Jika setiap musibah dan penderitaan dipahami kutukan bagi si penderita atau yang terkena musibah, maka kita telah memasang jarak terhadap peristiwa.
Bagi Chaplin, dalam jarak antara kita dan penderitaan, terciptalah komedi. Yang di sini memandang penderitaan yang di sana, bagai nonton film komedi tragis. Ketika pandangan pada penderitaan itu berhenti pada komedi belaka, terbentang jarak yang kerap menimbulkan dugaan, bahkan olok-olok. Jika celaka hanya "diletakkan" di sana, seseorang merasa aman dan mengandaikan keselamatan dirinya sendiri.
"Mujur" dan "celaka" tak dimengerti sebagai kesatuan yang utuh, maka keamanan hidup adalah ilusi.
Orang yang merasa aman dan mujur, memandang penderitaan di luar sana bukan bagian dari dirinya. Segala peristiwa ketakmujuran hanya gambar-gambar yang dilihat, diratapi. Tak menumbuhkan kesadaran yang diinsyafi, bahwa kenyataan tak pernah berdiri sendiri. Ia lalu tak sadar telah merancang "kecelakaan" dengan perasaan "aman", lantaran "celaka" dianggap bukan bagian dari dirinya.
"Aman" dan "celaka", kata orang timur, tak lain, adalah persepsi dari pengalaman inderawi. Manusia bukan bagian dari penderitaan, tapi ia tak dapat terlepas darinya. Bukan pula bagian dari keamanan, namun ia tak bisa terceraikan dengannya.
Melampaui "aman" dan "celaka" membuat manusia menciptakan keamanan dengan mencegah penderitaan, meringankan atau mengentaskan penderitaan yang "terlanjur" terjadi pada diri dan sesamanya. Di sinilah, humanisme tumbuh dengan kokohnya. Tak mengandaikan derita seperti film yang cuma ditonton atau diratapi, tak mengklaim rasa aman dalam kecongkakan dan "ketertutupan diri", individualisme yang tidak menggerakkan diri untuk mengolah kehidupan.
Nabi Muhammad mengilustrasikan dengan sederhana dalam sabdanya, bahwa manusia yang bersaudara dengan sesamanya bagaikan satu tubuh, satu bagian tubuh sakit, bagian yang lain pun turut merasakannya.
Manusia sering kali dicekam momen dramatis dari penderitaan, atau momen dramatis dari kegembiraan. Momentum dramatis itu bagai memberi semacam rasa haru yang ketika sedemikian kuatnya, tak dapat dibedakan antara keharuan derita dan keharuan gembira. Perih dan enak tak dikenali lagi perbedaannya. Manusia yang melampaui penderitaan dan kegembiraan, ia tiba pada kondisi kosong. Kebahagiaan sejati, kata Budha. Berada pada keadaan hakiki (dengan kesadaran) sebagai manusia yang dalam dirinya terdapat "rasa" yang kokoh mengatasi segala keadaan; aman dan rawan, derita dan kegembiraan. "Bencana dan keberuntungan sama saja," ujar WS. Rendra.
Aman dan rawan tidak tercipta oleh keadaan alami, tetapi muncul dari persepsi seseorang terhadap kondisi. Bagi seorang pelaut ulung, lautan tidaklah rawan. Bagi yang takut air, kolam renang pun menjadi ancaman berbahaya baginya.
Penderitaan bernama penderitaan tatkala seseorang tak sanggup mengolah kondisi yang tengah diderita inderanya. Kebahagiaan bernama kebahagiaan saat seseorang nyaman dalam kondisi yang dianggapnya "aman". Itulah bukti kelemahan. Kefanaan yang menumbangkan.
Semua itu persepsi, ujar kebajikan timur. Berada dalam keseimbangan antara penderitaan dan kegembiraan itulah posisi sejati. Lantaran penderitaan hanya dapat dikenali oleh adanya kegembiraan yang menjadi lawannya. Manusia menderita tatkala ia mengandaikan kegembiraan Dan sebaliknya. Tanpa penderitaan, tak ada kegembiraan bernama kegembiraan. Manusia bergembira ketika ia mengandaikan penderitaan nun jauh di sana, atau melupakannya. Keduanya selalu tak pernah berdiri sendiri.
Manusia jauh lebih mulia daripada penderitaan dan kegembiraan. Sehingga ia mestilah kokoh di hadapan penderitaan dan kegembiraan hidupnya. Akan tetapi, kekokohan itu membutuhkan sandaran agar ia benar-benar dapat mengokohkan diri, yang membebaskan dari "perbudakan derita dan gembira" dalam segala peristiwa kehidupannya. Untuk itu, ia butuh mengendapkan dan merundukkan hati guna mengutuhkan rasa aman dan rawan, begitu pula derita dan gembira. Sehingga menjangkau "nikmat" yang berdiri di tengah dua hal yang bertentangan dalam dirinya.
Hati yang runduk akan mengenali-Nya yang mahakokoh dan mengokohkan. Dia tak mungkin dikenali siapa pun yang tak berusaha kuat (dengan kemanusiaannya) untuk mengenali-Nya. Ketika Dia dikira di sana belaka, Dia tak dikenali dalam derita manusia. Ketika Dia dikira hanya di sini semata, orang gagal mengenali-Nya saat terjebak dalam kenyataan yang tak kuasa diandaikannya. Dia yang "maha-di-sana", pun yang "maha-di-sini", yang di luar-yang di dalam: esa.
Posisi kokoh humanisme di tengah "antara" itu, dalam teks suci disebut "maqamam mahmudah" (posisi humanis yang terpuji dan aktif), yang difitrahkan Tuhan bagi hamba-hamba-Nya yang merundukkan jiwa-raga dengan gerak-gerik kemanusiaan yang membebaskan, mengentaskan penderitaan, dan yang mensyukuri kebahagiaan.
***
Sahdan di tepian sebuah kota itu, malam selalu hidup dengan perjamuan. Seseorang bercerita perihal kenangan. Pada sebuah senja, seseorang merasa cemas. Pemerintah memperlebar jalan raya. Jalan-jalan digali, ditimbuni bebatuan, kemudian diaspal. Ia sedih melihat kenangannya terkubur di aspal jalan itu. Perihal gerimis Dan gadis manis yang menangis.
Tetapi apakah pemerintah mengerti, ada cerita yang telah terkubur di bawah jalan raya itu? Diaspal. Terkunci di sana selama-lamanya. Di bawah panas. Juga hujan yang tertawan. Ia berharap aspal jalan itu jebol, mencekung, kemudian air hujan menggenang di situ. Agar ia dapat melihat kembali kenangannya menyelinap di celah jalan yang jebol itu, berkilau-kilau diterpa cahaya matahari senja hari.
Lalu kembali menghijaulah nama-nama di dalam dadanya, seolah berlari bagai sedia kala, dan pertemuan pertama yang tak pernah disengaja. Surat-surat yang wangi. Cinta yang tak bertanya. Sunyi tak jadi. Kesepian itu memasuki relung terjauh dalam jiwa. Kota-kota menyediakan segalanya. Tetapi tak pernah mengerti kesunyian purba yang membawa derita dari hasrat untuk menguasai. Masih ada prosa musim hujan. Juga malam yang diam. Kenangan. Jalanan tua. Gedung-gedung berlumut milik orang Tionghoa Dan wajah yang samar.
Peristiwa demi peristiwa mengalir. Berganti. Dan tak kembali lagi. Orang berkhayal perihal mesin waktu. Ingin mengulangi yang telah berlalu dengan kepastian ilmu pengetahuan. Tetapi siapa sanggup merangkai tulang-belulang yang sudah hancur lalu menghidupkannya kembali? Tak ada. Selain memajang setiap rangkaian ingatan itu dalam sebuah museum yang gelap, dalam sebuah buku entah tentang apa saja dalam perpustakaan yang dingin dan berdebu. Dan nasib, kata Chairil, adalah kesunyian masing-masing. Manusia menghadapi dan bercakap-cakap dengan darinya sendiri. Diri yang purba, yang kesepian di tengah pencapaian ganjil kota-kota. Sedang hujan berjatuhan dari balik jendela. Sedang ingatan kekal dalam muskil dan samar. Seperti gerimis.
Sejarah hanya ditampakkan sebagai rangkaian peristiwa, benda, dan kerangka manusia. Hari ini kita pun tak mengerti, untuk apa semua itu di antara sampah yang mengambang di sungai hitam, di mana kenangan berkilau-kilau di antara kotoran orang.
Syahril Latif mengisahkan perihal yang datang, yang pergi, yang tak kembali, yang hilang, yang dirampas waktu. Dalam ceritanya berjudul “Gank” (Horison, 1990), ia mengisahkan seorang pemuda bernama Hamzah. Mulanya ia bukan penyair. Ia jatuh cinta pada gadis paling cantik di gang itu, bernama Maryam. Tapi cintanya selalu ia tutupi. Ia selalu seolah membenci Maryam. Diam-diam sesungguhnya Maryam tahu, Hamzah memang malu-malu mencintainya. Diam-diam pula, Maryam mencintai Hamzah.
Namun kedua orangtua Maryam menjodohkan Maryam dengan laki-laki anak seorang pengusaha besar di kota besar. Sebagai anak orang melarat, Maryam harus patuh, ia musti mengorbankan cintanya kepada pemuda dambaan hati yang bernama Hamzah. Tatkala Hamzah menerima undangan pernikahan dari Maryam dengan laki-laki anak orang kaya itu, Hamzah menampakkan kemurungan senantiasa. Ia berhenti kuliah. Kemudian mengekos di sebuah kota. Hamzah menulis puisi. Ia jadi penyair. Penyair yang selalu sendirian. Puisi-puisi Hamzah selalu melungsurkan kemurungan, kehilangan, muram yang durja, hati yang telah patah dan entah dengan apa harus diutuhkan lagi. Ia membawa kemurungan dan patah hatinya jauh ke sana. Jauh entah di mana.
Kisah sang penyair patah hati dalam cerita Syahril Latif itu, mengingatkan saya pada seorang penyair. Hingga senja usianya, ia tak menikah. Tak ada gadis yang dapat menjatuhkan hatinya lagi setelah jatuh hati yang pertama pada seorang gadis manis yang basah gerimis, seorang gadis yang tak berhasil dimilikinya, dan telah menjadi milik orang lain. Ia kembara ke mana saja. Dari satu kota ke kota lainnya, dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, dari satu tempat asing ke tempat asing lainnya, mencoba membuang bayangan kekasihnya, berupaya tiada tara melupakan segala kenangan.
Tapi ia tak pernah bisa. Justru kenangan telah menjadi daya baginya menuliskan puisi-puisi pedih sepanjang jalan, hingga senja usianya. Hingga putih rambutnya Dan tubuh yang lelah. Tapi hatinya bahagia dalam derita, membawa kenangan yang tak pernah hilang, membawa ingatan pada wajah kekasih tercinta yang tak dimilikinya.
Kenangan itulah yang membuatnya tetap hidup, membawakan puisi-puisi pedih, meneriakkan kehilangan dalam pertemuan-pertemuan dan dalam kesepian, dan menjerit mempertanyakan nasib.
Alangkah agungnya cinta, bisiknya. Tetapi betapa pedihnya. Siapa gerangan dapat memulihkan luka di dalam dada? Dan dengan apa lagi hati dapat terobati? Ia membawa pertanyaan dan kenangan dalam kesendirian yang benam. Ia pahatkan gelisah jiwanya di stasiun-stasiun malam, rambutnya menggerai panjang dan sunyi.
Barangkali Shakespeare pun tak sanggup menjawab; kenapa cinta menjadi luka, dan buat apa pertemuan jika meniscayakan pada perpisahan, sebagaimana dalam lagu. Lalu kenapa puisi? Mungkin Goethe benar; hanya seni yang dapat secara sempurna dan meyakinkan orang untuk menghindari kehidupan. Tetapi seni pula yang paling mungkin dan paling meyakinkan membuat orang sanggup menghayati kehidupan.
Konon puisi adalah penderitaan. Semakin menderita, semakin dalam segala diksi dan kata. Dengan bahasa yang tak pernah sempurna mewakilkan dirinya pada kata-kata, si hati yang patah menghayati dan melewati dunia sebagai kembara yang sendiri, yang tak pernah mengetahui di mana langkahnya akan berhenti.
***
Kisah cinta, bukan hanya perihal kebahagiaan atau canda-tawa. Barangkali kebahagiaan, canda-tawa atau entah apa lagi hanya bagian peristiwa yang dilewati manusia dalam kisah percintaannya. Bagian peristiwa dari suatu peristiwa yang sesungguhnya agung. Yang kita sebut tragedi. Cinta - yang segombal-gombalnya sekali pun, tak mungkin meleset dari tragedi, penderitaan, patah hati dan kesunyian.
Seolah ia memang harus dengan tragedi. Bagaikan iman. Berlangsung dalam jiwa Dan manusia mencoba menggambarkan atau mempernyatakannya dengan segala pengandaian atau obyek-obyek.
Di belantara rutinitas dan benda-benda yang pasti dan kaku, cinta yang gombal dan patah hati terasa lebih berarti. Tetapi orang melihat cinta hanya sebatas pertemuan tubuh. Seperti orang memandang obat. Orang mengira obat adalah satu-satunya cara untuk sembuh. Padahal sesungguhnya obat hanyalah salah satu cara untuk sembuh.
Ada orang sakit yang sembuh tanpa minum obat, namun ada orang sakit tak kunjung sembuh meski sudah rutin minum obat. Itu barangkali yang membuat Ibn Sina menulis buku masyhur berjudul "asy-Syifa'", yang berarti "penyembuhan", bukan "pengobatan".
Tapi sekarang, orang awam terlanjur dipaksa beriman, bahwa setiap penyakit harus diobati. Bukan harus disembuhkan. Sehingga obat menjadi mutlak atas kesembuhan seseorang, lalu segala kesembuhan harus bergantung pada obat, sehingga sekelompok bakul obat memperdagangkan obat dengan harga yang sangat mahal. Orang mengira dunia dilanda wabah, padahal mungkin saja itu cuma bagian dari cara-cara kelompok tertentu untuk jualan obat. Ini hanya dugaan. Dugaan yang mungkin saja keliru. Soal kebenaran, baiknya kita lihat saja pada kenyataan hidup sehari-hari.
Apakah muram dapat membayar pedihnya derita cinta? Kenapa ada kepedihan dalam cinta? Barangkali benar ujar Budha, bahwa kepedihan dan penderitaan adalah unsur utama atau bangunan utama kebahagiaan. Sehingga jika kau menderita, tabahlah. Lantaran sesungguhnya engkau tengah membangun pilar utama kebahagiaan. Katanya.
Barangkali seseorang perlu meluangkan diri ke keadaan yang lebih sepi, lebih jernih, dan mungkin sendiri. Melihat kenyataan. Berjarak dari kehidupan dan segala peristiwa. Tepat di situlah, ia menikmati hidup yang komedi dan olok-olok. Kesedihan dan penderitaan bagai sebuah lawakan. Menertawakannya ialah sikap yang ganjil. Ada komedi yang tak melulu tawa, yang tak melulu air mata. Kita yang berada di luar tragedi, memandang tragedi bagai komedi, lantaran kita berjarak peristiwa. Lain halnya bila kita sendiri yang mengalami tragedi itu. Teror, perang, radikalisme, kriminalitas, korupsi, keterpurukan ekonomi semacam keterikatan tragedi dan komedi, antara pelaku dan kita yang berjarak. Lalu di mana cinta? Yang berarti, di belahan mana kita tengah berada?
Cinta, kata orang, tak bisa dimakan di tengah kemiskinan, tak dapat ditampilkan di panggung hidup sebagai badut hiburan, tak bisa diberikan pada penderita busung lapar, bukan selimut bagi bayi dari kesengsaraan hidup orangtuanya yang tergolek sakit di kasur kekumuhan. Kenapa? Karena cinta, tentu saja, bukan benda. Bukan roti atau pil sakit kepala. Padahal menurut lagu pop dan dangdut, cinta itu tanpa logika!
Ah! Seolah omong kosong yang tak pernah selesai dirayakan, bukan? Seperti agama!
Bahkan mungkin di ranjang, cinta terselip di balik rutinitas seksual. Seseorang boleh jadi membayangkan dada Jessica Alba atau Tera Patrick, dada yang betapa sudah purba fungsinya; menggembung menyusui populasi manusia yang diternakkan oleh zaman. Kemudian melihat mentimun sembari mengkhayalkan kelamin kekar bintang porno.
Cinta dan agama menjadi omong kosong berdebu yang diandaikan pada hasrat berkuasa atau nafsu makan yang ditodong harga-harga, dihantui gairah memiliki dalam ketakberdayaan ekonomi dan kesenjangan yang mengerikan. Tapi di manakah harapan di antara semua itu? Masihkah manusia berkeras sebagai makhluk mulia yang merasa paling penting di jagat raya?
Menurut Cak Lontong, kunci sehat itu hanya satu, “Jangan sakit!”
Makassar, 18 November 2022


Tidak ada komentar:
Posting Komentar