Mengenai Saya

Foto saya
Penalar Pinggiran

Kamis, 16 Maret 2023

UPAH GOYANGAN LEBIH MAHAL, KETIMBANG AKAL PIKIRAN (DERAJAT KEBUTUHAN)


Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel tentang uang penghargaan atau honor seorang artis. Disebutkan dalam tulisan tersebut bahwa seorang artis yang sangat populer mendapat uang jasanya sebagai master of ceremony (MC) sebesar Rp.5,5 Miliar untuk 45 menit dia bekerja.

Pada lain kesempatan, saya pernah diceritakan besaran bayaran seorang artis penyanyi terkenal yang sekali diundang menghibur bisa mengeluarkan biaya hingga 200 juta rupiah, hanya untuk 5 atau 6 lagu saja. Itu sudah termasuk biaya hotel, asisten dan pesawatnya.

Saya pernah hadir dalam sebuah perhelatan pesta pernikahan mewah. Hadir di situ seorang biduan terkenal tanah air. Dia membawakan 4 atau 5 Iagu saja, kemudian istirahat di kamar hotel tempat acara.

Tampilannya luar biasa. Berbaju glamor dan berdandan seperti bidadari. Mulai dari gaunnya yang wah, dandanannya yang mempesona hingga Iantunan Iagunya yang sangat memanjakan telinga pendengar. Saya hanya senyum dan manggut-manggut memahami kenyataan itu. Saya hanya berfikir, bahwa hal ini adalah bagian dari mode hidup yang terjadi dewasa ini, mungkin juga menjadi trend dunia, semisal budaya Korea.

Negeri gingseng yang tetiba menggeser obat herbal menjadi penjual drama, make up dan gaya. hingga seorang Kiyai Makruf Amin pernah merujuknya dalam sebuah pidato beliau. Belakangan ini saya jarang sekali menonton TV, apalagi sinetron dan nyanyi. Saya jadi “ketinggalan kereta” untuk urusan sejenis itu.

Suatu waktu, saya duduk bersebelahan dengan seorang senior dalam sebuah Dialog, beliau berucap kepada saya. Di negeri ini harga goyang bebek, goyang Dumang dan goyang-goyang lainnya honornya ratusan kali, ketimbang harga pikiran. Dengan menyebut nama seorang artis, beliau mengatakan bahwa honornya Rp.100 juta dan kita yang Ngisi Dialog ini nanti akan terima honor Rp.500 ribu. Saya tidak berkomentar dan hanya tersenyum. Eh, pada saat acara usai, panitia Dialog menyorongkan Amplop, besarannya tertulis Rp.500 ribu.

Saya tidak kaget lantaran sudah biasa dan memang sebesar itu nilai sebelum sebelumnya, bahkan lebih kecil dari itu. 

Tapi dengan membaca artikel dua hari Ialu itu, saya menjadi ingat ucapan senior saya dan coba berfikir komparatif, serta lebih substantif. Saya juga tau besaran uang kehormatan untuk para mubalig dan ulama yang menyiram Qolbu jemaah, dengan waktu 60 menit atau Khutbah Jumat, sekitar 30 menit. Sebab, itu adalah Aktivitas yang Saya Lakoni. Saya juga tau upah buruh lepas, yang bekerja 8 jam, Senilai Rp. 100 ribu rupiah. tukang yang terampil 8 jam bekerja, Senilai Rp.150 ribu dan honor dosen untuk sekali mengajar, rata rata Rp.350 ribu rupiah, dan sederet daftar upah/ honor/ uang lelah atau apapunlah namanya, untuk berbagai profesi.

Para pengajar, dosen atau semacamnya memang beda-beda untuk setiap lembaga pendidikan. Guru besar konon mendapat uang kehormatan setiap bulan Rp.18 juta diluar gaji. Tapi para direktur bank dan dirut BUMN besar, rata-rata mendapat gaji, dll, tidak kurang dari Rp.150 juta bahkan ada yang mencapai Rp.250 juta per bulan. BUMN yang sangat besar bisa mencapai Rp.300 juta, Belum lagi termasuk Tantiem tahunan yang jumlahnya miliaran bahkan ratusan miliar jumlahnya, tergantung Iaba perusahaan.

Pada jajaran birokrasi, gaji presiden tidak lebih dari Rp.60 juta per bulan, gubernur Rp.8,7 juta dan bupati / wali kota Rp.6,2 juta. Sementara biaya kampanye yang dikeluarkan dipastikan hitungan milyar. 

Pernah saya menanyakan kepada salah seorang kawan, waktu itu dia Tim pemenang salah satu gubernur di salah satu Propinsi : Berapa uang keluar buat biaya kampanye?. Dia mengangkat satu jari telunjuknya. Saya kaget. “Seratus miliar?”, tanya saya menegaskan. Dia mengangguk. “Kenapa sebesar itu?”, tanya saya. “Kandidat kami kan banyak partai yang mendukung ,” katanya. “Biaya kapal berlayar itu kan besar,” jawabnya. Saya manggut-manggut tanda paham. Belum lagi biaya alat peraga kampanye yang sangat masif.

Tapi saya tidak berlarut-larut membandingkan sistem gaji Birokrat. saya ingin bandingkan adalah honor penceramah yang memberi pencerahan dengan honor penghibur. Dua-duanya menyentuh rasa dan jiwa. Penceramah adalah orang berilmu yang bermaksud membasuh Qolbu agar menjadi Qolbun Salim atau jiwa yang tenang dan menuntun jalan untuk “pulang” dengan husnul khotimah, meningkatkan ketaqwaan sebagai sesuatu yang sangat mendasar, serta menyempurnakan iman bagi orang yang beriman agar hidup yang singkat ini berbuah manis dengar surga yang abadi dalam kehidupan yang sebenarnya (akhirat). 

Sementara hiburan adalah hiburan. Hiburan adalah untuk kesenangan sesaat. ketika lagu yang merdu itu didengar telinga dan dirasakan jiwa yang halus Atau juga untuk memanjakan mata dari menikmati lenggang lenggok penyanyi yang di idolakan. Kadang tampilan itu membius dan menuntun pribadi hingga melupakan kesulitan hidup bagi yang kering atau menyempurnakan kenikmatan hidup bagi yang berpunya. Kebahagian ini jangan cepat berlalu, Katanya. Tapi kenikmatan itu hanya sesaat, tidak mampu membuat batin tenang. Setelah penyanyi berlalu, persoalan hidup tidak akan teratasi. Kegalauan muncul kembali bagi yang sedang galau.

Apalagi juga tidak memberikan sumbangan apa-apa untuk kehidupan sesudah mati. Tapi itulah fakta yang kita jumpai. Rp. 100 juta bersih, buat artis populer, dan Rp. 500 ribu buat penceramah atau da’i, sudah termasuk biaya transportasi dll.

Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa Dan saya juga tak bermaksud menyudutkan orang yang membayar mahal para artis, Itu hak mereka. Tapi saya sekedar bercerita bahwa itulah fenomena kehidupan kita. Kadang-kadang karena demikian kompleksitasnya persoalan hidup, membuat kita lupa bermuhasabah. Kadang karena berjalan terlalu jauh dan hidup terlalu panjang, membuat kita lupa akan hakekat. Sehingga sesuatu yang sederhana kita hargai berlebih, sementara sesuatu yang penting dan bernilai tinggi kita abaikan.

Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan tulisan sederhana antropolog Clifford Geertz. Judulnya saya lupa. Mohon dikoreksi bila salah. Tentang DERAJAT KEBUTUHAN. Asumsi dasarnya, apresiasi dalam masyarakat, bergantung pada kebutuhan dari masyarakat itu sendiri. Apresiasi bisa ekstrinsik (uang), bisa intrinsik (status, posisi dalam relasi sosial). Ini menjadi representasi secara umum, "bagaimana karakter masyarakat itu sendiri".

Youtuber(s) Atta Halilintar dan Ria Ricis, pendapatannya luar biasa. Konten mereka, mungkin biasa-biasa saja. Begitu pula dengan konten Prank, konten alay dan lebay (tanpa sentuhan estetik), subscribernya, jutaan. Sule dan keluarganya, mulai dari istri, anak pertama hingga yang terkecil. Belum Raffi Ahmad, Istri dan Anaknya dan sederet artis lainnya. like dan subscriber mereka mengalahkan subsriber UAS, UAH, Tafsir al-Misbah, Indonesia Nat. GEO, neorosains, kanal ilmu sosial, kanal ilmu alam, Kanal Ilmu Ekologi, Kanal Ilmu Demomrasi dan Hak Asasi Manusia, Kanal Ilmu Filsafat dan kanal-kanal ilmu pengetahuan yang luar biasa kualitas tampilan serta isinya. subscribe ya, mungkin puluhan ribu, paling cuman 1 juta.

Demikianlah. Derajat kebutuhan kita, seperti itu. Mungkin termasuk saya.

Lalu, ada seorang Kawan Yang Mengkritik Gagasan ini, kabarnya Dia pernah menyaksikan live performance, seorang Artis. Sungguh luar biasa. Mereka mampu menguasai audiens yang bahkan banyak Terhipnotis dengan Permormance. Semua itu adalah gabungan dari jiwa seni, talenta, kerja keras berlatih bertahun-tahun, dan tentu saja tingkat intelektualitas di atas rata-rata. Poin yang kawan saya ingin kemukakan, adalah perbandingan yang tidak setara antara otak dan goyang. Seakan-akan kalau goyang itu tidak pakai otak. Menurut kawan saya itu, sangat tidak tepat, karena kawan saya sendiri mengakui bahwa dia tidak akan pernah sampai di level seperti para pesohor itu.

Saya Mebjawab dengan memberikan Ilustrasi seperti ini ; Ada seorang kawan saya. Tamatan STM. Kepintarannya dalam memperbaiki mesin Mobil dan Motor, dinamo, AC dan sejenisnya, sangat luar biasa. 

Suatu ketika, datang seorang ibu. Ingin memperbaiki dinamo pompa air pabriknya yang rusak. Bahkan kerusakan dinamo tersebut dianggap sudah sampai pada taraf yang parah sekali. Karena itu, ia berharap pada kawan saya "Dek, tolong perbaiki, berapapun biayanya, saya bayar !".

Kawan saya ini lalu pergi ke Rumah si Ibu. Selanjutnya, sekitar beberapa menit memperhatikan dinamo yang rusak tersebut.

"Tidak dibongkar, dik ?", tanya si Ibu. "Tunggu dulu, saya lihat-lihat terlebih dahulu!", jawab kawan saya ini. Beberapa menit kemudian, salah satu kabel (kecil) di perbaiki. Lalu, pompa air hidup. Air keluar, sebagaimana sedia kala. Proses, tak sampai 5 menit.

Si Ibu puas. Kawan saya ini, bahagia. "Berapa ongkos yang harus saya bayar, dik ?", tanya si Ibu. "200.000,- rupiah !", jawab kawan saya ini. Si Ibu terkejut, lalu berkata, "200.000 hanya untuk sekitar 5 menit, mahal sekaliii. !".

"Memang saya memperbaikinya 5 menit, bu. Sebelumnya, saya hanya melihat-lihat saja. Tanpa keluar peluh dan keringat. Tanpa bongkar membongkar. tapi, tahukah Ibu, berapa belas tahun saya belajar hingga bisa mengetahui kerusakan pompa air Ibu ini, hanya dengan cara melihat. Tahukah ibu, bagaimana saya membutuhkan ratusan kali mengasah insting untuk mengetahui kerusakan pompa air, sehingga kini saya bisa memperbaiki pompa air ibu hanya 5 menit. Mahal biaya untuk sampai ke taraf ini, bu. Harusnya bukan sebanyak itu. Lebih dari itu, harga yang harus ibu bayar !".

Si Ibu tersenyum. Dua lembar warna merah, beralih tangan. 

*Pustaka hayat
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar pinggiran

BIRU ; SILOGISME (1)

 

Kamu suka biru kan!. begitu katamu padaku.

Sebenarnya ingin ku kabarkan padamu tentang bintang yang paling terang. mungkin dia adalah "bintang Achemar". Bintang tercerah di rasi Eridanus.

Letak bintang Achemar, di ujung selatan Eridanus. ia bintang yang cemerlang, "Berwarna biru terang". ia cemerlang 3000 kali dari matahari. Itulah bintang yang akan  ku petik UntukMu. sadiss πŸ˜ƒ.

Olehnya, Jadilah dirimu penjaga bintang itu. seperti Novel milik "Author  wikana satriati" berjudul "Gadis kecil penjaga bintang". dalam bintang-bintang itu ada doa-doa yang menerangimu.

Ataukah dongeng Grimm brothers - Tentang gadis kecil dan bintang. tentang Tuhan yang mengirimkan bintang dari langit untuk turun ke bumi dan menyelimuti gadis dengan cahayanya. Cahaya bintang itu berubah menjadi pakaian yang indah. lalu, bintang-bintang itu berubah menjadi kepingan emas dan gadis kecil itu menyelipkan kepingan emas tersebut ke gaunnya.

Nona, sebenarnya saya berharap engkaulah gadis dalam hikayat Grimm Brothers; gadis yang baik itu, yang memungut bintang dengan gaunnya.

Bintang-bintang dilangit itulah harapanmu. Petiklah dengan kebaikan, sebagaimana gadis penolong yang dikisahkan Grimm brothers. Terangilah kehidupanmu dengan bintang-bintang itu. "there is your hope. your future. pick them up" - Ada Harapan. Masa depan anda. Jemput mereka.

Atau jurnalis kenamaan Janette Wals yang pernah dihadiahi bintang oleh Ayahnya Rax Wals dihari ulang tahunnya. Hadiah terindah yang terus menerangi hidup Janette dalam filem the Glass Castle.

Kalau cuman bintang, saya akan memberimu tiap malam.

Sebenarnya Ini kesaksian, yang telah lama ku bunyikan dalam sunyi. Tapi, Ahh Sudahlah, Sudah larut juga.

Lekaslah tidur untuk terlelap dalam lupa sebab malam semakin larut. jangan suka berkalang dengan malam, itu tidaklah baik untuk kesehatanmu.

Lekaslah tidur karena aku akan mengendap-endap dalam mimpimu. tak perduli pada jendela dan pintu rumahmu yang tertutup rapat.

Lekaslah tidur. sebab, aku akan masuk melalui udara yang kau hirup dan memastikan bahwa tidak ada seorang-pun selain aku disana.

Lelakslah terlelap dalam tidur. walau pagimu bukan milikku. tetapi, malam ini mimpimu adalah milikku.


Makassar, 20 Januari 2020


*Pena Koesam
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran 

JIWA YANG MALANG DI MALANG ; CITIZEN JOURNALISME

 

Tepat Di Hari Kesaktian Pancasila, 1 oktober 2022 Di Stadion Kanjuruhan, Jiwa - jiwa yang malang pulang di malang. Tragika ini adalah bencana sepak bola yang paling besar sepanjang sejarah sepak bola dunia. Ratusan nyawa Hilang, ratusan keluarga akan membenci sepak bola seumur hidup mereka. 

Berapa orang yang menjadi Yatim, Istri-istri yang menjadi janda, orang tua yang kehilangan anaknya dan anak yang kehilangan orang tuanya. Terlalu mahal harga sepak Bola di Bumi Mutu manikam Zamrud Khatulistiwa. 

Siapa yang harus bertanggung jawab atas kecerobohan ini - orang tua yang kehilangan anaknya?. Anak yang kehilangan orang tuanya?. suami yang kehilangan istrinya atau Istri yang kehilangan suaminya?. Toh, tidak ada yang berani tampil di publik dan menyatakan SAYA YANG BERTANGGUNG JAWAB. Bahkan Kapolda Jatim terkesan membela bawahannya yang melanggar Yuridiksi FIFA. Ajaib. Tidak hanya itu, Kapolri Bersama Jajaran Pemerintah mendatangi - Berta'ziah ke Kediaman salah satu Korban, menawarkan agar anak Korban masuk Polisi. Massunuu?. 

Begitu cepat dan terlalu singkat waktu yang memakan ratusan nyawa πŸ₯ΊπŸ˜”.

Keributan dan kerusuhan sudah sedemikian sering terjadi dalam perhelatan sepak bola. Apalagi melibatkan Supporter yang Fanatis terhadap Tim kesayangannya - Arema Vs persebaya punya sejarah panjang. Sudah sepatutnya pihak penyelenggara dan Keamanan memprediksi langkah pecegahan. Sudahkah itu di lakukan?. 

Sepak bola, Perjudian, Pengaturan skor, Pemimpin yang berwewenang. Jika tak di cegah, Azabnya mengalir kepada mereka yang tak bersalah. Lalu, dengan tanpa rasa bersalah mereka beralibi dan membentengi diri, ujungnya gerakan cuci tangan bersama dan dalam waktu bersamaan Telunjuk Kesalahan akan di arahkan kepada Supporter. Padahal kerusuhannya di lapangan, yang di tembaki Gas air mata di Tribun penonton. Kurang ajar betul. 

Fanatisme supporter, budaya Rivalitas, kultur Ultras atau Hooligan tidak pernah bisa membenarkan bentuk anarkisme - Kekerasan dan kerusuhan apapun. Secara Konsepsional, Menang dan kalah adalah hal yang biasa dalam sepak bola. Ungkapan kekecewaan tak harus selalu berbentuk kekerasan fisik. Tetapi, tetap saja berujung Kerusuhan. Apakah Upaya preventif telah di lakukan atau tidak sama sekali?.

Jadwal Pertandingan Arema Vs Persebaya itu sore hari. Tetapi, Indosiar, PT LIB dan Panpel Takut rugi. makanya mereka meminta untuk pertandingannya di undur sampai malam hari. 

Di eropa, kita tahu ada banyak rivalitas panas tim-tim sepak bola di sejumlah liga - Munchen Vs Dortmund. Barca Vs Real Madrid. Inter milan Vs Ac Milan. MU Vs Liverpool. Inter Vs Juve. Ajax Vs PSV dan masih banyak lagi yang melibatkan Rivalitas kedua tim atau lebih. 

Masing-masing mereka pernah kalah di kandang oleh rivalitas beratnya, bahkan ada yang kalah telak. Tetapi, sejengkel apapun rasa Kalahnya dari rival atau semarah apapun dari Tim kesayangannya yang berada dalam tren negatif. nyaris kita tidak pernah terdengar atau terbaca, supporter-supporter Eropa anarkis dan Turun ke Lapangan meluapkan emosi pada timnya. Mungkin ada 1 atau 2 yang berujung bentrok. tapi, tidak sampai memakan korban jiwa.

Saat kekecewaan Supporter terlanjur memuncak, umumnya di lampiaskan dengan boikot pertandingan atau demonstrasi di depan stadion mereka atau juga protes-protes keras di media sosial Club.

Tetapi di indonesia, mengapa mudah sekali terjadi gesekan atau bentrokan yang tak jarang memakan korban jiwa?. Di saat masih ada opsi lain untuk meluapkan kekecewaan, agar Tim kesayangan mereka memperbaiki performa permainannya. Ketimbang menggunakan aksi masuk lapangan dan merusuh. Tapi, dalil masuk ke lapangan juga tidak bisa di jadikan dasar untuk mementungi dan menembaki manusia dengan gas air mata. 

Memukuli Supporter dengan pentungan, menghantam secara membabi buta, apalagi menembaki dengan Gas Air mata adalah tindakan Biadab. Sebab, semua stadion berada di bawah Yuridiksi FIFA - Pasal 19B, " Stadium Safety and Security Regulations - senjata api san Gas pengendali Massa tidak di perkenankan di bawah masuk ke dalam stadion". Artinya, semua yang terlibat di dalam Stadion - pertandingan, Supporter, kedua tim yang berlaga, wasit, panpel, pihak keamanan dsb adalah milik sepak bola. Segala sesuatu yang terjadi di dalam stadion, tunduk dan patuh pada regulasi FIFA sebagai "IBUNYA".

Aparat keamanan dalam penanganan kerusahan di luar stadion boleh melakukan sebebas-bebasnya tindakan tanpa merujuk pada regulasi FIFA. Tetapi, ketika mereka masuk kedalam Stadion, maka mereka tak di berikan hak secuil pun Hak untuk menyerang dengan kondisi apapun.

Di eropa dan belahan dunia lainnya dengan fanatisme yang begitu luar biasa, aparatnya berhasil melakukan penanganan yang tepat untuk menguasai massa. Kenapa Di Indonesia tidak demikian?. Bukan Potensi kerusuhan dan keributan itu jelas ada, apalagi melibatkan dua Rivalitas Tim. 

Sekarang, bukan saatnya kita saling menyalahkan. Kita harusnya saling menguatkan. Ahh, omong kosong. Toh, dari kejadian ke Kejadian. Anasirnya tetap sama, yaitu INVESTIGASI Dan EVALUASI. Sebagaimana Terma, NagaBonar, Dari berunding ke berunding, Nica Masuk Juga. Anasìr klise.

Bagaimana kita bisa se-naif itu menyalahkan individu-individu kecil yang diatur di dalam sistem sepak Bola yang jelek. Seoerti, kita bisa saja Menyalahkan individu-individu yang kerap naik diatas atap Kereta, bahkan tak jarang mereka celaka - jatuh hingga tewas. Tapi, apakah hal itu membuat orang berhenti untuk naik diatas atap kereta. Kan tidak. Lalu, mengapa sekarang tidak ada lagi orang yang naik diatas atap Kereta. Karena, sistem dan regulasinya sudah diatur bagus. Sehingga, orang yang sama, yang suka naik diatas atap Kereta pun berubah dan tersadar dengan sendirinya. 

Sistem sepak bola kita tidak demikian. Supporter fanatik itu bukan satu dua orang, banyak. Semakin banyak supporter maka semakin banyak potensi uang yang berputar. Sementara, penyelenggara dan Pihak yang berwewenang di huni oleh orang-orang Goblok Bin Bodoh Bin Tolol, di Otak mereka cuman ada keuntungan. Mereka tidak lagi melihat supporter sebagai Manusia. Mereka telah mengganti nama-nama Supporter dengan uang 50 ribu / tiket. 

Selain itu, hanya pertandingan Sepak Bola di Indonesia yang pihak kemanannya melibatkan TNI dan Polri. Di eropa, Manajemen penyelenggara lah yang mengegola Pihak keamanan setiap pertandingan, yang Lisensi Security and Safety berstandar FIFA. Dulu, kita Punya orang yang satu-satunya punya lisensi FIFA. Tetapi, Di Pecat oleh federasi sepak bola Indonesia. 


- Salam Satu Jiwa -


*Rst

*Pejalan sunyi

*Pustaka Hayat

GURU DARI GURUKU ; CITIZEN JOURNALISME

 

" innahu lillahi wa innahu ilaihi rojiun", Kalimat itu sengaja di tambahi akhiran “hu”, oleh Cak Nun. karena bagi Cak Nun, ia memerlukan catatan setandas-tandasnya tentang kepergian hamba Allah yang amat sangat berjasa memproses pematangan hidup Cak Nun di usia remaja pada era 1970-an. Juga untuk mempersaksikan bahwa yang pulang kembali ke haribaan Allah Swt adalah insyaallah yang dulu demikian juga Allah menghadirkannya.

Sedemikian “fithriyah”nya Umbu bagi Cak Nun sehingga tidak seserpih pun, ia mengenal kecenderungan institusionalnya. Bahkan ketika seluruh seniman Indonesia menyebutnya “berprofesi” Penyair, Cak Nun sendiri tidak melihatnya demikian. 

penyair kok profesi?. sedemikian sembrononya manusia modern dengan yang mereka sangka ilmu dalam jiwa mereka. 

Umbu Landu tidak pernah menerbitkan satu buku kumpulan puisi. Andaikanpun kita mengakuinya sebagai penyair, semua tahu ia bukan penyair sebagaimana Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri atau Taufiq Ismail.

Narasi utama Umbu kepada Cak Nun dan ratusan muridnya di Yogya maupun di Bali adalah “Kehidupan Puisi”. Bukan “puisi kehidupan”, di mana kehidupan memuat nuansa-nuansa puisi. Melainkan kehidupan ini sendiri adalah puisi. Semua ciptaan Allah adalah puisi. Adalah poetika. Adalah inti keindahan. Bahkan seluruh isi Kitab Suci adalah puisi.

Apakah seseorang harus mengetahui, mengenali, mendalami, dan mengalami apa itu puisi, supaya ia merasakan bahwa ayat-ayat Allah adalah puisi? Itulah yang dirasukkan Umbu ke dalam jiwa Cak Nun.

Kehidupan ini sendiri adalah puisi. Agama justru adalah alat atau metode agar dilatihkan oleh hati dan jiwa manusia untuk mengenali “kehidupan puisi”. Apa yang tidak indah dari segala sesuatu mengenai Allah? Yang mana yang bukan puisi dari apa saja pun yang ditakdirkan, dilakukan, dikehendaki, diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya?.

Perempuan tua itu senantiasa bernama : "cinta, kasih, sayang". tiga patah kata purba. Diatas pundaknya setiap anak berdiri, menjangkau bintang-bintang dengan hati dan janjinya.

Ibunda tercinta : Umbu Landu Paranggi. Selamat jalan, Penyair Hebat. Guru dari Guruku : Cak Nun. 


*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

PERNIKAHAN BEDA AGAMA OLEH STAFFSUS PRESIDEN ; CITIZEN JOURNALISME


Merebak Pernikahan Beda agama. Hal itu datang dari seorang Staffsus Milineal Presiden. Sandaran Teks yang di gunakan adalah Q.S. Al maidah ; 5, bahwa Qur'an tidak melarang pernikahan beda agama?. 

Pertama, jika Al-Qur'an tidak melarang suatu perkara, bukan berarti hal itu boleh. Seperti, hubungan badan Lelaki dan Perempuan, apakah asalnya Boleh?. Kan Tidak. Hukum berhubungan badan lelaki dan perempuan asalnya adalah Haram, kecuali telah menikah. Lain soalnya dengan Muamalah, seperti Jual beli. Sepanjang tidak ada larangnya, maka, Hukumnya Boleh. 

Kedua, berdasarkan Teks Al maidah ayat 5. Boleh menikahi orang yang berbeda agama ; ahli Kitab. Sebelum terlalu jauh sampai pada perkara membolehkan dan tidak, terlebih dahulu, kita harus membatasi, yang termasuk ahli kitab itu apa dan bagaimana?. 

Ahli kitab dan kafir Dzimmi, itu beda. Begitu juga dengan Ahli kitab dan Musyrik, dsb berbeda. Sedangkan, Yahudi dan Nasrani termasuk ke dalam golongan Ahli kitab. Ahli kitab adalah orang-orang yg beriman kepada Allah atau menyakini Allah sesuai dengan al-Kitab, yang di turunkan. Sedangkan, Al Imam al-Syafi’i memberikan definisi yang lebih sempit lagi, bahwa yang termasuk Ahli Kitab hanyalah pengikut Yahudi dan Nasrani dari Bani Israil saja (Muhammad ibn Idris al-Syafi’i (w. 204 H), Al-Umm. 

Artinya, sepanjang Ahli kitab menyakini Allah SWT adalah Tuhan dan Rosulullah Muhammad SAW sebagai Rosul terakhir, maka mereka tidaklah kafir. Sekalipun indikasi Kafir dari Golongan Ahli kitab dalam Q.S. Al Bayyinah : 1, itu ada. Jika, Ia memenuhi kualifikasi Sebagaimana yang tertuang di dalam Q.S. al imron : 113 dan di pertegas dalam Q.S. Al baqorah ; 221. Maka, perempuan Ahli Kitab yang berasal dari Yahudi dan Nasrani boleh (Halal) dinikahi oleh seorang Muslim. 

Namun, kita tidak boleh mengambil kesimpulan dengan pemahaman terbalik, yakni "Seorang pria Yahudi atau Nasrani" boleh menikahi perempuan muslim. Hal ini keliru, sebab teksnya aslinya dalam Q.S. Al maidah : 5, berbunyi "muhsonaat", kata tersebut menunjukan muannats (perempuan).

Mengapa Pria Ahli Kitab tidak di bolehkan menikahi perempuan Muslimah. karena kepemimpin rumah tangga dipegang oleh laki-laki. Selain itu, sampai botak kepalamu Mengaji Fiqih, tidak ada dalil yang membolehkan pernikahan silang secara total. 


*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran 

RIUH TRANSGENDER : CITIZEN JOURNALISME


Beberapa waktu lalu, ada kawan yang bertanya. Tentang Berita yang riuh soal polemik Trans Gender, yang Ia sandarkan pada ketidakproporsionalan sebuah hukum. Seperti, seseorang yang telah mengkoversi Gendernya. Maka, hukum yang berlaku atasnya adalah Hukum pilihan Gendernya. 

Kita tidak bisa menghukumi Manusia, seperti kita Menghukumi Sperma. Sekalipun Manusia dari sperma. Sama seperti hukum pada Ulat, tidak bisa di gunakan pada Kepompong, sekalipun Kepompong berawal dari Ulat?.

Oke, sekarang saya mengikuti LogikaMu, bahwa seseorang yang awalnya adalah lelaki, tetapi memilih menjadi wanita. Maka, hukum yang berlaku atasnya adalah hukum wanita. 

Di indonesia, Seorang lelaki menjadi perempuan, bukan lagi hal tabu. Sudah mutawattir, soal itu. Bahkan, Di Barat dianggap sebagai HAM. 

Sekarang, saya Tanya, seseorang yang mengkonversi Jenis kelaminya dari Penis ke Vagina ; apakah Dia bisa Haid, apakah dia layak mengandung dan melahirkan?. Apakah jenggotnya tidak tumbuh?. Apakah Sistem Otaknya tidak menstimulus Rangsangan ketika melihat cewek seksi?. Dsb.

Jika tidak bisa. Artinya Dia tidak konsisten pada pilihan Gendernya. Mestinya, saat dia memilih gendernya. Maka, semua ekosistem Pilihan gendernya harus ada. Masa dia pilih vagina. Tapi, tidak bisa Haid. Lalu, Engkau mau menerapkan Hukum apa atasnya?. 

Di titik itulah, Dia di kembalikan pada Hukum awal kejadiannya. 

Seseorang yang fitrahnya adalah lelaki, kemudian merubahnya menjadi wanita. secara medis tidak akan bisa merubah hormon dan semua Ekosistem kelaki-lakiannya, agar tersistem sebagai wanita. Sekalipun Jenis kelaminya sudah di rubah. 

Makanya diantara kritikannya Qur'an adalah orang yang mengganti asal usul kejadiannya ; "Fa la Yughoirunna khalqohu (mereka akan merubah-rubah asal usul penciptannya). 

Sama ketika ada yang tanya, bagaimana jika perempuan Jadi Imam Sholat?. "Boleh". Tapi, bagaimana ketika dia menjadi Imam sholat, tetiba dia Haid. Dia sudah mempersiapkan solusinya atau tidak?. Sementara, potensi untuk haid itu ada dan tidak bisa di program, Ia Natural. Makanya, yang jadi imam sholat adalah lelaki. karena, tidak ada potensi Haid ketika menjadi Imam sholat. 


*Nalar Pinggiran

LELAKI ITU JAHANNAM ; CITIZEN JOURNALISME


Belum Kering Coretan saya tentang NOVIA WIDYASARI RAHAYU, yang memutuskan untuk meneguk racun sianida, yang di campurkan kedalam minuman kesukaannya, Red Velvet. Hal Itu dilakukan di samping makam orang yang ia cintai, ayahnya. 

Kesedihan yang dalam, menjadi ciri depresi dan sikap elegan-nya itu menyita perhatian Indonesia. Sekaligus memaksa kita untuk menengok dan mendalami mengapa hal ini terjadi?.

Akhir hidup Novia didasari oleh tiga hal: kekerasan seksual, absennya perlindungan terhadap dirinya, baik secara sosial dan psikologis serta Disket Jiwanya Mengalamj Resesi.

Novia mengalami kekerasan seksual. Di lacuri oleh pacarnya di mobil (Biadaab), yang mengakibatkan dia Hamil. 

Pacar yang memperkosanya adalah seorang polisi. melaporlah dia ke Propam. Tapi, tidak membuahkan hasil.

Hal Ini tidak sekali terjadi. Beberapa waktu lalu, Project Multatuli menulis laporan tentang seorang ibu di Luwu Timur yang anak-anaknya diperkosa mantan suaminya. Bukannya diperiksa, si ibu dinyatakan menderita gangguan kejiwaan.

Polisi lambat merespon laporan si gadis karena melibatkan anggotanya. Tapi sangat cepat bereaksi menangkap perempuan ekshibisionis yang mengekspose dirinya di bandara Yogyakarta. 

Novia mengalami kekerasan seksual. Inilah sebenarnya titik pangkal depresi yang dideritanya. Bukannya mendapatkan perlindungan, dia malah disudutkan. Bahkan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya (keluarganya). Tragis. 

Novia mengakhiri hidupnya, jelas menderita depresi berat, akibat tekanan sosial dan goncangan Psikologis yang luar biasa. Dia membutuhkan dukungan dari masyarakat. Itu persis yang kita tidak punya. pun ada, tidak banyak orang bisa mengaksesnya. 

Di Twitter saya menguderline Tulisan ini ; "Beberapa jiwa terlalu indah untuk dunia ini, demikianlah mereka pergi", -Nour Saad-

Jangan hakimi cara dia mengakhiri hidupnya. Tapi, hakimilah sistem kemasyarakatan yang membuatnya depresi; sistem keadilan yang tidak berpihak sedikitpun terhadapnya, melainkan hanya pada yang kuat dan berkuasa; SISTEM ITULAH YANG MEMBUNUHNYA. Keji. Serta, Para politisi yang menolak membahas UU Perlindungan terhadap Kekerasan Seksual-lah yang membunuhnya. PEMBUNUH. 

Berkenaan dengan itu, saya Suka sekali dengan Catatan kecil Kakak saya di WA, tentang Siroh Rosulullah SAW, saat Abu Jahal di tanya setelah gagal menangkap Nabi ; "mengapa tidak masuk ke dalam Rumah Muhammad, di malam sebelum Hijrah Ke Yastrib?".

Abu Jahal menjawab ; " apa mau orang-orang mengatakan Amru bin Hisyam (Abu Jahal) membuat Puteri Muhammad ketakutan dan merusak kehormatan rumah Muhammad?".

Abu Jahal yang JAHILIYAH saja, begitu Hormatnya pada PEREMPUAN. Lalu, kita?. 

**

Belum kering Coretan diatas, Dalam beberapa hari terakhir, nama Herry Wirawan, menyedot perhatian publik Indonesia. Pemilik (pondok) Boarding School TahFiz Al-Ikhlas (diduga kuat) memperkosa 21 orang santriwatinya, usia 13-17 tahun. 9 bayi dilahirkan dari 8 santriwati, ada yang 2 kali melahirkan. Diperkirakan dilakukannya sejak 2016 hingga perbuatannya terbongkar sekitar bulan Juni 2021 yang lalu.

Sekian bulan beritanya terkesan "senyap" dari publikasi. Baru awal bulan Desember 2021 ini, diketahui publik Indonesia secara luas. Dalam beberapa tulisan di media sosial, ada pertanyaan, "mengapa sekian bulan seperti terkesan ditutup-tutupi ?". Entahlah, mungkin perjalanan proses hukum ke depan, akan diketahui jawabannya. Air akan mengalir mengisi rongga-rongga yang kosong. Dihambatpun, tetap rongga-rongga itu akan diisinya. Menunggu waktu.

Sebagai seorang (yang dianggap) memiliki "otoritas keagamaan", Herry menggunakan otoritasnya sebagai seorang guru agama untuk melakukan aksi bejatnya tersebut. Pada santriwatinya, anak-anak berusia 13-17 tahun. Hingga 11 Desember 2021, berita yang kita dapatkan, dari 21 anak tersebut 9 hamil dan melahirkan. Herry menjanjikan masa depan "semu" tentang masa depan yang cerah dan dibungkus atas nama agama pada santriwati yang di"zalimi"nya tersebut. Keuntungan untuk dirinya. Dari kaca mata spritual, ia bisa melakukan hal ini karena otoritasnya sebagai "ustadz" memiliki daya tarik tersendiri untuk mempengaruhi para "korban"nya. Dan, ia begitu menikmati hal itu dalam rentang waktu yang cukup lama, 6 tahun lebih kurang.

Entahlah. Atas nama ini dan atas nama itu, selalu, pihak perempuan dan anak-anak (dalam banyak kasus : disodomi) demikian mudah untuk jadi korban. Dan, fakta sosial ini sudah banyak, "bermata bergelanggang" kabar yang telah kita dengar. Terus terjadi. Hingga kasus Herry Wirawan ini menguak dan menghantam rasionalitas kita.

"Ke depan, bagaimana kira-kira ?".

Saya teringat dengan sebuah kisah imajiner. Konon, suatu hari para ahli angkasa luar Indonesia menerima pesan dari makhluk planet lain. Mereka menyatakan minat berkunjung dan mengadakan studi banding ke bumi. Sambutan meledak-ledak bukan saja dari kalangan ahli. Perusahaan pemancar televisi dan pembuat film berlomba-lomba mendapat tempat dalam acara tersebut.

Akhirnya tibalah hari “H”. Para tamu dari planet lain itu diajak berkeliling ke pusat-pusat peradaban manusia Indonesia, baik warisan budaya klasik-kuno hingga modern. Seluruh acara kunjungan diikuti ratusan juta penduduk Indonesia, bahkan bumi lewat siaran langsung.

Di ujung kunjungan resmi itu, diadakanlah upacara perpisahan. Para tamu diminta memberikan kesan-kesannya.

Puja puji berhamburan bak kembang api. Tepuk tangan silih berganti, orang Indonesia bangga. “Tapi”, tetiba kata sang tamu, “ada keganjilan tentang kehidupan di bumi ini”. Serentak perhatian hadirin tertuju kepada wakil dari planet lain yang memberikan sambutan tersebut.

"Apa? Katakan, apa yang ganjil?", teriak hadirin berasama.

Yang aneh, "kata sang tamu, "setiap kali kami berjalan-jalan di pusat-pusat kota pada malam hari, yang kelihatan hanya kaum laki-laki. Baik di Jakarta, Makassar, Medan, Bandung, Papua, NTT, NTB, Bali, Kalimantan ataupun Aceh".

Para hadirin menjadi lega, "Oh itu".

Seorang petinggi dari Indonesia menje-laskan, "itu lumrah. Maklum, kalau pada malam hari pusat-pusat kota kurang aman. Demi alasan keamanan, kebanyakan wanita dan anak-anak tinggal di dalam rumah".

Penjelasan ini kurang memuaskan para tamu. Mereka kelihatan bingung dan sibuk berbisik-bisik dalam bahasa planet mereka, sampai-sampai tuan rumah bertanya, "Apakah penjelasan kami tadi kurang memuaskan?".

Salah seorang tamu tadi menjawab, "Terus terang, kami masih tidak paham. Kalau di planet kami, ada binatang yang buas dan berbahaya bagi umum, maka yang dikurung dan selalu diawasi itu adalah binatang tersebut. Bukan (calon) korbannya !".

Demikianlah, pesan yang hendak di berikan dalam Kisah Imajiner tersebut adalah "Ketika engkau mencegah anak perempuanmu keluar rumah, agar tidak ada yang melecehkannya. maka, engkau telah (merasa) melindungi satu anak gadis. Akan tetapi, jika engkau mendidik seorang anak laki-laki. Maka engkau telah melindungi banyak anak gadis.

**

Berkenaan dengan Hal itu, ada kawan pesbuk yang tetiba Mengirim imbox pada saya, kira-kira begini pernyataannya ; "Kabarnya boarding school itu penganut Syiah, bro. Murid-muridnya banyak dari keluarga dhuafa dan yatim, hal itu merupakan kesaksian beberapa orang warga setempat di medsos, karena sekolah tersebut sangat eklusif dan tertutup?". bahkan ada beberapa Senior dan Kakak sepupu saya yang mengarahkan telunjuknya pada salah satu Mazhab tertentu sebagai Alas tindakan Bejat Hery Wirawan. 

Sejak kawan saya mengimbox dan menanyakan hal itu, saya lama terdiam dan berpikir jauh. Entah, mau menjawab dengan jawaban seperti apa. Sebab, dia menautkan, antara tindak kejahatan seksual (predator) seseorang dengan Mazhab tertentu. Padahal, kita sadar betul bahwa Kejahatan bisa berlaku pada siapapun dan dari golongan manapun. 

Tindakan Herry (pimpinan Boarding School) adalah tindakan Cabul. Cabul itu tidak memandang Agama atau Mahzab. Cabul adalah sifat Kebinatangan. Sekali lagi saya tegaskan bahwa kejahatan bisa 'berbaju' muslim atau non muslim, bahkan seorang atheis sekalipun.

"Lalu?".

Agama itu untuk mahluk berakal, bukan untuk mahluk tidak berakal. Makanya tidak ada agama bagi hewan, tumbuhan, dll. silahkan cari mahluk tidak berakal mana yang ada agamanya. Bahkan pada anak-anak (yang akalnya belum cukup baik) pun tidak ada beban hukum baginya dalam agama.

Artinya, Jika ada penganut agama yang bikin kekacauan, melakukan kejahatan dan tindakan kekejian, berarti akalnya yang kacau, bukan agama atau Mazhabnya. Hal ini sama kacaunya akal orang berakal yang sulit memahami agama dan selalu merasa terganggu dengan agama.

Selama ini sangat banyak beredar tafsir-tafsir misigonis menyangkut sosok perempuan. Perempuan kerap jadi objek hukum. Menjadikan agama sebagai tameng pembenaran atas perlakuan-perlakuan tak bersahabat pada perempuan. Sebagian besar perempuan pun murung dengan kenyataan ini, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kali ini boleh kalian Ge-er. 

Misalnya begini. Perempuan Di perintakan Memakai hijab atau sejenisnya, Jilbab, Cadar (Purda). Tujuan memakai hijab itu apa sebenarnya ; apakah menutupi Rambut dan muka atau Menutupi Aurat?. 

"Menutupi Aurat". Lalu, Aurat itu apa?. "sesuatu yang bisa membuat lawan jenis menjadi tertarik". 

Jawaban Cerdas. Artinya, memakai jilbab atau sejenisnya adalah upaya untuk meminimalisir sesuatu yang bisa membuat lawan jenis menjadi tertarik. Sebab, jika memakai hijab atau sejenisnya, justru membuat perempuan jadi menarik dan lawan jenis menjadi tertarik. Maka, tentu Hal itu bertentangan dengan tujuan menutupi aurat. TerKecuali berjilbab atau sejenisnya bertujuan untuk menutupi rambut dan muka, bukan aurat.

Sekarang saya balik tanya, "Apakah hanya perempuan yang di perintahkan untuk menutupi aurat ataukah Aurat itu hanya terdapat pada perempuan, lelaki tidak?. Jika lelaki juga memiliki aurat, Kapan ia menutupinya (hijab) sehingga tidak membuat lawan jenis menjadi tertarik dan bagian mana Batasan Aurat lelaki. Karena batasa Aurat perempuan sacara syariat, jelas (dari ujung rambut sampai Ujung Kaki), Lelaki dimana batasannya?". 

Terdiam..! 

Jadi, memang Diskriminasi terhadap perempuan itu terjadi sejak ia baru saja dilahirkan. Misalnya, Air kencing bayi perempuan yang hanya minum Air Susu Ibunya langsung dikategorikan najis 'Mutawassithah' (tengah-tengah). Sedangkan air kencing laki-laki yang juga hanya meminum ASI yang sama (Ibunya) dikategorikan Najis 'Mukhoffafah' (ringan). Andaikkan, perempuan banyak dilibatkan dalam penentuan dan Perumusan hukum Fiqih, rasanya keputusan Fiqihnya tidak begini sekali.

Jika Konsepsi teologis yang kita gunakan dalam Melihat Lelaki dan Perempuan, itu berbeda. Maka, Tuhan telah mendistorsi proses penciptaannya sendiri. Sedangkan Tuhan menekankan, lelaki dan perempuan, tidak boleh dibedakan, karena akan merusak sistem Alam semesta.

Kita perpendek, Misalnya, "bayi yang lahir adalah perempuan, perlukah di tutup auratnya atau tidak?" (Sebagaimana Aurat Syariat Yang di Maksud ; dari Ujung Rambut sampai Ujung Kaki). 

Tidak. 

"Sudah ada auratnya atau tidak?". 

Tidak ada. 

"Bayi perempuan Tersebut tumbuh menjadi 2 tahun, masih telanjang bulat. Menjadi 5 tahun, sudah mulai pakai celana, jika keluar rumah. Tumbuh sedikit demi sedikit sampai dewasa. Artinya, Aurat itu datangnya dari tidak ada. lalu, muncul perlahan-lahan sampai di penghujung usianya akan surut kembali ; ' Wal qowaidu minannisa'i la Ju na ha alaihim ay dho'na fi barni (perempuan yang sudah Tua, tidak ada dosa bagi mereka untuk melepas baju mereka)". 

Jadi, sesungguhnya Aurat itu soal Rangsangan atau birahi, dalam Terma Bilogisnya (Ketertarikan pada lawan Jenis). Makanya, perintah menutup aurat, menurutku tidak hanya menutupi Unsur-unsur Syariat (Dari rambut sampai Kaki). Sebab, yang lebih penting dari itu adalah Menekan metabolisme Biologis atau ketertarikan (daya Tarik), dalam Terma Filsafat di sebut "Nasut" pada sesuatu yang bukan Muhrim.

Menekan Nasut tidak hanya terdapat Pada Perempuan saja, dengan Simbolisasi memakai Jilbab dan sejenisnya secara syariat. Sebab, berapa banyak perempuan yang Memakai Jilbab Secara Syariat, tetapi Hakikatnya Telanjang Bulat. Begitupun dengan Lelaki, Penting untuk memakai Jilbab (bukan Jilbab secara Artifisial/syariat). Karena Aurat itu menyangkut Rangsangan atau ketertarikan pada lawan jenis yang bukan Mahrom. 

Hal itu sama dengan perempuan memakai pakaian yang full over. Tetapi, (maaf) buah dadanya kelihatan. Memakai jeans yang ketat, memakai sapu tangan dan jilbab ataukah dengan kata lain semua kulitnya tertutup. Apakah sah sholatnya atau tidak?. Sah. Sebab, sudah ditutup bagian-bagian yang menjadi syarat sholat. Tetapi, begitu perempuan tersebut menghadap saya, menjadi tidak etis. Karena saya bisa tertarik. 

Kalau terhadap manusia saja, hal itu menjadi tidak etis, bagaimana dengan Allah?. 

Artinya perintah Berhijab itu tidak hanya menutupi bagian-bagian yang menjadi syariat untuk tertutup. Hijab dan sejenisnya hanyalah metafora yang di sampaikkan Al Qur'an. Karena hakikatnya yang di perintahkan untuk ditutup adalah kemampuan kita menekan Potensi Nasut ataukah menekan ketertarikan (Ketertarikan, bisa Akal, Bisa Qolbu, bisa Metabolisme biologis) kita pada sesuatu yang Tidak Halal untuk kita pandang Terkecuali, jika kita telah menunaikkan Maharnya atasnya. 

Nah, memandang dan melihat itu beda. Melihat belum tentu memandang. Makanya perintahnya Tundukkan pandangan, bukan tundukkan penglihatan. Penglihatan adalah fungsi mata dan mata hanyalah salah satu dari Instrumen Pandangan. Sedangkan Pandangan, dalam Terma Filsafat disebut Akal. 

Terakhir, Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan beberapa bacaan tentang Bung Karno, ia pernah menulis dalam Koran "Pandji Islam" Pada tahun 1940, dengan judul "Islam Sontoloyo". dari judulnya saja sudah membuat sebagian umat Islam, Merah telinga, darah memuncak ke ubun-ubun dan nafas tidak beraturan. 

Tulisan si Bung itu menceritakan seorang guru mengaji yang melakukan tindakan Asusila atau memperdaya santriwati yang masih belia, Kehormatannya di lucuti. Menariknya sang Guru dalam menjalankan modusnya, ia menceritakan bahwa pernah bermimpi dengan Nabi. setiap habis sholat Maghrib sampai menjelang Subuh kepada santrinya diajar berdzikir. santri lelaki dan wanita dipisah, agar sang guru bisa mengajar karena bukan muhrim. Agar menjadi Mahromnya, maka santriwati tersebut dinikahi terlebih dahulu. 

Inilah yang membuat Si Bung marah dan geram dengan perilaku guru mengaji tersebut dengan memberi judul pada Tulisannya pada Koran Pandji Islam. menurutnya suatu perbuatan dosa dihalalkan menurut fiqih, Astagafirullah.

Maafkan Saya, karena Coretan ini Berserakan.

Makassar, 13 desember 2021


*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

KONTRAVERSI CERAMAH USTADZAH YANG CANTIK DAN PINTAR : CITIZEN JOURNALISME

 



Pagi Tadi, seorang kawan mengirimkan berita tentang pandangan seorang ustadzah mengenai KDRT (yang) bisa dimaklumi. KDRT itu (juga) dianggap sebagai aib suami. Tugas istri, melindungi aib suaminya. 

Sang Ustadzah sebenarnya menceritakan kembali sebuah Kisah, yang pernah di sampaikkan oleh seorang Ustadz. Kira-kira seperti ini ceramahnya ; 

"Ada sebuah kisah nyata di Jeddah, suami istri lagi bertengkar. Suaminya marah luar biasa pada sang istri. Lalu dipukullah wajah istri dan nangis. Tiba- tiba bel rumah berbunyi, ternyata ibu sang istri datang. Suaminya dari kejauhan deg-degaan, takut sang istri mengadu”. 

Dalam video berdurasi 1 menit 47 detik itu Oki bercerita bahwa sang istri menutupi aib suaminya dari orang tuanya ketika ditanya alasannya menangis, "Aku kangen ibu dan ayah, eh taunya Ayah dan Ibu datang. Doaku dijawab, makanya aku Terharu dan menangis. Sebab itulah, suaminya luluh, sehingga semakin sayang dan cinta suami tersebut,” Tutur Ustadzah. 

Di akhir video Ustadzah memberikan kesimpulan tentang cerita yang diceritakannya. Melihat video tersebut, warga Twitter merasa geram akan pernyataan Ustadzah di akhir video.

Video itu, menurutku memuat 2 hal. Pertama, suami memukul istri. "Boleh' kata Ustadzah dan kedua, Si istri berbohong atas nama menutupi aib suami. "Harus dan terpuji" kata Ustadzah.

Ihwal itu menunjukkan bahwa Kajian Ustadzah tidak mendalam dan hasil yang di hadirkan sangat premature. Sebab, hanya melihat dari satu sudut pandang pasti menghasilkan biasan-biasan. 

"Bagaimana menurutmu, ais ?".

Pertama, Saya tak mendengar ceramahnya secara utuh. Mungkin ada keterangan-keterangan tambahan dari si Ustadzah (latar, motivasi, konteks dan sejenisnya) sehingga beliau berpendapat demikian. Untuk mengambil sebuah kesimpulan, seharusnya kita mendengar secara utuh, ceramah dari ustadzah cantik dan pintar ini.

Kedua, Sebelum Islam disyiarkan di tanah Arab, memukul, melukai, bahkan membunuh adalah hal yang biasa. Fakta sosial yang kerap terjadi di masa itu. Tak terkecuali memukul istri. Jenis kekerasannya pun bukan kaleng-kaleng. Memukul, melukai, mencederai yang sifatnya sangat merendahkan martabat seorang perempuan.

Kemudian Islam datang menetralisir keadaan. Jika terjadi masalah antara suami-istri, atau terjadi nusyuz (pembangkangan) dari pihak istri, Al-Quran menyerukan boleh memukul tapi taati rambu-rambunya ; "Pukulan yang tidak keras atau kejam dengan menghindari bagian wajah".  

Kira-kira seperti apa memukul yang tidak melukai itu?. misalnya, dengan mengibas-ngibas sapu tangan pada badan isteri.

Alkisah, ada seorang perempuan mengadu kepada Nabi, bahwa suaminya telah menamparnya. Menampar hingga menyisakan bekas di wajahnya. Kemudian Nabi reflek menjawab, "Balas tamparan suamimu".

Jawaban reflek Nabi menandakan bahwa, sejatinya Nabi tidak suka dan marah terhadap yang dilakukan sang suami. Akan tetapi Allah lansung menegur Nabi dengan menurunkan QS: An-Nisa (4): 34, "Laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan".

Selayaknya pemimpin tugasnya adalah memberi perlindungan, rasa aman dan nyaman di lingkungan keluarga. 

Lalu muncul pertanyaan, dalam konteks sekarang apakah pemukulan suami terhadap isteri masih diperbolehkan?. Apa kita boleh menjadikan teks ayat di atas sebagai tumpuan memukul pasangan kita, jika terjadi cekcok?. Kita yang tinggal di Indonesia memiliki regulasi ketat yang mengatur penghapusan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).

Di Indonesia, domestic violence atau KDRT telah menjadi public violence. Melanggarnya, berarti harus siap melewati proses hukum. Sekian.

Ketiga, saya teringat dengan nasehat ayah saya. Saya masih ingat, waktu itu saya mau beranjak remaja, di suatu sore menjelang maghrib, sambil menatap mata saya, beliau berkata, “Nak, kamu laki-laki, ayah juga laki-laki. Kita bicara sebagai sesama laki-laki. Mari ayah ceritakan padamu hakikat laki-laki dan seorang suami itu !”.

Saya kemudian mendengar dengan penuh takzim. (saya bahasakan dalam versi saya).

Seorang suami itu, hakikatnya, tidak akan pernah memukul istrinya. Jangan sekali-kali, nak. Jangan. Tahukah kamu, bagi seorang perempuan, sebuah pukulan itu adalah refleksi dari penghinaan paling dalam. Luka dalam hatinya akan membekas dalam Dan kamu harus tahu, walaupun hubunganmu dengan istrimu kelak akan membaik. tapi, bekas “luka” pukulan itu akan terus membayang.

Sudah menjadi kodrat manusia seorang suami itu melindungi istrinya. Tidak harus jiwanya saja, tapi fisik juga demikian adanya. Walaupun kamu nanti kurus-kerempeng-ringkih. tetap, kamu berhak menjaga keselamatan istrimu. Sakit perih duka lara istrimu, itu juga laramu.

Seumpama syair Sutardji Calzoum Bahri, "tertusuk padamu, berdarah padaku!". (Ini tambahan dari saya πŸ˜˜πŸ˜€).

Sekali lagi, nak catat itu. Jangan pernah kau pukul istrimu. Apalagi dengan bangga kau katakan, “istri saya harus patuh dibawah kendali tangan saya. Bila melawan, tangan akan melayang pada fisik-raganya”. Jangan nak.

Bila itu kau lakukan, maka kamu sedang mempertontonkan kelemahan dan kerendahan moralmu sebagai seorang suami. Tidak ada istri yang bisa hidup nyaman dengan suami yang lemah dan berakhlak rendah. Tidak ada. Jangan biasakan gaya superior, tapi bukalah ruang dialog dengan seluruh kerendahhatianmu.

Bila kamu tak sanggup menahan emosi, mulailah belajar untuk mengalah dengan rasio-nalarmu. Tak hina bila kamu mengambil jarak, keluar dari rumah sebentar, lalu hirup napas dalam-dalam dan siapkan dua amunisi : MINTA MAAF dan PUJIAN. Tak salah bila kamu meminta maaf kepada istrimu, walaupun menurutmu istrimu itu salah, karena pada hakikatnya, kesalahan istrimu itu tersebabkan kamu tak mampu membentuknya dengan baik. Kamu pemimpin, jangan salahkan anggotamu. Biasakanlah minta maaf.

Selanjutnya, jangan pernah lupa untuk selalu memuji istrimu. Karena seorang istri itu membutuhkannya. Jangan pelit melakukannya. Puncak di atas semua itu, pelihara dengan baik keluargamu. Eksistensi kelelakian dan kesuamianmu mendapat “tempat” dan “pengakuan” pada keluargamu. Keberhasilanmu berkorelasi erat dengan kebahagiaan keluargamu. Kebahagiaan bukan terletak pada materi. Kebahagiaan itu seni, nak. Kau harus memberikan irama dan nota-nota indah buat keluagamu. 

Keempat, saya ingin menarik benang merah dari konstruksi berpikir diatas. Tentang Teks dan Konteks ; Anak yang Kurang Ajar - IBU (LAGI) MENCIUM AYAH

Sore itu di hari libur, seorang Suami pulang dari sebuah acara. Sampai di rumah, badannya teramat letih. Di ruang tamu, mertua (laki-laki dan perempuan) sedang bercengkerama dengan cucu-cucu mereka. Singkat cerita, suami masuk ke kamar. Karena badannya terasa pegal, Suami minta sang Istri untuk mengurutnya.

Baju di buka. Istri mengambil posisi. Minyak urut pun diolesi di sekujur punggung suami. Sebelumnya, sang Istri mencium badan suaminya dan berkata, "mmmhhh, Kaccina (bau apek) !".

Kemudian pinggang pun dicubit. Suami menjerit kecil. Tertahan. Selanjutnya, proses urut mengurut pun berlangsung ; Pundak, punggung, pinggang. Turun naik berirama.

Beberapa saat kemudian, terdengar oleh Suami dan Istri, anaknya berteriak : "kakek. nenek, Ayah sama Ibu berdua-dua di kamar. Ibu mencium ayah. Ayah menjerit-jerit !".

Seketika, sang Istri - ibu si anak - menghambur ke luar kamar. Sedangkan Suami membenamkan kepala ke bantal. Takut terlepas tawa.

"Tidak ada, Ibu mencium ayah !. Ibu hanya mengurut ayahmu, nak !", kata si istri. Nampaknya sang Istri, malu pada ayah dan ibunya yang (mungkin) sedang tersenyum-senyum.

"Iyaaaa. Saya lihat tadi. Saya intip. Kamar kan tidak di kunci !", kata Sang Anak Membela diri.

Si Istri tak menjawab. Beberapa saat kemudian, ia masuk kembali ke kamar. Suami (kembali) dicubitnya. "Malu saya sama ayah dan Ibu. Ini gara-gara anak kita. Ia menyampaikan berita bohong. Tidak sama waktu kita kecil dulu. Tidak berani masuk kamar Ayah dan Ibu sebelum diizinkan !", kata Si Istri sambil menggerutu.

Suami hanya berkata, "bukan anak kita yang salah. Kitalah yang salah. Mengapa kamar tidur kita terbuka. Harusnya dikunci-lah. Ini bukan persoalan sopan santun. Anak sekecil itu mana tahu tentang itu. Apa yang dilihatnya, akan dikatakannya. Tidak mungkin ia cerna terlebih dahulu. Jangan bandingkan juga dengan masa dulu. Dulu, kamar ayah dan ibu kita adalah kamar terlarang. Sekarang, justru di kamar ini kita bercengkerama dengannya. Ia justru merasa ini adalah kamarnya. Kita hanya menumpang !".

"Sudah, urut punggung abangmu ini lagi !".

Si istri kembali mengambil posisi ; Pundak, punggung, pinggang. Turun naik berirama.

Sejurus kemudian, kembali si Istri mencium punggung saya dan berkata, "mmmmhh ....Kaccina (bauk apek). setelah di urut , pergi lah abang mandi !".

Beberapa detik kemudian, terdengar celetukan sang anak di depan pintu, "Iyaaaa kaaaaan, Ibu mencium ayah !".

Rupanya, si Istri lupa menutup pintu kamar. Tawa kami pun pecah !

Vocal pointnya adalah Bukan Sang anak yang salah. Sistem yang kita buat yang membuatnya menjadi seperti itu. Jangan samakan anak hari ini, dengan kita yang dulu.


*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

MESSIAH COMPLEX ; CITIZEN JOURNALISME




Para fans fanatik menyebutnya "dewa". Pencetak gol terbanyak Laliga musim 2020/2021. Membawa Barcelona juara CDR 2021. Topskorer dan pemain terbaik Copa Amerika 2021. Kendidat terkuat penerima ballon d'or 2021. 

Para fans radikal akan memuja-muji laiknya tuhan-tuhan kecil. Messiah komplex. Keyakinan akan Blaugrana di ujung tanduk tanpa juru selamat Messi.

Para fans intoleransi ini sebenarnya mendukung Messi atau Barcelona?.

Di mata mereka figuritas Messi lebih besar dari klub. Persis seperti pencinta CR7 yang semenjak berlabuh di Juventus. Para dodolopers pun ikut jadi parasit di sana. Pasalnya sering adu mulut dengan bapak-bapak juventini. 

Fans fundamental ini diduga kuat rela murtad dari Visca Barca. Dengan mengucap Allez paris, mereka akan dibaiat menjadi pengikut PSG. Tepatnya mendukung Messi di dalam skuad. ***

Pertanyaan yang sama untuk para buzzer pemerintah. Sebenarnya mereka mencintai Indonesia atau kekuasaan yang melingkar di sana?.

Seburuk-buruknya kebijakan yang dibuat. Akan dibelanya juga. Sebaik-baik oposisi dalam menasehati pemerintah. Akan dibulinya pula. 

Dodolopers, Messiah, dan Buzzer agaknya kongruen dalam membangun citra junjungannya.


- Makassar, 8 Agustus 2021 -

HARI BUKU DAN AKUMULASI KEKAYAAN ; CITIZEN JOURNALISME



Ustadz mansur, yang rupa-rupanya lebih doyan jadi taipan ketimbang ustaz tulen, berujar, antum tetap miskin, karena malas sedekah. Alangkah materialisnya Islam, bila berpikir sesempit kamar rumah petak yang selonjor pun setengah mati.

Salah ustadz CEO PayTren itu?. Tidak juga. Dia hanya comot bagian yang dia suka saja. Entah dia baca seutuhnya atau tidak buku tentang rezeki.

Bisa jadi, ustad Mansur tengah sibuk sehingga terlekas-lekas ceramah. Mempersiapkan IPO PayTren selaku Fintech pendatang baru di gelanggang pasar modal tanah air. Bila berhasil, kapitalisasi pasar PayTren Aset Manajemen (PAM), akan raup cuan sebanyak-banyaknya.

Sekarang saja, produk e-payment PAM memiliki nilai transaksi Rp.200 miliar dengan dana endapan Rp.40 miliar. Semoga ustadz Mansur kelak, bisa tajir melintir seperti Usman Bin Affan.

Salah satu khalifah tajir yang hingga tahun 2021 ini, finansial aset dan aset berwujud lainnya, dikelola badan wakaf, dan di kasih makan cuma-cuma seantero kaum dhuafa di Saudi tiap Jumat. Inilah kaya menurut Islam. Dimana, ada semangat kolektivisme dalam aset individu.

Bila ustadz Mansur sangatlah sibuk, ceramahnya jangan begitu juga. Kala saya baca-baca, ketemulah pengertian rezeki menurut Al Mazmur dalam Lisan Al ‘arab (terj), beliau mengurai, bahwa rezeki bisa dalam bentuk zhahirah atau tangible, pun batiniah atau intangible.

Dari dua perspektif Al Mazmur itu, tuan dan puan sudah bisa tebak apa maksudnya. Kendatipun begitu, saya ulangi saja apa-apa yang sudah ada dalam kepala tuan dan puan kepada khalayak.

Ya, rezeki itu bisa dalam bentuk tampak, seperti kelebihan fulus, rumah mewah, istri empat dan keempat-empatnya bohay tiada tanding. Singkatnya, semua aset yang berwujud terkecuali istri-bukan aset.

Rezeki juga bisa dalam bentuk ketenangan hati atau spiritualitas, banyak ilmu dan semua karunia yang tidak tampak. Meski tak punya yang, makan beras subsidi, tidur di rumah petak, tapi tidur pulas tiada beban suatu apa, karena memang sudah bebal dengan beban hidup bertubi-tubi.

Ketimbang kaya raya tapi bengek. Istri empat dan molek bukan main, tapi menguras dari hari ke hari. Bikin makan hati dan pembuluh dara makin tipis. Lebih jempol, manakala punya keduanya, kaya secara zahiriah dan batiniyah.

Toh sedekah bukan cuma berbentuk fulus. Senyum pun sedekah. Terkecuali senyum sembari merompes bibir dan mendilak. Lain perkara bila tanpa suatu apa, tiba-tiba senyum sendiri.

Di dua dimensi rezeki ini yang mungkin satunya tak ada dalam buku ustadz mansur. Bisa jadi unsur lainnya bisa dilewatkan begitu saja dari dalam buku. Lagi-lagi soal buku atau literasi.

Hari buku jatuh pada 23 April 2021. Teringatlah saya tentang reading performance index PISA Indonesia diantara middle up country yang ada di urutan paling bawah. Bahkan di _peer countries_ pun ada di bawah.

Skor RI 300-an. reading performance index perempuan Indonesia lebih tinggi, 383. Sementara pria skornya 358. Kalau soal ini butuh ruang sendiri untuk dibahas. Apa pasal, perempuan Indonesia performance membaca lebih jempolan ketimbang pria.

Dalam konstruksi sosial budaya Indonesia, rata-rata perempuan Indonesia terjebak dalam struktur _patriarch_ --bias pengarusutamaan gender. Itu berlangsung dalam institusi sosial terkecil—keluarga, hingga masyarakat luas.

Dalam kekangan struktur dan konstruksi sosial seperti ini, kesempatan pria Indonesia mestinya lebih luang ketimbang perempuan. Apakah karena terlalu luang itulah, pria Indonesia terkadang songong dan abai, sehingga diam-diam kaum perempuan menyalipnya dalam urusan reading performance? Wallahu’alam. Namanya juga dugaan.

Kendatipun begitu, reading performance Indonesia tetap berada paling bawah di middle up country. Sama bawahnya di peer countries. Pasal itu yang membikin tuan presiden meng-enounce, bahwa dia pun doyan membaca-buku komik Shin chan. Tokoh kartun yang lebih banyak durhakanya, ketimbang perihal baik pada ibundanya.

Terus terang, kalau kita lihat negara-negara maju dan kaya seperti di kawasan Amerika, Eropa terutama negara-negara di Semananjung Skandinavia, alangkah tingginya indeks literasi mereka.

Maka pertimbangkanlah apa-apa yang disebut Ehrenberg sebagai faktor human capital. Pendidikan dan performance literasi ada di dalamnya. Hal yang sama juga dibilang Robert Lucas dan Paul Romer dalam jajaran mazhab ekonomi baru, yang menempatkan teori pertumbuhan ekonomi pada human capital.


Tolong di cek, dari tahun ke tahun menurut WEF dalam global competitiveness index, Indonesia acap kali tertinggal. Itu amatlah berpengaruh ke struktur ekonomi Indonesia.

Sudah pasti ustadz Yusuf Mansur membaca, tapi cuma mencomot bagian yang dia suka. Setali tiga uang dengan tuan presiden yang doyan membaca-komik Sinchan. Meski telat menulis, HARI BUKU YANG JATUH PADA 23 APRIL, sangatlah penting.


*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran