Ada seorang Pria Tajir, Suatu Waktu dia menyewa perempuan (WTS) di salah satu Lokalisasi.
Singkat cerita, Setelah Bersenggama, Pria Tajir tertidur di tempat WTS tersebut. Subuhnya Si Pria kaget dan terbangun, karena Ia mendapati WTS yang barusan ia tiduri, sedang mengenakan mukenah dan melantunkan Ayat Al-Qur'an.
Si Pria kebingungan dan memperhatikan WTS tersebut dalam waktu yang lama. Terlintas di Pikirannya ; Ternyata WTS yang barusan dia tiduri, Sangat Tartil melantukan Qur'an. Akhirnya si pria Ini bergegas menuju Kamar Mandi ; ia Mandi dan wudhu. Lalu, sembahyang.
Seusai Pria Tersebut Sembahyang. Ia bertanya pada Perempuan tersebut, "Mengapa sampai dia melacur?".
Ternyata, perempuan tersebut hendak membayar hutang bapaknya, yang kena rentenir. Semua sertifikat dan barang sudah jadi jaminan untuk membayar hutang bapaknya. Artinya, perempuan tersebut melacur untuk membayar hutang bapaknya.
Mendengar cerita itu, si pria tergerak hatinya untuk membayarkan Hutang si pelacur dan membawanya keluar dari Lokalisasi tersebut.
Kisah ini, Kisah Nyata. Perempuan itu sekarang berada di salah satu pesantren di Jombang.
Pertanyaannya adalah "Apakah Perbuatan melacur pada konteks cerita diatas adalah Perbuatan baik (benar) atau Perbuatan buruk (salah)?".
(Pikirkan baik-baik terlebih dahulu sebelum Menjawab).
Saya cuman mau bilang bahwa Kehidupan ini niscaya sistemik di uraikkan. Hal diatasi adalah contoh kecil, dari banyaknya Fakta Empirik, yang tidak pernah kita ketahui ; Apa latar dan Motif sesuatu?. Tetapi, kita dengan gegabah menghukumi sesuatu, akibat pemahaman kita yang terpenggal tentang kehidupan seseorang.
Hidup itu tidak bisa kita tebas (penggal atau Potong). Hidup itu irama. dia mengalir. Ilmu-ilmu modern yang kerap kita dapatkan telah membuat kekacuan di Akal budi kita.
***
Ibnu mas’ud, demikian kata Ibnu Al-jazari. pernah diTanya muridnya, "Guru kenapa engkau tidak banyak berpuasa?". Ibnu Mas’ud menjawab, "jika aku banyak berpuasa. maka, badanku akan lemah dan aku tidak kuat membaca al-Qur’an. sementara membaca Al qur’an lebih aku sukai ketimbang memperbanyak puasa". Apa vocal point dari percakapan yang kita ambil, bahwa kebaikan dan berbuat baik itu banyak jenisnya. Tapi, skala prioritasnya, bisa jadi setiap orang berbeda.
Ada tiga hal penting, yang mestinya kita ketengahkan dalam hidup. Yakni, Kebenaran, kebaikan dan keindahan. Sekarang kita lihat dan saksikan, perdebatan dan silang sengkarut dimana saja adalah tentang kebenaran. Jarang sekali orang memperdebatkan dan mepertengkarkan kebaikan, apalagi keindahan. Jika demikian, Hasil yang kita peroleh dari perdebatan dan pertengkaran itu apa?. indah atau buruk?. Maka, dengan jujur kita akan jawab, pasti buruk. Mengapa?. karena, orang sekarang ini, sok benar.
Misalnya, Kita masak sayur kangkung. Unsur utama atau bumbu dari pembuatan sayur kangkung, agar baik dan enak dimakan, itu apa saja?. Tarulah ; Garam, piccing, lombok, minyak, bawang putih, bawang merah, dsb.
Saat kita ke warung makan atau diatas meja makan, Apakah unsur-unsur pengolahan sayur kangkung, seperti bumbu-bumbunya, disebutkan atau disuguhkan sebagai daftar menu dimeja makan?. pasti tidak disebutkan. Karena, kebenaran sayur kangkung itu letaknya didapur, bukan dimeja makan atau di menu sebuah warung. Artinya, sesuatu yang letaknya didapur. Jangan dibawa-bawa ke warung atau dibicarakan diatas meja makan.
Jika kita benar, itu bekal kita. Bukan ekspresi kita. Kebaikan adalah ekspresi kita. Dimana-mana, sekarang ini, orang mepertengkarkan kebenaran. Padahal, Kebenaran itu urusannya didapur. Jadi, pada dasarnya orang-orang, sedsng mempertengkarkan dapurnya. Sehingga Sampailah kita, pada suatu keadaan sejarah, dimana orang benar bermusuhan dengan orang benar. Orang yang mempertahankan kebenarannya, berbenturan dengan orang yang juga mempertahankan kebenarannya. Orang yang dimaksud, bisa kelompok. Bisa parpol, bisa front, bisa apapun. Hal ini, kita harus cari tau, mengapa sehingga kebenaran mempertengkarkan manusia?.
Ihwal inilah, menurutku (mungkin saya salah), bahwa semua yang terjadi belakangan ini, dibangsa kita, karena kita membawa keluar kebenaran diluar diri kita. Padahal, begitu kita membawa keluar sesuatu dari diri kita. Maka, sejatinya bukan lagi kebenaran. Tetapi, yang kita bawa keluar adalah kebaikan, keindahan, kebijaksanaan, kemuliaan, kearifan. Ibarat sebuah warung diatas, bahwa kebenaran itu letaknya didapur. sekarang ini, dapur-dapur warung dijadikan dispaly utama dan masing-masing merasa benar.
Kita tidak akan pernah selesai dengan pertengkaran, permusahan, Kebencian, dendam. jika kita saling menyombongkan kebenaran kita masing-masing. Kalau kita pakai teori universalnya - Ada benarnya sendiri (kebenaran subjektif / kelompok). Ada benarnya orang banyak. Ini kita elaborasi, sampai akhirnya, katakanlah kita bertemu dengan demokrasi, ketemu kesepakatan Nasional. Tetapi, benarnya orang banyak. Tidak sama dengan benar yang sejati. Benar yang sejati ini, sesuatu yang bersifat cakrawala, yang niscaya ditempuh secara terus menerus. Yang barangkali, nanti ada hubungannya dengan Allah. Apalagi Allah sendiri menyatakan bahwa, "kebenaran itu datangnya dariku. Manusia hanya dapat cipratannya dan menafsirkannya".
Dalam menafsirkan kebenaran ini, kita harus berhati-hati. Sebab, saya menafsirkan kebenaran, berbeda dengan anda menafsirkan kebenaran Dan saya tidak akan mempertengkarkan tafsir saya dengan tafsir anda. Sebab, yang keluar dari diri saya adalah mencoba menggembirakan anda, membikin anda aman, nyaman. Tidak saya curi barang anda, tidak saya nista harga diri anda, dan tidak saya bunuh nyawa anda.
Olehnya, Yang pertama, memang kita harus benar dulu. Barulah Kebenaran itu, diolah menjadi kebaikan. dan hasilnya adalah keindahan. nah, Apa yang paling indah dari kehidupan, yang semua manusia alami?. Adalah Cinta.
Lantas, bagaimana kita bisa mengidentifikasi sebuah kebenaran?. Untuk, sebagaimana Riwayat diatas, saya menukilkan kembali, agar kita bisa menangkap saripatinya; Diperang jamal, Harist bin Hud mengatakan, "aku bingung, disatu sisi barisan berdiri Ummul Mukminin Aisyah, Zubair bin awwam dan thalhah bin ubaidillah. sementara disisi barisan yang lain berdiri Ali Bin abu Thalib dan putera-puteranya serta Amar Bin Yasir". Mereka berperang, lalu bagaimanakah kita mengenali kebenaran?.
Sayidina Ali Berkata, "cara berpikirmu terbalik. bila engkau melihat sahabat secara lahiriyah, maka engkau akan bingung menentukan mana benar dan mana salah. ketahuilah bahwa kebenaran dan kebatilan tidak dapat dikenali dari kepribadian orang. kenalilah kebenaran itu sendiri dengan begitu engkau akan mengenali orangnya dan kenalilah kebatilan hingga engkau mengenali orangnya".
Dari perang jamal kita dapat belajar bahwa jarak dapat menjadi penyebab, tidak utuhnya informasi yang sampai. Kita hanya akan dapat mengenali masalah secara utuh, mengetahui kebenarannya jika kita dekat dan mendekatinya. Itulah sebabnya, mengapa kita mengikuti Nabi Muhammad SAW, kenapa kita ikut islam, kenapa kita beragama. Karena, Kata Allah, "barang siapa yang mencintaiku, maka suruhlah mereka mengikuti jejak Muhammad". artinya, kita mengikuti jejak para Nabi itu karena Cinta kita kepada Allah.
Jika ada ustadz, Kiai, Ulama sekalipun dan orang-orang pintar dari manapun ia datang. Kalau yang mereka bawa justru membikin kita kehilangan cinta pada sesama orang-orang, membuat kita terpecah-pecah, membuat kita congkak. Membuat kita saling benci. Hal Itu adalah serendah-rendahnya manusia. Karena, manusia adalah orang yang membangun cinta didalam kehidupan.
Lantas bagaimana solusinya?. Ini pertanyaan yang agak berat. tetapi, paling tidak, sepertinya kita harus berhenti untuk menuding, membenci dan memusnahkan siapa yang salah. Karena, bagi yang kita tuduh bersalah. Bagi mereka, kitalah yang salah. Kalau boleh, mulai sekarang ini. Kita cari tau apa yang salah dan apa yang benar. Bukan siapa yang salah dan siapa yang benar?. Kita mempersoalkan nilainya, bukan mempersoalkan manusianya. Jika sesama manusia dan sesama bangsa, maka kita wajib menerima semuanya.
Jika kita mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Justru yang terjadi akhirnya, bukan pembuktian terhadap kebenaran. Tetapi, yang terjadi adalah kalah dan menang secara kekuatan Dan kalah menang secara kekuatan itu, sebenarnya adalah tataran yang paling rendah dari peradaban ummat manusia. Sebab, manusia diciptakan bukan untuk kalah dan menang atas manusia. Kecuali, sepak bola, tinju, bulu tangkis, dsb. Itu memang untuk menang atau kalah dari orang lain. Tetapi, dalam hidup ini, kita tidak disuruh untuk mengalahkan orang. Sebab, sependek pengetahuanku, semua nilai ; baik agama atau yang pencaharian manusia. Hidup adalah mengalahkan diri sendiri.
Jadi, mohon maaf, semenjak saya tahu sedikit, saya ini tidak pernah mau ikut lagi kompetisi kalah dan menang ; baik itu pilpres, Pilgub, pilwalkot sampai pildes, atau apapun yang terkait dengan kalah dan menang. Karena saya sangat sibuk, berperang melawan diri saya sendiri. Agar, saya tidak terlalu kalah dengan diri saya sendiri. Itu pun tidak pernah selesai-selesai peperangan ini. Sehingga, saya tidak punya waktu untuk ikut kompetisi kalah dan menang. Sebab, saya tidak pernah tega menang lawan manusia dan saya juga tidak mau kalah dari manusia.
Itulah sebabnya, saya ingin hidup ditataran, dimana kita berlomba untuk saling mengamankan satu sama lain. Menyamankan satu sama lain. Kita berlomba untuk menyumbang kearifan, kebijaksanaan. Agar, output dari kita semua bisa puzzling dari keseimbangan bersama. Karena yang kita alami belakangan ini, dibangsa indonesia adalah ketidakseimbangan yang hampir kompherensif ; Cara berpikir kita tidak seimbang. Cinta kita tidak seimbang. Hubungan antara Hati dan pikiran kita tidak seimbang. Hubungan antara individu dengan masyarakat tidak seimbang. Hubungan antara kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain terdapat ketidak seimbangan. Hubungan antara rakyat dan pemerintah penuh dengan ketidakseimbangan. Bahkan teknis perekonomian bangsa kita pun tidak seimbang.
Dari pada kita sama-sama memamerkan kesombongan kebenaran kita masing-masing. Lebih baik, kita bekerja sama-sama untuk mencari keseimbangan nasional.
Hampir 2 tahun lebih, saya melakoni puasa sunnah, bukan soal pahalanya. Tetapi, saya sadar bahwa gelombang Hasrat kapan saja bisa menggelincirkan. alhamdulillah, selain Sehat wal afiat dengan aktivitas, yang aslinya Kurang normal Dan masih bisa sedikit menang.
Bagaimana cara yang Pas menjaga keutuhan NKRI?.
Kalau kita Naik Bis. rasa kita mesti rasa bis. Bukan rasa kapal laut, atau rasa pesawat terbang. Sehingga cara berpikir dan cara berhitunganya, adalah cara berhitung bis. Terutama supirnya. Misal, mau belok diperempatan atau mau menyalip. Dia harus tau besarnya bis. Jadi, cara berpikir orang naik bis itu adalah cara berpikir bis.
Jika kita orang NKRI. Maka, sikap dan cara berpikir kita harus sikap dan cara berpikir NKRI. Bukan Cara Berpikir PDIP, Nasdem, Golkar, Hanura, HTI, FPI, PKS, Gerindra, NU, Muhammadiyah, Banser, Pemuda Muhammadiyah, Ansor, HMI, LMND, PMII, IMM atau apapun itu.
Kalau anda berkuasa, justru anda yang paling berkewajiban untuk berpikir NKRI. Bukan justru anda berpikir karir presidenmu, menterimu gubernurmu, walikotamu, bupatimu, atau ketuamu. Tetapi, berpikir untuk kepentingan utuh dan tunainya NKRI.
Yakin saja bahwa kita tidak bisa meneruskan jalannya negara ini, jika yang satu merasa dirinya malaikat dan menuduh yang lain adalah setan. Bukan hanya menuduh, karena, dia berkepentingan. Tetapi, dia yakin dia adalah malaikat dan yang lain di yakini itu setan.
*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar