Mengenai Saya

Jumat, 05 Mei 2023

CORET ESAI ; KIAI JALAN LAIN




Suatu hari - entah di mana, Gus Dur berlelucon, bahwa tafsir yang ia kembangkan adalah “tafsir jalan lain”. Bagi mereka yang hidup dan karib dengan dunia pesantren akan tertawa, lantaran “tafsir jalan lain” yang diucapkan Gus Dur, tak lain adalah pelesetan dari sebuah kitab tafsir yang masyhur di pesantren, yakni “Tafsir Jalalain”, Karya Jalaluddin Asy-Syuthi. Barangkali karena ia sering melewati “jalan lain”, ia pun menaruh minat dan perhatian yang bersungguh-sungguh terhadap sosok-sosok kiai “yang lain”. Yang seolah-olah tidak wajar. Ketidakwajaran di sini hanya berlaku bagi mereka yang memandang cuma pada sudut pandang yang dangkal atau sambil lalu. Sehingga seolah-olah memang tak wajar. Tapi sesungguhnya adalah kewajaran sewajar-wajarnya yang ditegakkan dari dalam ilmu-ilmu agama yang saking begitu dalamnya, mencapai kebijaksanaan. 

Dalam kolom-kolomnya yang pendek dan jenaka, namun bagai lautan dengan segala kedalamannya, “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah” (1997), di tahun 80-an, Gus Dur mengisahkan sejumlah kiai yang boleh dibilang, “aneh” pada zamannya. Barangkali sejumlah kiai yang hidup dan kepribadiannya memiliki kesan serta jadi ingatan mendalam bagi Gus Dur Dan mungkin juga yang ia rindukan dan ia banggakan lantaran kekhasan kiai-kiai tersebut di dalam menjawab keadaan zaman dengan nilai-nilai keislaman sebagai pedoman paten dalam hidupnya. Segeralah terasa dengan tak diragukan lagi, nilai Islam yang damai, luwes, dan senantiasa melakukan perubahan bentuk tanpa menghilangkan esensi ajaran, tercermin pada sosok-sosok kiai sederhana tersebut. 

Kiai-kiai “jalan lain” itu - dalam pandangan Gus Dur, mengembangkan tafsir teks-teks agama pada konteks kehari-inian. Tetapi bukan tafsir dalam sudut metodologis belaka. Melainkan apa yang ditafsirkan tersebut, merupakan cermin dan perilaku para kiai yang bersangkutan dalam menghadapi segala dinamika kehidupan yang dijalaninya sehari-hari. Kiai-kiai jalan lain itu - pada masa itu, amat sangat jarang muncul di media-media massa, bahkan sama sekali tak pernah diberitakan. Mereka adalah sosok yang dalam istilah sekarang, tidak populer. Namun mereka sangat dikenal di dunia mereka yang kecil, yakni wilayah-wilayah yang lokalistik. Dipanuti. Meski sebagian ada yang dikenal publik luas. Tapi keterkenalan itu sifatnya kebetulan saja atau karena suatu keadaan yang mengharuskan.

Mereka tidak dibesarkan media dan tak “gila panggung”. Kalau zaman sekarang, mereka bukan sosok yang viral Dan menolak menjadi viral. Akan tetapi fungsi dan perannya vital dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mengokohkan dan menjaga struktur sosial di mana mereka hidup. 

Dengan kebersahajaan dan berpedomankan ilmu-ilmu agama Islam yang mumpuni, para kiai dalam kisah Gus Dur itu menjawab persoalan-persoalan sosial yang rumit dengan kesederhanaan, bukan penyederhanaan. Hari ini, kiai-kiai sejati sebagaimana dalam kisah Gus Dur itu, tentu masih ada. Namun mereka tak pernah dikenal kalangan luas, dan menolak hal itu, meski zaman sudah punya android. Lantaran kiai-kiai sakti itu menjalani kehidupannya sambil bekerja, mencari nafkah, dan menghidupi keluarga, menghidupkan ilmu dengan keringatnya. Kiai-kiai jalan lain itu tidak bergantung pada ceramah-ceramah, tidak hidup dari popularitas, dan tak “mencari panggung”. Sebab hidup sehari-hari, bekerja dan beribadah adalah panggungnya yang tak membutuhkan pengeras suara, tak perlu tepuk tangan, tak perlu menjadi sang pujaan. Ibaratnya mutiara di dalam samudera. Bukan mutiara yang dipajang di etalase mewah, diamati dan dikagumi netizen. 

Untuk dapat melihat keindahan mutiara dalam etalase, orang tak perlu menyelam jauh ke dasar samudera. Cukup mendatangi toko permata, maka akan segera tampak mutiara indah yang berkilat-kilat di bawah cahaya lampu. Sedang mutiara di kedalaman samudera itu, tak mungkin direguk keindahannya yang alami, murni, dan menakjubkan tanpa menyelam jauh ke dasar lautan. Permata sejati berkilau tanpa lampu dan tak memerlukan etalase. Pengertian ini bukan pengertian baru, melainkan pengertian dari teologi skolastik al-Asy’ariyah, yang disebut “al-kasb”. Teologi yang dipegang teguh para kiai sejati itu - setidaknya dalam pandangan Gus Dur, ialah sikap hidup yang “bekerja dan beribadah”, serta menyelenggarakan secara konsisten acara atau program lama yang tak bersponsor, yakni “amar makruf wa nahi munkar”. 

Kiai-kiai jalan lain itu longgar dan santai memandang kehidupan. Tetapi tegas. Dan dengan semangat kerja yang luar biasa. Bagi mereka, teks-teks agama adalah organisme yang hidup dan selalu hidup dalam setiap perubahan zaman. Mereka dapat membangun pengertian baru dari landasan ilmu Fiqih yang rumit dan dianggap ketinggalan. Dengan cara hidup yang disebut “kolot”, mereka mengembangkan cara berpikir dalam menafsirkan kembali teks-teks suci agama guna menjawab setiap perubahan, cara berpikir itulah yang tak pernah tertinggal zaman, bahkan pada satu keadaan melampaui. 

Sahdan dikisahkan Kiai Masyhuri Syahid. Beliau punya pergaulan yang luas dan luwes. Bahkan pandai memasak, sehingga menjadi rujukan ibu-ibu dalam rangka menciptakan masakan yang lezat bagi suaminya. Kiai Masyhuri - dalam kisah Gus Dur, adalah seorang pedagang. Ia mengembangkan bisnisnya dengan berpedomankan teks suci agama. Ia menyebut “wa-idza huyyitum bitahiyatin fa-hayyu bi-ahsana minha” (jika mendapat teguran (persapaan yang baik), jawablah dengan sapa yang lebih baik lagi). Bahwa “tahiyyah” adalah sebentuk persapaan baik yang - menurut penafsiran kiai ini, tak hanya berupa basa-basi atau ramah-tamah sikap badan dan ucapan belaka. Melainkan lebih mendalam dan menyeluruh. 

Jika seseorang berbisnis dengan baik atau membeli dagangan seseorang dengan baik pula, itulah “tahiyyah” yang “ahsan” (baik). Maka hal itu harus dijawab dengan “tahiyyah” yang lebih “ahsan” (baik), berupa pelayanan yang memuaskan, profesionalitas, dan kualitas barang. Inilah “ayat advertensi” katanya. Ia dapat menemukan kemungkinan tak terduga dari ayat Tuhan bagi kehidupan praktis. Kepraktisan yang tak kehilangan kekokohan di dalam mendalami dan memegang teguh nilai-nilai agamanya. Sehingga baginya berbisnis dalam kerangka ayat tersebut adalah ibadah. Peribadatan yang tak perlu diikat kaku dalam dikotomi formal atau non-formal, langsung atau tak langsung (mahdhah-ghairu-mahdhah). Melainkan mengaliri kehidupan dengan kearifan dan kebersahajaan. Bukan kemewahan-kemewahan dan kebakhilan. 

Itulah yang bagi Gus Dur, dakwah sejati. Dakwah sejati yang nilainya jauh lebih bermanfaat daripada ceramah-ceramah saja. Lalu ada berapa banyakkah orang yang dapat mencapai “kearifan mutiara” semacam ini pada agamanya masing-masing? “Kearifan mutiara” itu tak mungkin didapatkan dari dalam metodologi tafsir semata-mata, atau belaka bergulat dengan ruang dingin keilmuan atau tempat peribadatan agama tanpa ditempa pengalaman hidup sehari-hari di dalam kerja dan realitas sosial yang nyata, bukan? Seorang ahli ilmu-ilmu agama mestinya terlibat dalam kehidupan beserta segala kompleksitas dinamikanya. Bukan pemalas. Bukan yang hanya melihat persoalan dari balik singgasana keilmuan atau status keilmuannya belaka. Ia mestilah terlibat, merasakan, dan mengalami. Seperti Nabi Musa yang keluar dari istana Fir’aun, ayahnya. 


Gowa, 17/08/2021


Tidak ada komentar:

Posting Komentar