Burdah mengandung arti jubah [mantel]. Disampaikan dalam tradisi Islam bahwa pengarang Kasidah Burdah - Al-Bushîrî (1213-1296 M) - bermimpi didatangi Nabi dan dihadiahi jubahnya (burdah, bahasa Arab untuk jubah/mantel). Sakit lumpuh Al-Bushîrî lenyap setelah ia terbangun dari mimpi terindah itu. Dikatakan bahwa Sang Nabi menghadiahi jubah istimewa tersebut karena terhibur oleh hadiah Al-Bushîrî berupa syair dan kasidah. Begitu yang tradisi ceritakan pada kita. Sebuah kisah asal-usul lahirnya Kasidah Burdah dalam proses cinta yang berbalas. Al-Bushîrî merindu Nabi, sebagaimana banyak dari kita juga, dan Nabi pun merindu mereka. Al-Bushîrî menghadiahi Nabi, sebagaimana kekasih akan memberi, dan Nabi pun membalas menghadiahi.
Burdah rangkaian Al-Bushîrî mutlak adalah sebuah karya sastra maha indah sepanjang masa. Isinya membahas cinta dan puja-puji untuk sosok sempurna yang bisa diteladani oleh semua orang: Muhammad saw. Namun, alih-alih dengan sebuah festival berisi warna-warni pujian yang menggelora ; Al-Bushîrî memilih membuka pintu Burdah dengan elegi, nyanyian meratap seorang yang tak bisa berjumpa kekasihnya. Burdah adalah elegi paling otentik yang pernah disuarakan seorang penyair besar Islam. Ekspresi dan ungkapannya sangat fundamental, menyentuh dasar kesadaran semua orang yang pernah merasakan dibakar oleh keinganan jumpa, namun tak kunjung mampu menjumpa kekasihnya.
**
Elegi Burdah merayakan air mata sebagai simbol dan alamat bagi cinta. Langkah yang Al-Bushîrî ambil untuk mewakili cinta dengan air mata, membuat makna-makna bait Burdah jadi menyentuh kesadaran awam kita, dan menjadi mudah untuk dicerna. Sekalipun simbol cinta biasanya disematkan pada hati, namun hati terlalu abstrak dan meluas, ia meliputi semua jenis perasaan yang bisa diciptakan oleh kesadaran manusia. Hati yang nirbatas membuat cinta tidak serta merta dipahami darinya. Maka, Al-Bushîrî pun memilih air mata; beserta dua bola matanya yang memerah, sebagai alamat bagi cinta. Sewaktu Anda jatuh dalam perasaan cinta, maka cinta itu otentik - alias jujur - tatkala air mata Anda menderai, karena tak kunjung juga berjumpa yang dicinta. Di situlah hebatnya Al-Bushîrî.
Di bawah ini adalah bait ketiga dan keempat dari Fasal Pembuka Burdah, yang berisi elegi dan perayaan air mata:
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ
"Ada apa dengan dua bola matamu, sudah dibilang berhenti menangis, tapi tetap saja ia mengalir ۞ Ada apa dengan hatimu, sudah kau bilang supaya terhibur, tapi tetap saja menderu."
أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ
"Apakah seorang Pencinta mengira bahwa Cinta itu bisa disembunyikan? ۞ Disembunyikan di antara deraian air mata dan deruan hati yang menggebu."
**
Al-Bushîrî ber-iltifât dalam bait-baitnya. Sebenarnya yang terus menderai air mata dan menderu dalam dada adalah ia sendiri. Namun melalui teknik iltifât ia mengalihkan suasana kalimat dari dirinya sendiri kepada diri kita, mukhâthab atau lawan bicara Al-Bushîrî. "Ada apa dengan dua bola matamu" tanya Al-Bushîrî pada kamu, pada saya, pada kita semua. Seolah ia percaya bahwa apabila Sang Pengarang Kasidah bisa merasakan rindu yang hebat, maka begitu pula pembacanya, kita yang awam.
Ada apa dengan dua bola mata ini, sudah diperintah supaya berhenti menangis, namun masih saja membiarkan airnya mengalir. Ada apa dengan hati di dada yang sesak ini, sudah disuruh supaya segera cari penghiburan, tapi tetap tak mau berhenti merindu -- Dua buah pertanyaan tersebut adalah retoris saja, bukan sebuah pertanyaan ujian untuk menebak benar atau salah. Sebuah pertanyaan retoris tidak butuh jawaban verbal, karena jawabannya sudah tertanam dalam kesadaran setiap individu yang menyadari kerinduan. Sudah pasti bahwa karena besarnya cinta dan hasrat ingin jumpa itulah maka dua bola mata ini tak bisa diam dan berhenti menangis.
Akhirnya, seorang Pencinta tak bisa mengelak bahwa ia memang sedang mengalami cinta. Dirinya diserang oleh kerinduan yang hebat, seringkali membuat sakit fisik bahkan bisa sampai kematian. Ajakan Al-Bushîrî dalam elegi pembuka Burdah adalah: Akuilah bahwa kita merindukannya, Muhammad yang mulia. Akui saja, dan berkata jujurlah bahwa andai bisa berjumpa ia sekali saja, sudah terpenuhi seluruh makna dan tujuan dari hidup dunia yang fana -- Apakah seorang Pencinta bisa pura-pura menyembunyikan Cintanya; Sembunyi di mana; Apakah di balik derai Air Mata; Atau di balik tirai Rindu di dada.
Bagi Al-Bushîrî tak ada satu benteng pun yang bisa menyembunyikan cinta yang jujur tersebut. Sewaktu Anda merasakannya, maka bukan lidah dan bibir Anda yang bergerak -- adalah air mata Anda yang akan berbicara bahwa Anda sedang merindukannya. Muhammad, Sang Nabi.
*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar