Dulu ketika dia masih kecil, dia bermain jauh dari rumah Dan tidak memakai sepeda. Kedua kakinya yang kecil itu melewati jalan setapak yang membelah kebun jeruk milik kakeknya Dan di tepi sungai yang dangkal, di pinggir kebun jeruk, sebuah surau tua tak terawat. Surau yang didirikan kakeknya itu kotor dan berdebu selalu. Hanya penjaga kebun yang mendirikan shalat dalam surau, atau pejalan kaki singgah melepaskan lelah dan mengenyahkan dahaga.
Ia berjalan pada jalan setapak itu. Hari menjelang petang. Ia bergegas sebelum waktu benar-benar menelan matahari. Pulang. Dan segala langkah pulang selalu menuju ibu, merindukan tangannya, dan meminum air yang dimasak oleh keringatnya.
Tiba senja, gerimis jatuh di sana. Menebar ringan bagai serbuk mutiara. Dengan tangkas, ia menyelinap ke balik warung lampu yang merah. Aroma parfum dan limbah sungai. Alkohol, rokok putih, dan dangdut remix. Inilah "surga kecil" yang ajaibnya, sanggup bertahan hidup di ketiak kota besar yang tak pernah memberi tempat bagi siapa saja yang tak tunduk menyembah berhala kemegahan dan soleknya yang angkuh. Apa saja, tanpa izin, dimusnahkan. Maka yang kuat membeli izin. Kemudian menang.
Di tengah ramai yang terperangkap, anak-anak berkembang. Hiruk kota. Hiruk kehidupan yang memuja segala tampak segala pesona. Ada celah di sana, tempat sembunyi dari kehidupan ini. Di lubuknya yang gelap dan jahanam, orang bagai jenak di sebuah negeri dalam angan. Di situ, ada manusia diinjak kaki kemegahan, manusia yang bertahan hidup dengan segala daya upaya. Apa saja. Dan senantiasa kalah.
Warung dan karaokean berderet di sana. Bayangan perempuan-perempuan malam di kedalaman lokalisasi itu memesona di antara lampu-lampu berwarna. Siapa pun tiba. Melepas lelah dan desah. Setetes cinta senantiasa tumpah dalam iklan kondom dan bir. Merobek jaring asmara, lalu merebahkan lelah di atas payudara yang agung dan murung. Ia membayangkan ketika Gang Doli, Kalijodo dan Nusantara masih berdenyut pelan. Dan kelam. Yang di sudutnya yang becek, ia menyimpan selembar kenangan. Dan gelisah yang disembunyikan. Begitu dalam. Begitu demam.
Ada yang menggantung rindu di tali jemuran celana dalam dan kutang yang tak lagi layak pakai. Diam-diam tanpa waktu. Di sudut ranjang yang tak begitu gelap itu, pembalut yang berdarah, gincu, gerimis yang tipis Dan keringat malam. Begitu riang. Begitu dendam. Kebahagiaan yang ganjil mendesah dalam keterasingan yang tak mengenali dirinya sendiri. Hari dan malam selalu resah dalam dangdutan. Bermimpi masa lalu di palung kepenatan yang dilenakan. Ada kecemasan dari ribuan kekalahan yang tak terjelaskan Dan ribuan tipu daya yang datang tak tertangguhkan.
Di belantara penghidupan. Harapan dan kepedihan menjelma aroma lipstik dan mie goreng di antara gerimis Dan lendir kenikmatan yang amis.
Tapi ini dunia, Tuan. Bukan surga yang tak punya tempat bagi pendosa Dan bukan neraka yang tak menerima orang suci dalam dirinya. Tapi inilah dunia, Tuan. Dunia yang tak kunjung selesai dikenali, bahkan oleh dirinya sendiri.
Tak ada satu pun yang mau menjadi penjual tubuh yang diberkati, bisik seseorang. Suaranya nakal dan mendesah pada kedua daun telinga manusia. Tapi di mana hidup akan ditegakkan pada sebuah negeri yang tak mengenali penderitaan, bahkan tak mengenali dirinya sendiri? Tanyanya resah. Dan gerimis luruh saja. Orang-orang mengenakan mantel, payung, dan jaket yang berwarna hitam.
Kali kotor menghanyutkan sisa-sisa kehidupan. Banjir musim penghujan membawa sisa-sisa kehidupan itu ke sana, mungkin ke laut atau meluap entah ke mana. Tak mengetuk daun pintu-pintu megah yang angkuh dan gaduh. Tangan-tangan kekar kekuasaan, rahang-rahang peradilan, dan khotbah agamawan bagai udara yang menerbangkan debu semen, dan orang pun terbatuk-batuk menanda nasib yang buruk. Pertanyaan-pertanyaan digilas keangkuhan alat-alat berat, kehendak-kehendak culas dan pintas. Belantara cor-coran Dan besi-besi lempengan.
Tapi di manakah anak gadis yang melintas di bawah gerimis, yang tersenyum manis di ujung kebun jeruk pada masa kecilmu?. Benda-benda dan kepedihan tiang-tiang lampu yang menyala. Waktu telah menculiknya. Jauh tak tahu ke mana. Membawa suratan nasib senjakala. Di kaki peradaban yang amis Dan kenangan yang teriris tipis-tipis.
Gerimis luruh di situ, tetap luruh di situ. Jalanan yang basah, becek, dan rumah-rumah yang tak tertata. Tuhan diam-diam berduka, larut dalam derita semesta. Tapi adzan masih terdengar dari rumah ibadah yang senang dengan dirinya sendiri. Merampas ampunan Dan ayat-ayat suci yang kau baca, tak kuasa menerka dan menaungi dosa-dosa dunia. Di situ, perempuan-perempuan malam tak henti membuat lobang-lobang pertanyaan tentang hari depan di dalam nasib sial, dan palung hati yang berkarat. Ke mana pun hidup harus dilanjutkan, dibela, dan dibayar. Alangkah agungnya hidup. Alangkah lampu-lampu itu redup. Alangkah jauhnya harap. Betapa panjang segala mimpi. Betapa bimbang segala jelang.
Tangan-tangan papah membiru oleh dingin dan janji-janji. Segenap rindu bergelantungan di tali-tali jemuran, kain-kian lembab, dan nyamuk. Dangdut melantunkan syair bersama hujan dan cuaca yang gawat.
Gerimis terus membayang sejauh jalan sejarah. Yang pergi tak dinanti. Yang hilang segera dilupakan. Lenyap dalam sebuah makan malam. Entah apa lagi, di mana lagi. Tempat-tempat tersembunyi yang didera kekalahan. Akan musnah dari bumi ibukota-ibukota yang airnya bencana. Dan tak sempat menjadi kenangan. Tapi dalam huruf-huruf ini, ia menolak fana meski disergap sepi dan sangsi. Ia telah melawan dengan segala daya upaya yang selalu dilumpuhkan, berusaha sekuat usia melunasi hidup yang terlanjur basah.
Ia akan terus menjelma ke mana-mana, mendiami benak kota-kota dan perjalanan semua manusia. Ia akan menjelma debu dan virus penyakit yang menempel di pintu-pintu kesenian dan perpustakaan, di jendela-jendela rumah-rumah megah, dan dinding istana negara. Setidaknya ia telah bersepaian di tengah semesta raya, dan berurai mendiami huruf-huruf dalam surat ini. Menjadi abadi Dan sendiri.
Alor, 29 November 2019


Tidak ada komentar:
Posting Komentar