Mengenai Saya

Kamis, 01 Desember 2022

SEPAK BOLA SEBAGAI LOCAL WISDOM, RASISME ALA LE PEN DAN CINTA TANAH AIR PENUH GELORA


Setelah meyaksikan filem legenda Brazil "Edison Arantes do Nascimento alias Dico alias Pele di Trans Tv. Pele, yang tiga kali berhasil membawa Brazil menjadi juara world cup.

Di situ pula brazil mengukuhkan karakter dan kultur persepakbolaannya dengan "jogo Bonito atau Gingga".

Mereka Brazil, tidak cuman tendang bola, tetapi menghibur. di lapangan itulah brazil ingin katakan, ini kultur sepak bola kami. Ada struktur Nilai di bentangkan di situ.

Secara cepat-cepat kita melihat, Jogo Bonito atau Gingga, hampir mirip-mirip dengan Tango (Argentina). cuman Jogo bonito mengandalkan ketangkasan tubuh, seluruh badannya bermain bola. mereka bak menari di lapangan bola, sementara tango mengandalkan kecepatan kaki.

Sosiologi Brazil "Gilberto frayre (1959) menulis, orang Brazil menari (samba) untuk menghilangkan beban pikiran. sebab, itu orang brazil bermain bola seperti menari". lepas dan menghibur. itu yang membuat saya kepingcut pada Brazil. Bukan pada belanda lagi. Padahal, saya mengidolakan belanda sejak dengar cerita-cerita kehebatan Rud Gullit, Marco Van Basten sampai era Van Nesteroy.

Saya selalu berpegang pada sesuatu yang memiliki Nilai dan strukturnya termasuk dalam sepak bola; harus filosofi, tidak sembarangan. mereka, negara-negara yang hebat dalam persepakbolaan, selalu punya itu.

Misalnya, Italia punya kultur sepak bola Catenaccio atau pertahanan grendel. mereka selalu bermain dengan pola menutup dan mengunci rapat-rapat pintu pertahanan, dan di saat lawan frustasi, mereka melakukan counter attack habis-habisaan.

Di inggris yang di kenal dengan Polda Kick and Rush. tendang dan serbu. pola ini mengandalkan kecepatan dan fisik. oleh sebab itu, mereka selalu menempatkan pemain-pemain tangguh di lini sayap.

Di belanda sana. mereka punya kultur permainan yang di kenal dengan Total Football. Filosofi penting dari Total Football ialah kolektivitas. semua penyerang adalah pemain bertahan dan semua pemain bertahan harus bisa menyerang.

Tiki taka yang di populerkan oleh Johan cruyff di tahun 1988-1996. gaya permainan dengan umpan-umpan pendek. melalui setiap saluran dengan tetap mempertahankan penguasaan bola dan akurasi.

Tak lebih dan tak kurang bahwa sepak bola telah menjadi tata nilai di masyarakat dunia, bahkan sebentar lagi menjadi ideologi. sebab itu, dalam hal-hal tertentu perlu ada diferensiasi nilai dan strukturnya yang filosofis dalam mengidolakan Tim kebanggaan.


**

Jika Wisdom Brazil, dalam sepak bola dengan Jogo Bonito dan Argentina dengan Tanggo. Wisdom indonesia dalam sepak bola itu apa?.

Di 12 kali Laga melawan Thailand di AFF (Dulu Piala Tiger, 1996-2004), sejak perhelatan itu di mulai tahun 1996. Indonesia cuman menang 3 kali dan kalah 9 kali. Laga Pertama Indonesia VS Thailand di perhelatan tersebut, Saat Indonesia Masih di perkuat Pemain Asal Timor-Timor, Miro Baldo Bento (Ex Pemain PSM), Kurniawan, Aji Santoso, dkk.

Waktu itu Indonesia Kalah, 3-2 dari Thailand untuk perebutan Juara Grup. akibat bunuh diri Bek Mursyid Efendi, yang di sambut dengan tepuk Tangan Pemain Indonesia Lainnya 😄.

Saat itu, Indonesia sengaja Kalah dari Thailand, agar menghindari Berhadapan dengan Vietnam di Semi Final.

Bertanding untuk Kalah adalah Rasionalisasi sepak Bola Gajah. Dalam Terma yang yang lebih beken di sebut Pengaturan Skor. Pihak yang mengendalikan ini adalah Bandar Judi Bola, yang bekerja dengan Elit Insitusi Sepak Bola.

Saya Pernah Baca Pengakuan Rochi Puturia, Putra Negeri Patimura (Ex Pemain PSM, Ex Pemain Jakarta Timur, Ex Pemain Arseto, Pemain Timnas juga), tentang Praktek culas terhadap pemain.

Saya Tidak sedang Ingin mengatakan, bahwa Petandingan Indonesia Vs Thailand, dengan Skor 4-0 telak semalam adalah pengaturan Skor. Tidak. Bukan itu subtansi postingan ini. Sekalipun Kemungkinan itu ada, sebab kita punya Akar historis seperti itu.

Saya cuman Mau bilang, Di 5 perhelatan Terkahir, Thailand Terus menang dari Garuda. Mungkin, karena mereka lebih bisa Mengukuhkan kearifan sepak bola Mereka diatas lapangan Hijau, sebagaimana Brazil dan Argentina. Tentu itu juga datang dari keberhasilan Insitusi Sepak bola mereka menerjemahkan sepak Bola sebagai sebuah Kearifan, sebagai sebuah Tata Nilai, sebagai sebuah Ibadah.

Indonesia adalah Gerbang Nilai-nilai di Dunia, kita punya wisdom yang negara lain tidak punya. Dunia mengukuhkan itu pada Indonesia. tetapi, naas. untuk memang dari Thailand saja Susah.

Lalu, mereka bertutur ; "Setiap Pertandingan harus ada yang kalah dan menang. Kalau tidak mau kalah, jangan bertanding".

Bagi saya, Argumen diatas adalah argumen Kepasrahan, yang kehabisan kosa kata untuk mengucapkan ; Mengapa Bisa Kalah?. Sehingga Lari kepada Determinisme. Jika kekalahan di ukur dengan standar Maksimal Ikhtiar Tim Yang kita Kalahkan Itu sama dengan Tidak apa-apa kalah dari Thailand, asal menang dari Malaysia. Artinya Ukuran Ikhtiar Kemenangan Indonesia adalah MENTOK di Malaysia.

Thailand memang bisa main sepak Bola, tetapi mestinya kita lebih baik dari mereka. Jika kita Jauh lebih buruk, pasti ada yang salah dari cara mengurusnya. Apa lagi, kekalahan ini bukan kekalahan pertama.

Motif utama pertandingan Sepak Bola itu untuk apa ; Untuk menang atau Untuk kalah?. Jika untuk menang, Gelontorkan saja APBN untuk menaturalisasi pemain terbaik di Dunia dan Jadikan sebagai Pemain Timnas. Kalau memang kemenangan yang hendak di capai.

Itulah sebabnya, saya sebutkan diatas, Kita sudah harus mendefenisikan Ulang Nilai (Kearifan / Local Wisdom) yang hendak kita sampaikkan diatas rumput hijau. Sebagaimana keberhasilan Brazil, Argentina, Jerman, Inggrish, Spanyol, dsb dalam menerjemahkan Kearifan sepak Bola mereka.

Kearifan atau Local Wisdom Orang Indonesia dalam bermain Bola itu apa?. Apa struktur Nilai Sepak Bola Indonesia. Yang selalipun kalah, Kita Tetap menang, karena kita mengukuhkan Garuda bukan Burung Perkutut diatas Lapangan.

Di titik itulah, berbahayanya Motif yang salah dalam semua Hal di hidup ini, termasuk diatas lapangan Hijau. 

Belum Di mulai perhelatan Final AFF Indonesia Vs Thailand, Reward dari Para Politisi yang Krisis Legitimasi sudah membanjiri beranda kita. Akibatnya Mempengaruhi mental dan Psikologi Pemain, untuk menang. Karena reward kemenangan bukan Untuk Nilai Intrinsik yang berapa pun banyaknya Harta dindunia ini, tidak bisa membelinya, yaitu Kearifan Manusia Indonesia. 


Nb ; Makassar, 9 Juli 2018 -

**

-RASISME-


" Nos encestres les gaulois etaientt blonds", demikian yang sering di sampaikkan politisi Jean Marie Le pen. Kira-kira artinya : " nenek moyang kita adalah bangsa Gaulis berambut pirang. 

Tahun 1996/1997, jelang pemilu di prancis, istilah ini sangat populer. 'Le pen' adalah seorang politisi. Sudah menjadi kelaziman seorang politisi membutuhkan isu-isu, yang dengan isu tersebut, mereka bisa mengkapitalisasi untuk kepentingan mereka sendiri. Seperti "Trump" yang menggoreng isu sejenis itu saat berhadapan dengan Hillary Clinton dalam kontestasi pilpres AS, maka sinisme terhadap Imigran adalah andalan Le pen. 

Dia menganggap imigran tersebut tidak memiliki Nasionalisme, tidak cinta tanah air. Termasuk sinisnya kepada para pemain prancis yang menyanyikan lagu kebangsaan prancis, tidak dari hati. Imigran bagi Le Pen adalah pangkal bala permasalahan sosial. Pokoknya, yang buruk-buruk ia nisbatkan pada warga negara prancis keturunan imigran tersebut. Le pen kalah. Ia kemudian menghilang selah prancis menggondol juara dunia tahun 1998 dan jura Euro tahun 2000. 


Dagangnya merugi. Semua ini karena kontribusi besar para pemain keturunan imigran. Seperti Zinedine zidane (Zainuddin Zaidan), pemain andalan prancis saat itu adalah keturunan imigran asal Aljazair. Lalu Si tembok tegar lilian Thuram dari Gaudeloupe, sebuah daerah di Karibia yang merupakan wilayah koloni Prancis. Lalu siapa yang tdk mengenal Marcel Desailly yang memiliki darah Ghana serta Patrick vieira keturunan Senegal. Lalu ada si Ganteng Trezeguet, Theiry Henry dll.  Dengan di pimpin oleh pelatih Aime Jacquet dan kapten Diedir Descamps, mereka membuat Prancis terbang tinggi dalam sepak bola dunia. 

Le pen, senyap..!

Lalu, tahun 2012-2014 yang lalu, le pen muncul lagi. " DNA" politiknya tidak berubah, masih seperti dulu. "Nos encestres les gaulois etaientt blonds". Tapi publik prancis tahu, Le pen hanyalah politisi yang sebenarnya tidak mencintai negarannya. Ia hanya memanfaatkan isu sensitif ini untuk kepentingan potiknya. Kepentingan instan, pendek. Parsial dan egoistik.

Di piala Dunia 2018  rusia yang lalu, kembali pemain Prancis keturunan imigran menunjukkan Nasionalisme mereka. Di bawah pelatih Didier Deschamps yang dulunya sukses membawa kawan-kawanya tahun 1998 dan 2000, kylian Mbappe pemain prancis keturunan kamerun dari ayahnya dan Ibunya dari aljazair, Bahu membahu bersama kawan-kawannya seperti Samuel Umititi, Presnel Kimbempe, Benjamin Mendy, Lucas Hernandez, N'golo Kante, Paul Pogba yang juga keturunan Imigran berhasil membawa Prancis Final Piala Dunia 2018. Tidak kecil kemungkinan mereka akan membuat Didier Deschamps, sang pelatih, kembali memegang trofi piala dunia di dua posisi yang berbeda (pemai-Kapten dan Pelatih) seperti yang pernah di alami oleh "Der Kaizer" Fransz Beckenbauer-Jerman. 


Lalu, Le pen?. Ia kalah kembali dalam kontestasi pilpres prancis beberapa Tahun lalu. Saya yakin le pen tidak akan muncul lagi. Sebab, jualannya tidak pernah laku-laku.

Perjalanan sejarah ummat manusia tidak pernah ramah terhadap orang Rasis. 

Dispora itu jika di terjemahkan secara liar, ia merujuk pada pemahaman penduduk dari etnik tertentu dengan penyebabnya tersendiri. mereka terusir dari tanah kelahiran mereka ke berbagai kawasan dunia dan lalu membangun diri sendiri dan budaya mereka. Dalam sejarah migrasi dunia, bangsa yahudi adalah yang di kenal mengalami dispora (586m), mereka di usir dari Judas oleh orang-orang babylonia dan tahun (136M) oleh kerajaan Roma. di tanah pengusiran mereka membangun diri dan budaya serta melakukan gerakan kembali ke tanah asal mereka yang di sebut dengan Zionisme. gerakan inilah yang berhasil melahirkan Israel yang kita kenal sekarang.

Etnik China dan Migrasi WNA yang berduyun-duyun masuk Zamrud khatuliatiwa (Indonesia) itu karena mereka terusir di negerinya atau mau cari makan?.

Etnisitas adalah dasar pemahaman penting tentang pengakuan sejarah kemanusiaan. etnik juga sebagai asas pembelajaran struktur dasar tentang diferensiasi dan pengakuan sosial. Etnisitas merupakan hal yang istimewa sebagai sumber makna dari identitas dalam menentukan rumusan kultural. Berkenaan dengan itu Saya ingat "Manuel Castells" dari Bolivia yang memberi perhatiannya pada masalah identitas di tengah gempuran globalisasi. Katanya ; "perantau (Urban Movement) akan menjadi sumber penggkritik paling Logis jika kelalaiaan fungsi dari gerakan politik organisasi". Maksudnya ialah pentingnya sesuatu yang bersifat lokal ketika globalisasi berlansung. Inilah salah satu paradoks globalisasi yang terjadi dalam langgam politik lokal. dimana orang-orang memproduksi makna dan identitas masing-masing.

Beberapa tahun lalu, kita (Publik) dihebohkan dengan Steatment Gubernur terpilih DKI-Jakarta tentang pribumi, jika pernyataan tersebut lebih bernuansa disintegrasi yang menebalkan sentimen Primordial. Hal itu Patut di lawan pada Bangsa yang merdeka. Tetapi bagaimana jika Pernyataan "Pribumi" oleh Gubernur Terpilih Jakarta di gunakan sebagai pemantik Untuk membebaskan Masyarakat marginal - Terpinggirkan : apakah di layak di hukumi oleh Nalar kita (publik) yang main hantam kromo bahkan sampai di polisikan?. 

Terminologi pribumi itu lebih berkonotasi dan mendapat tempat dalam Diskursus Politik. istilah yang bias, penuh stigma dan tentu saja di ikuti dengan perlakuan eksploitatif dan diskriminatif. 

Hasil Studi genetika menunjukkan bahwa di nusantara ini, yang ada adalah generasi pendatang pertama dan generasi gelombang pendatang berikutnya. dalam sejarah, istilah "Pribumi" lebih berkonotasi politis. Jika kata pribumi lebih di gunakan sebagai senjata untuk mengadvokasi kelompok yang di marginalkan oleh sistem, di pakai untuk jargon-jargon pembebasan, Itu sah-Sah saja. Tetapi, jika kata Pribumi di pakai untuk memantik sentimen primordial di alam kemerdekaan, itu jelas menyobek Tenun kebangsaan dan mencederai Nilai-nilai luhur pancasila. Sebab hanya Kolonial bin Imprealis yang kala itu menolak "Pribumi". Jika sekarang itu terjadi Maka Wataknya mewujud Kolonial bin Imprealis.

Harkat manusia melampaui segala hal. apakah warna kulit dan status sosial saat ini lebih Penting. Secara biologis, menurut pemenang 2 (dua) kali Hadiah Nobel (biologi dan kemanusiaan), Alexis Carrel mengatakan bahwa Betapapun berbedannya manusia, 90 % DNAnya Tetap sama. 

Perbedaan warna kulit, Rambut, bentuk mata, warna mata, hidung dst. Hanyalah perbedaan beberapa puluh Gen, diantara kurang lebih milyaran pasangan gen di tubuh manusia.

Artinya, tidak ada satu kelompok yang lebih tinggi di bandingkan kelompok lainnya. Apalagi kalau sekedar Fisik dan Tubuh adalah ukurannya. Sebab mayoritas Fakta sejarah menukilkan bahwa ketika persaudaraan di utamakan maka hasilnya adalah kejayaan dan gilang gemilang peradaban.


***

CINTA TANAH AIR DENGAN PENUH GELORA


Semenjak saya tahu membaca, saat kecil dulu, ada kata yang paling diingat yaitu " Made In China", ini sudah akrab dengan pandangan Mata. yang paling saya ingat adalah pena atau pulpen yang kita pakai menulis : 1+1=2. Hal ini menandakan, sudah cukup lama cina menguasai pasar bangsa ini. 

Ini bukan cerita rasisme atau phobia terhadap Mahkluk Tuhan bermata sipit di indonesia. tetapi, lebih kepada antisipasi ekspansi besar-besaran terhadap orang bernama dobel, yang perlahan-lahan menguras dan menguasai bangsa ini. 

Kalau ada yang mau bilang Rasis. yah, Silahkan, sebab itu Hak orang untuk menjudge saya atau anti cina. Tetapi, saya ingin mengatakan ini terhadap kita semua, terhadap bahaya keberadaan mereka. Saya juga tidak sedang mengeneralisir bahwa ada orang cina di indonesiakan atau meng-indonesia adalah orang baik-baik, itu fakta. Tetapi, tidak sedikit bahkan lebih banyak yang menjadi perampok dan perampas sumber daya alam indonesia itu fakta empirik. Mereka hadir membentuk grup-grup yang hadir puluhan bahkan ratusan dengan upaya menguasai sektor sumber daya bangsa kita. Bahkan sudah hampir masuk menguasai tatanan politik kita. 

Orang china itu sombongnya minta ampun, mana ada orang bermata sipit itu hadir dalam kerja-kerja bakti, baik di kota atau desa, kalau ada, itu mungkin china kesasar. 

Rumahnya dibuat pagar tembok tinggi menjulang angkasa, bertrali besi. Jarang mau kenal dengan tetangga sebelah yang tidak sipit matanya. Mereka seolah-olah merasa lebih superior ketimbang pribumi, mereka menganggap semua urusan dimuka bumi ini selesai dengan uang.  

Mau di bilang Rasis, Silahkan. Tapi cobalah tinggalkan sejenak kejengkelan anda terhadap bahasa-bahasa saya sejenak.

Sudah berapa lahan yang di rampas china-China itu semenjak reformasi bergulir?, sudah berapa banyak pribumi-pribumi yang terusir dari tanah leluhurnya akibat komplotan-komplotan perampok berdasi?, sudah berapa banyak nelayan yang kehilangan mata pencahariannya akibat pembangunan diatas laut yang direklamasi?, sudah berapa banyak pribumi yang kehilangan tempat tinggalnya, karena dilokasi rumahnya hendak dibangun hotel-Hotel megah dan mewah?, sudah berapa banyak lahan yang dibakar akibat ketamakan dan keserakahan mereka?.

Semua ini adalah rangkaian perselingkuhan jahat yang sementara berlansung dihadapan mata kita. Maka, jangan salahkan saya jika mendikotomi antara Warga Pribumi dan warga China. 

China bukan saja menjadi Tuan rumah dinegaranya sendiri, tetapi sedang berusaha menjadi Tuan Rumah dinegara lain. Caranya apa?, Dengan cara menguasai sektor diatas, ini bukan dongeng. Bukan ilusi apalagi sulap. Ini adalah realitas faktual yang sedang di alami bangsa ini. 

Silahkan anda mau bilang apa. Tetapi, saya cinta indonesia. Masa hidup kita di bumi pertiwi sangatlah singkat, maka wariskanlah bangsa ini secara utuh kepada generasi pelanjut.



*Pustaka Hayat
*Rst
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar