Berorganisasi atau bernegara dalam skala yang lebih besar seperti siklus hidup manusia. Lahir, tumbuh, besar dan mati. Sebagaimana Allah Berfirman dalam al Qur'an "Walikulli ummatin ajal - setiap ummat atau kelompok atau komunitas akan menemukan azalnya".
Biasanya jelang kongres hampir setiap kandidat ketua umum PB HMI (Dipo) mengangkat isu univikasi HMI. tetapi hingga kini belum juga tercapai. Tentu Ini pekerjaan rumah kader Visioner, agar Kedepannya harus di seriusi dan kembali ke satu rumah yang sama. Alasan ideologis sudah selesai, tinggal teknis penyatuan yang mesti dirancang dengan baik.
Maka dari itulah, Kader Visoner harus mampu mendefenisikan dirinya. Punya kemampuan membaca masa lalu, mengurus akal sehat untuk menggambar peta masa depan.
Padahal, alasan paling Fundamental Kekalahan Rosulullah SAW Diperang Uhud?. Bukan karena kuatnya musuh. Tetapi, tergiurnya pasukan panah Rosulullah yang meninggalkan bukit Uhud, pada harta (Ghonimah) dan mengabaikkan perintah Rosul (Agama) untuk tidak meninggalkan bukit uhud. Artinya Kemenangan ada syarat-syaratnya, begitupun kekalahan ada sebab-sebabnya.
Relevansinya ialah jika kita berkader, Berhimpun hanya untuk mendapatkan Harta dunia. Jika kita berkader hanya untuk merengkuh popularitas. Maka, jangan berharap kemenangan berada dipihak kita. Kemenangan memang punya syarat yang berat, namun kekalahan pun punya resiko yang tidak ringan.
Tinggal bagaimana cara matinya. Khusnul khotimah atau Suulkhotimah. dengan cara bermartabat atau malah terhina, dengan jalan yang terbaik atau malah mati, karena penghianatan dari dalam. Khalifah umar misalnya yang masa Hidupnya sangat garang, di segani kawan, di takuti lawan. Ternyata sebab matinya ditikam penghianat Abu Lu'luah atau Khalid bin Walid yang sebahagian nafasnya dimedan perang, namun matinya diatas tempat tidur.
Jika Setiap perkumpulan atau kelompok ada masa lahir dan matinya. Maka, hanya ada dua jalan menurut saya dalam mempertahankan eksistensi komunitas atau kelompok. Pertama ialah Individu : setiap individu adalah kader yang hampir memenuhi kualifikasi menjadi pemimpin. Kedua, kualifikasi pemimpin hanya akan terlahir dari belajar terus menerus dan merawat ide-ide besar (Mendorong basis - Basis kultural). Demikianlah rumus siklus waktu untuk tetap eksis.
Meminjan Pernyataan Abang Mantan Ketua Umum HmI. Cab Kupang "Abdul Munir Sara" dalam Narasi Milad HmI ke 71 bahwa " Usia 71 tahun jika di personifikasikan adalah Usia senja, uzur dan renta. di usia-usia seperti ini, jika tidak banyak membaca pasti akan pikun atau kembali infantilis". Karenanya, fisik harus di olah, Nalar dan memori harus di asa agar peka atau sensitif pada alam. Di usia-usia seperti ini suplemen dan Nutrisi harus di jaga agar tidak mudah di serang kolesterol jahat. Tentu di usia-usia ini amalan harus di tingkatkan, karena ajal sudah menganga di depan mata, sedang tubuh merangkak ke tubir pemakaman. Beginilah HmI jika di personifikasi pada satu sosok, Berada di puncak kematangan setelah melewati berbagi etape sejarah.
HMI sebagai sebuah lembaga yang dari awal dilahirkan bertujuan, untuk menciptakan generasi tangguh, diberi beban untuk mengembangkan dan menyebarkan syiar Islam. Namun secara empiris sudah perlahan-lahan masuk dalam jebakan iblis. Banyak anggotanya sudah tidak lagi menjadikan generasi awal HMI sebagai contoh yang baik dalam menjalankan aktifitas organisasi. Pedoman-pedoman HMI sekedar sebagai penghias rak-rak buku yang hanya dipakai jika relevan dengan kepentingan diri dan kelompokoknya.
Jika bicara, terbaca kedalaman ilmu di ujung lidahnya. Ia pemikir sekaligus pemberontak, perlawanan yang ia lakukan karena kedalaman ilmunya. Ia bertahan dengan argumentasi yang kokoh, menyerang dengan bahasa yang kuat, padat dan berisi. Ia tidak melulu mengeksploitasi nestapannya. narator sekaligus menerima jalan yang di laluinnya. Ia nikmati Ghonimah berkader dengan sadar. Bahwa berbagi ilmu, harta dan mengkader adalah jalan serta resiko yang di tanggungnya sampai mati. Ini jalan jihad, ini lorong suci. Lalui saja dengan riang gembira. Nikmati hasilnya dengan kemeriahan dan deklarasikam bahwa kader Visoner tidak akan pernah menyerah dengan kalah.
***
Jika kita bertamasya pada Sejarah terbelahnya komunitas-komunitas besar dulu, maka kita bisa menangakap apa yang mereka pertaruhkan: Awal Februari 1923 Sarikat Islam yang besar itu. mengadakan kongres ke VII di Madiun. Menghasilkan keputusan menambah nama partai di awal Serikat Islam menjadi PSI. Ternyata ada gerbong revolusioner di bawah Semaoen dkk, menolak hasil kongres versi HOS Tjokroaminoto.
Hasil konfrontasi dan penolakan terhadap kongres Madiun itu berakhir dengan dibuatnya kongres tandingan pada awal maret 1923 di Kota Bandung. Semaoen dkk berganti nama menjadi Serikat Rakyat yang berhaluan Komunis.
Dalam konteks ideologis, terbelahnya Serikat Islam menjadi merah dan putih, hampir sama dengan kisah terbelahnya HMI menjadi dua. Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang menolak pemberlakuan azas tunggal dan konsisten dengan azas Islamnya dan menuduh kelompok HMI (Dipo) terlalu kooperatif dengan rezim Soeharto waktu itu.
Dua kisah perpecahan di atas akibat dari konflik ideologis, juga bahagian dari strategi dalam mempertahankan eksistensi. Di samping itu, faktor yang menjadi penyebab terbelahnya juga bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Coba kita lihat apa yang terjadi pada HMI hari ini, di struktur paling atas, Pengurus Besar dan Pengurus Cabang. kuasa diperebutkan, popularitas di pertengkarkan. Tontonan yang tidak patut di pentaskan di hadapan ribuan kader-kader yang ikhlas mengabdi. Mereka saling menggigit satu sama lain, bukan pada masalah-masalah ideologis atau soal perbedaan konsep mengorganisir massa untuk melawan rezim. Bukan.
Jangan bohong, HMI memang sedang masuk dalam perangkap iblis. Banyak elitnya masuk dalam perangkap iblis yang durjana. Perebutan kekuasaan di tingkat pusat diawali dengan operasi cabang-cabang dengan mengiming-imingi uang dan jabatan struktural (ini contoh umum). Ide dan gagasan yang mesti dikedepankan sekedar menjadi pelapis ke dua setelah cabang-cabang yang sudah diidentifikasi pragmatis itu diperdagangkan. Dengan tenang diamati, inilah awal dari petaka itu menggerogoti aktifitas organisasi.
Jika berHMI hanya melulu soal pakaian. maka, pilihan terbaik ialah jalan telanjang saja. di situ bisa di ukur siapa yang waras dan Siapa yang sakit jiwa. Begitu Tutur Senior saya dahulu. Olehnya, kita niscaya memperbaiki sudut pandang dan kejiwaan, kalau berani menyematkan diri sebagai kader HmI. Jangan terlalu sibuk mengurusi pakaiaan.
Jika menelisik Dalam genologi politik Indonesia, corak nasionalis religious adalah platform gerak dari mayoritas kelompok islam politik. Ia menjadi tafsir operasional dari relasi setara yang senantiasa bertaut antara keisalaman dan keindonesiaan.
Hal itu secara genetik mengalir dan sejatinya termanifestasi di dalam diri kader HMI, sebagai warisan Lafran Pane untuk Indonesia.
Berkenaan dengan itu juga, Saya lebih cenderung membaca independensi HMI sebagai warning dan petunjuk, yang terekam dalam pasal 6 anggaran dasar. Secara eksplisit batasan indepensi Hmi ialah Hanief - Benar ; dalam pola pikir, sikap dan laku.
Di beberapa episode saya justru menemukan batasan itu terkulai, tidak berdaya di koyak waktu oleh banyak kader, seolah batasan pola pikir, sikap dan laku yang hanief itu melulu diukur dari kebayakan dan siapa?. Jika demikian adanya. maka, orientasi berkader pun bergeser menjadi organisasi yang lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas.
Sebelum semuanya terlanjur pincang dan tenggelam oleh zaman. masih hangat dalam benak sentilan senior saya "Muhammad Akbar (Direktur Akar Insitut)", yang menampar semua kader bahwa berHMI itu pakai aturan dan hukum, Jika tidak, tentu akan melahirkan Kesombongan Ber - Organisasi.
Mengapa?. Hal pertama yang perlu diluruskan, siapa kader yang di maksud ?. Sebab, organisasi seperti HMI hanyalah perkumpulan anggota. Jika perayaan milad dari tahun ke tahun, hanya sebagai cara mendeteksi anggota, tidak ada bedanya seperti segerombolan domba. Ahhh, bukan domba. tapi, kambing yang menunggu waktu untuk disembelih.
Terlalu sombong yang menyodorkan konsep design bahwa seluruh anggota harus bangga menjadi kader HMI. Kapan sebenarnya anggota HMI menjadi kader HMI?. Omong-kosong seperti ini, tidak patut dikonsumsi dan tidak layak tumbuh serta berkembang biak seperti anak babi.
Dari tahun 1947 hingga era 80-an dan awal reformasi, HMI selalu menemukan momentum dan dinamika. Selalu ada gerakan dan diskursus yang mengandaikan HMI bergerak dari satu titik ke titik lain. Menjadi dinamik !
Kalau awal mula berdiri HMI punya basic demand, maka sekarang HMI mesti bertanya pada dirinya, apa basic demand HMI hari ini?. Dulu, ada terminologi yang paling agresif di HMI, "bergerak atau kafir?". Saya dapat itu dari senior yang menuturkan kembali ke saya saat saya bertandang ke kupang, setelah ikut rekontruksi NDP di Mataram.
Ingat, HMI pernah melewati goncangan ideologis. Efek goncangan ideologis itu, membelah HMI dalam dua lempengan besar. Efek residunya masih ada hingga hari ini. Itu ujian kekuasaan. HMI mestinya lebih matang dengan situasi demikian.
Hari-hari ini, fragmen-fragmen sosial itu menganga lebar. Di depan mata kader HMI. Dikotomi-dikotomi sosial seakan difasilitasi politik kekuasaan. Pilar-pilar demokrasi menjadi lumpuh total.
Sumber daya politik dan ekonomi serta sirkulasinya, hanya bergerak di sekitar sekelompok kecil elit yang menguasai 80% sumber daya ekonomi. Demokrasi mengalami konglomerasi.
Ruh dari pada aktivisme politik menjadi pudar dan transaksional. HMI mesti secara cepat mereformulasi apa basic demand-nya hari ini !.
***
Tahun 1947, Jabatan di HMI hanya sekedar medium. Tahun yang ke-74, Jabatan di HMI cenderung dijadikan sebagai tujuan. Dari jabatan sebagai alat pemersatu, bermutasi mengubah jabatan menjadi alat kuasa untuk dualisme. Memangnya ini HMI milik pengurus Besar HMI dan Pengurus Cabang kah?.
HMI Tahun 1947, Kakanda Lafran Pane yang semula menjadi ketua Umum Pengurus besar rela turun menjadi Ketua Cabang, demi untuk masa depan HMI. Tahun yang ke-74 HMI, Beberapa oknum PB HMI rela memecah struktur, demi untuk perebutan tampuk Ketua Umum PB HMI.
HMI tahun 1947, kongres Pertama (I) dilaksanakan. Kakanda MS Mintaredja disepakati kembali sebagai Ketua Umum PB (pengurus besar). Tujuan awalnya memang agar HMI tidak dianggap milik Kampus Islam STI. Di masa itu boleh dibilang tidak ada senioritas. Yang ada hanya bagaimana HMI bisa mekar di kampus-kampus lainnya.
Tahun ke-74 HMI, kongres XXXI yang Dijadwalkan maret bulan depan di Surabaya. Kandidat-Kandidat Calon Ketua Umum, yang telah mendaftar agaknya masih di garis koordinasi yang sama dengan oknum-Oknum yang membuat dualisme dibatang tubuh HMI dibeberapa tahun terakhir. hemat saya, hal ini Masih dalam jaringan oligarki senior.
Sementara dualisme PB berkonsekuensi kepada dualisme struktur cabang. Faktanya banyak cabang-Cabang yang dualisme. Efek terparahnya bahkan bisa konflik horisontal ke sesama anggota.
HMI tahun 1947, menjadi Pengurus Besar itu ujiannya berat. Banyak stigma peyoratif yang terbangun. Setelah dicurigai sebagai organisasi pemecah persatuan ummat, dimusui oleh organisasi mahasiswa sayap kiri. Yang paling berat adalah ikut serta dalam perang melawan Agresi Belanda dan (pemberontakan) PKI.
HMI ke-74. Menjadi Pengurus Besar itu enak. Bukan lagi enak, tapi enak sekali. Modal relasi senior, bisa lanjut S2 dan S3 di Jakarta. Tinggal nongkrong-ngopi dan cerita tidak ada nilainya, sudah bisa bikin dualisme kepengurusan.
HMI setelah tahun 1947, Ketua Umum PB Di-PJ-kan ke Kakanda Lafran Pane dan Lukman Elhakim. Dikarenakan PB HMI mengalamai stagnasi dan juga pindahnya ibu kota ke Jakarta, yang dengan sendirinya berpindah pula kedudukan PB HMI dari kota kelahiran Jogjakarta ke Jakarta.
HMI menuju tahun yang ke-74. Pengurus besarnya juga main PJ-PJ-an. PJ Arya Kharisma Hardy versus PJ Abdul Muis Amiruddin. Manakah PJ Tum PB versi penguasa?. (bukan pertanyaan).











