" innahu lillahi wa innahu ilaihi rojiun", Kalimat itu sengaja di tambahi akhiran “hu”, oleh Cak Nun. karena bagi Cak Nun, ia memerlukan catatan setandas-tandasnya tentang kepergian hamba Allah yang amat sangat berjasa memproses pematangan hidup Cak Nun di usia remaja pada era 1970-an. Juga untuk mempersaksikan bahwa yang pulang kembali ke haribaan Allah Swt adalah insyaallah yang dulu demikian juga Allah menghadirkannya.
Sedemikian “fithriyah”nya Umbu bagi Cak Nun sehingga tidak seserpih pun, ia mengenal kecenderungan institusionalnya. Bahkan ketika seluruh seniman Indonesia menyebutnya “berprofesi” Penyair, Cak Nun sendiri tidak melihatnya demikian.
penyair kok profesi?. sedemikian sembrononya manusia modern dengan yang mereka sangka ilmu dalam jiwa mereka.
Umbu Landu tidak pernah menerbitkan satu buku kumpulan puisi. Andaikanpun kita mengakuinya sebagai penyair, semua tahu ia bukan penyair sebagaimana Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri atau Taufiq Ismail.
Narasi utama Umbu kepada Cak Nun dan ratusan muridnya di Yogya maupun di Bali adalah “Kehidupan Puisi”. Bukan “puisi kehidupan”, di mana kehidupan memuat nuansa-nuansa puisi. Melainkan kehidupan ini sendiri adalah puisi. Semua ciptaan Allah adalah puisi. Adalah poetika. Adalah inti keindahan. Bahkan seluruh isi Kitab Suci adalah puisi.
Apakah seseorang harus mengetahui, mengenali, mendalami, dan mengalami apa itu puisi, supaya ia merasakan bahwa ayat-ayat Allah adalah puisi? Itulah yang dirasukkan Umbu ke dalam jiwa Cak Nun.
Kehidupan ini sendiri adalah puisi. Agama justru adalah alat atau metode agar dilatihkan oleh hati dan jiwa manusia untuk mengenali “kehidupan puisi”. Apa yang tidak indah dari segala sesuatu mengenai Allah? Yang mana yang bukan puisi dari apa saja pun yang ditakdirkan, dilakukan, dikehendaki, diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya?.
Perempuan tua itu senantiasa bernama : "cinta, kasih, sayang". tiga patah kata purba. Diatas pundaknya setiap anak berdiri, menjangkau bintang-bintang dengan hati dan janjinya.
Ibunda tercinta : Umbu Landu Paranggi. Selamat jalan, Penyair Hebat. Guru dari Guruku : Cak Nun.
*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar