Berorganisasi atau bernegara dalam skala yang lebih besar seperti siklus hidup manusia. Lahir, tumbuh, besar dan mati. Sebagaimana Allah Berfirman dalam al Qur'an "Walikulli ummatin ajal - setiap ummat atau kelompok atau komunitas akan menemukan azalnya".
75 tahun adalah usia yang cukup lama bagi sebuah komunitas. Ihwal itulah yang menandakan, bahwa "Lafran" muda kala itu dengan niat yang ikhlas membidani lahirnya himpunan mahasiswa Islam ini.
Setiap zaman telah dilalui HMI. Tahun 80-an kita terjebak dalam pertikaian ideologis sesama kader. Kita lalu terbelah menjadi (Dipo Dan MPO). akibat azas tunggal rezim soeharto, residunya masih ada hingga kini.
Biasanya jelang kongres hampir setiap kandidat ketua umum PB HMI (Dipo) mengangkat isu univikasi HMI. tetapi hingga kini belum juga tercapai. Tentu Ini pekerjaan rumah kader Visioner, agar Kedepannya harus di seriusi dan kembali ke satu rumah yang sama. Alasan ideologis sudah selesai, tinggal teknis penyatuan yang mesti dirancang dengan baik.
Maka dari itulah, Kader Visoner harus mampu mendefenisikan dirinya. Punya kemampuan membaca masa lalu, mengurus akal sehat untuk menggambar peta masa depan.
Biasanya jelang kongres hampir setiap kandidat ketua umum PB HMI (Dipo) mengangkat isu univikasi HMI. tetapi hingga kini belum juga tercapai. Tentu Ini pekerjaan rumah kader Visioner, agar Kedepannya harus di seriusi dan kembali ke satu rumah yang sama. Alasan ideologis sudah selesai, tinggal teknis penyatuan yang mesti dirancang dengan baik.
Maka dari itulah, Kader Visoner harus mampu mendefenisikan dirinya. Punya kemampuan membaca masa lalu, mengurus akal sehat untuk menggambar peta masa depan.
Entah mengapa, saya selalu resah dengan dinamika HMI hari ini yang tidak lagi berangkat dari semangat awal lahirnya. Jika ada "keributan" justru hanya berkisar di wilayah PERUT dan DI BAWAH PERUT. Tidak lebih.
Padahal, alasan paling Fundamental Kekalahan Rosulullah SAW Diperang Uhud?. Bukan karena kuatnya musuh. Tetapi, tergiurnya pasukan panah Rosulullah yang meninggalkan bukit Uhud, pada harta (Ghonimah) dan mengabaikkan perintah Rosul (Agama) untuk tidak meninggalkan bukit uhud. Artinya Kemenangan ada syarat-syaratnya, begitupun kekalahan ada sebab-sebabnya.
Relevansinya ialah jika kita berkader, Berhimpun hanya untuk mendapatkan Harta dunia. Jika kita berkader hanya untuk merengkuh popularitas. Maka, jangan berharap kemenangan berada dipihak kita. Kemenangan memang punya syarat yang berat, namun kekalahan pun punya resiko yang tidak ringan.
Makanya, Kita harus menggali "Parit ataukah tidak"?. agar musuh yang banyak itu sulit menembus pertahanan kita, lalu membeli harga diri kita.
Kita sudah kalah itu fakta. tapi, dalam sejarah, Rosulullah SAW juga tidak menyalahkan pasukan pemanah yang meninggalkan bukit uhud, karena tergiur Ghonimah. Yang di lakukan Rosulullah SAW adalah mengevaluasi pasukannya, memperbaiki mental dan setelahnya hampir pasukan islam tidak pernah kalah saat berperang.
Seperti yang saya sampaikkan diatas, bahwa Tidak ada satu komunitas yang sanggup bertahan lama hingga kiamat. Semua akan menemui ajalnya (bubar) dalam skala waktu, sebab relevan dengan entitasnya yang selalu dialektis. Entah menemukan kejayaan atau bubar, tergantung dari apa yang kita lakukan terhadap pelanjut risalah (kader) sekarang dan ke depan.
Dinasti-dinasti besar yang di bangun dengan kekuatan pasukan perang paling Canggih, bisa hancur meninggalkan puing. Kini menjadi sejarah. " Walikulli Ummatin Azal (setiap Ummat atau kelompok atau Komunitas mempunyai ajal)".
Tinggal bagaimana cara matinya. Khusnul khotimah atau Suulkhotimah. dengan cara bermartabat atau malah terhina, dengan jalan yang terbaik atau malah mati, karena penghianatan dari dalam. Khalifah umar misalnya yang masa Hidupnya sangat garang, di segani kawan, di takuti lawan. Ternyata sebab matinya ditikam penghianat Abu Lu'luah atau Khalid bin Walid yang sebahagian nafasnya dimedan perang, namun matinya diatas tempat tidur.
Jika Setiap perkumpulan atau kelompok ada masa lahir dan matinya. Maka, hanya ada dua jalan menurut saya dalam mempertahankan eksistensi komunitas atau kelompok. Pertama ialah Individu : setiap individu adalah kader yang hampir memenuhi kualifikasi menjadi pemimpin. Kedua, kualifikasi pemimpin hanya akan terlahir dari belajar terus menerus dan merawat ide-ide besar (Mendorong basis - Basis kultural). Demikianlah rumus siklus waktu untuk tetap eksis.
Meminjan Pernyataan Abang Mantan Ketua Umum HmI. Cab Kupang "Abdul Munir Sara" dalam Narasi Milad HmI ke 71 bahwa " Usia 71 tahun jika di personifikasikan adalah Usia senja, uzur dan renta. di usia-usia seperti ini, jika tidak banyak membaca pasti akan pikun atau kembali infantilis". Karenanya, fisik harus di olah, Nalar dan memori harus di asa agar peka atau sensitif pada alam. Di usia-usia seperti ini suplemen dan Nutrisi harus di jaga agar tidak mudah di serang kolesterol jahat. Tentu di usia-usia ini amalan harus di tingkatkan, karena ajal sudah menganga di depan mata, sedang tubuh merangkak ke tubir pemakaman. Beginilah HmI jika di personifikasi pada satu sosok, Berada di puncak kematangan setelah melewati berbagi etape sejarah.
HMI sebagai sebuah lembaga yang dari awal dilahirkan bertujuan, untuk menciptakan generasi tangguh, diberi beban untuk mengembangkan dan menyebarkan syiar Islam. Namun secara empiris sudah perlahan-lahan masuk dalam jebakan iblis. Banyak anggotanya sudah tidak lagi menjadikan generasi awal HMI sebagai contoh yang baik dalam menjalankan aktifitas organisasi. Pedoman-pedoman HMI sekedar sebagai penghias rak-rak buku yang hanya dipakai jika relevan dengan kepentingan diri dan kelompokoknya.
Padahal Kader adalah mata air peradaban, kerja-kerja organisasinya berorientasi ibadah. Menit dan detik berpikirnya tentang kemaslahatan ummat. tindakannya selalu relevan dengan realitas. Di ujung lidahnya rakyat menitip asa. Ia resah, jiwannya berontak. Ia rela bersusah-susah untuk orang susah. Ia bergerak melawan sampai Berdarah. kalah atau melebur dengan kemenangan.
Jika bicara, terbaca kedalaman ilmu di ujung lidahnya. Ia pemikir sekaligus pemberontak, perlawanan yang ia lakukan karena kedalaman ilmunya. Ia bertahan dengan argumentasi yang kokoh, menyerang dengan bahasa yang kuat, padat dan berisi. Ia tidak melulu mengeksploitasi nestapannya. narator sekaligus menerima jalan yang di laluinnya. Ia nikmati Ghonimah berkader dengan sadar. Bahwa berbagi ilmu, harta dan mengkader adalah jalan serta resiko yang di tanggungnya sampai mati. Ini jalan jihad, ini lorong suci. Lalui saja dengan riang gembira. Nikmati hasilnya dengan kemeriahan dan deklarasikam bahwa kader Visoner tidak akan pernah menyerah dengan kalah.
***
Jika bicara, terbaca kedalaman ilmu di ujung lidahnya. Ia pemikir sekaligus pemberontak, perlawanan yang ia lakukan karena kedalaman ilmunya. Ia bertahan dengan argumentasi yang kokoh, menyerang dengan bahasa yang kuat, padat dan berisi. Ia tidak melulu mengeksploitasi nestapannya. narator sekaligus menerima jalan yang di laluinnya. Ia nikmati Ghonimah berkader dengan sadar. Bahwa berbagi ilmu, harta dan mengkader adalah jalan serta resiko yang di tanggungnya sampai mati. Ini jalan jihad, ini lorong suci. Lalui saja dengan riang gembira. Nikmati hasilnya dengan kemeriahan dan deklarasikam bahwa kader Visoner tidak akan pernah menyerah dengan kalah.
***
Jika kita bertamasya pada Sejarah terbelahnya komunitas-komunitas besar dulu, maka kita bisa menangakap apa yang mereka pertaruhkan: Awal Februari 1923 Sarikat Islam yang besar itu. mengadakan kongres ke VII di Madiun. Menghasilkan keputusan menambah nama partai di awal Serikat Islam menjadi PSI. Ternyata ada gerbong revolusioner di bawah Semaoen dkk, menolak hasil kongres versi HOS Tjokroaminoto.
Mereka menuduh HOS dan kelompoknya terlalu kooperatif dengan pemerintahan kolonial belanda. Rivalitas ideologis yang terjadi antara HOS dan Semaoen di internal SI meruncing. Semaoen yang tidak kalah cerdas dengan HOS Tjokroaminoto Itu memprovokasi kelompok Islam abangan. Meyakinkan kepada mereka tentang relevansi agama (Islam) dan ajaran-ajaran kiri (Marxisme - Leninisme).
Hasil konfrontasi dan penolakan terhadap kongres Madiun itu berakhir dengan dibuatnya kongres tandingan pada awal maret 1923 di Kota Bandung. Semaoen dkk berganti nama menjadi Serikat Rakyat yang berhaluan Komunis.
Dalam konteks ideologis, terbelahnya Serikat Islam menjadi merah dan putih, hampir sama dengan kisah terbelahnya HMI menjadi dua. Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang menolak pemberlakuan azas tunggal dan konsisten dengan azas Islamnya dan menuduh kelompok HMI (Dipo) terlalu kooperatif dengan rezim Soeharto waktu itu.
Dua kisah perpecahan di atas akibat dari konflik ideologis, juga bahagian dari strategi dalam mempertahankan eksistensi. Di samping itu, faktor yang menjadi penyebab terbelahnya juga bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Coba kita lihat apa yang terjadi pada HMI hari ini, di struktur paling atas, Pengurus Besar dan Pengurus Cabang. kuasa diperebutkan, popularitas di pertengkarkan. Tontonan yang tidak patut di pentaskan di hadapan ribuan kader-kader yang ikhlas mengabdi. Mereka saling menggigit satu sama lain, bukan pada masalah-masalah ideologis atau soal perbedaan konsep mengorganisir massa untuk melawan rezim. Bukan.
Jangan bohong, HMI memang sedang masuk dalam perangkap iblis. Banyak elitnya masuk dalam perangkap iblis yang durjana. Perebutan kekuasaan di tingkat pusat diawali dengan operasi cabang-cabang dengan mengiming-imingi uang dan jabatan struktural (ini contoh umum). Ide dan gagasan yang mesti dikedepankan sekedar menjadi pelapis ke dua setelah cabang-cabang yang sudah diidentifikasi pragmatis itu diperdagangkan. Dengan tenang diamati, inilah awal dari petaka itu menggerogoti aktifitas organisasi.
Hasil konfrontasi dan penolakan terhadap kongres Madiun itu berakhir dengan dibuatnya kongres tandingan pada awal maret 1923 di Kota Bandung. Semaoen dkk berganti nama menjadi Serikat Rakyat yang berhaluan Komunis.
Dalam konteks ideologis, terbelahnya Serikat Islam menjadi merah dan putih, hampir sama dengan kisah terbelahnya HMI menjadi dua. Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang menolak pemberlakuan azas tunggal dan konsisten dengan azas Islamnya dan menuduh kelompok HMI (Dipo) terlalu kooperatif dengan rezim Soeharto waktu itu.
Dua kisah perpecahan di atas akibat dari konflik ideologis, juga bahagian dari strategi dalam mempertahankan eksistensi. Di samping itu, faktor yang menjadi penyebab terbelahnya juga bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Coba kita lihat apa yang terjadi pada HMI hari ini, di struktur paling atas, Pengurus Besar dan Pengurus Cabang. kuasa diperebutkan, popularitas di pertengkarkan. Tontonan yang tidak patut di pentaskan di hadapan ribuan kader-kader yang ikhlas mengabdi. Mereka saling menggigit satu sama lain, bukan pada masalah-masalah ideologis atau soal perbedaan konsep mengorganisir massa untuk melawan rezim. Bukan.
Jangan bohong, HMI memang sedang masuk dalam perangkap iblis. Banyak elitnya masuk dalam perangkap iblis yang durjana. Perebutan kekuasaan di tingkat pusat diawali dengan operasi cabang-cabang dengan mengiming-imingi uang dan jabatan struktural (ini contoh umum). Ide dan gagasan yang mesti dikedepankan sekedar menjadi pelapis ke dua setelah cabang-cabang yang sudah diidentifikasi pragmatis itu diperdagangkan. Dengan tenang diamati, inilah awal dari petaka itu menggerogoti aktifitas organisasi.
Bisa dibayangkan, ada pengurus Cabang dan Pengurus Besar yang tidak lolos screnning awal hanya karena tidak bisa mengaji. Dengan cepat, hal ini mungkin dianggap sepele. tapi, saya melihat ada gejala besar, Dan bisa saja HMI akan mati dengan Suulkhotimah. Jika diteruskan.
Belum lagi soal Sumber-sumber kekuasaan yang terbatas terus menjadi rebutan, walaupun memerlukan biaya yang mahal sekalipun, begitu teorinya. Nah, sudah sampai tahap itukah HmI?. Secara empiris iya, tapi kita malu-malu mengakuinya secara berjamaah. Memilih pemimpin organisasi Islam, tapi tidak di lalui dengan cara-cara yang di ajarkan agama. Itu Paradoks, tapi itu sudah kita anggap lumrah. padahal kita sudah kalah terhadap diri sendiri.
Sebagai kader, saya justru prihatin dengan realitas ini. Sebab, HMI tidak lahir dan besar dalam suatu rahim pengkultuskan politik kekuasaan. HMI tidak lahir dalam suatu surplus politik yang berlebihan. Jelas-jelas di tahun 1947 HMI lahir dari suatu common enemy; baik kolonialisme dan komunisme. Selanjutnya HMI tumbuh besar dalam pikiran besar tentang Keislaman dan keindonesiaan.
Adapun, Maaf "Islam Nusantara" adalah suatu politik tukar tambah sekelompok elit islam sebagai alat komoditas kekuasaan. Tidak membumi dan tidak memiliki akar sejarah yang kuat sebagaimana paham keislaman dan keindonesiaan yang tumbuh di HMI, Dalam Gagasan Cak Nur.
HMI punya hubungan yang apik dengan kolonial sebagai musuh bersama yang membantai kemanusiaan pribumi. Maka, sejatinya fokus perjalanan mengemban amanah kader, harus mematangkan sudut pandang dan kejiwaan untuk melawan apapun yang merusak kemanusiaan.
Jika berHMI hanya melulu soal pakaian. maka, pilihan terbaik ialah jalan telanjang saja. di situ bisa di ukur siapa yang waras dan Siapa yang sakit jiwa. Begitu Tutur Senior saya dahulu. Olehnya, kita niscaya memperbaiki sudut pandang dan kejiwaan, kalau berani menyematkan diri sebagai kader HmI. Jangan terlalu sibuk mengurusi pakaiaan.
Jika menelisik Dalam genologi politik Indonesia, corak nasionalis religious adalah platform gerak dari mayoritas kelompok islam politik. Ia menjadi tafsir operasional dari relasi setara yang senantiasa bertaut antara keisalaman dan keindonesiaan.
Hal itu secara genetik mengalir dan sejatinya termanifestasi di dalam diri kader HMI, sebagai warisan Lafran Pane untuk Indonesia.
Berkenaan dengan itu juga, Saya lebih cenderung membaca independensi HMI sebagai warning dan petunjuk, yang terekam dalam pasal 6 anggaran dasar. Secara eksplisit batasan indepensi Hmi ialah Hanief - Benar ; dalam pola pikir, sikap dan laku.
Di beberapa episode saya justru menemukan batasan itu terkulai, tidak berdaya di koyak waktu oleh banyak kader, seolah batasan pola pikir, sikap dan laku yang hanief itu melulu diukur dari kebayakan dan siapa?. Jika demikian adanya. maka, orientasi berkader pun bergeser menjadi organisasi yang lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas.
Sebelum semuanya terlanjur pincang dan tenggelam oleh zaman. masih hangat dalam benak sentilan senior saya "Muhammad Akbar (Direktur Akar Insitut)", yang menampar semua kader bahwa berHMI itu pakai aturan dan hukum, Jika tidak, tentu akan melahirkan Kesombongan Ber - Organisasi.
Mengapa?. Hal pertama yang perlu diluruskan, siapa kader yang di maksud ?. Sebab, organisasi seperti HMI hanyalah perkumpulan anggota. Jika perayaan milad dari tahun ke tahun, hanya sebagai cara mendeteksi anggota, tidak ada bedanya seperti segerombolan domba. Ahhh, bukan domba. tapi, kambing yang menunggu waktu untuk disembelih.
Terlalu sombong yang menyodorkan konsep design bahwa seluruh anggota harus bangga menjadi kader HMI. Kapan sebenarnya anggota HMI menjadi kader HMI?. Omong-kosong seperti ini, tidak patut dikonsumsi dan tidak layak tumbuh serta berkembang biak seperti anak babi.
Jika berHMI hanya melulu soal pakaian. maka, pilihan terbaik ialah jalan telanjang saja. di situ bisa di ukur siapa yang waras dan Siapa yang sakit jiwa. Begitu Tutur Senior saya dahulu. Olehnya, kita niscaya memperbaiki sudut pandang dan kejiwaan, kalau berani menyematkan diri sebagai kader HmI. Jangan terlalu sibuk mengurusi pakaiaan.
Jika menelisik Dalam genologi politik Indonesia, corak nasionalis religious adalah platform gerak dari mayoritas kelompok islam politik. Ia menjadi tafsir operasional dari relasi setara yang senantiasa bertaut antara keisalaman dan keindonesiaan.
Hal itu secara genetik mengalir dan sejatinya termanifestasi di dalam diri kader HMI, sebagai warisan Lafran Pane untuk Indonesia.
Berkenaan dengan itu juga, Saya lebih cenderung membaca independensi HMI sebagai warning dan petunjuk, yang terekam dalam pasal 6 anggaran dasar. Secara eksplisit batasan indepensi Hmi ialah Hanief - Benar ; dalam pola pikir, sikap dan laku.
Di beberapa episode saya justru menemukan batasan itu terkulai, tidak berdaya di koyak waktu oleh banyak kader, seolah batasan pola pikir, sikap dan laku yang hanief itu melulu diukur dari kebayakan dan siapa?. Jika demikian adanya. maka, orientasi berkader pun bergeser menjadi organisasi yang lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas.
Sebelum semuanya terlanjur pincang dan tenggelam oleh zaman. masih hangat dalam benak sentilan senior saya "Muhammad Akbar (Direktur Akar Insitut)", yang menampar semua kader bahwa berHMI itu pakai aturan dan hukum, Jika tidak, tentu akan melahirkan Kesombongan Ber - Organisasi.
Mengapa?. Hal pertama yang perlu diluruskan, siapa kader yang di maksud ?. Sebab, organisasi seperti HMI hanyalah perkumpulan anggota. Jika perayaan milad dari tahun ke tahun, hanya sebagai cara mendeteksi anggota, tidak ada bedanya seperti segerombolan domba. Ahhh, bukan domba. tapi, kambing yang menunggu waktu untuk disembelih.
Terlalu sombong yang menyodorkan konsep design bahwa seluruh anggota harus bangga menjadi kader HMI. Kapan sebenarnya anggota HMI menjadi kader HMI?. Omong-kosong seperti ini, tidak patut dikonsumsi dan tidak layak tumbuh serta berkembang biak seperti anak babi.
Sekarang menurut saya, HMI harus menarik ghirah masa lalunya untuk menemukan bentuk pergolakannya hari ini. HMI saat ini seperti kehilangan Common Enemy.
Dari tahun 1947 hingga era 80-an dan awal reformasi, HMI selalu menemukan momentum dan dinamika. Selalu ada gerakan dan diskursus yang mengandaikan HMI bergerak dari satu titik ke titik lain. Menjadi dinamik !
Kalau awal mula berdiri HMI punya basic demand, maka sekarang HMI mesti bertanya pada dirinya, apa basic demand HMI hari ini?. Dulu, ada terminologi yang paling agresif di HMI, "bergerak atau kafir?". Saya dapat itu dari senior yang menuturkan kembali ke saya saat saya bertandang ke kupang, setelah ikut rekontruksi NDP di Mataram.
Ihwal itulah, saya teringat dengan Pedagogy of hope’ sebagai rumusan filsuf pendidikan dari brazil, Paulo Freire yang menitikberatkan harapan dan masa depan manusia melalui jalan pendidikan yang humanis (memanusiakan manusia). Jalan yang dipilih adalah menggeser kesadaran manusia dari kesadaran palsu, menuju kesadaran otentik.
Sudah seharusnya, anak-anak Lafran Pane menggugurkan mitos tentang generasi kedua. Generasi yang hanya hidup menikmati warisan generasi pertama dengan masa gemilangnya. Sudah saatnya mereka menjadi tokoh pembaharu yang lain. Bukan hanya menjadi generasi yang hanya mampu menceritakan kisah tokoh dari generasi sebelumnya seperti Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, Akbar Tanjung, Mahfud MD, Anis Baswedan dan lain-lain.
Pendidikan HMI seharusnya bisa melahirkan orang-orang bebas dan merdeka dengan pikiran merdeka. Sekalipun fisiknya di habitus terbatas, tetapi pikiran menjelajah keseluruh sisi terkecil alam semesta. Jadilah anak-anak Lafran Pane, yang begitu sederhana dalam hidup. Tetapi tidak sederhana dalam pikiran. Sehingga tidak dapat dijangkau oleh kepentingan sesaat dari mereka yang berkepentingan. Orang-orang yang merawat pikiran Cak Nur menyebut sebagai manusia yang berpikir bebas (intellectual freedom).
Merapikan kembali pendidikan HMI adalah jalan harapan untuk memperbaiki bangsa Indonesia. Tidak bisa tidak, rusaknya HMI adalah bagian lain dari warna rusaknya bangsa Indonesia. Lewat menanamkan NDP serta AD/ART serta pedoman lainnya sebagai sikap hidup kader HMI. Bahkan lebih dari itu, nilai di HMI seharusnya bermetamorfosa menjadi Ideologi kader dalam jalan panjang pengabdian untuk ummat dan bangsa. Ideologi akan terpenuhi syaratnya melalui ontologi (sikap, prinsip, karakter), sebagai keberanian memilih miskin ketimbang menjadi bandit. Epistemologi adalah kekayaan metodologi melalui pengembangan wawasan ilmu pengetahuan. Aksiologi adalah daya guna dikehidupan berbangsa dan bernegara.
Kini, HMI seakan bergerak, tapi dalam paroki yang amat sempit. HMI tampak sibuk dengan dirinya. Sibuk menyatukan patahan-patahan kecil, hanya karena goncangan ringan di sekitar dengan amplifikasi politik kekuasaan yang remeh temeh.
Ingat, HMI pernah melewati goncangan ideologis. Efek goncangan ideologis itu, membelah HMI dalam dua lempengan besar. Efek residunya masih ada hingga hari ini. Itu ujian kekuasaan. HMI mestinya lebih matang dengan situasi demikian.
Hari-hari ini, fragmen-fragmen sosial itu menganga lebar. Di depan mata kader HMI. Dikotomi-dikotomi sosial seakan difasilitasi politik kekuasaan. Pilar-pilar demokrasi menjadi lumpuh total.
Sumber daya politik dan ekonomi serta sirkulasinya, hanya bergerak di sekitar sekelompok kecil elit yang menguasai 80% sumber daya ekonomi. Demokrasi mengalami konglomerasi.
Ruh dari pada aktivisme politik menjadi pudar dan transaksional. HMI mesti secara cepat mereformulasi apa basic demand-nya hari ini !.
***
Ingat, HMI pernah melewati goncangan ideologis. Efek goncangan ideologis itu, membelah HMI dalam dua lempengan besar. Efek residunya masih ada hingga hari ini. Itu ujian kekuasaan. HMI mestinya lebih matang dengan situasi demikian.
Hari-hari ini, fragmen-fragmen sosial itu menganga lebar. Di depan mata kader HMI. Dikotomi-dikotomi sosial seakan difasilitasi politik kekuasaan. Pilar-pilar demokrasi menjadi lumpuh total.
Sumber daya politik dan ekonomi serta sirkulasinya, hanya bergerak di sekitar sekelompok kecil elit yang menguasai 80% sumber daya ekonomi. Demokrasi mengalami konglomerasi.
Ruh dari pada aktivisme politik menjadi pudar dan transaksional. HMI mesti secara cepat mereformulasi apa basic demand-nya hari ini !.
***
Tahun 1947, Jabatan di HMI hanya sekedar medium. Tahun yang ke-74, Jabatan di HMI cenderung dijadikan sebagai tujuan. Dari jabatan sebagai alat pemersatu, bermutasi mengubah jabatan menjadi alat kuasa untuk dualisme. Memangnya ini HMI milik pengurus Besar HMI dan Pengurus Cabang kah?.
HMI Tahun 1947, Kakanda Lafran Pane yang semula menjadi ketua Umum Pengurus besar rela turun menjadi Ketua Cabang, demi untuk masa depan HMI. Tahun yang ke-74 HMI, Beberapa oknum PB HMI rela memecah struktur, demi untuk perebutan tampuk Ketua Umum PB HMI.
HMI tahun 1947, kongres Pertama (I) dilaksanakan. Kakanda MS Mintaredja disepakati kembali sebagai Ketua Umum PB (pengurus besar). Tujuan awalnya memang agar HMI tidak dianggap milik Kampus Islam STI. Di masa itu boleh dibilang tidak ada senioritas. Yang ada hanya bagaimana HMI bisa mekar di kampus-kampus lainnya.
Tahun ke-74 HMI, kongres XXXI yang Dijadwalkan maret bulan depan di Surabaya. Kandidat-Kandidat Calon Ketua Umum, yang telah mendaftar agaknya masih di garis koordinasi yang sama dengan oknum-Oknum yang membuat dualisme dibatang tubuh HMI dibeberapa tahun terakhir. hemat saya, hal ini Masih dalam jaringan oligarki senior.
Sementara dualisme PB berkonsekuensi kepada dualisme struktur cabang. Faktanya banyak cabang-Cabang yang dualisme. Efek terparahnya bahkan bisa konflik horisontal ke sesama anggota.
HMI tahun 1947, menjadi Pengurus Besar itu ujiannya berat. Banyak stigma peyoratif yang terbangun. Setelah dicurigai sebagai organisasi pemecah persatuan ummat, dimusui oleh organisasi mahasiswa sayap kiri. Yang paling berat adalah ikut serta dalam perang melawan Agresi Belanda dan (pemberontakan) PKI.
HMI ke-74. Menjadi Pengurus Besar itu enak. Bukan lagi enak, tapi enak sekali. Modal relasi senior, bisa lanjut S2 dan S3 di Jakarta. Tinggal nongkrong-ngopi dan cerita tidak ada nilainya, sudah bisa bikin dualisme kepengurusan.
HMI setelah tahun 1947, Ketua Umum PB Di-PJ-kan ke Kakanda Lafran Pane dan Lukman Elhakim. Dikarenakan PB HMI mengalamai stagnasi dan juga pindahnya ibu kota ke Jakarta, yang dengan sendirinya berpindah pula kedudukan PB HMI dari kota kelahiran Jogjakarta ke Jakarta.
HMI menuju tahun yang ke-74. Pengurus besarnya juga main PJ-PJ-an. PJ Arya Kharisma Hardy versus PJ Abdul Muis Amiruddin. Manakah PJ Tum PB versi penguasa?. (bukan pertanyaan).
***
Dari Narasi diatas, tentang HMI perjalanan saya terasa begitu panjang dan makin menemukan titik-titik rumitnya. Entah pemikiran saya yang makin menemukan relevansi kekinian yang kompleks, atau jangan-jangan pikiran ini tak lazim, tidak berguna hingga sepi dalam keramaian.
Tetapi, kita Harus memperteguh Motif berkader. Sebab, Dalam siroh para Nabi ada energi yang muncul setelah mereka mengalami fase yang berat dalam hidup. Nabi yusuf misalnya ; setelah kedengkian 10 saudaranya. konspirasi pembunuhan pun di rencanakan, Yusuf lalu dibuang ke dalam sumur secara hidup-hidup. 40 tahun kemudian mereka (Saudara-Saudaranya) datang dengan menghamba pada Yusuf untuk meminta makan dinegeri mesir.
Yusuf sudah jadi raja atas tanah itu. mereka para pembunuh itu datang dengan muka papah. Mengiba pada raja agar diberi bantuan makan. Mereka sama sekali tidak mengenali bahwa yang ada dihadapannya adalah adik kandung yang dulu ingin dibunuh akibat dengki.
Hidup itu dipertukarkan. dibanyak kesempatan kita menang dalam pertarungan. tetapi, kekalahan juga bahagian dari resiko yang harus ditanggung bersama dengan keinginan untuk menang. Allah pasti punya jalan untuk memenangkanmu dipertarungan berikutnya.
Selepas BerHmI, kita jadi apa?.
Memang dulu HmI itu produsen politisi. Sehingga surplus politisi dan defisit disektor profesional lain. Bahkan dalam beberapa kesempatan sistem perkaderan yang demikian mengungkit kritik di Internal HmI. Karena asumsi inilah, maka pada saat kegiatan rekonstruksi NDP dan perkaderan HmI di Mataram (2004), ada beberapa kawan senior yang mengusulkan dihapuskannya materi Ideopolstratag dalam kurikulum trainning HmI. Agar kader-kader tidak genit dengan politik praktis. Tapi, menurutku bukan itu solusianya. Saya kira, yang demikian ini, karena intuisi leadership dalam anatomi perkaderan HmI begitu kuat. Hal Ini membawa akibat pada naluri setiap kader untuk memimpin.
Saluran paling mungkin adalah melalui politik praktis dan jaringan alumni politis. Saya kira, kondisi yang sama juga di rasakan teman-teman OKP lain seperti IMM, PMII, GMKI, GMNI, PMKRI dan lainnya.
Artinya, sejak awal embrio cita-cita sosial setiap kader HmI itu ada dan mendarah daging. Selepas BerHmI kita di uji untuk mengartikulasikan-mengobjektifikasi cita-cita sosial perkaderan itu di alam nyata Dan kita semua sekarang sedang melakukannya dengan cara masing-masing. Kuncinya perkaderan itu membesarkan, bukan besar sendiri-sendiri Semu! Demi cita-cita sosial kita semasa berHmI.
Nilai telah tergerus kepentingan elit kaum Muda.
Nilai tak lagi memiliki ksatria penjaga.
Nilai telah menjadi pertaruhan ego dan popularitas.
Harapan berbenah berakhir dengan sedikit slogan "Yakin Usaha Sampai".
Yakin dan pasti, ada sekelompok kecil di sudut identitas selalu menjaga Nilai agar tak menjadi Buih. yang tersisa, Bertahanlah..!
Semoga kita menjadi kader muslim, intelektual, professional Dan Semoga kelak HMI ini lenyap dalam keadaan Husnul khotimah, bukan su'ul khotimah.
* Pustaka Hayat
* Yakin Usaha Sampai
* Muslim Intelektual profesional
* Makassar, 24 Juni 2018
* Rst - Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar