Di Hari engkau Di Lahirkan. Saya ingin menyampaikkan Ucapan kebanggan ini, bahwa : pada tiap bait Lagumu ada ghiroh yang membangkitkan jiwa.
Ada deru Nafas kaum papah yang perasaannya terwakili dalam iramamu.
Ada tangisan kaum miskin yang air matanya kau basuh dalam Syair.
Ada Ketimpangan, kemelaratan dan kebodohan yang engkau serapahi dalam nadamu. Juga ada cinta dalam pesan-pesan Falsmu.
Kini, TeriakkanMu yang melenking seolah telah di telan bumi ataukah memang benar kata orang-orang bahwa kebijaksanaan selalu bermukin pada mereka yang telah menuju senja kehidupan.
PekikanMu pada mereka, dulu. Telah bermetamorfosa menjadi melow, melankolis, mendayu dan penuh cinta.
Apakah benar?, Engkau Pemusik ideologis yang kini menjadi Flamboyan, opurtunis sejati menunggu order istana.
Apakah benar?, musikmu tidak lagi mewakili zaman, tidak lagi mewakili sejarah, tidak mewakili lagi para ideolog muda pembaharu.
Apakah benar?, Bento dan Syair-Syair salon, Musik yang keras dan menyampaikkan kritik sosial dan kini terdengar Melankolis dan Syair-Syairnya kini menjadi pemuja kekuasaan.
Apakah benar?, Vokalmu yang lantang memekik; mengkritik pembangunan yang tak berpihak pada kaum Marhaen. Kini menjadi sampah; menjadi kata-kata salon, penuh bunga.
Apakah benar?, Anarkisme-anarkisme dalam setiap konsermu sebagai bentuk pesan dan simbol kemapanan, kini menjadi banci kaleng.
Apakah benar?, Legenda yang keras ini, kini melambai ; tak berani lagi menabrak kekuasaan. Syairnya menjadi sampah kota dimana-dimana.
Om, Fals adalah identitasmu. Engkau pemusik yang dari yang lain. Engkau pemusik ideologis, Engkau melegenda, Berkatmu banyak menginspirasi generasi yang mulai merambat nada-nada perlawanan. Maka jangan tunjukkan pada generasimu Jangan menjadi pemusik opurtunis, pemusik yang menganga pada Orderan Istana.
Bento, negara, isi rimba, sumbang, siang sebrang Istana, kontrasmu bisu, Willy, Rubah, Hidup, kembang pete, Tince Sukarti, cemburu, Kesaksian, Sore Tugu Pancoran, Luka, Ethiopia, Berikan pijar Matahari, Dibalik bening mata air ada air mata, bongkar, orang pinggiran, berandal di bangku terminal, doa pengobral dosa, panggilam dari gunung, Celotoh Camar tolol, Nyanyian Jiwa, Dll, adalah Sekumpulan Nada-Nadi perlawanan.
Adakalanya Seniman Harus Mengintervensi. Saat Orba, Virgiawan listanto, yang Tenar Disapa Iwan Fals Itu sangat Vokal. Lirik dan Pesan Lagunya Kuat. memprakarsai Lahirnya Komunitas Pegamenan Jalanan (KPJ), bersama Alm Frankie Sahilatua. Bahkan Semakin Menemukan Ritmennya ketika Bergabung dengan IKJ, bersama Khairil Anwar, Si Penyair Kondang yang Puisi-puisinya Acap Dikutip orang-orang.
Saya Cuman mau Bilang, Aktivisme itu adalah Ruh, dijiwa-Jiwa Orang Yang Merdeka, Mirip seperti Seniman Dan itu Hampir Tak kita Temukan Kini. Mungkin hanya Beberapa saja karena Telinga Pasar selalu Menjadi Tujuan Utama, bukan PesanNya.
Mengapa lagu-lagu Om Iwan Tetap Hidup bahkan Melintasi Masa dan waktu, karena Ia punya kekuatan pada lirik. Sekalipun, Belakangan Ia Menjadi sangat Religius. Tetapi Ia Berhasil memberi Elan pada Generasi.
saya pecinta lagu-lagumu Om, bahkan banyak Alamanak lagu-lagu Om Iwan yang mungkin saja tidak di punyai orang-orang, saya mengoleksinya.
*RST
*PEJALAN SUNYI
*NALAR PINGGIRAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar