Mengenai Saya

Jumat, 05 Mei 2023

BLACK SEPTEMBER


Mereka yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, maka mereka ditakdirkan untuk mengulanginya”, begitu tutur George Santayana.

11 September, belasan tahun yang lalu, gedung kembar WTC (World Trade Center) diledakkan. Rubuh luruh. Ribuan orang tewas. Dunia gempar. Amerika Serikat berduka. Banyak yang terpana. Kemudian kisah berikutnya, kita sudah mengetahuinya. Telunjuk mengarah kepada orang Islam. Walau ada yang menganggap ini konspirasi. tapi, faktanya memang pelakunya seperti arah telunjuk tersebut. Bahkan, sebagian besar pelakunya, berasal dari negeri sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah. salah satunya, negara besar dan kaya raya.

Tetapi, bagi Amerika Serikat, itu hanyalah oknum dari warga negara sekutunya itu, bukan pemerintahnya. Sehingga, konon, untuk beberapa hari setelah peristiwa berlangsung, seluruh penerbangan Amerika Serikat dari dan ke Timur Tengah, dihentikan. Kecuali, untuk negara sekutunya tersebut. Sekali lagi, bagi negara Paman Sam, peristiwa 11 September tersebut itu hanya karena oknum warga negara, bukan kebijakan pemerintahnya.

Namun, pihak-pihak lain yang merasakan akibat dari kemarahan pemerintah Amerika Serikat tersebut. Mereka membangun opini. Beberapa negara Islam masuk dalam “poros setan”nya George Bush Jr. Tidak heran bila sering kita jumpai, kemudian, beberapa masyarakat Amerika Serikat dan negara-negara yang secara politik, se-“DNA” dengannya, terjangkit penyakit “Islamophobia”. Silahkan tonton youtube. Pasca 11/9, banyak persekusi yang dialami oleh banyak muslim di Amerika Serikat, maupun di negara “barat” lainnya

“Anda muslim ?, silahkan kembali ke negara anda, Pakistan itu !”, demikian ucapan sinis seorang anak muda kepada seorang kasir asal Pakistan yang beragama Islam. Ini pernah menjadi viral dilinimasa beberapa tahun yang lalu. Sebuah sampel yang bisa merepresentasikan realitas riil yang terjadi.

Disamping itu, tidak jarang bila beberapa pemimpin yang beragama Islam, yang secara politik berseberangan dengan kebijakan politik AS, kerap diejek dan dituduh diktator serta otoriter. Antropolog 'Akbar S. Ahmed', bahkan pernah mengatakan para pemimpin Muslim kerap dikaitkan dengan tokoh-tokoh jahat dalam karya Walt Disney; misalnya nama Khomeini, diubah menjadi "Kho Maniac (gila)", "Wacky (aneh) Khaddafi" untuk Khaddafi. Semua itu, menjadi alasan dan justifikasi NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau OTAN dalam bahasa Prancis (l'Organisation du Traite de l'Atlantique Nord) untuk menyerang (invansi militer) negara yang mayoritas berpenduduk Muslim, seperti Afganistan, Irak, dan Libya.

Terlepas ada yang setuju, dengan gaya pemerintahan Khaddafi, tapi cara negara-negara “bagak” tersebut menyelesaikan kasus Khaddafi ini tidaklah baik. Menujukkan kesombongan. Merasa diri sebagai pemegang hegemoni. Walaupun salah, tapi merasa yakin dengan kekuatan yang mereka miliki, seperti kata filosof Tiongkok klasik 'Sun Tzu ', “Jika yakin perang akan menghasilkan kemenangan, Anda harus bertempur, meskipun aturan melarangnya”.

Memberikan penilaian sepihak dengan penuh kegirangan. Walaupun, disisi lain, ada yang sendu, negeri mereka porak poranda, mereka “kehilangan” satu generasi. Presiden AS (sebelum Trump), Barack Obama mengatakan, "peristiwa tewasnya Khadafi menunjukkan betapa hebatnya serangan yang dilakukan NATO”. Bahkan Menlu AS waktu itu, Hillary Clinton, senang bukan kepalang. "Wow..! Khadafi ditangkap". Ungkapan istri Bill Clinton ini pernah menjadi headline dimajalah TIME Oktober 2011 (kalau tidak salah). "Libya bisa bergerak maju dari permasalahan, jika Muammar Khadafi dibunuh," tutur Hillary. Sadis.!

Sementara itu, Presiden Perancis (waktu itu), Nicolas Sarkozy menilai, "Kematian pemimpin otoriter Khadafi membuka lembaran baru bagi rakyat Libya dan menandakan dimulainya proses demokrasi". Padahal, menurut berita yang beredar sebelum kejatuhan Khaddafi, Nicolas Sarkozy adalah sahabat dekat Khaddafi. Bahkan, memberikan bantuan finansial untuk biaya kampanye PM berhidung melengkung ini. Tapi, persahabatan politik itu setipis “Kulit daun bawang”.

Uni Afrika bungkam. OKI diam. Mungkin, hanya Presiden Venezuela, Hugo Chavez dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinedjad, yang tetap setia menyatakan kemarahannya terhadap “cara” kematian Muammar Khadafi ini.

Sekali lagi, peristiwa 11/9 itu memang dilakukan oleh oknum-oknum, dari sebuah negara besar di Timur Tengah. Tidak, merepresentasikan pemerintahnya. Sementara, kebencian yang dihadirkan pada ummat Islam pasca 11/9 tersebut adalah kebencian yang dikondisikan oleh kepentingan politik elit AS. Untuk kepentingan politik mereka. Walau timbul “Islamophobia”, tapi saya yakin, banyak rakyat AS yang bermata jernih melihat permasalahan ini.


**

Harga satu WTC adalah, ribuan nyawa warga sipil Afganistan, yang jatuh terkusruk ke tanah. Dari istri kehilangan laki hingga menjadi janda tulen, pula bocah jadi yatim piatu, hidup dikepung nestapa.

Sampai-sampai, burungpun tak punya tempat bertengger. Sekedar mengepak sayap di langit Afganistan pun perlu mawas diri, bila tak ingin diterjang peluru dan rudal.

Seorang bayi bermandikan debu mesiu dan serbuk beton. Kepala kecilnya, ditindih tiang beton yang roboh dilumat bom hingga tengkoraknya jadi repihan.

Rambut-rambut halus yang agak pirang, bercampur darah dan serpih daging menempel di tanah. Darah bocah itu tercecer bercampur tanah hingga tampak kelabu.

Sebelum si bocah tewas, malamnya, di awal Oktober 2001, bapak dan mamanya sudah lintang pukang diterjang rudal serdadu Amerika Serikat tanpa belas. Hingga sedikit daging pun tak lengket ke tanah sebagai kenangan.  

Harga barang bernama “senjata pemusnah massal,” adalah ribuan nyawa rakyat Irak yang merenggang percuma bagai seonggok bangkai yang tak direken sama sekali. Modar tanpa nilai apalagi kuburan.

Sampai sekarang, Afganistan bagai negeri dikutuk. Irak yang rusak seluruh infrastruktur sosial dan politik. Libia yang hidup dalam kemelut perang sipil tak berkesudahan.

Betapa kemelut di tanah Arab, silang sengkarut bagai pita kaset yang berlilitan sana sini, hingga rumit bukan main. Yang tampak cuma kebisingan diterjang kekerasan dan kemelaratan.

Kala WTC roboh sujud ke tanah, kawan-kawan saya  berseloroh “uih, pertanda koyaknya simbol kapitalisme global.”Bah, ternyata kebalik, kapitalisme bersenjata merekayasa permusuhan baru  berkedok demokrasi dan HAM. 

Kala Taliban disapu bagai tsunami, lelaki Afganistan mulai parlente. Ruang sosial yang menghimpit kaum perempuan mulai kendor. Musik diperdengarkan. Bisa jadi, di mall-mall, mulai tampak wanita Afganistan berkutang saja seperti bule.

Sepak bola digelar tanah lapang tanpa suatu aralpun. Demokrasi telah tiba. Tepuk tangan hore menyambut ribuan nyawa tercabut oleh senjata mesin dan rudal balistik tentara AS dan sekutu. Demokrasi tak datang percuma. Nyawa adalah bayarannya.

Osama Bin Laden, sorban, jenggot, agamanya, adalah alat pesan. Ia (Osama) dan semua yang ada padanya adalah “sesuatu yang dikemas—menjadi common enemy. Osama adalah Islam, Islam adalah Osama.”

Hingga kini, senjata pemusnah massal itu raib. Tapi Irak sudah kadung lebur bagai buih. Terlunta-lunta tiada arah hinga nyaris pupus. Tenggelam dari sejarahnya sebagai negeri 1001 malam. Ekonomi morat marit. Kekerasan sipil meruak tiada tertahan. Disusul Mesir, Suria apalagi Palestina yang terlanjur blangsak seumur-umur.

Di belakang terorisme ada Islam. Mission accomplished ! Maka labeling itu berlangsung tanpa lawan berarti. Terorisme, agresi militer, ekspansionisme, genosida, hegemonisme dan kapitalisme datang bersamaan sembari bertepuk tangan hore dengan demokrasi.  

Setelah tragedi WTC yang menuai aneka debat soal teori konspirasi, apa yang tersisa? Cumalah tepuk tangan belaka. Riang gembira menyambut datangnya demokrasi. Setelah kepala bocah kecil di Afganistan lumer bagai adonan. Pun dada bapak mamanya raib diterjang rudal malamnya. Kita bertepuk tangan !


NB ; Foto -  Seorang model, sesi rehat berfoto Sambil memandang keluar, melihat WTC "membara" (c) instagram


*Pustaka hayat
*Pejalan sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar