Mengenai Saya

Senin, 12 Desember 2022

TENANG DAN SABAR ITU TANGGUH

 

Kita begitu bergairah dan mengenang sejarah heroisme peperangan, tak begitu tertarik dengan ketangguhan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan, tentang hal ini, saya teringat dengan Buku "Pembuangan DIGOEL", karangan Takashi Shiraishi. Buku yang sungguh membawa kita pada Tamasya sejarah penuh horor, seumpama Gullag-nya Uni Soviet Era Joseph Stalin, sebagaimana yang pernah dinukilkan Alexander solzheintsyn dalam The Gullag Archipelag. Guru besar Universitas Tokyo, yang juga mengarang buku "Zaman bergerak" ini sangat mampu mendeskripsikan setting geografis digoel atau Tanah merah, dengan pencitraan yang menggetarkan. Takaishi shiraishi bukan Jostein Gardner yang membuat Fiksi-Filsafat dunia Sophie.

Buku pembuangan Digoel adalah buku kecil, namum ia mampu mendeskripsikan dengan baik-argumentatif berdasarkan kaidah-kaidah metodelogi ilmu sejarah tentang dataran terpencil diudik papua yang dibangun oleh Hindia Belanda, Oleh Gubernur Jendral De Greaf, pada awal 1927, sebagai tempat buangan tahanan politik, yang dikurung rimba dan paya-paya kaya nyamuk. Dunia terdekat yang bisa jangkau dari digoel kala itu hanyalah Tual, kota pelabuhan kecil diMaluku, yang membutuhkan 50 jam pelayaran dengan perahu motor.

Begitu seramnya Digoel, publik belanda menyebutnya tempat interniran ditanah jajahan itu sebagai kuburan. Sekali didgoelkan, orang seperti menandatangani kontrak kematian. "Persediaan makanan terbatas karena lokasinya sukar dicapai", begitu Wartawan Van Blenkenstein menulis setelah mendatangi sumber horor tak berkesudahan itu. "Kami menemukan satu pondok kecil beratap senk, tanpa dinding dijejali 14 orang", ujarnya. Dimana-mana terdapat genangan air, tak dapat disangkal, tempat itu merupakan neraka". Ternyata bukan cuman Van Blenkenstein, Hatta seorang Muslim taat yang berpendirian "diatas segala lapangan tanah air, aku hidup, aku gembira" itu menyebut Digoel sebagai Neraka Dunia. Tokoh yang tak pernah mengeluh itu memang tak merinci bagaimana kerasnya neraka itu. Ia hanya selalu berpesan pada teman-teman sepembuangan agar tetap waras, baik pikiran maupun perasaan agar tetap bertahan.

Sesunghnya Digoel tak tampak sebagai Kamp kerja paksa yang digerakkan oleh lecutan pecut atau letusan pistol. Tak ada penjaga yang menenteng senapan mesin. Tak ada anjing penjaga, juga lampu sorot. Bahkan pagar tembok pun tak ada. Jika ada kawat berduri, tempatnya bukan dikamp, tetapi ditangsi militer tempat para penjaga tinggal. Pagar itu bukan untuk mencegah tahanan melarikan diri, melainkan kata shiraishi, " untuk mencegah para tentara dari godaan para tahanan". Nampaknya, disitulah letak neraka Digoel : kebosanan, ketidaktahuan dan ketidakpastian. Didigoel pertanyaan serupa tak berjawab. Masa depan sama sekali gelap. Tak pernah tercatat dengan pasti, berapa banyak korban kubungan kebosanan ini. Kata Shiraishi, "banyak yang hancur mentalnya karena putus asa".

Yang bisa dilakukan hanyalah menjaga kesadaran agar tak gila, agar tak terbunuh oleh rasa bosan. Dalam 15 tahun Digoel, Tokoh Komunis Chalid Salim menceritakan bagaimana ia mencoba mempertahankan kewarasan dengan mencari-Cari Kesibukan. Adik Kandung Tokoh Pergerakan Agus salim, saban Hari berkutat dengan Hobinya berburu Nyamuk. Kesenangan ini menyita pikiran kerinduannya pada gagasan yang selalu semula menggedor hatinya : pulang Kampung.

Akhirnya Chalid, satu dari sedikit orang yang selamat dievakuasi dari Digoel, ketika Kamp itu ditutup karena serbuan Jepang tahun 1942. Hatta mencoba menghancurkan kebosanan dengan membaca saban sore, mengajarkan filsafat dan ilmu ekonomi dua kali sepekan, serta menulis kolom untuk surat kabar pemandangan sebulan sekali. Sjahrir, Raja pesta, yang periang itu, mengakalinya dengan gentayang keliling kamp, menyambangi rumah tahanan yang lain. Hatta memang menyiapkan dirinya 10 tahun hidup ditanah buangan itu. Tapi, untunglah setelah 10 bulan terbenam didigoel, keduannya dipindahkan ke tempat yang lebih layak, yang memang disiapkan untuk tokoh-tokoh intelektual (Tentang Chalid salim dan beberapa drama pelarian, pernah dinukilkan oleh sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer dalam esai sejarahnya "Pembuangan Digoel).

Zaman berganti, dunia pun berubah, begitupun dengan Tanah merah. Cerita tentang "gelap rimba", sudah jarang terdengar. "Digoel" nampaknya sudah mulai hilang dari layar sejarah. Tak ada penceritaan sistemis dalam kurikulum ilmu sejarah disegala tingkat sekolah belakangan ini. Padahal jika tak ada digoel, beberapa Tokoh Nasional mungkin tak setegar yang dinukilkan sejarah. Banyak Filosofi yang mestinya ditransfer ke generasi kita, bila bercermin dari digoel. Ada ketabahan, kekuatan memegang prinsip kebenaran sepahit apapun ia, dan satu lagi : idealisme tidak akan tercerabut sekalipun kebebasan dan potensi kemanusiaan dihilangkan. Palajaran sejarah, justru lebih banyak menghidangkan cerita peperangan. Jadi, tidaklah mengherankan banyak orang indonesia yang tidak mau sabar memegang prinsip dan lebih mengendepankan nilai-niali anarkisme dengan memperkosa idealisme.

NB ; Referensi - Takashi Shiraishi (1999), dan Pramoedya ananta Toer (2000).


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar