Mengenai Saya

Kamis, 16 Maret 2023

KONTRAVERSI CERAMAH USTADZAH YANG CANTIK DAN PINTAR : CITIZEN JOURNALISME

 



Pagi Tadi, seorang kawan mengirimkan berita tentang pandangan seorang ustadzah mengenai KDRT (yang) bisa dimaklumi. KDRT itu (juga) dianggap sebagai aib suami. Tugas istri, melindungi aib suaminya. 

Sang Ustadzah sebenarnya menceritakan kembali sebuah Kisah, yang pernah di sampaikkan oleh seorang Ustadz. Kira-kira seperti ini ceramahnya ; 

"Ada sebuah kisah nyata di Jeddah, suami istri lagi bertengkar. Suaminya marah luar biasa pada sang istri. Lalu dipukullah wajah istri dan nangis. Tiba- tiba bel rumah berbunyi, ternyata ibu sang istri datang. Suaminya dari kejauhan deg-degaan, takut sang istri mengadu”. 

Dalam video berdurasi 1 menit 47 detik itu Oki bercerita bahwa sang istri menutupi aib suaminya dari orang tuanya ketika ditanya alasannya menangis, "Aku kangen ibu dan ayah, eh taunya Ayah dan Ibu datang. Doaku dijawab, makanya aku Terharu dan menangis. Sebab itulah, suaminya luluh, sehingga semakin sayang dan cinta suami tersebut,” Tutur Ustadzah. 

Di akhir video Ustadzah memberikan kesimpulan tentang cerita yang diceritakannya. Melihat video tersebut, warga Twitter merasa geram akan pernyataan Ustadzah di akhir video.

Video itu, menurutku memuat 2 hal. Pertama, suami memukul istri. "Boleh' kata Ustadzah dan kedua, Si istri berbohong atas nama menutupi aib suami. "Harus dan terpuji" kata Ustadzah.

Ihwal itu menunjukkan bahwa Kajian Ustadzah tidak mendalam dan hasil yang di hadirkan sangat premature. Sebab, hanya melihat dari satu sudut pandang pasti menghasilkan biasan-biasan. 

"Bagaimana menurutmu, ais ?".

Pertama, Saya tak mendengar ceramahnya secara utuh. Mungkin ada keterangan-keterangan tambahan dari si Ustadzah (latar, motivasi, konteks dan sejenisnya) sehingga beliau berpendapat demikian. Untuk mengambil sebuah kesimpulan, seharusnya kita mendengar secara utuh, ceramah dari ustadzah cantik dan pintar ini.

Kedua, Sebelum Islam disyiarkan di tanah Arab, memukul, melukai, bahkan membunuh adalah hal yang biasa. Fakta sosial yang kerap terjadi di masa itu. Tak terkecuali memukul istri. Jenis kekerasannya pun bukan kaleng-kaleng. Memukul, melukai, mencederai yang sifatnya sangat merendahkan martabat seorang perempuan.

Kemudian Islam datang menetralisir keadaan. Jika terjadi masalah antara suami-istri, atau terjadi nusyuz (pembangkangan) dari pihak istri, Al-Quran menyerukan boleh memukul tapi taati rambu-rambunya ; "Pukulan yang tidak keras atau kejam dengan menghindari bagian wajah".  

Kira-kira seperti apa memukul yang tidak melukai itu?. misalnya, dengan mengibas-ngibas sapu tangan pada badan isteri.

Alkisah, ada seorang perempuan mengadu kepada Nabi, bahwa suaminya telah menamparnya. Menampar hingga menyisakan bekas di wajahnya. Kemudian Nabi reflek menjawab, "Balas tamparan suamimu".

Jawaban reflek Nabi menandakan bahwa, sejatinya Nabi tidak suka dan marah terhadap yang dilakukan sang suami. Akan tetapi Allah lansung menegur Nabi dengan menurunkan QS: An-Nisa (4): 34, "Laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan".

Selayaknya pemimpin tugasnya adalah memberi perlindungan, rasa aman dan nyaman di lingkungan keluarga. 

Lalu muncul pertanyaan, dalam konteks sekarang apakah pemukulan suami terhadap isteri masih diperbolehkan?. Apa kita boleh menjadikan teks ayat di atas sebagai tumpuan memukul pasangan kita, jika terjadi cekcok?. Kita yang tinggal di Indonesia memiliki regulasi ketat yang mengatur penghapusan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).

Di Indonesia, domestic violence atau KDRT telah menjadi public violence. Melanggarnya, berarti harus siap melewati proses hukum. Sekian.

Ketiga, saya teringat dengan nasehat ayah saya. Saya masih ingat, waktu itu saya mau beranjak remaja, di suatu sore menjelang maghrib, sambil menatap mata saya, beliau berkata, “Nak, kamu laki-laki, ayah juga laki-laki. Kita bicara sebagai sesama laki-laki. Mari ayah ceritakan padamu hakikat laki-laki dan seorang suami itu !”.

Saya kemudian mendengar dengan penuh takzim. (saya bahasakan dalam versi saya).

Seorang suami itu, hakikatnya, tidak akan pernah memukul istrinya. Jangan sekali-kali, nak. Jangan. Tahukah kamu, bagi seorang perempuan, sebuah pukulan itu adalah refleksi dari penghinaan paling dalam. Luka dalam hatinya akan membekas dalam Dan kamu harus tahu, walaupun hubunganmu dengan istrimu kelak akan membaik. tapi, bekas “luka” pukulan itu akan terus membayang.

Sudah menjadi kodrat manusia seorang suami itu melindungi istrinya. Tidak harus jiwanya saja, tapi fisik juga demikian adanya. Walaupun kamu nanti kurus-kerempeng-ringkih. tetap, kamu berhak menjaga keselamatan istrimu. Sakit perih duka lara istrimu, itu juga laramu.

Seumpama syair Sutardji Calzoum Bahri, "tertusuk padamu, berdarah padaku!". (Ini tambahan dari saya 😘😀).

Sekali lagi, nak catat itu. Jangan pernah kau pukul istrimu. Apalagi dengan bangga kau katakan, “istri saya harus patuh dibawah kendali tangan saya. Bila melawan, tangan akan melayang pada fisik-raganya”. Jangan nak.

Bila itu kau lakukan, maka kamu sedang mempertontonkan kelemahan dan kerendahan moralmu sebagai seorang suami. Tidak ada istri yang bisa hidup nyaman dengan suami yang lemah dan berakhlak rendah. Tidak ada. Jangan biasakan gaya superior, tapi bukalah ruang dialog dengan seluruh kerendahhatianmu.

Bila kamu tak sanggup menahan emosi, mulailah belajar untuk mengalah dengan rasio-nalarmu. Tak hina bila kamu mengambil jarak, keluar dari rumah sebentar, lalu hirup napas dalam-dalam dan siapkan dua amunisi : MINTA MAAF dan PUJIAN. Tak salah bila kamu meminta maaf kepada istrimu, walaupun menurutmu istrimu itu salah, karena pada hakikatnya, kesalahan istrimu itu tersebabkan kamu tak mampu membentuknya dengan baik. Kamu pemimpin, jangan salahkan anggotamu. Biasakanlah minta maaf.

Selanjutnya, jangan pernah lupa untuk selalu memuji istrimu. Karena seorang istri itu membutuhkannya. Jangan pelit melakukannya. Puncak di atas semua itu, pelihara dengan baik keluargamu. Eksistensi kelelakian dan kesuamianmu mendapat “tempat” dan “pengakuan” pada keluargamu. Keberhasilanmu berkorelasi erat dengan kebahagiaan keluargamu. Kebahagiaan bukan terletak pada materi. Kebahagiaan itu seni, nak. Kau harus memberikan irama dan nota-nota indah buat keluagamu. 

Keempat, saya ingin menarik benang merah dari konstruksi berpikir diatas. Tentang Teks dan Konteks ; Anak yang Kurang Ajar - IBU (LAGI) MENCIUM AYAH

Sore itu di hari libur, seorang Suami pulang dari sebuah acara. Sampai di rumah, badannya teramat letih. Di ruang tamu, mertua (laki-laki dan perempuan) sedang bercengkerama dengan cucu-cucu mereka. Singkat cerita, suami masuk ke kamar. Karena badannya terasa pegal, Suami minta sang Istri untuk mengurutnya.

Baju di buka. Istri mengambil posisi. Minyak urut pun diolesi di sekujur punggung suami. Sebelumnya, sang Istri mencium badan suaminya dan berkata, "mmmhhh, Kaccina (bau apek) !".

Kemudian pinggang pun dicubit. Suami menjerit kecil. Tertahan. Selanjutnya, proses urut mengurut pun berlangsung ; Pundak, punggung, pinggang. Turun naik berirama.

Beberapa saat kemudian, terdengar oleh Suami dan Istri, anaknya berteriak : "kakek. nenek, Ayah sama Ibu berdua-dua di kamar. Ibu mencium ayah. Ayah menjerit-jerit !".

Seketika, sang Istri - ibu si anak - menghambur ke luar kamar. Sedangkan Suami membenamkan kepala ke bantal. Takut terlepas tawa.

"Tidak ada, Ibu mencium ayah !. Ibu hanya mengurut ayahmu, nak !", kata si istri. Nampaknya sang Istri, malu pada ayah dan ibunya yang (mungkin) sedang tersenyum-senyum.

"Iyaaaa. Saya lihat tadi. Saya intip. Kamar kan tidak di kunci !", kata Sang Anak Membela diri.

Si Istri tak menjawab. Beberapa saat kemudian, ia masuk kembali ke kamar. Suami (kembali) dicubitnya. "Malu saya sama ayah dan Ibu. Ini gara-gara anak kita. Ia menyampaikan berita bohong. Tidak sama waktu kita kecil dulu. Tidak berani masuk kamar Ayah dan Ibu sebelum diizinkan !", kata Si Istri sambil menggerutu.

Suami hanya berkata, "bukan anak kita yang salah. Kitalah yang salah. Mengapa kamar tidur kita terbuka. Harusnya dikunci-lah. Ini bukan persoalan sopan santun. Anak sekecil itu mana tahu tentang itu. Apa yang dilihatnya, akan dikatakannya. Tidak mungkin ia cerna terlebih dahulu. Jangan bandingkan juga dengan masa dulu. Dulu, kamar ayah dan ibu kita adalah kamar terlarang. Sekarang, justru di kamar ini kita bercengkerama dengannya. Ia justru merasa ini adalah kamarnya. Kita hanya menumpang !".

"Sudah, urut punggung abangmu ini lagi !".

Si istri kembali mengambil posisi ; Pundak, punggung, pinggang. Turun naik berirama.

Sejurus kemudian, kembali si Istri mencium punggung saya dan berkata, "mmmmhh ....Kaccina (bauk apek). setelah di urut , pergi lah abang mandi !".

Beberapa detik kemudian, terdengar celetukan sang anak di depan pintu, "Iyaaaa kaaaaan, Ibu mencium ayah !".

Rupanya, si Istri lupa menutup pintu kamar. Tawa kami pun pecah !

Vocal pointnya adalah Bukan Sang anak yang salah. Sistem yang kita buat yang membuatnya menjadi seperti itu. Jangan samakan anak hari ini, dengan kita yang dulu.


*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar