Mengenai Saya

Kamis, 22 Juni 2023

HASRAT SEKS ADALAH FITRAH MANUSIA

Terma seksualitas sering disederhanakan pengertiannya hanya untuk hal-hal yang mengacu pada aktivitas biologis yang berhubungan dengan organ kelamin saja, baik laki-laki maupun perempuan. Padahal, lebih dari sekedar soal hasrat tubuh biologis - seksualitas adalah sebuah eksistensi manusia yang mengandung di dalamnya aspek emosi, cinta, aktualisasi, ekspresi, perspektif dan orientasi atas tubuh yang lain. Dalam konteks ini, seksualitas merupakan ruang kebudayaan manusia untuk mengekspresikan dirinya terhadap yang lain dengan arti yang sangat kompleks.

Artinya, Seksualitas merupakan satu terma yang lebih luas dari hanya sekedar hubungan badan yang biasa dipahami oleh sebahagian kita, jauh dari pada itu seksualitas memiliki makna yang lebih kompleks. Tetapi dalam kesempatan ini, saya ingin menguraikan Seksualitas sebagai sebuah Seks - jenis kelamin secara anatomi dan fisiologi pada laki-laki dan perempuan atau hubungan fisik antar individu (aktivitas seksual genital). 

Jadi, berbeda antara Seksualitas dan Seks.

Sigmund Freud memperkenalkan istilah libido, sebagai suatu hal yang identik dengan rasa lapar yang mendorong untuk mencari makan; perbedaanya adalah libido ini adalah dorongan hasrat seks. Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Energi psikoseksual, atau libido, digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.

Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. 

Al Ghazali berpandangan bahwa hasrat seks merupakan suatu hal yang ditanamkan oleh Tuhan kepada diri manusia demi kelangsungan populasi manusia, menanamkan hasrat untuk prokreasi; menciptakan kehidupan baru. Beliau membagi kedalam dua Bagian, yakni nafsu makan serta nafsu seksual. Kedua nafsu tersebut merupakan hal yang sejak awal diakui sebagai hal yang natural serta melekat pada manusia. 

Masih Menurut Al Ghazali, kedua nafsu tersebut akan menjadi bencana jika tidak diatur dengan cara yang tepat. Al Ghazali kemudian menekankan kembali bahwa Nafsu seksual hanya bisa di kelola dengan jalan pernikahan. Bahkan ia menekankan bahwa pernikahan merupakan salah satu hal yang paling indah di muka bumi dan sangat bermanfaat bagi seseorang untuk mempersiapkan kehidupan di alam selanjutnya. 

Berbicara mengenai persoalan ini, saya teringat keluh dan kesah para sahabat Nabi Muhammad saw. ketika mereka berada pada fase ini, yaitu fase di mana organ vital sedemikian sering dalam keadaan basah dikarenakan beberapa faktor.

Dalam ilmu Fikih, cairan itu dikenal dengan term madzi. madzi adalah air berwarna putih berlendir  yang keluar dari kemaluan akibat mengkhayal bersetubuh atau efek dari cumbu rayu. Madzi dapat keluar dari kaum laki-laki dan perempuan, tapi biasanya kaum perempuan lebih banyak mengeluarkan madzi.

Di samping itu, madzi juga sering dialami para remaja. Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Kemudian aku menyuruh seseorang agar menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw. karena aku malu bertanya secara langsung, mengingat posisi puterinya (sebagai isteriku). ia lantas menanyakan kepada Rasulullah saw. dan beliau menjawab, 'Berwudulah dan cucilah kemaluanmu'!". (HR. Bukhari).  (Lihat: as-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Dar as-Salam, Kairo, 2017, cet: I, jilid. 1, hlm. 17).

Sayidina Ali Bin Abi Thalib, yang di kenal terkenal kezuhudan dan keberpalingannya untuk tidak melihat kemaluannya sendiri pun mengalami apa yang para remaja pada umumnya alami, karena yang demikian adalah hal yang lumrah dan tak dapat dipungkiri lagi adanya.

Orientasi seksual para remaja biasa dilarikan pada aktivitas onani atau masturbasi. karena, permasalahan akan semakin rumit jika aktivitas seksualnya diejewantahkan pada senggama atau berhubungan badan dengan kekasihnya. Dalam Islam, memang ada ulama yang membolehkan masturbasi, seperti imam Ahmad Ibn Hanbal dan Ibnu Hazm, akan tetapi dengan dua syarat: pertama, takut berbuat zina, dan kedua Tidak mampu menikah. 

Dua ulama ini berdalih bahwasannya onani halal untuk dilakukan karena sperma adalah kelebihan sesuatu dari tubuh, oleh karena itu boleh mengeluarkannya sebagaimana memotong daging yang berlebih. (Lihat: Yusuf al-Qardhawi, al-Halal wa al-Haram, Maktabah Wahbah, Kairo, hlm. 191).

Jika ditinjau dari segi kesehatan, terdapat beberapa masalah yang diakibatkan oleh onani atau masturbasi: pertama, Terjangkit infeksi menular melalui alat bantu seks (sex toys) yang pernah dipakai orang lain yang terdeteksi menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS). Kedua, Pembengkakan pada alat kelamin, yang disebabkan adanya penumpukan cairan pada permukaan kulit. Ketiga, Sulit mendapatkan klimaks saat berhubungan dengan pasangan atau biasa disebut ejakulasi dini. Dan keempat, Terjadinya gangguan prostat (kanker prostat) pada pria muda. 

Dari resiko-resiko yang dapat terjadi akibat onani yang sedikit membuat hati gelisah itu, menjadikan para remaja - di samping motivasi Agama yang selalu mereka gaungkan- lebih memilih untuk menikah dini dibanding melakukan masturbasi sebagai solusi bagi aktivitas seksual mereka.

Dalam terma agama, seks adalah anugerah Tuhan. Islam tidak menganjurkan selibat dan asketisme, oleh karenanya hasrat seks harus dipenuhi sepanjang manusia membutuhkannya. Meskipun demikian, Islam hanya mengabsahkan hubungan seks melalui ritual pernikahan, sehingga tidak membenarkan adanya promiskuitas (seks bebas) atau Zina. Bahkan tidak hanya Islam saja, Seluruh agama langit sepakat mengenai hal ini. Misalnya, Satu ayat Alquran yang sering dikemukakan untuk menjawab bagaimana Islam memberikan apresiasinya terhadap seksualitas adalah :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara bukti-bukti kemahabesaran Tuhan adalah bahwa Dia menciptakan untuk kamu dari entitasmu sendiri pasangan, agar kamu menjadi tenteram dan Dia menjadikan di antara kamu (relasi yang) saling mencinta dan merahmati (mengasihi). Hal itu (seharusnya) menjadi renungan bagi orang-orang yang berpikir” (Q.S. Ar-Rum  [30]:21).

Lantas, Apa yang menyebabkan sehingga orang indonesia, seperti tabu pada sexsualitas?. Saya pikir yang paling esensial adalah Kultur, karena di dalam Kultur terdapat Tradisi, keyakinan dan mitos. Sex kadang kala dianggap Tabu dan hanya sebatas sensasi, padahal hal itu merupakan substansi dari Hidup dan penting untuk di analisis. 

Tujuan sex itu ada 3 : pertama, bikin anak (Reproduksi). Kedua, bikin enak (rekreasi), sebab tidak semua orang yang punya anak bisa bikin enak. Ketiga, relasi. Poin ketiga ini yang kerap di lupakan. Apakah setelah silaturahmi kelamin, saya merasa bahagia dan merasa di cintai.

Intimasi di dalam Relasi di ukurkan oleh apa?. Misalnya Intimasinya saya dapat, Vibes saya dapat, Feealing saya dapat. Sebab, kadang kala orang menyebut relasi, basisnya bukan intimasi.

Sex dan cinta adalah dua hal berbeda. Kalau misalnya, sexnya enak sekali. belum tentu hal itu di dasaekan karena cinta. Sex itu bisa jadi hanyalah sebuah performa, kita bisa ke Patpom di thailand. Red lide area di rock in damrad di belanda. Di situ, kita bisa melihat segala macam performa sex. Semua posisi hubungam sexsual bisa kita baca dan pelajari, sehingga membuat kita bisa menikmati sex atau kita sebut sebagai Kenikmatan, jika kita melakukannya dengan benar. Tapi belum tentu hal itu adalah cinta. Di situlah perbedaan antara Making sex dan Makin love.

Artinya, posisi bersenggama bisa di buatkan Grafisnya (di gambarkan). Tetapi, cinta tidak mungkin di gambarkan.

Ihwal inilah bahagian yang paling kering dari relasi diatas setelah silaturahmi kelamin. Sensasinya dapat, tetapi substansi atau intimasinya tidak dapat.

Menurut "Standberg", dalam trilogi Love - sebuah relasi yang sehat pasti memiliki tiga indikasi. Pertama, komitemennya jelas. Termasuk komitmennya mau apa - mau Eksklusif atau semi ekslusif. Casual atau semi Casual. Eksklusif itu seperti, kamu pacaran sama aku. Kita tunangan dan menikah. Menikah pun, kita tidak bisa berasumsi bahwa komitmen pernikahan ini adalah otomatis monogami.

Lalu, ada juga yang termasuk casual dan semi Casual. Casual itu, Seperti kita ketemu. Kita having sex malam ini. Ada juga yang telah bersahabat, nongkrong, cocok. Mau ke arah seksual. Dulu di sebut TTM (Teman Tapi Mesra), sekarang di sebut FWB (friends With bennefit) - kita bisa berteman, untuk pacaran kayanya tidak bisa. Tetapi, berteman Dan Seks bolehlah.

Hal diatas itu harus di jelaskan dengan Komitmen. Kita tidak bisa berasumsi. Komitmen ini semacam perjanjian etis. Menurut penelitian stendberg, orang yang membicarakan komitmen seperti itu relatif lebih langgeng.

Menurut bartens, seorang yang suci bukanlah orang yang tanpa Godaan. Tetapi, orang yang menghadapi Godaan dan mengatakan tidak pada godaan tersebut.

Kedua, kata Standberg adalah Intimasi - bagaimana Seorang Individu di dalam relasinya merasa di cintai dan bisa mencintai. Karena, memberi dan menerima cinta adalah hal yang pelik.

Berkaitan dengan ini, saya pernah membaca penelitian yang menitik beratkan saat hubungan seks pertama, malam pertama atau baru mengganti pasangan baru -  apakah yang di pikirakan pria dan apa yang di pikiran wanita?. Ternyata kebanyakan lelaki dari berbagai status sosial dan usia, memikirkan pada saat hubungan seks pertama adalah Performa atau Show Off. Sementara pada perempuan, Justru yang dia pikirkan adalah apakah saya di terima atau tidak. Apakah saya di sayang atau tidak.

Dalam posisi intimasi ini, penting setiap part di dslam hubungan seksual ini untuk bisa merasakan bahwa Aku cinta.

Ketiga, menurut Standberg adalah Pashion. Pashion itu tentang seks. Jadi, wendy mault mengatakan, energi seksual itu zero - Netral. Tapi, yang bisa membuat energi seksual menjadi positif dan negatif, tergantung pada manusianya bagaimana memperlakukan manusia lain dalam relationship.

Hubungan seks yang bagus adalah hubungan seks yang makin lama makin enak. Makin lama makin enak itu adalah kualitas, bukan kuantitas.

Di prancis ada satu klinik yang menerima operasi pemulihan Vagina (selaput darah) - untuk memulihkan keperawanan.

Suatu ketika, Ada sepasangan Mahasiswa yang berasal dari suatu negara di Afrika. Dalam bayangan kita, dua mahasiswa dari Afrika belajar di Prancis, lalu mulai mengkonsumsi sensasi sejarah Prancis tentang seksualitas atau mungkin stres karena harus membuat paper. Lalu, tetiba mereka pacaran - intimasi dia dapatkan, pashion dia dapatkan. Endorfinnya banjir. Kemudian mereka berhubungan seksual. Akibatnya, Si perempuan tidak lagi Perawan.

Kedua-duanya Datang ke Klinik tersebut. Di tanya oleh dokter - kalian mau apa?. Si perempuan menjawab, saya mau memulihkan keperawanan saya (selaput darah). Dokter menjawab, oke saya biasa mengoperasi hal tersebut. Tetapi, buat apa kamu mau memulihkan selaput darahmu. Apakah kamu mau menikah?. Iya, jawab perempuan. Pria yang engkau temani ini kah?. Iyaa, dengan pria tersebut. Kalau anda mau menikah dengak lelaki tersebut, berarti anda tidak berhubungan seksual dengan pria tersebut?. Justru, dengan dialah saya berhubunga seksual.

Dokternya semakin bingung. Akhirnya, si perempuan memberi penjelasan, "Saya ingin memulihkan selaput darah saya. Bukan untuk membuktikan bahwa saya perawan pada pacar saya yang ada di depan saya ini, karena memang dialah yang mengambil keperawanan saya. Saya ingin membuktikan  pada keluarganya".

Bagi si perempuan ini , dia harus membuktikan saat dia pulang ke negaranya dan pernikahan di lansungkan. Tiba malam pertama (pengantin), dia mesti mengangkat sepreinya bahwa ia masih perawan, karena terdapat bercak darah.

Hal itu menunjukkan bahwa ada juga semacam kejahatan yang terpaksa di buat karena tuntutan kebudayaan. Artinya, dia memanipulasi kenikmatannya secara sadar (sudah komitmen, bersetubuh dengan orang yang sama). Tapi, dia tahu bahwa ada lingkungan yang tidak bisa menerima dia.

Jadi, sesungguhnya dia mempermainkan kebudayaan. Karena dia tidak bisa jujur sehinga dia memanfaatkan teknologi operasi vagina untuk memaipulasi dirinya sendiri.

Ada peristiwa lain, pada Klinik yang sama. Tetapi, klinik itu, sangat ramai jika mendekati valentine. Ramai bukan oleh remaja, tetapi ramai oleh pasturi (Pasangam suami Istri).

Istri-istri tersebut, mengoperasi atau memulihkan keperawanannya, hanya untuk memberi suprise kepada suaminya, saat mereka Koitus - senggama di malam Valentine. Bahkan tak jarang suaminya pun yang meminta untuk memulihkan selaput darahnya.

Jadi, semua itu datang dari komitmen yang sama. Kalau kita membuat perbandingan nilai - di los angles, keperawanan jadi semacam Lelucon dan keperawanan yang terjadi di prancis karena Kultur. Tetapi, dua-duanya menunjukkan bahwa sebenarnya ada masalah, antara Keperawanan dan Kebudayaan. 


(1)


*Pustaka Hayat
*Rst
*Pejalan Sunyi
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar