Pada Cara Bernalar Di pinggiran, Terletak Kemanusiaan yang adil dan beradab
Minggu, 26 Maret 2023
CORET ESAI ; KUALITAS PUASA ADALAH PUASA YANG LUPA BERBUKA
Sabtu, 25 Maret 2023
CORETAN PINGGIRAN 11 - "PUASA MAHA PEMERINTAH
CORET ESAI - "SURAT DARI TANAH PENANTIAN"
CORETAN PINGGIRAN 21 - " PUASA DI NEGERIKU"
CORETAN 15 - PUASA TAK MAU BERPUSA"
CORETAN PINGGIRAN 12 - "PUASA BERTAHAN MENJADI MANUSIA"
CORETAN PINGGIRAN 14 - "KEBESARAN ORANG KECIL"
Jumat, 24 Maret 2023
CORETAN PINGGIRAN 13 - PUASA BERTOLAK PINGGANG KEPADA IBLIS.
Di bulan Ramadhan Iblis dan setan Diikat. maka, Kita berani bertolak pinggang.
Kita bertanya : "Blis, Mengapa engkau tak menipu manusia?".
Iblis menjawab : " Demi Allah, sesungguhnya yang menjerumuskan mereka adalah kegagahan mereka sendiri".
Kita membantah : ahh, Jangan main-main, Blis.
Iblis melanjutkan : "mereka (manusia) terlalu berani menaklukkan dunia demi kepentingan mereka. Mereka sangat perkasa menunggangi kehidupan, agar mengabdi kepada apa yang mereka perlukan. Mereka tidak takut, untuk memperalat Tuhan, diberi jabatan kepala biro pengabulan doa-doa, justru mereka mewajibkan Tuhan menjadi Faktor Produktif demi terwujudnya pelampiasan nafsu mereka".
Kita membantah lagi : " bukankah engkau Blis yang menggoda dan mempengaruhi mereka.?"
Iblis menjawab : " Mulai besok, pelajari sejarah ummat manusia secara teliti, kompherensif, Dan mendalam. Supaya tahu bahwa Nafsu manusia sudah tumbuh berkecambah sebelum ku datangi mereka dan itu membuatku tidak melakukan apa-apa".
CORETAN PINGGIRAN 14 - "SEMPURNANYA IKHLAS
CORETAN PINGGIRAN 10 - "RUMAH MEGAH TANPA TUAN RUMAH
CORETAN PINGGIRAN 9 - "PUASA HANYA DI BULAN RAMADHAN"
Jika berpuasa hanya di Bulan Ramadhan. lalu, boleh tidak berpuasa dibulan-bulan lainnya. Maka, Hancur lebur, musnah dan segera berakhir pasti kehidupan ini. karena, sebelas bulan angkara murka, halal di lampiaskan tanpa batas.
Jika berpuasa hanya menahan nafsu lapar dan haus. Jika berpuasa tidak menjadi prinsip utama dalam hidup, tidak menyertai manusia sepanjang siang dan malam, serta bukan Pijakan penting dalam membangun peradaban.
Jika dalam Sidang Kabinet, Nilai Puasa tidak di hadirkan. Jika di dalam Musyawarah Demokrasi dan pembangunan manusia, tidak di sertakan Prinsip puasa. Jika dalam politik anggaran, Esensi puasa di keranjang sampahkan. Jika dalam Kurikulum pendidikan dan desain peradaban, Puasa tidak di Ideologikan dan menjadi dasar pertimbangan. Atau Jika dalam semua Hubungan keduniawian manusia : sosial, politik, Hukum, budaya, ekonomi, pendidikan, dan sebagainnya, puasa tidak menubuh dan Menyejarah dalam laku pergulatan aktivitas manusia.
Maka, Wahai ummat Manusia : alami dan Nikmatilah bahwa betapa Iblis adalah Futurolog yang cemerlang. " untuk apa Engkau Ciptakan manusia, Wahai Tuhan. Toh, pekerjaan utama mereka adalah merusak alam, Menginjak-injak, menghardik, menindas dan saling bunuh membunuh.
CORETAN PINGGIRAN 7 - " BERLATIH"
Seorang Petinju yang empat bulan sekali bertanding saja. harus tiga bulan berlatih, untuk sekedar pertarungan 10 ronde diatas ring. Apalagi kita, yang harus bertanding melawan hawa nafsu seumur hidup
Bersyukurlah, sebab Tuhan memberi peluang kepada kita semua, untuk berlatih agar kita memperbarui kesadaran sikap dan kekuatan kita.
CORETAN PINGGIRAN 6 - "BELANTARA KHULDI"
Di Bumi belantara Khuldi, kabarnya Iblis, tidak lagi bersusah-susah payah membisik-bisik Manusia. Tetapi, Justru manusia telah mengajak Iblis berpanen Raya dan menikmati sepuas puasnya.
Lalu dengan berseloroh manusia betutur, Tuhan Maha Pengampun. Hihihi.
Bukan Soal, kita dapat bertaubat dan Tuhan Maha Pengampun?.
Tetapi, seberapa Jauh kita mengetahui bahwa Tuhan Maha pengampun dan Menganggap Tuhan akan mengampuni kita.
Lalu, dengan Licik kita Mengeksploitasi Kemaha-ampunan Tuhan.
CORETAN PINGGIRAN 5 ; "HAKIKAT PUASA"
*Makassar, 15/04/2022
*Nalar Pinggiran
CORETAN PINGGIRAN 4 - "PUASA INTAN BERLIAN"
Ya Allah, Halangilah Langkah hamba, yang berpuasa menempuh perjalanan hari raya yang bergelimang dunia. Lalu, melampiaskan kerendahan sesudahnya.
Ya Allah, tuntunlah hamba mempuasai dunia, waspada terhadap kepalsuan dan gegap gempita. Puasa dari segala yang tak sejati, bertahan dari serbuan apapun yang tak abadi.
Ya Allah, Peliharalah buruk rupa dunia, dalam rahasia dibalik Panca Indera. Jadikanlah, setiap Tajalliku sehambar batu. simpanlah dulu Intan berlianku diGudangMu.
-Makassar, 08/04/2022-
*Rst
*Nalar Pinggiran
CORETAN PINGGIRAN 3 - "SEKEDAR PUASA"
Sekedar berpuasa setiap bulan dalam setahun. Sekedar bersembahyang, tiap hari lima kali. Zakat dan Haji bagi yang berkemampuan.
Lalu, Hamba menagih surgaMu, Ya Rob.
Begitu Murahnya JannahMu, Yaa "Kholidina Fiha Abada", yang perumpamaannya teduh hijau dan tentram.
Yang engkau janjikan tiada kematian di dalamnya. Yang penghuninya mendapatkan segala yang diInginkannya.
Hamba membeli Jannah dengan kerja Yang begitu Mudah. Sedangkan, Urusan hamba Di persempit menjadi sekedar Hubungan vertikal -Individu dan Allah saja.
Sementara kehidupan didunia sudah rusak serusak-rusaknya, dan hamba abai, bahwa Tidaklah engkau Tugaskan kami sebagai Khalifah.
* Makassar,11/05/202
* Rst-Pena Nalar Pinggiran
CORETAN PINGGIRAN 2 - " PUASA RINDU DAN NAFSU"
Ya Allah, Maha Penuntun perjalanan kami, yang berkenan selama Ramadhan ini men-Tajalli : Duduk perkasa berSingasana diatas Galaksi. Mohon terimalah lapar dan dahaga persembahan kami.
Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, kami masuki dengan semangat Kerinduan, agar mendapatkan laba berkah sebanyak-banyaknya, untuk kepentingan kejayaan dan kekayaan kami.
Lapar dahaga sepanjang hari, kami setor jelang berbuka, kami semua menengadahkan tangan, agar kemudahan hidup dan rezeki melimpah, kami harapkan dengan nafsu dan keserakahan, demi tercapainnya kepentingan-kepentingan dunia.
-MAKASSAR , 07/04/2022 -
*Rst
*Nalar Pinggiran
CORETAN PINGGIRAN 8 - "PUASA BAGINDA"
Aku duduk diberanda Rumah selepas berbuka, Mendadak Muncul orang Tua renta yang kalau kuperhatikan pancaran wajahnya : jangan-jangan Ini adalah Baginda Nabiyullah Ayub.
Aku berdiri seketika, Membungkuk dan memberi Hormat padannya, dengan badanku yang agak gemetar.
Tapi, Bismillah, aku siap bertegur sapa : " apakah engkau sudah berbuka Puasa?", tanyanya Padaku. "Puji Tuhan atas Rezeki dan perkenaanNya", Jawabku terpana.
Wajah sepuh beliau, merekahkan senyuman dan bertutur: "sungguh sangat berbeda puasaMu dan puasaku".
Mohon maaf, kataku. Aku belum paham maksud Baginda.
"Puasaku", Jawabnya Padaku, adalah "Puasa yang Kujalani tanpa kepastian akan berbuka".
* Makassar, 09/05/2020
*Pustaka Hayat
*Rst
*Nalar Pinggiran
CORETAN PINGGIRAN 1 - PANDEMI MEROBEK RINDU
Sabtu, 18 Maret 2023
DARI KRISIS IKLIM SAMPAI KONFLIK AGRARIA ; CITIZEN JOURNALISME
Dalam Pidato Presiden di KTT PBB COP26, tentang perubahan Iklim. Presiden menjelaskan bahwa Kebakaran hutan, mengalami penurunan, sebesar 82 % di tahun 2020.
"Green Peace mencatat, memang benar terjadi penurunan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tahun 2020. Jika di bandingkan dengan tahun 2019, Karhutla mencapai 294.942 hektar dan hal itu merupakan angka kebakaran yang luasnya, setara dengan 4 kali DKI Jakarta.
Green Peace menegaskan bahwa Penurunan kebakaran Hutan dan lahan di tahun 2020 tidak sepenuhnya di sebabkan oleh upaya PEMERINTAH. melainkan disebabkan oleh gangguan anomali fenomena La Nina".
Soal lain juga, dalam pidato presiden di KTT PBB, bahwa Indonesia telah merehabilitas hutan mangrove sebesar 600.000 Hektar sampai tahun 2024 dan hal itu terluas di dunia.
Rencana pemerintah merestorasi Hutan Mangrove memang terdengar sangat hebat. Sebab, sependek pengetahuanku, hutan mangrove mempunyai fungsi ekologi yang sangat vital bagi kawasan pesisir yang saat ini sedang menghadapi ancaman krisis iklim
Padahal, green peace mencatat ; " kerusakan Hutan mangrove di Indonesia telah mencapai 1,8 juta Hektar".
**
-WADAS WARAS BELUM USAI, KASIMBAR TERKAPAR -
Perintah Konsitusi menyebutkan, bahwa pemerintah di beri tugas untuk memakmurkan rakyat. maka pemerintah perlu meningkatkan industri ekstraktif (Penggalian Sumber Daya Alam), misalnya. Begitu logika pemerintah dan Itu Masuk akal.
Tetapi, problem itu berhadapan-hadapan dengan UU HAK Asasi Manusia dan UU Lingkungan Hidup.
Prinsip utama dari Hukum AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) adalah mengupayakan agar pembangunan Infrastruktur tidak berlansung demi lingkungan. Artinya, semua pembangunan yang berbasis Infrastruktur, harus melalui Proses Amdal. Jadi, Amdal di upayakan untuk menghalangi proyek Infrastruktur. Jika pembangunan Infrastruktur lolos Proses Amdal. Maka, pembangunan tersebut lolos secara amdal. begitu logikanya.
Konflik Agraria di Desa Wadas Waras, Jawa Tengah dan Kasimbar, parigi Mountong Sulteng itu mirip dengan semua konflik agraria di Indonesia. Semuanya di putuskan secara politik terlebih dahulu, lalu Di bikinkan kajian Amdal dan HAMnya.
Kalau kita lihat, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat, sepanjang 2019 ada sebanyak 279 konflik agraria. Konflik tersebut berdampak terhadap 109.042 keluarga di berbagai provinsi di Indonesia.
Berdasarkan data KPA, selama 5 tahun terakhir, sektor perkebunan, properti dan infrastruktur menjadi penyumbang terbesar terjadinya konflik agraria.
Kacaunnya Logika dan Nalar Penyelenggara. Di tambah Riset Amdal dan Kajian HAM di lakukan untuk membenarkan Keputusan Politik, semakin memperparah kondisi kita berbangsa.
Pashion kita terhadap penderitaan orang di negeri ini memang tidak ada. Seluruh perlatan yang di miliki negara, tidak memiliki empati. Indikator Makro itu baru mulai bekerja, jika martabat Manusia mulai di asuh. "WARGA NEGARA PERLU MARTABAT, BUKAN MARTABAK"
Human Development Index, tidak mungkin melayani Dignity Manusia. Ada skala lain, yaitu indeks kebahagian.
Jadi, tolong berhenti bicara NKRI harga mati, karena itu akan menyiksa kita. identitas tidak mungkin berkembang, jika kita mengatakan ini Harga mati. Biarkan warga negara Bahagia dengan Standar Kualitatifnya. Agar, kita bisa hidup bersama-sama.
Artinya sebelum kita mengucapkan NKRI Harga mati, bikinlah dulu NKRI yang menghidupi kami dan mereka yang terisisih.
IQRO MASIH MENJADI AYAT, BELUM MENJADI NILAI YANG MENUBUH DAN MENYEJARAH ; DIALEKTIKA
Tauhid itu jika sebuah bangunan, ia adalah pondasinya. Mustahil mendirikan sebuah bangunan diatas pondasi yang bengkok dan rapuh.
Kita berada di fase, Ghoyah (Tujuan) menjadi Wasila (Cara), wasila Menjadi Ghoyah. Padahal itu senyata-nyatanya Berhala, yang terpampang jelas di depan mata kita. Tetapi, kita dengan sengaja tidak menyadarinya. Kesesatan yang nyata adalah tidak tahu jalan pulang ke tempat asal, tidak tahu asal usul, tidak tahu titik berangkat dan titik tuju.
Harta, Kekuasaan, Jabatan, kecantikan, ketampanan, Kekayaan, Pembangunan, kemajuan, lelaki, perempuan, Materi, kemeriahan, cinta, ilmu, dsb adalah Wasila, bukan Tujuan. Sebab, Tujuan Utama, dari seluruh drama kehidupan ini Di Gelar adalah MENGKUDUSKAN dan MENGKULTUSKAN TUHAN. Itulah sebabnya, ia menjadi Syarat pertama keberislaman seseorang (Rukun Islam).
Ketika kita mendaraskan Siroh Rosulullah SAW pertama kali Di Utus di muka bumi ialah mereformasi aqidah, Menanamkan Tauhid pada masyarakat Mekkah, selama 13 Tahun dan Sejarah mencatat, hal itu merupakan Pencapaian paling menggemparkan sepanjang Peradaban Manusia.
Merombak sebuah bangsa biadab menjadi Bangsa beradab dan 10 Tahun Periode Madinah, Membangun masyarakat Religius. Dalam Terma Al Qur'an, "Ummatan Wahida (Ummat Terbaik)".
Kalimat Tauhid ini, kata Ibnul Qoyyim Al Jausiyah dalam Kitab Ziyadatul ma'ad, adalah kalimat super, Yang karena Kalimat tersebut, Allah menciptakan surga dan Neraka ; surga, bagi mereka yang menerima dan Neraka bagi mereka yang menolaknya.
Tauhid adalah Tujuan. maka, manusia butuh latihan. di buatkanlah, Langit dan bumi, agar manusia menerima konsep "la ilaha illallah". Selain latihan, manusia butuh pelatih, maka di utuslah para Rosul untuk melatih manusia Menerima konsep La ilaha illallah. Itulah Sebabnya, Seorang Muslim, baru di katakan muslim, jika Shohihul aqidah. Seorang muslim aqidahnya harus kuat ; Lailaha illa allahu, tertancap kedalam Palung terdalam sanubarinya. Faktanya kan tidak demikian?.
Dalam Terma KeIndonesia, kita punya Pancasila. Kita menjadikan, Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Dasar berpikir dan Bersikap di bangsa ini. Tetapi, Tidak pernah menomor satukan Tuhan di dalam segala aktivitas keseharian hidup kita. Tidak pernah istikharo, tidak pernah Tuhan di jadikan rujukan Utama atau pertimbangan dalam menapaki langkah-langkah.
Misalnya, Kita membangun infrastruktur di indonesia, itu tujuannya untuk dunia atau akhirat?. Atau silahkan sebutkan semua contoh-contoh yang terjadi. Dengan jujur, kita harus menjawab untuk dunia.
Menurutku, inilah implikasi awal, karena kita Cacat mendikotomi Persoalan Ghoyah dan Wasila?. Maka, menjadi wajar, jika korupsi subur, nepotisme bertumbuh, kolusi tak terelakan. Modern tapi Jahiliyah ; Modern secara Artifisial. Tetapi Hakikatnya Jahiliyah.
Mengapa?. Karena Tuhan tidak pernah di libatkan dalam setiap urusan-urusan yang dianggap berpretensi duniawi. Padahal berani menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Dasar Primer.
Artinya, masalah Kita di era Post Trust, bukan kemiskinan, bukan ketimpangan, bukan kemelaratan, bukan pengangguran, bukan ketidakadilan, bukan Globalisasi, bukan Sekularisme, bukan matrealisme, bukan korupsi, Bukan Nepotisme, Bukan Tipu Muslihat, bukan kerakusasn, bukan Eksploitasi, bukan penindasan, dsb.
Masalah kita yang sesungguhnya ialah "Bukan Tuhan di jadikan Tuhan. Tuhan di jadikan Bukan Tuhan. Hal itu sangat mungkin di lakukan oleh SEORANG MUSLIM. Sebab, Mustahil Bagi seorang beriman yang Muhlis, serta Bertaqwa, melakukan semua penyakit berhala yang saya sebutkan diatas.
Ihwal itulah, sehingga saya kerap menyebutkan. Jika hendak menjadi Pejabat dari level RT sampai Presiden, menjadi konglomerat, menjadi Teknorat, Menjadi Ilmuan, menjadi Rohaniwan atau menjadi apapun saja. Maka, diri kita sudah harus Selesai dengan semua soal remeh temeh tersebut. Agar, saat di Perhadapkan pada kondisi terburuk sekalipun, kita enggan Menggadaikan Prinsip (Aqidah) demi sesuatu yang Temporal dan Nisbi, serta yang pada dasarnya bukan Tujuan dari pergelaran drama kehidupan.
Jika ilmu pengetahuan konsisten dan istiqomah dalam perkembangannya. maka, dipastikan akan tiba suatu masa dimana ummat manusia mencapai taraf kedewasaan berpikir untuk betul-betul berperan sebagai khalifah, (asisten Allah) dibumi. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa sepanjang otak manusia berpikir keras dan kencang. maka, sel-selnya akan bertambah banyak dan jaringan-jaringan sarafnya menjadi bertambah luas pula, yang pada gilirannya meningkatkan kecerdasan. Semakin tinggi kecerdasan makin mendewasakan berpikir dan bertindak.
Rosulullah Muhammad Saw sudah memberikan Uswah bersama para sahabatnya pada 10 tahun periode Madinah bagaimana kedewasaan berpikir tersebut menjadikan manusia paripurna merealisasikan kebersatuan dua dimensi dalam diri manusia yakni dimensi ilahiah dan dimensi manusiawi. Penyatuan dua dimensi itulah sesungguhnya yang merupakan makna tauhid yang sering kita dengungkan sebagai intisari ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Tauhid sama sekali bukan konsepsi teologi tentang keesaan Allah. sebab, Allah tidak bisa dikonsepsikan apalagi dipersepsikan. Nabi sangat jelas dalam hal ini. "Apapun yang terbetik dalam benakmu bukan Tuhan, justru Tuhan menciptakannya," sabdanya.
Ketika Rosulullah SAW menegaskan bahwa agama adalah akhlak bukanlah sekedar pernyataan moralitas belaka melainkan penegasan atas gagasan Tuhan adalah sang Mutlak yang tak dapat dipersepsikan maupun dikonsepsikan. Tuhan hanya bisa direfleksikan dalam laku kebaikan dan cinta kasih. Menyatu dengan Tuhan adalah menyatu dengan kebaikan dan cinta kasih.
Artinya seseorang yang merealisasikan tauhid akan menjadi personifikasi kebaikan dan cinta kasih; apapun yang dilakukan dan diperbuatnya semata-mata hanya kebaikan, semata-mata hanya cinta kasih. Manusia paripurna. Maka, agama bukanlah sistem aturan keimanan dan peribadatan melainkan situasi keilahian yang menuntun kepada kebaikan. Agama menuntun kepada Allah, Tuhan yang bertajalli dalam kebaikan dan cinta kasih.
- Makassar, Tanjung Bayang, 25 Desember 2019
Kamis, 16 Maret 2023
POP CULTURE DAN BERHALA SIMBOLITAS
Makan hari ini, misalnya. tidak hanya sekedar aktivitas penunjang biologis saja. Bukan lagi untuk pemenuhan Gizi, energi dan semacamnya. Lebih dari pada itu, dengan kita makan. maka, dalam waktu yang bersamaan, ada prestise atau status sosial kita yang ikut menjadi Naik.
Seperti, Makan di MCD dan tempat-tempat sejenis lainnya, Tentu derajat sosialnya berbeda dengan makan di emperan jalan.
Artinya, apa yang kita Makan, dimana kita makan. Pakaian apa yang kita pakai, belinya dimana, Mereknya apa. begitupun dengan Kendaraan, Hp, Make Up, bahkan sampai pada variabel keganteng dan kecantikan, ada standarnya. Padahal semua itu, awalnya hanya untuk pemenuhan Biologis. Tetapi, dari pilihan tempat Makan saja, sudah menunjukkan cara masyarakat sekarang mengindentifikasi kelas sosialnya berada pada posisi apa.
Selain, bukan lagi semacam aktivitas penunjang bagi pemenuhan biologis. Beberapa soal diatas, telah menjadi Semacam ideologi atau budaya Massal. Artinya, Praktek harian kita, standarnya telah men-Tradisi (Membudaya).
Maka, Tak ayal masyarakat kita, menjadi masyarakat Konsumen. Masyarakat yang senang membeli produk apa saja, asalkan hal itu dapat mengangkat status sosial, Gengsi dan Popularitas. Sekalipun, nilai Gunanya (fungsi) sama.
Selain itu juga, aktivitas Harian yang dimaksudkan, hanya sekedar memenuhi fantasi kita, dalam hal ini kita menemukan kenikmatan-kenikmatan tertentu setelah kita makan di MCD, Misalnya, Beli Pakaian di Mall, misalnya. pakai Hp Apple, misalnya.


.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




