Apa yang kita pikirkan, ketika muncul diksi Anarkisme?. Mungkin saja kekerasan, demonstrasi atau kerusahan. Sekarang ini, memang Anarkisme, di konotasikan dengan Kekerasan dan cenderung negatif. Namun sebenarnya, paham ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap Penindasan dan Kekerasan.
Anarkisme merupakan Paham yang menentang terhadap berdirinya sebuah lembaga yang mengatur masyarakat (negara). Menurut para penganutnya, negara dengan kekuasaanya adalah penindas, yang membatasi masyarakat. Oleh sebab itu, harus di hapuskan.
Salah satu Tokoh penggagas utamanya adalah "Mikhail Alexandro Wich Bakunin". Lahir dari salah satu bangsawan Rusia 30 Mei 1811. Pada usia muda ia berhenti sebagai Perwira muda di Militer dan meninggalkan harta warisan leluhurnya, demi menjadi pejuang revolusi.
Bakunin meninggalkan Rusia, pada usia 26 Tahun dan mengabdikan diri melawan segala bentuk Tirani. Di dalam Kiprahnya, dia tidak banyak berteori seperti "Karl Marx" dan "Engels". Dia lebih banyak terjun lansung terhadap aksi-aksi pemberotntakan di wilayah-wilayah Eropa. Karena itulah, ia di sebut sebagai penganut Paham Matrealisme. Makanya, Bakunin, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam penjara dan Pengasingan.
Setelah 12 Tahun di dalam Penjara, akibat tertangkap pada pemberontakan. Bakunin melarikan diri dan mulai mengembara keliling dunia. Pengembaraannya memperjumpakan dia dengan hampir semua Kelompok Revolusioner di seluruh dunia dan menjadikan namanya melegenda.
Hanya saja, ia tidak menginginkan dirinya di perlakukan seperti legenda-legenda di dalam sejarah pada umumnya. Ia memandang jijik terhadap penghargaan dan penghormatan kepada dirinya. Sebab, menurutnya perjuangannya ia lakukan, hanya untuk melawan segala bentuk penindasan dan bukan untuk mendapat pernghargaan.
Satu-satunya karya Bakunin adalah "Tuhan dan Negara". Tulisan ini sebenarnya, tidak sistemik dan banyak berisi gagasan yang terpotong-potong. Namun, Tulisannya banyak mempengaruhi banyak pemikir dan mengakui kebrilianan Bakunin.
Dasar pemikiran Bakunin di dalam Tuhan dan negara adalah penolakan atas otoritas dan penggunaan kekerasan dengan segala bentuknya. Dalam tulisannya, ia mengungkapkan banyak kemarahan kepada banyak pihak, yakni kepada para Pendeta, para Raja, negarawan, pemilik modal, Tentara, pejabat, polisi, sipir, algojo, pemegang monopoli, kaum kapitalis, lintah darat, kontraktor, tuan tanah, ekonom, politikus dan pengasong gula-gula. Semuanya itu menurut bakunin adalah para penyiksa yang menghisap manusia. Namun, dari semua itu dua lembaga yang paling menyiksa dan menghisap manusia adalah Negara dan Agama.
Semua negara menjadi instrumen dan pemegang hak istimewa untuk mengusai sebahagian manusia lainnya dan semua lembaga agama menjadi sekutu setia Negara dalam menaklukkan ummat manusia.
Ia mengungkapkan, sepanjang sejarah Negara memanfaatkan agama untuk melanggengkan kebodohan dan kesengsaraan mereka. Bahkan yang lebih ektrem menurut bakunin, esensi dari agama adalah penghinaan atas kemanusiaan, demi kemuliaan Tuhan.
Tuhan adalah Tuan dan manusia adalah Budak. Tuhan menjadi kebenaran, keadilan, kebaikan, keindahan, kehidupan, kekuatan. Sedangkan manusia adalah Kepalsuan, ketidakadilan, kejahatan, keburukan, ketidakberdayaan dan kematian.
Tidak Berbeda dengan negara, agama adalah pelenyapan atas kesetaraan. Oleh karena itu, berbanding terbalik dengan diktum "Voltaire". Bakunin menuturkan, bahwa apa bila Tuhan benar-benar ada, maka Tuhan harus di lenyapkan.
Bakunin, menyatakan perang habis-habisan terhadap agama dan negara. Menurutnya, agar manusia menjadi benar-benar bebas, manusia harus melepaskan diri dari belenggu spiritual yang temporal, yang menjadi milik agama dan negara dan untuk mencapai itu, seseorang harus memiliki dua kualitas yang paling berharga, yakni kekuatan berpikir dan keinginan untuk memberontak.
Namun tugas pembebasan itu tidaklah mudah, sebab menurut Bakunin, telah muncul golongan baru yang bermaksud mengajarkan orang kedalam ketidaktahuan, agar golongan tersebut menguasai mereka. Golongan yang di maksud adalah kaum intelektual. Dalam hal ini, Bakunin menunjuk Karl Marx dan para Pengikutnya. Sekalipun awalnya mereka adalah kawan seperjuangan dan berpisah ketika sampai pada titik ini.
Bakunin, melajutkan perjuangan untuk membebaskan manusia dari segala penindasan. Sedangkan Marx bersama dengan Engels dan Kelompoknya, mengembangkan Komunisme. Menurut Bakunin, Marx dan Kelompoknya tidaklah mengakhiri penindasan. Melainkan melahirkan penindas baru, yakni kaum intelektual.
Seperti pada bagian pengantar buku Negara Dan Tuhan, Bakuni lansung melontorkan kritik tajam kepada Marx. Ia mengawali Tulisannya dengan sebuah pertanyaan, siapa yang benar," kaum idealis atau kaum Matrealis?". Kaum idealis yang dia maksudkan adalah kelompok Marx dan para pemikir lainnya, sedangkan Kaum matrealis adalah dirinya dan orang yang berjuang dengannya. Dia mengajukan pertanyaan demikian, bakunin bermaksud menyatakan bahwa bagaimana pun kaum matrealis masih lebih benar ketimbang kaum idealis. Sebab, fakta lebih dulu ada ketimbang ide.
Bakunin memiliki pandanga tersendiri terhadap agama dan Tuhan. Ia memandang Tuhan sebagai pencipta yang angkuh dan pemarah. Tuhan menciptakan manusia, lalu melemparkan ke sebuah taman. Kemudian melarang mereka menyentuh buah pengetahuan, yang akan mengantar mereka menuju sebuah pemahaman tentang diri mereka sendiri. Tuhan selamanya ingin menjadikan manusia sebagai binatang buas yang merangkak dihadapannya, yang adalah pencipta dan Tuannya. Namun, Iblis muncul. Bagi Bakunin, setan adalah pemberontak abadi, pemikir bebas pertama, sekaligus pembebas dunia. Setan membuat manusia malu atas kebodohan dan ketaatan hewaninya dan menorehkan segala kebebasan di dahi meraka. Setan mendorong manusia untuk menyantap buah pengetahuan.
Dari kisah ini, bakunin mengungkapkan, 3 prinsip dasar yang mengkonstruksi kondisi esensial manusia sepanjang peradaban manusia, yaitu Kebinatangan, pikiran dan pemberontakan. Kebinatangan manusia berkaitan dengan perekonomian, baik sosial maupun individual. Pikiran manusia berkaitan dengan ilmu pengetahuan Dan pemberontakan berkaitan dengan kebebasan.
Selain itu Bakunin memandang agama, sebagai lembaga yang menciptakan imajinasi-imajinasi yang absurd tentang Tuhan dan menciptakan keyakinan yang tidak masuk akal bagi manusia. Dengan absurditas inilah, agama membatasi pikiran dan kebebasan manusia dan oleh karena itu, agama sering kali di jadikan alat oleh orang-orang, yang Ia sebut sebagai penyiksa, penindas dan penghisap manusia untuk mengusai sesamanya. Mereka semua akan mengulangi, kata Kata "Voltaire" yang terkenal, yaitu apabila Tuhan tidak ada. Maka dia perlu di hadirkan. Sebab, orang-orang mesti punya agama. Karena itu adalah katup pengaman.
Gagasan tentang Tuhan, menurut Bakunin adalah pelecutan tehadap akal manusia dan keadilan yang berujung pada perbudakan manusia dalam teori dan praktik. Oleh karena itulah, berbanding terbalik dengan Voltaire, Bakuni menyebutkan, "apabila Tuhan benar-benar ada. Maka, ia perlu di lenyapkan".
Bakunin, melajutkan bahwa semua agama itu kejam. Sebab, semua berdiri diatas genangan darah. Semuanya bersandar pada gagasan pengorbanan, yang terus menerus menjadikan manusia sebagai korban balas dendam Tuhan yang tidak pernah puas.
Kemarahan Bakunin juga di tujukan kepada Negara, baik Monarki Maupun Republik. Di bangun dengan Tujuan untuk mengatur dan membatasi manusia-manusia di dalamnya. Republik Romawi pun dibangun diatas perbudakan. Namun, Bakunin lebih memiliki pandangan yang positif terhadap Negara yang di bangun pada masa Yunani Kuno. Dimana manusia-manusia berkumpul membentuk himpunan-himpunan manusia bebas. Kemudian menciptakan kebebasan melalui seni, puisi dan Filsafat. Model peradaban seperti inilah yang hendak di ciptakan Bakunin, dimana setiap manusia di beri tanggung jawab untuk mengatur kehidupan sendiri dan menjalani kehidupan yang bebas tanpa belenggu negara.
Negara bagi Bakunin adalah lembaga yang di kuasai oleh segelintir orang, yang dianggap hebat dan dengan kehebatannya itu mengajarkan rakyat untuk hidup sesuai dengan peraturan kenegaraan dan pada akhirnya meguras diri mereka. Oleh karena itulah, setia warga negara harus menjadi abdi bagi negaranya dan negara secara diam-diam menempatkan Rakyatnya sebagai budak.
Kaum intelektual juga bermain peran di sini, sering kali dengan dalih membebaskan rakyat dari penguasa sebelumnya, mereka memprovokasi rakyat dengan ide-ide untuk melawan pemerintah. Namun, merekalah kemudian menjadi penguasa untuk menggantikan penguasa sebelumnya.
Ilmu pengetahuan dapat membebaskan, namun di tangan Intelektual. Ilmu pengetahuan dapat menciptakan belenggu baru, yang membuat manusia tetap hidup didalam kebodohan dan ketidakmengertian akan dirinya sendiri.
Buku, Tuhan dan negara. Di terbitkan setelah 6 tahun kematian bakunin, yakni pada Tahun 1882. Sebab, naskahnya di temukan diantara tumpukan surat-surat Bakunin, yang ia tujukan kepada dua anarkis terkenal, yaitu "Elisee Reclus" dan "Carlo Cafiero". Naskah buku ini tidaklah utuh ketika di temukan oleh kedua anarkis tersebut dan mereka berusaha mencari-cari sisanya, namun tidak dapat di temukan. Akhirnya, naskah yang tidak utuh tersebut, di terbitkan sebagai pamflet di Jenewa dan Di beri Judul, "Dieu ut L'Etat".
Tanpa di duga, buka karya satu-satunya Bakunin ini menjadi buku yang paling banyak di terjemahkan kedalam bahasa-bahasa dan masih di nikmati sampai saat ini, bahkan lebih dari satu abad setelahnya.
***
Sebagaimana yang saya sampaikkan diatas, bahwa Anarkisme atau Anarko sindikalisme adalah Ideologi borjuasi kecil yang menolak ajaran Marxis tentang negara dan tidak mengakui adanya organasasi-organisasi proletart yang luas, terpusat dan disiplin. Anarkisme ini berasal dari ajaran Bakunin, Roudon, dan tokoh lainnya. Ideologi ini kerap kali menjadikan terorisme sebagai senjata dalam perjuangan kelas, dengan demikian membelokkan organisasi proletariat dari organisasi massa dan perjuangan massa. Biasanya anarkisme mempunyai pengaruh di negeri- negeri kapitalis yang berindustri kecil yang penduduknya sebahagian besar terdiri dari petani-petani.
Kaum anarkis dengan terang-terangan melakukan tindakan-tindakan memecah di dalam gerakan-gerakan revolusioner di rusia dan spanyol, baik sebelum maupun sesudah anti frangko. Menurut Lenin, dari segi ideologi, seorang anarkis persis seperti seorang Borjuis yang terbalik. Piter Kropotkhin menejelaskan bahwa anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan, ia di mulai diantara manusia dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia. Kemudian Ericho Malatesta berargumentasi, bahwa penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa di lakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas. Maka, anarkisme adalah suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara dan pemerintahan dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang mensuburkan penindasan terhadap kehidupan. Oleh karena itu segala bentuk negara, pemerintahan dan semua perangkatnya harus di hancurkan atau di hilangkan.
Jika kita merunut ke belakang, anarkisme memiliki persinggungan pemikiran dengan Marxisme. Marxisme setelah marx dan Engels berkembang menjadi tiga kekuatan besar ideologi dunia yang menyadarkan dirinya pada pemikiran-pemikiran marx. Ketiga ideologi itu adalah pertama, Komunisme, yang kemudian di kembangkan oleh Lenin menjadi Marxisme Leninisme. Kedua adalah sosialisme demokrat yang pertama kali di kembangkan Edward Berstain yang berkembang di jerman dan kemudian berkembang menjadi Sosialis berciri khas Eropa. Ketiga adalah Neo Marxisme yang berkembang menjadi gerakan kiri baru, Berkembang sekitar 1965-1975 di univeristas-universitas di eropa.
Walaupun demikian, ajaran Marx tidak hanya berkutat di tiga aliran besar itu, karena banyak sekali sempalan-sempalan yang menggunakan Marx sebagai basis ideologi dan perjuangan mereka, termasuk dalam hal ini adalah ideologi anarkisme.
Anarkisme sebagai sebuah Teori Politik bertujuan mencipatakan masyarakat tanpa hirarki, baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial. Michael Bakunin berkata, kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan. Maka, Kaum anarkis melihat, tujuan akhir mereka adalah kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Bahkan, Piyer Josph Roudon, sebagai pemikir yang paling berpengaruh terhadap perkembangan anarkisme yang mengecam Hak Milik sebagai Hak untuk mengeksploitasi, namun mengakui hak milik umum alat produksi.
Anak kandung dari anarkisme adalah anarko sindikalisme, dengan tokoh utamanya adalah Rudolf Rocker. Pada pengertian yang umum, anarko sindikalisme adalah ajaran yang menolak aksi politik dan memandang serikat buruh sebagai satu-satunya bentuk Oganisasi dan pemogokan sebagai satu-satunya bentuk perjuangan yang di perlukan kaum buruh. Di dasarkan pada ajaran Utama Proudon, musuh sengit kawan sezamannya Marx, gerakan ini terutama kuat dan tumbuh subur di Spanyol, Italia dan Prancis.
Anarko sindikalisme menimbulkan akibat-akibat yang mencelakakan bagi kaum buruh yang dalam perjuangan-perjuangan mereka. Anarko sindikalisme sebagai anak kandung anarkisme, lebih menekankan pada gerakan buruh (Labour mofment). Sindikalisme dalam Bahasa Prancis berarti Trade unionusme. Kelompok ini berpandangan, bahwa serikat-serikat buruh mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk mewujudkan suatu perubahan sosial dengan cara revolusioner, menggantikan kapitalisme dan mengganti negara dengan masyarakat demokratis, yang di kendalikan oleh pekerja.
Perdebatan dan kritik terhadap ideologi anarkisme pun muncul dari berbagai kalangan pemikir Marxis, dimana ide-ide dari anarkisme dianggap mustahil terealisasikan dalam kehidupan nyata. Namun kita tetap bisa mengambil nilai dari ideologi anarkisme, bahwa penindasan dan eksploitasi, penindasan, pengisapan, perbudakan oleh satu manusia atas manusia lainnya adalah ketidakadilan lainnya yang harus di lawan.
*Rst
*Nalarpinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar