Mengenai Saya

Selasa, 13 Juni 2023

BUYA AHMAD SYAFI'I MA'ARIF

 

31 MEI 1935 - 31 MEI 2021 [ 86 tahun ! ]

Melihat kisah hidup ulama kelahiran Sumpur Kudus Sumatera Barat ini, saya menjadi ingat dengan ungkapan sastrawan yang sekaligus mantan Presiden Republik Ceko - Vaclac Havel - yang pernah berkata. "carilah inspirasi, pada mereka yang sederhana, jernih berfikir dan berani hidup". Bagi saya, beliau ulama.

MENJELANG 86 TAHUN MASIH TENTANG BUYA PROF. AHMAD SYAFI'I MA'ARIF

"Heran saya, mengapa anda fanatik sekali pada ulama kayak Syafi'i Ma'arief", begitulah pesan Messengger Seorang Kawan tahun 2018 silam. 

Baiklah. Satu hal. Saya menghormati Buya Syafi'i. Bukan "fanatik" padanya. Suatu hal yang berbeda. Izinkan saya kembali mempublikasikan Tulisan beberapa bulan lalu. Begini : Sampai detik ini, belum ada alasan bagi saya untuk mengurangi rasa hormat saya pada salah seorang Putra terbaik Bangsa, yang berasal dari Minangkabau asal Sumpur Kudus ini. 

Sejak mahasiswa saya sudah membaca pemikirannya. Bahkan hingga hari ini. Melalui buku-bukunya dan tulisan-tulisannya yang bertebaran di berbagai majalah, media dan Surat Kabar. Lalu anda datang dan mengatakan "mengapa anda menghormati dan menghargai Buya Syafii?". Lalu, apakah saya harus mengagumi si anu si anu si anu begitu?. Saya harus mengutip status-status "luar biasa" dari mereka begitu ?. Memamah berita tanpa kritik sumber  begitu ?.

Nehi bro, Nehi !

Anda menganggap saya memiliki file kosong tentang Buya. Anda menganggap saya tidak menghargai perjalanan panjang kehidupan Buya sepanjang yang saya baca. Saya tidak berasal dari ruang hampa sejarah, bro. Kalau anda tidak suka, silahkan. Anda memperolok-olokkan Buya, silahkan. Tapi jangan anda paksa saya untuk sependapat dengan anda. Saya tulis dengan huruf besar : SAYA MASIH BANGGA DENGAN BUYA SYAFI'I. IA CINTA DENGAN ISLAM SEKALIGUS CINTA DENGAN NEGARA INI. Silahkan anda baca seluruh penggalan hidupnya. 

"Bila hidup habis karena benci, apakah pantas kita menghitung umur", kata Jalaluddin Rumi. Terakhir, Tak usah kita berdebat tentang pemikiran-pemikiran Buya. Ide-ide dan gagasan-gagasan Syafii muda dan Syafii tua. Selain Panjang, Engkau pasti tak paham. 

Mari sama-sama kita baca pernyataan Indra Piliang yang saya kutip dari Twitternya. Setelah itu, bila anda masih ingin menghinanya, silahkan. 

"Keberpihakan Buya Syafi'i Ma'arif terhadap pluralisme adalah bagian dari sejarah hidupnya. Ia sejak kecil tinggal dengan ibunya, hidup bersama eteknya. Sampai Buya Syafi'i Maarif jadi tokoh nasional, kampungnya pun belum di aliri listrik. Hampir sama dengan kampung masa kecil saya, listrik ada tahun 2002.

Buya Syafi'i Ma'arif terlambat masuk bangku kuliah, terlambat jadi Sarjana Muda, dll, karena membanting tulang sebagai anak rantau. Ia juga seorang mekanik. Riwayat hidup Buya Syafi'i Ma'arif tidak dibentuk lewat perkoncoan, percaloan, apalagi perbualan politik. Ia andalkan delapan kerat tulangnya.

Buya Syafi'i Ma'arif tidak menghamba kepada konglomerat manapun. Ia lebih senang hidup sebagai seorang guru, seorang pendidik, seorang pecinta ilmu. Apa setelah jadi Ketum PP Muhammadiyah, Buya Syafi'i Ma'arif lantas pindah jadi warga DKI Jakarta?. Apa terompahnya sering terlihat di pintu Istana?. Kesederhanaan Buya Syafi'i Ma'arif ini mirip dengan beberapa tokoh yang saya kerap kali saya tulis, kesederhanaannya terlihat, bahkan rumahnyapun tiris itu. Apa Buya Syafi'i Ma'arif punya rumah di area-area elite Jakarta?. Apa Buya punya istri simpanan?. Apa Buya naik mobil- mobil mewah?. Apa tubuhnya penuh lemak?.

Meme-meme yang dibuat untuk Buya Syafi'i Ma'arif, menurut saya sangat tidak pantas, tidak etis, amoral!. Meme-meme itu seperti serangan kaum thogut kepada orang-orang yang berprinsip.

Sudah berapa ratus anak-anak muda negeri ini yang dapat beasiswa atas tandatangan dan rekomendasi Buya Syafi'i Ma'arif?. Apa ia sosok, orang-orang loba dan tamak?. Jengkelnya saya bukan kepalangan dengan cara-cara buruk dan jauh lebih busuk dari berjenis serangan terhadap Buya Syafii Ma-arif. Mau saja diadu domba orang-orang tak berakal budi!.

Buya Syafi'i Ma'arif hanya memberikan pendapatnya. Ia juga bukan tipikal saksi-saksi ahli yang dibayar ratusan juta di muka sidang-sidang sengketa pilkada!. Apa Buya Syafi'i Ma'arif pernah terlihat kongkow-kongkow di hotel-hotel mewah, dikawal orang-orang bersafari dan perempuan-perempuan berparfum menyengat hidung, bermewah-mewah?.

Apa Buya Syafi'i Ma'arif pernah terbaca muncul dalam iklan-iklan untuk bepergian ke tanah suci; dengan biaya mahal, kursi eksekutif, hotel bintang lima?. Apa kaki Buya Syafi'i Ma'arif terlihat jarang menyentuh tanah, dikawal dari satu forum ke forum lain, naik helikopter, dengan manajemen eksekutif?. Apa Buya Syafi'i Ma'arif pernah terdengar menentukan tarifnya, ketika diundang ceramah agama atau ilmu pengetahuan, di suatu tempat?. Apa Buya Syafi'i Ma'arif dengan mudah menyimpan nomor-nomor telephone para pejabat pusat dan daerah, lalu dengan mudah juga memenuhi undangan-undangan yang bukan tabligh ilmu?.

Sejak kapan berbeda pendapat adalah bagian dari upaya membunuh karakter seseorang, menyatakan kebencian, hingga menghina seseorang di negeri ini?. 

Tirulah sikap Buya HAMKA yang sengit berdebat dengan "Mangaradja Onggang Parlindungan" tentang Tuanku Rao. Walau keduanya perang opini, mereka tetap satu shaf!!!. Buya HAMKA dan Mangaradja Onggang Parlindungan yang 'perang' dengan menulis buku tentang Tuanku Rao itu, sering terlihat sholat berdua di Mesjid Al Azhar!.

Tirulah Buya M Natsir (Masyumi) dan IJ Kasimo (Partai Katolik) yang saling mengantar pulang, saling menggendong cucu, setelah debat di Konstituante. Apa debat yang paling hebat pasca kemerdekaan, selain soal azas negara Indonesia?. Apa tokoh-tokohnya saling menghasut setelah debat seru di mimbar?.

Singa-singa podium yang muncul dalam sidang-sidang Dewan Konstituante itu, apa saling menebar isu isu negatif tentang lawan-lawan debat yang berbeda dengannya?. Jika almarhum Buya HAMKA masih hidup, saya yakin, beliau akan sangat resah dengan cara-cara tidak beradab yang digerakkan untuk memusuhi Buya Syafi'i Maarif. 

Buya Syafii Maarif tidak punya laskar, tidak punya pasukan berani mati, tidak punya pengawal bersenjata. Ia tak akan membalas cacian orang-orang. Buya Syafi' Maarif tidak akan marah, reaktif, dengan langsung melaporkan pihak-pihak yang membuat hinaan-hinaan yang disebarkan, sehingga viral di medsos. Berkacalah di cermin, lalu lihat wajah anda sendiri, sebelum dengan mudah memberi sinyal ke publik betapa anda lebih baik dari Buya Syafi'i Maarif.

Pernyataan Indra Piliang ini dikomentari oleh aktivis Akhmad Sahal. "Salut dengan kultwit pembelaan Bung @IndraJPiliang terhadap Buya Syafii Maarif, Sosok Guru Bangsa yang dicacimaki oleh para pembencinya," ujarnya.

**

Suatu waktu, Buya Prof Ahma Syafii Maarif pernah berpesan :

"Pelajari riwayat pendiri negara, Agar tahu. kenapa, bangsa dan negara kita harus merdeka.

Esok, jadikanlah politik untuk menegakkan keadilan, bukan mata pencaharian.

Harus mampu bergaul dengan siapa saja. bahkan, yang mengaku tidak beriman sekalipun.

Jadilah ikan laut, hidup di air yang asin. tapi, dagingnya tidak ikut asin.

Sebut "saya Muslim", jangan kelompok tertentu agar membuat semua nyaman.

Berkemajuan adalah memperbanyak kawan dan meniadakan musuh.

Di semua unit peradaban. minoritas yang berkualitas adalah penentu.

Banyak membaca, banyak merenung, banyak menulis.

Hidupkan Islam, bangsa, dan kemanusiaan. Jangan hanya organisasi.

MEI - Di Minggu terakhir bulan Mei 1935, Buya Prof  Dr. Ahmad Syafi'i Ma'arief, lahir. Di Minggu terakhir bulan Mei 2022, beliau wafat.

"Satu lagi puspa terpetik, meninggalkan wangi yang sulit terhapuskan dari nafas-nafas bangsa. Semoga kuncup-kuncup yang lain tumbuh lagi, agar anak cucu kelak masih bisa merasakan bahwa Nusantara adalah taman" -- [ Puisi Ammar Abdillah, 2019].


* Pustaka Hayat

* Rst

* Pejalan Sunyi

* Nalar pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar