Mata indah bola pinpong. Demikian istilah yang populer di era 95-99. sebab matanya "membelalak dan bulat", sehingga Mata Habibie dianggap seperti bola pinpong. Menjabat sebagai menteri beberapa periode di masa orde baru ini dijulang setinggi langit. Teknokrat jebolan Aanchen unversity Jerman, yang bergelar "Mr. Crack" ini dianggap sebagai figur muslim "borjuis" panutan dan dibanggakan.
Suami Ainun besari "Si mata Indah" ini juga di pandang kaum muslim indonesia yang mampu menghijaukan ranah politik indonesia tahun 1990-an. walau badannya pendek tapi otaknya cemerlang, bening sebening bola matanya. Bahkan penyanyi balada Iwan Fals merasa perlu menulis sebuah bait dalam lagunya Guru Oemar Bakrie; "lahirkan otak orang seperti Habibie".
Habibie bahkan di tahbiskan sebagai orang yang berpengaruh dilingkaran Soeharto Pasca kematian ibu Tien Soeharto. Putra Mahkota politik Soeharto, demikian kata Indonesianist William Liddle di jelang pemilu 1998.
Pada era sebelum ia wafat, perbincangan riuh pada Habibie. Kecuali bagi mereka yang iri, dengki, hampir tidak ada cela "Founding Fathers ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) tersebut.
Tapi, mata indah bola pinpong Habibie ini kemudiam kehilangan kebeningannya di era 1990-an, seketika ia menjadi presiden RI setelah lengsernya keprabon Soeharto. Habibie yang di puja setinggi langit di era Orde baru, justru di pojokkan dari segala penjuru mata angin. Bola matanya bak bola pinpong, di plesetkan menjadi pemikiran bulat yang tak punya ujung pangkal. Bulat memang tidak bersegi. mana pangkal, mana ujung.
Terlepas dari semua itu, beliu pernah menjadi Presiden RI yang ke 3. Sang Romeo yang sangat mencintai Julietnya (almarhumah Hasri Ainun Habibie).
Setelah Ainun Besari, belahan Hati Habibie berpulang, Habibie menuliskan Puisi untuk Ainun, istri tercinta yang sangat mengangumkan, seolah itu adalah pendaran rasa yang terdalam, saya mengutipnya secara bebas :
"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena aku tau bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tau itu.
Tapi yang membuatku tersentak demikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagian dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku demikian nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, tubuhku serasa kosong melompong, tak ada isi.
Kau tau sayang, rasanya seperti angin yang tetiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada air mataku yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.
Aku bukan hendak mau mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu, tanpa mereka sadari, kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia sementara kecenderunganku ialah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, kau dariNya dan kembali PadaNya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku.
Selamat jalan, calon bidadari Sorgaku. (B.J. Habibie).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar