Mengenai Saya

Selasa, 13 Juni 2023

BUYA HAMKA - BERGUMUL DALAM BADAI

 

"Orang-orang besar memiliki cara yang indah untuk meminta maaf dan saling memaafkan".

Suatu hari, datanglah seorang mahasiswi IKIP yang memperkenalkan dirinya sebagai putri Sulung dari Pramoedya Ananta Toer, menghadap Buya Hamka.

"Oh, anaknya Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?", tanya Hamka ramah. Anak perempuan Pramoedya tersebut mengajak laki-laki, seorang keturunan Cina.

Kepada Hamka, Si perempuan kemudian memperkenalkan diri. Namanya Astuti. Sedangkan yang laki-laki bernama Daniel Setiawan. Astuti menemani Daniel menemui Buya Hamka untuk masuk Islam. sekaligus, mempelajari agama Islam. Daniel ingin menjadi seorang mualaf. Menurut Astuti, selama ini, Daniel adalah seorang non muslim. Ayahnya Pramoedya, tidak setuju, jika anak perempuannya yang muslimah menikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan agama. Setelah Astuti, mengutarakan maksud kedatangannya, serta bercerita latar belakang hubungannya dengan Daniel. tanpa ragu, sedikit pun, Hamka meluluskan permohonan keduanya.

Daniel Setiawan, calon menantu Pramoedya Ananta Toer, langsung dibimbing oleh Hamka membaca dua kalimat syahadat. Hamka lalu menganjurkan Daniel untuk berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam dengan Hamka. 

Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramoedya, dan calon menantunya itu, Hamka sama sekali tidak menyinggung bagaimana sikap Pramoedya terhadapnya, di masa dulu. Tanpa dendam, Hamka justru memuji karya Pram, antara lain Keluarga Gerilya dan Subuh. Anak perempuan Pram itu akan menikah dan meminta bantuan Hamka untuk meng-islam-kan calon suaminya. Permohonan ini disambut gembira oleh Hamka. Astuti, anak Pramoedya itu, lantas tidak bisa menahan ledakan tangisnya karena sikap manis dari orang yang pernah "diganyang" ayahnya. Alasan Pram mengutus calon menantunya menemui Hamka, cukup unik.

"Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya, yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki yang seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka," ujar Pram.

Menurut Taufik Ismail dalam Pengantar Buku-Ayah, karya Irfan Hamka, "Secara tidak langsung, dengan Pramoedya mengirim calon menantunya, ditemani anak perempuannya kepada Hamka, adalah bentuk permintaan maaf atas sikapnya yang telah memperlakukan Hamka selama ini. Hamka juga telah memaafkan Pramoedya dengan bersedia membimbing dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantunya".

Ditempat Yang lain, Tanggal 16 Juni 1970, Buya dihubungi Kafrawi, Sekretaris jendral Departemen Agama. Pagi-pagi, sekjen ini datang ke rumah Buya. Kafrawi membawa pesan dari keluarga mantan Presiden Soekarno untuk Buya. Pesan itu, pesan terakhir dari Soekarno.

Begini pesannya, “Bila aku mati kelak. Minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku."

Hamka lansung bertanya pada sang ajudan: Dimana?, Dimana beliau sekarang?. Dengan pelan di jawab. Bapak sudah wafat Di RSPAD, Jenazah sudah di bawa ke Wisma Yoso.

Mata Sang Buya, Sayu dan berkaca-Kaca. rasa rindunya ingin bertemu tokoh besar ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa bicara. Hanya keikhlasan dan pemberiaan maaf yang bisa di berikan Hamka pada Soekarno. Tanpa ragu, pesan yang dibawa utusan itu dilaksanakan oleh Hamka. Setibanya Hamaka di Wisma Yaso bersama penjemputnya. Terlihat di Wisma Yaso itu, telah banyak pelayat berdatangan. Penjagaan pun sangat ketat. Shalat jenazah baru akan dimulai menunggu kehadiran Buya. 

Melihat jenazah Soekarno, sahabatnya, di masa muda. air matanya mengalir. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa. Ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa. Dosa orang yang memasukkannya ke penjara dan disiksa setiap hari. Untaian doa yang lembut dan tulus di panjatkan saat menjadi Imam shalat Jenazah presiden pertama indonesia.

Di hadapan jasad Soekarno, dengan takbir, ia mulai memimpin sholat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno. Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling. Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya kepada Buya. ”Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”.

”Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik,” jelas Buya tanpa ragu.

Sedangkan Saat Mohammad Yamin, Dalam sidang Konstituante pada 1957, Hamka memberikan pernyataan tentang Pancasila sebagai dasar yang sesat sehingga membuat Muhammad Yamin marah dan membencinya. Namun, ketika Yamin sakit pada 1962, Yamin meminta Hamka "untuk dapat mendampinginya" dan "menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya". sakit keras, Ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka. 

Dengan segala kerendahan Hati, dan penyesalan pada Ulama besar Ini, Moh Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya. dalam kesempatan nafas terakhirnya, Moh Yamin dengan ucapan kalimat Tauhid yang di tuntun oleh Hamka.

Presiden Soekarno pernah menyerang ulama besar di masanya "Buya Hamka", bersama Moh Yamin. Soekarno melalui Headline beberapa media cetak asuhan Pramoedya (pejuang Komunisme-Copaster) melakukan pembunuhan karakter atas diri Hamka, atas tuduhan merencakan makar yang tidak pernah terbukti. tapi, tidak sedikitpun fokus Hamka bergeser dalam menegakkan amar Ma'ruf nahi Mungkar. Sebab, terlalu kuatnya karakter Hamka di tahun 1964. Soekarno tidak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal minangkabau ke penjara tanpa melalui persidangan.

Kedekatan Hamka terhadap partai Masyumi menyebabkan Hamka ikut menjadi bulan-bulanan dari PKI. Hamka diserang oleh surat kabar Bintang Timoer dalam rubrik "Lentera" yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer dan Organisasi sayap PKI. Lekra menuduhnya sebagai "plagiator " dan pemerintah waktu itu menuduhnya sebagai orang yang akan berusaha melakukan makar. Pada September 1962, Lekra menuduh novel Hamka yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah jiplakan dari karya pengarang Prancis Alphonse Karr Sous les Tilleus. Novel Sous les Tilleus diterjemahkan oleh Mustafa Lutfi Al-Manfaluti ke bahasa Arab. Pada tahun 1963, novel edisi Arab ini diindonesiakan oleh A.S Alatas dengan judul Magdalena.

Keadaan memburuk bagi Hamka ketika Panji Masyarakat memuat artikel Muhammad Hatta yang berjudul "Demokrasi Kita". Setelah penerbitan Panji Masyarakat berhenti Agustus 1960, tulisannya satu setengah juz dimuat dalam majalah Gema Islam sampai akhir Januari 1962, yaitu dari juz 18 sampai juz 19. Ceramah-ceramah Hamka, tiap subuh selalu dimuat secara teratur dalam majalah hingga Januari 1964.

Pada 27 Januari 1964, bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1383 H, Hamka dijemput di rumahnya, ditangkap dan dibawa ke Sukabumi. Atas  dituduh terlibat dalam perencanaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Selama 15 hari ditahan, ia diintrogasi dalam pemeriksaan yang digambarkannya, "tidak berhenti-henti, siang dan malam, petang dan pagi. Istirahat hanya ketika makan dan sembahyang saja." Melewati pemeriksaan yang kejam. Hamka, sempat berpikir untuk bunuh diri. Karena jatuh sakit, Hamka dipindahkan dari tahanan ke RS Persahabatan. Selama perawatan di rumah sakit ini, Hamka meneruskan penulisan Tafsir Al-Azhar. Ia mengaku wajah-wajah jemaahnya yang terbayang ketika ia mulai mengoreskan pena untuk menulis tafsir.

Hamka ditetapkan sebagai tahanan politik selama dua tahun 4 bulan lamanya, sejak 28 Agustus 1964. diikuti tahanan rumah, selama dua bulan dan tahanan kota dua bulan. apakah lantas ia Bersedih, mendendam dan mengutuk-mengutuk bahwa betapa jahatnya Soekarno padanya?.  Tidak, Hamka justru bersyukur bisa masuk penjara. di dalam terali besi, ia punya banyak waktu untuk menyelesaikan 30 Juz tafsir Al-Qur'an yang monumental, di kenal dengan Tafsir Al-Azhar.

Buya, tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakitinya. Bagi Buya, dendam itu termasuk dosa. Ia merasa semua itu anugerah dari Allah kepadanya. Bila bukan dalam tahanan, ia tidak mungkin ada waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikannya Tafsir Al-Qur'an tersebut.

Orang-orang besar memang memiliki cara mereka sendiri untuk meminta maaf kepada mereka yang pernah mendzaliminya. Demikian sebaliknya yang pernah terdzalimi, mereka punya hati seluas samudera untuk memaafkan. Apapun bentuknya, cara mereka meminta maaf sangatlah indah.

Ternyata, Tuhan masih sayang pada ketiga tokoh yang memenjarakan Buya Hamka, yakni ; M.Yamin,  Pramoedya dan Soekarno. Kekejian mereka pada Buya Hamaka tidak harus di selesaikan di akhirat, Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di dunia.

Barangkali kita tidak bisa seperti mereka, sebab level mereka untuk memaafkan itu sudah tinggi. Tapi, tidak salah menjadikan mereka sebagai inspirasi.

Saya kerap tertawa, jika membaca linimasa dan berita-berita di media mainstream lainnya. Ada orang, karena beda orientasi politik dan pemahaman. di dunia maya di unfriend, dan di dunia nyata tidak lagi bertegur sapa. Nampaknya, banyak diantara kita yang telah lupa bahwa pernah memiliki Hati ajaib. sewaktu kanak-kanak dahulu. Tidak begitu pusing dengan perbedaan yang penting bermain. Saling memaafkan itu menjadi soal yang gampang, tinggal mengaitkan kelingking, masalah selesai. Orang dewasa, termasuk saya, mungkin sudah karatan.

Nb ; Referensi  Sebagian dikutip dari buku ; Ayat-ayat yang disembelih- ANAB AFIFI.

 **

Nama Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, populer dengan nama penanya adalah Hamka. Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun). Ia adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia berkarir sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. 

Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan. sementara, Universitas Moestopo Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Pada 5 April 1929, Hamka menikahi Sitti Raham. Ia menjadi ayah dari dua belas anak, dua di antara mereka meninggal, saat masih balita. Sampai Mei 2013, Hamka memiliki 31 cucu dan 44 cicit. Ketika menikah dengan Sitti Raham, Hamka berusia 21 tahun, sementara Raham masih berusia 15 tahun. Raham adalah anak dari salah seorang saudara laki-laki ibunya. Setelah Raham meninggal pada 1 Januari 1972, Hamka menikahi Sitti Khadijah asal Cirebon pada Agustus 1973.

Dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka. Rusydi Hamka, mengisahkan saat-saat keluarga mereka melewati masa-masa kemiskinan. "Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa berganti-ganti. karena, di rumah hanya ada sehelai kain," begitu kata anaknya Rusydi. 

Hamka dikenal sebagai seorang humanis yang rendah hati. membawa khutbah dan pidato yang memikat. Ceramah-ceramahnya dengan pilihan kalimat-kalimat yang santun telah mengikat perhatian umat di berbagai pelosok dearah. Abdurrahman Wahid menulis, penyampaian Hamka dalam masalah keagamaan "sangat menawan" dan "menghanyutkan". Penulis Malaysia Muhammad Uthman El Muhammady mencatat. Hamka merupakan pemikir yang berpegang teguh pada pendapat yang diyakininya, tetapi "mengutarakan argumennya dengan gaya yang elegan". Ia mengutamakan silaturahmi ketimbang meributkan perbedaan yang tidak berprinsip. Shobahussurur dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengutip bagaimana penerimaan Hamka terhadap perbedaan paham dalam perkara cabang agama. 

Ketika Abdullah Syafii hendak menyampaikan khutbah di Masjid Agung Al-Azhar, Hamka mempersilakan azan di masjid itu dilakukan dua kali sebagaimana tradisi di kalangan Nahdatul Ulama (NU). Dalam perjalanan di kapal bersama Idham Cholid yang Ketua PBNU, Hamka mengimami salat Subuh dengan membaca doa qunut karena jamaah di belakangnya adalah Idham Cholid. Pada Ramadhan pertama setelah Masjid Al-Azhar dibuka, Hamka terlebih dulu menanyakan pilihan jamaah untuk shalat Tarawih dan Witir apakah 11 atau 23 rakaat.

Menurut putra ke-5 Hamka. Irfan, Hamka berusaha menghindari konflik dengan siapapun. Namun, dalam masalah aqidah, "Ayah memang tidak pernah bisa berkompromi. Tapi, dalam masalah-masalah lain, Ayah sangat toleran." Selain memilih mengundurkan diri sebagai Ketua MUI dibandingkan mencabut fatwa keharaman merayakan Natal bagi umat Islam sebagaimana tuntutan pemerintah. 

Hamka menolak menghadiri pertemuan ramah-tamah dengan Paus Paulus VI ketika berkunjung ke Indonesia pada 3–4 Desember 1970. "Bagaimana saya bisa bersilaturahmi, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?". Meskipun demikian, menurut Irfan pula, Hamka masih mengucapkan selamat Natal kepada dua tetangga Kristen-nya yang bernama Ong Liong Sikh dan Reneker saat tinggal di Kebayoran Baru.


**

-MUHAMMADIYAH-

Setelah tiga bulan menikah, Malik bersama istrinya pindah ke Padang Panjang. Dalam kepengurusan Muhammadiyah, ia menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah Padang Panjang dan merangkap sebagai pimpinan Tabligh School, setingkat madrasah tsanawiyah yang diadakan Muhammadiyah. Sebagai wadah pembentukan kader-kader Muhammadiyah. mata pelajaran Tabligh School berkisar tentang kepemimpinan, strategi dakwah, dan penyebaran dakwah Muhammadiyah. Malik mengajar bersama Sutan Mansur dan Sutan Mangkuto. Caranya mengajar dianggap baru, berbeda dengan yang lain. Salah seorang muridnya, Malik Ahmad kelak menjadi salah satu pimpinan Muhammadiyah.

Ketika diadakannya Kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo pada awal 1929, Malik datang sebagai peserta. Sejak itu, ia tidak pernah absen menghadiri Kongres Muhammadiyah berikutnya. Dalam kunjungannya di Solo, ia bertemu dengan tokoh pimpinan Muhammadiyah, Fakhruddin. Hamka menyebut Fakhruddin sebagai salah seorang yang mempengaruhi jalan pikirannya dalam agama. "Keberanian dan ketegasannya menjadi pendorong bagi saya untuk berani dan tegas pula." Dalam perjalanannya di Bandung, Hamka bertemu A. Hassan dan Mohammad Natsir. Ketika Muhammadiyah mengadakan kongres di Bukittinggi pada 1930, Malik berpidato tentang "Agama Islam dalam Adat Minangkabau". 

Dalam kongres yang bersifat nasional, baru Hamka sebagai pembicara yang mencoba mempertautkan adat dengan agama. Pada kongres Muhammadiyah ke-20 tahun berikutnya di Yogyakarta, Malik menyampaikan pidato mengenai perkembangan Muhammadiyah di Sumatera. Ia mampu memukau sebagian besar peserta kongres yang hadir. Pidatonya membuat banyak orang yang menitikkan air mata. Pada 1931, usai membuka cabang Muhammadiyah di Bengkalis, ia dipercayakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mempersiapkan Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar. 

Selama di Makassar, Hamka sempat mengeluarkan majalah Islam Tentera sebanyak empat edisi dan majalah Al-Mahdi sebanyak sembilan edisi. Keberadaan Hamka di Makassar dimanfaatkan oleh pimpinan Muhammadiyah setempat. Buya mendirikan Tabligh School yang serupa di Padang Panjang. Menggantikan sistem pendidikan tradisional, Tabligh School menawarkan pola pendidikan baru secara modern dan sistematis dengan mengambil model pendidikan barat, tanpa melepaskan diri dari nilai-nilai agama. Sepeninggal Hamka pada 1934, Tabligh School di Makassar diteruskan menjadi Muallimin Muhammadiyah di bawah asuhan Muhammadiyah. Dari pergaulannya dengan masyarakat Makassar, ia mendapat inspirasi dalam menulis novelnya kelak, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.


* Pustaka Hayat

* pejalan sunyi

* Rst

* Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar