Mereka menyekap seisi rumah di dalam kamar mandi, lalu menewaskan 6 orang dalam sebuah tragedi berdarah di Pulomas, Jakarta Timur. Anda tahu siapa pelakunya?. Dari marganya sudah bisa diidentifikasi darimana mereka, dari rekam jejaknya bisa disimpulkan apa profesi utamanya.
Mereka bermarga Batak itu tak bisa dibantah, bahwa yang mereka lakukan itu perbuatan sungguh tidak manusiawi adalah fakta, jika benar mereka adalah pelakunya harus dihukum seberat-beratnya. Tetapi, bukan itu poinnya, yang ingin saya sampaikan adalah orang dari suku dan marga manapun bisa dan dapat melakukan kejahatan atau kebaikan dalam bentuk apapun.
Dalam masyarakat kita, Logika generalisir acap kali digunakan untuk menghakimi orang. dari ras, suku, dan etnis tertentu. Hal ini sungguh berbahaya bagi masa depan berbangsa kita.
Kenapa saya ingin cerita ini, saat awal-awal memanasnya soal pembunuhan di Pulomas dan para pelakunya belum juga ditangkap. Saya kebetulan waktu itu, berada di jakarta dan kakak saya memesan jasa transportasi online untuk beberapa keperluan, dalam perjalanan, sang driver membuka percakapan lebih dahulu dengan menceritakan kepada kakak saya soal pembunuhan sadis yang katanya dekat dengan tempat tinggalnya.
Apa yang menarik dari cerita sang driver ini, ia bilang kemungkinan besar pelakunya adalah "orang-orang Timur yang disuruh oleh bosnya (Debt Collector)". Kakak dan saya cuman diam, lalu mendengarkan cerita berapi-api sang driver. Sebab, untuk apa juga berdebat dengan pencari kerja halal semacam dia, tidak ada gunanya. Buang-buang waktu juga berdebat dengan masyarakat yang dari sejak lahirnya sudah diajarkan otaknya dengan ajaran-ajaran semi-rasis (ini istilah saya😂).
Ini contoh kecil dari sekian kejadian yang banyak orang alami seperti saya. Bahwa mengidentikkan segala kejelekan pada suku tertentu saat melihat fisiknya itu bukan hal yang baik untuk diteruskan, Mengalamatkan segala tindakan kejahatan terhadap ras tertentu itu juga tidak sepenuhnya benar. Semua suku dan ras bisa berbuat baik begitupun sebaliknya. Yang mesti disalahkan adalah orang (pelaku), bukan memberikan stereotipe yang hampir permanen sampai hari ini.
Entah dari mana sumbernya, bahasa begini pernah saya dengar " jika anda tidak sanggup berbuat baik, cukup dengan tidak berbuat jahat", maknanya adalah jika kita tak sanggup untuk menghilangkan stereotipe itu cukup dengan diam, tidak usah berkata apa-apa untuk saling melukai sesama warga negara.
Manusia sebenarnya dilahirkan dalam keadaan "merdeka" dan punya "daulat" atas dirinya sendiri, sehingga potensi “kemerdekaan” kepemilikan "daulat" sepenuhnya menjadi tangung jawab masing-masing. Mengekang “kemerdekaan” sama dengan mengusahakan untuk tidak memilih menjadi manusia seutuhnya. Tetapi, ada hal yang acap kali kita lupa, bahwa segala "kemerdekaan" dan "kedaulatan" kita dibatasi oleh aturan-aturan Tuhan dan makhluknya yang lain.
Memilih salah satu dari keduanya, berbuat jahat dan berbuat baik, pun tentu melahirkan konsekuensinya masing-masing. Berbuat baik meniscayakan hasil yang baik pula, begitupun sebaliknya berbuat buruk meniscayakan hasil yang buruk. Meski terkadang hasil yang akan kita tuai dari kedua pilihan tersebut memakan waktu yang cukup lama Dan ini berlaku umum, atau berlaku bagi siapapun, dari suku dan ras manapun.
Begini pandangan saya, suatu niat baik yang tidak berlebihan atau sesuai dengan kebutuhan tetap disebut dengan kebaikan. Namun saat kebaikan sudah meningkat berlebihan (Over) akan berubah menjadi kejahatan. contohnya begini kiria-kira, orang sakit mesti minum obat untuk mendapatkan kesembuhan, tetapi saat konsumsi obatnya melampaui dosis, maka akan berakibat buruk bagi diriya.
Persamannya adalah sesorang yang mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah baik. Namun ketika kebutuhannya sudah berubah menjadi keinginan yang berlebihan, yang selanjutnya ia menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya, ia menjadi seorang penjahat. Itu kira-kira yang terjadi pada kasus pulomas kemarin, gaya hidup yang mewah atau berlebihan bisa menjadikan orang, menjadi perampok yang berperilaku jahat.
Manusia menjadi jahat karena melakukan tindakan yang berlebihan, rasa ingin kaya dan menumpuk-numpuk harta tidak dimiliki oleh hewan. Rasa serakah juga tidak dimiliki oleh hewan, buktinya mereka tidak memerlukan kulkas atau membangun gudang untuk menimbun.
Artinya, semua manusia dari suku dan rasa manapun bisa berlaku baik dan buruk dalam waktu yang bersamaan.
Maka, Stoplah mengeneralisir lalu memberikan Stereotipe bagi manusia dari kelompok manapun. Hong Yi (1880-1942) bilang "seorang memiliki kemampuan berbuat jahat, tapi tidak melakukannya, itulah Kebajikan. Memiliki kemampuan berbuat baik, tapi tidak melakukan, itulah Keburukan”.
Perilaku rasial hadir, akibat merasa paling mulia. Ia tumbuh dalam pikiran yang kerdil, di operasi oleh manusia picik. Dia mengendap dalam benak mereka yang serakah.
Perilaku rasisme itu bahagian dari puing-puing perang Dunia ke II. Pelakunya tidak boleh didiamkan , harus ada sanksi hukum dan sosial ataukah perlawanan. Kecuali negara dan kita semua juga sepakat dengan dentuman auto kritik Guru Cak Nun "bhineka Gagal Ika".
Di alam bawah sadar, kebanyakan pejabat negera kita, bahkan sebahagian rakyatnya bersarang sikap rasial di otaknya. Seolah melihat orang-orang timur Indonesia itu seperti yang digambarkan si Driver diatas.
Papua dan Indonesia Timur yang lain selalu saja diasosiasikan sebagai tempat pembuangan. Masih dianggap Sebagai DIGOEL Indonesia timur ini.
Rakyatnya selalu dipandang rendah. Tapi, kekayaan alamnya, setiap hari dikeruk tanpa jeda. Biadab kau.
-Jakarta, 14 April 2015-
*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Rst
*Nalar Pinggiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar