Mengenai Saya

Jumat, 05 Mei 2023

- TALIBAN -


Sejak dulu, Taliban jago berperang ; Sovyet kalah, Amerika hingga hari ini meski tidak mengakui kekalahannya, tetap tidak bisa mengalahkan Taliban. Sejago-jagonya Taliban, belum tentu dia jago bernegara.

Kemenangan apapun itu, Jika tidak memiliki kawan, mudah di curi lawan. Begitulah kemenangan Taliban 20 Tahun lalu.

Saat Taliban menang, Presiden lawan melarikan diri dengan membawa sekian karung uang, loyalisnya dibiarkan terlantar dalam negeri. Tentara yang sudah dilatih berperang selama 20 tahun lebih, tidak melakukan perlawanan yang berarti. Kalah total, Taliban menang.

Itulah sebabnya, relasi yang pragmatis tidak akan bertahan lama. Akan berubah sesekali waktu, jika kepentingan sudah tak terpenuhi. Pekawanan tak kokoh, sebab diikat oleh uang dan kuasa.

Dari 370 departemen di Afganistan. Taliban berhasil menguasai 218 departemen. Taliban bisa dibilang sukses berperang. Tapi, Taliban juga harus mampu membuktikan mereka cakap memimpin. Sebab, Ancaman eksternal pasti lebih kencang dari berperang digunung-gunung.

Perang hanya bisa dimulai, tidak bisa diselesaikan. Dendam pasti ada, kabinet Taliban harus lebih cerdas memainkan perang diplomatik

Dengan semua kekurangan dan keterbatasannya, Taliban adalah bagian dari rakyat Afganistan yang juga memiliki hak untuk membebaskan tanah airnya dari penjajah.

Sama seperti Houthi di Yaman, mereka adalah rakyat asli Yaman yang punya hak melawan ketika tanah airnya diserang Saudi dan UEA.

Dari pernyataan para pemimpinnya. Taliban  sekarang, sudah berbeda Dengan Taliban saat menang melawan  Sovyet. Ini bisa dilihat Dari steatment jubir Taliban ; " kami akan menghormati hak-hak perempuan, seperti hak pendidikan dan pekerjaan. Mereka boleh ke sekolah dan bekerja asal berhijab".

Taliban 20 tahun lalu, menang berperang, tapi tumbang akibat dangkal dalam berpolitik.


**

Taliban menegaskan kembali hukum perang lama di kawasan tersebut bahwa merekalah yang berkuasa atas sang waktu. Amerika Serikat mengeluhkan episode Afghanistan sebagai perang terpanjang mereka, sementara bagi orang Afghanistan ini hanyalah kelanjutan tak berkeputusan dari konflik bersenjata di negeri tersebut sejak 1979.

Tak perlu mengejek nyali mantan Presiden Ashraf Ghani yang kabur ke Uni Emirat Arab, bahkan sebelum Taliban masuk kota. Beliau mungkin ingat naas yang menimpa pendahulunya, mantan Presiden Mohammad Najibullah, tahun 1996, yang diambil paksa tentara Taliban dari markas PBB, dimutilasi hingga tewas, lalu mayatnya diseret mobil di jalanan Kabul sebelum digantung di tiang lampu merah di depan (bekas) istananya.  

Tapi Taliban yang sekarang nampaknya sedikit berubah. Mereka tidak ngotot menggunakan kekerasan dalam menaklukkan Kota Kabul. Selama 3 tahun terakhir mereka aktif mengirim delegasi menemui pemimpin-pemimpin dunia, termasuk ke Indonesia, juga aktif berunding dengan AS di Doha. 

Mungkin Taliban tidak ingin mengulang kesilapannya di masa lalu, saat memenangi perang yang pertama (tahun 1996), bersikeras menutup diri dari dunia, dan hanya diakui oleh tiga negara. Kali ini lain. Diplomasinya bahkan mencapai China.  

Namun fakta lain kita saksikan dari kerumunan panik di bandara Kabul, ribuan warga mengeja pesawat agar bisa pergi menjauhi sang pemenang perang. Ini bukti bahwa penampilan baru Taliban masih kurang meyakinkan bagi sebagian orang Afghanistan. 

Tidak mudah memang menggalang kesepakatan damai di Afghanistan. Negeri itu multi etnis dan tidak ada mayoritas. 4 etnis terbesar adalah Pashtun (sering dieja Fustun oleh penggemar poligami Indonesia, adalah etnis terbesar tapi hanya 40%), Tajik (30%), Hazara (10%), Uzbek (10%), dan masih banyak yang lain. Dimanapun tempatnya, etnis adalah penyebab terbesar konflik, di atas agama maupun cabang-cabang alirannya. 

Dalam konfigurasi mujahidin lama, faksi terkuat justru dari kalangan etnis Tajik dibawah kepemimpinan Burhanuddin Rabbani. Inilah yang membuat orang Pashtun murka, diwakili oleh Gulbuddin Hekmatyar menolak kesepakatan damai 1992 dan menyulut perang saudara. Pashtun menuntut haknya sebagai etnis terbesar, walau bukan mayoritas.

Namun penentu sesungguhnya adalah kekuatan eksternal. Hingga 2001, Pakistan adalah pemain utama semua konflik di Afghanistan. Juga Arab Saudi, Iran, Uzbekistan, dan tentu saja Amerika Serikat. Ketika Mujahidin melawan Uni Soviet, Pakistan-Arab Saudi-AS menggelontorkan uang dan senjata untuk mempermalukan Uni Soviet. Semua negara asing memiliki favoritnya sendiri di internal faksi-faksi Afghanistan, dan favorit Pakistan adalah Hezb-e-Islami pimpinan Gulbuddin. Berkat bantuan Pakistan pasukan Gulbuddin dapat menghancurkan separuh Kota Kabul, tahun 1994. 

Perilaku Gulbuddin yang ugal-ugalan membuat Pakistan mengalihkan dukungannya kepada kekuatan baru yang sedang tumbuh, Taliban. Sama dengan faksi Gulbuddin, Taliban didominasi etnis Pashtun.  

Taliban lebih dipercaya karena kelompok ini tumbuh dari bawah. Diawali oleh 50 orang santri Pashtun yang muak dengan perilaku faksi-faksi yang terus bertarung sesamanya dan para Warlord (panglima perang) yang dzalim dan korup. Taliban hadir menertibkan kawasan-kawasan kecil, memberantas para kriminal, menghukum para penjahat. Salah satu yang membuat Taliban populer adalah ketegasannya memberangus kebiasaan menyimpang bacha bāzī.

Berbeda dari pendapat banyak orang, akar Taliban bukanlah Wahabi. Kelompok ini tumbuh dari madrasah-madrasah Deobandi. Aliran Deobandi adalah aliran yang tumbuh pesat di kawasan Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan) yang merupakan kelompok revivalis yang berpijak pada mazhab Hanafi (dalam fiqih) dan Maturidi (dalam teologi). Sementara Deobandis fanatik terhadap mazhab Hanafi, para Wahabi adalah ghairu muqallid yang menolak imam mazhab dan langsung merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah (puritan).

Kendati tidak sama, namun Deobandi memiliki irisan cukup banyak dengan Wahabi. Para penggagas Deobandi sejak abad 19 sering dibully rivalnya sebagai wahabis. Apalagi sejak era 1980-an ketika Pakistan dan Arab Saudi bersepakat mendukung jihad melawan Uni Soviet di Afghanistan. Uang dan fasilitas Arab Saudi membanjiri para Deobandis Pakistan dan Afghanistan. Sejak itu, sangat susah membedakan Deobandis dan Wahabis. Beberapa pemikir menyebut fenomena ini adalah “fusi de facto” antara Deobandi dan Wahabi.

Para Deobandis dari etnis Pashtun di Pakistan dan Afghanistan menambahkan variabel Pasthunwali, adat istiadat yang mengakar pada etnis Pashtun, misalnya dalam hal hak waris. Ini dipraktekkan Taliban dalam memutus soal hak waris dimana berdasarkan Pashtunwali hak waris anak lelaki dan perempuan adalah sama.  

Taliban saat berkuasa singkat (1996-2001) menerapkan hukum syariat yang ketat berbasis mazhab Hanafi. Gambar, fotografi, musik, olahraga, main layangan dilarang keras dan pelakunya dihukum dengan keras. Perempuan diwajibkan mengenakan burqa dan dilarang bekerja di luar rumah. Pada masa singkat itu, Aghanistan menjuarai angka kematian bayi, seperempatnya tidak mencapai umur 5 tahun, infrastruktur; air, listrik, jalan raya hancur lebur. Ratusan ribu keluarga dikepalai oleh janda. Tidak semua kebangkrutan disebabkan oleh Taliban, namun Taliban tidak memiliki solusi dan justru memperparahnya. Saat bencana kelaparan semakin menggunting, dengan enteng pejabat tinggi Taliban merespon bahwa Allah Yang Maha Kuasa akan memberi makan setiap orang dengan semua cara. Itu benar, tapi tidak solutif sebagai seorang penguasa.

Akankah Taliban berubah setelah diberi kesempatan kedua?. Banyak yang tidak percaya, tapi tidak sedikit yang menaruh harapan Taliban akan lebih inklusif dan mampu memberi kebaikan bagi semua. Betapapun, mereka hanya manusia biasa. Pengalaman menempa setiap orang. 

Saya sendiri percaya kekuasaan selalu memiliki kekuatan ajaib untuk menggelincirkan pemegangnya ke arah kebaikan, meskipun motif dasarnya bukan untuk menuju kebaikan, namun untuk melanggengkan kekuasaan itu sendiri. Mari berharap Taliban tergelincir menuju kebaikan.

Apakah akan mengambil pelajaran?.  Wallahu a'lam.


*Pustaka Hayat
*Pena koesam
*Rst
*pejalan sunyi
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar