Mengenai Saya

Selasa, 13 Juni 2023

BAHARUDDIN YUSUF HABIBIE : Tamasya Pada Tokoh Dan Intelektual Indonesia

 

Mata indah bola pinpong. Demikian istilah yang populer di era 95-99. sebab matanya "membelalak dan bulat", sehingga Mata Habibie dianggap seperti bola pinpong. Menjabat sebagai menteri beberapa periode di masa orde baru ini dijulang setinggi langit. Teknokrat jebolan Aanchen unversity Jerman, yang bergelar "Mr. Crack" ini dianggap sebagai figur muslim "borjuis" panutan dan dibanggakan.

Suami Ainun besari "Si mata Indah" ini juga di pandang kaum muslim indonesia yang mampu menghijaukan ranah politik indonesia tahun 1990-an. walau badannya pendek tapi otaknya cemerlang, bening sebening bola matanya. Bahkan penyanyi balada Iwan Fals merasa perlu menulis sebuah bait dalam lagunya Guru Oemar Bakrie; "lahirkan otak orang seperti Habibie".

Habibie bahkan di tahbiskan sebagai orang yang berpengaruh dilingkaran Soeharto Pasca kematian ibu Tien Soeharto. Putra Mahkota politik Soeharto, demikian kata Indonesianist William Liddle di jelang pemilu 1998.

Pada era sebelum ia wafat, perbincangan riuh pada Habibie. Kecuali bagi mereka yang iri, dengki, hampir tidak ada cela "Founding Fathers ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) tersebut.

Tapi, mata indah bola pinpong Habibie ini kemudiam kehilangan kebeningannya di era 1990-an, seketika ia menjadi presiden RI setelah lengsernya keprabon Soeharto. Habibie yang di puja setinggi langit di era Orde baru, justru di pojokkan dari segala penjuru mata angin. Bola matanya bak bola pinpong, di plesetkan menjadi pemikiran bulat yang tak punya ujung pangkal. Bulat memang tidak bersegi. mana pangkal, mana ujung.

Terlepas dari semua itu, beliu pernah menjadi Presiden RI yang ke 3. Sang Romeo yang sangat mencintai Julietnya (almarhumah Hasri Ainun Habibie).

Setelah Ainun Besari, belahan Hati Habibie berpulang, Habibie menuliskan Puisi untuk Ainun, istri tercinta yang sangat mengangumkan, seolah itu adalah pendaran rasa yang terdalam, saya mengutipnya secara bebas :

"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena aku tau bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tau itu.

Tapi yang membuatku tersentak demikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagian dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku demikian nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, tubuhku serasa kosong melompong, tak ada isi.

Kau tau sayang, rasanya seperti angin yang tetiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada air mataku yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.

Aku bukan hendak mau mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu, tanpa mereka sadari, kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia sementara kecenderunganku ialah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, kau dariNya dan kembali PadaNya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku.

Selamat jalan, calon bidadari Sorgaku. (B.J. Habibie).


Berselang beberapa Masa, Bapak. BJ. Habibie. Lelaki kesayangan Hasri Ainun Besari pun menyusul bidadarinya, Ia berpulang. Bahkan Beberapa bulan lalu, sebelum beliau Kembali kepada Pangkuan Ilahi, ada satu penggal kalimat yang di Ucapkan pak Habibie :

" Saya tidak takut dan gamang menghadapi kematiaan, karena ada Ainun yang menunggu saya di Sorga".

Duhai Cinta..!. 

Akhirnya, Insya Allah mereka "bertemu". Penggalan dialog (yang di rekam beberapa waktu) dalam acara mata Najwa, Trans TV. Najwa Shihab bertanya : Eyang, Dalam Hidup eyang yang begitu panjang, apa penyesalan yang eyang rasakan?.

"Cuman satu. Saya tidak mampu menjaga Ainun. Walaupun begitu, saya yakin, Ainun sedang menunggu saya", begitu jawab Habibie".

"Duhai Cinta yang sedemikian syahdu". Cinta yang begitu kuat.


**

-IA YANG PERNAH DI HINA-


"Entah mengapa, kata seorang kawan, melihat dan mendengar nama si kerempeng itu, keinginan untuk mencacinya muncul seketika!". 

Ada yang akan senantiasa membuat kita tersiksa, yaitu kenangan dan rasa rindu. Apatah lagi, hinaan yang diberikan pada masa lalu, membekas pada masa kini. Lalu, yang kita hina itu "hadir". Kini. Kenangan padanya, terlihat seperti nyata. 

Kemudian, orang yang kita rindukan itu, sebenarnya ingin berkata, "cukuplah saya, jangan kamu lakukan pada masa kalian, pada yang lain. tak cukupkah kalian belajar pada sejarah diriku?.


Tidak perlu memberitahu siapa dirimu. Karena itu tak dibutuhkan  bagi orang yang suka padamu, dan  tak akan dipercaya oleh orang yang membencimu”, begitu Tutur Ali bin Abi Thalib.  

Sejarah bangsa kita, setidaknya setelah merdeka, meninggalkan catatan-catatan yang tak elok untuk diwariskan pada generasi berikutnya. Catatan bagaimana kita pernah "menghina" Presiden. Pemimpin negeri ini. Tentunya, ketika ia menjabat. Habibie salah satunya. 

Saya masih ingat, beberapa bacaan tentang berita reportase sebuah majalah di tahun 1999. Ketika Habibie melangkahkan kaki, di Graha Saba Paripurna MPR. Ketika melangkah, teriakan "huuuu" menggema. Kita akan sepakat mengatakan, teriakan itu bukanlah pujian. Tapi, ejekan. Habibie, tersenyum. Cuek. Suami Ainun Besari ini tetap berjalan santai menuju tempat duduknya.

Lalu, ketika beliau menyampaikan laporan pertanggungjawaban, teriakan cemoohan, tetap bergema, di ruangan terhormat. Ruangan yang merepresentasikan rakyat itu. Walau Habibie melaporkan kinerjanya yang berhasil diberbagai bidang hanya lebih kurang 1 tahun tersebut, khususnya kinerja ekonomi. laporan pertanggungjawabannya ini tetap ditolak. Mayoritas publik gembira. Anggota MPR banyak yang sumringah. Para pimpinan MPR pun sukacita. 

Habibie kemudian memaklumi kondisi politik. Bukan karena hinaan yang diterimanya. Tapi pada ketidakpercayaan publik (konstitusionalitas) tak didapatkannya. LPJ-nya ditolak. Habibie tahu diri. Ia pamit. Kemudian menyepi seumpama resi dari hiruk pikuk politik nasional.

Habibie, "Matanya bulat seindah bola pingpong", demikian penggalan kalimat pujian (mungkin meminjam sebagian syair Iwan Fals : "mata indah bola pingpong", pada Bacharuddin Joesoef Habibie (BJ. Habibie) pada era 1996-1997. Tersebab matanya "membelalak" bulat-menarik, sehingga mata Habibie dianggap seumpama bola pingpong. 

Menteri beberapa periode pada masa Orde Baru ini dijulang - di puji setinggi langit. Teknokrat jebolan Aanchen Universitet Jerman yang bergelar "Mr. Crack" ini dianggap sebagai figur muslim "borjuis" panutan dan dibanggakan. Suami Ainun "si mata indah" Besari ini juga dipandang kaum muslim Indonesia sebagai orang yang mampu "menghijaukan" ranah politik Indonesia era 1990-an. Pokoknya, ayah Ilham dan Tareq Habibie, walau badannya pendek, tapi otaknya cemerlang, bening sebening bola matanya. Bahkan penyanyi balada Iwan Fals merasa perlu untuk menulis satu bait dalam lagunya Guru Omar Bakrie : lahirkan otak orang seperti otak Habibie. Habibie bahkan ditahbiskan sebagai "orang paling berpengaruh" di lingkaran Soeharto pasca kematian ibu Tien. Putra Mahkota Politik Soeharto, demikian kata indonesianist William Liddle di jelang Pemilu 1998. 

Pada era ini, perbincangan terpusat pada Habibie. Kecuali bagi yang iri-dengki, khususnya kalangan militer - maklum Habibie berasal dari kalangan sipil, hampir tak ada cela founding father Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) tersebut. Tapi, "mata indah bola pingpong" Habibie ini (kemudian) kehilangan kebeningan pada era 1999-an, seketika ia menjadi Presiden RI setelah lengser keprabon-nya Soeharto. Habibie yang dijulang tinggi pada masa Orde Baru, justru dipojokkan dari segala mata angin. 

"Bola matanya" yang bak bola pingpong diplesetkan jadi pemikiran bulat yang tak punya ujung pangkal. Bulat, memang tak bersegi. Mana pangkal, mana ujung tak dijumpai. Dan, kebeningan Habibie selama ini berubah drastis menjadi figur yang tidak menarik lagi bagi lawan politiknya. Habibie yang dianggap sebagai Presiden RI pembuka "kran" demokrasi ini, dituding - di hina. Ia salah, mengapa Habibie jadi Presiden.

Demikianlah. Sejarah mengisahkan kisah manusia. Dulu, dipuji julang, kini, dihantam teruk. Dulu, aroma kebaikan terpancar dari seorang figur, kini aromanya tak harum lagi busuk. Karena ia dikalahkan oleh sejarah yang kental dengan nuansa politis, keharuman seorang figur, walau itu sebenarnya ada, justru dihilangkan. Pada sisi lain, ketika zaman dan faktor politik memihak seorang figur, walaupun kejelekannya ada, tapi dihilangkan oleh puja-puji.

Terkadang kita tidak adil. Maka, Tak salah, seorang filosof menukilkan kalimat : “Keberhasilan akan banyak melahirkan ayah kandung. Sedangkan kegagalan, membuat seseorang menjadi yatim piatu!”. 

Seorang kawan bertanya, “bila kita cermati kisah-kisah pemimpin masa lalu, ulama-ulama masa lalu, tokoh-tokoh bangsa masa lalu, catatan-catatan budaya yang dinukilkan dalam hikayat maupun cerita rakyat oleh nenek moyang kita masa lalu. tak kita jumpai kisah jelek-menjelekkan, hantam menghantam, dendam berbalas dendam dan seterusnya. Mengapa berita-berita hari ini membuat bulu kita berdiri tegak - bergidik membaca karat berkaratnya dendam yang bersemayam. Bagaimana menurut anda?”. 

Entahlah. Saya hanya ingat ungkapan antropolog Levi Strauss, bahwasanya manusia itu lebih mirip dengan zamannya dibandingkan dengan nenek moyangnya. 


* Pustaka hayat
* Pejalan sunyi
* Rst
* Nalar pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar