Suatu ketika, Cak Nur Melontarkan pernyataan, " Islam Yes, partai Islam no". Publik indonesia menjadi riuh. Padahal, sesungguhnya Cak Nur tidak menolak Eksistensi partai Islam. Cara termudah untuk membaca pernyataan Cak Nur, bahwa pusat Loyalitas ummat islam, bukan terletak pada partainya. Tetapi, pada substansi nilai-nilai islam.
Substansi wajah atau nilai Islam di dalam Politik Indonesia, terkristalisasi di dalam pancasila. Pancasila membantu ummat beragama dalam hal ini ummat Islam, untuk menjadi ukuran, apakah keberagamaan kita dalam kehidupan publik telah di laksanakan atau tidak. Hal itu sangat tergantung apakah nilai-nilai pancasila telah di laksanakan. Sejauh orang Islam belum bisa merealisasikan Ide dan gagasan pancasila di ruang publik, selama itu pula substansi Nilai Islam tidak pernah di jalankan di dalam kehidupan publik. Sebaliknya, jika pancasila membantu orang islam merealisasikan gagasan Etis dalam kehidupan publik. Agama atau pesan ilahi menjadi sumber nilai dalam pancasila. Artinya, keduanya saling membutuhkan.
Pancsila merupakan saripati dari gagasan-gagasan Universal atau cita-cita moral agama, sebaliknya pancasila bisa menjadi Indikator, apakah keberagamaan kita sudah di wujudkan secara etis, baik di ruang publik atau tidak. Jika negara ini ingin benar dan bertahan dalam waktu.
PERTAMA, Negara harus memiliki basis Spiritual. tidak ada peradaban yang bisa bertahan dalam waktu, jika peradaban tersebut tidak memiliki visi Spiritualitas. Cara terbaik menjelaskan hal ini, dari "Toynbe", yang melakukan survey terhadap lebih dari 2000 peradaban, dengan cara komparatif. Ia melihat, peradaban yang bertahan dalam waktu dan peradaban mana yang tidak bertahan dalam waktu. Toynbe menyimpulkan, bahwa peradaban-peradaban yang bertahan dalam waktu adalah perabadan yang masih menyimpan Visi Spiritualitas di jantung kehidupan publiknya.
Toynbe melukiskan dalam suatu periode, dengan sebutan Radiasi Budaya. Peradaban itu berlapis-lapis. Lapisan terluar dari peradaban adalah Sains dan Teknologi. Lalu, ada Lapisan Estetika di dalamnya, kemudian lapisan yang lebih dalam, terdapat Etika dan lapisan yang paling dalam adalah Visi Spiritualitas.
Meskipun, suatu negara, Sains dan teknologinya tidak begitu maju, estetikanya amburadul, Etikanya mulai Goyah. Tetapi, sejauh masih ada Visi Spiritualitas, ia masih punya Jantung pertahanan terakhir. Sebaliknya, kalau spirtualitas adalah jantung peradaban terakhir dari suatu peradaban. Tetapi, peradaban yang paling bisa mempengaruhi peradaban lain adalah Peradaban yang paling unggul di lapisan terluar, yaitu Sains dan Teknologi. Artinya, sekuat apapun dimensi spiritualitas atau Dimensi keislaman kita, tetapi kita tidak menguasai sains dan teknologi. Sampai kapanpun, agama kita tidak akan berpengaruh kepada peradaban lain.
di titik itulah, kalau orang islam Indonesia ingin berpengaruh di dunia. Tidak usah membentuk khilafah Islam. Tapi, memperkuat Sains dan Teknologi, maka kita akan berpengaruh di dunia. Sebaliknya, meskipun kita mencanangkan ide Khilafah Islam, tetapi lapisan terluar peradaban kita Kalah, maka kita tidak akan bisa berpengaruh di dunia.
Jika kita Mentadabburi satu ayat di dalam Al-Qur'an, yang berbunyi " Yarfa illa hulladzina amanu mingkun utul ilma darojat" - Tuhan akan mengangkat Orang beriman (karena itu adalah jantung pertahanan terdalam) dan orang yang berilmu pengetahuan (agar ia berpengaruh di alam semesta)".
Setiap bangsa, kalau ingin bertahan dalam waktu. Harus memiliki lapisan terdalam Atau Visi Spiritual. Tetapi, bagaimana ia punya sisi atau lapisan spiritual, di dalam kehidupan bangsa yang multi agama. Berkenaan dengan itu, saya teringat dengan pernyataan Bung Karno dalam Pidato 1 Juni, ia mengatakan, "di dalam masyarakat Indonesia yang Multi agama, hendaklah semua orang Bertuhan. Tetapi, bertuhan menurut agamanya masing-masing. BerTuhan dengan cara yang Leluasa. BerTuhan dengan Cara berkebudayaan, yang lapang dan toleran".
Bagaimana bisa mengembangkan Cara BerKetuhanan yang lapang, yang Toleran dan Penuh kasih?. Maka, mau tidak mau kita harus mampu melakukan suatu usaha gerak meninggi di dalam cara kita Berketuhanan. Mengapa?. Karena saat orang tidak meninggi dari sisi Spiritualitas, orang hanya akan melihat agama dari sisi perbedaannya saja. Tetapi, kalau orang bisa meninggi di balik daya Spiritualitasnya, dia akan melihat di balik perbedaan agama-agama, terdapat bahagian dari satu.
Ada ayat Al Qur'an yang paling sering di kutip oleh Cak Nur, yang seruannya mengarah kepada kalimatun sawa yaitu "Ta alau ila kalimatun sawa" - banyak orang yang mengartikan "Ta alau" sebagai Kemarilah kepada Titik temu. Tetapi, "Ta alau" juga berarti Meninggilah kepada titik kalimat bersama. Sebab, Hanya dengan jalan meninggi kita akan melihat di balik perbedaan agama-agama, ternyata ada satu titik Ketuhanan yang sama.
Bagaimana caranya agar kita bisa masuk pada gerak spiritual yang meninggi yaitu Kalimatun sawa'?. Jalannya adalah dengan jalan berketuhanan yang Maha Esa. Kita tidak mungkin bisa menjelaskan Kata Esa, kecuali kita meminjam lecture atau doktrin Budhisme. Diksi Esa itu bukan tunggal. Esa adalah suatu kondisi spritualitas, dimana orang mengalami fase sunyata - Kekosongan. Fase ketika orang mampu melepaskan diri dari kemelakatan duniawi. Manusia yang mengalami kemelakatan duniawi adalah manusia yang duka - manusia yang mengalami Kegelapan spiritual. Untuk keluar dari fase kegelapan spritual atau Duka, maka kita harus mengalami Fase Sunyata - kekosongan. Dengan cara, kalau Maslow menyebutnya - aktualisasi kebatinan Mikrokosmos melebur dengan Kebatinan Makrokosmos.
Esa itu adalah Manunggal atau Emanuel - melebur ke dalam Makrokosmos. Manunggal inilah yang di sebut sebagai Ma'rifat di dalam Islam, Muksah di dalam Hindu, Sunyata di dalam Budhisme.
Artinya, jika setiap orang ingin melakukan gerak meninggi pada titik temu, maka setiap kita harus menanggalkan segala kemelakatan dunia - pangkat, harta bahkan agama itu sendiri. Hal ini yang kelak membawa konsekuensi teologis yang panjang dalam Islam, karena di dalam pemahaman Islam yang di bawa oleh para Nabi - Mulai dari Adam Sampai Muhammad itu sama-sama Islam atau sama-sama penyerahan diri kepada yang Maha Kuasa.
KEDUA, sumber Moralitas yang akan membuat negara-negara bisa bertahan dalam waktu, subtansinya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Jika yang pertama, kita bisa menyebutnya dengan Hablum Minallah. Maka yang kedua adalah Hablum minannas - menghargai hak-hak dasar manusia. Di dalam Islam Terma ini sangat monumental, baik di dalam literatur, maupun di dalam praktek historis Nabi Muhammad.
Di dalam Al Qur'an di sebutkan, "Laqod Karromna Bani Adam - seluruh anak-anak Adam adalah Mulia" dan di dalam Khutbahul wada' atau mengapa Arafah itu menjadi penting, dimana Khutbah Wada' Nabi, karena di arafah Nabi Muhammad Mengkhutbahkan suatu doktrin Hak-hak Asasi Manusia - "pada Hari ini aku sucikan darahmu, Hartamu dan Kehormatanmu". Yang sekian ratus tahun kemudian para pendiri bangsa Amerika terinspirasi Pada Khutbah Wada', Nabi Muhammad Tentang Hak dasar Manusia, tertuang di dalam Deklarations Of Independen Amerika menyebutkan, "dalam rangka mengejar kebahagian perlu menjamin - Hak Hidup, hak milik dan Hak dignitas".
KETIGA, substansi Nilai Islam ialah menjunjung persatuan dalam keragaman, baik persatuan antar keragaman manusia, maupun persatuan antara manusia dengan Geopolitiknya. Artinya, manusia sepanjang masih memiliki daging, maka ia terikat oleh ruang dan waktu - dimana ia hidup. Hal inilah yang kerap di sebut dengan Cinta Tanah air.
Misalnya, Saat Penyu menetas dari telurnya, dia akan bolak balik dari laut ke darat. Lalu, dia merekam sistem Informasi lingkungannya dalam benaknya. Begitu setelah di rekam, dia menggeloyor saja. Tetapi, hal itu tergantung dari jenis penyunya. Ada penyu dari papua, dia bisa berenang sampai ke pantai Karibia di Amerika. Tapi, 20 - 30 tahun kemudian, dari pantai manapun di muka bumi, begitu dia akan bertelur, dia akan kembali ke titik awal dimana pertama kali dia di lahirkan. Nah, manusia memiliki sifat-sifat kodrati seperti itu.
Pada Abad 18, ada seorang pasien, yang dengan berbagai cara dokter mencoba mendiagnosa penyakitnya. Tetapi, tak kunjung di temukan penyakitnya apa. Akhirnya, Sang Dokter mengatakan - saya sudah mencoba untuk mencari penyakitmu, tapi tak kunjung di temukan. Apa harapan terakhir, kata sang Pasien, "tolong bawa saya ke kampung halaman saya". Waktu itu belum ada mobil, maka sang pasien di tandu. Setelah sekian minggu, begitu pasien tiba di kampung halaman, Seketika itu juga Pasien tersebut sembuh.
Dari situ muncul istilah medis pertama, yaitu "Nostalgia". Sebenarnya Nostalgia itu dari kata Nostos yang berarti Rindu pulang. Algos artinya Sakit. Artinya, Nostalgia itu adalah Home Secless. Jadi ada penyakit pada diri manusia yang tidak bisa di sembuhkan, kecuali menemukan jalan pulang - baik jalan pulang ke kampung Ukhrowi (kampung spiritual) maupun ke Kampung Sosiologis. Hal itulah, mengapa jelang Idul Fitri atau Natalan, Jutaan manusia mengalir dari Hulu terjauh menuju hilir. Sebagaimana penyu yang berenang sampai ke pantai terjauh, begitu ia akan melahirkan, dia akan kembali ke titik muasal dia berasal.
Oleh karena itulah, Ikatan manusia dengan Tanah airnya, merupakan Ikatan spiritual. Yang menurut agama itu sendiri, kalau tanah air kita di rebut sembarangan oleh kekuatan lain, maka jihad Hukumnya untuk mempertahankannya. Makanya, orang yang menyebutkan cinta tanah air sebagai Musyrik, sangat di ragukan keagamaannya. Sebab, kita minum dari air yang mengalir di bumi ini, kita makan dari perut bumi ini, kita menghirup oksigen di bumi ini. Maka, kita punya hutang budi kehormatan pada tanah ini. Kita tidak bisa lari dari tanggung jawab tersebut.
KEMPAT, salah satu atau sumber substansi Islam di dalam Politik adalah musyawarah. Cara kita menyelesaikan masalah, tidak di selesaikan dengan menang-menangan jumlah - Diktator Mayoritas atau Tirani Minoritas.
Dimana di dalam Musyawarah, tidak ada seorang pun yang di kalahkan, semua adalah Win-win dan di dalam Musyawarah, bukanlah basis legitimasi. Suara mayoritas hanya di terima sebagai prasyarat minumum, yang harus di optimumkan dengan mendengar suara-suara minoritas. Makanya, di dalam Prinsip Musyawarah, berlaku Prinsip, " Unzur ma Qola wal Tanzur Man qola - lihat apa argumennya, jangan melihat siapa orangnya". Oleh karena itulah, kita mesti memiliki kebijaksanaa dan kearifan. Harus bisa mendengar dari siapapun, lalu mengambil yang terbaik, "alladzina yastaminul kaula fa yastabiuna ahsana ulaika hum ulul albab".
Menarik kata-kata Hikmat dan kebijaksanaan. Diksi Hikmat dalam bahasa arab kita tahu adalah kearifan dan Kebijaksanaan. Begitu ia di serap ke dalam bahasa melayu, diksi Hikmat bararti kolektif dan Kolaboratif. Jadi, Hikmat dalam Bahasa melayu adalah Kebijaksanaan Kolektif.
KELIMA, Substansi Islam dalam Politik adalah Keadilan. Terutama Keadilan politik dan Ekonomi. Tidak sedikit Di dalam Islam, baik di dalam Al Qur'an dan Hadist menyebutkan bahwa kesejahteraan merupakan indikator manusia, baik manusia etis atau manusia yang dzolim - Durhaka. Sebab, Jika kebutuhan dasar Manusia tidak terpenuhi, agama apapun ia, Etis apapun ia. Pasti insting kebinatangannya akan muncul. Saya sekalipun, yang kerap bicara Konsep Pancasila dan kesederhanaan, ketika lapar pasti berteriak. Kata, Bung Karno, seseorang yang lapar tidak seketika menjadi manusia etis jika hanya di berikan Buku Kontitusi.
Hakikat Pancasila - Ketuhanan diatas, Sayap kiri dan Kanannya adalah Persatuan dan Keadilan. Demokrasi - Kerakyatan yang di pimpin oleh kebijaksanaan dan Permusyawaratan berada di nomor empat. Diapit oleh sila ketiga dan dan Sila Kelima. Berdasarkan uraian ini, demokrasi kita hanya akan bisa di jalankan, kalau punya Prasyarat Integrasi Nasional. Karena, manakala Papua bergolak, Maluku bergolak, poso Bergolak, Aceh Bergolak. Maka, kita tidak bisa menegakkan demokrasi. Sebaliknya, demokrasi yang benar, harus bisa memperkuat persatuan Nasional. Setelah demokrasi di jalankan, maka dia harus mengarah pada keadilan sosial dan ekonomi. Artinya, dengan demokrasi bukan malah semakin timpang dan tidak adil. Jika demikian yang terjadi, maka ada yang salah cara kita berdemokrasi.
Namun, antara persatuan dan keadilan tidak bisa di trade Of - di pertukarkan. Maksudnya apa, demi persatuan tidak boleh mengorbankan keadilan. Tetapi, demi keadilan tidak boleh mengorbankan persatuan. Sekarang ini ada godaan, demi keadilan, kita hendak merobek persatuan. Padahal, sampai dunia kiamat. Keadilan tidak bisa di tukar kecuali dengan semangat Koperatif dan semangat persatuan.
Kita bisa belajar dari kasus malaysia di tahun 60-an. ada kerusahan anti china, karena dianggap kesenjangan sosial yang lebar. Akibatnya pemerintahan malaysia memberlakukan kebijakan The New Ekonomic police. Memberikan overmatif Actions, tetapi, di taruh atas pembelahan ras.
Soekarno dan Cak Nur ibarat Dua keping Uang sama. Kalau Bung Karno, dari Nasionalisme menuju Ketuhanan. Sedangkan, Cak Nur, dari Ketuhanan menuju kebangsaan.
*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar