Massoud Barzani yang juga orang Kurdi. 

Saddam Hussein seperti terpuaskan, amarahnya pada Jalal Talabani. 

“Lalu siapa yang tertawa ?”. Amerika Serikat !. 

Sampai hari ini, Amerika Serikat tetap tertawa di Irak. Suku Kurdi tetap tidak memiliki “impian” mereka.


* Pustaka hayat
* Pejalan Sunyi
* Rst
* Nalar pinggiran

NASSER(ISME) - GAMAL ABDUL NASSER HUSAIN


Nasser, lengkapnya Gamal Abdel Nasser, adalah tipikal pemimpin Arab yang menarik. Pemimpin Arab, karena Nasser-lah yang melahirkan konsep "imagine society" ala-nya sendiri, Pan Arabisme. Menarik, karena dianggap sebagai Presiden Mesir yang menghukum mati banyak ulama-aktifis kharismatik Ikhwanul Muslimin. Karena alasan ini, Nasser sering dibenci oleh aktifis Islam, khususnya yang memiliki kedekatan ideologis dengan Ikhwanul Muslimin. 

Tapi pada sisi yang lain, Nasser-lah mungkin satu-satunya Presiden di “tanah Arab” sana yang mampu membuat Israel “bergetar”. Sebagai sebuah entitas negara-bangsa di Timur Tengah, Israel dianggap sebagai representasi praktek kolonialisme modern. Kehadirannya membuat Palestina tak memiliki “rumah”, dan karena kehadirannya itu pula, dunia Arab selalu dilanda ketidakstabilan sosial politik, bahkan hingga sekarang. 

Dengan dukungan politik serta finansial luar biasa dari Amerika Serikat, Israel memiliki “daya tawar” politik tinggi di Timur Tengah. Amerika Serikat adalah alasan utama mengapa negara yang dibentuk Ben Gurion dan kawan-kawan ini seakan-akan menjadi negara tak tersentuh. Nasser-lah yang mampu berada pada garis yang jelas, konfrontasi bersenjata dengan Israel. 

Sesuatu yang tidak dilakukan oleh Iran sejak rezim para Mullah berkuasa. Ahmadinedjad yang dianggap sebagai figur paling ditakuti Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah sekarang ini, hanya memainkan politik konfrontasi kata-kata, tanpa pernah melakukan konfrontasi bersenjata. Keberanian Nasser inilah yang kemudian dikenang oleh sejarah, walau ia tidak begitu menang sepenuhnya. Ia kalah dalam menyatukan orang-orang Arab yang tercerai berai dalam upaya mewujudkan “mimpi” Pan-Arabisme-nya.

Bermula dari keprihatinan Nasser pada dunia Arab. Sebuah ranah – yang dalam bahasa Nurcholish Madjid – sebagai ranah-geografis kecil, tapi dihuni oleh entitas negara-negara seukuran negeri “liliput”. Nasser ingin Arab milik orang Arab, bukan “milik” (tanda kutip) Amerika Serikat melalui Israel. 

Tapi Nasser bersedih di bulan Oktober 1967.  “Mengapa seratus juta orang Arab masih tercerai berai ?”, keluhnya. 

Nasser kehilangan harapan dan optimisme untuk menghancurkan kecongkakan Israel. Arab Saudi yang dianggap sebagai salah satu negara paling berpengaruh di Timur Tengah pada masa itu, tidak pernah sungguh-sungguh membantu impian Nasser untuk mewujudkan Pan-Arabisme dan “mencungkil” pengaruh Israel di Timur Tengah. Ganjarannya memang ada – Nasser menerima Raja Suud berdiam di Kairo – setelah melarikan diri dari Arab Saudi. Inilah membuat Raja Faisal yang menggantikannya, geram. 

Sementara itu, Israel yang telah menganggap Nasser sebagai “musuh” terbesar, terus melakukan tekanan. Karena melihat kesungguhan bertindak negara-negara Arab tidak ada, maka Nasser akhirnya terpaksa menggantungkan harapannya pada Uni Sovyet. Nasser tak memiliki pilihan lain. Ia beranggapan, Arab akan selamanya tenggelam dalam kehinaan bila Angkatan Bersenjata Mesir tidak dibangun. 

Konsekuensinya, Uni Sovyet harus ditarik secara menyeluruh kedalam masalah Timur Tengah- Dunia Arab. Sesuatu yang sebenarnya tidak dibayangkan oleh Nasser pada awal ia mencetuskan keinginan untuk menghabisi kecongkakan negara Israel. Ia berharap banyak pada persatuan Arab. Itu tidak didapatkannya.

Apa yang dialami Nasser ini, untuk kasus yang berbeda, rada-rada “mirip” dengan apa yang dialami oleh sahabatnya – Soekarno (mereka berdua dikenal sebagai diantara tokoh yang mendirikan Gerakan Non-Blok, sebuah organisasi lintas bangsa yang mengedepankan spirit kemandirian dan independensi). Soekarno terpaksa mendekat ke Uni Sovyet dan Cina karena butuh senjata untuk memuluskan “revolusinya” dan Ganyang Malaysia. 

Tapi apa, negara Paman Sam justru “mengetawakan” Soekarno, karena tak mungkin senjata yang akan diberikan untuk menghantam Malaysia, negara commonwealth yang berada dibawah naungan Inggris, sahabat Amerika Serikat. Karena itulah, apa yang dilakukan Soekarno, juga dilakukan oleh Nasser, bolak-balik ke Moscow. Nasser memiliki alasan. 

Secara geografis, sekujur Mesir telanjang tak terlindungi. Israel akan mudah menembakkan senjata mereka ke Mesir. Bendungan Aswan pun telah diincar oleh Israel. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana Nasser melindungi Mesir dari Israel ?. Tambahan lagi, Pelabuhan yang tersisa tinggal satu : Iskandariyah, setelah Port Said luluh lantak, tersebabkan oleh perang sebelumnya dengan Israel. Bila Iskandariyah di bom, Mesir tak punya harapan. Usaha Nasser menarik Uni Sovyet masuk kedalam masalah Timur Tengah nampaknya tidak tanggung-tanggung. 

Hal ini dibuktikan kala Uni Sovyet merasa ragu, Nasser mendapat alasan untuk marah. “Baiklah, jika Mesir tidak memperoleh apa yang dimintanya, maka dunia akan tahu, satu-satunya keputusan ada di tangan Amerika Serikat. Saya akan mengatakan kepada rakyat saya bahwa sudah tiba masanya bagi saya untuk mundur. Tempat saya akan digantikan oleh orang yang pro-Amerika Serikat”, kata Nasser. Presiden Uni Sovyet kala itu, Leonid Brezhnev tersentak. “Kamerad Nasser, baiklah !”, katanya.

Akhirnya, persoalan bantuan senjata menjadi beres. Bantuan senjata dari Uni Sovyet ini membuat Nasser menjadi leluasa membangun angkatan bersenjatanya. Suatu pembangunan yang kemudian membuahkan hasil luar biasa dalam Perang Yom Kippur yang terkenal itu. Suatu perang yang “menggetarkan” dan menghancurkan kedigdayaan serta kepongahan Israel. 

Moshe “si mata satu” Dayan – panglima legendaries angkatan bersenjata Israel – dibuat malu. Kemenangan Nasser dalam Perang Yom Kippur tersebut membuat dunia Arab muncul – dalam istilah Riza Sihbudi – dari lumpur kehinaan. Inilah fungsi hubungan Nasser dengan Uni Sovyet. 

Setelah era Nasser berakhir, Anwar Sadat sangat berhati-hati menjalin hubungan dengan Uni Sovyet hingga keruntuhan negara Tirai Besi ini. Haluan Anwar Sadat dan Husni Mubarak akhirnya beralih ke Amerika Serikat. Mereka berdua dianggap sebagai “penjaga” Perjanjian Perdamaian Camp David. Berdamai dengan Israel dan Amerika Serikat. 

Sesuatu yang tidak dibayangkan oleh Nasser pada masa hidupnya. Mungkin inilah yang membuat garis perbedaan : “Mengapa Nasser begitu dipuja bukan oleh rakyat Mesir saja, tapi hampir seluruh dunia Arab. Sementara Anwar Sadat ditembak mati oleh Khalid Islambouli. Sedangkan Husni Mubarak mengakhiri karir politik atas desakan rakyatnya, "dijatuhkan" revolusi rakyat Mesir”.


* Pustaka Hayat
* Pejalan sunyi
* Rst
* Nalar Pinggiran

VIRGIAWAN LISTANTO - IWAN FALS

Di Hari engkau Di Lahirkan. Saya ingin menyampaikkan Ucapan kebanggan ini, bahwa : pada tiap bait Lagumu ada ghiroh yang membangkitkan jiwa.

Ada deru Nafas kaum papah yang perasaannya terwakili dalam iramamu.

Ada tangisan kaum miskin yang air matanya kau basuh dalam Syair.

Ada Ketimpangan, kemelaratan dan kebodohan yang engkau serapahi dalam nadamu. Juga ada cinta dalam pesan-pesan Falsmu.

Kini, TeriakkanMu yang melenking seolah telah di telan bumi ataukah memang benar kata orang-orang bahwa kebijaksanaan selalu bermukin pada mereka yang telah menuju senja kehidupan.

PekikanMu pada mereka, dulu. Telah bermetamorfosa menjadi melow, melankolis, mendayu dan penuh cinta.

Apakah benar?, Engkau Pemusik ideologis yang kini menjadi Flamboyan, opurtunis sejati menunggu order istana.

Apakah benar?, musikmu tidak lagi mewakili zaman, tidak lagi mewakili sejarah, tidak mewakili lagi para ideolog muda pembaharu. 

Apakah benar?, Bento dan Syair-Syair salon, Musik yang keras dan menyampaikkan kritik sosial dan kini terdengar Melankolis dan Syair-Syairnya kini menjadi pemuja kekuasaan.

Apakah benar?, Vokalmu yang lantang memekik; mengkritik pembangunan yang tak berpihak pada kaum Marhaen. Kini menjadi sampah; menjadi kata-kata salon, penuh bunga.

Apakah benar?, Anarkisme-anarkisme dalam setiap konsermu sebagai bentuk pesan dan simbol kemapanan, kini menjadi banci kaleng.

Apakah benar?, Legenda yang keras ini, kini melambai ; tak berani lagi menabrak kekuasaan. Syairnya menjadi sampah kota dimana-dimana.

Om, Fals adalah identitasmu. Engkau pemusik yang dari yang lain. Engkau pemusik ideologis, Engkau melegenda, Berkatmu banyak menginspirasi generasi yang mulai merambat nada-nada perlawanan. Maka jangan tunjukkan pada generasimu Jangan menjadi pemusik opurtunis, pemusik yang menganga pada Orderan Istana.

Bento, negara, isi rimba, sumbang, siang sebrang Istana, kontrasmu bisu, Willy, Rubah, Hidup, kembang pete, Tince Sukarti, cemburu, Kesaksian, Sore Tugu Pancoran, Luka, Ethiopia, Berikan pijar Matahari, Dibalik bening mata air ada air mata, bongkar, orang pinggiran, berandal di bangku terminal, doa pengobral dosa, panggilam dari gunung, Celotoh Camar tolol, Nyanyian Jiwa, Dll, adalah Sekumpulan Nada-Nadi perlawanan.

Adakalanya Seniman Harus Mengintervensi. Saat Orba, Virgiawan listanto, yang Tenar Disapa Iwan Fals Itu sangat Vokal. Lirik dan Pesan Lagunya Kuat. memprakarsai Lahirnya Komunitas Pegamenan Jalanan (KPJ), bersama Alm Frankie Sahilatua. Bahkan Semakin Menemukan Ritmennya ketika Bergabung dengan IKJ, bersama Khairil Anwar, Si Penyair Kondang yang Puisi-puisinya Acap Dikutip orang-orang.

Saya Cuman mau Bilang, Aktivisme itu adalah Ruh, dijiwa-Jiwa Orang Yang Merdeka, Mirip seperti Seniman Dan itu Hampir Tak kita Temukan Kini. Mungkin hanya Beberapa saja karena Telinga Pasar selalu Menjadi Tujuan Utama, bukan PesanNya.

Mengapa lagu-lagu Om Iwan Tetap Hidup bahkan Melintasi Masa dan waktu, karena Ia punya kekuatan pada lirik. Sekalipun, Belakangan Ia Menjadi sangat Religius. Tetapi Ia Berhasil memberi Elan pada Generasi.

saya pecinta lagu-lagumu Om, bahkan banyak Alamanak lagu-lagu Om Iwan yang mungkin saja tidak di punyai orang-orang, saya mengoleksinya.


*RST

*PEJALAN SUNYI

*NALAR PINGGIRAN