Mengenai Saya

Sabtu, 25 Maret 2023

CORETAN PINGGIRAN 14 - "KEBESARAN ORANG KECIL"


Jika setiap hari kita bisa tenang mengunyah makanan yang satu paket harganya sama dengan gaji resmi pegawai negeri Golongan 4A, misalnya.

Jika satu hari konsumsi dan fasilitas hidup keluarga kita, tidak bisa didapatkan oleh jutaan saudara-saudara kita sendiri yang bekerja keras tiga bulan penuh ditambah lembur tiap malam, apalagi dimasa Wabah seperti ini; dan kita mengenyam itu semua dengan perasaan yang tenteram saja, maka kemungkinannya ada tiga ;

Pertama, kita tidak punya imajinasi sosial. Kedua, kita tahu masalah sosial, tapi tidak bisa bersikap ilmiah, sehingga tidak bisa merumuskan keharusan hidup kita. Kemungkinan ketiga, memang kita kurang rasa empati dan tega.

Andai, Allah berkenan memasukkan kita ke surga, lantas suatu sore kita sedang beristirahat, sambil bermain gitar, bersenandung dan memandang keluar jendela. lalu, tampak saudara-saudara kita sendiri yang sangat karib sedang meringis kesakitan disiksa dikubangan Jahannam, sebagai manusia yang memiliki nurani, rasanya tidak tega hati kita.

Padahal kita sah masuk surga dan saudara-saudara kita itu memang pantas masuk neraka. Tetap, kita tidak akan tega.

Hal itu terjadi di surga. Bagaimana jika terjadi di dunia ini. Kita belum tentu pantas berbahagia, karena mungkin jalan kita untuk kaya melintir dan sejahtera tidak seratus persen sah secara sistem. Jutaan saudara-saudara kita juga bisa jadi seharusnya tidak melarat dan menderita, seandainya tatanan yang mengatur kehidupan kita semua ini berlaku semestinya.

Tapi, tatkala kalimat-kalimat ini saya ungkapkan kepada kawan-kawan, mereka berkata: “Masa di surga ada sore hari dan ada jendela. Masa di surga kita bisa main gitar dan bersenandung”.

Nah, saya kan tidak berbicara tentang surga, melainkan seratus persen tentang dunia.

Coba kita lebih jauh menginsyafinya ; Kita ini tidak bisa membuat tangan dan kaki kita sendiri, kita tidak sanggup menciptakan kepala dan otak kita sendiri, kita bahkan tidak mampu memproduksi sehelai rambut alis atau sehelai rambut apapun lainnya.  maka, modal produksi yang kita pergunakan bukanlah benar-benar saham kita.

Jikalau dengan itu, kita merasa dan yakin bahwa pendapatan hidup kita adalah sepenuhnya hak pribadi kita, berarti: Kita sama sekali tidak punya pengetahuan tentang diri kita sendiri. Kita tidak pernah bersikap realistis kepada kenyataan hidup. Kita juga tidak berlaku ilmiah atas dialektika hubungan kemakhlukan Dan kita bodoh kepada Tuhan.

Padahal, Kebanyakan orang kecil adalah orang besar. Mereka bukan hanya berhati tabah, bermental baja dan berperasaan terlalu sabar. tapi, juga berkemampuan hidup yang luar biasa.

Mereka sanggup dan rela berjualan beberapa botol air mineral, Tisu (asongan) untuk penghidupan primernya. Banyak diantara Kita pasti juga sanggup berjualan seperti itu, tapi tidak rela.

Orang kecil mampu menjadi karnek angkutan, menjadi satpam, menjadi tukang parkir, menjadi buruh bangunan, pemulung atau menjadi pembantu rumah tangga seumur hidup.

Sedangkan sebahagian kita tidak mampu dan tak akan pernah bisa membuktikan bahwa kita sanggup menjadi karnek atau buruh bangunan, Tukang sapu jalanan atau pedagang asongan seumur hidup.

Tetapi, Mereka ikhlas untuk tidak boleh terlalu memikirkan harapan dan masa depan. Sementara kita selalu memamerkan harapan dan masa depan yang kita pidatokan dan kampanyekan seolah-olah itu berlaku untuk mereka, padahal hanya berlaku untuk kepentingan kita.

Mereka adalah orang-orang besar yang berjiwa besar. Mereka senantiasa siap menjalankan perintah kita dan menyesuaikan segala perilakunya dengan kehendak kita.

Kita inilah yang sebenarnya orang kecil. Kita hanya ikhlas, kalau kita kaya, sukses dan berkuasa. Kita hanya sanggup menjadi pembesar. Kita hanya sanggup memerintah dan menggantungkan diri pada orang yang kita perintah.

- Makassar, 14/04/2022-

*Rst
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar