Ahmad bin Miskin, adalah seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah - Irak, pernah bercerita ; Ahmad pernah di uji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, ia sama sekali tidak memiliki apapun. Sementara ia harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-harinya. Maka, ia pun bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Ia menyusuri Jalan, mencari orang yang bersedia membeli rumahnya. Bertemulah Ahmad dengan sahabatnya, Yaitu Abu Nashr dan Ia ceritakan kondisi yang sedang melandanya. Lantas, Abu Nashr memberikan 2 potong Roti dan berkata, "Berikanlah makanan ini kepada keluargamu".
Di tengah perjalanan pulang, Ahmad berpapasan dengan seorang perempuan fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua potong roti yang Ia bawa. Dengan memelas dia memohon, "Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan".
Sementara itu, si anak menatap polos dengan tatapan yang tak akan pernah ia lupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikirannya dalam khayalan ukhrowi. Seolah-olah surga turun ke bumi menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya dengan mahar mengenyangkan anak yatim dan ibunya.
Tanpa ragu sedetikpun, Ahmad meyerahkan semua yang ada di tangannya, "Ambillah, beri dia makan", kata Ahmad pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham yang ia miliki. Sementara di rumah, keluarganya sangat membutuhkan makanan itu. Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecil pun tersenyum indah bak purnama. Ahmad meninggalkan mereka berdua dan melanjutkan langkah gontainya.
Sementara beban hidup terus bergelayutan di pikirannya. Sejenak, ia menyandarkan tubuhnya di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencana menjual rumah. Dalam posisi seperti itu, tetiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatanginya, "Hei, Abu Muhammad kenapa engkau duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya.
"Subhanallah! dari mana datangnya?" jawab ahmad, kaget.
Abu Nashr, Karib kerabatnya melanjutkan ceritanya, "Tadi ada pria datang dari Khurazan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta", ujarnya.
"Terus?”, tanya ahmad keheranan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashrah ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas, dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu, dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit - sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan. dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu. Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya."
Dengan perubahan drastis nasib hidupnya ini, Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya. Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisannya. Sebagai bentuk rasa syukur. Segera Ia cari perempuan faqir dan anaknya tadi. Ahmad menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup. Ia pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal shaleh. Adapun hartanya, terus bertambah melimpah ruah.
Tanpa sadar, Ia merasa takjub dengan amal shalehnya. Ahmad merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam dirinya, bahwa namanya mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang-orang shaleh.
Suatu malam, Ahmad tertidur dan bermimpi. Ia melihat, dirinya tengah berhadapan dengan hari kiamat. Ia juga melihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain. Ia juga melihat, tubuh mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya. Bahkan ia melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya, beban besar seukuran kota Bashrah. Isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan. Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan dan tiba gilirannya untuk perhitungan amal.
Seluruh amal buruknya ditaruh di salah satu sisi timbangan, sedangkan amal baiknya di sisi timbangan yang lain. Ternyata amal buruknya jauh lebih berat daripada amal baiknya. Tapi, ternyata perhitungan belum selesai, mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah ia lakukan. Namun alangkah ruginya Ahmad. Ternyata di balik semua amal itu terdapat "nafsu yang tersembunyi". Nafsu tersembunyi itu adalah riya - ingin dipuji. Merasa bangga dengan amal shalehnya. Semua itu membuat amalnya tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tak ada satupun amalnya yang lepas dari nafsu-nafsu itu.
Ahmad putus asa. Ia yakin akan binasa. Ia tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka. Tetiba, Ia mendengar suara, "Masihkah orang ini punya amal baik?". "Masih", jawab suara lain. Masih tersisa ini.
Ahmad pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?. Ia berusaha melihatnya. Ternyata, itu hanyalah dua potong roti isi manisan yang pernah Ia sedekahkan kepada perempuan fakir dan anaknya. Habis sudah harapannya. Sekarang ia benar-benar yakin akan binasa sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkannya?. Sedangkan dulu ia pernah bersedekah 100 dinar (100 dinar = +/- 425 gram emas = Rp 250 juta), dan itu tidak berguna sedikit pun. Ia merasa benar-benar tertipu habis-habisan.
Segera dua potong roti itu ditaruh di timbangannya. Tak di Sangka, ternyata timbangan kebaikannya bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun. Sampai-sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekannya. Tak sampai disitu, ternyata masih ada lagi amal baiknya, Yaitu berupa air mata perempuan faqir yang mengalir saat Ia memberikan sedekah, Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikannya. Ahmad yang kala itu lebih mementingkan perempuan faqir dan anaknya dibanding keluarganya sendiri.
Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baiknya semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya ia mendengar suatu suara berkata, "Orang ini selamat dari siksa neraka"..!
(Sumber ; Ar-Rafi’i dalam Wahyul Qalam, 2/153-160).
Masih adakah terselip dalam hati kita nafsu ingin di lihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita?. Jangan pernah bersandar pada amal yang telah kita lakukan. Sebab dari ketertipuan sikap bersandar kepada amal secara berlebihan, akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, riya dan akhlak buruk kepada Allah. Orang yang melakukan amal ibadah tak akan pernah tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak.
Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hambaNya. Dia Maha Kaya tidak butuh kepada makhluk-Nya. Teruslah mengerjakan amal shaleh sebanyak-banyaknya. Tapi jangan merasa diri paling sholeh, sebab amal belum cukup mengantarkan kita ke surga tanpa Rahmat dan Kasih sayang dari Allah. Astaghfirullahal 'adzhiim. Ampunilah kami yaa Raab jika di hati kami masih ada rasa bangga, ujub diri terhadap amal-amal kami.
**
Setali tiga Uang dengan Ahmad Si Miskin. Ada Juga riwayat tentang Tsa'labah. Riwayat Tsa’labah seolah tercermin dalam ayat suci Al Qur'an, Q.S. at-Taubah ayat 75-77.
Sahdan tersebutlah kisah seseorang yang sangat miskin pada masa kerasulan. Betapa miskin orang ini, sehingga baju yang dipakainya harus bergantian dengan sang istri. Ia adalah "orang termiskin di dunia," kata lagu dangdut Hamdan ATT puluhan tahun silam, "Jangankan gedung, gubuk pun aku tak punya. Jangankan permata, uang pun aku tiada", ratapan Hamdan ATT ketika Indonesia di ambang krisis moneter yang mengerikan. Ia menjalani kemiskinannya dengan setia.
Tekun ia bersimpuh pada setiap perkumpulan yang di dalamnya ada Nabi Muhammad SAW yang gemar bercanda itu. Di mana pun Nabi Muhammad berada, orang termiskin di dunia tersebut selalu berada pula di sana, dengan tekun dan gembira mendengarkan Nabi Muhammad berkata-kata. Bahkan ia tahu jam dan hari kapan Nabi Muhammad selalu berada di suatu tempat dan ia sabar menanti hanya untuk bertemu beliau.
Konon si orang termiskin di dunia itu bernama Tsa’labah. Namanya begitu terkenal dalam khazanah keagamaan Islam. Hingga pada suatu hari dan entahlah kenapa harus pada suatu hari. Tsa’labah menemui Rasul. Ia mengungkapkan sesuatu yang selama ini dipendamnya.
"Ada apa gerangan, wahai Tsa’labah?", tanya Baginda Nabi. "Begini, ya Rasul. Jujur saja, selama ini hamba selalu mengikuti engkau, mendengarkan apa pun yang engkau sampaikan dengan sebaik-baiknya. Namun ada yang masih mengganjal dalam diri hamba," jawab Tsa’labah begitu santun, dengan sikap takzim yang mendalam.
"Apa yang mengganjal dalam hatimu, wahai Tsa’labah?"
"Anu. Begini. Anu, ya Rasul. Anu.. hamba merasa sudah bosan menjadi orang miskin. Ke mana-mana selalu direndahkan orang, kesulitan makan, bahkan sehelai dua helai baju harus bergantian dengan istri dan anak-anak hamba. Hamba ingin merubah hidup. Hamba ingin menjadi kaya harta, agar hamba bisa menyejahterakan anak-istri hamba, serta hamba berikrar akan menolong atau meringankan kesulitan orang-orang miskin dan yang mengalami kesusahan atau sahabat dan siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Hamba akan menjadi hamba yang baik, yang gemar berbagi, bahkan akan berkorban demi mengatasi kesulitan sahabat dan orang-orang yang mengalami kesusahan. Itu hanya dapat hamba lakukan jika hamba sudah kaya raya."
Rasul terdiam. Lalu ia bersabda dengan kesejukan kata-kata yang tak pernah dapat terjelaskan dengan diksi para penyair dari abad ke abad, "Wahai Tsa’labah, sahabatku yang baik hati. Untuk menjadi seorang dermawan, tidak wajib kaya dulu. Engkau bisa berbagi meski engkau bukan orang kaya. Miskin dan kaya hanyalah ujian hidup. Tetapi yang paling penting adalah kerja keras, upaya, dan hati yang lapang menerima segalanya dengan syukur, serta sikap gagah berani menghadapi kenyataan."
"Ampun, ya Rasul. Apa yang engkau sabdakan, benar belaka. Tapi hamba memohon kepada engkau, sudi kiranya engkau mendoakan hamba menjadi orang yang kaya raya. Doa Paduka pasti akan dikabulkan Allah."
"Tsa’labah, apakah engkau tidak ingin menjalani hidup seperti Nabi-Nabi? Mereka tidak harus kaya harta, tetapi hati mereka lapang. Sehingga kaya dan miskin dapat mereka lampaui dengan kerja keras dan keteguhan hati. Meski seorang Nabi sepertiku ini, sangat bisa menyuruh gunung menjadi emas-permata. Tapi itu tidak dilakukan, karena kerja keras dan rasa syukur telah melewati sebanyak apa pun emas-permata. Aku berharap engkau mengerti maksud ucapanku ini."
"Ampun, Paduka. Hamba mengerti. Tapi hamba akan menjadi lapang dada dan menjadi orang yang mengerti penderitaan sesama jika hamba kaya harta". Tsa’labah mendesak Kanjeng Nabi.
"Tidak, Tsa’labah. Jika engkau kaya harta, aku khawatir engkau menjadi bakhil. Aku khawatir engkau akan kehabisan waktu bertegur sapa dengan sahabat dan saudaramu, karena engkau tak berdaya ditelan kesibukan. Aku cemas, kau akan menjadi orang yang sukar diajak berbicara, dan menjadi orang yang gemar menutup diri serta selalu mencari pembenaran diri dengan selalu mengungkapkan dan menyesali cacat orang lain. Aku khawatir semua orang tidak pernah ada yang cocok bersahabat denganmu, lantaran sebenarnya hatimulah yang rusak, karena silau pada materi dan memuja kepuasan diri sendiri." Tatapan mata Rasulullah berkilau seolah permata, di dalamnya menyimpan kecemasan yang dalam akan nasib hamba-hamba yang dicintainya sepenuh jiwa.
Tapi, Tsa’labah kembali menemui Rasul pada waktu-waktu yang lain, menyampaikan keinginannya, agar Rasul berkenan meminta kepada Allah untuk memberikan kekayaan harta benda pada dirinya. Hingga pada sekali waktu, Rasul yang hatinya selalu luluh melihat penderitaan itu, berkenan pada Tsa’labah - "Baiklah jika itu keinginanmu, sahabatku yang baik. Aku akan minta kepada Allah, agar semua kerja yang engkau kerjakan menjadi sebab kau kaya harta melimpah-limpah. Tapi aku hanya minta satu hal. Jika kelak kau kaya harta, jangan lupa pada asalmu. Jangan menjadi bakhil. Jangan menjadi pendusta," jawab Rasul.
Pada kedua mata Rosulullah yang bening, ada air mata yang tertahan, pada tepi kedua matanya, air mata itu nyaris saja terjatuh. Beliau selalu cemas pada siapa saja sahabatnya, lantaran segala gelar kerasulannya selalu beliau kalahkan demi cintanya yang tulus pada siapa pun.
"Pulanglah, sahabatku. Bekerjalah."
Maka pulanglah Tsa’labah dengan hati yang gembira. Semangatnya semakin kuat. Ia bekerja, mengembangkan peternakannya. Hingga tak berselang lama-bahkan seolah ajaib, tak sampai 5 tahun, ia menjadi OKB alias orang kaya baru. Ternaknya nyaris menyesakkan kota tua Madinah. Sebagai orang kaya baru, namanya terkenal di mana-mana. Apa pun yang ia lihat, ia suka, langsung dibelinya. Apa yang dicemaskan Nabi terjadi, ia menghamburkan uangnya guna memuja kepuasan dirinya sendiri. Sedang pada orang lain, ia bakhil. Apa yang dikeluarkan sebagai pemberian, selalu ia perhitungkan keuntungannya dan menyimpan tujuan-tujuan. Kabar itu sampai kepada Baginda Nabi.
Nabi agung itu memang sangat membenci kebakhilan dan melawannya. Namun pada si pelaku, beliau lebih menaruh rasa iba yang mendalam. Beliau iba, lantaran kebakhilan akan memusnahkan kemujuran dalam diri seseorang, kasih-sayang-Nya akan dicabut dari kehidupan si bakhil. Meskipun si bakhil itu meminum air sebanyak-banyaknya, rasa dahaga tak pernah pergi dari tenggorokannya. Sehingga bermilyar-milyar liter air yang ia miliki dan ia minum, tak dapat menyelesaikan rasa haus dari dirinya. Kemujurannya secara perlahan dan pasti, menjadi celaka dan celaka itu akan menimpa pada dirinya, anak-anaknya, atau orang-orang yang dicintainya.
Nabi menangis. Tangis yang selalu ia rahasiakan di hadapan siapa saja. Beliau menangisi Tsa’labah. Menangisi nasib Tsa’labah yang disiksa kebakhilan melalui harta-bendanya yang melimpah-limpah. Kali ini, air matanya tidak lagi sanggup bertahan di kedua tepi matanya yang mulia, melainkan telah tergelincir jatuh, menetes bening, berkilau seolah berlian yang tak terjelaskan keindahannya. Namun dengan tangkas beliau menyembunyikannya. Maka, turun padanya beberapa potong ayat. Tuhan menyapanya dengan wahyu yang suci Dan dengan bergetar, Baginda Nabi menyampaikan ayat pada Surat at-Taubah ayat 75-77, sembari menahan rasa iba yang merobek-robek dadanya.
Orang-orang bajingan seperti Tsa’labah selalu ada dalam setiap zaman, di setiap sistem kenegaraan, ekonomi, dalam tingkatan yang besar dan rumit sekelas ikan kakap dan tuna, sampai tingkatan sekecil-kecilnya sekelas kecoak atau belatung.
"Dan di antara mereka, ada orang-orang yang berikrar kepada Allah; sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya pada kami, pastilah kami akan berbagi dan pastilah kami menjadi orang-orang yang baik hati. Tetapi setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya, mereka kikir dari karunia itu dan berpaling. Mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (berpaling dari kebenaran). Sebab itu, Allah menyuburkan kemunafikan pada hati mereka, sampai saat mereka menemui Allah. Yang demikian itu karena mereka telah ingkar pada apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya, dan mereka pendusta".
Maka dunia pun terus berputar. Waktu mendetak. Segala kemungkinan senantiasa menanti siapa saja. Jika seseorang tak rendah hati atas segala pencapaian hidupnya, barangkali ia yang tak pernah merasa cemas atas segala kemungkinan ruang dan waktu, hingga kemungkinan-kemungkinan itu tiba-tiba tiba padanya secara sangat tidak terduga. Dan yang tertinggal dari segalanya, hanyalah rasa iba. Rasa iba yang mendalam.
**
Dulu, ada seorang Habib, bernama Habib Abdullah Bin Abubakar Al Idrus As Syamsi Syumus, pengarang "Ratifal Al Idrus". Beliau adalah Habib yang kaya Raya. Beliau jika turun dari Kudanya, lansung berjalan di atas Red Karpet (karpet Merah). Setiap tamu yang datang ke rumahnya, akan di sembelihkan kambing berdasarkan jumlah anak tangga yang di naiki tamunya. Jika tamunya menaiki 5 anak tangga, maka akan di sembelihkan 5 ekor kambing. Jika tamunya, menaiki 7 anak tangga, akan di sembelihkan 7 ekor kambing.
Suatu ketika, ada tamu yang datang, dengan menaiki 9 anak tangga, maka di sembelihkan 9 ekor kambing. tamu tersebut heran sambil berguman, "luar biasa ini Habib. Sebab, Setiap tamu yang datang, ia menyebelihkan kambing berdasarkan anak tangga yang di naiki tamunya. Saya belum pernah menemukan Habib yang dermawan seperti beliau".
Mendengar hal itu, Habib Abdullah menjawab, "kamu salah. Sebab, ada yang lebih kaya dari saya, yaitu adik saya. Saya ini tidak ada apa-apanya. Namanya Husain, coba kamu ke sana". Dalam hati tamunya, wah kalau kakaknya saja demikian, bagaimana kayanya adeknya ini".
Tamu tersebut mendatangi adiknya Habib Abdullah, yaitu Habib Husain. Begitu sampai di rumah Habib Husain, sang tamu kaget. Sebab, rumahnya Habib Husain adalah Gubuk, begitu ia masuk, tamu tersebut hanya di sediakan Kopi setengah cangkir dan Sepotong Roti kering. Tamu tersebut membatin bercampur heran, "katanya Kaya. Tetapi hanya menyuguhkan Kopi setengah cangkir dan sepotong roti kering".
Setelah dia meminum kopi dan memakan sepotong kue kering, terbesit di dalam hati tamu, barangkali ini hanya pemanasan. Sang tamu menunggu begitu lama, ternyata hanya itu saja yang di suguhkan. Akhirnya sang Tamu pamit pulang dan Ia kembali menghadap Habib Abdullah dan berkata pada Habib Abdullah, " Habib berbohong pada saya, kata Habib, Adik Habib lebih kaya, saya bertamu padanya, cuman di kasi Kopi setengah cangkir dan Roti kering sepotong".
Apa kata Habib Abdullah, "kamu tahu, saya punya ratusan ekor Kambing dan saya cuman potong 9 ekor untukmu. Adik saya, harta yang dia punya pada hari itu adalah kopi satu cangkir dan satu potong Roti kering. Setengah cangkir dia berikan untuk kamu dan setengahnya untuk Dia dan keluarganya. Begitu pun dengan roti kering, dia bagi dua, setengahnya untuk kamu dan sepotongnya untuk dia dan keluargannya. Dia lebih kaya dari saya. Karena bisa memberikan separuh hartanya untuk kamu pada hari itu".
Sebagaimana contoh yang saya kemukakan diatas, saya kutip ulang - saya punya uang 10 juta. Saya sedekah 1 juta. Kamu punya uang 100 ribu dan engkau sedekahkan 50 ribu. Jika cara berpikir kita sangat matematis, tentu 1 juta nominal yang lebih banyak, ketimbang 50 ribu. Tetapi, jika di lihat, kamu lebih dermawan ketimbang saya. Sebab, kamu mensedekahkan setengah dari hartamu. Sedangkan saya hanya seper sekian dari hartaku.
Demikianlah Hakikat Semua yang kita miliki itu adalah apa yang kita keluarkan bukan apa yang kita simpan. Tidak perlu takut.
Makassar, 29 Maret 2022
*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Rst
*Nalar pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar