Mengenai Saya

Rabu, 31 Mei 2023

- SIAPA BILANG PANCASILA SAKTI ? -

 

Satu minggu sebelum hari kesaktian Pancasila, beredar video amatir, beberapa bocah entah dimana, pergi sekolah dengan perahu gabus, menyebrangi sungai yang agak deras. Di tempat yang lain, Seorang bapak di NTT, terpaksa jalan kaki berkilo-kilo meter menggendong anaknya untuk berobat, hingga bocah nestapa itu meregang nyawa.

Setali tiga uang dengan anak-anak di Kawasan Timur Indonesia, yang saban hari pulang pergi sekolah jalan kaki berkilo-kilo meter. Tak luput, ketimpangan akses Kesehatan, Pendidikan dan ekonomi sebagai pokok soal.

Menteri investasi, di semester II 2021, merilis dalam suatu pertemuan, ia katakan realisasi investasi di luar Jawa capai di atas 50%. Beberapa politisi tepuk tangan sesungguh-sungguhnya. Namun begitu BPS announce, pertumbuhan ekonomi semester II 2021, ternyata masih terkonsentrasi di Kawasan Jawa.

Tidak soal, karena secara teoritis, jumlah penduduk menjadi bobot pengungkit PDRB dari sisi komponen konsumsi/pengeluaran. Namun harus diakui, dari sisi produksi (nilai tambah), konsentrasi Industri masih berpusat di pulau Jawa.

Video bocah-bocah ke sekolah dengan perahu gabus, pun nasib malang si bapak di NTT, adalah potret ketimpangan. Gambaran bahwa disparitas pembangunan masih menganga.

Desentralisasi pembangunan belum benar-benar terbukti. Infrastruktur divide masih nganga. Politik fiskal kita melalui dana perimbangan, belum menyentuh titik ekstrim pembangunan di Kawasan Timur Indonesia. Cerita-cerita miris dalam pelbagai soal di KTI, adalah data yang mengkonfirmasi, bahwa pembangunan kita belum adil.

Mahalnya biaya investasi yang diukur dari rasio ICOR (incremental capital output ratio). NTT misalnya, ICOR-nya 10. Ini di atas ICOR nasional; 6. Artinya untuk menaikan 1 unit PDRB seharga Rp.1, butuh modal tambahan Rp.10. Tentu kondisi yang sama, terjadi di KTI lainnya.

Mahalnya biaya investasi, disebabkan beberapa faktor, diantaranya adalah konektivitas. NTT misalnya, sebagai provinsi kepulauan, infrastruktur yang berkaitan dengan konektivitas perlu akselerasi. Dengan demikian, konektivitas antar satu pulau dengan pulau lainnya terjadi. Demikian pula interkonektivitas dengan sumber daya ekonomi.

Pancasila memberikan landasan Adil pada berbagai pembangunan sektor ekonomi. Walkhusus terkait konsep “keadilan sosial,: yang terimplisit dalam sila kedua Pancasila. Kristalisasi dari sila kedua tersebut, idealnya tercermin dalam keadilan pembangunan berbagai sektor kehidupan bernegara. Pancasila bukanlah sebuah teks mati. Ia sejatinya, bisa dibumikan dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara. Menjadi lebih hidup pada manifestasi nilai-nilainya.

Jika masih ada kesenjangan pembangunan antar daerah, jika masih ada sekelompok kecil orang yang menguasai 80% dari kekayaan di Indonesia, maka sebenarnya Pancasila belum sakti per se. Pancasila hanyalah sebuah manuskrip tua, yang terus dikenang setiap tanggal 1 Oktober. 


-Selamat Hari Kesaktian Pancasila-


*Pustaka Hayat
*Pejalan sunyi
*Rst
*NalarPiggiran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar