ISLAM BERKEMAJUAN ; BANGKIT DARI KEMUNDURAN
Pada tahun 2015 terjadi dua Muktamar mahapenting : (1) Muktamar Islam Nusantara milik Nahdlatul Ulama, (2) Muktamar Islam Berkemajuan milik Muhammadiyah. Akan tetapi, konsep “Islam Berkemajuan” bukan baru muncul waktu itu. Sejak Muktamar 2010, Muhammadiyah telah mengambil keputusan menggunakan konsep ini kembali. Namun, pada 2015 itulah terasa bagai momen kelahiran sebenarnya baik bagi Islam Berkemajuan (IB) maupun Islam Nusantara (IN).
Bersenjatakan dua gagasan tersebut, di hadapan wajah dunia global, Muhammadiyah dan NU mendemonstrasikan suatu aktivitas Islam yang konstruktif. Kini, dunia global tidak bisa lagi menggeneralisir Islam sebagai agama konservatif, antikemajuan, atau cenderung merusak peradaban global. Saya pikir, pilihan yang diambil Muhammadiyah dan NU ini terlalu dinilai rendah. IB dan IN masih belum menetap di kesadaran kebanyakan Muslim Indonesia. Seiring berlalunya Muktamar, IB dan IN makin terbiasa dianggap slogan lima tahunan semata.
IB dan IN tidak meng-ideologi bagi muda-mudi Muslim di sini. Dibandingkan berkiblat pada IB dan IN, pengajian populer dan pengkajian serius kita lebih berbinar sewaktu mendengar ideologi khilafah Al-Nabhani, ideologi politik Al-Maududi, ideologi Islamis Sayyid Quthb, ideologi Islamization Al-Faruqi, ideologi perennialism Hossein Nasr, atau ideologi neomodernism Fazlur Rahman. Apa arti dari ini semua? Semua ini menunjukkan bahwa tesis para pemikir Islam kita di tahun 1980-an yang lalu masih berlaku. Mereka ber-hujjah bahwa peradaban dan pemikiran Islam asli Indonesia masih berada dalam kondisi peripheral, pinggiran.
Menggunakan sedikit perspektif ekonomi modern, wilayah Muslim di Nusantara adalah pasar yang potensial dan aktual, tempat didagangkannya - dan laku - segala macam komoditi gagasan, ideologi, dan budaya yang diproduksi oleh wilayah Muslim yang lebih sentral, seperti Arab, Mesir, Iran, Turki, India, bahkan Eropa-Amerika. Surga bagi segala gagasan transnasional, namun suram untuk gagasan anak bangsa sendiri.
DNA Muhammadiyah Salah satu sebab mengapa kita perlu menaruh rasa hormat - ta’zhim, bukan taqlid - kepada para mahaguru di Muhammadiyah dan NU adalah autentiknya kesadaran beragama mereka. Agama benar-benar dihayati oleh mereka sebagai jalan pulang kepada Tuhan. Itulah mengapa dalam menghadapi iklim sosio-politik pasca-Reformasi yang semakin menggila, para pemimpin dua civil society raksasa ini mengatur posisi layar dan kemudi agar insan-insan mereka tidak terseret arus “rebutan” kekuasaan. Pemimpin-pemimpin Muhammadiyah dan NU kukuh berpendirian untuk tetap pada khittah dan DNA asli mereka.
Bermula pada 1984 dan memuncak setelah era Reformasi, NU mulai sadar untuk “kembali ke khittah”. Khittah adalah setelan pabrik (default setting) NU. Menurut KH. Hasyim Asy’ari, khittah NU adalah organisasi perbaikan (jam’iyyat-ul-ishlah). Itu berarti politik dan kekuasaan bukan benar-benar domain NU. Sementara Muhammadiyah - saya memilih menggunakan kata DNA - juga tidak berdomain pada politik dan kekuasaan. DNA mereka ada pada semangat kemajuan. Kata KH. Ahmad Dahlan, tujuan Muhammadiyah adalah “memajukan agama bagi anggota-anggotanya.”
Sejak berdiri hingga sekarang, Muhammadiyah telah menjadi bagian penting dalam konstelasi besar dunia Islam era modern. Ia lahir di tengah ujian besar dunia Islam sedunia menghadapi kolonialisme Eropa. Kemudian ia turut menyeret bangsa Muslim Nusantara untuk bangkit dan keluar dari perbudakan dan kebodohan. Setelah merdekanya Indonesia, ia terus menunjukkan kontribusi besar sebagai kendaraan modernisasi dan reformasi Muslim yang melaju kencang.
Kita diajarkan dalam kelas-kelas kajian dan literatur-literatur bahwa bicara soal gerakan modernisasi Islam, maka nama Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh harus dikenang sebagai pemicu utamanya. Hanya saja, saya merasa aneh mengapa Kyai Dahlan tidak disejajarkan dengan mereka. Bicara secara objektif, yang namanya modernisasi betulan itu terkait erat dengan institusionalisasi ide dan pengorganisasiannya. Afghani dan Abduh jelas mewariskan banyak ide modern. Bahkan Kyai Dahlan salah satu pewarisnya. Namun, nama yang terakhir ini melampaui dua nama sebelumnya dalam fakta bahwa Muhammadiyah, hingga saat ini, menjadi institusi modernis Muslim terbesar dan teraktif di dunia.
Mengutip Prof. Mitsuo Nakamura dari Chiba University Jepang, pekerjaan - atau dalam istilah khas Muhammadiyah : amal usaha - institusi cetusan Kyai Dahlan ini tidak sembarangan. Untuk konteks dunia Islam yang masih berstatus membangun (developing), kerja Muhammadiyah bagaikan urat nadi yang mengalirkan darah untuk menjamin kehidupan masyarakat dunia ketiga di Indonesia. Kata Prof. Nakamura (2012): “Selama seratus tahun [lebih] keberadaannya, Muhammadiyah telah memberi kontribusi amat besar bagi Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, filantropi, dan kesejahteraan sosial.
Kontribusi ini tidak terbatas untuk masyarakat Muslim, namun juga untuk yang bukan Muslim. Di Papua dan Nusa Tenggara Timur kita melihat sendiri sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah.” 2021 dikenang sebagai tahun gelap bagi semua negara di bumi ini. Ekonomi rasanya ambruk. Tak kuasa berkompromi dengan kewajiban isolasi karena adanya ancaman Covid-19. Namun tidak dengan Muhammadiyah. Justru unik, pada tahun gelap tersebut mereka meresmikan tiga lembaga pendidikan baru yang monumental : (1) Universitas Siber Muhammadiyah, (2) Universiti Muhammadiyah Malaysia, (3) Muhammadiyah College of Australia. Apabila ini semua bukan bukti the will to progress (kehendak berkemajuan) yang tertulis di DNA mereka, maka bukti apalagi yang Anda cari? Masa Depan Islam Berkemajuan Apabila Muhammadiyah sedemikian majunya untuk ukuran abad 21 ini, tidak sulit untuk mengatakan bahwa mereka mampu menjadi pusat Islam Berkemajuan dunia. Akan tetapi, tantangan antikemajuan justru lebih besar datang dari masyarakat Muhammadiyah itu sendiri.
Muhammadiyah selama ini bukan semata-mata berkarakter progresif, meski beberapa dekade belakangan progresivisme itulah yang lebih ditonjolkan oleh elite mereka. Jauh di kesadaran banyak warga Muhammadiyah, karakter utama yang mereka hayati adalah puritanisme, sebuah pintu ideal bagi konservatisme. Ada satu kerugian besar akibat tidak dihayatinya Kyai Dahlan sebagai seorang ideolog utama - bahkan satu-satunya - milik Muhammadiyah. Ajaran Islam Berkemajuan terjeda disistematisasi secara lengkap menjadi sebuah ideologi. Pada level Muktamar, elite Muhammadiyah memang sukses mengintrodusir identitas berkemajuan ini. Tapi itu identitas, semacam visi organisasi, bukan ideologi.
Kekosongan ideologi dalam Muhammadiyah, membuat ajaran progresivisme mereka tidak merembes ke segala lapisan warganya. Dan apa jadinya apabila warga tidak dibekali ideologi yang jelas? Jadinya adalah seperti yang dilihat oleh Prof. Nakamura, yaitu mudahnya infiltrasi puritanisme/konservatisme transnasional ke tubuh Muhammadiyah. Memperingati seabad Muhammadiyah pada tahun 2012, Prof. Nakamura benar-benar menyampaikan sebuah peringatan : “Peran Muhammadiyah pada beberapa dekade belakangan ini agak memudar. Secara eksternal, berbagai kelompok transnasional seperti Hizbut Tahrir Indonesia yang muncul pasca-tumbang-nya Orde Baru, mampu berkompetisi dan menandingi Muhammadiyah. Secara internal, berbagai infiltrasi, seperti dari Partai Keadilan Sejahtera, memengaruhi gerak langkah Muhammadiyah. Di tubuh organisasi sendiri terjadi konflik antara tiga kubu : kelompok salafi yang skripturalis dan konservatif, kelompok moderat yang memadukan puritanisme dan modernisme, dan kelompok liberal yang menilai Muhammadiyah terlalu kaku dan mengatur keimanan individu.”
Muhammadiyah jelas tidak memiliki garis tegas ideologi pergerakan. Unsur-unsur utama dalam Muhammadiyah seperti puritanisme, konservatisme, modernisme, dan progresivisme tidak [mungkin] berjalan beriringan. Melainkan berkompetisi, bahkan seringkali saling ingin menegasi. Kemenangan Islam Berkemajuan untuk saat ini adalah angin segar untuk sayap progresivisme Muhammadiyah. Namun, seperti sudah dibaca oleh Prof. Nakamura, sayap-sayap lain selalu menunggu kapan giliran mereka.
Di majalah Suara Muhammadiyah edisi Februari 2022, Prof. Ahmad Najib Burhani mengajukan harapan agar Islam Berkemajuan selangkah lagi lebih maju. Caranya dengan melampaui program rutin amal usaha selama ini, menuju pengembangan riset dan inovasi oleh insan-insan [elite] Muhammadiyah. Prof. Burhani bersyukur karena di era kepemimpinan Prof. Haedar Nashir, Islam Berkemajuan betul-betul diberdayakan. Namun, kita patut renungkan, andai bukan dipimpin oleh akademisi progresif seperti Prof. Haedar, atau andai sayap konservatif menguasai posisi penting Muhammadiyah, masihkah Islam Berkemajuan bisa berdaya? Agar Umat Bangkit dari Kemunduran? Dokumen Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua hasil Muktamar ke-46 tahun 2010 mengajukan definisi Islam Berkemajuan (IB) sebagai berikut: “Islam berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia. Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan misi anti perang, anti terorisme, anti kekerasan, anti penindasan, anti keterbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemunkaran yang menghancurkan kehidupan. Islam yang secara positif melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku, bangsa, ras, golongan, dan kebudayaan umat manusia di muka Bumi.”
Saya tidak tahu seberapa banyak warga Muhammadiyah yang sudah dibuat mengerti akan makna IB di atas. Yang jelas diketahui adalah IB baru dibunyikan sebagai sebuah deklarasi. IB belum dibentuk menjadi ideologi yang berakar kuat pada sistem epistemologi dan metodologi. IB tidak menjelaskan apa-apa mengenai akar masalah kemunduran di dalam Islam. Mengacu pada definisi/deklarasi di atas, IB merupakan reaksi atas menguatnya konservative secara global maupun lokal. IB memang tertulis menaruh perhatian pada keadilan, maslahat, kemakmuran, dan anti korupsi. Namun, tidak ada yang spesial dari itu semua. Tidak mesti jadi IB terlebih dahulu untuk peduli pada hal-hal baik. Deklarasi IB di atas amat sangat superfisial, hanya menyentuh permukaan yang bisa disentuh oleh hampir semua orang.
Muhammadiyah di Masa Awal Bicara soal metodologi, apakah IB punya jawaban bagaimana langkah-langkah berkemajuan/progresif itu dilakukan? Apakah progresivisme IB dilakukan melalui “kembali pada kitab dan sunnah”, atau kembali pada filsafat dan sains? Apabila jawabannya adalah yang kedua, apa argumentasi IB untuk itu? Dan, bagaimana IB bisa membuat argumentasi mereka merembes ke kesadaran semua warganya? Bukankah tantangan anti kemajuan terhadap IB justru lebih sering disuarakan oleh warganya yang berorientasi salafisme? Metodologi harus bersandar pada epistemologi. Bagaimana sistem pandangan-dunia IB? Hal apa dalam worldview dan epistemologi IB yang membuatnya disebut progresif? Apakah IB melihat nalar alamiah manusia dapat diandalkan untuk kemajuan? Kalau tidak, maka apa yang mendorong kemajuan menurut IB?
Jika nalar alamiah bukan sumber kemajuan, maka mengapa IB masih percaya pada kekuatan demokrasi, nation-state, sains, dan ekonomi modern? Mengenai akar epistemologis kemunduran dunia Islam, saya setuju dengan Prof. Ahmet T. Kuru yang menemukan bahwa hal tersebut terletak dalam epistemologi Islam yang kaku. Menurutnya (Kuru, 2019) : “Selama ini ulama telah mempertahankan epistemologi kaku, menghalangi gagasan baru, dan mendelegitimasi upaya kaum intelektual dalam menafsirkan ulang Islam. Epistemologi kaku ulama didasarkan pada Quran, hadis, ijma, dan qiyas. Kemudian ulama membatasi qiyas dan ijma seluruh masyarakat sebagai ijma para ulama saja.” Apakah selama ini Muhammadiyah dengan IB-nya - berada di luar dari apa yang Prof. Kuru katakan? Apakah IB telah melampaui epistemologi kaku tersebut? Saya rasa jawabannya jelas: tidak. Prof. Nakamura merasa cukup puas dengan IB sebagai sebuah identitas baru Muhammadiyah (Nakamura, 2012).
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan itu. IB harus lebih dari sebuah identitas. Pada pembukaan esai ini, saya telah menunjukkan bahwa IB yang digembar-gemborkan itu sebenarnya selalu berada dalam posisi peripheral (pinggiran). Alasannya sederhana. Sebab IB tidak pernah menjadi sistem pengetahuan dan ideologi yang jelas. IB adalah slogan elite Muhammadiyah saat ini. Sebagaimana nasib segala slogan, ia harus siap dilupakan sewaktu-waktu. Namun, apakah itu berarti bahwa IB gagal dan Muhammadiyah tidak mampu mewujudkan cita-cita Indonesia Berkemajuan? Tentu saja tidak. Tidak ada koneksi dan kausasi dalam hal-hal tersebut. IB bisa saja belum disistematisasi sedemikian rupa, namun toh yang membuat Muhammadiyah bergerak dalam amal usaha mereka selama ini bukan sistematika, ideologi, dan epistemologi IB. Seperti saya uraikan di muka, bicara soal aktivisme Muhammadiyah, kita tidak bisa melupakan DNA Muhammadiyah. DNA ini berkaitan erat dengan sosok Kyai Dahlan. DNA ini juga terus diseriusi oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama bertahun-tahun. Maka, apabila Muhammadiyah begitu aktif bergerak, itu adalah bawaan alamiah mereka. Namun, apakah gerakan itu benar-benar akan memajukan Indonesia dan Muslimin-Muslimatnya; kita perlu menunggu lebih sabar lagi.
***
Namun, secemerlang apa pun gagasan Islam Filsafat - nama yang saya buat sendiri - yang Averroes sodorkan, hal itu justru disalahpahami. Ia dikira menomorduakan agama, dan menomorsatukan Aristoteles. Dan seperti selalu dibuktikan lagi dan lagi oleh sejarah, salah paham ini disebarluaskan, dibumbui dengan berita palsu yang berlebihan, dan mereka yang menyebarkan dipuja sebagai pahlawan. Kondisi Islam Nusantara tidak begitu berbeda. Naluri negativitas banyak orang membuat mereka mudah terjebak untuk menyalahpahami gagasan ini. Penceramah dengan sejuta pengekor berbusa-busa mengecam Islam Nusantara. Umat polos yang banyak di antaranya doktor dan dokter, tertipu dengan semua retorika tukang pidato yang mereka frame sebagai ulama. Mereka mengirimi Anda berita palsu bahwa Islam Nusantara ber-tawaf dan ber-sa’i sambil melagukan Indonesia Raya. Belum lagi setelah mereka ingat bahwa NU tidak berdiri di barisan demonstrasi sejuta umat di Monas. Kini, di hati mereka telah bertambah satu lagi musuh agama setelah Syi’ah dan orientalis: itulah Islam Nusantara.
Mengenai definisi, saya mengutip Dr. Mujamil Qomar dari IAIN Tulungagung yang melihat Islam Nusantara sebagai “sebuah model pemikiran, pemahaman, dan implementasi ajaran-ajaran Islam yang dikemas melalui pertimbangan budaya dan tradisi yang telah berkembang di wilayah kepulauan Asia Tenggara” (Qomar, 2015). Tidak lebih daripada itu, Islam Nusantara hanyalah sebuah nama untuk ekspresi (ingat, ekspresi, bukan norma apalagi dogma!) berislam kita di wilayah kepulauan ini. Dengan segala ragam istiadat religiusnya seperti ziarah, Yasisanan, Slamatan, sholawatan ; hingga ragam intelektualisme religiusnya seperti Pancasila, hubbu-l-wathan, dan ekonomi kerakyatan. Untuk soal intelektualisme religius ini, saya mem-paraphrase pandangan Dr. Mohammad Hatta mengenai Islam dan budaya Indonesia, dalam buku Demokrasi Kita (1960). Mengapa Butuh Islam Nusantara? Pada Agustus 2015, NU menyelenggarakan Muktamar mereka yang ke-33 di kota Jombang. Untuk muktamar ini, mereka memilih tema : Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Peran ketua umum PBNU saat itu, KH. Said Agil Siradj sangat besar dan menentukan dalam prioritas tema ini. Sejak sebelum menjabat ketua hingga menjabat dua periode, Kiai Siradj terbilang begitu aktif menyuarakan Islam ala Nusantara sebagai anti thesis kebangkitan Islamisasi ala Timur Tengah di Indonesia pasca-Reformasi.
Apa bahaya paling laten dari sebuah hasrat Islamisasi yang konservatif ini? Terhadap Indonesia sebagai negara dan bangsa, bahaya itu tentu saja adalah hilangnya rasa percaya terhadap Pancasila sebagai nilai pertama yang harus dijunjung oleh setiap warga negara. Selanjutnya, hilang rasa percaya pada UUD 1945 sebagai konstitusi dalam mengatur setiap urusan warga negara. Sewaktu dua fondasi kenegaraan ini berhasil dilumpuhkan, tempat yang kosong lalu diisi oleh imajinasi tentang Islam sebagai ideologi menggantikan Pancasila. Khilafah sebagai format menggantikan nation-state, dan syariat sebagai konstitusi mengganti UUD 1945.
Pada 1975, dalam buku The Sociology of Corruption, Sayed Hussein Alatas mendemonstrasikan satu masalah fundamental yang menggerogoti kekayaan natural dan intelektual di Indonesia : budaya korupsi para pejabat. Kemiskinan yang melanda banyak sekali keluarga di negeri merah putih bukan terutama disebabkan oleh minimnya keterampilan, melainkan oleh tidak adilnya pemerataan hasil produksi negara. Namun, seberat-beratnya kondisi sosial dan ekonomi kita, membubarkan negara nasional ini tidak pernah dapat diterima sebagai solusi yang rasional. Pekerjaan rumah untuk menghabisi korupsi dan menciptakan keadilan sosial, terus menerus dilakukan oleh banyak insan Indonesia yang jujur dan berintegritas. Di luar lingkungan pejabat pemerintahan, PR ini dikerjakan pula oleh NU dan Muhammadiyah. Lebih dari itu, sebagai civil society mereka merambah pikiran-pikiran kita supaya tetap setia pada Pancasila, UUD, dan NKRI. Praktis, dalam soal mendidik dan menanamkan nasionalisme dalam dada Muslimin-Muslimat Indonesia, civil society ini lebih berperan daripada negara itu sendiri.
Dr. Mohammad Hatta (1960) mengatakan bahwa andai bukan berkat didikan para kiai di masjid dan surau kampung, tak akan sampai semangat nasionalisme, progresivisme, dan moderatisme ke masyarakat akar rumput. Melembaganya Islam Nusantara oleh NU pada 2015 itu merupakan sebuah wujud materialisasi nilai-nilai perjuangan Islam masyarakat Indonesia arus utama. Dalam kondisi kepala dan hati kita dihantui oleh narasi Islamisasi dari kelompok konservatif, siapa lagi yang bisa kita harap memberi kontra-narasi yang efektif jika bukan civil society sebesar NU dan Muhammadiyah. Lagi pula, saya menemukan satu hal unik : Islam Nusantara - dengan nilai perjuangan utama bernama moderatisme - yang melembaga pada 2015 oleh NU itu ternyata sudah disuarakan kebutuhannya pada 2013 oleh Ahmad Syafi’i Ma’arif, tokoh besar Muhammadiyah. Kata Buya Syafi’i (Nashir, 2013): Bangkitnya gerakan Islam yang mengusung revivalisme dan fundamentalisme politik saat ini adalah akibat tidak hadirnya kelompok Islam mainstream dalam kontestasi Islam sebagai ideologi melawan modernisme dan westernisasi. Dari kacamata politik global, gelombang liberalisme dan fundamentalisme Islam telah menempatkan arus moderasi Islam dalam posisi sulit. Gerakan Islam mainstream yang selama ini bertindak sebagai arus tengah dinilai gagal menegaskan identitas, posisi, dan orientasi perjuangannya di tengah kuatnya intervensi politik global, liberalisme, dan sekularisme.
Senada dengan kegelisahan Buya Syafi’i ini, Dr. Mujamil Qomar mengakui pula bahwa sebab-sebab efisien yang mendorong kelahiran gagasan Islam Nusantara adalah mengglobalnya konservatisme berbasis Islam. Selain korupsi dan borok lembaga kepolisian/peradilan, conservative turn - istilah yang dipopulerkan Prof. Martin van Bruinessen - juga merupakan PR besar bangsa ini. Maka, NU pun mengambil bagian penting sebagai satu benteng besar bagi Muslimin-Muslimat kita agar tidak terperosok berbelok menanggalkan moderatisme. Menurut Dr. Mohammad Hatta, moderatisme, komunalitas, dan rasa keadilan adalah karakter otentik Muslim Nusantara, yang sudah menyumbang kesatuan nasional bagi Indonesia.
Virus bernama “sempit-pikiran” yang menjangkiti banyak Muslimin-Muslimat taat di negeri ini bukanlah makhluk baru. Sudah sejak lama virus ini ada, dan lewat banyak media pengajian ia menggerogoti akal kita yang tadinya sehat. Setelah Reformasi 1998, virus “sempit-pikiran” makin membuas. Apabila dulu hanya diidap oleh individu, kini ia merasuki partai politik, organisasi masyarakat, sekolah, hingga universitas. Ironis sekali, universitas yang mestinya menjadi arena memupuk pikiran universal dan kebebasan ilmiah, malah penuh dengan lingkar-lingkar pengajian berisi virus “sempit-pikiran”. Apabila kita yang terjangkiti “sempit-pikiran” terlanjur salah paham mengenai Islam Nusantara - meski ia hakikatnya bukanlah paham-yang-salah. maka hal tersebut sudah diantisipasi sejak awal oleh NU dan setiap elemen moderat di negara ini.
Semaju-majunya Averroes saat itu dengan Islam Filsafat, tetap saja ia akhirnya dikucilkan dan kitab-kitabnya dibakar. Namun, alam punya caranya sendiri. Pikiran rasional Averroes tak dihargai oleh negerinya, namun dipanen besar-besaran oleh negeri tetangga : Barat-Latin. Islam Nusantara tak sampai dibegitukan memang - setidaknya untuk sekarang. sebab kaum moderat Islam di Indonesia juga semakin berani tampil untuk membela kedudukannya. Namun, mengenai soal kemungkinan berpindahnya energi besar dalam gagasan Islam Nusantara ke negara tetangga, hal tersebut sebaiknya dijadikan peringatan.
Pakar Islam in the Malay-Indonesian-world dari National University of Singapore, Azhar Ibrahim, sejak lama sudah melihat bahwa model keislaman yang moderat dan membudaya di Indonesia ini akan menjadi contoh yang ditiru oleh masyarakat Muslim lainnya di kawasan Asia Tenggara. Nah, untuk pemudi-pemuda NU dan Muhammadiyah, apabila kalian tidak serius mengawal Islam Nusantara kalian ini, barangkali sebagaimana Averroism bersinar justru di negeri Latin, bisa saja Islam-Nusantara-ism akan bersinar justru di negeri lain. Selebihnya, selain virus “sempit-pikiran”, tantangan lain bagi penggagas Islam Nusantara terletak dalam pembuktian yang berkelanjutan atas keinginan mereka untuk menghadirkan Islam Nusantara bagi peradaban Indonesia dan dunia.
Apabila mereka benar-benar mengerti arti “peradaban”, mereka pasti sadar bahwa racun paling mematikan bagi sebuah peradaban adalah mental dan kebiasaan korupsi dari pejabat maupun warga. Saya tidak sepesimis Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia mengenai hakikat diri kita. Munafik, malas, dan korupsi memang bisa saja muncul di hati kita dan kita pun tergoda olehnya. Tapi, bahwa begitulah watak asli kita, saya rasa tidak. Tentu tidak elok bila mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Islamnya orang-orang munafik, malas, dan tukang korupsi.
*Pustaka Hayat
*Rst
*Nalar Pinggiran

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar