Mengenai Saya

Kamis, 04 Mei 2023

POLARISASI KEKERASAAN TERHADAP INTERPRETASI AGAMA : CITIZEN JOURNALISME


Aku curiga, jangan-janga penguasa -penguasa kita ini tidak paham hakekat negara. sekarang ku ingatkan lagi pada kalian.

negara itu ibarat Rumah, tempat berlindung keluarga dari hujan dan panas, dari kelam dan ketakutan. di rumah itu, orang Tua memelihara anaknya dari haus dan lapar, nyaman bermain dan belajar. itu sebabnya, seorang ayah bekerja keras untuk memberikan rumah yang terbaik untuk keluarganya. Ayah itu kalian, wahai penguasa.

Kalian berambisi menjadi ayah. tetapi, gagap melakoni diri sebagai ayah. Jangankan memberi rumah terbaik, bahkan yang telah di warisi untuk anak cucu kita pun kalian tak menjaganya.

Ruang belajar bocor, meja makan retak, pilar rumah satu-satu sudah mulai kalian jual, kamar tidur sudah tak berjendela, kalian berhutang sana sini dengan alasan memperbaiki rumah yang bagaikan orang ngontrak dirumah sendiri.

Negara itu bagaikan rumah. begitu pentingnya sehingga para pendahulu berjuang mati-matian, darah dan nyawa adalah taruhannya. Berjuang agar negeri ini memiliki negara yang melindungi rakyatnya. tetapi, kalian sibuk mengurusi hal remeh temeh dan mensia-siakan perjuangannya.

Andaikan mereka hidup sekarang, betapa kecewa dan marahnya mereka atau bisa jadi penjajah ikut heran, kenapa kalian menjelma jadi mereka?. atau mereka bisa marah juga karena kalian bisa sejahat mereka.

Mereka adalah ayah yang baik untuk keluarga mereka, karena tak menjajah negerinya sendiri.

sependek pengetahuanku. di rumah, Sakit di tanggung bersama.

Ada yang tetiba gempar mengganggu nalar kita. sesekali tabah, sesekali abai. tapi, ketahuilah opini bisa sangat lebih keji. Kata dan kalimat tumpah dan berseliweran di ujung jari serta lidah, mengubah sekejap, tak menyisahkan ruang untuk sedikit melihat kedalam apalagi melakukan permenungan. benar dan salah adalah soal utama, bukan kebajikan.

Hujan mungkin akan berhenti sejenak hari ini. tapi, tidak cukup mengubah cara memandang dan berpikir kita yang sudah terlanjur pincang, patah-patah, nihil objektifitas, apatahlagi syarat pengamatan. bukankah semua itu tidak cukup untuk jadi pijakan berkesimpulan, terlebih menuduh. Apalagi memaki.

Kawan, kita mesti berbenah. tapi sudahlah, mata kita mungkin luput melihat pendahulu melipat perbedaan dan menyulamnya menjadi hunian yang meneduhkan kala terik membakar dan menghangatkan kala musim semi datang.

Untuk berbicara orang harus terlebih dahulu mendengarkan, belajarlah berbicara dengan mendengarkan. begitu tutur Rumi.

Reaksioner dan meledak-ledak itu hampir sama. Memang, Tidak ada yang salah dengan sikap reaksioner. yang soal, jika kita tak punya pijakan yang kokoh dan landasan dari sikap itu.

Penting kiranya kita lebih dulu mendengarkan lalu bicara ketimbang bicara dulu baru mendengarkan. agar pembicaraan kita tidak sembrono dan menyundul perasaan orang lain. juga tidak menjadi buah bibir apatahlagi jadi buah simalakama.

Tidak satupun manusia di jagat semesta ini yang rela rumahnya terkoyak-koyak dan hancur bekeping-keping ataukah tertinggal namanya saja.

Lakunya sebuah rumah di bangun diatas dasar cinta kemudiaan di ramu dengan kecintaan, dengan begitu akan lahir generasi yang mencintai rumahnya.

bukan menjadi lakon dan dalang utama yang menghancurkan pilar-pilar penopang, atap penyanggah dan dinding kamar yang entah telah di kemanakan. apatahlagi sampai menjualnya.

Kawan, jangan meledak-ledak yang berlebihan. itu bisa membuat telinga orang lain peccah dan tuli, akibat teriakanmu yang meledak-ledak, tapi tak berdasar kecintaan.

Pengingkaran terhadap rumah itu seperti mengutuki diri dari cinta. manusia bagaimanapun itu pasti terlahir dari rumah (cinta).

Tenanglah, biarkan saja ombak bergemuruh memecah batu karang. sebab, riuh rendah gelombang dalam rumah adalah keniscayaan dalam cinta.

indonesia adalah rumah dan narasi kebhinekaan yang utuh. Hanya kita yang kerap kali salah menikmatinya. 


***

Tidak boleh ada pembenaran atas penembakan mahasiswa saat demo oleh aparat, sebagaimana tidak boleh ada pembenaran pengeroyokan terhadap AA oleh peserta demo yang lain dengan alasan apapun. 

Perasaan Bahagia melihat AA babak belur adalah penjahat! Tak beradab. Batin kita pasti tersentak melihat berita amuk massa yang menghajar seorang influencer ; ADE ARMANDO. Tetapi, jangan juga kita mengabaikan kekerasan yang bertebaran di sekitar kita, yang dilakukan oleh para pemilik modal dan aparat. Bagaimana Perasaan kita saat 6 orang FPI di tembaki, rakyat yang di geruduk saat Di gusur Rumahnya, tanahnya, sawahnya, Habitat Hidupnya di Desa wadas waras?. Mereka, para influencer dan barisan penyembahnya justru tertawa, menghina, dan menyalahkan warga Wadas. 

Sejatinya si influencer, ahli filsafat dan logika se Nusantara dan kawan-kawannya itu juga pelaku kekerasan (verbal), kerjaannya melegitimasi kekerasan (struktural), memprovokasi, menertawakan rakyat dan menghina perjuangan ibu-ibu petani. 

Para intelektual hipokrit yang paling merasa anti kekerasan itu juga biasanya pilih-pilih. Jika kekerasan (langsung) yang dilakukan aparat pada rakyat, didukung. Tapi kalo kekerasan (langsung) massa pada temannya dibela mati-matian.

Kalau Mau menempatkan Frame Kemanusiaan. Tempatkan ia secara seimbang. Biar tidak terkesan bahwa kita Berdiri dengan Interpretasi atas Kemanusiaan. Bukan Kemanusiaan itu sendiri. 

Kekerasan fisik tidak datang tetiba tanpa sebab !. Apa yang di alami AA adalah buntut dari Memelihara dendam politik hukun, polarisasi kepentingan, narasi kasar dan kekerasan verbal. Mestinya Negara menyudahi itu, demi tahun politik yang lebih cerdas dan adem!. Bukan malah semakin membakarnya. 

Hampir selama satu dekade, para Influencer itu mempersekusi hal-hal paling fundamental dalam keyakinan umat Islam dan hal itu kita tidak anggap sebagai Kekerasan. Parahnya lagi hukum seakan permisif. Sulit menjamahnya! 

Seolah-oleh ia punya privilege untuk mencederai keyakinan umat bergama tertentu. Apakah salah, jika rasionalitas publik menjadi hilang karena kekosongan "equality before the law." 

Sementara kelompok-kelimpok oposan yang acap kali diametral dengan kekuasaan, begitu mudahnya dikriminalisasi. Akhirnya terjadi akumulasi dendamisme politik Hukum. Sehingga Sikap-sikap reaktif, main hakim sendiri dan seterusnya di lakukan ! 

Beragama dan basis nilainya adalah keyakinan kolektif suatu kelompok masyarakat. Sesuatu yang asasi. AGAMA TIDAK DIBERIKAN OLEH NEGARA, TAPI NEGARA BERKEWAJIBAN MELINDUNGINYA. Maka, berbagai statement-statement sarkastik Influencer terhadap wilayah teologi Islam selama ini, harus dibatasi oleh negara, melalui penegakan hukum. Faktanya politik Hukum Negara Kalah di Hadapan para Influencer dan Barisannya.

Apa yang kita lihat hari ini, dengan semua catatan kakinya adalah fenomena-fenomena yang memperlihatkan secara samar-samar, bahwa hukum menjadi alat kekuasaan. Bukan alat bagi publik untuk mendapatkan keadilan. 

AA adalah salah satu contoh, bahwa betapa rakyat berada di luar rasionalitasnya, karena rangkaian panjang penegakan hukum yang tebang pilih !

Makanya hati-hati. Tidak usah terlalu suci. Jangan sampai, Tanpa sadar, yang suka mendaku anti kekerasan, jangan-jangan malah pemuja paling militan terhadap kekerasan. 

Kita mengutuk kekerasan oleh siapapun dan pada siapapun. Bahkan ketika kekerasan itu dialamatkan pada pelaku kekerasan (verbal).

**

Agama Apa yang meniscayakan kekerasaan?. Tolong di perjelas 😔

Apakah Agama dan Interpretasi terhadap agama itu identik?. Lantas jika ada tindakan kekerasan secara sepihak oleh orang Beragama, anda menganggap itu bahagian dari Agama?. Jujur, cara berpikir demikian, Kacau. darimana Rumusnya, politik hukum dan Premanisme = Agama. Ini bukan soal intoleransi dan anti kemanusiaan. Ini soal ketidakseimbangan cara pandang. 

Agama keras adalah agama yang keluar dari ukuran-ukuran keagamaan. Kekerasan bukan ajaran agama. tapi, ajaran politik, kepentingan dan dendam polarisasi!.

Muthahari menuturkan, "Agama itu fitrah". Apakah kekerasan itu adalah fitrah agama dan manusia?. Makanya, kita perlu Membedakan makna antara "Agama sebagai Fitrah manusia" dan "Agama (ajaran agama) yang sejalan dengan fitrah manusia". 

Manusia memiliki fitrah (kecenderungan alami) pada agama yang benar. tetapi, interpretasi terhadap ajaran agama tidak semua yang sejalan dengan fitrah manusia. 

Pertanyaan mendasar yang diajukan Muthahhari diantaranya adalah; apakah karakter dasar (fitrah) manusia adalah cenderung pada kebaikan atau keburukan?. Muthahari menyimpulkan, fitrah (karakter) dasar manusia adalah cenderung pada kebaikan, sehingga segala perbuatan buruk, tentu dianggap bertentangan dengan fitrah manusia dan agama. 

Selain itu, menurut saya yang awam ini, "Baik-Buruk" itu predikat moral, sementara Kekerasan adalah subjek moral. Hubungan antara Subjek Moral dengan predikatnya bersifat rasional (filosofis). Nah, Apakah kekerasan terhadap Influencer ; Ade Armando adalah produk agama?. 

Kekerasan dan Kebaikan dalam bentuk tindakan adalah produk manusia. bahwa perbuatan "kekerasan" itu sejalan atau bertentangan dengan ajaran suatu agama tertentu, tentu membutuhkan metode pembuktian yang spesifik. Makanya, Jangan Terlalu Gegabah dan cepat Menilai, bahwa, pengeroyokan Terhadap AA kemarin adalah karena interpretasi agama atau bukan. 

Kalau pun misinya itu adalah hasil interpretasi mereka (pelaku) terhadap ajaran suatu agama, dalam hal ini (Islam). maka menurut saya interpretasi mereka itu sangat keliru (tidak sejalan dengan ajaran Islam) yang menolak penganiayaan kepada manusia sekalipun kepada orang Kafir. 

Penilaian saya tentang Agama damai itu nyata (cinta), juga akan dituding sebagai bentuk interpretasi terhadap ajaran Islam. tapi, penilaian saya itu bisa disandarkan pada banyak hadits dan riwayat serta berdasarkan etika universal (fitrah) yang bisa diverifikasi secara objektif dan rasional. 

So, Apakah "agama kekerasan itu benar-benar ada?". Saya justru lebih sepakat, bahwa kejadian kekerasan itu membuktikan bahwa agama kekerasan itu tidak ada. AA dipukuli bukan karena apa agamanya dan yang memukul bukan karena agamanya apa. tapi, karena politik Hukum polarisasi yang mengintervensi ruang-ruang hidup mereka sepanjang waktu. 

Saya Yakin, Semua orang secara fitrahwi (universal) sebenarnya menolak Kekerasan (Penganiayaan) kepada orang lain, apapun alasannya. tanpa harus bersandar pada ajaran agama tertentu. Jika kita sepakat bahwa Islam itu agama fitrah dan sejalan dengan fitrah manusia (etika universal). maka, konklusinya akan jelas bahwa penganiayaan tersebut tidak sejalan dengan ajaran Islam atau bukan ajaran Islam. 

Selain itu, tidak ada yang namanya "agama kekerasan" dari perspektif ajaran agama an sich. Tapi, sebahagian orang menilai bahwa diksi "agama kekerasan" itu juga penting untk menunjukkan kepada publik, bahwa ada suatu interpretasi "agama" yang mengarah pada tindak kekerasan, sehingga setidaknya publik bisa sadar bahwa tidak semua label "agama" itu pasti baik". Jika argumen seperti itu kita gunakan, berarti pada dasarnya, Tindakan kekerasan yang menimpa AA adalah Produk Agama. Padahal, jelas Suatu agama yang mengarah pada kekerasan dan kedzoliman pasti bukan agama. Kaidah fitrah mesti kita pakai disitu. 

Dalam konteks yang lebih spesifik, sebahagian kawan menilai, bahwa Khawarij itu bahagian dari umat Islam. meskipun ada embel-embel "menyimpang". krn faktanya ajaran Khawarij banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, sehingga umat secara umum bisa mengenal ciri-ciri umat Islam yang "menyimpang". 

Mestinya, Publik harus di beritahu dan di kabar beritakan bahwa label "agama" harus mengarah pada sesuatu yang baik. Jika ada yang mengarah pada sesutau yang buruk berarti bukan agama. Yah, kalau betul agama itu fitrah?. Dan ini penting untuk di ketahui bahwa khawarij itu bukan produk agama, tetapi produk politik. 

Di titik itulah, Kesadaran Intelektual kita niscaya menyepakati bahwa Tidak ada yang namanya "Agama Kekerasan" bahkan menurut saya istilah "agama kekerasan" itu adalah Oximoron, mengandung kontradiksi yang terselubung. 

kita harus mulai berani spesifik. Katakan bahwa kekerasan adalah produk politik. politik yang mengajarkan kekerasan, bukan agama. Kita mesti berani spesifik di jaman yang penuh salah paham begini. Sebab, stigmatisasi itu adalah pembodohan dan AA itu adalah contoh korban stigmatisasi, sedangkan "agama kekerasan" lahir dari term politik. 

Kenapa saya Harus menulis panjang lebar soal ini?. Karena, Agama harus identik dengan kesucian, penyucian, bijaksana, produktifitas dan kemaslahatan. 


--AGAMA ITU ADALAH CINTA DAN AKU MENCINTAIMU KARENA ENGKAU MANUSIA 😍🥰❤🌷--


*Pustaka hayat
*Pejalan Sunyi
*Rst
*Nalar pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar