Mengenai Saya

Jumat, 05 Mei 2023

PRESIDEN (SERPIH)


Presiden kita berikutnya jangan asal Presiden. Pemimpin nasional kita sebentar lagi jangan sembarang pemimpin. Lebih selamat kalau rakyat mencari pemimpin, bukan menunggu orang-orang yang menyodorkan dirinya untuk menjadi pemimpin. 

Rakyat sebagai pemegang kedaulatan kalau bisa mulai belajar untuk tidak meneruskan tradisi kelalaian membiarkan dirinya dipimpin oleh "pemimpin setoran" dari perusahaan-perusahaan politik. Apalagi kalau yang menyetor adalah parpol. Sebab, Parpol tidak punya keperluan terhadap pemimpin sejati. Ekspektasi parpol adalah mencari laba, fokusnya dalam hal kepemimpinan adalah tawar menawar dan mengambil mana yang paling menguntungkan perusahaannya.

Kalau konstitusi dan undang-undang tidak memungkinkan rakyat mencari pemimpin sendiri, berarti undang-undangnya dibikin tidak berlandaskan kejernihan ilmu, kejujuran demokrasi dan jiwa kasih sayang kepada rakyat.

Saya tidak percaya bangsa Indonesia memang hobi masuk ranjau, sehingga menjalani sejarah dengan gairah sakit jiwa mencari ranjau-ranjau baru. Mungkin karena penderitaan dan ketertindasan sudah menjadi narkoba psikologi dan budaya mereka.

Usia rata-rata penduduk Indonesia adalah 27,5 tahun. Anak-anak muda adalah penduduk mayoritas. Mereka sangat potensial untuk tidak mempermudah jalan bagi siapapun untuk menjadi Presiden. Kriteria dan syarat-rukunnya wajib dilipat-gandakan dibanding presiden-presiden sebelumnya.

Indonesia ini Negara besar dengan problem sangat besar. Indonesia Ini bangsa besar dengan ujian yang luar biasa besar. Indonesia ini tanah air kaya raya dengan kesembronoan pengelolaan yang sangat melampaui batas. Indonesia ini kepulauan raksasa yang dihuni oleh manusia-manusia spesifik, prolifik dan multi-talent, namun sedang berada di titik nadir ketidakpercayaan diri. Indonesia Ini Garuda, sedang mabuk jadi perkutut.

Calon pemimpin tidak sekedar di uji integritas moralnya, kematangan profesionalnya, kredibilitas ekspertasinya, visi masa depannya, akurasinya dalam menemukan segala sesuatu yang bermanfaat bagi rakyatnya, keberaniannya mengambil resiko pribadi untuk keperluan rakyatnya, serta berbagai parameter lainnya yang dikenal oleh pemikiran kenegaraan modern.

Kalau pakai common-sense, Presiden dan Pemerintah niscaya memiliki mental berani tidak makan sebelum rakyatnya kenyang. Ibarat kepala keluarga, kalau ada perjamuan, ia makan terakhir. Kalau ada kebakaran, semua anggota keluarga ia upayakan keluar rumah duluan. Ibarat kantor, Presiden adalah karyawan rakyat yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Presiden siap menjadi orang paling sedih dibanding semua orang.

Dalam tinjauan wacana Agama, Presiden adalah orang yang paling berat hatinya melihat penderitaan rakyatnya, sementara ia tidak cengeng atas penderitaannya sendiri. Hatinya tidak tegaan kepada nasib orang banyak. Kalau Malaikat mendadak datang mencabut nyawanya, Presiden merintih : "Rakyatku… rakyatku… rakyatku…", bukan "Ibu…istriku…anakku….".

Adab sosial Bangsa Nusantara dahulu, yang menemukan sebuah idiom ; "manunggaling kawula lan Gusti" - Menyatunya hamba dengan Tuhan. Dalam Terma Irfani di sebut ; Wahdatul wujud - Tajalli.

Pemahamannya jangan di manipulasi menjadi, Rakyat adalah Hamba dan Presiden adalah Tuhan. Pemahaman seperti itu adalah pemahaman manipulatif demi keperluan feodalisme budaya dan kekuasaan politik. "Manunggaling kawula lan Gusti", bukan rakyat harus mematuhi dan melaksanakan kehendak Presiden.

"Presiden" itu suatu idiom di dalam bingkai gagasan kenegaraan modern yang mengacu pada ideologi demokrasi. Demokrasi menetapkan suatu kebenaran, bahwa tanah air dan lembaga Negara adalah hak milik rakyat. Seseorang diangkat menjadi Presiden pada posisi di mandati, di pinjami atau di amanati sebagian kedaulatan dalam batas ruang dan selama waktu tertentu. Maka, tafsir feodal "menyatunya hamba dengan Tuhan", tidak bisa dipinjam oleh pemikiran demokrasi untuk mengabsolutkan kekuasaan Presiden.

Mungkin sebagian Raja dimasa lalu memperdaya rakyatnya dengan penafsiran yang disebarkan, bahwa rakyat adalah "Hamba" dan Raja adalah "Tuhan". Tetapi sejak Sunan Kalijaga hadir di abad 14-16 M, ia menginovasikan kehadiran Semar di dalam peta kekuasaan Kerajaan-kerajaan yang dikenali masyarakat melalui Wayang, struktur hubungan vertikal hamba-Tuhan, rakyat-Raja direlatifkan oleh adanya Semar.

Semar adalah rakyat biasa. Pada saat yang sama beliau adalah Panembahan Ismaya. Dewa yang posisinya sangat tinggi, paling senior, diatasnya Bathara Guru, Presidennya Jagat Raya. Diatasnya Semar langsung adalah Sang Hyang Widhi (istilah Arabnya “Ilahi”) atau Sang Hyang Wenang (“Robbi”), yakni yang disegala zaman dikenal sebagai Tuhan itu sendiri dengan sebutan bermacam-macam.

Dengan adanya Semar, struktur kedaulatan vertikal melengkung menjadi bulatan. Kekuasaan itu siklikal. Semar ada di titik tertinggi di bawah Tuhan, sekaligus dititik terendah bersama rakyat jelata. Dua titik itu satu, sehingga garis lurus vertikal itu menjadi bulatan. Sangat indah Sunan Kalijaga mendesain demokrasi.

Maka, tafsir "manunggaling kawula lan Gusti", yang kerap disebarkan beberapa tahun belakangan ini, terdapat didalam diri seorang Presiden, "Hamba" dengan "Tuhan" itu “menyatu”. Didalam entitas tugas kepresidenan, rakyat dengan Tuhan menyatu. Didalam dada dan kepala Presiden, rakyatnya dengan Tuhannya tidak bisa dipisahkan. Kalau Presiden menindas rakyatnya, Tuhan sakit hati. Kalau Presiden mengkhianati Tuhannya, rakyat turut tertimpa kehancuran karena kemarahan Tuhan.

Isi kepala Presiden adalah kesibukan mesin penyejahteraan rakyat, isi dadanya adalah "rasa bersalah", karena belum maksimal bekerja. "rasa malu", karena belum berhasil seperti yang seharusnya. serta "kerendahan hati" kepada Tuhan dan rakyatnya.

Maka, sejak semula ia tidak menawar-nawarkan diri, memasang gambar-gambar wajahnya disepanjang jalan, menyatakan "aku yang baik", yang maknanya adalah "selain aku tak ada yang baik". Kata Rakyat jelata diMakassar : "sanggup merasa tak bisa, bukan mampu merasa "aku bisa". Toh, nanti rakyatnya akan memberi "raport" kepada setiap Presidennya, ia bisa ataukah ber-bisa. Orang yang bilang "aku bisa" adalah orang yang tak percaya diri, sehingga memompa-mompa dan membisa-bisakan dirinya.

Sebenarnya agak mengherankan bahwa, rakyat Makassar umpamanya, bisa sedemikian serius kehilangan kearifan lokalnya, setelah mereka terseret memasuki model aplikasi tipu-daya demokrasi untuk memilih pemimpin mereka. Seluruh cara orang-orang yang mencalonkan diri menjadi Presiden, Dewan Perwakilan rakyat, Gubernur, Bupati, Walikota hingga Lurah, tanpa terkecuali seluruhnya sangat menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang "merasa bisa". Nuansa budaya pencalonan dengan "bisa merasa" itu dipastikan akan membuat semua orang lain yang berkualitas "Merasa bisa" akan minggir dari lapangan politik. Sehingga bisa dipastikan juga, bahwa hampir mustahil rakyat akan memperoleh pemimpin, yang sebagaimana mereka dambakan dari antara para pemamer wajah yang mutunya adalah "Merasa Bisa".

DiMasjid dan Mushalla manapun, tidak ada orang bodoh tak tahu diri yang berteriak "Ayo kalian berbaris makmum, saya yang paling pantas menjadi Imam shalat kalian". Dalam kehidupan manusia yang berakal, pemimpin lahir dari apresiasi rakyatnya dan rakyat pulalah yang mendaulatnya menjadi pemimpin. Kiai dan Ustadz menjadi Kiai dan Ustadz, karena ummat menemukan keshalehan mereka dan mengangkat mereka menjadi "Ki Hajar", tempat semua orang merujukkan persoalan. Kiai dan ustadz tidak lahir dari pemilik modal dan pengarah acara televisi.

Kalau pakai filosofi klasik, manusia ada empat: (1) orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti, (2) orang yang mengerti tapi tak mengerti bahwa ia mengerti, (3) orang yang tak mengerti tapi ia mengerti bahwa ia tidak mengerti, (4) orang yang tidak mengerti dan tak mengerti bahwa ia tak mengerti. maka, Presiden kita adalah manusia kategori pertama.

Kalau pakai peta akademis, (1) orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal, (2) orang yang tahu banyak tentang sedikit hal, (3) orang yang tahu sedikit tentang banyak hal, (4) orang yang tahu banyak tentang banyak hal. maka, Presiden kita adalah manusia keempat.

Jika pakai pendekatan "intel" : (1) ada sesuatu yang seseorang tahu dan masyarakat tahu, (2) ada sesuatu yang seseorang tahu tapi masyarakat tidak atau belum tahu, (3) ada sesuatu yang masyarakat tahu tapi seseorang itu tidak atau belum tahu, (4) ada sesuatu yang seseorang maupun masyarakat tidak atau belum tahu. maka, yang keempat inilah Presiden kita nanti.

Ia bukan hanya Presiden suatu Negara, tapi juga pemimpin suatu masyarakat, guru suatu bangsa. Presiden berdiri sendirian memandang sesuatu yang semua orang dan ia sendiri belum tahu. Tugasnya sebagai Presiden adalah mencari tahu. Ia berdiri paling depan menembus kegelapan, untuk menemukan cahaya.

Presiden menjadi Presiden karena ia punya kesanggupan akal, stamina, mental, keluasan hati, kesabaran rohani serta kekompakan frekuensi dengan seluruh unsur jagat raya, untuk membawa "oleh-oleh" kepada rakyatnya, sesuatu yang sebelumnya rakyat belum tahu sehingga belum pernah merasakan. Salah satu hal yang Presiden perlu cari tahu adalah: untuk Indonesia yang hancur lebur sekarang ini, ia wajib berani mati, misalnya beberapa minggu atau bulan sesudah dilantik.

Presiden adalah orang yang paling berani bergerak meringsek masa depan yang gelap. Ia melindungi rakyatnya yang tidak tahu, ia berperang melawan ketidak-tahuannya, kemudian ia memenangkan peperangan itu dan menghasilkan sebuah pengetahuan yang baru sekali, yang belum pernah ditemukan oleh siapapun sebelumnya. Presiden adalah perintis, pelopor, ujung tombak sejarah, yang siap sirna ditelan resiko perjuangan dalam gelap mencari cahaya.

Presiden adalah pengambil keputusan pertama dan utama untuk melangkahkan kaki menapaki kegelapan. Sebab manusia itu hidup dulu baru mengerti, bukan mengerti dulu baru hidup.

Di bawah ubun-ubun kepala Presiden terdapat "chips" penerima dan pengolah cahaya. Daya serap dan daya olah cahaya itu mensifati pandangan matanya, pendengaran telinganya, struktur urat sarafnya, modulasi kuda-kuda jasad dan ruhaninya dengan "badan besar" alam semesta. Maka, dari telapak tangannya memancar cahaya.

Dengan suluh cahaya telapak tangan ilmu itu ia menapaki kegelapan. Ya. Masa depan itu gelap. "Aku", kata Tuhan, "memperjalankan hamba-hambaKu menembus kegelapan malam hari". Hidup adalah malam hari, karena "sekarang" sesungguhnya tak ada. Tatkala engkau berada di "se", tiba-tiba sudah "ka". Dan tatkala engkau tiba di "ka", "se" sudah masa silam yang "tiada", sementara "rang" adalah masa depan yang engkau tak tahu apa-apa.

Jika engkau melembut, waktu tampak olehmu. Jika engkau meregang membesar, engkau paham kebesaran ruang, keluasan dan ketidak-terbatasannya tak terjangkau olehmu. Maka, kuda-kuda terbaik bagi setiap makhluk, apalagi manusia, adalah kerendahan hati. Itulah 'kesadaran debu'.

Tak bisa kau tempuh gelapnya "rang" dengan modal "merasa bisa". Hari siangpun gelap. Sebab matahari bukan benar-benar bercahaya sebagaimana yang ilmu memerlukan. Matahari hanya mengantarkan kesadaran tentang cahaya. Orang menanam tak tahu panennya, orang berjualan tak tahu berapa calon pembelinya. Orang lahir tak tahu matinya. Pada interval antara diri mereka dengan titik ketidak-tahuan itu terdapat bentangan nasib, mungkin ada sejumlah Malaikat berseliweran, Dewa Nasib, makhluk distributor "pulung", atau apapun namanya.

Mungkin itulah sebabnya Tuhan memberi tuntunan melalui salah satu sifat-Nya sendiri: kalau mau jadi Presiden, pertama sekali kamu harus "mempelajari kegaiban, dan menyaksikannya". ‘Alimul-ghaibi was-syahadah. Kognitif dan empiris. Kegaiban yang paling utama adalah rahasia hati rakyatmu. Justru karena itu, maka sesungguhnya cahaya itu terletak di kandungan hati nurani rakyatmu.

Sebagai Presiden kau menggenggam suluh cahaya. Kau tak punya kemungkinan lain pada posisi itu kecuali melimpah-limpahkan kasih sayangmu kepada rakyatmu. Engkau menjadi kabel yang dilewati arus listrik "Rahman", cinta yang meluas, serta "Rahim", cinta yang mendalam, sampai 12 tingkat frekuensi perjuangan kepresidenanmu. Atau sesekali tengok Ronggowarsito: pemimpinmu berikut ini adalah "Satria Pinandita Sinisihan Wahyu". Pendekar ilmu dan managemen, yang hatinya sudah selesai dari nafsu keduniaan, dibimbing "pendaran-pendaran gelombang elektromagnetik" hidayah Tuhan di ubun-ubunnya.



* Rst
* Pejalan Sunyi
* Nalar pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar