Mengenai Saya

Kamis, 15 Desember 2022

PENDIDIKAN DAN GURU ; DIALEKTIKA

Beberapa waktu lalu, Saya Baca berita tentang seorang Guru Honorer yang mengabdi 24 Tahun dan baru di tahun ke 24 ia menerima Upahnya, Ya Allah. Hal itu, mengingatkan saya pada salah satu Tulisan, 3 Tahun Lalu, tentang Guru Honorer.

3 tahun lalu, di tahun 2018. Kita lihat di monas sana, di bawah kaki Monas, di bawah tebalnya debu lalu lintas dan sengat udara malam yang dingin dan mencekuk. Para Guru Honorer itu tidur berempet-empetan dan menggelar sajadah di sekeliling Monas. 

Ada yang tidur, sambil kaki di tukik ke arah monas, ada yang tidur sambil ngangkang ke arah istana negara. Bantal juga beralaskan tangan sendiri. Para Guru Honorer itu tidur menghadap lapangan banteng, tempat dimana Sri Mulyani mengatur-atur Fisikal negara. Tempat dimana Sri Mulyani membikin kolom-kolom anggaran bersama anak Buahnya.

Para Guru Honorer itu tidur menengadah; harap ke langit. Ada juga tengkurap dengan kaki mengarah ke istana negara. Tempat dimana suata hari jokowi menikmati elektabilitasnya yang lagi meroket sebagai petahana. Juga tempat dimana Jokowi mengoret-ngoret nasib guru honorer yang blangsak dari tahun ke tahun, tidak karu-karuan. 

Saking banyaknya oretan, lupa temui Guru Honorer itu. Setidaknya datang, sebentar ; biar mengulang janji juga tidak apa-apa. 

Guru Honorer itu nasibnya tercecer di kaki Monas. Coba cek di kaki monas, ada sejarah di gelar, di pajang dalam etalase perjuangan para Founder pendidikan. Tentu, mau jadi apa bangsa ini, bila tanpa Sekolah dan Guru.

Apapun itu, kita ini sedang menuju suatu bentuk peradaban. Jepang pernah memungut para Guru yang tersisa, dari puing-puing Hirosima dan Ngasaki ; ledakan Bom Atom yang meluluh lantakkan Digdaya jepang di asia, lihat bagaimana jepang saat ini?.

Guru-Guru Honorer di kaki Monas itu, sepi dari pemberitaan. Jangan harap. sebab mayoritas media kita sibuk berpolitik. Mereka partisan. Apakah mereka satpam pengawal penguasa?. Jika tidak, mengapa sepi dalam pemberitaan.

Ideologi pers kini "Pasar", mereka pemburu "rente". Pengejar iklan. Media-media itu juga milik para cukong. Sudah pasti mereka cari aman. Sudah kabur yang namanya "Jurnalisme perjuangan". Jangan Harap.

Selain itu, Diberbagai kesempatan, diberbagai forum seminar, Kerabat saya dan kawan-kawannya, senantiasa disuguhi materi tentang "bagusnya" sistem pendidikan di Finlandia. Tentang banyak hal. Tapi, ada satu yang hampir tidak pernah disampaikan yaitu "cinta tanah air". 

Sekali lagi, Ini tentang Finlandia. Negeri berselimut salju yang terletak dikawasan Skandinavia sana. Negeri yang pernah dikunjungi diplomat dinasti Abbasiyah bernama Ahlan Muhammad Sahlan sebagaimana yang dikisahkan dalam film "the 13 the Centuries Warriors (dibintangi dengan teramat apik oleh aktor ganteng Antonio Banderas).  

Finlandia Dikenal dunia sebagai asal pembalap-pembalap otomotif terkenal didunia. Ada nama fenomenal seperti Mika Hakkinen, musuh abadi Michael Schumacher diajang formula 1. Finlandia juga mengingatkan kita dengan Marti Ahhtissari, tokoh kunci perdamaian Helsinki yang membuat Aceh, damai.   

Finlandia, senantiasa jadi buah bibir. Disebut-sebut memiliki sistem pendidikan terbaik didunia. Negara Finlandia, negara asal pembalap F1 Mika Hakkinen ini, dikenal sebagai negara paling OKE menata sistem pendidikannya. Dunia tidak lagi berkiblat pada Amerika Serikat, Jerman atau Jepang, tapi pada negara yang dekat dengan kutub utara tersebut. Dalam pengelolaan anggaran pendidikan, Finlandia mengaggarkan anggaran yang lebih besar pada pendidikan dasar. Ya, pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi mereka. 

Beberapa tahun lalu, Metro TV pernah menurunkan kisah tentang sistem pendidikan negeri ini. Desi Anwar host-nya. Ada penggalan dialog Desi Anwar dengan beberapa orang guru. Penggalan dialog yang menarik. Kala berkunjung ke sebuah Sekolah Dasar di Finlandia : 

"Apa yang menjadi fokus pendidikan di Sekolah Dasar Finlandia?", tanya Desi pada seorang guru. 

"Mencintai tanah air dan jiwa penuh dengan gelora kemandirian. Saya ingin mereka mencintai tanah air mereka". 

Dengan Presiden Finlandia, S. Ninnisto, Desi Anwar bertanya : 

"Apa yang menjadi fantasi Bapak terhadap rakyat Finlandia setelah Bapak tidak lagi menjadi Presiden Finlandia?".

"Saya ingin rakyat Finlandia menjadi rakyat yang ramah, menghargai perbedaan, memiliki kemandirian dalam kedamaian". Jawaban yang indah. Sangat indah.

Guru berasal dari bahasa Sangsakerta, "Gu" artinya Gelap. "Ru" artinya Menghilangkan. Jadi, Tugas Guru Membawa situasi dari gelap menuju terang. Kalau dalam Terma Al - Qur'am di sebut, "Minadzulumati Ilan Nur"

Sayangnya, hari ini tidak sedikit Guru menjadi Juru bicara dari Hoax dan Kegelapan. Padahal, Loyalitas Guru bukan terhadap pemerintah, melainkan terhadap ILMU PENGETAHUAN. Begitu dalilnya.

Saking pentingnya Ilmu, "Sofyan Shauri" mendaku, ada kata "Fa' lam annahu lailahaillahu". Di mulai kata Fa' lam. Bahkan setiap Nabi, status permanennya, hanya satu yaitu MENGAJAR (GURU), "Robbana wa baats fihim rosulan min inna su alaihim ayathik - membacakan ayat-ayat Allah dan "wa yu allimu humul kitab wal hikmah - mengajarkan kitab dan hikmah".

Tidak hanya itu, Allah sendiri mensifati dirinya dengan, " wa Sofa dzatal aliyah bi annahu al muallim", Allah mengajarkan, Arrohmanu allamal Qur'an.

**

Sekain itu juga, Beberapa tahun lalu, kita baca Tag line Hari Guru, "Guru adalah penggerak Indonesia Maju".  Indonesia maju adalah tag line presiden Jokowi. Tetapi, di beberapa Beranda medsos kita juga baca beberapa ciutan, tentang "Derita Guru". Bagaimana mungkin orang yang menderita bisa memajukan pendidikan?

Kita lanjutkan Paradigma tersebut, "Guru adalah penggerak Indonesia maju". Pertanyannya adalah siapa yang menggerakan Guru ; Apakah dengan ekonomi di bawah 5 % bisa menggerakkan Guru. Ironisnya guru-guru kita menaggung kegagalan ekonomi yang tidak bertumbuh. Jadi, memang ada kekacauan paradigma.

"Guru adalah penggerak indonesia maju". Indonesia maju adalah suksesnya Kementrian Parawisata, Kementrian ESDM, Kementrian Perdangangan, Kementrian Industri, Kementrian Pertanian dan Kementrian Lainnya. Artinya, Guru adalah penggerak kementrian-kementrian tersebut. Sehingga Kementrian pendidikan mestinya menjadi penyuplai Nutrisi kepada kementrian - kementrian lainnya.

Kita ini, mau menghormati Guru denga membohongi alam pikiran sendiri. Kita mau membayangkan masa depan, tetapi dengan Ide kolektif yang buruk. Kalau kita katakan apa yang menggerakkan Guru?. Tentu, ide tentang Indonesia maju. Kita tanya pada pemerintah, apa itu indonesia maju?. Tidak ada jawaban, kecuali mereka akan mencapai infrastruktur Statis. Lalu, Apa kaitannya Indonesia maju dengan Filosofi pendidikan?

Jika kita perhatikan di negara-negara Asia atau negara-negara maju. Mereka punya sistem seleksi yang sangat ketat, siapa yang menjadi Guru. Di korea, Yang menjadi Guru adalah mereka yang masuk Rangking 5 Terbaik se-Korea. Di Singapura, mereka yang masuk Rangking 3 terbaik. Di sini kita tidak pernah mendengar hal itu, bahkan kita mengesampingkan Variabel tersebut. padahal Korelasi antara Kualitas Guru dan Murid itu equivalen. Artinya, kita jangan hanya terfokus untuk memperhatikan Kualitas muridnya atau Kualitas kurikulumnya saja. Tetapi, kualitas Guru yang mengajar, tidak.

Pun Guru-guru yang berkualitas. Untung, kalau mereka mau menjadi Guru. Sebab, pasti mereka punya kawan yang juga berkualitas. Tetapi, enggan memilih profesi sebagai guru. Justru, Mereka akan lebih memilih menjadi bangkir atau CEO, dsb. Mengapa?. Karena, kita tidak menghargai profesi Guru. Kita hanya menghargai Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sekalipun hal itu juga sudah derogatif.

Apakah guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" itu adalah kemuliaan atau kutukan?. Sebab guru-guru kecil dengan gaji yang kecil, dengan jaminan yang ikut kecil, dengan baju seragam yang kekecilan, dengan sepeda motor yang juga kecil, agaknya masih banyak. ia seolah sesosok manusia yang dikutuk menjadi guru. Ia memang tak perlu tanda jasa, karena yang diperlukannya bukan jasa, tapi penghidupan dan kesejahteraan yang sewajarnya.

Padahal, Anggaran pendidikan kita menyerap sampai 20% APBN, pertanyaanya Anggaran tersebut di alirkan kedalam kurikulum apa?. Anggaran tersebut di investasikan kedalam ide apa?. Malayasia dan Vietnam juga melakukan hal yang sama. Bahkan dulu Mesir Menginvestasikan 50 %, separuh dari APBN mereka kedalam Kurikulum pendidikan dan Gagal. Artinya, bukan Nominalnya. Tetapi, ide apa yang mau di hidupkan dengan anggaran sebesar itu.

Selain Pedagogy of Hope dan Kontekstual yang Niscaya di subsidikan kedalam kemampuan Guru dan Dosen (Pengajar). mestinya Guru dan Dosen itu di berikan insentif habis-habisan. Sebab, kompetisi itu di mulai juga dengan insentif yang bermutu. Guru dan Dosen kita di indonesia, karena kekurangan Biaya, terpaksa nyambi untuk mencari tambahan Hidup. Maka, wajar Jioa Kualitas mengajarnya turun.

Kalau kita lihat High school di korea, yang lulus dari situ, di suruh mengambil SIT oleh Pemerintahnya. 99% yang mengambil SIT, pasti skornya Perfect. Padahal, untuk mendapatkan skor 98 saja, kabarnya sudah jungkir balik, saking kompetitifnya, apalagi sampai Perfect skornya. Bayangkan.

Sedangkan kita di sini, Kompetisi ketat hanya terjadi di dalam Parpol, bukan di insitusi keguruan. Luar biasa Ajaibnya. Padahal, Kalau kita baca sistem politik di negara-negara maju. Mereka yang masuk kedalam gelanggang politik, karena mereka punya Misi membangun bangsa. Bukan mereka yang hanya menawarkan Dogeng pengantar Tidur belaka.

Hal itu, bisa kita baca dalam geanologi Di awal - awal kemerdekaan bangsa kita. Pejuang  sekaligus seorang Guru - Jendral Sudirman, Soekarno, Sjahrir, Hatta, Natsir, Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, K.H. Ahmad dahlan  K.H. Hasyim Asy'ari, Dsb. Energi mereka di kuras untuk suatu "politik of Hope". Mereka membanyangkan perubahan kualitatif. Karena, mereka mengalami sendiri penderitaan di masa kolonial. Dendamnya, Mereka tumpahkan kedalam kurikulum. Makanya Insitusi pendidikan kita di awal kemerdekaan, di hasilkan oleh Dialektika intelektual yang kuat,  Yang nyaris tak  pernah kita temukan lagi sekarang.

Sama seperti sekarang, Jika kita tidak membaca Yuval Noah Harari kita dianggap tidak intelektual. Tapi, Kemudian kita menemukan, bahwa hanya itu saja yang di terjemahkan Gramedia. Padahal, ada banyak buku sejenis, bahkan yang bertentangan dalam upaya mendialektisir pikiran-pikiran Yuval.

Misalnya, dia baca Homo deus, tapi karena keterbatasan bahasa, sehingga dia tidak ikuti debat antara Yuval dengan seorang Artis top Tik tok. Nah, bagaimana Jika Menteri Nadiem Menerjemahkan juga dialektika Dari Yuval di forum internasional yang setiap minggu kita bisa ikuti debatnya. Itu sama halnya dengan siswa mau masuk Univeristas atau Mahasiswa S1 Mau masuk S2 masih di minta menghafalkan kosa kata Bahasa Inggrish. Apa sejak SD, SMP sampai SMA belum cukup. Bahkan parahnya Bahasa Indonesia juga diajarkan di Di semester awal. Kacau.

Berkenaan dengan itu, saya Teringat dengan nasihat orang-orang alim, "tanpa guru aku tidak mengenal Tuhanku", ternyata kata kata ini bagi saya ajaib terbukti. sekarang benar-benar sudah tanpa guru, di luar banyak anak-anak iblis yang mengajarkan saya dibunuh atau membunuh.

**



**

Ribuan teori tentang pendidikan terus tumbuh berkembang, silih berganti, atas nama adaptasi zaman (terkadang karena pertimbangan politik). Namum berbagai permasalahan sosial yang terjadi, sulit untuk di pecahkan. Makin lama manusia semakin banyak memiliki piranti lunak untuk menghragai manusia, namun tetap  kemanusiaan terus tergerus terus menerus, bahkan dalam bentuk yang lebih mengerikan di bandingkan masa nenek moyang ratusam tahun lalu. Manusia dianggap lebih beradab karena di tuntut untuk lebih demokratis, namum tetap saja mereka yang menganggap diri dan negaranya sebagai pionir demokrasi terus melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak demokratis.

Para pemuka agama yang di anggap secara fungsional mampu membawa misi kedamaian, tapi terkadang justru menjadi bagaian dari problematika kedamaiaan dan intoleransi di tengah2 masyarakat.

Akhirnya, benar apa yang di katakan oleh "John C Maxwell" bahwa "orang berubah bukan karena paksaan atau intimidasi. Melainkan oleh keteladanan

Jika dihitung, cukup lama kita menghabiskan waktu untuk duduk di bangku sekolah.

Tapi, ingatkah kita dengan Rumus Fisika Sentripetal?. berapa nomor atom Kalium?. siapa yang menemukan Pil Kina ?. tahun berapa Soekarno lahir, berapa jarak antara bulan dengan matahari?. mengapa air laut terasa asin dan seterusnya?.

Dalam teori psikologi pembelajaran, semua itu hanya menjadi short term memories.

Justru, yang long termnya, yang meaningfull (istilah psikolog pendidikan Ausubell). kita mungkin lebih ingat, siapa guru-guru kita yang pemarah, suka mencubit, siapa yang paling cantik diantara guru-guru perempuan dan seterusnya. Atau moment terindah "Bolos" dari ruang kelas, merokok sembunyi-sembunyi di belakang gedung sekolah atau kantin sekolah, menggoda murid perempuan dan peristiwa lannya.

Ketika bangsa Cina tenang, mereka membangun tembok cina yang sangat besar. Mereka berkeyakinan bahwa tidak ada yang sanggup menerobosnya. karena sangt tinggi sekali. Setelah 100 tahun tembok itu usai di bangun, Cina terlibat 3 kali peperangan besar. setiap kali peperangan, pasukan musuh tidak menghancurkan atau memanjat tembok itu melainkan menyogok penjaga gerbang tembok.

Cina di zaman itu terlali sibuk membangun tembok (Infrastruktur). Tetapi, abai dalam menciptakan Sumber daya manusia.

Membangun manusia seharusnya di lakukan sebelum membangun apapun. Ada persepsi yang mengatakan. jika, ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa yakni : pertama, hancurkan tatanan keluarga. Dengan mengikis peranan ibu agar sibuk dengan dunia luar. Sehingga menyerahkan urusan rumah tangga pada pembantu. para ibu lebih bangga menjadi Wanita karir ketimbang jadi IRT dengan dalil Hak asasi dan emansipasi. Dua, Hacurkan pendidikan. 

Pendidikan bisa di hancurkan dengan mengabaikan peran guru, kurangi penghargaan pada mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai kesibukan administratif. dengan tujuan materi semata. tetapi, alfa pada fungsi utama pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya. Dan Tiga, Hancurkan Keteladanan Tokoh dan Rohaniwan. Dengan melibatkan mereka pada politik praktis dengan orientasi jabatan dan harta semata. hingga tidak ada lagi yang memiliki integritas dan kredibilitas yang terpercaya atas perkataan apalagi perbuatannya.

Apabila peran Ibu Di rumah sudah hilang. para guru yang ikhlas lenyap dan tokoh panutan dan Rohaniawan sirna. Maka, siapa lagi yang mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?. Itulah awal kehancuran peradaban sebuah bangsa sekalipun di bungkus dengan pakaian Mewah, bangunan fisik yang megah dan di bawah dengan kendaraan yang canggih.

Semua tidak akan berarti apa-apa. Rapuh dan kropos tanpa jiwa yang tangguh.

GURU..!. Pada atau karena diri mereka-lah (sebenarnya), kita belajar tentang kehidupan ini merupakan lautan "possibilities". Mereka juga yang mengajarkan agar kita tidak menyerah dengan jalan buntu kehidupan.

Selamat Guru-Guruku, Engkau adalah mata air, berkatmu, aku tau meniti alif ba ta. dan Ibuku Engkau adalah guru pertamaku. 


*Pustaka Hayat
*Rst
*NalarPinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar