Mengenai Saya

Kamis, 01 Juni 2023

- HIDUPLAH SECARA SEDERHANA -


Ada sebuah Doa Nabi, yang menyebutkan bahwa Rosulullah SAW itu sangat sederhana, bahkan Nyaris menjadi Miskin. Padahal, tegas dinyatakan bahwa Rosulullah SAW adalah Mahluk yang tidak akan pernah kekurangan apa-apa. Ia tidak meminta saja, pasti diberi, apalagi jika ia meminta. Tetapi, Rosulullah SAW tidaklah demikian. Artinya dibalik hadist tersebut, ada makna tersirat yang menunjukkan, Bahwa Rosulullah SAW sesungguhnya sangat kaya.

Saya berpendapat Sederhana atau nyaris Miskin itu baik. Yang tidak boleh adalah "faqir", sebab, Faqir itu harus ditolong. Sedangkan, kaya itu bahaya, "la dal faqru ayya kuman fuqron". Al-faqru disitu, tidak harus kemiskinan harta.

Coba kita susun Logikanya : Orang yang mempertahankan kekayaannya, berarti sejatinya dia miskin atau Orang yang masih mencari kekayaan berarti dia bukan orang kaya. Jika orang kaya. Mestinya, tidak mencari kekayaan lagi. Sebab, orang yang mencari kekayaan pasti dia orang miskin. Sama dengan kita hidup didunia, tetapi menumpuk dunia. Itu Kan goblok. Kita sadar bahwa kita telah hidup didunia. Tetapi, yang kita cari adalah dunia. Mestinya, jika kita hidup didunia, yang kita cari adalah akhirat. Lalu, kita buat drama ' mencari Tuhan' Dan Tuhan menjawab : " Sudah dari dulu aku disini, kamu saja yang tidak lihat".

Hal itu sama dengan, cerita tentang seorang Waliyullah di Jawa timur. Dia tidur telentang dijalan raya lintas Jakarta-Surabaya, sambil menangis-nangis seperti anak bayi. Padahal dia sudah tua waktu itu, sekitar 70-an tahun. Karena dia tidur telentang dan nangis seperti bayi, dijalanan. Akibatnya jalanan macet dan polisi pun datang.

'Pak, ada apa sampai bapak telentang dijalan raya, sambil nangis-nangis seperti bayi?'. Sejak Waliyullah itu telantang dijalan, tidak ada satupun yang berani mendekat dan menanyakan padanya. Hanya polisi yang berani menanyakannya. Begitu ditanya beberapa kali, oleh seorang polisi. barulah bapak tersebut menjawab.

"kalian ini memang matanya sudah buta semua?. Sedari tadi Nabi Muhammad SAW datang kesini, tidak ada satupun yang menyapa. Diwajah kalian, hanya Jualan terus. Cari keuntungan terus. Nabi Muhammad SAW dari tadi keliling melihat- lihat, tidak ada satupun yang menyapa bahkan tidak ada yang sholawat satu kalipun", Kata Waliyullah tersebut kepada Pak Polisi.

Saya ketika baca adegan ini, saya senang dan bahagia sekali.

Lalu, polisi tersebut menjawab, "Tidak kelihatan, Pak. Jadi, kami tidak melihatnya?. Bapak bisa melihat, kami disini tidak bisa melihat".

Waliyullah itu kembali menjawab, "Bagaimana mungkin kalian bisa melihat Baginda Nabi, Jika Dimata kalian hanya bisa melihat Warna Uang, wanita dan kekuasaan. Makanya, Baginda Nabi datang, kalian tidak bisa melihatnya".

Akhirnya Si Bapak (Waliyullah), Nangis-nangis seperti anak bayi, yang menghentak-hentakkan kakinya ke aspal, sehingga aspal jalanan menjadi pecah-pecah. Jadi, kalau si Bapak, yang waliyullah itu marah, bukan kakinya yang rusak. Tetapi, aspalnya. Makanya, jangan bikin saya marah 😂.

Di hampir banyak literatur yang saya baca soal Wali, hampir semua wali itu memang melompati pakem-pakem administratif, mereka kerap tidak beraturan. Karena, memang mereka 'Majdzub'. Medium mereka hanya Allah. Seperti Uwais Al qorni juga termasuk salah seorang Waliyullah.

Ada juga seorang Wali di Sulawesi barat - Mandar. Ia dibikinkan masjid oleh pemuda dikampungnya. Karena wali tersebut sholat tiap hari di situ, dan sering memimpin sholat, sehingga orang kampung mengangkat dan menjadikannya sebagai Imam.

Saat di bangunkan masjid, Ternyata masjid tersebut, masih ada hutang - Tehelnya masih berhutang, gentengnya masih berhutang. Akhirnya, Datanglah China-China untuk menagih hutang tersebut, 'Imam, Ininya belum bayar. itunya, belum bayar'. sang Imam merasa Malu, Ternyata penduduk kampung membangunkan masjid dengan Berhutang. Karena sang Imam malu terhadap pedagang-pedagang yang menagih hutang, ia lalu berguman, "Tunggu sebentar, jangan main-main kalian sama Allah. Jangan menagih-nagih kamu Sama Allah, dibayar kamu Nanti. Allah kau tagih-tagih, pasti dibayar kalian".

Lantas, Sang Imam masuk Masjid dan berdoa, " Ya Allah, Ini rumahmu masih punya Hutang, ya Allah. Apa engkau Tidak malu, Ya Allah. Engkau yang Maha Kaya, Masa RumahMu punya Hutang. Aku, yang hanya penjaga saja, malu. Masa engkau yang punya Rumah, tidak malu. Bayar hutangMu, Ya Allahhhhh".

Ada yang Berani berdoa seperti itu!. Berani tidak?. Hehehe. hanya wali yang berani berdoa seperti itu.

Sang Imam, belum selesai berdoa, ada mobil datang didepan masjid. sang Imam menghentikan doanya dan keluar melihat siapa yang datang. Tetiba, orang didalam mobil turun dan mengatakan, "bagaimana pak imam ini, membangun masjid tidak bilang-bilang sama kita. Kita juga kan mau menyumbang, kita juga kan mau keberkahan, kita juga mau jariyah. Masa Imam tidak bilang-bilang pada kita".

Orang-orang yang datang dengan mobil tersebut, marah, karena tidak dimintai sumbangan. Lalu, sang Imam Menjawab; "kalau begitu, bayarlah China-china itu".

Dari dua Kisah Waliyullah diatas, yang bisa kita tarik sebagai benang merah adalah jangan terlalu ribet dengan hidup ini. Asyieklah dengan Allah. Sebab, semua syariat itu asal usulnya adalah cinta kita kepada Allah dan cinta Allah kepada Kita, "Ing kuntum Tuhibbuna Allaha Fatta bi uni yuhbib kumullahu". Jadi, semua ini asal usulnya, ketika Allah mengatakan kepada Muhammad : "Wahai Muhammad katakan kepada mereka. Jika memang mereka 'mencintai aku'. Ikutlah Muhammad".

Kita memberikan Underline, bahwa Bukan ketaatan, bukan komitmen. Tetapi, Cinta. Kita mengikuti Nabi Muhammad SAW, karena cinta kita kepada Allah. Nah, sekarang siapa pengikut Muhammad?. "Ada yang bertanya, bukankah Islam adalah ajaran keselamatan. Lantas, bagaimana kita bisa selamat?".

Satu satunya yang pasti selamat adalah Nabi Muhammad SAW dan yang disebut Nabi Muhammad SAW. Misalnya, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, serta beberapa sahabat yang disebut Rosulullah SAW pasti telah dijamin selamat. Selain itu, Biar Imam Syafi'i, biar Buya Hamka, Biar Sayid Aqil, biar ketua MUI, Biar Imam Khomeini, biar siapa saja. Posisinya sama dengan kita, belum tentu diterima dan semua itu tidak penting.

"Diterima dan tidak diterima, masa tidak penting?". Tenang dulu, jangan seperti Nabi Musa, kamu ini. Tenang dulu, kalau saya membocorkan kapal, jangan tanya kenapa membocorkan kapal. Kalau saya mematahkan leher anak kecil, diam dulu. jangan lansung bertanya.

Kenapa saya bilang, semua itu tidak penting? Karena, kita itu tidak perlu sibuk mencari Ridho Allah dan meminta Ridho Allah. Kita ini yang harusnya terus menerus Ridho Sama Allah, " Rodhiyatan Mardhiyah". Bukan " Mardiyatan Rodhiyah". Kita yang harusnya memastikan setiap saat ridho pada apapun saja, yang Allah tentukan untuk kita. Kita ridho dan ridho. Maka, efeknya pasti di ridhoi. Artinya, jangan sibuk memohon Ridho Allah. Tetapi, kita habiskan waktu kita untuk meridhoi apa yang diberikan kepada kita. Sebab, jika kita ridho pada Allah, maka Allah akan meridhoi kita.

"Yaa Ayyatu Han nafsul mutmainnah irji ila Robbi Qirodiyatan Mardiyah". kita harus menempuh Rodhiyatan dulu baru kita mendapatkan 'Mardiyah'.

Oke, saya tambahkan soal sederhana, yang nyaris miskin diatas. Pernahkah kita ketahui, bahwa Dulu, Allah melalui Malaikat Jibril menawarkan kepada Nabi Muhammad SAW, jika Ia hendak menjadi raja yang Kaya raya seperti Kakeknya Nabi Sulaiman AS. Untuk menjadi Mulkan Nabiya.

Diperintahkanlah Jibril untuk menyiapkan semua infrastrukturnya. Lalu Jibril membuat Gunung emas, diantara Madinah dan Mekkah. Sampai hari ini masih ada di Saudi sana. Bahkan kubungan zam-zam yang airnya tidak akan pernah kering, ditaru di Mekkah, agar Nabi Muhammad SAW menjadi kaya Raya.

Tetapi, Nabi Muhammad menjawab ; ' Laa Ya Rob', Jika aku diperkenankan. Biarlah aku menjadi Abadan Nabiyya. Biarkan aku menjadi Nabi Yang jelata, Nabi Yang Papah, Nabi Yang miskin. Nabi yang Sederhana. Sebagaimana ummatku yang pada umumnya juga miskin dan sederhana. Biarlah aku berpakaian, sebagaimana ummatku yang paling miskin berpakaian. Biarlah aku makan, sebagaimana ummat-ummatku yang paling miskin makan.

Jadi, pendapat saya sederhana yang Nyaris Miskin itu baik. Sama dengan lapar, itu baik. Jangan sampai kenyang. sebab saya itu hampir setiap hari membiarkan diri saya lapar. Nanti, kalau sudah mulai menuju ke titik tidak sehat, baru saya makan sedikit. Jika sudah cukup untuk menjaga kesehatan, saya tidak akan makan yang lainnya lagi. Jadi, saya itu sangat sedikit makan dan sangat sedikit tidur. hal itu ku tempuh tiap hari. Itulah yang disebut, hidup secara sederhana. Sebab, saya tidak pernah melampiaskan apa-apa. Lagian apa juga yang perlu saya lampiakan, sebab, dunia sudah tidak begitu menarik bagiku.


- Makassar, 04/06/2020 -


*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran
*Pustaka hayat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar