Mengenai Saya

Kamis, 04 Mei 2023

CORET ESAI : KOMEDI


Dalam film “Maju Kena Mundur Kena” (1983), Marina - yang diperankan oleh Eva Arnaz dengan perut dan bokongnya yang mashur dalam perfilman Indonesia itu, membaca sepucuk surat dari Kasino. Di dalam suratnya tersebut, Kasino melakukan “unjuk perasaan” dengan menanggungkan kerinduan yang sangat mendalam. Ia menyatakan dengan tegas dalam suratnya, bahwa ia mengagumi Marina melebihi kekagumannya pada Margaret Thatcher. Di akhir surat berbunyi: “tertanda K Virgo Boy”.

Film komedi Indonesia yang legendaris itu, menyimpan kritik sosial yang tajam melalui humor pada masanya. Masa-masa di mana kritik adalah bahaya. Dan kita tahu, persahabatan tiga orang itu (Dono, Kasino, Indro) terjalin tak hanya di dalam film. Ketiganya menjalani persahabatan yang mesra dan tanpa perhitungan untung-rugi. Persahabatan sejati itu - menurut Indro, hanya dapat dipisahkan oleh kematian Dan waktu membuktikan hal itu. Sampai hari ini, tatkala Warkop DKI Reborn dilahirkan, khalayak terus merindukan tiga orang Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya tersebut. 

Meski tak ada yang dapat menggantikan Dono, Kasino, dan Indro dalam versi reborn itu. Tetapi kerinduan tampak diam-diam. Lantaran orang melihat komedi bukan sesuatu yang luar biasa. Padahal sesungguhnya tak mudah menciptakan komedi atau humor tanpa melewati seribu penderitaan hidup yang nyata dan mematikan, kata Chaplin, Bahwa komedi sejatinya lahir dari pedalaman tragedi.

Tetapi barangkali kerinduan tak lain karena betapa langka persahabatan sejati yang menciptakan “rasa sedarah”, tak menghitung untung-rugi, yang dijalankan dengan ketulusan dan kejujuran. Yang dibuktikan oleh waktu. Hari ini, waktu menampakkan persahabatan hanya sebatas basa-basi sosial. Lebih-lebih di media sosial, persahabatan rasanya hanya sebatas ungkapan. Tak lebih. Nyaris tak nampak kisah persahabatan sejati. 

Jarang sekali ada orang punya kawan akrab. Lantaran yang terjadi, ia harus dipahami, tetapi tak pernah mau memahami yang lain. Ia tak selesai dengan dirinya sendiri, sehingga semua orang tak ada yang cocok baginya. Orang pun tak gemar menyelenggarakan pertemuan langsung, dan memandang persahabatan hanya soal kebutuhan. Orang gemar berselingkuh dari suatu ikatan sejati, berbuat tega pada sahabat atau pasangannya dengan diam-diam. Berbaik-baik muka. Namun merendahkan orang lain dan membuka aib. Kalau susah, kebersamaan adalah segalanya. Giliran kaya dan beruntung, sendiri saja. Kawan seperjalanan, campakkan atau tinggalkan saja. Perilaku rendah itu, membuat hidup kering. Orang gemar mencelakai dirinya sendiri secara cepat atau lambat.

Pada suatu hari, ketika Warkop DKI tertawa, zaman pun telah melesat. Orang lebih gemar menertawakan derita orang lain Dan membunuh kebersamaan dengan kesombongan. Suatu perjumpaan antar-manusia harus disertai syarat dan ketentuan, ribet, dan ribut. Segalanya berjalan penuh kepentingan. Diam-diam menjadi pengecut. Kemudian media sosial menampakkan watak asli manusia itu dengan segala tampilannya yang memuakkan, yakni “penyakit berkuasa” yang abnormal ujar Freud. 

Manusia begitu gemar menyakiti dirinya sendiri, berkali-kali. Berulang-ulang kali. Lalu memakan kawannya sendiri. Di situ, tak terjadi kesadaran untuk saling melengkapi Dan manusia pun kesepian dalam segala pencapaian hidupnya.


Makassar, 18/06/ 2022





Tidak ada komentar:

Posting Komentar